Sosialisasi Ulang Batasan di Rumah

  • Wednesday, November 08, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sejak mengulang Program Disiplin Anak (PDA) hari Minggu, 5 November 2017 yang lalu, aku mulai kembali semangat menata remahan semangat untuk kembali mengatur batasan untuk Ifa dan keluarga.


Apalagi mengingat Ifa mulai nggak bisa lepas dari gadget, meski masih dalam kontrol yang ketat. Salahnya bunda dan ayahnya juga sih yang nggak konsisten menetapkan batasan. Selama ini batasan hanya dibuat dan dibagikan ke Ifa lewat mulut saja. Semalam setelah Ifa sempat menangis karena nggak boleh main HP, dan hampir ditindak time out ke luar rumah, akhirnya aku punya ide untuk sosialisasi ulang batasan-batasan di rumah lewat gambar.

Untuk menaikkan kembali mood Ifa, aku sempat mengajaknya berjoged dulu. Setelah dia terlihat enjoy, barulah kuajak menggambar.

Aku: “Kak, kita menggambar yuk.”
Ifa: “Mau, mau, mau. Tapi nggak ada kertasnya. Aku mewarnai aja ah, bunda.”
Aku: “Oke, bunda carikan bukunya dulu ya.”

Setelah buku mewarnainya ketemu, Ifa mulai siap-siap menggambar. Saat itu aku menemukan beberapa kertas bekas yang bisa kupakai membuat poster batasan di rumah.

Ifa: “Asyik, kalau bunda mau apa?”
Aku: “Mau buat poster.”

Aku mulai menggambar satu demi satu poster yang berisi batasan di rumah kami. Semoga dengan digambar, Ifa jadi lebih mudah mengerti dan ingat.

Ifa: “Itu apa? Maksudnya apa? Nanti aku diceritain ya, bunda.”
Aku: “Oke, sudah selesai nih, siap diceritain?”

Ifa pun manggut-manggut dan mendengarkan penjelasanku dengan seksama.



Gambar 1: Semua yang di rumah ini boleh menangis kalau sedang bersedih, atau merasa kesakitan. Tapi kalau menangisnya sambil teriak-teriak, dan mukul-mukul, tidak diijinkan di rumah ini. Apalagi kalau nangisnya karena keinginannya tidak dituruti. Karena tidak diijinkan di rumah ini, yang nangis teriak-teriak harus pilih; dipeluk lalu diam, atau ke luar rumah.

Respon Ifa, “aku nggak mau ke luar rumah ah. Mau peluk bunda aja. Tapi kalau dicubit bunda boleh nangis kan?”

Wew. Ya kali kalau kamu nggak njengkelin, bunda nggak bakalan nyubit, kak. Lagian udah tobat juga masih diungkit-ungkit. Kataku dalam hati sambil nyengir ke Ifa.



Gambar 2: Untuk anak-anak, diperbolehkan meminjam HP ayah bunda untuk nonton YouTube, lihat foto dan video hanya di hari Sabtu dan Minggu. Waktunya dibatasi hanya tiga puluh menit sehari. Tidak boleh main game, dan harus berada dalam pengawasan ayah bunda. Untuk orang tua, HP harus off selama 1821. Nonton TV boleh tapi hanya acara Bocah Petualang, Laptop Si Unyil dan Dunia Binatang.

Respon Ifa; “Kenapa nggak boleh ngegame?”
Bunda: “Karena bisa bikin kak Ifa nggak berhenti pegang HP dan kalau diminta pasti marah-marah.”
Ifa; “Ya udah deh. Tapi aku nonton TV nya kalau nggak ngantuk ya, bun?”
Bunda: “iyalah, kalau capek, ya mending tidur kak.”



Gambar 3: Boleh main keluar saat sore hari, pulang sebelum magrib, asalkan sudah istirahat siang, makan, mandi dan sholat ashar.

Respon Ifa: “oke, aku sudah tahu.”

Jika di pagi hari, jam 07:15 kak Ifa belum siap berangkat sekolah, maka tidak akan ada yang mengantar ke sekolah. Kak Ifa boleh nggak sekolah, tapi nggak boleh main baik di dalam atau di luar rumah. Hanya boleh di dalam kamar dan  bawa dua buku cerita, sampai magrib. (Btw, peraturan soal sekolah, pemanasan aja. Karena TK masih suka-suka, nanti SD baru dijalankan secara konsisten).

Respon Ifa: “Wah, di kamar terus, kalau main sama Affan boleh nggak?”
Bunda: “boleh.”
Ifa: “Mewarnai?”
Bunda: “Nggak boleh, cuma boleh baca buku. Itu pun cuma dua buku saja ya.”

Selama belum punya uang saku, kak Ifa boleh minta jajan setiap hari Minggu dan beli mainan setiap tanggal 20.

Ifa: “Oke, siap.”

Apakah semudah Ifa mengatakan siap batasan ini nantinya akan ditegakkan? Tentu tidak, pastnya akan penuh air mata dan peluh bercucuran. Permasalahan bukan di Ifa, tapi bisakah bunda dan ayahnya konsisten menjalankan batasan-batasan ini.

Doakan kami, pemirsa… agar menjadi orangtua yang istiqomah sehingga mampu menggiring anak-anak menjadi pribadi-pribadi yang sholih dan disiplin. Aamiin. Sesungguhnya mendidik anak itu mendidik diri sendiri.

Btw, maafkeun gambarnya nggak jelas. Maklum pakai kertas bekas dan pensil warna murah, selain itu rusak karena salah naruh di atas tisu basah, hehe. Semoga bisa bikin yang lebih bagus, dan ditempel di dinding kamar.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#hari7
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com