1001 Cara Berinternet Sehat ala Emak Dasteran

  • Friday, November 17, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 28 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hari ini istirahat dulu dari mengerjakan tugas kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional dan cuzz menjawab tantangan dari #ArisanBlogGandjelRel periode 15. Kali ini temanya yaitu tentang ‘berinternet sehat ala kamu’. Ide ini digelontorkan oleh mbak penulis kece dengan puluhan karyanya sekaligus salah satu founder Blogger Gandjel Rel, DewiRieka alias Dedew yang berkolaborasi dengan mbak Prananingrum. Btw, mbak Ningrum selain jago ngeblog, juga pinter njahit lo, yang mau pesen seprei berkualitas top, cuz aja deh jejerin doi.

Kece banget nih temanya. Sekaligus membuat aku ingat kalau ada teman yang menanti postinganku tentang acara Internet Baik beberapa bulan lalu. #Plak.. lama banget yee baru ditulis, ini yang nungguin udah lumutan kali. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan ya… #ngelesdotcom.

Selain dalam rangka memenuhi kewajiban arisan, tulisan ini juga aku buat dalam rangka #PostinganTematik #BloggerMuslimahIndonesia. Awalnya sih mau aku sendirikan, namun setelah hari demi hari membaca ulang tema yang diberikan, aku rasa kok hampir sefrekuensi. Jadilah, inilah pendapatku mengenai "Muslimah, Blog dan Dunia Maya".


A.   Kenalan Sama Internet Baik

Ngomongin soal blog dan dunia maya maka tak bisa dilepaskan dari keberadaan internet. Karena dua hal itu berkembang juga lantaran adanya internet. That's why  penting banget kita entah sebagai siapa pun itu, apalagi sebagai muslimah, memahami cara berinternet yang baik demi bisa eksis di dunia blog dan dunia maya secara tepat serta pas porsinya.

Membaca tema yang diajukan oleh duo srikandi kece Gandjel Rel dan tim #PostinganTematik dari Blogger Muslimah Indonesia memang membuat ingatanku terlempar pada acara Internet Baik yang diselenggarakan di Hotel Santika Premiere pada 12-13 September 2017 yang lalu. Menghadirkan tiga narasumber yang ahli di bidangnya; Kang Mumu – founder Kakatu, kak Hilman – timnya bu Elly Risman dari Yayasan Kita dan Buah Hati, dan kak Widuri – ICT Watch, acara ini penting banget buat people jaman now biar lebih melek tentang berinternet secara sehat.



Sayangnya saat itu aku tidak diterima masuk di hari kedua, dikarenakan datang terlambat setelah kelar siaran radio. Meskipun sudah ijin terlebih dahulu, ternyata tetap tak ada tempat untukku, huhuhu.

Acara hari pertama dipandu oleh moderator dan tiga narasumber menggeber tentang tips and trik berinternet sehat. Di akhir acara hari pertama, setiap peserta harus memilih coach mana yang mau diikuti pelatihannya di hari kedua. Apakah pelatihan blogging, vlogging atau parenting. Saat itu sebenarnya aku memilih pelatihan vlogging karena merasa aku butuh ilmu tentang ini secara lebih dalam, namun apa dikata Allah belum mengizinkan untuk tahu banyak hari itu. Kenapa nggak pilih parenting? Tema yang disampaikan oleh Kak Hilman sama persis dengan yang pernah aku dapatkan dari seminar bu Elly Risman, bahkan gaya penyampaian doi pun kayanya terinspirasi bangeet oleh bu Elly… ya iyalah… namanya juga satu tim yee.. hehe. That’s why aku pikir memilih vlogging sebagai sesuatu yang baru gitu deh.

Wokay, back to Internet Baik, ternyata BAIK di sini ada kepanjangannya lo; Bertanggung jawab, Aman, Inspiratif dan Kreatif. So, diharapkan para peserta yang datang ke acara ini bisa pulang dengan menjadi pribadi-pribadi yang menularkan kebiasaan berinternet secara sehat. Kalau dijelaskan panjang x lebar x tinggi, ini loh maksudnya BAIK;



Bertanggungjawab – tentu saja bertanggungjawab dalam memanfaatkan internet dan media sosial secara tepat, sesuai dengan norma dan etika. Bertanggung jawab pula dengan segala resiko dampak negatif internet yang dapat membahayakan diri sendiri apalagi orang lain.

Aman – dalam berinternet kita harus bisa memastikan bahwa kita aman dari segala dampak buruk dari internet, baik berupa kecanduan, pornografi, judi, dan aman dari potensi kejahatan yang terjadi di internet. Untuk itu kita harus mampu mengenali berbgai bentuk bahaya tersebut dan mengidentifikasi serta mengambil tindakan dalam melindungi diri.

Inspiratif – Sebagai people jaman now, diharapkan kita tidak hanya menjadi pengguna internet secara pasif. Namun juga mampu mendorong pemanfaatan internet sebagai cara hidup yang menjadikan hidup lebih mudah, produktif dan menyenangkan, serta memberikan inspirasi dari orang-orang yang sudah menggunakan internet baik.

Kreatif Selain memberikan inspirasi, penting banget buat kita untuk bisa menciptakan ekosistem digital yang produktif sebagai wadah dan pengembangan daya cipta serta kreasi, seperti membuat konten positif yang memiliki nilai manfaat bagi orang lain melalui kegiatan online mereka. Contohnya…. Blogging dong, hehe.

Saat itu kang Mumu memberikan contoh beberapa tokoh yang telah berhasil menggunakan internet secara BAIK, antara lain; Al Fatih Timur dan Vikra Ijass lewat web sedekah online kitabisa.com, Salman Khan dengan situs belajar onlinenya – Khan Academy, dan Gen Halilintar lewat channel YouTubenya yang sudah menghasilkan hingga miliaran rupiah.





Dengan kehidupan digital yang semakin merangsek kita saat ini, memang mau tidak mau kita nggak bisa lepas dari kebutuhan berinternet. Nyari PR anak kudu browsing, nyari resep masakan tanya aki google, upload dagangan di fesbuk, bahkan sekedar say hello sama suami – semua pakai internet.

Waktu PDA awal bulan November yang lalu, abah Ihsan menyampaikan ketidaksetujuannya tentang menyamakan internet dan smartphone dengan pisau. Ya, pisau di tangan chef bisa jadi alat masak yang berguna banget. Namun di tangan orang jahat bisa jadi alat pembunuhan. Sedangkan internet dan smartphone tidak bisa semudah itu disamakan dengan pisau, karena dampak buruknya bisa jadi lebih buanyak dibandingkan dampak positifnya jika kita tidak menyiapkan diri.

Jangankan anak-anak yang bisa kecanduan game, terpapar konten negatif yang menjurus ke pornografi, dan terjebak pedofil online, kita yang udah dewasa saja bisa dengan mudah tergelincir cyber bullying, mom war yang nggak habis-habisnya, radikalisme yang bikin pemikiran sempit dan dengan mudah boikot sana sini, hingga melakukan pelanggaran privasi.



That’s why saking berbahayanya internet kalau kita nggak melek dengan cara pakainya yang benar, maka hayuk lah bergegas untuk menyiapkan diri agar lebih dewasa dalam menggunakan kemajuan teknologi ini. Sebelum nyiapin anak-anak kita, tentu saja emak-emaknya kudu nyiapin diri terlebih dulu kan?

Jangan merasa hanya karena kita emak-emak dasteran yang lebih banyak stay at home terus merasa nggak wajib membekali diri tentang berinternet sehat. Ingat euy, bencana yang paling besar adalah bencana yang tak kita sadari kehadirannya. Salah satu bencana yang paling bikin nyesek para orangtua jaman now jelas anak-anak yang kecanduan game dan nggak bisa lepas dari smartphone. Namun sebelum handling anak-anak, bekali diri kita dulu dengan ilmu yang tepat biar lebih kece saat mendampingi anak belajar berinternet sehat.

7 Kebiasaan untuk Keren Berinternet



Satu, THINK.



Singkatan dari True, Hurtful, Illegal, Necessary, Kind. Intinya, saat kita mau mendapatkan sebuah informasi dari internet dan berniat menyebarkannya pikirkanlah apakah postingan tersebut benar adanya, menyakitkan untuk pihak lain atau tidak, kontennya illegal atau legal, perlu nggak dibuat viral dan adakah kebaikan di dalamnya.

Dua, Respect.



Sebelum posting sesuatu, pastikan kita tidak membahayakan diri sendiri dan menyakiti hati orang lain. Hindari war yang bikin panas timeline sosial media dan kepala nyut-nyutan deh. Bukankah damai lebih baik. Jangan pula paksakan pendapat diri sendiri kepada orang lain, sepatu kita berbeda dengan sepatu yang mereka pakai, setiap orang punya kaca matanya masing-masing, jadi mari saling menghormati opini masing-masing dengan selalu berbagi info yang bikin adem hati.

Tiga, Turn Back HOAX.



Jangan bersumbu pendek, pals. Tidak semua yang ada di media itu benar adanya. Bahkan tidak semua media bisa dipercaya. Cek dan ricek dulu kebenarannya sebelum disebarkan, jangan hanya ikut-ikutan teman dan terbawa hawa nafsu deh.

Empat, Take Care Your Self Branding



Sosial mediamu, cerminan dirimu. Orang lain kini bisa dengan mudah menilai diri kita seperti apa lewat sosial media kita. Maka berhati-hatilah karena jempolmu, harimaumu.

Lima, Tell – Repot – Block



Kalau kita menemukan konten yang tidak benar atau menyakiti hati, cara pertama yaitu ajak diskusi orang yang posting konten tersebut secara baik-baik, jika cara pertama belum berhasil, silakan cuzz cara kedua. Cara kedua yaitu gunakan fitur report untuk melaporkan ke penyedia layanan. Ketiga, block (unfriend or unfollow) orang tersebut biar nggak bikin senewen tiap baca postingannya. Kita juga bisa melakukan aduan ke Kominfo saat menemukan konten negatif.  



Enam, Posting nggak ya?



Sebelum posting suatu link artikel, pikirkan apakah artikel tersebut baik, benar-benar membantu dan bisa menginspirasi. Ketika ingin posting foto atau video, pikirkan apakah konten itu akan menyinggung orang lain. Ketika ingin posting tulisan/ blog, sudahkah kita klarifikasi kebenarannya dan benarkah tulisan tersebut bermanfaat? Setelah dipertimbangkan baik buruknya, silakan posting.

Tujuh, Ingat Kehidupan Nyatamu!



Jangan sampai kena FOMO alias fear of missing out deh, pals. Begitu ada notifikasi dari sosial media berbunyi, langsung cepet-cepet buka HP, saking takutnya ketinggalan informasi. Santai aja, hidup nggak cuma di dunia maya, jangan sampai kecanduan media digital. Hidup di dunia nyata jauh lebih menyenangkan kok.

5 Prinsip Cerdas Berinternet



Keep Playing or STOP



Sebagai orangtua kita wajib tahu lo game apa saja yang sedang disukai anak-anak dan rate dari game tersebut, apakah itu untuk cocok dimainkan anak-anak atau tidak. Kalau orangtuanya aja nggak paham anaknya main apa, terus gimana mengarahkan mereka?

THINK before POSTING



Related to bagian pertama dari 7 kebiasaan keren untuk berinternet, bekali diri kita kemampuan THINK sebelum posting. Lalu tularkan skill tersebut ke anak-anak.

SARING before SHARING

Nggak ada yang mau dikatain sumbu pendek, tapi seringkali kita nggak sadar kalau ternyata kita ini sumbu pendek itu sendiri. Ada temen share video bagus, ngikut share, ada temen share berita A, ikut share, tanpa cek dan ricek lagi. So, pastikan lima hal ini dulu sebelum sharing ya.




Click or Close

Internet itu bebas banget, kita bisa dapatkan apa saja pakai internet. Makanya wajib buat diri kita dan anak-anak kita untuk membekali diri untuk BERANI close konten-konten negatif. Karena sekalinya kita click konten negatif tersebut, dampaknya bisa berkepanjangan dan bisa bikin kecanduan.



Wise while Online

Jangan asal online, bijaklah saat online. Entah itu bijak dalam menggunakan waktu untuk online ataupun bijak saat berkomentar. Lebih dari itu ada beberapa tips yang perlu kita ketahui saat online. Cuzz deh.



Suka sama infografisnya? Jangan kira aku buat sendiri ya, hihi.. itu ada di buku saku yang aku dapat waktu acara Internet Baik. Pengen punya juga? Cuzz aja ke web Internet Baik, kita bisa download versi PDF nya kok. Bahkan nggak cuma buku saku tersebut, tapi juga ada banyak materi keren tentang berinternet baik yang bisa didownload. Dijamin materi-materinya helpful banget untuk mengedukasi anak-anak dan masyarakat lo, seperti 17 Rumus Keren Berinternet, Cakap Bersosial Media, Buku Pegangan untuk Murid dan Guru, serta printable Ular Tangga Internet yang kece abis.

Atau kalau mau hemat waktu dan nggak perlu download satu per satu, aku sudah save 8 modul kece itu ke Google drive dalam satu folder,  bisa cuzz ke sini buat tengok-tengok.

Materi kece itu bertujuan untuk memberikan Digital Citizenship Education alias Pendidikan Kewarganegaraan Digital. Edukasi itu diharapkan bisa meluas ke seluruh lapisan masyarakat agar pengguna internet bisa lebih produktif dan bertanggungjawab sehingga internet bisa mengoptimalkan kehidupan penggunanya, tentu saja termasuk para emak dasteran.



B.   Berinternet Sehat Ala Aku si Emak Dasteran

Setelah membekali diri dengan 7 kebiasaan untuk keren berinternet dan 5 prinsip cerdas berinternet, saatnya kita para emak dasteran untuk merumuskan mau diapain nih si internet. Apalagi selain sebagai emak dasteran, aku juga mempunyai kewajiban sebagai muslimah untuk amar ma'ruf nahi munkar. Jelas nggak bisa dong pakai internet secara asal-asalan, harus tidak keluar dari koridor alias harus tetap mengikuti batas-batas yang sudah ada di dalam al Quran.

Kalau buat aku pribadi sebagai salah satu emak dasteran, internet berguna banget untuk dua hal besar; memperkaya parenting skill ku dan memberdayakan diriku sebagai seorang wanita muslimah.

Membesarkan Kids Jaman Now di Era Internet High Speed

Sebuah pertanyaan ciamik diajukan Abah Ihsan pada PDA beberapa waktu lalu, “kalau anak kita, anggap saja berumur di bawah 17 tahun meminta ijin untuk keliling dunia tanpa ada satu pun orang yang boleh menemani, apakah kita akan memberikan ijin?”
Menggelitik ya. Rata-rata peserta PDA kala itu jelas bilang “tidaaak.” Abah menanyakan alasan jawaban tersebut, ada yang menjawab takut anak tersesat, takut diculik, takut nggak nyampai tujuan dan banyak lagi lainnya. Kemudian Abah melanjutkan pertanyaanya, “lalu kenapa dengan mudah kita memberikan smartphone yang ada sambungan internetnya di dalamnya kepada anak-anak kita? Padahal lewat smartphone, anak-anak bisa berkeliling dunia dengan sangat mudah hanya menggunakan jari!”



Kontan semua peserta PDA merenung saat itu juga. Ketika anak belum cukup umur tidak kita ijinkan keliling dunia beneran tanpa ada pendamping karena takut ini takut itu, tapi kenapa kita nggak takut memberikan smartphone yang bisa membuat anak surfing dari situs ini ke situs itu hanya demi agar anak anteng, anak nggak rewel dan sebagainya.

Di zaman era digital, informasi bisa diakses dengan mudah – di mana dan kapan saja dan terjangkau. Sayangnya banyak informasi yang diumbar secara bebas dan bahkan tanpa filter. Nah, selama ini kita udah membekali anak dengan ilmu yang tepat belum? Harusnya sih kalau kita udah berani kasih smartphone ke anak, anak-anak kita sudah harus khatam dulu bab berinternet secara baik dan sehat. Karena kalau belum, jangan salahkan anak kalau sikapnya menjadi agresif, sering marah-marah, sering ngamuk ketika HP kita minta, apalagi kalau udah kecanduan – bisa kaya orang sakaw ketika tidak diijinkan ngegame atau pegang HP.



Didiklah anak sesuai dengan zamannya. Bener banget nih. Memutus sama sekali hubungan anak jaman sekarang dengan internet memang tidak mungkin, karena pekerjaan sekolah pun sekarang juga butuh sambungan internet. Namun bukan berarti kita memberikan kebebasan tanpa batasan kepada anak-anak.

Disampaikan oleh Kak Hilman pada acara Internet Baik untuk mendidik anak di jaman digital, orang tua perlu;



Satu, Melakukan attachment atau bonding kepada anak.

Ngomongin dan ngajak ngomong itu beda, pals. Ngomongin artinya kita bawel alias ngomel panjang kaya gerbong kereta. Sedangkan ngajak ngomong itu memberikan ruang untuk berkomunikasi. Anak-anak butuh diajak berkomunikasi dan berdiskusi. Menciptakan komunikasi yang hangat dan produktif akan membangun kelekatan anak dan orangtua.

Jika tidak ada kelekatan dengan orangtua, anak-anak akan cenderung mencari kebahagiaannya di tempat lain. Salah satunya lewat smartphone, game, dan lainnya yang bisa berujung pada kecanduan.



Salah satu cara untuk melekatkan diri pada anak adalah rutin melakukan gerakan 1821 yang diperkenalkan oleh Abah Ihsan. Dalam rentang waktu 18.00 – 21.00, simpan semua yang berbentuk kotak dan fokuslah pada anak-anak. Ajak ngobrol, temani belajar, bermain bareng dan baca buku berkualitas yang bisa membantu kita menyisipkan nilai-nilai keimanan, kekuatan mental, kasih sayang dan moral.

Dua, Membangun Kepercayaan Anak

Sudahkah jadi tempat pertama bagi anak untuk bertanya ini itu? Kalau belum, maka kita belum mendapat kepercayaan dari anak. Untuk mendapat kepercayaan dari anak, tentu saja kita harus melakukan poin pertama; berkomunikasi secara produktif dan terus lekatkan diri dengan mereka. Dengan mendapatkan kepercayaan dari anak, akan lebih mudah bagi kita memberikan edukasi kepada anak-anak, salah satunya tentang YAY and NAY saat berinternet.

Tiga, Melakukan Edukasi

Jangan ujug-ujug nyeramahin anak soal bahaya internet, jangan ujug-ujug kasih sanksi ke anak ketika terlalu banyak ngegame kalau kita belum melakukan poin ke satu dan belum mendapat poin ke dua. Ini sebuah siklus yang runtut, pals.. nggak bisa dibolak-balik susunannya. Lekatkan diri dulu ke anak – dapatkan kepercayaannya – baru bisa kita mengedukasi anak-anak tentang  nilai-nilai moral, agama dan hal-hal baik lainnya, salah satunya tentang berinternet secara sehat.





Kak Hilman pada saat Internet Baik menyatakan bahwa sangat penting bagi para orangtua untuk diskusi – dampingi – fasilitasi kebutuhan anak menyangkut masalah berinternet. Ajak diskusi anak tentang role model mereka di era digital, kenapa anak menyukai role model tersebut, apa kelebihan role model tersebut, lalu gali lebih dalam minat anak, Jika anak memiliki potensi lebih di bidang digital, kita bisa mengarahkannya untuk menjadi creator daripada hanya menjadi pengguna. Tentu saja setelah kita sampaikan hal-hal mendasar yang perlu dimiliki agar bisa tetap aman di dunia digital,  misalnya yang telah dibahas sebelumnya; 7 kebiasaan untuk keren berinternet dan 5 prinsip cerdas berinternet.

Empat, Melakukan Kontrol

Ketika poin satu hingga tiga sudah dilaksanakan, maka barulah kita bisa memberikan batasan kepada anak masalah smartphone dan internet. Batasan yang disarankan oleh Abah Ihsan mengenai smartphone dan penggunaan internet; jangan berikan smartphone sebelum anak berusia 17 tahun. Artinya bukan sama sekali anak tidak boleh menggunakan smartphone yang berkoneksi internet ya, tapi sebaiknya jangan BELIKAN anak smartphone pribadi sebelum anak 17 tahun. Lebih baik PINJAMKAN saja dulu. Bedanya? Ketika anak meminjam, maka sifatnya terbatas, kita masih mudah memberikan kontrol pada apa yang dilakukannya. Sedang ketika kita membelikan anak smartphone yang dipakainya sendiri, anak pasti merasa itu miliknya dan semua hal yang ada di dalamnya adalah privacy-nya.



La iya kalau kelekatan kita oke dengan anak, atau anak sudah mempercayai kita sebagai sahabat terbaik, kita bisa mengarahkan mereka menggunakan smartphone dengan baik. Kalau nggak? Ya, jangan kaget .. kalau anak-anak sekarang banyak yang kecanduan pornografi, game bahkan rela bunuh diri hanya karena orangtuanya nggak mau membelikan smartphone.

Anak-anak juga perlu diberi batasan yang jelas kapan boleh pinjam smartphone ayah bundanya, kapan bisa menggunakan koneksi internet, di mana boleh menggunakannya, dengan siapa boleh menggunakannya. Batasan ini akan membantu kita dalam menuntun anak berinternet secara sehat.

Kenapa harus 17 tahun? Sama kaya kenapa kita baru boleh dapat SIM di usia tersebut. Karena di usia 17 perkembangan otak sudah mencapai kematangan yang sempurna. Otak di usia 17 sudah bisa membedakan baik dan buruk, bukan lagi senang dan tidak senang atau suka dan tidak suka. Video ini mungkin bisa jadi referensi.


Nah, kalau ternyata kita kecolongan anak mengakses konten negatif, don’t panic! Jangan langsung ngomel pula, karena justru akan membuat anak menjauh. Pertama, tangkap perasaannya. Apa yang dia rasakan setelah menonton konten tersebut, lalu kemudian cek pemahamannya tentang apa yang telah diaksesnya. Jangan langsung asal tuding bahwa anak terlanjur rusak, siapa tahu dia hanya ikut-ikutan teman dan baru sebatas ingin tahu saja. Setelah kita tahu level pemahaman si anak, barulah kita bisa memberikan brief yang tepat sesuai kebutuhan agar anak bisa mendapatkan persepsi yang tepat. Jika dirasa sudah membahayakan, kita bisa berkonsultasi kepada yang lebih ahli, ke psikolog anak misalnya.




Saat ide “No Smartphone Before 17” digelontorkan oleh Abah Ihsan, banyak yang kemudian membeberkan kesulitannya. Salah satunya karena di sekolah, anak-anak justru diwajibkan membawa smartphone untuk kepentingan belajarnya. Sedih juga ya, ketika orangtua sudah melek tentang batasan menggunakan smartphone dan internet, ternyata tidak didukung oleh pihak sekolah.

Tapi jangan khawatir, pals. Kita pedekate aja sama sekolahnya dan minta mereka untuk pasang Kakatu School. Awalnya Kakatu memang didesain hanya untuk mempermudah orangtua mengontrol penggunaan internet anaknya saat di rumah, namun dalam perkembangannya Kang Mumu sepertinya menangkap bahwa di sekolah juga bisa menjadi tempat yang membahayakan bagi anak-anak jika tidak dibatasi. That’s why dibuatlah Kakatu School yang bertujuan untuk membangun sekolah ramah digital dengan teknologi berinternet yang aman dan sehat.







Memberdayakan Diri Sendiri

Selain untuk menambah informasi berkaitan dengan urusan asuh-mengasuh anak, internet bermanfaat banget untukku dalam hal-hal ini;

Produktif dalam Karya

Jangan letakkan HANYA di depan EMAK DASTERAN alias IBU RUMAH TANGGA, karena itu akan mengecilkan makna diri sendiri. Buktikanlah meski lebih banyak di dalam rumah, kita masih bisa produktif dalam karya. Bahkan seluruh rutinitas rumah tangga kita itu layak disebut dengan kerja dan karya kok.

Hubungannya dengan internet, tentu saja teknologi wajib ada tersebut sangat membantuku saat aku membutuhkan printable sheet untuk anak-anakku, misal mewarnai, belajar baca, dll. Bahkan aku sangat terbantu  karena adanya internet dalam mencari materi-materi menarik saat dulu masih aktif ngajar POS PAUD.



Selain itu nggak bisa dipungkiri, internet membantuku sekali dalam hal blogging. Gimana bisa ngeblog kalau nggak ada koneksi internet kan?

Produktif dalam Mengumpulkan Recehan

Karena internet pula, semua orang bisa jadi penjual sekarang. Bahkan nggak perlu punya produk sendiri pun, kita masih tetap bisa jualan, termasuk juga aku.

Dari jualan buku paket harga jutaan yang sempat jadi trending topic beberapa waktu lalu hingga jualan daster pernah aku lakoni, demi apa coba? Demi bisa beli lipen, wkwkwk. Enggakding, orang lipen cuma punya sebatang doang. Kalau belum habis ya nggak beli, hihi.


Sebenarnya aku merasa nggak begitu bakat jualan, meski orang bilang jualan itu bukan masalah bakat tapi soal kemauan. Ya gitu deh mood jualan sering naik turun. Tapi emang seneng sih ketika ada yang beli dan dapat keuntungan dari apa yang kita jual. So far sih keuntungan yang aku dapat dari berjualan lewat internet ini; dapat buku paketan gratis ---- komisi dari jualan buku aku belikan buku juga buat anak-anak.. Alhamdulillah meski belum lengkap cukup lumayan lah untuk membangun mini home library dan menumbuhkan minat baca ke anak-anak, dapat daster gratis ---- komisi jualan daster dibuat beli daster sendiri. Ya, masa yang jualan nggak ngrasain nyamannya pakai daster kece, hihi. Udah hafal nomor WA ku kan? Cuzz aja lah kalau butuh buku atau daster ya… wkwkkw. Digetok mbak Dedew dan mbak Ningrum nih, arisan malah buka lapak.

Produktif dalam Berbagi



Kadang malu sih disebut blogger atau dimintai bantuan sama teman-teman untuk berbagi materi tentang blogging. Secara ilmuku masih cetek banget, dan blogging-ku pun masih acak adut dibanding teman-teman yang lainnya. Namun katanya kan bagikanlah meski sedikit, insya Allah dari sedikit itu bisa berbuah banyak. Bener juga sih, gegara diberi kesempatan untuk mengisi materi blogging online ke beberapa teman yang membutuhkan dan offline di salah satu komunitas, aku jadi giat belajar lebih banyak biar nggak stuck juga di titik ini. Dan jelas untuk hal ini aku terbantu sekali dengan adanya internet. Thanks to Google Docs dan kawan-kawan yang membantu aku dalam share hal-hal yang aku tahu.

Produktif saat Me Time

Bahkan me time pun butuh internet. Secara me time favoritku itu nonton drama korea dan smule-an, kalau nggak ada koneksi internet, udah deh mati gaya, wkwk.



Eits tapi jangan salah, aku juga punya me time yang lebih berkualitas kok, salah satunya yaitu mendengarkan kajian dakwah dari berbagai macam ustadz lewat Rodja TV, Yufid TV ataupun Live FB.

Selain nonton ceramah keagamaan, aku juga demen belajar lewat kulwap ini ke kulwap itu, salah satunya ikut jenjang perkuliahan di Institut Ibu Profesional. Saking canggihnya, sekarang nggak cuma kuliah lewat whatsapp, tapi juga untuk yang level koordinator mulai ditatar menggunakan Google Classroom. Kece daah!   

Dan semua itu butuh koneksi internet yang oke.

Buatku kalau sehari-hari sudah penuh dengan aktivitas yang positif, maka kita jadi nggak punya waktu kok untuk tidak sehat berinternet. Gimana mau sharing berita hoax, nggibahin artis, atau ikut war, kalau dalam sehari sebenarnya ada banyak hal positif yang bisa dikerjakan lewat internet.

So, siap berinternet secara BAIK dan SEHAT kan, para emak dasteran dan muslimah sholihah? Siiiiip dah, salam literasi digital!



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



NB: Maaf yaaa eike kalap dan terlalu semangat bikin postingannya, makasih buat yang sudah mampir dan baca. Semoga bermanfaat :)




"Tulisan ini diikutkan dalam postingan tematik Blogger Muslimah Indonesia"



You Might Also Like

28 comments

  1. yeayy...
    yg ditunggu datang juga
    tengkyu mom marita...
    tulisannya selalu kece badai dan bermanfaat

    ReplyDelete
  2. keren banget inii kompliiit, makasih artikel ciamiknya saaay...

    ReplyDelete
  3. Ini bermanfaat banget, biar emak2 nggak kebablasan kalau internetan. :D

    ReplyDelete
  4. emak dasteran emang markotop paket super komplit ini.

    ReplyDelete
  5. Wah, banyak dapat informasi nih dari tulisan Mba. Terima kasih sudah menginspirasi.

    ReplyDelete
  6. Hehe kalo dulu mulutmu harimaumu, sekarang jempolmu harimaumu :D lengkap banget tulisannya, jadi tau internet BAIK dan kebiasaan berinternet yg keren nih :)

    ReplyDelete
  7. Waaahhh, ulasannya komplit n kece badai mbak, saya jadi dapet informasi baru dari membaca postingan ini, terutama tentag cara berinternet BAIK, tipsnya yang dibagikan juga bermanfaat banget, jadi reminder juga buat saya nih yang jangan sampai terkena FOMO. Ups!

    Terima kasih sudah membagikan ilmunya mbak😊 Inspiratif banget.

    ReplyDelete
  8. Komplit banget mba.. wahyu bintangi ya.singkatannya keren keren hehe. Saya jadi salah fokus..

    ReplyDelete
  9. Wah, terima kasih atas resume dan tipsnya, Mba...

    ReplyDelete
  10. Waaah, lengkap banget ini mbak. Makasih yaa informasi dan ilmu bergizi ini mah.

    ReplyDelete
  11. wah lengkap banget mbak..

    Saatnya memberdayakan diri dengan berkarya.Pas banget ini menuju resolusi 2018

    ReplyDelete
  12. Alhamdulillah tambah ilmu, komplit bin lengkap pake banget, bacanya juga gak cape secara bawainnya seruuu, makasih ya Mbak😊

    ReplyDelete
  13. Masya Allah..lengkap banget euyy..

    Setuju dengan ulasannya..Bertanggung jawab - Aman - Inspiratif - Kreatif !

    ReplyDelete
  14. Suka banget ma tulisan Mbak, detail dan informasinya lengkap banget

    ReplyDelete
  15. Tulisannya full isi. Saya baru tau loh kepanjangan internet BAIK. hihi...untung baca di sini

    ReplyDelete
  16. Tulisannya lengkap sekali mbak, semoga nggak sampe jadi sumbu pendek yaa karena sy juga nggak suka dikatain gitu..hehe

    ReplyDelete
  17. Wiih keren mba info grafisnya. Tulisannya lengkap banget ^^

    ReplyDelete
  18. Keren banget info dan tulisannya, Mbak. Pengingat diri yang mantap buat saya, nih. Sekalian izin share ya :)

    ReplyDelete
  19. komplit nih mbak...mksh ya mbak marita :)

    ReplyDelete
  20. Mau coba Khan Academy belum jadi juga....
    Anak saya punya hp sendiri kebetulan bukan dibelikan khusus tapi hp lungsuran. Beberapa aplikasi belajar ada di hpnya. Permaianannya disensor dan aplikasi yang tidak saya suka biasanya saya hapuskan. Jadi sifatnya mereka tidak bebas semaunya meski mereka klaim itu hp mereka..
    Anak saya 6 dan 8thn.

    ReplyDelete
  21. Kumplit mbak tapi nggak bosenin bacany. makasih yaa sharingnya

    ReplyDelete
  22. Komplit plit plit kap kap lengkap. Terimakasih ilmunya mbak. Ilmu baru ini.

    ReplyDelete
  23. Makasih Mba... jadi diingatkan lagi sama seminar internet BAIK waktu itu :)

    btw aku lagi jaga hasna banget nih biar nggak kecanduan youtube. kalau sama ayahnya pasti disodorin youtube dan setiap ayahnya di rumah jadi nagih, dan nggak mau dialihkan ke kegiatan lain. hiks.

    ReplyDelete
  24. makasih sharingnya, Mbak, tulisannya komplit plit dan selalu keren

    ReplyDelete
  25. Wah lengkap banget tipsnya.
    Makasih sharenya mbak.

    ReplyDelete
  26. Wah mbak Marita ini keren sekali!! Lengkap penjabarannya sampai ikutan seminarnya juga ya..semoga kita bisa mendapatkan banyak banyak pelajaran dari sini ya mbak,,yuk kita bisa berinternet dengan SEHAT!! :)

    Salam kenal,

    Meykke Santoso

    ReplyDelete
  27. Edukasi internet BAIK ini musti dilakukan secara konsisten. Emak-emak kan sering jadi korban berita hoax, hiks, baru baca bentar, berpikir, wah, keren, trus share tanpa berpikir apakah berita ini bener. syedddihhhh

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com