Sudahkah Memiliki Misi Keluarga? Jika Belum, Bangun dengan 5 Langkah Ini!



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Apa sih yang terlintas di pikiran teman-teman ketika mendengar visi dan misi? Mungkin semacam pondasi untuk sebuah organisasi. Namun tahukah jika sebuah keluarga pun sebaiknya juga memiliki visi dan misi? Visi dan misi keluarga akan mampu mengokohkan bahtera rumah tangga. Sebuah tali pengikat yang akan mengencangkan genggaman setiap anggota keluarga agar tak mudah tercerai berai. Sudahkah keluarga teman-teman memilikinya?

Jujur, hingga hampir 12 tahun pernikahan, setiap kali aku mencoba mengajak suami berbincang mengenai visi misi keluarga kami, selalu menemui kebuntuan. Antara bingung, nggak yakin dan beragam hal muncul di kepala. Bersyukur karena pada hari Minggu, 8 September 2019 lalu, aku dan suami bisa sama-sama belajar bagaimana menemukan dan membangun visi keluarga. Nggak tanggung-tanggung, langsung sama ahlinya; Ustaz Harry Santosa!

Meski berlangsung di hari yang sama, tetapi kajian untuk ayah dan bunda dilaksanakan dalam jam yang berbeda. Majelis Ibrahim yang diperuntukkan oleh para ayah digelar di pagi - siang hari. Setelah Majelis Ibrahim usai, berselang satu jam, Majelis Hajar pun dimulai. Siang itu, aku datang sedikit terlambat karena harus menunggu suami sampai rumah dulu, baru aku bisa berangkat ke lokasi kajian. Maklum harus gantian momong anak, hehe.



1. Kenapa Keluarga Harus Punya Visi Misi?


Sepanjang Majelis Hajar berlangsung, aku cuma bisa manggut-manggut sambil mencatat beberapa poin penting yang akan kujadikan bahan diskusi dengan suami. Bagaimana pun aku merasa visi misi keluarga kami harus diperjelas, biar nggak nggrambyang seperti sekarang. Selain diberikan teori pembuka, Ustaz Harry saat itu juga memberikan praktek bagaimana langkah-langkah menyusun visi keluarga. 

Biar nggak melenceng jauh, sembari praktek, aku iseng menghubungi suami dan menanyakan apakah visi keluarga yang tadi dia temukan saat Majelis Ibrahim. Dijawablah dengan emoticon sambil dilengkapi pernyataan, “bingung, Bun.” Lalu kukembali texting doi dengan sebuah kalimat, “yang kuingat hanyalah satu hal yang kamu ucapkan sebelum menikah.” Suamiku pun menjawab dengan singkat, “Sama dong.” Diakhiri dengan emoticon senyum. 

Memiliki keluarga yang lebih baik dari keluarga yang membesarkan kami.

Aah, ternyata pada dasarnya kami telah memiliki acuan dasar yang sama. Hanya bingung bagaimana menyusun road map ke depan, wkwk. Fyi, aku dan suami sama-sama tumbuh dari keluarga broken home.




Ustaz Harry menyampaikan bahwasanya visi dan misi keluarga itu tanggung jawab suami. Sebaiknya suami yang mencari, menemukan dan merumuskan, lalu istri mengikuti, taat dan menjalankan visi tersebut dengan khidmat. Namun tentu saja tidak berarti kaku dan meniadakan komunikasi. Tentu saja tetap diperlukan ruang-ruang untuk berdiskusi agar suami dan istri saling klop dan klik saat menjalani bahtera.

Ditambahkan oleh Ustaz Harry, bahwa setiap kali ada kajian mengenai visi misi keluarga, kebanyakan akan menjawab bahwa misi keluarganya adalah beribadah kepada Allah atau menjadi pemimpin di muka bumi. Hal ini perlu diluruskan. Beribadah kepada Allah dan menjadi khalifah di muka bumi bukanlah misi keluarga, namun tujuan Allah menghadirkan manusia ke bumi. Misi global yang diberikan oleh Allah kepada setiap manusia.

Sedangkan manusia itu unik, begitu juga sebuah keluarga. Maka, patut disadari bahwa setiap manusia dan keluarga memiliki misi khusus masing-masing. Setiap keluarga memiliki misi yang berbeda-beda. Ada yang memang dititipi misi khusus oleh Allah sebagai keluarga pendidik, ada yang dititipi misi oleh Allah sebagai keluarga pengusaha, ada pula yang memang telah didesain menjadi keluarga peternak. Lalu apa misi keluarga kita? 




Bingung?

Untuk mulai membangun misi keluarga, ada tiga hal yang patut direnungkan;

  1. Apa yang keluarga kita yakini dan ingin perjuangkan?
  2. Siapakah diri kita? Kenali dan gali potensi pasangan suami istri, jika sudah memiliki anak gali pula potensi sang anak.
  3. Apa yang akan dilakukan ke depannya dengan dua hal di atas?

Jika tiga hal ini bisa terjawab dengan baik, maka misi keluarga akan diketemukan. Keluarga yang memiliki misi akan lebih ajeg, bahagia dan kokoh.

Selanjutnya ustaz Harry menyampaikan bahwasanya ada lima level keluarga;

  1. Tidak punya ketiga hal di atas. Artinya tidak punya misi sama sekali.
  2. Punya salah satu dari ketiga hal di atas.
  3. Punya hal yang diyakini dan diperjuangkan (belief), serta telah mengetahui potensi diri, namun antara belief dan potensi tidak berkaitan/ berkesinambungan.
  4. Punya belief dan potensi diri, namun belum punya rencana ke depan.
  5. Keluarga yang telah memiliki ketiga hal di atas alias sudah yakin dengan misinya.

Bagaimana dengan teman-teman, sudah ada di level manakah? Kalau keluargaku, sepertinya masih ada di level antara 3 dan 4 deh.

Sekarang ini seperti yang kita tahu perceraian semakin marak terjadi. Ada banyak alasan yang dijadikan dasar perceraian. Namun sebenarnya 2 hal yang paling mendasar atas terjadinya perceraian adalah;

  • Keluarga tidak punya misi pernikahan.
  • Tidak ada proses mendidik di dalam rumah/ tidak saling mencahayakan.



Karena sejatinya keluarga tanpa misi bagaikan pesawat tanpa rute dan tujuan penerbangan. Pesawat akan berputar-putar di angkasa, tetapi bingung mau menuju ke mana. Seperti itulah pernikahan kita ketika belum memiliki visi misi. Maka ketika masih banyak pertikaian, cekcok tanpa ujung, saling diam-diaman dan ujung-ujungnya tiada komunikasi, cobalah tengok apakah keluarga kita sudah menemukan misi yang akan memperkuat jalinan kasih antara suami istri?

Dengan memiliki misi, kita seakan punya peta hidup. Mau ke mana, mau mencapai apa, dan bagaimana menuju ke sana. Dengan memiliki misi, suami dan istri bisa saling mengingatkan. Suami juga lebih bisa aktif diajak berdiskusi mengenai segala hal yang dibutuhkan dalam mencapai misi tersebut. Istri juga akan merasa butuh dan minta dididik oleh suaminya sehingga bisa memiliki kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai misi keluarga yang telah dicanangkan. Begitu harmonis dan romantis.

Misi keluarga ini nantinya yang kemudian juga bisa dijadikan patokan pengembangan kurikulum pendidikan dan pengasuhan anak-anak di rumah. Apalagi buat yang berniat untuk homeschooling, penting sekali menemukan misi keluarga terlebih dahulu. 

Ustaz Harry lalu mencontohkan beberapa keluarga yang memiliki misi hidup luar biasa. Pertama, Nabi Ibrahim. Waah, ketinggian yaks kalau ini?



Baiklah kita loncat ke contoh kedua, keluarga BJ Habibie. Sejak kecil, Habibie sudah menyukai pesawat. Tidak main-main beliau pun membangun misi bersama istrinya, Ainun, untuk menuju keluarga dirgantara. Maka tak heran jika putranya pun mengikuti jejak beliau berkecimpung di pembuatan pesawat. 




Contoh ketiga adalah keluarga Gen Halilintar. Ternyata sang ayah memiliki misi untuk menjadi keluarga pengusaha muslim. Maka pantas saja 11 anaknya sudah disiapkan menjadi pengusaha sejak kecil. Tak heran dong ya kalau Atta Halilintar bisa hampir nembus 20 ribu subscriber. Ternyata tak lepas dari misi sang ayah.

Idealnya memang misi keluarga itu dirumuskan oleh ayah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa misi keluarga merupakan hasil diskusi dan kolaborasi antara misi personal ayah dan bunda. Misi ini jika terus dijaga dan dijalankan akan bisa menghasilkan sebuah family business. Btw, bisnis di sini tidak selalu berorientasi materi ya. Namun lingkupnya business for Allah. Dari family business akan menuju kepada family legacy. 



2. Sudah Puaskah dengan Kehidupan Kita?


Menemukan misi memang tak semudah membalik telapak tangan. Bahkan bisa dikatakan kalau menemukan misi personal dan keluarga adalah sebuah ujian. Bisakah kita lulus dalam menjalani ujian ini?

Menemukan misi erat hubungannya dengan menyadari bahwa setiap manusia memiliki fitrah bawaan. Sayangnya fitrah ini seringkali sudah tercerabut, karena tak pernah ditengok, dikenal apalagi dirawat. Ustaz Harry pada kesempatan Majelis Hajar beberapa waktu lalu mengajak kami untuk melakukan tes seberapa puaskah terhadap kehidupan yang saat ini dijalani.

Tes tersebut menggunakan fitrah based life wheel assesment.




Ada 8 poin yang harus diukur;
  • Fitrah Keimanan/ Spiritualitas: berkaitan dengan tujuan hidup, misi hidup, semangat untuk beribadah.
  • Fitrah Bakat/ Work Life/ Career: berkaitan dengan kepuasan pekerjaan, penggunaan bakat, dan kesenangan bekerja.
  • Fitrah Belajar/ Learning life: berkaitan dengan rencana ke depan, manajemen proyek kehidupan
  • Fitrah Seksualitas/ family life: berkaitan dengan peran di dalam keluarga, waktu bersama keluarga, kebahagiaan bersama pasangan.
  • Fitrah Individualitas & Sosial/ Social Life: berkaitan dengan teman, perasaan saling terhubung, keinginan bergabung dengan komunitas.
  • Fitrah Estetika/ Aesthetic Life: berkaitan dengan hobi, petualangan, liburan dan estetika.
  • Fitrah Perkembangan/ Personal Growth and Development: berhubungan dengan level kedewasaan, kesempatan tumbuh, tantangan inteletual, pendidikan, tingkat tanggungjawab.
  • Fitrah Jasmani/ Healthy Life: berkaitan dengan kesehatan tubuh, nutrisi, stress.

Ini panduan untuk memberi skor;




Semakin kita merasa puas terhadap hidup yang telah kita jalani, semakin dekat kita dengan misi yang Allah titipkan. Masalahnya seringkali hidup kita masih belum seimbang, misal fitrah bakat sangat tinggi, namun fitrah keimanan atau fitrah jasmaninya rendah. Ketika ada fitrah-fitrah yang belum seimbang, maka kita harus mencari pemicunya dan hambatan mengapa ada fitrah yang tidak melejit sama seperti lainnya.

3. A Man of Vision vs A Person of Love & Sincerity


Selain mengecek kepuasan kita terhadap hidup yang sedang dijalani, untuk bisa menemukan misi keluarga, maka penting bagi kita untuk menumbuhkembangkan fitrah keayahbundaan. Gagalnya keluarga dalam menemukan misi, bisa jadi karena fitrah keayahbundaan telah terkikis. Terkikis oleh ambisi dan egoisme, serta hal-hal yang sejatinya bukanlah tujuan yang Allah titipkan.

Oleh karenanya untuk bisa menemukan misi keluarga, penting untuk mengenal fitrah-fitrah diri kita sebagai manusia.




Fitrah Keayahan


Di dalam diri seorang ayah, sudah terinstall 8 fitrah ini:



  • A Man of Mission & Vision - Fitrah Keimanan: Ayah adalah pemimpin yang membangun aqidah atau keimanan. Wujud keimanan seorang ayah akan tergambar dalam kejelasan visi misi hidupnya.
  • Professional or Entrepreneurship/ Business Builder - Fitrah Bakat: Peran ayah adalah pembangun profesionalisme. Ayah adalah coach bagi anak-anaknya untuk mengenalkan profesi dan bakat.
  • Thinking System Builder - Fitrah Belajar: Ayah adalah kepala sekolah. Ayah adalah pembentuk sistem berpikir, termasuk juga perancang grand design pembelajaran di rumah.
  • Masculinity Supplier & Education Responsibility - Fitrah Seksualitas: Ayah adalah pensuplai maskulinitas sebanyak 75% kepada anak laki-laki agar tumbuh menjadi sososk yang tangguh, dan 25% kepada anak perempuan agar tumbuh menjadi anak yang tak rapuh.
  • Ego System & Eco System Builder - Fitrah Individualitas & Sosial: Ayah bisa mendidik anak untuk menerima dirinya secara positif, melejitkan kepercayaan diri dan bermain bersama ayah bisa melatih kehidupan bersosial.
  • Narator Peradaban/ Communicator - Fitrah Estetika: Ayah adalah narator peradaban, membangun kesantunan bicara dan perilaku di rumah.
  • Family Growth and Development Builder - Fitrah Perkembangan: Ayah berperan untuk mengembangkan mindset dan kedewasaan serta ketangguhan.
  • Health & Physical Skill Developer - Fitrah Jasmani: Ayah adalah pembangun budaya hidup sehat di rumah, pengembang ketrampilan fisik dan kesehatan.

Silakan para bapak, cek seberapa banyakkah fitrah-fitrah di atas ada di dalam diri? Buat para emak, cuzz bapaknya bisa diajak ngisi ya. Sebagai panduan pemberian nilai, bisa dilihat di gambar-gambar berikut:






Fitrah Kebundaan


Sama halnya dengan ayah, di dalam diri bunda pun sudah terinstall 8 fitrah ini;




  • A Person of Love & Sincerity- Fitrah Keimanan: Ibu adalah sosok yang penuh cinta dan ketulusan, termasuk dalam mendukung penuh misi suami.
  • Owner of Conscience & Morality- Fitrah Bakat: Jika Ayah pembangun profesionalisme, ibu adalah pembangun moral dan nurani.
  • Wisdom & Knowledge Keeper - Fitrah Belajar: Ayah yang membangun sistem belajar, dan ibu adalah sumber belajar dan pelaksana sistemnya. Ayah pembentuk fikir, ibu penumbuh dzikir.
  • Femininity Supplier & Daily Education Executor - Fitrah Seksualitas: Ibu menyuplai 75 % femininitas kepada anak perempuan agar selembut perempuan sejati dan 25 % kepada anak lelaki agar memiliki empati. Ibu juga pelaksana harian kurikulum di rumah.
  • Ocean of Forgiveness & Sacrifice- Fitrah Individualitas & Sosial: Jika peran ayah adalah sang raja tega, ibu adalah sosok pemaaf dan penuh pengorbanan. Anak yang antara ego dan rasa maafnya seimbang akan siap menjadi leader sekaligus follower, sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan.
  • The Harmony & Aesthetic Keeper - Fitrah Estetika: Ibu merawat keindahan lewat mata, telinga, mulut dan hati. Ia mengajarkan anak sastra, makanan yang bergizi dengan tatanan indah, menyediakan anggaran traveling.
  • The Personal Counseling & Therapist - Fitrah Perkembangan: Ibu adalah sang penyembuh luka yang siap menjadi tempat curahan hati anak-anaknya.
  • Health Environment & Nutrition Maker - Fitrah Jasmani: Jika peran ayah lebih kepada menjaga pola gerak dan pola tidur, maka peran ibu adalah menyediakan makanan-makanan bergizi.

Untuk panduan penilaian, bisa cuzz lihat gambar berikut ya:






Bagaimana kondisi fitrah kebundaan teman-teman? Adakah yang belum maksimal? Toss dong sama aku.


4. Temukan Misi Personal


Setelah mengukur kepuasan hidup dan fitrah diri, kini saatnya kita mulai menemukan misi personal hidup kita. Caranya adalah dengan menggali jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut:



  • Fitrah Keimanan - Adakah masalah di dunia/ bangsa ini yang ingin sekali kita selesaikan? Lalu untuk menyelesaikannya nilai-nilai apa yang kita miliki?
  • Fitrah Bakat - Apa potensi yang kita miliki guna menciptakan perubahan yang kita cita-citakan?
  • Fitrah Belajar - Inovasi apa yang ingin kita lakukan guna menciptakan karya solutif untuk masalah bangsa tersebut?
  • Fitrah Seksualitas - Apa yang sangat ingin kita dan pasangan lakukan dalam pernikahan ini? Lalu peran apa yang ingin kita turunkan kepada anak-anak?
  • Fitrah Individualitas & Sosial - Peran apa yang membuat kita eksis di masyaarakat?
  • Fitrah Estetika - Dalam merubah dunia menjadi lebih baik, peran apa yang sudah/ ingin dilakukan agar dunia semakin damai dan tenang?
  • Fitrah Jasmani - Apa peran dalam kesehatan pribadi/ keluarga/ masyarakat yang sudah/ ingin dijalankan? 
  • Fitrah Perkembangan - Mindset apa yang penting dan harus kita rubah? Peran apa yang ingin kita ambil?

Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan di atas, rumuskanlah menjadi sebuah kalimat;

“ Saya (nama) hadir di muka bumi untuk menjadi … dengan cara …. sehingga ...”

Misalnya punyaku seperti ini; “Saya, Marita Ningtyas, hadir di muka bumi untuk menjadi fasilitator/ teman cerita para pasangan yang tumbuh dari keluarga broken home/ anak-anak broken home agar kami bisa saling menguatkan, berbagi kisah dan tumbuh bersama, melalui tulisan dan forum-forum diskusi, sehingga memutus mata rantai broken home family dan Indonesia semakin kuat dari rumah.”

5. Ayo Susun Misi Keluarga!


Misi personal yang telah kita temukan, diskusikanlah dengan pasangan untuk bisa merumuskan misi keluarga. 

Untuk membantu merumuskan misi keluarga, gunakan pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:




Setelah semua pertanyaan terjawab, saatnya kita tuliskan nama keluarga/ family branding yang ingin kita sematkan pada keluarga. Sehingga setiap kali nama tersebut diucapkan, semua orang akan ngeh bahwa itu adalah keluarga kita. 

Lalu, tuliskan misi keluarga kita sebagaimana kita merumuskan kalimat untuk misi personal. Seperti, “Kami, Keluarga M&M dihadirkan oleh Allah ke muka bumi sebagai sarana untuk menjadi teman cerita dan fasilitator bagi keluarga-keluarga yang mengalami broken home, melalui tulisan-tulisan yang kami terbitkan di blog dan buku-buku. Sehingga nantinya tidak ada lagi anak-anak broken home dan parentless.”

Btw, misi di atas belum sepenuhnya milik keluargaku, karena sampai hari ini aku dan suami masih aktif berdiskusi untuk merumuskan bagaimana tepatnya misi tersebut dan langkah-langkah ke depannya. Doakan ya semoga misi keluarga kami cepat tersusun dengan rapi, sehingga kami bisa semakin menebar manfaat lebih banyak lagi.

Semoga teman-teman juga segera menemukan misi spesifik diri dan misi keluarganya ya. Sampai jumpa di lain kesempatan. 



Wassalammualaikum warohmatullahi wbarokatuh. 

Post a Comment

0 Comments