Anakmu, Cerminan Dirimu

  • Monday, November 13, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Meski tantangan 10 hari sudah berakhir, nggak ada salahnya kan mencoba lanjut hingga hari kelima belas?

Sejak mendapat cemilan pertama dari materi komunikasi produktif kelas Bunda Sayang IIP batch 3 tanggal 8 November lalu, aku semakin merasa tersentil betapa aku masih sering melakukan komunikasi non produkif kepada anakku, terutama kak Ifa. Entah sudah berapa kali kak Ifa meneriakiku  hanya karena aku nggak fokus pada apa yang dia sampaikan.


“Bundaaaaa….”
“IIh, sebeeeel. Bunda pegang HP terus kok…”

Aku seringkali menjadikan alasan pekerjaanku untuk menghindar dari percakapan dengan Ifa. “Bentar Fa, ada pesan yang harus bunda jawab” atau “nanti dulu ya, ini lo ada yang pesan daster.” Masalahnya aku menjawab demikian tanpa melihat ke arah kak Ifa  dan tetap menatap handphone.

Karena merasa tak ditanggapi maka nggak heran kalau kak Ifa lantas jadi sering teriak untuk mendapat respon dariku. Waktu belum dapat materi cemilan, aku seringkali terganggu dengan teriakannya dan berimbas pada marah-marah yang sebenarnya tiada guna. Namun yang lebih tertampar adalah ketika Kak Ifa jadi semakin sering mengabaikan ketika kupanggil. Tentu saja awalnya aku jengkel, kenapa anak ini dipanggil cuek, nggak respek dan sebagainya. Namun setelah aku mencoba instropeksi diri, bukan salah kak Ifa.

Anakmu, cerminan dirimu. Anakmu, cerminan bagaimana pola asuh yang kau terapkan padanya. Anakmu, gambaran bagaimana kau mentarbiyahnya. Kalimat-kalimat itu yang berulangkali aku sounding ke diri sendiri. Ya, bukan salah kak Ifa kalau dia jadi sering meneriakiku untuk mendapat respon dariku, bukan salah dia pula jika aku memanggilnya ia cenderung cuek. Bukankah aku yang membuat kak Ifa berteriak karena terlalu asyik dengan pekerjaan, aku pula yang mengajarkan kak Ifa cuek saat dipanggil. Maka inilah saatnya memperbaiki semuanya.



Aku mulai mempraktekkan prinsip-prinsip dasar komunikasi antara orangtua dan anak, antara lain;

Tunjukkan Ketertarikan dan Perhatian

Saat kak Ifa mulai mengajak ngobrol, se-hectic apapun pekerjaanku, aku usahakan untuk menunjukkan ketertarikan dan perhatianku pada obrolannya. “Ohh ya…”, “terus gimana kak?” “Wah keren ya?” Beberapa frasa sederhana seperti itu bisa menjadi pemicu buat kak Ifa untuk bercerita lebih banyak. Dan ternyata mendengarkan anak bercerita itu menyenangkan lo. Apalagi ketika kita sadar si anak punya perbendaharaan kata baru.

Komunikasi non-verbal

Masih ingat kan rumus 7 – 38 – 55? Ya, bahasa tubuh adalah segalanya. Ketika aku jemput kak Ifa dan bahasa tubuhnya lemas atau tak bersemangat. Aku bisa mengartikan kalau dia bisa jadi belum ingin dijemput atau tadi saat sekolah ada sesuatu yang mengganggunya. Aku biasanya akan memancingnya dengan “Assalammualaikum kak, happy hari ini?” Ketika dia tersenyum dan bilang “yaa”, berarti tidak ada masalah di sekolah, kemungkinan dia lapar. Tapi kalau dia tidak menjawab pertanyaanku baru deh aku akan gali lebih lanjut.


Orangtua sebagai orang yang dapat diandalkan

Karena di awal jadi orangtua aku kurang belajar, maka kak Ifa tumbuh jadi anak yang sering susah mengatakan apa yang diinginkannya. Takut dimarahi dan takut disalahkan, mungkin itu yang ada di pikirannya. Maka sekarang ini aku sedang memupuk kepercayaan dirinya untuk bisa mengandalkan ayah bundanya. Kalau dia butuh sesuatu, aku sampaikan kepadanya bahwa ayah bundanya bisa membantunya, tentu saja dengan mengatakannya secara baik dan jelas biar kami mengerti. Perlahan kini Ifa semakin baik dan tidak terlalu ngak ngek saat ingin sesuatu atau butuh bantuan.

Terima perasaan anak

Kenapa sih nangis,” atau “gitu aja nangis” adalah dua hal yang dulu sering aku ucapkan pada Kak Ifa. Ternyata itu tidak menyelesaikan masalah. Kak Ifa tetap menangis dan aku tak menemukan solusinya. Ya, kesalahan besarku adalah aku tidak menerima perasaannya terlebih dulu. Aku kini mulai belajar untuk memeluk dia dan bilang, “kak Ifa sedih? Boleh kok nangis dulu, tapi kalau udah selesai, nanti cerita ya sama bunda ada apa?” atau jika aku sudah tahu alasannya aku mulai belajar untuk bilang “Jatuh ya kak? Sakit di bagian mana? Oke, boleh nangis, sebentar saja ya. Kan sakitnya juga nanti sebentar lagi hilang.” Dengan melakukan pola tersebut, ternyata jadi lebih mudah menghentikan tangisannya.

Fokus orangtua hanya pada anak

Anak itu seringkali terlihat begitu menyebalkan karena kita nggak fokus padanya. Coba fokus, lucu dan menyenangkan.” Jadi ingat wejangan abah Ihsan saat PDA beberapa waktu lalu. Memang benar adanya. Kalau lagi sibuk membalas pesan di WA atau menatap layar laptop, lalu kak Ifa berteriak karena ingin direspon, rasanya mengganggu sekali. Namun ketika dengan ikhlas aku menghentikan dulu aktivitasku, menatap ke arahnya dan bilang “sebentar ya, bunda selesaikan dulu ini, 10 menit. Habis itu kak Ifa boleh cerita dan main apa saja sama bunda? Oke?” Kak Ifa jauh lebih bisa diajak kompromi. Paling sesekali dia nawar, “10 menit lama, 5 menit aja ya?”

Ternyata berkomunikasi produktif dengan anak itu nggak susah kok. Masalahnya tinggal mau atau nggak kita berusaha. Semoga kita dimudahkan jadi orangtua yang selalu bisa berkomunikasi secara baik dengan anak-anak kita yaa. Aamiin.
Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sumber: Materi Cemilan 1 Komunikasi Produktif di WAG Bunsay #3 Jawa Tengah

#hari12
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com