MaritaPalace

Sudahkah Aku Meraih Pekerjaan Impian?

tahapan mendapatkan pekerjaan
Apakah teman-teman kongkow punya pekerjaan impian? Pagi ini aku coba mengingat-ingat apa ya cita-citaku waktu kecil, dan aku mengalami kebuntuan. Seingatku sih dulu pernah pengen banget jadi arsitek. Namun kemudian sadar diri aku nggak jago gambar dan hitung-menghitung, bisa-bisa bangunan yang kubuat roboh gara-gara salah ukuran, wkwk.

Di akhir masa SD, aku merasa bisa bahasa Inggris itu keren. Kenapa hayo alasannya?

Semua mata pelajaran bisa diajarkan oleh ibuku, karena beliau seorang guru SD. Tapi khusus bahasa Inggris, beliau nggak bisa. Apalagi zaman 1990an, masih langka orang yang bisa cas cis cus pakai bahasanya Ratu Elizabeth itu.

Dari situlah aku terpacu untuk menguasai bahasa Inggris. Awalnya autodidak aja. Di halaman paling belakang Kunci (kalau nggak salah sih itu namanya), semacam LKS (lembar kerja sekolah) gitu, selalu ada soal-soal bahasa Inggris. Aku mencoba mengerjakan soal-soal tersebut sepemahamanku.

Saat itu aku bertekad, nanti kalau sudah SMP, aku mau minta dileskan bahasa Inggris. Melihat keseriusanku, bapak dan ibu mengabulkan hal tersebut. Kebetulan tetangga dekat rumahku ada yang sudah les bahasa Inggris terlebih dahulu. Kualitas guru lesnya sudah terpercaya. Tetanggaku itu juga cas cis cus banget ngomong Inggrisnya, aku makin termotivasi dong.

Singkat cerita, sejak SMP sampai SMA, aku ambil les Bahasa Inggris di luar jam sekolah bersama Pak Agus. Happy banget aku. Semua materi yang disampaikan beliau, kulalap habis. Nilai-nilaiku di sekolah khusus pelajaran bahasa Inggris, hampir selalu jadi yang terbaik.

Kupikir itulah minatku. Belajar bahasa. Gara-gara bahasa pula, aku nekat mengganti pilihan SMA-ku agar bisa masuk kelas bahasa. Sebelumnya aku mau masuk SMA Negeri 3 Salatiga, tapi setelah mendapat info di SMA tersebut nggak ada kelas jurusan bahasa, akhirnya aku bilang ke orangtuaku mau coba masuk SMA 1.

Pede banget sih saat itu. Secara masuk SMA paling favorit di Salatiga tersebut bukanlah sesuatu yang mudah. Ya meski NEM-ku saat itu nggak jelek-jelek amat, tapi saingan sama anak dari SMP 1 dan 2 yang lebih favorit dari SMP 3, sekolah asalku, jelas kansnya tipis banget.

Eh, alhamdulillah… masuklah aku ke SMA 1. Dulu kan penjurusan baru di kelas 3, jadilah selama 2 tahun aku kek plonga-plongo di sekolah. Nggak tahu gimana ceritanya, aku dicemplungin di kelas yang isinya anak-anak super pintar semua.

Kerjaannya kalau guru lagi nerangin tuh kek nggak pada serius, bercanda sendiri. Bahkan banyak guru yang tobat melihat kelakuan kelas kami. Namun jangan ditanya waktu ujian tiba, nilai-nilai terbaik pasti dikuasai oleh murid-murid di kelas tersebut.

Aku bagaikan remahan kacang almond deh di situ, wkwk. Nilai-nilai selain Bahasa Inggris pasti jadi deretan terbawah di kelas.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu tiba juga; penjurusan di kelas 3! Yippie, aku bisa masuk ke kelas idamanku. Di kelas bahasa, aku belajar segala hal terkait bahasa, budaya dan sastra. Aku sangat menikmatinya sih.

Selain bahasa Inggris, aku paling suka pelajaran sastra. Semangat banget kalau disuruh telaah sastra dan membuat ulasan sebuah buku. Oya, di kelas 3 SMA juga aku dapat kesempatan untuk belajar bahasa asing lainnya. Yaitu bahasa Jerman bersama wakasek-ku yang pernah kuliah di negerinya Pak Hitler tersebut. Lalu dua bahasa lainnya; Mandarin dan Jepang, yang kupelajari di luar sekolah. Ya, saat itu aku super happy bisa mendalami sastra dan bahasa.

Tibalah waktunya kuliah. Bener-bener mainku kurang jauh deh. Keknya aku emang typical yang ogah keluar dari zona nyaman. Daripada belajar hal baru, yawda lanjutin aja apa yang sudah kupelajari saat ini. Aku nggak terlalu pusing menentukan jurusan kuliah.

Dengan super pede aku memilih jurusan sastra Inggris. Selain sudah diterima di sebuah universitas swasta di Salatiga, aku juga mencoba peruntungan ikut UMPTN. Karena nggak niat ikut UMPTN, nggak lolos deh. Pilihannya tinggal lanjut di UKSW, tapi kok aku bosen ya sekolah di kota sama sejak TK - SMA, masa kuliah temennya harus itu-itu lagi.

Nah, pas banget waktu itu di rumah juga lagi gonjang-ganjing gitu deh. Kemudian kuputuskan untuk kuliah di Semarang, di kampus yang terkenal dengan jargon Polke. Nggak terlalu banyak drama sih untuk urusan akademisku, alhamdulillah lancar kek jalan tol.

Hanya saja setelah kuingat-ingat, aku tuh nggak bener-bener punya cita-cita. Yang kupikirkan saat itu, aku suka bahasa Inggris. Udah gitu doang. Nggak mikir ntar lulus kuliah mau ngapain. Ya Allah seslow itu hidupku, bener-bener nggak punya plan.

Sampai suatu waktu salah seorang dosenku bertanya, “Marita, what do you want to be?” Aku terdiam dan jujur bingung sih. Kujawab apa ya… Masa mahasiswi berprestasi pada zamannya nggak ngerti mau jadi apaan, sungguh hal yang out of the box, wkwk.

Lalu dengan tegas bercampur asal, kujawab… “I want to be an author, Sir.

Ciri-ciri Pekerjaan Impian

Lalu di sinilah aku sekarang. Belum mandi, rumah berantakan dengan mainan anak-anak berserakan di setiap sudutnya. Laptop menyala dan jari-jemariku sibuk berselancar di antar tuts-tuts keyboard. Menulis artikel ini sembari bertanya pada diri sendiri, sudahkah aku meraih pekerjaan impian?

Lalu aku membaca-baca beberapa referensi, sebenarnya apa sih definisi dari pekerjaan impian. Eh, la kok tiap sumber yang kubaca memiliki opini berbeda. Namun pada akhirnya aku menemukan benang merah dari semua artikel yang kubaca. Setidaknya ada 5 ciri yang harus ada dalam sebuah pekerjaan impian.
ciri-ciri pekerjaan impian

1. Sesuai dengan Minat, Passion dan Potensi

Disebut impian jika pekerjaan itu selaras dengan minat, passion dan potensi diri kita. Lalu aku mengangguk-angguk sendiri membaca kalimat tersebut. Ya, emang sih sejak SD aku suka nulis. Terbatas suka aja, nggak pernah belajar secara khusus juga. Waktu itu mana ada kelas-kelas menulis.

Paling ya autodidak belajar dari buku dan majalah-majalah literasi yang rajin kubaca. Namun karena saat itu aku sangat insecure, nggak pernah tuh berani kirim-kirim tulisan ke media. Pernah sih sekali, tapi nggak dimuat, terus nggak pede kirim-kirim lagi.

Nah, bagaimana dengan pekerjaanku sebagai kuli online sekarang? Apakah sudah cucok dengan minat, passion dan potensiku? Sepertinya sih iyes.

2. Memberikan Dampak

Ciri yang kedua dari pekerjaan impian adalah profesi tersebut sebaiknya bisa memberikan dampak. Bukan hanya kepada diri sendiri, tetapi juga untuk sekitarnya. Hmm, aku takut kepedean sih mengatakan bahwa tulisan-tulisanku bisa memberikan dampak atau pengaruh bagi pembaca. Namun tak sedikit yang menyapaku via email, kirim DM di medsos ataupun kirim WA untuk memberikan respon terhadap tulisan-tulisan blogku.

Dari sekian banyak sapaan yang masuk, alhamdulillah baru sekali sih yang secara frontal menunjukkan ketidaksetujuannya pada tulisanku. Cukup kaget saat bertemu peristiwa itu, tapi kemudian bisa woles juga. Namanya menerbitkan tulisan, ya harus siap dengan segala pro dan kontranya.

3. Seberat Apapun Tetap Nikmat Rasanya

Apakah menjadi seorang content writer dan blogger itu gampang? Sebenarnya tergantung kita menjalaninya ya. Dibilang berat ya mayan sih. Dulu waktu masih jadi full time content writer, sehari aku harus posting minimal 5 artikel. Berhadapan dengan ribuan keyword. Bohong kalau bilang aku nggak bosan.

Makanya terus pelariannya bikin blog personal ini. Eh setelah diseriusi, ternyata ngeblog pun banyak printilannya. Nggak bisa tuh cuma nulis-nulis aja. Namun yang kugaris bawahi, aku memang sangat menikmati proses pembuatan artikel. Ditandai dengan seringnya lupa waktu. Misal mulai nulisnya pagi, ujug-ujug udah sore. Atau kalau mulai nulisnya tengah malam, eh ujug-ujug udah subuh.

Seribet apapun, aku selalu happy menjalani pekerjaanku sebagai blogger dan content writer.

4. Semangat untuk Meningkatkan Kualitas

Menurutku sih kualitas tulisanku sampai saat ini masih B aja. Di luar sana banyak blogger, content writer dan penulis buku yang lebih kece tulisannya. Tapi kalau menengok tulisanku di awal kuliah, lalu saat nyemplung ke dunia ini, dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang sekarang, alhamdulillah menurutku sih ada peningkatan.

Aku pun selalu semangat kalau ada kelas-kelas menulis dan blogging, apalagi kalau gratis, wkwk. Timnya mak irit nih. Buatku mengikuti kelas dan mempraktekkan ilmunya adalah jalan ninjaku untuk meningkatkan kualitas diriku sebagai seseorang yang memilih merangkai kata-kata sebagai pekerjaan.

5. Meningkatkan Percaya Diri

Ciri yang kelima, pekerjaan impian mampu meningkatkan kepercayaan diri orang yang menggeluti profesi tersebut. Bagaimana denganku? Apakah aku cukup pede menyerukan pada dunia bahwa aku seorang blogger dan content writer.

Eh, ternyata iya lo. Atau jangan-jangan kepedean, wkwk. Alhamdulillah beberapa kali juga diamanahi untuk sharing terkait dunia ngeblog di beberapa komunitas. Semakin bertambah portfolioku, tentu saja semakin meningkat pula rasa pedeku.

Yang penting sih, harus tetap menginjak bumi. Bukankah di atas langit masih ada langit? Pede boleh, tapi jangan kepedean, hehe.

Setelah merenungi lima ciri di atas, sepertinya aku bisa menyimpulkan kalau blogger dan content writer sudah memenuhi syarat sebagai sebuah pekerjaan impian. Ya, meski buku solo belum juga kelihatan hilalnya. Boleh lah ya aku bersuka ria karena telah berhasil mencapai jawaban yang dulu pernah kuberikan pada Pak Soenardhi, dosen mata kuliah apa ya kok lupa. Pokoknya salah satu mata kuliah linguistik deh.

Hmm, sejujurnya saat ini aku mengidamkan pekerjaan lain sih. Bukan berarti aku akan meninggalkan dunia kata-kata. Apalagi menulis sudah mendarah-daging buatku. Sepertinya meski one day dapat kesempatan untuk mencicipi pekerjaan lainnya, menjadi penulis, terutama blogger, nggak akan kutinggalkan sih.

Sejak menjadi ibu dan bergulat dengan permasalahan kesehatan mental, aku semakin jatuh cinta dengan dunia psikologi. Memang aku agak telat sih kenal sama psikologi. Baru pas kuliah dan ada materi telaah sastra dengan pendekatan psikologi, aku kenalan dikit sama hal-hal yang relate sama kejiwaan.

Dulu sih pahamnya sebatas untuk membedah karya sastra. Namun semakin ke sini, aku semakin tertarik sih belajar tentang kejiwaan manusia. Apalagi kalau lihat drama korea yang psikopat-psikopat gitu, kumerasa profiler itu pekerjaan yang kece, wkwk.

Ya nggak jadi profiler juga sih, tapi pengen one day bisa kuliah lagi di jurusan psikologi dan berkecimpung di dunia tersebut. Hmm, apakah pekerjaan impian tersebut bisa kuraih? Let’s see. Btw, kalau teman-teman kongkow sudah meraih pekerjaan yang diimpikan kah?
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

10 comments

  1. Hakhakhakk mbaa aku loh juga kepengen belajar psikologiii. Wkkw tapi akhirnya berpuas diri dengan nanya2 aja ke adekku, sekaligus baca2 bukunya juga wkwk. Karena keknya kalo balik lagi mau belajar psikologi rasanya beraat. Yaudahlah nerusin yg ada aja yg juga kusuka. Eaaa

    ReplyDelete
  2. Daku juga tadinya waktu SMU mau ambil jurusan bahasa juga kak, tapi di sekolah incaran malah gak ada jurusan itu, eh yang ada nyemplung ke IPA haha. Alhamdulillah, bisa terwujud perlahan dengan kerjaan sekarang ada kaitannya sama bahasa hihi

    ReplyDelete
  3. kalo ngomongin pekerjaan impian, sepertinya aku termasuk yang ngikutin ke mana pilihan hidup ini mengalir.. dari admin, cust service di mall, barista, sekretaris, socmed marketing specialist, socmed consultant sampe sekarang malah jadi account receivable hahaahh well that is life

    ReplyDelete
  4. Mungkin kalau sekarang aku ditanya pertanyaan yang sama juga pasti sama bingungnya aku mba.
    Karena aku tipe yang kalau uda sibuk atau lagi jalani pekerjaan ya dinikmati aja, lama-lama kalau kita ikhlas jalaninnya juga bakal suka dan bikin nyaman dengan sendirinya tanpa ada paksaan.

    ReplyDelete
  5. pekerjaan impian mungkin baru bisa ditemukan kalau si manusia udah cukup paham sama diri sendiri kali ya. Beda sama cita-cita yang anak kecil juga bisa jawab, tp masih bisa berubah-ubah

    ReplyDelete
  6. pekerjaan impianku ngga muluk muluk sih dulu. pengen yang ngga jauh jauh dari hobi hehehe dan sekarang sudah berhasil dilakukan. Hasilnya ngga gampang stress dan seneng ngerjainnya

    ReplyDelete
  7. Sejak kecil, aku cita2 jadi jurnalis/wartawan, mba
    simpel aja alasannya, karena pengin keliling dunia GRATIS :D

    Ehh, sempat jadi wartawan selama sekian tahun, aku ngerasa stagnan.
    Lalu banting setir jadi Public Relations di Multinational Company. Alasannya? Lagi2 pengin keliling dunia GRATIS:D karena Headquarter-nya ada di Lausanne, Swiss.

    Yaahhh, sekian thn berlalu.... ternyata hidupku sekarang jadi bloger/content writer. Apa bisa keliling dunia GRATIS? InsyaALLAH, BISAAAA :D

    ReplyDelete
  8. Kita punya pengalaman yang hampir sama saat kelas 1 dan 2. Juga kelas 3. Masuk kelas bahasa membuat say langsung hidup dan menjuarai kelas.

    ReplyDelete
  9. Hoaa tulisan kakak sudah bagus sekali loh ^--^. Aku juga setuju psikologi sangat menarik gara gara cerita psikopat hahaha... Saya doakan cita-cita kakak untuk kuliah lagi terkabul yah kak.. Aminn

    ReplyDelete
  10. Ngomongin pekerjaan impian yang sekarang jauh dari perkiraan zaman gadis dulu. Hihi

    Dulu sempet pengen jadi penyiar, pengen jadi pegawai bumn, pengen jadi notaris, eh sekarang jadi ibu rumah tangga yang sesekali nulis di blog.

    Dari ketidaksengajaan, sekarang jadi peluang penghasilan.
    Berhubung jalaninnya seneng, aku ngerasa inilah duniaku yang aku cari dari dulu. Bisa berkreatifitas lewat konten, belajar ambil foto biar kece, bikin infografis, belajar menulis, bisa ketemu banyak temen berbeda profesi. Semenyenangkan itu sih, dibanding profesi yang dulu saya impikan.

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email