A Day with Ayah

  • Sunday, December 10, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hari ini aku mendapat ijin suami untuk menghadiri sebuah workshop tentang membuat jurnal kegiatan dan portofolio bakat anak. Pengennya sih bisa datang sama suami, biar bisa lebih seru dan mendalam saat mendiskusikan materi workshop di rumah. Beberapa pertimbangan dan kemungkinan kami obrolin sebelum memutuskan aku boleh berangkat. Kalau misalnya suami juga ikut serta, itu artinya anak-anak harus ditempatkan di kids corner, artinya keluar dana tambahan lagi. Namun dikarenakan budget yang kami miliki hanya cukup untuk seorang, akhirnya diputuskan aku saja yang berangkat.

 Bisa dibilang hari ini benar-benar melatih kemandirian kami sekeluarga. Aku yang sudah sekian lama biasa diantar jemput sama suami, mau nggak mau hari ini pergi ke lokasi acara mengendarai motor sendiri. Sebenarnya aku senang sih, hehe. Naik motor sendirian itu  merupakan salah satu me time untukku, rasanya menyenangkan bermain-main dengan gas dan rem, apalagi tanpa anak-anak, jadi lebih bebas menambah kecepatan. Meski begitu, deg-degan juga, karena sudah lama nggak ambil rute yang naik-naik ke atas bukit gitu, wkwk. Mana jalan masih dibenerin. Alhamdulillah, mission completed. Nggak ada setengah jam udah sampai lokasi, coz jalanan masih lengang waktu pagi.

Sementara untuk suami, ngurusin dua anak sendirian itu jempolan banget deh. Kalau cuma sendirian sama si Ifa sih bukan hal yang luar biasa alias udah terlatih. Tapi ditinggali Ifa dan Affan, tepuk tangan dong buat si ayah. Kesan dari doi sih, bingung waktu Affan mulai rewel wkwkwk.





Untuk Ifa sendiri, bukan hal yang mengagetkan ditinggal bundanya belajar. Yang penting ada teman main di rumah, apalagi sama ayahnya, dia sih fine-fine aja. Namun seperti biasa, Ifa tanya berapa jam aku belajar, di mana belajarnya, pulang jam berapa, dan nggak lupa berpesan “yang pintar ya belajaranya, bun.” Hari ini qodarullah di RW tempat kami tinggal sedang ada lomba mewarnai dalam rangka Maulid Nabi, dan Ifa bersedia ikut. Disusul kemudian ada undangan ulang tahun dari tetangga. Alhamdulillah nggak ada masalah sewaktu ditinggal.

Bagaimana dengan Affan? Bukan kali pertama juga sih buat Affan ditinggal bundanya beraktivitas di luar rumah. Sebelumnya sudah beberapa kali Affan dititipkan di daycare dan nggak pernah rewel. Seminggu lalu pun sempat di rumah sama Ayah waktu aku hadir ke sebuah kajian. Cuma seminggu lalu perginya nggak selama hari ini. 

Kenapa Affan nggak diajak? Rencana awal sih diajak. Tapi dengan pengalaman waktu ngajak dia ke PDA, dia nggak bisa anteng bikin aku nggak nangkap apa yang disampaikan pemateri, dan kemudian akhirnya baru teratasi ketika ditempatkan di kids corner. Waktu mendaftarkan diri untuk acara hari ini, aku tanya apakah kids corner menerima anak seusia Affan, ternyata kids corner yang disediakan hanya untuk anak mulai usia 3 tahun. Jadilah daripada datang tapi nggak bisa nangkap apa materinya, diskusilah dengan si ayah dan ditinggallah Affan di rumah.





Eng ing eng, kata ayah, Affan mulai rewel jam 12 siang. Sebelumnya sih anteng-anteng aja, dari nemenin (baca: ngrecokin) si kakak lomba mewarnai hingga sempat tidur satu jam pas kakak datang ke ulang tahun. Untungnya rewelnya si Affan, nggak yang nangis teriak-teriak gitu sih. Namun Affan nggak mau makan, nggak mau tidur, mulai mencari-cari di manakah bunda. Mungkin jengkel juga si Affan soalnya sorenya sudah ditinggal bunda me time nonton Film Chrisye juga, hehe.

Pas aku sampai rumah, langsung pecah tangisnya dan pengennya nempel kaya perangko. Sini sayang, come to mama, hehe. Memang ya, anak 0 – 2 tahun mah maunya sama ibunya melulu. Ibunya nggak ada bakal kaya kehilangan dunianya.

Btw, ini hari terakhir dari sesi One Week One Skill “melatih Affan berjalan mandiri”, dan hasilnya masih sama kaya seminggu lalu. Nggak papa deh, kalau udah siap pasti Affan jalan dengan sendirinya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#Hariketujuh
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian


Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul A Day with Ayah. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com