Jurnal Syukur #8: Berhias Sesuai Syariat

  • Thursday, May 31, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 8 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Memasuki hari ke-15 ramadan, aku merasa begitu cepat bulan mulia ini akan meninggalkan kita.  Bulan yang keistimewaannya tak bisa kita temui di bulan-bulan lain ini, sudahkah kita memberikan usaha yang terbaik untuk bisa meraih keistimewaan tersebut? Semoga semua ibadah kita di bulan suci ini diterima oleh Allah dan semoga kita diperkenankan untuk bisa berjumpa kembali dengan bulan istimewa ini tahun depan. Aamiin.

Membicarakan tentang berhias, aku termasuk orang yang sangat koboi dalam urusan penampilan. Sebelum mengenal hijab syari, aku lebih suka memakai celana panjang baik kain atau jeans yang dipadukan dengan kemeja atau kaos untuk penampilan sehari-hari. Seingatku hampir tidak ada rok di lemariku. Menurutku ribet dan nggak bebas kalau harus pakai rok. Namun ketika sedikit demi sedikit mendapat informasi bagaimana seharusnya seorang perempuan berpakaian, satu per satu celana dan kaos kusingkirkan dari lemari. Beberapa masih kugunakan sih. Celananya ada yang kugunakan sebagai dalaman gamis, dan kaos dipakai di rumah, atau digunakan buat lap jendela, hehe.

Aku mulai belajar mengenakan gamis sejak tahun 2014, tepatnya saat Ifa mulai masuk PAUD. Saat itu aku mulai intens membaca dan menonton kajian-kajian religi, terutama kajiannya ustaz Felix Siauw. Diawali dengan membeli satu longdress panjang yang masih sedikit memperlihatkan lekukan tubuh, hingga perlahan terbeli juga beberapa gamis yang benar-benar sempurna menutup aurat. Dari kajian YouTube, aku mulai berkenalan dengan halaqoh, dari situ Allah membuka mata tentang bagaimana kerudung yang sesuai syariat. Kerudung-kerudung yang tidak menutup dada mulai keluar dari lemari dan berganti dengan kerudung-kerudung panjang.



Tantanganku Berhijab Sesuai Syariat

Mengubah penampilan koboi menjadi sedikit demi sedikit belajar sesuai syariat bukan nggak ada tantangannya. Salah satunya yang susah adalah merubah cara duduk. Asli dulu tuh urakan dan suka asal kalau duduk, setelah belajar pakai gamis pecicilannya mulai direm, hehe. Yang belum bisa manis sampai hari ini adalah membonceng dengan posisi miring. Kalau pergi sama suami, aku masih tetap nyaman membonceng dengan posisi ke depan, hehe. Rasanya lebih aman dan seimbang soalnya daripada kudu mbonceng nyemplo. Lagipula kalau gamisnya lebar, insya Allah bisa tetap rapi dan aurat tetap tertutup kok. 



Tantangan yang kedua adalah istiqomah dengan kerudung panjang. Sebelum Affan lahir, aku sudah mulai belajar mengenakan kerudung yang menutup bagian belakang tubuh (baca: pantat, maaf). Namun ketika Affan lahir kerudungnya mulai mengkeret nih, insya Allah masih tetap menutup dada, namun tidak lagi sepanjang sebelumnya. Mengapa? Karena suka kesusahan kalau Affan minta menyusu. Seharusnya nggak jadi alasan sih. Beberapa ummahat aku lihat justru nyaman dan bayinya tenang berada di balik kerudung lebar mereka. Tapi entah kenapa hal  tersebut tidak berlaku untuk Affan yang sekoboi emaknya. Yang ada dia malah menarik-narik kerudungku, dibuka ditutup, dia pikir tirai kali, hehe.

Alhamdulillah sekarang Affan sudah mulai bisa dikondisikan saat di luar rumah bisa dikurangi frekuensi menyusunya, jadi emak bisa kembali mengenakan kerudung panjang. Satu hal yang aku suka dari mengenakan kerudung panjang adalah ketika tiba waktu sholat, aku nggak perlu ribet bawa atau meminjam mukena. Ini cocok banget sama sikap koboiku yang males ribet, hehe. Salah satu tips untuk mengecek apakah pakaian kita sudah sesuai syariat yaitu kita bisa langsung sholat mengenakan pakaian tersebut, tentunya pastikan pakaian yang kita kenakan bersih dari najis ya.



Tantangan ketiga yang aku rasakan dalam prosesku belajar berhijab sesuai syariat yaitu konsisten mengenakan kaos kaki setiap kali ke luar rumah, meski hanya pergi ke warung. Asli, ini susah banget. Kadang masih skip soal kaos kaki ini dengan alasan “ya elah deket ini.” or “perginya cuma sebentar, nggak papa kali nggak makai kaos kaki.” Hingga suatu pagi beberapa waktu lalu, aku pergi bersama suami dan anak untuk beli sarapan. Aku tergoda untuk tidak pakai kaos kaki, bahkan saat itu memilih hanya mengenakan sandal jepit. Padahal biasanya kalaupun aku sedang malas pakai kaos kaki, aku akan memakai sepatu, setidaknya sebagian besar kakiku tertutup.

Saat perjalanan pulang, suami mengerem mendadak motornya karena menghindari seekor kucing yang tiba-tiba menyebrang jalan. Untuk menjaga keseimbangan dan menghindari Affan terjatuh dari motor, reflek aku turunkan kakiku, alhamdulillah aku nggak terjatuh, tapi punggung kakiku terluka. Memar dan berdarah karena tergores aspal jalan. Aku langsung makjleb. “Siapa suruh nggak pakai kaos kaki, lukanya nggak akan separah ini karena kalau pakai kaos kaki, insya Allah kaos kakinya yang rusak tergores aspal.” Dari situlah aku seperti diingatkan untuk tidak main-main urusan kaos kaki.  



Tantangan keempat adalah soal bersalaman dengan non mahram. Untuk orang-orang di luar keluarga, aku sudah mulai bisa menolak bersalaman dengan non mahram. Biasanya sebelum orang tersebut mengulurkan tangan, aku sudah menangkupkan kedua tanganku sebagai isyarat bahwa kami tidak bisa bersalaman. Tapi beberapa kali aku masih kepepet bersalaman dengan non mahram. Aslinya aku masih ada rasa nggak enak kalau ada orang terlanjur mengulurkan tangan dan aku menolaknya. Karena aku tahu rasanya ‘ditolak’ seperti itu nggak enak banget.  Makanya kadang untuk menjaga perasaan orang tersebut, aku memilih melanggar syariat. Duh… syariat kok dilanggar dek, kuat nanggung dosanya?

Di keluarga besar, aku juga belum bisa menegakkan syariat soal bersalaman. Seperti kebanyakan keluarga di Jawa, adatnya adalah salim dan cium tangan kepada orang yang lebih tua. Qodarullah di keluarga besar dari ibu, aku merupakan cucu tertua, pastilah sepupu kalau ketemu bakal salim dan cium tangan. Begitu juga aku saat ketemu om, pasti reflek salim dan cium tangan. Kadang aku suka menghindar untuk bersalaman dengan mengalihkan langsung ngajak ngobrol, hehe. Tapi nggak selamanya berhasil, apalagi saat lebaran tiba… Pengen sih bisa sesuai dengan aturan yang ada di Al Quran, tapi aku takut aja nanti keluarga bilang saklek lah, fanatik lah. Dengan memutuskan memakai gamis dan berkerudung lebar saja aku sudah merasa kaya alien kalau lagi ngumpul keluarga besar, hehe. 

Dengan kondisiku yang masih belum bisa menggenapkan diri mematuhi syariat untuk urusan penampilan, aku bersyukur bisa menghadiri Sekolah Ibu Sendangmulyo hari kelima yang mengangkat tema tentang berhias sesuai syariat.  Seharusnya tema tersebut akan disampaikan oleh salah satu tetanggaku, Ustazah Juliani Hardiansari atau yang lebih dikenal dengan ustazah Wulan, atau kalau para tetangga sih menyebut beliau bu Rusmanto. Namun karena beliau sedang ada udzur yang tidak bisa ditinggalkan, materi tersebut akhirnya dibawakan oleh Ustazah Nurul Fadhillah yang akrab dipanggil dengan sebutan Ustazah Lillah. Beliau adalah salah satu murobbiyahku. Dari beliau aku banyak mendapat sentilan dan nasihat saat diri mulai oleng.



Seperti hari itu, saat mulai maju mundur lagi menegakkan syariat dalam urusan penampilan, pas banget dapat materi tersebut. Meski sebagian besar isinya sebenarnya sudah pernah tahu sebelumnya, tapi ya inilah pentingnya hadir di majelis ilmu. Setiap kali iman mulai tergerus, setiap kali ragu mulai menghadang, akan kembali diingatkan dan dikuatkan saat menghadiri majelis ilmu. 

Ustazah Lillah membuka taujihnya dengan mengingatkan bahwa memperbincangkan mengenai fikih rentan bertemu berbagai perbedaan alias terjadi khilafiyah. Tidak perlu heran dan jadi gontok-gontokan, karena beda mazhab bisa jadi berbeda aturan. Cukup saling menghormati keyakinannya masing-masing, yang penting tetap semua bersandar dan mengacu pada aturan Allah subhanahu wa ta’ala.



Bolehkah Berhias dalam Islam?

Tidak ada larangan untuk berhias dalam Islam, Allah saja menyukai keindahan, tentu saja Allah akan suka jika hambaNya juga mencintai keindahan. Berikut ini adalah ayat Al Quran dan hadits yang menguatkan bahwa sah-sah saja berhias di dalam Islam:





Ustazah Lillah menambahkan meski diperbolehkan tentu saja ada hal-hal yang perlu diperhatikan agar kita berhias sesuai dengan tuntunan Al Quran dan hadist. Salah satunya adalah tidak berlebihan, misalnya mengenakan gamis dengan harga ratusan ribu, tapi belinya sampai harus ngutang. Hindari juga memakai pakaian yang membuat kita merasa lebih dari orang lain, pakaian yang membuat kita merasa sombong.

Meski dilarang berlebihan, kita juga nggak boleh bersikap merendahkan diri. Maksudnya kalau memang perlu dan mampu membeli baju baru karena baju yang sudah ada tidak layak pakai, ya belilah. Jangan memaksakan diri untuk tetap mengenakan baju tersebut, sedang sudah bolong di sana-sini, padahal kita mampu untuk membeli yang baru.

Adab Berpakaian

Selanjutnya yang kita perlu tahu mengenai berhias di dalam Islam adalah bagaimana adab berpakaian. Adab berpakaian berhubungan erat dengan batasan aurat. Tentunya teman-teman sudah tahu dong ya batasan aurat untuk perempuan dan laki-laki?

Aurat perempuan meliputi bagian seluruh tubuh kecuali tangan dan wajah, sedangkan aurat laki-laki menutup antara pusar dan lutut. Berikut ini penjelasan lebih lanjut tentang syarat-syarat pakaian syari untuk perempuan:



1. Menutupi seluruh tubuh kecuali yang tidak wajib ditutupi

Sudah jelas ya kalau ini, bahwa bagian tubuh wanita yang tidak wajib ditutupi adalah tangan dan wajah. Lalu bagaimana dengan cadar? Para ulama sepakat bahwa cadar merupakan sunnah, artinya boleh dikenakan boleh tidak. Itulah kenapa saat sholat dan melakukan ibadah dalam haji, cadar harus dilepas.

2. Tidak berfungsi sebagai perhiasan

Dalam Islam pakaian harus diniatkan sebagai sarana menutup aurat, jangan sampai terbersit dalam hati mengenakan pakaian agar dilihat orang, dipuji orang dan menjadikan pusat perhatian.

Pakaian yang dipakai tidak boleh berlebih-lebihan, maksudnya paling panjang hanya sampai menutupi mata kaki, tidak berlebih-lebihan (isbal) yang menimbulkan kesombongan. Bagi perempuan yang tidak merasa sreg hingga mata kaki, Rasul memberikan dispensasi hingga menutup tumit (artinya busana paling bawah hanya maksimal tumit).


3. Kainnya tebal tidak tipis

Sekarang ini banyak bermacam gamis bisa kita dapatkan, namun tak jarang bahannya tipis sehingga menerawang, jadi berhati-hatilah dalam memilih bahan gamis.



4. Lebar tidak ketat sehingga menampakkan bentuk tubuh

Tubuh perempuan diciptakan memang dengan keindahan yang aduhai, itulah kenapa Allah menurunkan aturan mengenai berhias untuk menjaga perempuan dari mata-mata yang jelalatan sekaligus menjaga harga dirinya. Salah satunya dengan mengenakan pakaian yang lebar dan bisa menyembunyikan keindahan tubuh.

Hati-hati juga dengan model kerudung yang kita pakai. Sekarang ini banyak dalaman kerudung yang memiliki cepol, sehingga kesannya orang yang mengenakannya memiliki rambut panjang yang digelung. Apalagi jika cepolan sampai tinggi. Ini yang dinamakan dengan seperti punuk unta, dan ini dilarang ya, pals



5. Tidak diberi pewangi atau parfum

Bukan berarti perempuan Islam lalu identik dengan bau badan atau bau tidak enak ya. Boleh kok mengenakan parfum atau pewangi untuk menyamarkan bau badan atau keringat, tapi pilihlah yang baunya tidak menyengat. Pilih jenis parfum yang jangan sampai membuat orang lain bisa menghirup baunya. Karena ada lo lawan jenis yang tertarik lewat bau parfum.

6. Tidak menyerupai pakaian lelaki

Sudah jelas ya artinya? Bagaimana dengan celana? Boleh kok pakai celana… buat dalaman gamis. Berkaitan dengan hal ini, Ustazah Lillah menceritakan sebuah kisah saat Rasulullah memalingkan muka ketika ada seorang sahabat perempuan yang terjatuh dari kuda. Lalu salah seorang sahabat Rasulullah berkata, “dia mengenakan celana ya Rasulullah.” Celana di dalam gamis membantu kita untuk menutup aurat secara sempurna, jadi kita bisa lebih bebas beraktivitas tanpa takut aurat kita tersingkap.

7. Tidak menyerupai pakaian wanita kafir

Misal mengenakan kerudung ala suster Kristiani atau jenis pakaian khas agama lain. Termasuk juga larangan untuk membuka aurat, karena di agama lain boleh menampakkan rambut dan lain-lain.


8. Bukan merupakan libas syuhrah (pakaian yang menarik perhatian orang-orang)

Hindari mengenakan pakaian ketenaran atau mengenakan pakaian berbeda dengan yang digunakan kebanyakan orang, kita perlu untuk memantaskan dan menyesuaikan diri dengan tempat di mana kita berada.

Tuntunan Berhias sesuai Syariat

Setelah mengetahui syarat-syarat pakaian syari untuk perempuan, sekarang kita belajar mengenai tuntunan berhias yang benar dalam Islam yuk.

Yang pertama, setiap kali mau berhias, kita harus meluruskan niat untuk mencari ridha Allah, untuk memelihara dan menjaga karunia Allah. Selain itu kita juga  harus menjaga kesehatan dan kebersihan badan serta pakaian. 


Bagaimana kita berhias telah diatur di Al Quran surat  An Nur: 30-31 dan  beberapa penjelasan yang diberikan Rasulullah. Berikut ini tuntunan-tuntunan yang harus kita patuhi:



1. Tidak Tabarruj

Tabarruj secara bahasa diambil dari kata al-burj (bintang, sesuatu yang terang, dan tampak). Makna dari tabarruj antara lain adalah berlebihan dalam menampakkan perhiasan dan kecantikan, seperti: kepala, wajah, leher, dada, lengan, betis, dan anggota tubuh lainnya, atau menampakkan perhiasan tambahan.

Imam asy-Syaukani berkata, “At-Tabarruj adalah dengan seorang wanita menampakkan sebagian dari perhiasan dan kecantikannya yang (seharusnya) wajib untuk ditutupinya, yang mana dapat memancing syahwat (hasrat) laki-laki.”

Hal tersebut juga dikuatkan dengan ayat berikut:


Pada fitrahnya, perempuan itu memang didesain oleh Sang Pencipta sebagai makhluk rumahan. Karena saking indahnya, jika kita tidak bisa menjaga apa yang Allah berikan kepada kita, jatuhnya bisa menjadi fitnah.  

Kadang suka tergelitik dengan beberapa pernyataaan ketika kasus pelecehan seksual mencuat, “ya emang lakinya yang ngeres pikirannya, apa-apa yang disalahkan perempuannya,” atau “itu pakaiannya tertutup ya masih aja dilecehkan.”

Kita tidak pernah bisa mengontrol pikiran seseorang, tapi kita bisa mengontrol perilaku dan bagaimana cara kita menghargai diri sendiri. Daripada menunggu pikiran semua laki-laki beres, kenapa tak mulai dari diri sendiri dengan menjaga apa yang telah Allah amanahkan kepada kita?  Lagipula laki-laki yang sholih pasti tahu kok cara menundukkan pandangan.
Berkaitan dengan tabarruj, berikut ini hal-hal yang harus kita ketahui:



  • Tidak diperbolehkan memakai kosmetik yang membahayakan karena dalam hadis Rasulullah ada larangan mencelakakan diri sendiri dan orang lain (Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
  • Tidak memakai bedak atau zat kimia lain yang menghalangi air wudhu’ masuk ke kulit (karena keabsahan wudhu’ akan berakibat pada sahnya salat.
  • Boleh pakai celak, ada perintah Rasul untuk memakai celak karena baik bagi kesehatan mata dan menyuburkan bulu mata (Hadis Riwayat al-Turmuzi, juz 3, h. 146). Namun ada larangan Rasul untuk memakai celak ketika masa berkabung  (Hadis Riwayat al-Bukhari, Haid no. 302, Muslim, thalaq, no. 2078, Abu Daud Ibnu Majah).
  • Menjaga dan menyisir rambut  sesuai dengan sabda Rasul, ”Siapa yang mempunyai rambut, hendaklah ia menjaga dan merawatnya”  (Hadis Riwayat   Abu Daud, juz 4, h. 76). Perintah Rasulullah menyarankan umat Islam laki-laki dan perempuan untuk merapikan dan merawat rambutnya, meskipun akan ditutupi kerudung.
  • Diperkenankan menyemir rambut, dalam beberapa hadits selain warna hitam, hal itu disebabkan musuh mengecat dengan warna hitam.
  • Rasul memperbolehkan menggunakan pacar/inai sabda Nabi: “jika engkau seorang perempuan, tentu engkau akan mengubah warna kukumu dengan inai” (Hadis Riwayat    an-Nasa’i). Sabda ini muncul ketika seorang perempuan yang menyodorkan kitab tetapi beliau tidak mengambilnya dan mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah itu tangan perempuan atau laki-laki?” kemudian perempuan itu menjawab: “Tangan perempuan.

2. Perhatikan Aurat

Seorang wanita yang berhias hendaknya paham mana anggota tubuhnya yang termasuk aurat dan mana yang bukan.  Aurat adalah celah dan cela pada sesuatu, atau setiap hal yang butuh ditutup. Bisa juga diartikan sebagai setiap hal yang dirasa memalukan apabila nampak, atau hal-hal yang ditutupi oleh manusia karena malu. Aurat juga bisa berarti kemaluan itu sendiri.  Aurat wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahram adalah seluruh tubuhnya. Nah, di sini kita perlu tahu siapa sajakah yang termasuk mahram dan siapa yang bukan mahram. Semoga diagram berikut bisa membantu ya.


3. Ketahui Cara Berhias yang Dilarang

Maka jika sudah tak ada lagi aurat antara suami dan istri, hendaknya seorang wanita (istri) berhias semenarik mungkin di hadapan suaminya. Seorang istri hendaknya berhias untuk suaminya dalam batasan-batasan yang disyari‘atkan. Karena setiap kali istri berhias untuk tampil indah di hadapan suaminya, akan lebih mengundang kecintaan suami kepadanya dan merekatkan hubungan antara keduanya.

Jadi jangan kebalik ya, pals… kalau di luar rumah berdandan maksimal dan habis-habisan, di dalam rumah malah pakai daster rombeng, badan bau bawang.. hati-hati pelakor siap menikung di belokan mana pun.. ups. Memang kalau di luar dandan buat nyenengin siapa sih? Kalau di rumah kan jelas buat nyenengin suami sendiri to? Ya setidaknya kalau di rumah tetap wangi, rambut tersisir rapi, pakai bedak dan lipen dikit biar enak dilihat. 

Adapun batasan berhias di dalam Islam sebagai berikut:

A. Dilarang menyambung rambut

Rasulullah Saw bersabda, “Allah melaknat penyambung rambut dan orang yang minta disambung rambutnya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jadi kalau puisi konde kemarin ramai, udah jelas ya memang ada aturannya di dalam Islam. Mau milih mengikuti adat atau menegakkan syariat? Selain konde, wig dan hair extension, termasuk juga bulu mata palsu adalah beberapa hal yang dilarang dalam syariat. 

B. Dilarang tato, cukur alis dan meratakan gigi

Rasulullah Saw bersabda, “Allah melaknat orang yang menato dan wanita yang minta ditato, wanita yang menyambung rambutnya (dengan rambut palsu), yang mencukur alis dan yang minta dicukur, serta wanita yang meregangkan (mengikir) giginya untuk kecantikan, yang merubah ciptaan Allah.” (HR Bukhari dan Muslim)
Jadi ingat waktu mo nikahan, udah wanti-wanti sama periasnya… “jangan dicukur ya..” Si perias bilang “masa nikah sekali seumur hidup nggak dicukur, biar bagus.” Aku tetap keukeuh enggak mau, toh alisku juga tipis. Eh…. Tiba-tiba… kres. Hiks… semoga Allah mengampuni dosaku. Maklum waktu nikah belum kenal salon syari. Jadi pengalaman besok kalau mau menikahkan Ifa, cari salon yang tahu syariat Islam.  

Berkaitan dengan tato, sulam alis dan sulam bibir juga termasuk di dalamnya ya, pals, karena itu termasuk merubah ciptaanNya. Sudahlah yang natural saja. Kalaupun merasa alisnya tipis, boleh kok pakai pensil alis buat yang merasa nggak punya alis sama sekali, asal tidak berlebihan dan selama diijinkan suami.



C. Memakai wewangian keluar rumah

Setiap wanita yang menggunakan wewangian, kemudian ia keluar dan melewati sekelompok manusia agar mereka dapat mencium bau harumnya, maka ia adalah seorang pezina, dan setiap mata itu adalah pezina.” (HR Ahmad, An-Nasa’i, dan Al-Hakim dari Abu Musa al-Asy‘ari ra)

Ini tadi sudah sempat aku singgung di atas ya. Boleh kok memakai deodorant atau parfum tapi pilih yang baunya tidak menyengat sehingga orang tak sadar kalau kita memakainya. Niatkan saja untuk mengurangi bau keringat. Ustazah Lillah mencontohkan kalau parfum untuk laki-laki biasanya cairannya putih tapi baunya menyengat, sedangkan cairan parfum untuk perempuan biasanya berwarna tapi baunya sangat lembut, bahkan hampir tak berbau.  

D. Memanjangkan kuku

Rasulullah Saw bersabda, “Yang termasuk fitrah manusia itu ada lima (yaitu): khitan, mencukur bulu kemaluan, mencukur kumis, memotong kuku, dan mencabut bulu ketiak.” (HR Bukhari dan Muslim).
Jangan lupa, sunnahnya potonglah kuku setiap hari jumat! 

E. Menyerupai lelaki



“Rasulullah Saw melaknat laki-laki yang menyerupakan diri seperti wanita dan melaknat wanita yang menyerupakan diri seperti laki-laki.” (HR Bukhari).
Jangankan mengubah kelamin, menyerupai saja tidak diperbolehkan lo. Jadi hati-hati ya dalam memilih pakaian dan berperilaku. Berkaitan dengan LGBT, kita sebagai orangtua bisa kok mengenalkan gender kepada anak-anak sejak dini. Salah satunya dengan memakaikan pakaian sesuai gendernya. Jadi PR nih buat aku karena Ifa agak koboi kaya emaknya, lebih seneng pakai kaos dan celana panjang. Pelan-pelan mulai digeser ke rok-rok panjang dan gamis. Termasuk baju rumahnya pun sekarang mulai dipilih hanya rok,  celana mulai dipensiunkan, kecuali untuk dalaman.


Memang selalu seru ngobrolin tentang tema ini. Beberapa pertanyaan diajukan oleh peserta-peserta yang hadir. Salah satu pertanyaan yang menggelitikku adalah “apa hukumnya jika seorang muslimah ikut senam, sedangkan pakaian senam kan cenderung membuka aurat sementara di lokasi senam ada yang non muslim, dan bagaimana juga hukumnya memakai pakaian senam yang tetap berkerudung tapi menampilkan lekuk tubuh karena instrukturnya laki-laki?

Menurut teman-teman bagaimana? Saat pertanyaan itu diajukan, ustazah Lillah juga tidak langsung menjawab tapi mengembalikan pertanyaan tersebut kepada para peserta yang hadir. Ternyata pesertanya pinter-pinter dan sudah bisa menemukan jawabannya sendiri.



Jadi memang batasan aurat dengan perempuan non muslim adalah sama dengan laki-laki non mahram. Bedanya hanya kita boleh tetap saling bersentuhan/ bersalaman. Maka sebaiknya jika memang ingin senam, pilihlah sanggar senam yang khusus muslimah, jadi kita bisa bebas membuka aurat. Karena memang kalau senam kan baiknya memakai pakaian yang minim, biasanya instruktur butuh melihat perut kita apakah sudah benar melakukan gerakannya. Selain itu sanggar senam khusus muslimah tentunya tidak sembarangan menyebar foto kegiatan ke publik. Seperti yang kita tahu beberapa sanggar sering membagikan foto kegiatannya di sosial media, bahaya dong kalau aurat kita sampai terlihat ke mana-mana.

Untuk masalah instruktur senam yang laki-laki juga pastinya bisa menjawab sendiri ya. Hindari pula mengikuti senam ramai-ramai di area CFD misalnya, apalagi dengan baju yang ketat.  Sedangkan berlenggok-lenggok saja tidak diperbolehkan.

Pertanyaan berikutnya yang juga sering banyak ditanyakan yaitu soal batalkah wudhu kita saat bersentuhan dengan suami dan tidak sengaja bersenggolan dengan lawan jenis. Ustazah Lillah menyampaikan bahwa suami sudah menjadi mahram kita karena pernikahan, maka tidak akan membatalkan wudhu meski bersentuhan. Sedangkan jika tidak sengaja bersenggolan dengan lawan jenis, sebagian besar ulama sepakat hal itu tidak membatalkan wudhu, karena yang membatalkan wudhu adalah sentuhan yang bisa menimbulkan syahwat. 

quote cantik dari ustazah Lillah

Alhamdulillah aku banyak diingatkan mengenai berhias sesuai syariat pada kajian Sekolah Ibu hari kelima ini. Hal menantang setelah mendapat ilmu adalah mempraktekkan ilmu tersebut. Jangan merasa terbatasi akan syariat, karena sejatinya syariat ada sebagai bentuk cintanya Allah terhadap hamba-hambaNya. Masa iya kita dicintai sebegitu dalam olehNya, tapi kita justru menolak syariat tersebut? Semoga kita dimudahkan untuk mengikuti dan menegakkan syariat. Aamiin. 

Terima kasih sudah mampir dan membaca, semoga bermanfaat dan sampai jumpa di catatan berikutnya, pals

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


"Diikutkan dalam May's Challenge: Gratitude Journal Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang."





Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Jurnal Syukur #8: Berhias Sesuai Syariat. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

8 comments

  1. Sharing yg sangat bermanfaat. Makasiy Mba

    ReplyDelete
  2. Komplit sharingnya nih, manfaat banget

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah, jadi diingatkan kembali. Kangen dengan gamis dan kesempurnaan menutup aurat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bunsal, aku juga menulis untuk mengingatkan diri sendiri hehe. Masih suka nggak istiqomah :)

      Delete
  4. Panjang banget ya mba ulasannya hehe mungkin bisa dipecah jd 2 tulisan? Saran ��
    Bermanfaat bgt sih emang kontennya. Aku merasa diingatkan juga. Apalagi soal kaos kaki. Haduh kita juga sehati deh mba masih blm istiqomah.
    Trs yg salaman juga ������ apalagi aku kan mba yg notabene msh mahasiswa sdg dosen jg banyak yg cowok. Yg penting ttp berusaha aja ya mbaa. Bismillah

    ReplyDelete
  5. Hehe. Memang spesialis postingan panjang. Suka beda feelnya kalau dipecah jadi Dua postingan..

    Iya memang tantangannya adalah menjaga konsistensi alias istiqomah :) semangat belajar terus..

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com