Fokus Pada Cahaya, Bukan Kegelapan

  • Wednesday, December 20, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah, materi dan tantangan di game level 2 kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional sudah berhasil dilahap dan dikunyah dengan penuh semangat 2017. Namun apakah sudah selesai sampai di sini? Tentu tidak. Semua proses yang terlewati di game level 2 ini hanyalah sebuah awal. Justru titik pentingnya terletak ketika setelah game berakhir, aku tetap konsisten melaksanakan apa-apa saja yang sudah kupelajari selama satu bulan ini.


Melatih kemandirian tentu saja hal yang sangat penting di dalam fase pengasuhan anak. Terlihat sederhana, namun dampak dari semua latihan kemandirian ini sangat berpengaruh pada kehidupan anak kelak. Bukan hanya soal keterampilan hidup, namun juga soal bagaimana ia nantinya membuat keputusan hingga berinteraksi sosial.

Satu hal yang aku sadari selama proses belajar di game level 2 ini; betapa sebenarnya fitrah kemandirian itu telah terinstal pada diri anak-anak. Namun tanpa sadar kita para orang tua mencerabut dan merusak fitrah tersebut, demi sesuatu yang instan. Misalnya, semua anak pada dasarnya suka bereksplorasi dengan makanannya sendiri, namun demi lantai dan baju tidak kotor, serta makan cepat selesai, maka disuapilah anak. Jadi kalau kemudian anak nggak mau makan kalau nggak disuapi, salah siapa?

Semua anak pada dasarnya akan bangun sebelum subuh. Namun demi bisa fokus pada riwehnya to do list di pagi hari, disusuin bayi-bayi itu dan terlelap lagi. Jadi kalau sekarang anak-anak hobi bangun siang, salah siapa? Semua anak pada dasarnya selalu ingin tahu dan cinta belajar, namun demi rumah selalu kelihatan kinclong dan malas menjawab pertanyaan demi pertanyaan anak, maka disodorin gadget biar anteng. Atau ditempel cap ‘cerewet’ di kening anak biar seketika diam. Lebih parahnya lagi anak-anak diumbar bermain tanpa diberi kesempatan untuk ikut menata kembali mainannya ke tempat semula, dengan alasan “masih kecil ini, ntar kalau udah gede kan tahu sendiri.” Jadi kalau hari ini anaknya tak lagi rajin bertanya ini itu, salah siapa? Kalau anaknya lebih milih main gadget seharian dan nggak mau disuruh main di luar rumah, salah siapa? Terus kalau anak-anak saat ini habis main langsung ditinggal begitu saja meski diomelin ratusan kali, salah siapa?



Ya, buat aku game level 2 kali ini merupakan sebuah jeweran buatku. Betapa masih sering aku pengen sesuatu yang instan, pengen sesuatu yang serba cepat dari anak, namun aku lupa fokus pada cahaya yang telah ada pada diri mereka. Ketika mereka belajar makan, aku tidak fokus pada fitrah kemandirian mereka, namun hanya fokus pada kotoran yang mereka tinggalkan. Ketika mereka belajar jalan, aku tidak fokus pada semangat jatuh bangun mereka, namun hanya fokus pada “kok sudah sekian bulan belum jalan juga.” Ketika mereka punya banyak pertanyaan dalam hidup, aku tidak fokus pada fitrah belajar mereka yang menyala-nyala, namun justru fokus pada betapa mereka sungguh mengganggu dengan kecerewetan mereka.

Membersamai Affan yang hampir berusia 13 bulan dan Ifa yang masuk usia ke enam di bulan ini, aku menemukan banyak sentilan sekaligus rasa syukur. Aku melihat keajaiban fitrah kemandirian di diri Affan. Betapa tanpa harus diminta mandiri sebenarnya anak-anak sudah terlahir mandiri. Affan yang selalu bangun sebelum subuh, Affan yang merasa risi ketika pip dan pup, Affan yang mulai bisa mengekspresikan rasa lapar dan tak nyaman, Affan yang selalu ingin tahu dengan makanan yang dipegangnya, Affan yang memiliki semangat untuk belajar berdiri. Sungguh sebenarnya aku tidak perlu banyak effort untuk melatih kemandiriannya, hanya cukup meluangkan waktu untuk bersabar, mengawasi dan fokus pada cahayanya. Ketika tiga hal ini mampu aku lakukan, maka keajaiban demi keajaiban aku temukan setiap harinya.

Sementara di satu sisi, melihat Ifa yang fitrah kemandiriannya mulai rusak karena beberapa pola asuh yang pernah kuterapkan tidak sesuai, aku hanya mampu meminta maaf padanya berkali-kali. Namun ketika aku mengingat kembali tentang “fokus pada cahaya, bukan kegelapan,” lagi-lagi aku menemukan banyak keajaiban. Sungguh melegakan ketika bu guru Ifa memberi kabar kalau Ifa sudah berani bercerita di depan kelas, tidak lagi membutuhkan lama membaur dengan teman-temannya, dan sudah bisa mengungkapkan perasaannya dengan kalimat yang jelas.


Melihat Ifa, aku juga dipaksa bercermin. Mengapa perilaku Ifa begini, ternyata karena aku pun melakukan hal yang sama. Ifa sangat suka disuapi ketika ada ayahnya. Setelah ditarik benang merah, ternyata itu karena Ifa sering melihatku disuapi ayahnya. Saat bersamaku di rumah dari pagi hingga sore, Ifa cenderung sangat kooperatif dan mau melakukan kebutuhannya sendiri. Namun ketika ayahnya datang, ia sering meminta ayahnya mengambilkan ini itu, dan meminta ayahnya untuk ada di sampingnya. Setelah aku bercermin, aku menyadari betapa begitulah manjanya aku ketika si ayah pulang. Maka, untuk mengatasi hal ini, bukan perilaku Ifa yang harus diubah, namun justru aku yang harus mau merubah kebiasaanku.

Raise your kids, raise yourselves”  memang ungkapan yang tepat dalam proses pengasuhan anak. Mau tidak mau ketika mencurahkan 100 persen diri kita saat mengasuh anak, secara tidak langsung kita juga tergerak untuk merubah hal-hal yang buruk dalam diri kita. Manalah mungkin aku menuntut anakku mandiri, ketika aku sendiri masih penuh dengan sifat-sifat ketergantungan pada orang lain?

Itulah mengapa aku mulai mengumpulkan kepingan-kepingan puzzle diriku yang mulai tercecer ke mana-mana. Ketika aku mulai nyaman ke mana-mana diantar oleh suami, sekarang aku mulai meminta izin untuk bisa berangkat dan pulang berkegiatan sendiri. Ketika sejak hamil Affan, aku tak lagi mengantar jemput Ifa, aku mulai mengambil alih lagi tanggung jawab tersebut. Aku ingin kembali bisa melakukan hal-hal yang bisa aku lakukan, agar suami bisa fokus pada pekerjaannya. Ketika suami tidak perlu sering keluar kantor di jam kerja, itu artinya dia pun bisa pulang tepat waktu sehingga jatah main bersama anak-anaknya bisa lebih panjang.

Di hari-hari terakhir tantangan 10 hari game level 2 ini, saat aku mulai membangun kembali kemandirianku yang mulai terkikis zona nyaman, aku pun mendapat kejutan cantik dari Ifa dan Affan. Ifa yang sedang menunggu hari terima raport dengan lebih banyak bermain bersamaku di rumah begitu excited menemaniku memasak setiap hari. Ifa pun meminta ijin untuk dibiarkan memotong tempe dan wortel tanpa aku memegangi tangannya seperti yang biasa aku lakukan sebelumnya saat dia ikut memasak. Ternyata dia berhasil lo menggunakan pisau dengan hati-hati.



Selain menunjukkan kemampuan memotongnya, Ifa juga menunjukkan kemampuannya berimajinasi dalam menyusun balok. Ia tidak hanya menyusun balok menjadi sesuatu, namun berhasil mempresentasikan apa nama bangunan tersebut dan mengapa ia membuatnya.

Sementara itu, Affan menunjukkan kemajuan pesatnya dalam hal motorik kasar. Ia mulai berdiri tanpa pegangan. Semakin hari durasinya semakin lama. Beberapa kali terlihat ia mencoba melangkahkan kaki meski masih terjatuh dan terjatuh lagi. Affan juga mulai kembali sadar betapa tidak nyamannya pip dan pup ketika aku mulai melatihnya toilet training.

Sesuatu yang tidak instan memang membutuhkan usaha yang bisa jadi melelahkan. Jika mengingat segala kelelahan ini nantinya tidak hanya berbuah pahala dan surga, namun juga anak-anak yang berkepribadian kuat dan insya Allah bermasa depan gemilang, sungguh berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian pun akan dengan senang hati kujalani.

Sebagai manusia yang tak luput dari rasa semangat yang mudah luruh, juga demi menjaga konsistensi agar selalu penuh, maka penting buatku menemukan wadah terbaik sebagai tempat belajar dan saling berlomba-lomba dalam kebaikan serta menasehati dalam kebenaran. Alhamdulillah ditemukan dengan IIP dan proses belajar yang begitu menyenangkan.

Terima kasih Institut Ibu Profesional, materi dan tantangan yang diberikan di level 2 ini membuatku semakin terpacu untuk menjadi ibu yang lebih mandiri, agar aku mampu membersamai anak-anakku dalam menumbuhkembangkan fitrah kemandirian mereka.



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#AliranRasa
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian


You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com