Family Project; Bukan Proyek Biasa

  • Saturday, January 27, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 18 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Kalau Siti Nurhaliza pernah bernyanyi, “cintaku bukan cinta biasa…”, maka aku bisa katakan kalau family project itu bukanlah proyek biasa.  Bahkan dalam aliran rasa yang aku buat untuk game level 3 Bunda Sayang ini, aku berani menyampaikan bahwa Family Project adalah sebuah proses penemuan harta karun dan surga di tengah-tengah keluarga.


Alasan terbesar aku menyebutnya demikian karena melalui family project bukan hanya kecerdasan anak yang meningkat, namun juga kecerdasan orang tuanya. Lebih dari itu bonding antara tiap-tiap anggota keluarga juga semakin kuat. Dengan kuatnya bonding ini, maka rasa nyaman dan senang hadir di tengah-tengah keluarga. Kebersamaan keluarga menjadi semakin bermakna.


Ketika rasa bermakna ini muncul, maka tersadarlah betapa keluarga adalah sebuah harta karun yang perlu dijaga. Karena di dalam keluarga, kita bisa menemukan surga dunia. Kita tidak perlu menunggu sampai ke akhirat untuk merasakan indahnya surga, karena kita bisa menciptakannya hanya dengan beberapa langkah sederhana; fokus ngobrol bareng, main bareng dan belajar bareng bersama keluarga.

Dan saat kita bisa mencapai “rumahku, surgaku”, maka saat itulah tiap-tiap anggota keluarga akan menyadari betapa tidak perlu lagi mencari kesenangan-kesenangan di luar sana. Karena kesenangan yang sebenar-benarnya telah didapatkan di dalam keluarganya. Manis sekali ya? Namun tentu saja untuk mendapatkan surga – sebuah hadiah yang besar ini, kita nggak bisa melakukan hal-hal yang biasa. Harus mau out of the box, harus mau move on, harus mau berubah atau kalah.

Family Project Ideas

Family Project sebenarnya bukan hal yang baru buat aku, namun aku hampir selalu gagal mengeksekusinya. Ya, seringkali family project hanya berhenti menjadi ide yang kemudian menguap perlahan. Sedangkan ide hanya akan menjadi ide, ketika tidak dikerjakan.

Begitu pula saat merumuskan Fun Holiday Project yang lalu, ada banyak ide yang muncul. Beberapa ide  tersebut merupakan usulan dariku dan beberapa usulan dari mbak Ifa. Saat menggali ide kegiatan, aku berusaha untuk tidak sekedar mendapatkan kesenangan bersama, namun juga berniat untuk melakukan dialog-dialog keimanan dan menyisipkan beberapa nilai-nilai yang bisa aku tanamkan. Mau tahu apa saja ide kegiatan yang kami punya? Check this out.






Dari ide-ide tersebut apakah ada yang sudah pernah dilakukan di keluarga kalian, pals? Sharing dong pengalamannya.

The Experiences

Awalnya aku melakukan family project pertamaku bersama mbak Ifa hanya sekedar sebagai kegiatan pengisi liburan. Aku sadar sekali bahwa anak pertamaku ini sangat kelebihan energi. Saat berada di sekolah, energinya dengan mudah disalurkan lewat aktivitas-aktivitas yang diberikan bu guru. Namun saat liburan di rumah, aku harus putar otak dong biar energi berlebihnya menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Sebenarnya di liburan-liburan yang sebelumnya aku pun sudah berencana membuat family project, namun hanya berakhir sebagai rencana. Alhamdulillah, dengan adanya tantangan 10 hari di Bunda Sayang level 3, kali ini family project bisa terlaksana dan terdokumentasikan dengan baik.

Di antara 16 ide kegiatan yang kami rencanakan selama liburan, ternyata baru 9 ide yang berjalan. Namun 7 ide yang belum berhasil dilaksanakan di fun holiday project, insya Allah akan tetap kami laksanakan sebagai rencana kegiatan di family project berikutnya. Di tengah berjalannya proyek pertama, kami juga menyisipkan beberapa proyek yang sebelumnya tidak direncanakan. Berikut ini rekap hasil fun holiday project bersama mbak Ifa;





Oya, catatan mengenai fun holiday project bersama mbak Ifa bisa ditengok di sini ya. Aku memang sengaja mengumpulkan portofolio anak-anak dan diary pengasuhanku ke dalam blog tersendiri yang awalnya aku namakan Rumah Peradaban. Aku namakan demikian karena aku berharap rumahku bisa menjadi tempat lahirnya generasi-generasi yang bisa membangun peradaban dunia dengan lebih baik. Aamiin. Namun dalam perjalanannya blog itu aku ubah namanya menjadi Jejak Pengasuhan karena lebih condong sebagai rekam jejaknya anak-anak.

Sebenarnya setiap anak sudah kubuatkan blog tersendiri dengan nama masing-masing anak sebagai catatan tumbuh kembang mereka. Pengennya saat nanti mereka sudah bisa mengisinya sendiri, aku akan serahkan blog itu ke pemiliknya masing-masing. Apalah daya emaknya tidak konsisten update postingan, makanya kemudian bikin blog satu untuk catatan dua anak.

Jejak Pengasuhan ini juga menjadi sarana buatku dalam melakukan komunikasi eksternal dari apa yang sudah kami lakukan selama mengerjakan family project. Sebagaimana disebutkan dalam materi review game level 3; Family Project yang kita lakukan di dalam keluarga sebaiknya kita share ke dunia luar, bisa via presentasi di depan para ahli yang memang kompeten di bidangnya. Atau  share melalui komunitas-komunitas keluarga yang selalu peduli terhadap perkembangan anak, maupun di media sosial yang kita miliki.

Proses berbagi mimpi dan inspirasi ini sangat bermanfaat untuk membesarkan family project kita dan proses bertemunya anak-anak dengan para sang maestro di bidangnya.

Aku memilih blog sebagai sarana komunikasi eksternal tersebut karena aku merasa cukup menguasai bidang ini dan memang aku lebih menyukai merekam jejak pengasuhanku lewat tulisan. Selain itu lewat blog aku juga bisa mendokumentasikan foto dan video dengan lebih rapi.

Ke depannya sih aku ingin mengisi channel YouTube dengan video-video yang lebih panjang dan dibuat dengan lebih profesional. Sekarang belajar dulu bikin video yang cakep, hehe.

The Changes after The Family Project

Ada banyak perspektif baru yang muncul di dalam diriku setelah membaca materi di Bunda Sayang level 3, menyelesaikan game di level ini dan kemudian mendapat ulasan mengenai apa saja yang tersimpan di dalam sebuah family project.

Bagaimana sebuah family project yang sederhana ternyata mampu melejitkan kecerdasan intelektual, spiritual, emosional dan adversity anak. Karena mau tak mau dengan menceburkan diri ke dalam sebuah family project, kita akan benar-benar beraktivitas bersama anak. Family project tidak akan bisa berjalan ketika suasana hati tidak nyaman, ada keterpaksaan dan penuh tekanan.



Dengan suasana yang nyaman ini, kita bisa memberikan ruang pada anak untuk berani bereksplorasi, mengemukakan ide dan pendapat, menceritakan perasaan dan pengalaman, serta mengungkapkan rasa ingin tahu. Proses inilah yang perlahan melejitkan simpul-simpul kecerdasan anak secara keseluruhan.

Bonusnya sembari kita membersamai anak dalam upaya melejitkan kecerdasannya, secara tidak langsung kita juga turut melejitkan kecerdasan diri kita, menumbuhkembangkan fitrah di dalam diri yang mungkin saja sebelumnya telah tertidur karena tidak pernah terstimulasi dengan baik. Di sinilah keajaiban ungkapan raise your kids, raise yourself bekerja.



Hal seperti itulah yang aku rasakan saat membersamai mbak Ifa di Fun Holiday Project. Ketika aku mendampingi mbak Ifa untuk mengenal Allah lebih baik dan bisa mulai latihan sholat ataupun ngaji dengan lebih teratur, mau tak mau aku pun harus kembali menggali seberapa kenal aku dengan Allah. Sudah sedekat apa aku denganNya? Sudah sedisiplin apa ibadahku kepadaNya?

Begitu pula saat beberapa waktu lalu hasil konsultasi dengan DSA Sub Tumbuh Kembang Anak menyatakan bahwa kami harus memberlakukan no gadget at all untuk mbak Ifa, maka mau tidak mau aku pun harus berani membatasi pemakaian gadget selama bersama mbak Ifa. Nggak lucu kan ketika aku bilang ke mbak Ifa untuk tidak boleh menyentuh gadget sama sekali, sedang aku masih asyik masyuk dengan gadgetku.

Yang mengejutkan buatku dengan adanya family project ini, konsistensi mbak Ifa yang awalnya aku ragukan justru terlihat lebih jelas dibandingkan diriku. Soal ibadah, aku sering diingatkan mbak Ifa, “bun aku sudah dengar azan lo, yuk sholat.” Aku yang kadang saat itu sedang melakukan sesuatu, langsung speechless. Mau bilang “entar ah kak, belum selesai nih ngetiknya” kok sepertinya nggak pantas. Kan aku sendiri yang bilang kalau sudah dengar azan harus bergegas ambil wudhu, kok malah aku yang melanggar ucapanku sendiri.

Begitu juga dengan gadget hour. Sejak mbak Ifa tidak diperkenankan memegang gadget sama sekali, aku dan ayahnya sudah menjanjikan selama mbak Ifa ada di rumah, kami tidak akan memegang gadget sama sekali, kecuali ada pekerjaan urgent yang harus dilakukan. Nyatanya, kami – terutama aku, masih sering nyolong-nyolong pegang gadget untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak urgent di depan mbak Ifa. Sampai beberapa kali mbak Ifa bilang, “ih, bunda megang hp terus kok. Katanya mau main sama aku, mau bacain buku. Aku kan jadi bosen kalau bunda main hp terus.” Jleb.

Beneran ya anak itu memang guru kecilnya orangtua. Dari rangkaian family project bersama mbak Ifa aku banyak belajar tentang konsistensi, belajar berkomunikasi sesuai karakter anak, bagaimana memegang janji, dan terutama bagaimana mewujudkan keinginanku untuk mau berubah menjadi lebih baik setiap harinya. Ide dan niat bisa jadi sudah ada, namun jika tidak disempurnakan lewat aksi yang nyata, maka perubahan tidak akan pernah benar-benar terwujud. Maka nggak heran kalau bu Septi bilang, change or lose!

Melalui family project pula kemudian aku kembali disadarkan tentang impianku untuk menjadi orangtua betulan bukan orangtua kebetulan. Nyatanya sampai sekarang aku masih sering menjadi orangtua yang kebetulan. Ya, kebetulan diamanahi jadi orangtua tapi lupa tanggung jawabnya apa saja. Orangtua yang maunya ongkang-ongkang kaki dan terima jadi. Pokoknya cari sekolah yang terbaik, nggak mau tahu di sana diajarkan apa, yang penting di rumah tahu beres; akademiknya oke, ibadahnya oke, dan udah canggih menyelesaikan masalahnya sendiri.

Sedangkan untuk menjadi orangtua betulan, ya harus mau untuk benar-benar merubah mindset, paradigma dan meningkatkan wawasan seluas-luasnya. Like what I wrote in my post of Aliran Rasa for this level; Mau punya anak sholih? Ya, jadi orangtua yang sholih dulu. Mau fitrah-fitrah dalam diri anak terjaga? Ya, kenali fitrah-fitrah tersebut lalu kembangkanlah. Mau mengenali anak dengan baik? Ya, banyak-banyaklah main, ngobrol dan belajar bersama. Yang jika ditulis dengan kalimat lebih sederhana berarti for things to CHANGE, I must CHANGE first.



Ke depannya, aku nggak mau muluk-muluk. Aku hanya akan berusaha agar family project ini tidak berhenti sampai di akhir game level ini. Family project juga tidak hanya sekedar pengisi waktu liburan, namun harus menjadi proyek yang terus aku lakukan bersama anak-anak dan suami. Melihat raut muka mbak Ifa yang begitu gembira dan antusias ketika mengerjakan aktivitas-aktivitas selama fun holiday project, membuat aku ketagihan untuk terus bisa memunculkan kegembiraan tersebut.

Lewat family project berikutnya, aku ingin menjaga harta karunku yang paling berharga sekaligus menemukan surga dunia yang tiada duanya. Doakan aku konsisten ya, pals. Semoga kita selalu dimampukan menjadi orangtua-orangtua betulan. Aamiin.



Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.



Referensi:
Materi dan review game level 3 Bunda Sayang Ibu Profesional



Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Family Project; Bukan Proyek Biasa. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

18 comments

  1. Waah keren bisa di keep untuk dicontoh di rumah.. Makasih mbak

    ReplyDelete
  2. wuuiiih kereeeen! Makasih sharingnya, Mbak. Bisa buat aku kelak kalau udah punya anak :)

    ReplyDelete
  3. Keluarga adalah harta yang paling berharga 👍

    ReplyDelete
  4. Luar biasa projek-projek yang dilakukan sangat beragam. Bisa sbg referensi untuk keluarga lain. 👍

    ReplyDelete
  5. Keluarga adalah harta yang paling berharga... 💗👍

    ReplyDelete
  6. Masya Allah

    Sukaaaa banget dengan gaya penulisan mba dan infografis yang keceh badai. Teori yang rumit bisa dicerna dengan ringan.

    ReplyDelete
  7. Subhanallah mbak. ... Keren banget. Iki nulise kapan?

    ReplyDelete
  8. anak adalah guru buat orang tuanya. sukak sama kata ini 😍

    ReplyDelete
  9. Lengkaapp dan detail banget mbak. Woowww... Infografisnya juga banyak dan keren-keren. Jadi lebih mudah mencerna materinya. Pake apa buatnya mbak? Mau donk diajarin. ^_^

    ReplyDelete
  10. Proyek² nya menginspirasi.

    Melatih anak memang sebenarnya harus melatih ongtuanya dulu.

    ReplyDelete
  11. Waaah, waktu membacanya terasa lengkap sekali. Mulai dari ceritanya, infografisnya, sama project-projectnya banyaaaak. Hebat banget mba, bisa menulis serapi dan selengkap ini, plus punya blog jejak pengasuhan tersendiri. Menjadi inspirasi untuk terus meningkatkan kualitas tulisan dan konsisten menulis. Makasi ya Mba Marita sudah share & inspire :)

    ReplyDelete
  12. Terimakasih ceritanya sangat menginspirasi :) dan dapat mengingatkan saya bahwa keluarga adalah letaknya surga dunia karena itulah harta karun kebahagiaan setiap individu. :)

    ReplyDelete
  13. MasyaAllah, sharingnya keren Mbak... Bukan hanya kontennya yang luar biasa, tapi renyahnya bikin pembaca ingin menghabiskan isinya sampai tandas. Tabarokalloh mbak...

    ReplyDelete
  14. woooow... semopga saya ketularan semangatnya

    ReplyDelete
  15. Keren isinya bernas semua mbak. Dari infografis, project yang mau dilakukan juga keterlibatan keluarga menjadi hal yang menarik. Semoga projectnya terus berlanjut ya.,

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com