Nekat Menjadi Fasilitator Bunda Sayang Batch #5, Ini Motivasiku!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh

'Hakikat memberi karena kita punya. Termasuk semangat/motivasi. Jika kita punya motivasi besar dalam diri, maka akan mudah memberi motivasi kepada orang lain. Karena motivasi itu menular'. (by Gurunya Mbak Setiorini)
Kalau boleh jujur, mendaftar menjadi fasilitator Bunda Sayang batch #5 adalah salah satu hal terbonek alias bondho nekat yang aku lakukan. Berbeda ketika mendaftar menjadi fasilitator Matrikulasi IIP Batch #6, meski juga nekat, namun tingkat keyakinan dan bekal yang kumiliki sudah lumayan memadai. Karena saat aku menjadi mahasiswi matrikulasi batch #4, aku merasa benar-benar all out mengikuti perkuliahan, banyak hal yang masih terikat dengan erat di kepala dan jiwa.
 

Namun kini saat sudah ada di dalam grup Calon Fasilitator Bunda Sayang Batch #5, aku merasa sedikit gamang. Benarkah aku sudah siap? Mengingat kelulusanku di Bunda Sayang Batch #3 saja tidak cukup memuaskan bagiku. Apakah aku bisa mengawal teman-teman mahasiswi Bunda Sayang Batch #5 dengan baik nantinya? Apakah aku sudah cukup mampu dan layak memfasilitasi mereka sementara aku sendiri saat jadi mahasiswi banyak seenaknya. Duh!

Hingga akhirnya pada hari Senin, 4 Februari 2019, aku bertemu dengan materi yang menggugah hati. Disampaikan oleh mbak Ressi Laila Isbiantoro di Google Classroom Cafasil Bunsay #5, aku mulai mendapat gambaran yang tadinya remang-remang mengapa aku nekat menjadi fasilitator Bunda Sayang Batch #5.

Motivasiku Menjadi Fasilitator Bunda Sayang Batch #5


Parenting adalah salah satu hal yang menjadi passion-ku sejak beberapa tahun terakhir. Terutama setelah aku berkenalan dengan PSPA (Program Sekolah Pengasuhan Anak) -nya Abah Ihsan dan IIP (Institut Ibu Profesional) yang didirikan oleh Ibu Septi Peni.

Apalagi saat aku menemukan innerchild di dalam diri yang selama ini aku sama sekali tak menyadarinya. Aku pikir semua kegagalan yang terjadi dalam proses pengasuhanku terhadap anak-anak karena aku termasuk orang yang kurang sabar, nggak bisa mengatur emosi dan moody.

Namun setelah aku mengikuti kelas-kelasnya Abah Ihsan dan IIP, aku baru sadar semua itu karena aku kurang membekali diriku dengan ilmu pengasuhan. Menjadi ibu aku pikir hanya sesuatu yang naluriah dan alamiah, akan berjalan dengan sendirinya, atau kalau istilahnya orang kuno, “nanti kan ya bisa sendiri.”
 

Ternyata tidak! Mau jadi dokter saja kita harus belajar, mau jadi arsitek kita harus kuliah berpuluh-puluh SKS, apalagi menjadi orangtua, menjadi ibu! Apa jadinya jika orangtua yang tak mau belajar? Anak-anak yang tak dekat dengan orangtuanya, anak-anak yang lebih nyaman di luar rumah bersama teman gank-nya, anak-anak yang merasa tidak dimengerti, anak-anak yang merasa tak didengar, anak-anak yang merasa diatur, atau malah anak-anak yang terlalu bebas. Sepertinya hanya masalah-masalah sederhana, namun jika tak segera disadari dan diantisipasi bisa muncul masalah-masalah besar di kemudian hari.

Sejak aku aktif mengikuti kelas-kelas parenting, ada gejolak besar di dalam diri. Ilmu ini nggak boleh berhenti hanya di aku! Aku sangat ingin semua orangtua di luar sana juga bisa memahami ilmu dan informasi parenting yang penting ini, sehingga nantinya semua anak akan nyaman dan bangga terhadap orangtuanya. Sehingga nantinya bangsa ini akan tumbuh menjadi bangsa yang kuat karena generasi mudanya diasuh dengan benar.
 

Namun ternyata berbagi dan melayani itu tak mudah. Dengan usiaku yang relatif lebih  muda dibanding dengan tetangga-tetangga di sekitar, setiap kali aku share hal-hal tentang pengasuhan anak, mereka acapkali hanya menganggapku sok tahu. Anak kemarin sore kok mau ngajarin orang yang lebih pengalaman. Intinya seperti itu. Jujur, aku sempat down.

Aku mulai menarik diri untuk berbagi hal-hal tersebut. Mungkin belum saatnya, aku harus memberikan bukti terlebih dahulu dengan cara menunjukkan hasil pengasuhanku kepada khalayak. Bukan untuk dibangga-banggakan, atau dipamerkan dan merasa paling baik. Namun aku sadar bahwa orang luar lebih senang diberi bukti daripada sekedar teori. Dan juga seringkali orang melihat SIAPA yang berbicara bukan APA yang disampaikan. Aku mulai bergerak untuk menjadi SIAPA agar APA bisa terdengar.

Personal branding itu ternyata memang perlu. Dulu awal pindah ke lingkungan ini aku hanyalah perempuan kantoran yang pergi pagi pulang malam. Lalu memutuskan resign ketika anak pertama lahir. Setelah itu kesibukanku berkutat dengan urusan domestik. Tidak ada sesuatu yang bisa membuat orang lain melirik ke arahku, selain karena aku lulusan S1 yang nganggur di rumah. Menurut mereka eman sekali dengan ijazah sarjana yang aku miliki, aku hanya mengurus anak di rumah.
 

Dari sinilah aku mulai membangun branding, aku ingin menunjukkan bahwa sebagai seorang perempuan, mau apapun lulusannya, SD, SMP, SMA ataupun S3 sekalipun, karir terbaik dan terbesar seorang perempuan adalah menjadi ibu. Apalah gunanya memiliki karir di luar rumah ketika gagal mendidik dan mengasuh anak-anaknya. Apalah gunanya titel panjang di belakang nama jika anak-anaknya tak terdidik dengan baik. Semua dalam hidup boleh saja gagal, namun gagal mengasuh anak akan berdampak panjang ke depannya.

Karena aku merasa pernah menjadi korban salah asuh kedua orangtuaku, pernah juga menjadi pelaku salah asuh kepada anak pertamaku, aku ingin mengoreksi hal-hal tersebut. Dimulai dari diri sendiri, mengamalkan apa-apa saja yang telah kudapat dari berbagai kelas parenting yang aku ikuti, lalu aku bagikan kepada orang-orang yang membutuhkan.

Jika memang di lingkunganku aku dianggap belum cukup capable untuk menyampaikan informasi tentang pengasuhan anak, aku memilih MENULIS sebagai saranaku berbagi. Aku banyak menulis tema parenting lewat blog dan sosial media. Dari situ, ternyata perlahan personal branding-ku mulai terbentuk sebagai sosok yang mampu memberikan motivasi terkait pengasuhan anak dan pengembangan diri. Banyak teman di dunia maya yang mulai menunggu status dan postingan blogku. Tak sedikit yang japri agar aku tak berhenti menulis. Mereka bilang tulisanku mampu memberikan semangat dan wawasan baru. Ada energi baru yang mengalir ketika membaca pesan-pesan tersebut.
 

Aku mulai menemukan jalannya. Jalan untuk membagikan informasi dan manfaat parenting kepada lebih banyak orang. Alhamdulillah. Sejak lulus Matrikulasi IIP Batch #4 dan kemudian langsung ditodong menjadi bagian dari pengurus Ibu Profesional Semarang, aku semakin merasa bahagia karena memiliki kesempatan lebih luas untuk berbagi dan melayani.

Sebagai pengurus mau tidak mau aku sering diamanahi untuk menjadi juru bicara pada acara-acara tertentu, bahkan sempat didaulat menjadi narasumber parenting talkshow bekerjasama dengan salah satu yayasan sosial. Sebuah momen yang luar biasa dipercaya menjadi narasumber. Di hadapan orang-orang baru yang sebagian besar aku tak mengenalnya, aku bisa membagikan sedikit yang kumiliki. Melihat binar-binar mata mereka yang merasa mendapat manfaat, ada hangat yang mengalir di dada. Alhamdulillah. Semoga apa yang kusampaikan meski sedikit bisa membawa manfaat untuk kehidupan orang lain.

Seiringnya waktu, aku pun kini sudah mulai bisa mencuri hati tetangga-tetangga sekitar. Aku mulai dianggap pantas dan mampu. Beberapa ibu mengisahkan masalahnya terkait pengasuhan. Jikalau aku belum bisa memberikan solusi terbaik, setidaknya aku bisa menjadi telinga bagi mereka. Aku dipercaya menjadi koordinator Pokja 1 di pengurus PKK RT, buatku ini posisi strategis untuk bisa berbagi ilmu parenting. Memulai kembali yang sempat terhenti dengan energi baru.
 

“Hal-hal baik yang kau lakukan kelak akan kembali kepada dirimu sendiri.”

Salah satu petuah almarhumah ibu yang senantiasa aku ingat. Ya, kalau mau melakukan sesuatu yang baik, harus all out dan nggak boleh setengah-setengah. Tidak perlu memikirkan untung dan rugi, karena hal baik pasti akan membawa hal baik pula. Tanamlah kebaikan sebanyak mungkin, bahkan jika bukan aku yang hari ini menanamnya, kelak anak-cucuku yang bisa jadi menanamnya.

Itulah kenapa aku akan terus mencoba tantangan-tantangan baru, selama itu bisa memberikan manfaat yang lebih luas. Salah satunya menjadi fasilitator Bunda Sayang Batch #5. Memfasilitasi mahasiswi-mahasiswi yang pastinya sudah mempunyai motivasi kuat dalam dirinya untuk menjadi ibu-ibu profesional jauh lebih mudah daripada menyuntikkan semangat pada orang yang belum memiliki kesadaran tentang parenting sama sekali.

Bersama mereka yang sudah memiliki motivasi besar di dalam dada untuk memperbaiki diri, nantinya aku tidak hanya akan berbagi apa yang kumiliki, namun juga menyerap energi-energi positif yang mereka punyai. Saling berbagi, saling mengisi, saling memotivasi itulah motivasi kenekatanku mendaftar menjadi fasilitator Bunda Sayang Batch #5.
 

Dari pengalamanku menjadi fasilitator Matrikulasi IIP Batch #6 yang lalu, bukan aku yang memberi lebih banyak. Justru aku yang mendapat lebih banyak dari teman-teman baruku, para mahasiswi matrikulasi SSJP lalu. Mendapat wawasan, sudut pandang, kisah dan semangat baru. Itu hanya tiga bulan, bisa dibayangkan jika aku benar-benar menjadi fasilitator Bunsay #5 selama 12 bulan? Berapa banyak hal baik yang nanti akan kudapatkan?

Bertemu teman-teman baru, berbagi kisah-kisah seru, dan sudut-sudut pandang baru yang berbeda. Membuat jiwa dan pikiran ini jauh lebih kaya dari sebelumnya. Terlebih lagi, ini kesempatanku untuk kembali mengulang materi Bunda Sayang dengan cara eksklusif. Mengikat ilmu dengan mengajarkan konon efeknya jauh lebih kuat.

“Kalau membagikan ilmu yang sudah kamu dapat ke orang lain, kamu akan jauh lebih mengingat ilmu tersebut. Akan semakin mengakar. Karena apa? Malu! Ya, malu kalau jarkoni, alias ujar tapi ora isa nglakoni. Bisa menasehati tapi nggak bisa melakukan.” Salah satu wejangan Abah Ihsan dalam sebuah sesi belajar yang aku ikuti.

Begitu juga saat aku menuliskan ilmu dan informasi parenting lewat postingan-postingan di blog dan sosial media, kelak tulisan-tulisan itu bisa aku baca lagi. Ketika ada kalanya aku futur dan semangatku melemah, aku akan membaca ulang dan menemukan energi baru sedang disalurkan lewat apa yang pernah kutorehkan.

Dengan membagikan materi-materi Bunda Sayang, mau tak mau aku kembali diingatkan untuk konsisten dengan apa yang kukerjakan. Menguatkan apa yang sudah aku bangun. Dan yang pasti dengan menjadi fasilitator, aku bisa kembali berjamaah dengan banyak orang. Berjamaah itu perlu, karena fitrahnya manusia itu makhluk sosial.
 

Karena perubahan akan berdampak besar ketika dilakukan bersama-sama. Karena sebuah pekerjaan besar akan nampak ringan ketika digotong bersama-sama. Karena ketika ada satu anggota yang sedang turun semangatnya, akan ada anggota-anggota lain yang siap menyuntikkan semangat kepadanya, karena motivasi itu menular. Dan ya, because it takes a village to raise a kid. Maka di sinilah aku kembali menemukan dan menguatkan motivasi diri, bahwasanya aku sangat rindu dan menikmati masa-masa menjadi fasilitator. Masa-masa di mana membangun semangat jiwa orang lain, diawali dari membangun semangat jiwa diri sendiri.

Membangun Komitmen agar Amanah


Motivasi tanpa komitmen bagaikan aku tanpa suamiku, eh… Maksudnya motivasi yang meletup-letup akan mudah lenyap dan tergulung ketika tidak ada komitmen yang kuat di dalam diri. Maka aku sudah menyiapkan beberapa hal untuk membangun komitmen agar amanah dalam menjalankan peranku sebagai fasilitator Bunda Sayang batch #5 jika nantinya terpilih.
 

Pertama, tazkiyatun nafs.
Membersihkan niatan-niatan yang tak pada tempatnya. Bahwasanya aku harus selalu menyadarkan diri sendiri kalau segala hal di dalam hidup diniatkan hanya untuk Allah Subhanahu wataala. Bahwa keinginan untuk berbagi dan melayani merupakan bagian peribadatanku kepada Allah. Sebagai salah satu cara untuk mengetuk pintu ridho-Nya.
 

Kedua, berjamaah agar istiqomah. Salah satu hal yang aku suka dalam proses menjadi fasilitator adalah dikelilingi oleh teman-teman yang luar biasa. Teman-teman yang masya Allah wawasannya selalu bikin geleng-geleng kepala. Belum lagi sebagai fasilitator jelas aku tidak dilepas begitu saja, pendampingan yang diberikan dari tim pusat sungguh luar biasa, tidak ada waktu untuk nglokro alias semangat menjadi lemah, karena kami selalu ditantang melakukan hal-hal baik setiap harinya.


Ketiga, menyerap dan mengalirkan energi positif. Aku ingat bagaimana waktu awal masuk ke kelas Bunda Sayang batch #3 akhir tahun 2017 lalu, rasanya penuh semangat. Nantinya aku pun pasti akan bertemu dengan mahasiswi-mahasiswi yang penuh semangat seperti aku dulu. Saatnya untukku menyerap energi positif mereka sebanyak-banyaknya, akan aku simpan sebagai tabungan energi. Kelas Bunda Sayang sangat panjang, di tengah perjalanan nantinya pasti ada saja yang mulai terseok-seok, aku akan gunakan tabungan energi tersebut untuk mengalirkan semangat kepada mereka. 
 

Keempat, berfokus pada kebaikan. Jika dibayangkan rangkaian proses yang nanti akan dilewati mungkin terlihat melelahkan. Namun ketika membayangkan jutaan kebaikan yang akan mampu didapatkan; wawasan, semangat, teman-teman baru… bukankah itu luar biasa? Jika dulu menjadi mahasisiwi Bunda Sayang saja ada banyak hal positif terbangun di keluarga, maka ketika kini naik tingkat menjadi fasilitator Bunda Sayang, insya Allah akan semakin banyak hal positif yang dibangun dalam keluarga.
 

Kelima, karena anak-anak pembelajar lahir dari ibu-ibu terpelajar. Itu yang selalu melecutkan dan mengembalikan ku pada track-nya jika mulai keluar jalur. Anak-anak adalah alasanku untuk komit dan konsisten. Karena mereka lah puncak karirku. Karena mereka lah yang kelak akan mewarisi pikiran-pikiran dan semangat-semangatku. Jika aku berharap anak-anak menjadi sosok yang pembelajar, maka aku harus membentuk diriku terlebih dahulu. Dan ibu terpelajar tidak hanya berhenti pada proses belajar, namun juga harus mampu mengamalkan dan mengajarkan apa yang dia dapatkan.

Menjadi fasilitator layaknya sebuah kawah candradimuka. Sebuah proses penggojlokan agar aku lebih menguasai dan memahami apa yang dulunya mungkin hanya aku baca sekilas. Kini saatnya aku menantang diri untuk membaca dengan hati, menjalani prosesnya sepenuh hati dan membagikannya penuh semangat agar lebih banyak jiwa-jiwa baru yang teredukasi.
 

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


#MotivasikuKaryaBesarku
#AMTFasilIIP
#UpgradingFasilB5

Post a Comment

0 Comments