Ketika TV di Rumah Tak Lagi Menyala

  • Wednesday, January 04, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 12 Comments



Mungkin membaca judulnya akan banyak yang mengira bahwa artikel ini bertema parenting tentang tips membatasi penggunaan TV di rumah. Pals, jika kalian berpikiran seperti itu maka dugaan kalian salah besar. Catatan ini justru sebuah curcolan panjang lebarku tentang kepergian ibunda tercinta kurang lebih 40 hari yang lalu. Ada banyak hal yang ingin tertulis, namun setiap kali keinginan menulis itu menyeruak aku hanya mampu tergugu dan masih tak percaya bahwa ibu telah benar-benar tiada. Aku baru bisa sungguh yakin beliau telah tenang di alamnya yang lain setelah mengunjungi makamnya.



Ya.. saat kepergian ibu aku memang tidak bisa mengantarkannya hingga ke peristirahatan terakhirnya karena ada bayi berusia seminggu menggelendot manja di gendonganku.

Satu hal yang paling terasa bedanya setelah kepergian ibu adalah TV di rumah ini tak pernah lagi menyala. Penonton setia TV di rumah hanyalah ibu. Aku, suami dan anakku bukanlah pecinta TV. Ketika kami butuh informasi atau hiburan, kami lebih sering mencarinya lewat YouTube atau streaming. Kalaupun kami ikut nonton TV dipastikan karena saat itu kami tertarik dengan materi acaranya, atau sedang dalam proses menyuapi atau memandikan ibu.

TV di rumah hanya menyala di jam-jam tertentu. Hanya pada acara-acara kesukaan ibu. Biasanya jam tiga pagi ibu sudah bangun, setengah empat beliau akan membangunkan suami untuk menyalakan TV dan memosisikan di channel TVRI. Serambi Islami biasanya akan membuka pagi ibu hingga pukul enam, dilanjut dengan menikmati Curhat Dong, Mah – acara tausiyah dari Mamah Dedeh. Setiap pagi TV akan menyala hingga pukul 9 atau 10, tergantung apa ada FTV religi yang menarik untuk beliau tonton. Setelah itu TV akan mati hingga sore hari. Jam 5 sore ibu pasti meminta TV dinyalakan. Karena beliau biasa berpuasa sunnah, beliau sering menunggu adzan magrib di TV sebagai tanda berbuka. Maklum rumah kami jauh dari masjid, seringkali adzan tidak terdengar dari rumah. Selanjutnya ibu akan menikmati Hitam Putih. Di hari-hari tertentu TV akan menyala jika Mata Najwa, ESQ-nya Pak Ary Ginanjar, Kick Andy atau I’m Possible sedang tayang. Dan sekarang kebiasaan itu telah punah. Ruang TV menjadi tempat paling sunyi di rumah kami. Rak-rak buku yang belum ditata rapi memenuhi ruangan itu. Kami belum sempat menyusunnya sebagaimana lubang di hati kami yang belum sembuh benar.

***
Kematian bukanlah sesuatu yang bisa ditebak kapan datangnya. Sesiap apapun kita menyambutnya, sesiap apapun kita menghadapinya, kematian akan tetap menjadi hal yang mengejutkan. Begitu juga ketika aku dengan sangat sadar harus melepas kepergian ibu. Dengan kondisi ibu selama 16 tahun terakhir, kami telah sering berbincang tentang bagaimana seandainya hari ini datang. Kematian bahkan tak jarang mengisi candaan-candaan kami, bagaimanapun ketika hari ini akhirnya tiba… aku tetap saja kehilangan… aku tetap saja mengkhianati janjiku pada ibu untuk tak berair mata.

Sejak 2011 Allah sudah menempaku dengan kehilangan demi kehilangan yang mengejutkan. Diawali dari kepergian Yangti pada 1 Februari 2011, disusul dengan kepergian bapak pada 21 Maret 2011, lantas kepergian adik pada 8 Februari 2013 dan kemudian kepergian yangkung pada 30 Maret 2014. Allah membukakan mata bahwa cara terbaikNYA seringkali tak terduga. Yangti meninggal setelah koma sebulan lamanya, bapak yang meninggal setelah kami kira tertidur lelap, adik yang meninggal di perjalanannya ke sekolah dan yangkung yang meninggal setelah sempat dirawat di rumah sakit selama dua minggu.

Dari lima orang di foto ini hanya tinggal aku dan suami :(

Melepaskan empat kepergian orang-orang terkasih dengan cara yang berbeda-beda dalam jarak yang tak berselang lama itu terkadang membuat nyaliku ciut untuk bermimpi indah. Seringkali ketika lembar baru sebuah kalender dibuka, aku bertanya-tanya “haruskan aku melepaskan seseorang lagi di tahun ini?” Begitu juga ketika tahun 2016 dibuka, pertanyaan yang sama kulemparkan tanpa meminta jawaban. Namun Allah menjawabnya di penghujung tahun.

Firasat itu muncul bertubi-tubi. Bukan aku tak menyadarinya, mungkin aku mencoba menyangkalnya. Siapa yang bisa menerima orang yang terkasih akan pergi? Meski seringkali ketika lelah ini memuncak ada separuh diri yang berbisik, “semua akan jauh lebih mudah bukan jika ibu berpulang? Kamu bisa pergi selama mungkin tanpa khawatir bagaimana ibu di rumah, kamu bebas dari tanggung jawab untuk merawatnya…

Separuh diri yang lain menentang pendapat itu, “apa kau yakin bisa menjalani hidup tanpa rapalan-rapalan doa ibu? Tak kah kau sadar semua kenikmatan yang kau rasakan sekarang tidak sepenuhnya karena kerja kerasmu, tapi karena doanya yang tanpa henti? Apa kau yakin bisa melewati masa-masa selanjutnya tanpa petuah-petuahnya…” Dan ya, itu semua kubenarkan. Apa aku sanggup? Ketika lelahku hadir dalam masa-masa merawat ibu, benih-benih pikiran inilah yang menguatkanku. Seburuk apapun kondisi ibu, toh aku masih sangat membutuhkannya. Meski ibu tak bisa berjalan, tak bisa duduk, tak bisa bangun, tak bisa menggerakkan tangan dan kakinya, melakukan semua hal harus dibantu, namun ibu selalu jadi teman bicara yang menyenangkan. Ya, walaupun kami tak jarang berbeda pendapat yang kemudian berlanjut saling berdiam diri, namun kehadirannya tetap saja kubutuhkan.
Dan ketika firasat demi firasat muncul sedemikian cepat aku tak sanggup mengatakannya pada ibu. Kusimpan sendiri sambil merapal doa semoga ini hanyalah ketakutan yang berlebihan.

Jum’at, 18 November 2016 mbak Narti yang memasakkan sayur untuk keluarga kami datang dengan sepanci sayur dan sepiring lauk seperti biasa. Namun kali ini di tangannya juga ada sepiring buah nangka. Aah, tahu saja kalau aku dan ibu sedang ngidam makan nangka. Tanpa babibu aku mencicipinya. Rasanya begitu manis dan kisat sesuai bayanganku. Kalau nggak ingat perut bisa melilit kebanyakan makan nangka, rasanya ingin kuhabiskan sepiring nangka tersebut saat itu juga. Kuhentikan kekalapanku di suapan yang kelima. Ibu juga turut mencicipi dua buah potong nangka.

Ibu dan Ifa - 2012

Ibu dan bapak

Desember 2015 - Ultah Rame-rame

Desember 2015 - family gathering

2002 - setelah kepergian yangyut

2008 - Aku bersama ibu di malam midodareni

Siapa sangka nangka yang baru saja dipetik dari pohonnya dan begitu manis di mulut itu, getahnya masih menempel dan menimbulkan gatal di tenggorokan. Aku merasakan tenggorokanku sakit setelah selesai mengajar PAUD. Rasanya saat itu jengkel, baru saja sembuh dari batuk kok ya harus batuk lagi. Apalagi saat itu kehamilanku sudah semakin besar, saat batuk menyerang perut rasanya nggak enak banget. Setibanya di rumah, ternyata bukan aku saja yang merasakan sakit di tenggorokan, ibu dan suamiku  pun merasakan hal yang sama. Sejak jumat itu pun kami bertiga terserang batuk karena getah nangka, untungnya Ifa tidak menyentuh buah itu sedikit pun hingga dia aman dari tenggorokan gatal yang menyiksa.

Rasa sakit di tenggorokan itu berkembang menjadi batuk berdahak berkepanjangan. Aku dan suami tentunya mudah saja mengeluarkan dahak kami setiap kali batuk datang, namun untuk ibu mengeluarkan dahak adalah hal yang tidak mudah. Entahlah ibu kesusahan berdehem, apalagi mengusahakan dahak itu bisa keluar dari tenggorokannya. Lambat laun dahak itu menggumpal di dada. Kami telah memberikan beliau minuman hangat lebih sering dengan maksud agar dahak mengencer dan mudah dikeluarkan. Suami tiap malam juga membelikan wedang jahe geprek untuk beliau agar tenggorokannya lebih enakan dan dahak bisa keluar. Namun semua usaha belum ada hasilnya.

Hari Senin, 21 November 2016, Om Bambang – adik ibu datang bersilaturahmi ke rumah. Masih teringat jelas kami masih tertawa-tawa hari itu membicarakan banyak hal. Hari Selasa, 22 November 2016, seperti yang kami rencanakan, kami mengundang Mbak Rahma, terapis pijat langganan kami untuk datang ke rumah. Kami rutin tiap bulan memanggil Mbak Rahma agar badan yang pegal, masuk angin bisa teratasi. Hari itu meski dahak mengganggunya, ibu masih terlihat sehat dan ceria. Beliau masih ngobrol dengan mbak Rahma begitu ceria. Bahkan ibu sempat meminta agar Mbak Rahma bersedia memandikan beliau selama aku berada di rumah sakit. Ya, dulu saat lahiran Ifa, aku masih terbantu dengan adanya almarhumah adik. Aku tidak khawatir tentang siapa yang akan memandikan ibu saat aku lahiran. Kini karena cuma ada aku, suami dan Ifa, kami jelas harus sudah mempersiapkan dengan matang siapa yang akan memandikan ibu dan menjaga ibu di malam hari saat aku harus rawat inap di rumah sakit. Mbak Rahma saat itu juga menyanggupi permintaan ibu. Rencananya mulai tanggal 1 Desember, Mbak Rahma akan mulai mengambil alih tugasku hingga proses penyembuhanku pasca lahiran selesai.

Sematang-matangnya rencana manusia ternyata tidak lebih matang dari rencana Sang Pemilik Hidup. Biasanya selesai dipijat, ibu akan merasa tubuhnya bugar dan malamnya akan tidur lebih lelap. Saat itu pun ibu merasa badannya lebih segar. Namun entah kenapa matanya tidak bisa terpejam sama sekali meski keinginan untuk tidur sangat kuat. Kondisi itu berlanjut hingga hari Kamis. Bayangkan bagaimana rasanya tidak tidur selama tiga hari?

Anehnya meski tidak tidur selama tiga hari, pada suatu kesempatan saat aku berdua dengan ibu di rumah dan kami saling berbincang, entah kenapa aku merasa ibu terlihat begitu bersih dan cantik. Jantungku berdegup kencang saat itu. Aku pernah merasakan hal yang sama sebelum adikku berpulang. Saat itu juga kutepis pikiran buruk itu, kuanggap itu sebagai perasaan tak penting. Sepertinya ibu menangkap kegelisahanku dan sempat bertanya, “napa to?” Dan aku cuma sanggup tersenyum dan menggeleng. 

Ternyata apa yang kurasakan ditangkap pula oleh Mbak Narti. Jum’at pagi, 25 November 2016 saat ia mengantarkan sayur ke rumah dan menyuapi ibu, mbak Narti berkata pada ibu, “kok ayu, resik men to bu?” Ibu cuma berkelakar, “la wong adus we durung kok ayu to mbak?” Mbak Narti malah semakin meyakinkan ibu, “tenan kok bu. Ibu ayu men kok.” Mendengar perkataan mbak Narti, ibu menjawab “yo wes ben nek resik, aku arep nyedhaki sing kuasa kok.”

Ya, ibu memang seringkali melemparkan candaan semacam itu. Aku jadi ingat beberapa minggu sebelumnya saat kami nonton berita di TV tentang meninggalnya ibu Ashanty. Aku berkomentar, “saake deh Ashanty, bar entuk anak lanang malah saiki ditinggal ibune.” Ibu saat itu menanggapi ringan, “jenenge we takdir. Ngko ngono yo apik to, sampeyan nglairke anak lanang, terus tak tinggal.” Saking seringnya ibu bercanda nyerempet-nyerempet soal kematian, aku menanggapinya dengan tak serius, “halah ibu biasa kok.”

Menjelang kepergiannya, beberapa kali saat aku memandikannya, ibu selalu bilang “nek bar adus ngene, terus diparani pak mo (baca: malaikat) enak yo. Wes resik.” Perkataan beliau ini yang semakin membuatku takut di hari-hari terakhirnya untuk memandikannya. Aku takut jika ucapannya menjadi kenyataan. Rasanya tak sanggup jika aku harus melepas ibu setelah aku membersihkan badannya.

Bahkan ibu sering menggodaku, setiap kali habis dimandikan, biasanya ibu akan minta dipakaikan mukena untuk melaksanakan sholat dhuha, setelah selesai sholat ibu tidak langsung minta dibuka mukenanya, tapi pura-pura tidur. Ketika aku mendekatinya, ibu akan mengagetkanku, “waaa”.

Beberapa kali di malam hari ibu juga seringkali menggodaku. Kebetulan ibu tidur di area ruang TV yang harus kami lewati saat mau mengambil minuman di kulkas. Kalau ibu sedang tidur di saat aku terjaga di malam hari dan ingin mengambil minuman di kulkas, tentunya aku akan berjalan sepelan mungkin agar tidak membuatnya bangun, eh tiba-tiba… “waa”… ibu malah mengagetkanku. “Ibu ki lo.. bengi-bengi gojek kok,” begitu tanggapanku saat itu. “Ngko nek ibu wes rak ana, tak kageti ngono, wedi rak?” Lagi-lagi ibu bercanda seperti itu, dan lagi-lagi aku juga membalas dengan senyum dan gurauan, “wedi to ya… aku mlayu marani mas Martin.”

Dan siapa sangka gurauan demi gurauan itu mungkin saja pertanda bahwa waktu perpisahan kami telah begitu dekat. Aaah, andai saja aku tahu begitu cepatnya kami akan berpisah, aku ingin merawatnya lebih baik. Tapi sesal selalu saja datang di akhir…

Jum’at itu, siapa sangka interaksi terakhirku dengan ibu adalah ketika ibu memintaku mengambilkan minum. Tanpa banyak kata, hanya mata kami yang saling berpandangan dan  bertatapan. Ada gelora yang berbeda tanpa tahu apa artinya. Setelah mbak Narti datang dan menyuapi ibu beberapa sendok, ibu terlihat terlelap dalam tidurnya. Aku sedikit lega melihatnya karena setelah tiga hari tak tidur akhirnya beliau bisa tidur juga.
Ketika mbak Kam yang biasa membantu kami mencuci dan menyetrika baju datang, ibu masih juga tidur dengan lelap. Bahkan saking lelapnya, mbak Kam tidak berani banyak bersuara takut ibu terganggu tidurnya. Sampai mbak Kam ibu masih lelap.

Suami berjanji pulang sore hari itu, tapi nyatanya ba’da magrib dia baru sampai di rumah. Perasaanku saat itu sudah tidak enak. Mengapa ibu tidur selama itu. Aku terbayang peristiwa meninggalnya bapak. Dulu bapak juga tertidur sangat lama seperti ini. Kegelisahanku kusampaikan pada suami. Suami menenangkanku, “Ibu kan capek, makanya tidurnya lama. Nanti agak malam kan bangun.” Aku tidak puas dengan pernyataannya. Selama-lamanya ibu tidur, ibu tak akan mungkin kuat tanpa meminta pindah posisi kaki.

Akhirnya suami mengambil inisiatif untuk memanggil perawat IGD ke rumah untuk memastikan kondisi ibu. Aku juga segera menghubungi bulik di Tulus yang langsung datang ke rumah. Bulik memanggil ibu berkali-kali, tidak ada respon. Segera beliau minta aku mengganti pampers ibu dan diputuskan untuk membawanya ke IGD saat itu juga. Ketika aku selesai mengganti pampers dan baju ibu, suami datang.

Setelah diberitahu oleh bulik kondisi ibu, suami meminta tolong tetangga yang punya mobil untuk mengantarkan kami ke IGD. Saat itu sebenarnya suami minta aku di rumah saja, tapi aku menolak. Bagaimanapun aku anak kandungnya, kalau ada apa-apa pasti aku yang akan dicari lebih dulu.

Ibu diperiksa segala macam. Dokter IGD menyatakan kondisi ibu sangat tidak baik, perawatan yang paling tepat hanyalah di ICU. Ada desir halus menjalar di hati. Haruskah sekarang ya Allah? Bukan aku ingin mendahului takdir, namun firasat ini semakin kuat kurasakan. Kutandatangani persetujuan untuk perawatan di ICU sembari menerka-nerka apakah rencanaNYA untukku.

Saat itu aku juga jadi ingat kartu BPJS ibu kesingsal. Beberapa kali ibu mengingatkan, "tolong diurus, siapa tahu sewaktu-waktu  nanti dipakai." Dan ternyata benar terpakai. 

Setelah ibu dibawa ke ICU, kami sepakat bahwa suami yang akan menunggui ibu, sedangkan aku dan Ifa menginap di rumah bulik yang lokasinya jauh lebih dekat dengan rumah sakit. Dan siapa nyana pukul empat keesokan paginya aku harus kembali menginjakkan kaki di IGD?

Bukan karena ibu. Tapi karena ketubanku pecah dini. Campur aduk rasanya. Kenapa harus sekarang? Kandunganku bahkan masih 36 minggu, hasil periksa terakhir berat janin masih 2,4 kilo. Kecemasanku semakin bertambah ketika kontraksi terjadi tanpa henti. Ya Allah, beginikah rasanya kontraksi, sedang dulu saat ibu melahirkanku ibu mengalaminya dari jam 6 sore hingga jam satu siang keesokan harinya. Dengan posisi janin yang melintang, tindakan sesar harus diambil pagi itu juga. Pukul enam pagi aku masuk ke instalasi bedah sentral, ruang yang sama saat aku melahirkan Ifa lima tahun yang lalu.

Alhamdulillah operasi berjalan lancar. Kondisiku juga lebih stabil dari saat melahirkan Ifa. Sementara itu ibu masih di ICU. Masih belum sadar dan belum bisa diajak komunikasi. Aku kembali teringat dengan keinginan ibu yang sempat beliau utarakan, “pengen ngancani anak wedok lairan, kaya dhisik yangti ngancani ibu.” Seketika hatiku kembali berdesir, inikah rencanaMU, ya Allah? Mengabulkan salah satu permintaan ibu meski dengan cara yang unik. Ya, ibu menemaniku. Aku di ruang operasi dan perawatan, sementara ibu di ICU. Raganya mungkin tertidur, tapi aku yakin jiwanya menemaniku.

Rencana Allah memang selalu yang terbaik. Daripada bingung-bingung mencari siapa yang akan menemani dan memandikan ibu saat aku lahiran, Allah mengaturnya lebih sempurna. Kami sama-sama di rumah sakit. Ibu di ICU dirawat oleh para ahli dan aku di bangsal. Sungguh tak pernah terpikirkan sebelumnya, benar-benar sempurna!

***

Aku memohon pada suami untuk mengantarkanku ke ICU. Aku ingin melihat kondisi ibu. Saat itu jam besuk. Kebetulan sudah tidak ada yang membesukku. Suami meminta ijin kepada perawat untuk membawaku ke ICU. Karena aku belum kuat jalan jauh, aku naik kursi roda yang didorong suami.

Kukuatkan hatiku ketika pintu ruangan ICU terbuka. Suami yang sedari tadi berpesan padaku, “jangan nangis lo ya”, mengelus pundak dan kepalaku. Toh akhirnya jebol juga air mataku. Kondisi ibu mengingatkanku pada yangti dan yangkung sebelum kepergiannya. Aku hanya sanggup meminta pada Allah, “berikan yang terbaik untuk ibuku. Jika memang kesembuhan adalah yang terbaik, maka sembuhkanlah segera. Namun jika tidak, maka jangan biarkan ibu terlalu lama merasakan kesakitan dipasang alat-alat bantu ini itu.

Kondisi Ibu saat di ICU

Hari Rabu, 30 November 2016 aku dan bayiku sudah diijinkan pulang. Ibu masih tetap di ICU, kondisinya naik turun, tak stabil. Aah, kembali ke rumah dengan bayi namun tanpa ada ibu rasanya… Setiap kali menatap dipan tempat ibu biasa berbaring aku tak sanggup untuk tak mengeluarkan air mata. Tak heran jika air susuku pun tidak melimpah. Nurani ini tak bisa berbohong… I’m not okay.

Hari Jum’at, 2 Desember 2016, tepat seminggu ibu berada di ICU. Malam itu jadwalku untuk kontrol  jahitan. Saat menunggu giliran dipanggil, handphone-ku bordering. Kulihat di layar, nama bulik tertera di sana. Jantungku berdegup. Ada apa dengan ibu. Kuangkat handphone dengan bergetar, di seberang sana bulik bertanya di mana posisiku. Setelah kujawab keberadaanku, bulik hanya bilang kalau tadi barusan dari rumah dan meninggalkan baju ganti Ifa selama menginap di rumahnya di depan pintu. Aah kupikir ada apa-apa. Namun ternyata setelah panggilan ditutup, aku menerima pesan dari bulik, “kondisi ibu buruk. Tensi drop bahkan hingga angkanya tak nampak di layar, doakan terus yang terbaik.” Aku menghela nafas panjang. Inikah waktunya?

firasat by Marcell

Sepulangnya dari kontrol jahitan, suami bergegas ke rumah sakit untuk melihat kondisi ibu. Suami janji akan cepat pulang. Namun sampai pukul dua belas malam, dia tak juga pulang. Perasaanku semakin tak menentu.
Hanya dengan bayiku dan Ifa, aku merasa malam sangat panjang. Bulan September lalu saat mengikuti pelatihan SEFT, semua peserta diminta untuk menulis surat kepada dua orang yang paling dicintai. Surat itu berisi tentang pernyataan maaf, terima kasih dan ungkapan cinta. Saat itu aku menuliskan surat untuk suami dan ibu. Surat untuk suami telah tiba di tangannya dengan selamat dan telah dibacanya sendiri. Surat untuk ibu masih ada di tanganku. Dan hingga malam itu aku belum sanggup membacakannya langsung di depan ibu. Aku takut jika surat itu membuat ibu terlalu sedih atau bahagia, dua kondisi yang terlarang untuk ibu.

Malam itu setelah selesai kubacakan Yasin, aku membuka surat itu. Aku bergumam sendiri, “maaf bu, aku nggak sanggup membacakan ini di depanmu. Tapi aku tahu saat ini ibu ada di dekatku dan ibu bisa mendengarku.” Kubacakan surat itu sebanyak tiga kali hingga banjir air mata, sembari di dalam hati kurapal ikhlas jika saatnya memang benar-benar tiba.

Kemudian aku juga teringat obrolanku bersama ibu selemparan masa yang lalu ketika merencanakan tanggal operasi untuk kelahiran bayiku. “Tanggal 3 Desember ternyata Sabtu Pahing bu, dilahirke tanggal kui wae ya bu ben wetonne pada mbek aku.” Candaku kala itu. “Ngko tukaran terus mbek ibune,” kata beliau. “Aku mbok digawekke bubur abang putih, kaya jaman pas di Salatiga ki lo bu. Nek pas wetonku mesti dibuburke, jare ben ilang nakale, hehe.” Ibu tersenyum dan membalas candaanku, “yo ngko bancaan bubur abang putih.”

Pukul setengah satu lebih suami belum juga pulang. Aku tak lagi sabar menunggu kabar darinya. Kuambil handphone dan segera kupencet nomornya. Tak lama ia segera mengangkatnya. Suaranya bergetar. Dia tidak perlu berkata banyak, aku sudah bisa menebak.

Semua firasat itu terjawab. Ibu wafat 3 Desember 2016, pukul 00:28. Inikah ‘bancaan’ versimu, bu? Hmm, namun inilah yang terbaik. Bukankah setelah ini ibu tak lagi akan merasakan sakit di tubuhnya, kaku-kaku di tangan dan kakinya, ibu sudah bebas dari segala rasa sakit yang selama ini dirasakan.

Nek ora mari yo mati,” dua keinginan yang ibu punya dan selalu disampaikan padaku. Ibu hanya ingin sembuh, namun jika kesembuhan tidak bisa diraih, ibu hanya ingin meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Dan ternyata pilihan kedua yang dikabulkan oleh Allah. Insya Allah, khusnul khotimah ya bu.

Ibu pernah memintaku untuk tidak menangis kalau akhirnya ibu meninggal. Namun nyatanya janji itu tidak bisa kutepati. Sesaat setelah mendapat kabar dari suami jika ibu meninggal kuhabiskan air mataku dalam kesunyian. Hanya ada Ifa, bayi berusia seminggu, aku dan Allah. Anak-anakku tertidur lelap dan aku tergugu dalam tangisku. Perpisahan ini tiba juga. Aku menangis sejadinya, aku berjanji pada diriku sendiri. Cukup malam ini, besok air mata tak boleh tumpah.

Bersama mereka dini hari itu saat kabar itu kuterima

Ibu dimandikan dan dikafani di rumah sakit. Sungguh sebenarnya aku ingin memandikan sendiri ibu untuk terakhir kalinya, sebagaimana dulu yang kulakukan pada bapak. Namun kondisi tak memungkinkan, ada bayi berusia seminggu yang tak mungkin kutinggalkan. Jenasah ibu dibawa pulang ke rumah pukul delapan pagi. Aku tak berani membukanya meski diijinkan. Aku nggak mau pertahananku untuk tidak menangis bobol jika membuka kain kafannya. Tamu-tamu berdatangan, tetangga, keluarga hingga teman-teman sekolah ibu tumpah ruah di rumah. Aku menyambut mereka dengan senyum. “Sabar, tabah, ikhlas ya mbak.” Berkali-kali pesan itu terekam di telingaku.

3 Desember 2016, ba’da luhur, hujan menjadi saksi perpisahanku dengan ibu. Aku hanya mampu menatap nanar ambulance yang membawa jenasah ibu ke peristirahatan terakhirnya. Pernah dengar ketika hujan turun saat seseorang akan dimakamkan tandanya Allah memaafkan dosa-dosanya. Entah pernyataan itu benar atau tidak, aku aminkan saja. Allahumma firlaha warhamha wa'afiha wa' fu'anha. Ya Allah ampunilah dosanya, berilah rahmatMU atasnya, sejahtera dan maafkanlah dia.

Sudah tunai tugasmu di dunia ini, bu. Kini saatnya aku melanjutkan segala mimpi dan harapanmu. Saatnya pula bagiku melanjutkan kebaikan-kebaikan yang telah kau torehkan, juga melaksanakan petuah-petuahmu. Aku yakin kau telah bahagia di tempat yang Allah pilihkan untukmu. Semoga kelak kita bisa bertemu kembali di jannahNYA.

I miss you so much, bu… Aku, Ifa, mas martin dan Afan sangat mencintaimu, namun cinta kami tidak lebih besar dari cinta Sang Pencipta kepadamu, maka sudahlah pasti tempat terbaik untuk kembali adalah berada di sisiNYA. Terima kasih untuk semua yang telah kau berikan kepadaku selama 31 tahun ini. Engkaulah inspiratorku, wanita terhebat, terkuat, tersabar. Dan sungguh ketika TV di rumah tak lagi menyala, saat itu pulalah aku kehilangan salah satu pintu surgaku…







You Might Also Like

12 comments

  1. InsyaAllah ibu nya Khusnul Khotimah mba, Aamiin..
    Semoga Allah sll memberkahi klg mba
    Jadi dzikrul maut saya mbaca tulisan mb

    ReplyDelete
  2. Ya Allah...bohong banget kalo aku bilang aku nggak nangis baca ini. Aku jadi ingat 3 perempuan kesayanganku yang kini juga sudg nggak ada. Mbah putri meninggal, Eyang Uti dan Ibuku meninggal sama-sama di bulan Oktober, tetapi masing2 selisih 5 tahun. Semoga ahli kubur kita semua khusnul khotimah. Aamiin

    ReplyDelete
  3. Kita mengalami kedukaan yang sama bun. Dulu aku sempat berharap ibu sembuh. Mungkin aku terlalu terinspirasi oleh sinetron-sinetron religius di tipi, meski bisa saja hal itu terjadi. Apa sih yang tidak bisa dilakukan oleh Allah. Allah tinggal berucap "Jadilah" maka akan terjadi. Tiba-tiba ibu bangun, bisa duduk, kemudian tiba-tiba berdiri. Keren ya?
    Harapan ini sepertinya terlalu mewah, baiklah aku ganti dengan yang lebih natural. Aku berharap ibu disembuhkan seperti sebelum makan nangka. Sepertinya harapan ini natural dari yang tadi. Tapi segera aku tersadar, harapan ini jauh lebih kejam. Bukankah aku tahu penderitaan ibu. Sebenarnya masih ada satu harapan, tetapi itu bukan harapanku, itu harapan ibu yang sering disambatkan ke aku. Tapi aku belum siap bu, jadi maaf tidak aku masukkan ke daftar harapanku.
    Mungkin ini adalah jawaban penantian lama ibu. Semua indah pada waktunya. Allah sudah mengatur rentetan peristiwa untuk kita, tetapi kita tidak pernah menyadarinya. Semoga memang benar Allah telah mengaturnya sedemikian rupa. Dan semoga ibu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah. Amin

    ReplyDelete
  4. turut berduka cita sedalam2nya ya mbak...semoga ibu khusnul khotimah

    ReplyDelete
  5. Ya Allah, aku mbrebes mili bacane Mbak.. semoga Ibu khusnul khotimah, amin

    ReplyDelete
  6. Ya Allah, sepanjang membaca cerita ini saya tergugu Mbaa :'(

    semoga ibu diberikan tempat terbaik di sisiNya, amin..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com