Merangkai Gerbong Impian di Dunia Literasi

  • Saturday, September 01, 2018
  • By Marita Ningtyas
  • 8 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Hi, pals. Baru sadar kalau bulan lalu aku sama sekali tidak update postingan. Sawang dan debu di rumah maya ini semakin tebal saja. Benar-benar butuh suntikan semangat untuk kembali profesional berkarya nih. 

Sebulan ini aku sedang membersamai teman-teman peserta matrikulasi Ibu Profesional batch #6 untuk wilayah Jateng 1 yang meliputi Semarang, Salatiga, Jepara dan Pati. Ada banyak kisah dan cerita tentang mereka yang ingin aku tuliskan. Namun semua berhenti hanya pada angan-angan.

Bang Leno yang ternyata tidak bisa diperbaiki juga membuat semangat blogging-ku turun hingga ke titik nol. Meski aku tahu hal tersebut tidak bisa jadi alasan untukku berhenti berkarya, namun kehilangan partner yang kurang lebih empat tahun bersamai lumayan nyesek juga.

Beruntungnya saat sedang down begini, aku dikuatkan oleh Ndan Hessa Kartika, mentor tercintaaahku di dunia literasi. Sebenarnya kami sudah saling mengenal setahunan ini, dan aku tahu doi membuka kelas penulisan. Namun entah kenapa baru sekarang aku benar-benar tertarik bergabung bersama mentoring dasar yang Ndan Hessa ampu. 

Mungkin karena ia kembali menggiring impianku untuk kembali mengudara. Aku masih ingat empat tahun lalu saat buku antologi pertamaku terbit, semangat untuk berkarya di dunia literasi begitu menggebu. Disokong oleh teman-teman yang juga passionate di bidang ini, aku mulai menyusun puzzle-puzzle mimpiku.

Namun karena jalur yang diambil mulai berbeda-beda, teman-teman yang awalnya menjadi pelecut semangatku ini mulai sibuk masing-masing. Aku sendiri semakin melebur di dunia penulisan konten. Nggak bisa dipungkiri pendapatan yang menggiurkan setiap bulan membuatku lupa pada gerbong impianku.



Menulis tidak lagi tentang seberapa manfaat yang bisa aku tebarkan, namun soal deadline dan berapa rupiah yang bisa kudapatkan. Ketika aku semakin tersesat, teman-temanku sudah semakin moncer dengan karya-karyanya. Ada yang sudah sukses menerbitkan buku parenting, ada yang sudah sukses jadi penulis skenario. Dan aku mandheg aja begini. Hiks.

Sepertinya Allah tidak mau membuatku tersesat semakin lama. Tahun ini aku dipercaya menjadi penanggung jawab Rumbel Literasi Media Ibu Profesional Semarang. Antara terpaksa dan deg-degan menerimanya. Apa bisa? Ternyata justru di sinilah awal gerbong impianku mulai kembali berderak.

Saat Rumbel Literasi Media berjalan stagnan, mbak Hessa n the gank kembali menghidupkan suasana. Kami mulai mempersiapkan proyek pertama, doakan semoga bisa terbit sesuai rencana ya, pals. Dari sini pula, aku mulai pedekate lagi nih sama mbak Hessa dan kemudian jatuh cinta pada Pejuang Literasi. 

Apaan tuh Pejuang Literasi? Sebuah komunitas penulisan yang dibangun oleh mbak Hessa bersama kedua sahabatnya, mbak Yuan dan mbak Herlina. Semangat mbak Hessa benar-benar racuuuun! Doi baru aktif di dunia literasi kurang lebih setahun yang lalu, tapi sudah punya 50-an antologi dan sedang mempersiapkan buku solonya! Whatttt? Aku merasa ditampar berkali-kali deh… lalu nengok portofolioku, dari 2014 sampai detik ini, baru 10 antologi, ke mana ajaaah gueeee.

Singkat cerita, di sinilah aku sekarang. Di sela-sela waktuku membersamai matrikan Jateng 1, aku mengikuti beberapa proyek antologi “Nulis Buku Bareng” Pejuang Literasi. Karena kadung nyemplung, ya basah aja sekalian lah yaa. Aku pun memutuskan ikut Mentoring Dasar batch #6.



Tentang Mentoring Dasar Batch #6


Sepertinya tahun ini aku memang berjodoh dengan angka enam. Jadi fasilitator untuk matrikulasi batch #6, dan juga ikut mentoring dasar Pejuang Literasi batch #6, kira-kira bisa punya anak enam nggak ya.. eeeh.

Akan ada enam sesi pembelajaran… nah lo enam lagi kan. Dan hingga aku menuliskan postingan ini, sudah berjalan dua sesi. Beberapa kali ikut kelas penulisan, semua selalu tentang teknik menulis. Namun mentoring dasar Pejuang Literasi sungguh berbeda!

Kami tidak langsung mak jegagik masuk ke sesi belajar tentang teknik menulis. Namun kami dibukakan mata tentang hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan sebelum merangkai gerbong impian di dunia literasi. Sesi #1 berhasil menampar, mencubit, dan menjewerku berkali-kali.

Beberapa hal yang aku catat dengan tinta merah, pakai style bold pula yaitu:



Pertama, selalu bawa gelas kosong di setiap sesi belajar. Gelas yang sudah penuh, jika diisi kembali, tentunya air akan luber tumpah ke mana-mana. Akhirnya ilmu dan informasi yang tadinya bisa bermanfaat justru lenyap tanpa sisa. 



Kedua, gelas yang tidak dikosongkan dulu berakibat timbulnya kata yang bisa membunuh masa depan. Apa itu? “AKU TAHU”. Kok bisa? Ya, karena saat kita mengucapkan kata tersebut, tanpa sadar kita telah menutup diri pada ilmu dan informasi yang baru. Karena kita telah merasa sudah tahu, padahal bisa jadi yang disampaikan tidaklah sama dengan apa yang kita tahu. Harus mulai mengganti kata “AKU TAHU” menjadi “WOW, MENARIK SEKALI!”



Ketiga, membangun konsep diri. Kenapa kita sering gagal dalam meraih cita-cita? Karena kehilangan optimisme. Jangan-jangan, ah paling gagal, aku kan bisanya begini doang, ah susah aku nggak bisa… semua hal itu harus disingkirkan dari pikiran kita. Mulai membangun konsep diri positif bahwasanya menulis adalah panggilan jiwa, transfer ilmu, kegiatan ibadah, mengukir keabadian, dsb.



Keempat, menyadari bahwa setiap manusia adalah karya terhebat Allah, maka jangan sampai kita melemahkan diri sendiri. Harus yakin dengan kelebihan dan potensi yang kita miliki. Memang tidak ada manusia yang sempurna, pasti semua memiliki keterbatasan, namun jangan sampai hal tersebut menjadi alasan untuk berhenti berjuang. Jadikan keterbatasan yang kita miliki sebagai tantangan untuk terus maju dan maju. Ngomongin soal keterbatasan, yuk tonton video ini dulu. Siap-siap tisu yaaa…


Apa ibroh yang teman-teman bisa ambil dari video tersebut? Seorang Lena Maria yang dianugerahi Allah keterbatasan fisik saja tidak berhenti untuk meraih impiannya, tidak malukah kita yang memiliki fisik sehat dan lengkap begitu mudah tersungkur saat bertemu batasan?

Plaaaak! Kita… elu aja kali, Rit… 

Oke, saatnya bangun dari tidur panjang yang melenakan. Aku harus menarik gerbong impian kembali pada rel yang seharusnya.


Bolehkah Aku Merangkai Impian?


Mimpi dan impian, dua kata yang sering kita pakai saat membicarakan tentang cita-cita dan tujuan hidup. Namun sebenarnya kata mana ya yang lebih pas untuk mewakilinya?

Akhirnya aku pun berusaha mencari tahu makna kedua kata tersebut lewat website KBBI. Katanya begini nih...

impi,/im·pi,/ mengimpikan/meng·im·pi·kan/ v 1 mengharapkan dengan sangat; meng-idamkan: sudah lama saya ~ sepatu model ini; 2 melihat (mengalami, merasai) ketika tidur: semalam saya ~ dia sudah menjadi sarjana; 
impian/im·pi·an/ n (barang) yang diimpikan; barang yang sangat di-inginkan: ~ Anda sekarang telah menjadi kenyataan




mimpi/mim·pi/ n 1 sesuatu yang terlihat atau dialami dalam tidur; 2 ki angan-angan; 
bermimpi/ber·mim·pi/ v 1 melihat (mengalami) sesuatu dalam mimpi: semalam ia - dikejar harimau; 2 berkhayal; berangan yang bukan-bukan; 
memimpikan/me·mim·pi·kan/ v 1 bermimpi akan sesuatu: ia - dirinya bisa terbang; 2 ki mencita-citakan (sesuatu yang susah atau tidak mungkin dicapai): walaupun pendidikannya rendah ia selalu - jabatan yang tinggi;



Dari situ kemudian aku memutuskan untuk memakai “impian”. Sesuatu yang sangat kita inginkan! Impianku di dunia literasi masih sama dengan empat tahun lalu; menerbitkan buku solo. Aku rasa setiap orang yang menyematkan kata penulis sebagai profesinya, pasti menginginkan hal yang sama. 

Impian ini sempat terpinggirkan dengan berbagai alasan, dan aku bersyukur lewat Pejuang Literasi, aku kembali berani untuk menorehkannya lagi.

“Halaaah, jangan kebanyakan mimpi deh… panjang angan-angan itu tipu daya setan lo, Rit!” Bisik sisi hitam hatiku. 

Ya, kalimat-kalimat dari dalam diri sendiri ini yang justru sering melemahkan dan menghancurkanku. Udah deh nggak usah kebanyakan rencana, nggak usah kebanyakan impian. Ikuti arus aja. 



Bersyukur Ndan Hessa kembali menamparku soal mencapai kesuksesan. Ada tiga level manusia berkaitan dengan kesuksesan; 1. ingin sukses, 2. memilih untuk sukses atau 3. komitmen untuk sukses. Di level manakah kita ingin berada? Tentu saja di level 3 kan?

Kalau memang mau komit untuk sukses, itu artinya kita harus merencanakan kesuksesan itu. If you fail to plan, you plan to fail…. Jleb lagi daaah!

Qodarullah sebelum mendapat materi sesi #1 dari Ndan Hessa, aku menghadiri kajian bulanan Majelis Taklim Zahira, majelis taklim di RT ku. Memang sepertinya Allah menggiringku untuk kembali merangkai gerbong impian. Saat itu Ustazah Julan Hardiansari menyampaikan tema tentang “Angan dan Impian yang Bisa Menjadi Sebab Musabab Keluar dari Kesulitan.”



Memang benar adanya hadits tentang panjang angan-angan adalah tipu daya setan. Karena berangan-angan atau bermimpi yang nggak jelas juntrungannya seringkali melalaikan kita pada akhirat, membuat kita bermalas-malasan.

Namun ternyata ada hadits lainnya yang membicarakan tentang angan dan impian. Sayang aku lupa sanad haditsnya. Insya Allah nanti aku tanyakan ke ustazah Julan dulu deh. 

Hadits tersebut yang aku ingat berbunyi seperti ini, 

“dari Aisyah RA, jika salah seorang dari kalian bermimpi/ berangan-angan, maka perbanyaklah. Karena sesungguhnya impian itu wujud permohonan/ doa kepada Tuhan.”

Maka kita nggak perlu takut untuk memiliki impian. Sebanyak apapun persoalan hidup yang kita hadapi, kita harus berani membesarkan impian tersebut. Jadikan impian itu penyangga doa-doa kita dan biarkan impian itu menggetarkan langit. 

Bahkan bisa jadi impian itu mencapai langit terlebih dahulu. Impian yang memenuhi alam bawah sadar akan terucap dari hati paling dalam. Bahkan tanpa sadar kita akan sering menggumamkannya, merapalkannya dan membayangkannya. Bisa jadi lebih sering dari munajat-munajat panjang yang kita ucapkan dengan sadar. Maka kita harus menyinkronkan antara do’a yang terucap secara sadar dengan impian yang tertanam di alam bawah sadar.

Jangan sampai kita berdoa, “ya Allah, mampukan aku menjadi penulis yang bisa melahirkan karya-karya yang bermanfaat.” Namun di alam bawah sadar kita masih tertanam, “ah, mana mungkin bisa nerbitin buku solo, mustahil!”



Dalam kajian tersebut, ustazah Julan juga menyampaikan bahwasanya ada empat syarat agar memperbanyak impian diperbolehkan sehingga bisa menuai banyak keberkahan, yaitu:

  1. Mimpikan dan beranganlah tentang hal-hal yang halal dan manfaat. Selain dua hal ini, maka benar adanya angan-angan tersebut tipu daya setan. Misal, impian untuk menerbitkan buku solo agar bisa memberi manfaat kepada sesama – ini insya Allah dibolehkan. Namun jika menerbitkan buku solo untuk ajang pamer, nah lo… ayo luruskan niat!
  2. Tidak melalaikan akhirat. Jangan sampai saking semangatnya menyusun impian di dunia, kita lupa tak menyisipkan impian untuk akhirat. Ingatlah dunia sementara, akhirat selama-lamanya…. Malah nyanyi to? Hehe.
  3. Bukan sesuatu yang mustahil untuk diwujudkan. Tidak ada yang mustahil untuk diwujudkan ketika kita membawa Allah dalam setiap langkah kita. Oleh karenanya dalam proses meraih impian, kita harus selalu melakukan hal-hal yang diridhai Allah. Misal jika kaitannya dalam dunia literasi, menghindari plagiasi.
  4. Adanya kehendak atau bersungguh-sungguh untuk merealisasikannya. Karena impian hanya akan jadi angan-angan jika tak ada ikhtiar yang kita lakukan. Masalah hasil memang milik Allah, tugas kita hanya berusaha sebaik mungkin. Man jadda wa jada.

“Jika engkau berada di sore hari, maka janganlah menunggu waktu pagi. Jika engkau berada di waktu pagi, janganlah menunggu sore. Isilah waktu sehatmu sebelum datang sakitmu, dan isilah masa hidupmu sebelum datang matimu.” (HR. Bukhari no. 6416). Hadits ini mengajarkan untuk memanfaatkan waktu untuk berikhtiar semaksimal mungkin.

Gerbong Impianku di Dunia Literasi


Dan inilah gerbong impian yang koyak dan rapuh, kini sudah kuperbaiki. Bismillah akan kembali berderak pada rel yang seharusnya. Menulis untuk kebermanfaatan, untuk terapi jiwa, untuk pengikat ilmu dan pengukir keabadian. 

Aku merangkai gerbong impian ini mulai dari akhir tahun 2018 hingga 2020. Kenapa hanya tiga tahun saja? Jika tiga tahun ini berhasil aku lewati, maka akan kuperpanjang kembali gerbong impian ini.

Kumulai dengan daftar mimpi di akhir 2018:



Aku ingin kembali komitmen untuk konsisten update postingan di blog sesuai checklist yang aku buat setahun lalu, minimal tiga postingan dalam seminggu. Aku harus kembali menyadarkan diri bahwa ‘rumah’ ini kubangun sebagai tempatku mengekspresikan diri dengan lebih jujur dan memberikan informasi-informasi yang bermanfaat kepada pembaca.

Jangan sampai membuat pembaca menunggu. Saat semangat blogging turun, ingatlah mereka yang menunggu tulisan lainnya, menunggu resume seminar yang aku ikuti, menunggu catatan dari film yang aku lihat. Bukankah membahagiakan diri sendiri sejatinya karena kita mampu berbagi kebahagiaan tersebut?

Semoga proyek-proyek antologi yang aku ikuti di akhir tahun ini berjalan lancar dan bisa segera terbit bukunya. Memperpanjang portofolio, hadiah yang nantinya akan aku tinggalkan untuk anak cucuku.

Aku juga akan memulai kembali kelas “Belajar Blogging Bareng” yang sempat terhenti. So, silakan buat teman-teman yang pengen pengen sharing dan belajar ngeblog dari nol, japri aja yaa.. kita belajar bareng.



Sedangkan di 2019, aku memulainya dengan minimal mengikuti lima proyek antologi. Untuk ranah blogging aku ingin belajar lebih serius tentang optimasi blog; SEO, vlogging dan adsense. Selain itu aku juga ingin menembus media. Entah itu tulisan berupa cerpen atau opini, setidaknya di tahun 2019 ada satu tulisanku yang dimuat di media.

Selanjutnya aku juga berencana menyelesaikan dua proyek solo berupa kumpulan cerita “Dia Bernama Perempuan” dan “Sekeping Puzzle Tanda Cinta”. Kumcer pertama sebenarnya sudah ada di harddisk laptop yang rusak sejak empat tahun lalu, berisi tentang cerpen-cerpen yang kutulis tentang perempuan dan segala permasalahan hidupnya. Sementara kumcer kedua rencananya tentang potongan-potongan cerita yang terinspirasi dari kehidupan keluargaku.

Aku juga ingin bisa menerbitkan sebuah buku anak-anak. Sempat dilamar oleh teman yang punya penerbitan baru bergerak di dunia anak-anak. Sepertinya tertantang untuk menjawab lamaran tersebut. Selain buku cerita anak, aku juga memiliki ide untuk membuat buku kumpulan aktivitas bersama anak di dunia literasi. Namun sebelum menyusun buku ini, terlebih dahulu aku ingin menjalankan sebuah family project yang nantinya sebagai sumber penulisan buku tersebut. Sebuah family project bernama “keluarga literasi.”

Di penghujung tahun ingin bisa berkolaborasi dengan suami. Mulai tahun ini, suami mulai menerima job membuat web. Terkadang pemilik web terkendala update postingan, nah aku ingin memiliki sebuah agensi jasa penulisan konten yang membawahi para penulis muda untuk menjadi penulis konten di web-web tersebut. Sebuah impian lama yang kembali hadir.



Lanjut ke tahun 2020…

Aku ingin mengenang ibu lewat novel memoar yang aku tulis. Agar kelak anak cucuku bisa mengenal seorang Endah Susilaningtyas, perempuan tangguh yang atas doa-doanya lah aku berada di sini. Qodarullah ibu meninggalkan beberapa catatan dan buku harian. Aku ingin sekali bisa menuliskannya kembali dalam bentuk novel inspiratif. 

Proyek solo lainnya yang ingin aku kerjakan yaitu sebuah buku motivasi di ranah parenting & marriage dengan tema “How Broken Home Couple Raising The Kids”. Sebuah buku yang berkisah tentang perjalananku dan suami membesarkan anak-anak. Jatuh bangun kami sebagai anak-anak fatherless dan broken home dengan segala bayangan inner child yang menyesakkan dada. Semoga nantinya bisa memberikan inspirasi dan semangat untuk mereka yang mengalami hal sama.

Di tahun 2020, aku juga menargetkan setidaknya mengikuti lima proyek antologi. Selain itu aku juga ingin memulai ternak blog secara serius. Mengganti beberapa blog yang masih bersub domain menjadi top level domain; blog Jejak Pengasuhan, Yuk Ngeblog, Traveler Cupu dan Entertainesia. Aku juga ingin memulai sebuah community project, "Kampung Cinta Baca."



Bismillahirrohmanirrohim…. Doakan aku ya, pals.. semoga kali ini gerbong impianku tidak lagi macet di tengah jalan. 

Oya, buat teman-teman yang mau gabung Pejuang Literasi, yuk ikut mentoring dasarnya. Insya Allah setiap bulan mentoring dasar akan dibuka. Untuk informasi lebih lanjut, bisa cuzz ke:

Youtube Channel: Markas Pejuang Literasi
Contact WA: 081910521120

Semangat dan Salam Pejuang Literasi; bertumbuh, berkarya, berbagi!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Author:

Menulis tidak hanya sekedar menjadi ajang eksistensi diri, namun terapi bagi diri untuk menjadi lebih sabar, lebih bijak, dan lebih memahami hidup. Lewat tulisan berharap bisa lebih bermanfaat tidak hanya bagi diri sendiri, namun juga orang lain. Terima kasih telah membaca artikel berjudul Merangkai Gerbong Impian di Dunia Literasi. Jika ingin menyebarluaskan artikel ini, atau menjadikan artikel ini sebagai referensi tulisan, mohon sertakan sumber link asli.

www.maritaningtyas.com

You Might Also Like

8 comments

  1. Semoga semua impiannya tercapai ya mba:))

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiin. Makasih mbak, pengen berkarya kaya mbak Anisa :) Doa yang sama juga untuk mbak :)

      Delete
  2. Kalau sudah buat rencana yang akan dicapai dari awal, kita jadi lebih semangat untuk mewujudkannya ya mba;))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, jadi lebih tahu apa-apa saja yang mau dilakukan :)

      Delete
  3. Saya juga seperti mbak, sudah buat rencana-rencana yang akan dicapai. Semoga bisa terwujud ya mba:))

    ReplyDelete
  4. Aku mau dipepet ngeblog, aku mau dipepet nulis, aku mau dipepet untuk konsisten mewujudkan mimpi ����

    Semoga dimudahkan mencapai impian-impiannya ya, Mbak Rit!

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaamiiiiin.. hayuuuk deh ikutan Pejuang Literasi :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com