Semangat Gotong Royong Membangun Generasi Unggul Penerus Negeri bersama Komunitas Ibu Profesional Semarang



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Senang sekali hari ini bisa menghadiri event Pendekar Pancasila yang diadakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo). Sebuah event yang inspiratif, mengingatkanku pada masa-masa sekolah. Generasi 90an pasti ingat dong tentang Penataran P4? Materi-materi di event ini lebih kurang memiliki tujuan yang sama, agar kita jauh lebih memahami tentang Pancasila sebagai dasar negara, wawasan kebangsaan, semangat gotong royong dan menumbuhkan nasionalisme.

source: theglobalalsa.com

Bedanya kalau Penataran P4 mungkin sangat membosankan pada zamannya. Di era milennial seperti sekarang ternyata materi-materi mengenai nasionalisme bisa dikemas dengan sangat menarik. Sangat informatif dan mengena sekali. Sakti Boedi Bakti, adalah secuil materi yang disampaikan oleh Pak Hariyono. Sangat membekas bagiku. Beliau menyampaikan bahwa manusia tidak boleh hanya sekedar cerdas, namun juga harus beradab/ berbudi pekerti, lalu harus mengamalkannya. 

Nggak hanya dapat materi tentang sejarah Pancasila dan pendidikan karakter bangsa yang disampaikan oleh Pak Hariyono dan Pak Sudarsana, namun kita pun diajak membangun negeri dengan cara yang cocok dengan era sekarang ini; menjadi seorang content creator. Tentunya bukan pembuat konten hoax, apalah lagi konten yang bisa membuat pihak lain tersakiti. Event ini diharapkan bisa melahirkan content creators yang kreatif, inovatif dan tentunya memberikan manfaat bagi masyarakat dan Indonesia.

Ngomongin soal gotong royong, biasanya yang terlintas di pikiran adalah gotong royong bersih-bersih lingkungan kampung. Apalagi menjelang 17an begini, hampir setiap hari gotong royong demi bisa memenangkan lomba kebersihan lingkungan. Tentunya seharusnya gotong royong seperti ini tak perlu menunggu momen 17an kan? Karena sejatinya gotong royong telah menjadi jiwa bagi rakyat Indonesia. Saling tolong menolong untuk menuju cita-cita bersama. 



Menurut Candy Gulla, narasumber terimut di event ini, gotong royong di era millenial tak hanya soal bersih-bersih lingkungan semata, namun juga dengan cara bekerjasama memberantas narkoba, bully, pelecehan seksual dan hoax. Gotong royong di era ini bisa dilakukan dengan banyak cara, misalnya;

1. Mendukung sebuah kampanye/ kasus tertentu lewat petisi online.
2. Penggalangan dana online
3. Menjadi content creator 

Ditambahkan oleh Mbak Mira Sahid, founder Kumpulan Emak Blogger yang meskipun emak-emak tetap masih looks so kece, bahwa untuk menjadi content creator ada kunci penting yang disebut dengan 7K;


  • Kenali keahlian/ passion-mu
  • Konten yang kuat
  • Kuasai aplikasi pengolah gambar/ video
  • Komunikasi dua arah
  • Konsisten dan kontinyu
  • Kolaborasi
  • Kuy mulai sekarang

Jleb banget yang nomor 7 ya? Terkadang kita hanya punya segudang rencana dan kata-kata, tapi tidak segera memulainya.

Menjadi Pendekar Pancasila bersama Komunitas Ibu Profesional Semarang


Aku sendiri punya makna gotong royong versiku sendiri. Sebagai seorang ibu dari dua orang anak dan seorang parenting enthusiast, aku menyadari bahwa untuk membesarkan generasi penerus bangsa ini, tidak hanya bisa bergantung pada satu dua orang. Sebagaimana sebuah pepatah Afrika menyebutkan;

it takes a village to raise a kid. 

Membutuhkan orang sekampung untuk mengasuh seorang anak. Apalah lagi mengasuh ratusan ribu generasi penerus bangsa ini, tidak bisa jika hanya berharap dari para orangtua saja. Justru seluruh orangtua di Indonesia seharusnya menyadari perlunya bergotongroyong dan bekerjasama untuk mengasuh anak-anak yang berwawasan kebangsaan dan berkarakter Pancasila.

Namun sayangnya tidak sedikit dari para orangtua yang belum sadar pentingnya ilmu pengasuhan anak. Masih banyak yang menganggap bahwa sekolah adalah penitipan anak. Yang penting sudah kusekolahkan, pokoknya tolong diasuh sebaik-baiknya. Kalau nanti anak-anak tawuran, hamil di luar nikah, terjerat narkoba atau jadi anak jalanan, kami nggak mau tahu. Kan sudah kami sekolahkan. Tanggungjawab pendidikan anak sudah kami serahkan ke pihak sekolah.

Masih banyak yang memiliki pendapat tersebut. Padahal sekolah sejatinya hanyalah partner. Sahabat bagi orangtua untuk sama-sama mengasuh anak. Namun tanggungjawab utama pengasuhan anak tetaplah tugas orangtua. Menyadari minimnya kesadaran sebagian besar orangtua di negeri ini, terutama di wilayah-wilayah pinggiran, yang buat mikirin makan setiap hari saja susah, apalah lagi mikirin bagaimana mengasuh anak yang benar, aku memilih menjadi penggiat di beberapa komunitas parenting. Salah satunya Komunitas Ibu Profesional. Sebuah komunitas yang dibangun oleh seorang perempuan inspiratif bernama Ibu Septi Peni. Kini bersama Komunitas Ibu Profesional Semarang, aku dan kawan-kawan bergotong royong dalam berbagai aktivitas di bidang parenting. "Synergy of Change" adalah tagline yang kami angkat di tahun ini. Selaras dengan semangat gotong royong yang digaungkan lewat event hari ini. Kami pun ingin berkolaborasi dengan semua pihak untuk Indonesia yang lebih baik. Inilah beberapa hal yang kami lakukan:

1. KLiK


Saat ini aku bersama teman-teman Komunitas Ibu Profesional sedang getol mengadakan roadshow KLiK dari satu sekolah ke sekolah lainnya. Apa itu KLIK? Aku akan ceritakan sedikit untuk teman-teman.

KLIK merupakan singkatan dari Kenali, Lindungi dan Katakan. Karena awal program ini bertema anti bullying, lewat program ini anak-anak diharapkan untuk mengenali jenis-jenis bullying, saling melindung teman dan saudaranya dari aktivitas bullying dan berani berkata kepada pihak yang dipercaya jika mengalami perisakan. Namun dalam prosesnya, KLIK juga memberikan sosialisasi tentang menumbuhkembangkan fitrah seksualitas anak-anak dengan cara mengenali perbedaan antara lelaki dan perempuan, melindungi organ-organ vital dan menjaga diri dengan menjalankan adab pergaulan yang sesuai, serta harus berani mengatakan atau bertanya pada orang yang dipercaya (guru atau orangtua) jika ada kebingungan pada hal-hal terkait seksualitas.

salah satu cara kami bergotongroyong membangun negeri bersama Ibu Profesional

Menyadari bahwa tidak semua orangtua sadar bahwa pentingnya anak-anak dibekali tentang informasi terkait fitrah seksualitas, kami ingin menjadi sahabat yang bisa menyentuh hati anak-anak. Kami ingin bisa jadi orang-orang yang mereka percayai sebagai tempat bertanya dan berkeluh kesah atas kebingungan mereka. Kami ingin bisa membantu mereka percaya diri melewati masa-masa pubertas yang bagi sebagian anak tentu sangat membingungkan. 

Beberapa kali saat menyampaikan materi mengenai fitrah seksualitas pada anak di sekolah-sekolah, kami menemui ada beberapa anak yang badannya telah tumbuh bongsor nampak tidak percaya diri. Mereka merasa malu karena badannya jauh lebih besar, payudara mulai menonjol, sementara anak laki-laki ada juga yang sudah mulai tumbuh kumis tipis-tipis. Tak jarang anak-anak yang sudah mengalami ciri-ciri pubertas ini mendapat banyak ejekan dari teman-temannya. Lewat KLIK kami ingin menguatkan mereka bahwa apa yang mereka alami adalah hal normal, dan semua anak kelak pun akan mengalaminya hanya berbeda waktunya saja. Semoga lewat KLIK kami bisa setidaknya menjadi pilar kecil bagi bangsa ini untuk menguatkan fitrah anak-anak.



Selain menemui anak-anak, kami juga memulai kampanye ke RW-RW di perumahan-perumahan untuk menumbuhkan awareness pada keluarga-keluarga muda tentang pentingnya ilmu pengasuhan.

2. Kuliah Whatsapp Parenting dan Women Empowerment


Selain lewat KLIK, kami juga memaksimalkan teknologi digital untuk bergotong royong berbagi hal-hal baik. Lewat grup whatsapp, kami membagikan informasi-informasi mengenai parenting dan women empowerment. Kami ingin para ibu dan calon ibu bisa memaksimalkan smartphone mereka dengan cara bijak dan bermanfaat. Banyak hal yang bisa dibahas, tidak hanya soal tips dan trik mengasuh anak di era millenial, tapi juga tentang bagaimana kita menemukan dan menjalani passion, cara manajemen gadget, dsb.

Kebetulan di komunitas ini aku diamanahi menjadi admin sosial media dan blog. Untukku ini sebuah peran yang sangat cocok dengan hobi dan potensiku. Aku jadi bisa berkarya dan mengembangkan diri sekaligus bisa menebarkan manfaat untuk sekitar.

3. Playdate Ibu dan Anak



Di Komunitas Ibu Profesional ada juga yang dinamakan Rumah Belajar. Fungsinya untuk mewadahi teman-teman dengan berbagai potensi. Ada desain, literasi media, cooking & baking, English, craft dan herbal. Setiap bulannya kami mengadakan pertemuan secara offline alias kopi darat untuk arisan ilmu. Dari kami, oleh kami dan untuk kami, sesuai dengan demokrasi Pancasila bukan?

Video diatas adalah hasil playdate movie maker tahun lalu dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia. Cara kami para ibu memfasilitasi anak-anak kami untuk menggunakan teknologi dengan cara tepat, bijak dan bermanfaat.

source: maxmanroe.com


Berkarya lewat Komunitas Ibu Profesional Semarang adalah jalanku dan teman-teman menjadi Pendekar Pancasila bagi negeri ini, bergotong royong untuk membangun Indonesia dengan cara kami. Teman-teman pun bisa menjadi Pendekar Pancasila dalam versi yang lain, sesuai dengan potensi dan kemampuan diri. Tunjukkan aksi dan semangat gotongroyongmu, ayo bangun Indonesia menjadi lebih Unggul! Karena Indonesia bukan hanya tanggung jawab negara, tapi juga tanggung jawab setiap warga negaranya.

Aku Pancasila, Kamu?

Salam Pancasila!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Post a Comment

0 Comments