Mau Istiqomah Berhijab? Yuk, Praktekkan Hal-hal Ini!

  • Monday, November 13, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 3 Comments





Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Aku menulis ini bukan karena aku sudah merasa hebat, merasa alim atau merasa lebih keren dan merasa lebih baik dari siapa pun. Aku menulis ini sebagai bahan perenungan untuk diriku sendiri sekaligus reminder jikalau suatu hari keinginan itu datang lagi. Aku menulis ini untuk anak-anakku, jikalau suatu hari mereka berproses dan jatuh bangun dalam proses itu.


Aku selalu takjub dengan proses berhijrah seseorang, bagaimana mereka memantapkan hati hingga akhirnya memutuskan memenuhi kewajiban sebagai muslimah. Setiap kali ada artis, teman atau keluarga yang memutuskan berhijab, rasanya bunga-bunga bermekaran di hati, “semoga istiqomah” itulah doa yang selalu mengalir untuk mereka. Namun bunga-bunga yang bermekaran itu mendadak bisa rontok. Sedih. Itu yang selalu kurasakan ketika ada seseorang yang pernah memutuskan berhijab lalu menanggalkannya untuk berbagai alasan. Entah itu public figure atau bukan, rasa itu tetap hadir. Istiqomah memang penuh tantangan…

Proses Hijrahku

Berhijrah bisa saja mudah jika kita memegang ayat sami’ na wa atho’ na, kami dengar dan kami taat. Namun nyatanya hati tak semudah itu meyakini ayat-ayat Allah. Betapa kita bukan lagi wanita generasi terbaik di jaman nabi, yang ketika ayat tentang perintah menutup aurat turun, bergegas mengambil apa saja yang ada di sekitar mereka untuk digunakan menutup rambutnya, kakinya, tangannya, dan tubuhnya yang masih terbuka.

Kita hanyalah wanita jaman now, yang seringkali dengan mudahnya menafsirkan ayat dengan logika, memilih ayat, mahzab  hadits, ataupun ceramah ustadz yang cuma enaknya aja dan sesuai dengan pemikiran kita.

Aku mengenal kerudung sejak duduk di bangku SMP. Saat itu aku mulai mengenal majalah An Nida. Di SMP juga aku sering hadir ke kajian Jumat, ikut melingkar bersama kakak-kakak rohis. Para murid wanita juga selalu diminta pakai baju panjang dan kerudung ketika pelajaran agama tiba. Aku merasakan betapa nyamannya menutup aurat. Namun saat itu ayat tentang kewajiban berhijab belum sampai padaku dan keluargaku. Meski sudah ada keinginan di dalam diri untuk mengenakan hijab, ketika aku sampaikan pada ibu keinginan itu, aku malah diketawakan. “Sholat masih bolong-bolong kok meh nggo kudung to, nok. Isin to ya. Diapikke sik sholate.”

Tanggapan ibu ini seketika membuatku berpikir dan kemudian perlahan memusnahkan keinginanku berhijab. (Beberapa belas tahun kemudian, setelah aku lebih dulu berhijab dan sudah menikah, ibu meminta maaf karena pernah memberikan tanggapan tersebut. “Ibu dulu belum banyak mengaji, nggak tahu kalau itu kewajiban. Maaf yo nduk.”)

Masuk SMA, aku juga masih intens mengikuti kegiatan rohis, meski memilih tidak menjadi anggota. Saat itu keinginan berhijab muncul kembali. Namun lagi-lagi keraguan datang, “aah, sholat masih belum bener, ngaji masih acak adut, malu-maluin aja.” Begitu pikiranku saat itu. Aku melontarkan keinginan itu pada salah seorang sahabat, dia mendukungku jika memang aku sudah benar-benar memikirkan dengan matang. Seorang sahabat yang roknya selalu di atas lutut itu justru kemudian meraih  hidayahnya lebih dulu daripada aku. Suatu hari ketika kami bertemu di rumahku setahun setelah lulus SMA untuk syukuran pertambahan usiaku,  dia datang dengan penampilan berbeda. Dia memelukku sambil berbisik, “malah aku duluan nih, kamu kapan?”



Aku hanya tersenyum. SMA – kuliah adalah titik-titik terendah dalam kehidupan aku. Pergolakan batin, masalah keluarga yang bertubi-tubi, ibu sakit, pencarian jati diri yang salah kaprah, dan mulai kenal pacaran justru semakin menipiskan keinginanku untuk berhijab. Yang hingga detik ini aku syukuri adalah sejauh apapun aku lari dari Allah, Dia tak pernah lelah memanggilku kembali. Meski tak seintens saat SMP-SMA, aku juga masih hadir beberapa kali ke kajian rohis. Setiap kali hadir ke kajian, selalu ada yang menghentak kalbu.

Pasca lebaran tahun 2004, entah kenapa saat itu aku merasa “aku harus berhijab sekarang. Tanpa nanti dan tapi.” Ada berbagai kondisi yang membuatku merasa aku harus segera berjilbab saat itu. Salah satunya aku risi ketika pergi berangkat ke kampus atau ke suatu tempat, banyak laki-laki nongkrong yang suit-suit, ngajak kenalan, dsb. “Ahh, itu mah cowok-cowok aja yang ngeres. Kenapa kita para wanita yang disalahkan karena berpakaian terbuka?” Tanggapan itu yang biasanya hadir. Ya, kita memang nggak bisa ngontrol otak cowok-cowok itu untuk nggak ngeres. At least, kita berusaha untuk mengontrol diri mengenakan pakaian yang santun, tidak ada keburukan dari itu selain kita lebih terjaga. Terbukti kok, setelah aku  berkerudung, yang biasa suit-suit nggak jelas, godaannya jadi beda, “assalammualaikum, mbak.” Malah didoain to?

Jangan kira perjalanan berhijrahku mulus. Saat itu kerudungku masih buka tutup kaya warung. Pakai kalau di luar rumah doang, di dalam rumah ya masih suka-suka. Beruntung aku nggak modis, jadi ya nggak pernah pakai yang lilit sana lilit sini, ribet. Palingan dulu belum nutup dada secara sempurna, apalagi pas masih ngajar, yang ada kerudungnya dimasukin ke kemeja gitu deh.

Beberapa kisah hidup membuatku ingin berhenti berhijab. Merasa tak pantas mengenakannya, merasa nggak gue banget, cari kerja susah, dan buanyaaak lagi. Alhamdulillah aku masih bisa berproses hingga hari ini.

2004 – 2014, 10 tahun aku berhijab dan tidak ada kemajuan apapun. Tidak ada perbaikan akhlaq, tidak ada perbaikan ibadah, tidak ada perbaikan niat. Hingga tahun 2014 aku mulai membaca beberapa postingan tentang berhijab syari yang banyak dibagikan oleh teman-teman Facebook. Aku baru tahu bagaimana seharusnya hijab itu, betapa aku masih banyak kesalahan dalam menafsirkannya. Hijab itu bukan kerudung, namun pembatas agar orang tidak melihat tubuh kita, hijab itu satu set pakaian dari ujung rambut ke ujung kaki. Aku mulai perlahan mengganti celana-celanaku ke rok-rok panjang.

Titik balikku ketika Ifa masuk ke PAUD dan aku berkenalan dengan beberapa sahabat baru. Aku mulai kembali berdekatan dengan liqo, kajian pekanan. Di situ aku digembleng. Aku mulai belajar agama secara lebih baik, ada murabbi yang menuntun, ada teman-teman yang mendukung. Sebuah situasi yang kondusif untuk konsisten dengan pilihanku. Terkadang aku merasa sangat minder sekaligus bersyukur. Betapa aku yang tumpukan dosanya entah udah berapa ribu karung dipertemukan Allah sama mereka.



Ketika hati dengan ikhlas menerima satu pintu kebaikan terbuka, maka akan terbukalah pintu-pintu lainnya. Aku mulai berkenalan dengan komunitas-komunitas parenting yang sebagian besar para membernya memiliki pemahaman agama yang baik, berhijab lebar dan bersikap santun.

Perlahan koleksi celana dan kerudung miniku kuganti dengan gamis dan khimar yang lebih lebar. Kulengkapi penampilanku dengan kaos kaki. Tiga tahun berjalan, apa aku sudah lebih baik? Pilihanku untuk bergamis dan berkerudung lebar telah menjadi sebuah habit. 

 Ketika keluar rumah tidak mengenakan salah satunya jujur aku merasa ada yang kurang, merasa tidak nyaman karena seperti telanjang. Namun untuk urusan akhlaq, aku masih jauuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuh.. masih perlu banyak belajar. Aku tidak lebih baik dari siapa pun, bahkan mungkin teman-teman yang berkerudung akhlak dan ibadahnya bisa jadi lebih baik dari aku. Namun bukan berarti kita harus membenarkan “lebih baik buka-bukaan tapi hatinya beriman, daripada bergamis tapi omongannya kaya setan” atau pernyataan-pernyataan sejenis. Yang lebih baik tentu saja berusaha menjadi muslimah kaffah yang mau mengenal, memahami dan menaati semua perintah Rabb-nya, tidak pilih-pilih yang enak-enak saja. Dan aku masih kepontal-pontal euy untuk menjadi kaffah…



7 Alasan Melepas Jilbab

Dari pengalaman selama kurun waktu 13 tahun ini, aku menelaah setidaknya ada beberapa alasan kenapa seorang wanita yang tadinya sudah mantap berjilbab lalu memilih melepasnya.

Merasa ibadahnya belum sempurna.

Ya kali sampai mati pun kita harus selalu merasa ibadah kita belum sempurna. Kalau kita udah merasa paling oke sendiri, kita bakal lupa bermuhasabah diri. Karena yang sempurna itu cuma milik Allah, ibadah kita itu hanya sarana untuk semakin dekat pada Allah. Sesungguhnya hanya rahmatNYA lah sebaik-baik pertolongan. Tapi bagaimana kita mau mengharap rahmatNYA, jika kita dengar dan tahu perintahNYA namun memilih tidak taat. Hijab itu bagaikan polisi. Polisi yang akan nyemprit diri sendiri ketika kita melakukan sesuatu di luar ketentuan. Tinggal kita mau nggak dengerin polisi dalam diri sendiri?

Merasa akhlaknya belum baik. Jilbabin hati dulu deh.



Perintah berhijab itu mengulurkan kain dari kepala hingga menutup dada lo, pals bukan mengulurkan kain hati. Bingung juga ya gimana masukin jilbab ke dalam hati, hehe. Sama kaya alasan pertama, justru jadikan hijab polisi untuk akhlak kita. Perlahan jika kita mau mendengarkan polisi yang ada dalam diri sendiri, kita akan lebih peka saat melakukan hal-hal yang tak sesuai.

Hijab itu mengekang, nggak bebas mau ngapa-ngapain.

Maksudnya mengekang karena jadi susah mau pacaran nggak bebas, mau pegang-pegang tangan sama pacar ngerasa nggak enak, mau ketawa ngakak jadi kurang pas? Gitu? Ya, bagus lah.. berarti hijabnya udah berhasil jadi polisi. Pan emang nggak ada pacaran dalam islam. Udah percaya ama mbah, kebanyakan pacaran yang ada rugi, bukan untung. Cowok baik-baik nggak ngajak pacaran, ngajak nikah. Oke.. #soktualu.

Kagak bisa jumpalitan, ribet… masa sih? Aku pernah baca buku tentang proses berhijrah. Ada sebuah cerita yang menarik tentang perjalanan seseorang berhijab syarie. Mereka kuliah di jurusan olahraga yang kudu jumpalitan. Awalnya dipandang aneh sama teman kuliah lainnya, namun akhirnya mereka malah menemukan cara bagaimana bisa flying fox tanpa harus melepas gamis mereka. Cadaaaas. Terbukti berhijab nggak bikin kita terbatas!

Susah cari kerja.



Aku pernah dibuat nangis ketika seorang sahabat melepas kerudungnya karena mengeluh susah cari kerja. “Terserah apa anggapan orang, aku perlu cari duit, bukan mereka kan yang ngasih aku duit.” Saat itu aku nggak bisa jawab apa-apa selain menghela nafas panjang. Aku pun pernah ada di titik tersebut, nglamar sana sini ditolak hanya karena aku berkerudung. Tapi buatku terlalu cemen lepas  jilbab hanya karena masalah duit. Padahal beneran nggak punya duit juga, hehe. Yakin aja deh, Allah mboten sare… rejeki kita udah ditakar, nggak bakal tertukar. Justru semakin kita istiqomah, semakin Allah akan memberikan limpahan rezeki. Btw, rezeki itu nggak melulu duit, teman-teman yang sholihah dan selalu mengingatkan kita akan kebaikan itu lebih berharga dari duit segepok.

Nggak gue banget.

Aku hanya ingin menjadi diri sendiri, dan berjilbab itu nggak nampilin siapa diriku. Ada pula yang mengedepankan alasan ini.  Makanya aku sekarang nggak mau cuma bilang “be yourself”. Menjadi diri sendiri itu tidak sekedar mencari kenyamanan dalam hidup. Menjadi diri sendiri harus disesuaikan dengan aturan yang Allah berikan. Mungkin kita tak nyaman awalnya, namun perlahan ketika kita tahu hikmahnya, nyaman itu akan hadir dengan sendirinya. Ingat kan ayat yang menyatakan bisa jadi kita membenci sesuatu, padahal itu yang terbaik menurut Allah dan bisa jadi kita sangat menyukai sesuatu sedang Allah tidak menyukaiNya. So, jadilah diri sendiri sesuai yang Rabb kita mau.

Nggak Ketemu Tempat dan Sahabat Belajar yang Nyaman

Kadang saat awal belajar berhijab, kita ingin getol menimba ilmu, menambah teman, tapi banyak yang tidak merangkul dengan hangat. Yang ada kita dipandang dari ujung kepala ke ujung kaki, karena pakaian masih acak adut, kerudung masih lilit sana-sini. Bahkan senyum pun kadang tidak kita dapatkan, hingga akhirnya mau datang lagi ke acara tersebut, mikir ratusan kali. Sabar, pals. Wajar kok rasa tak nyaman itu hadir. Namun masa sih kita kalah sama rasa tak nyaman itu? Kita berhijab dan belajar bukan sekedar cari nyaman, pals. Tapi untuk menaati perintah Allah. Jalani prosesnya, perlahan akan kita temukan sahabat yang akan benar-benar bisa merangkul dengan hangat sekaligus menjewer dengan sayang saat kita mulai hilang arah.

Pencarian jati diri.

Ini yang aku alami. Kayanya kudu berjilbab deh biar tenang hatinya. Ternyata nggak tenang-tenang juga, lalu buka tutup kaya warung. Ya, bersyukur nggak pernah yang benar-benar lepas. Tapi pernah suatu masa aku merasa harus melepas jilbabku karena sesuatu hal yang buatku jatuh ke lembah tanpa dasar, ke sebuah titik yang membuatku malu dan merasa nggak pantes banget buat meneruskan berhijab. Lepas dulu aja deh, ntar kan bisa dipakai lagi. Begitu bisikan yang aku dengar. Alhamdulillah, aku tidak mengiyakannya. Aku lebih mendengarkan bisikan yang lain, “bagaimana jika kamu melepasnya, kamu justru semakin tak terarah. Kamu rela melepas hidayahNya? Kamu mau bikin Allah akan semakin kecewa dan nggak ridha sama kamu.”



Maka dengan terseok, aku memilih tetap berhijab, melawan pergolakan batin demi menjemput satu per satu hidayahNya. Aku bisa saja memuaskan pencarian jati diriku, namun aku terlalu takut jika aku kehilangan arah dan malah semakin meninggalkan Allah. Aku takut tak bisa kembali.

Yang penting beriman.

Nggak papa nggak berhijab, yang penting masih sholat, masih puasa, nggak nyinyir, nggak julid, nggak mulut setan dan sebagainya. Hati-hati ketika pikiran itu mulai meracuni. Segera cari bantuan ke para ahli! Beneran deh ah… jangan beragama karena logika, pals. Beragamalah sebagaimana Allah minta dan Rasulullah contohkan. Tapi kan memang banyak tuh sekarang yang berhijab tapi mojok sama pacarnya, nyinyir dan julidnya nggak ketulungan. Itu oknum, jangan salahkan hijabnya!  Tentu saja yang paling baik berhijab tapi sholat dan puasa nggak cuma yang wajib, yang sunah juga ditegakkan, berhijab dan santun dalam ucapan serta tindakan. Namun lagi-lagi kesempurnaan itu milik Allah. Manusia mah tempatnya salah dan dosa. At least, mereka udah berani ambil keputusan untuk berhijab, lah kita ngaku beriman, ngaku selalu sholat dan puasa, ngaku nggak nyinyir tapi kok belum terpanggil menjalankan kewajiban menutup aurat dengan berhijab? Malah seakan menganggap kewajiban itu remeh temeh.



Istiqomah, Yuk!

Aku tersenyum ketika membaca sebuah komen di Facebook, berhijab mah gampang, istiqomahnya yang susah. Buatku kedua-duanya tidak mudah. Proses memantapkan hati untuk berhijab itu penuh lika-liku. Kalau memang gampang, kenapa banyak yang belum terpanggil sedang tahu kewajiban berhijab itu ada? Nggak gampang bo memutuskan berhijrah dari yang tadinya buka-bukaan pakai rok mini, rambut indah tergerai, menjadi tertutup. Yang tadinya pakai kerudung lilit-melilit, menjadi menutup dada bahkan berniqab.

Melawan pergolakan batin, dianggap alien, dicap teroris, disebut kaya emak-emak (emang udah emak-emak to), nggak fashionable, kuno, dan sebagainya. Tidak mudah lo mencapai keberanian untuk akhirnya mengulurkan khimar dari kepala hingga ke dada, memakai gamis yang tak memperlihatkan lekuk-lekuk tubuh.

Maka ketika kita sudah mencapai keberanian itu… genggam dengan kuat dan jangan lepaskan. Karena bisa jadi keberanian itu tak datang dua kali. Caranya?

Jangan berhenti hanya karena sudah berhijab.

Alhamdulillah sudah berhijab. Udah ah, kaya gini aja kerudungnya, yang penting kan udah nutup aurat. Yang penting ntar bapak, suami dan saudara laki-lakiku udah nggak keseret neraka karena aku umbar aurat. Nope! Berhijab itu bukan akhir perjalanan, pals. Ini adalah awal perjalanan panjang kita. Jangan berhenti di sinit’s okay awalnya lilit-lilit dulu, dimasukkan ke dalam baju, pilah-pilih biar ikut trend fashion. Perlahan murnikan niat berhijab hanya karena Allah.  Pelajari dan kenali fiqih yang berkaitan dengannya agar kita tak asal memakainya, namun tahu dengan benar aturannya.

Hadiri kajian ilmu.



Salah satu  kunci untuk istiqomah berhijab adalah jangan bosan datang ke majelis ilmu. Saat  hadir dari satu majelis ke majelis lainnya, saat itulah ruhiyah kita di charge. Semakin banyak kita belajar, semakin kita akan merasa betapa masih banyak hal yang patut kita tahu. Kosongkan gelas, murnikan niat… lillahi taala. Kurangi kongkow-kongkow nggak jelas dan nggak bermanfaat, habiskan lebih banyak waktu hadir ke masjid, seminar-seminar penguatan diri. Jaga agar keberanianmu berhijab tidak berubah menjadi berani melepasnya kembali. Selektiflah memilih tempat belajar, karena kini semakin banyak kajian yang menyesatkan. 

Perbanyak teman-teman sholihah.

Semakin banyak inner circle kita yang menguatkan, semakin ratusan kali kita akan berpikir untuk melepas jilbab. Jilbab itu urusanku sama Allah, nggak usah ikut campur. Lakum dinukum waliyadin. Jangan salah menempatkan ayat. Lakum dinukum waliyadin itu dipakai untuk mengingatkan orang non islam agar tidak turut campur dalam peribadatan kita, begitu pula kita tidak boleh turut campur dalam peribadatan mereka. Hal itu nggak berlaku untuk sesama muslim, karena kita justru punya kewajiban untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran. Jadi, kalau ada yang nasehatin kita untuk istiqomah, jangan lepas jilbab, begini begitu… jangan dianggap nyinyir bin julid. Mereka sedang berusaha menjalankan kewajibannya sebagai sesama muslimah. Justru karena mereka sayang sama kita, makanya keluarlah nasehat itu.



Buat teman-teman (termasuk aku) yang mungkin sedih sekaligus gemes lihat teman, saudara atau artis yang buka tutup jilbab, mari sampaikan sesuatu dengan santun. Menasehati dengan ngata-ngatain itu beda. Tempatkan diri kita pada mereka, kalau kita yang ada di posisi mereka, terus dengerin nasihat yang bikin panas hati dan kuping, apa kita akan mendengarkan, atau kita justru akan semakin menjauh?

Nggak usah merasa lebih baik, kita nggak tahu apa yang terjadi ke depannya. Kita nggak tahu juga pergolakan dan pengalaman apa yang sedang mereka alami hingga akhirnya memutuskan menanggalkan hijab. Apakah kita juga bisa istiqomah ketika ada di posisi mereka? Yuk, belajar bersikap dan berucap santun. Rangkul mereka dengan hati yang tulus dan penuh sayang, sehingga mereka nyaman dan menemukan rumah hingga terpanggil untuk kembali. Jika kita nggak bisa santun, mending diam dan doakan.  Bukankah doa adalah senjata paling manjur untuk setiap orang beriman?



Untuk yang belum berhijab, hidayah itu dicari dan dijemput, bukan dinanti J Segera jemput hidayah itu, taati perintahNya dan berproseslah. Semoga kita bisa istiqomah berproses menjadi pribadi-pribadi muslim muslimah yang kaffah. Aamiin.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



You Might Also Like

3 comments

  1. Aamiin. Semoga kita istiqomah ya, Mbak.

    ReplyDelete
  2. Postingannya bermanfaat banget mbak, suka dengan cara mbak mengajak , yang nggak langsung to de poin tapi ceritain dulu pengalaman mbak berhijab dan alasan2 mengapa seseorang bisa melepas jilbabnya hingga akhirnya mengajak kita untuk istiqomah..

    In syaa Allah, postingannya jadi reminder bagi diri saya pribadi juga. Semoga kita bisa sama2 istiqomah selamanya dengan hijab kita ya mbak 😊

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com