Mengulik Buku Rumahku Madrasah Pertamaku



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Salah satu kelas lanjutan yang ditawarkan oleh ODOP Batch #7 selain kelas fiksi dan non fiksi adalah Reading Challenge ODOP Season 6. RCO #6 insya Allah akan berlangsung selama 45 hari dan terbagi menjadi 4 tingkat. Tingkat pertama sudah dimulai sejak pekan lalu, tepatnya pada Senin, 18 November 2019. Pada tingkat ini, challenge akan berlangsung selama 8 hari, dengan konsep 7 hari baca dan 1 hari libur untuk pengumuman kenaikan tingkat.

Adapun syarat buku yang harus dibaca pada tingkat pertama ini jenisnya bebas namun jumlah halaman minimal 70. Setiap hari setiap peserta harus melaporkan jumlah halaman yang dibacanya, minimal 10 halaman per hari. Selain laporan proses membacanya, para peserta challenge juga harus mengunggah foto buku yang dibacanya pada sosial media yang dipilih dan membuat ulasan buku tersebut.

Jujur, baru pekan pertama saja aku sudah sangat terengah-engah mengikuti challenge ini. Membacanya insya Allah masih terkejar, namun untuk membuat ulasannya aku agak terseok-seok. Untuk membuat ulasan sebuah buku, tentu saja kita harus sudah selesai membaca buku tersebut. Masalahnya aku baru saja selesai membaca buku ini pada pukul 22.00, lalu berusaha ngebut membuat ulasan dan hanya bisa berharap semoga sebelum 23:59 sudah kelar, wkwk.

Tidak berusaha untuk ngeles, tapi sejak Jumat lalu agenda padat merayap, sehingga bacaan yang kutarget akan selesai pada Jumat malam, eh mundur hingga Minggu malam. Namun tidak boleh pantang menyerah lah. Apalagi aku ikut challenge ini agar membaca bisa kembali menjadi habit. Maklum sejak ada smartphone, buku sih tetap dibeli, namun bacanya jarang sekali sampai tuntas. Sekedar skip lembar demi lembar, buka buku lainnya, dan kemudian teronggok di rak atau di samping kasur.

Nah, di tingkat pertama ini aku memilih untuk membaca sebuah buku bergenre non fiksi dan bertema parenting. Buku ini sudah kumiliki sejak awal tahun ini, namun baru sampai bab 2 atau 3 lalu belum sempat kuselesaikan. Begitu mulai membaca lagi, karena lupa dengan bab-bab yang sudah pernah dibaca, akhirnya diulang lagi dari awal, dan berhenti lagi di tengah jalan. Begitu terus, nggak kelar-kelar.



Bersyukur sekali karena ikutan RCO #6 ini, aku akhirnya berhasil menyelesaikan proses membaca buku ini. Awalnya kupikir buku ini sangat berat untuk dipahami, ternyata sangat enak sekali dibaca. Buku ini ditulis oleh pakar parenting dari Timur Tengah. Buku aslinya menjadi rujukan para ahli parenting di berbagai institusi pendidikan, khususnya yang berbasis Islam. Ini dia sekilas info terkait buku tersebut.

Judul buku: Rumahku Madrasah Pertamaku - Panduan Keluarga Muslim dalam Mendidik Anak
Penulis: Dr. Khalid Ahmad Syantut
Penerjemah: Iman Matin, Lc, M. Pd.
Penelaah Ahli: Ust. Endang Setiawan, Al-Hafizh
Editor: Ahmad Fa’iq
Ilustrator: Adi Saputra
Tata letak: Tim Artistik
Tahun Terbit: Cetakan Pertama, Desember 2018
Penerbit: Maskana Media - Imprint Pustaka Rumah Main Anak
Tebal buku: 184 halaman + xii

Siapa yang Harus Baca Buku Ini?


Menurutku setiap keluarga muslim wajib memiliki buku ini. Buku panduan mendidik anak yang disusun secara ringan, namun apa yang disampaikan begitu lengkap dan sistematis. Kita akan menjadi lebih terbuka tentang pengasuhan dan pendidikan anak yang sesuai dengan Al Quran dan Hadits, sehingga tidak mudah terbuai dengan teori-teori barat yang kadang nggak cocok dengan tuntunan agama.

Mengapa Harus Baca Buku Ini?


Mendidik anak zaman now kadang membuat orang tua keblinger pengen mengasuhnya dengan cara modern, takut dibilang tak up to date dan nggak gaul. Meski ada pepatah yang mengatakan “didiklah anakmu sesuai zamannya”, namun bukan berarti kita melupakan hal-hal dasar yang harus dipegang dan tidak boleh dibaikan.

Hal-hal dasar mengenai pengasuhan dan pendidikan anak di zaman semoderen apapun tetap tidak boleh keluar dari rambu-rambu yang telah dimuat dalam Al Quran dan hadits. Buku ini akan membuat para keluarga muslim menjadi lebih paham hal-hal yang mungkin sebelumnya tidak benar-benar dipelajari secara khusus.

Sinopsis Buku


Untuk memberikan sedikit gambaran mengenai isi buku keren ini, izinkan aku berbagi sedikit tentang bab-bab yang ada di dalamnya. 

Bab 1 - Apa dan Bagaimana Pendidikan Islam Itu?


Hal yang paling ku-highlight dari bab pertama ini yaitu;

Semakin lambat kita mendidik anak, semakin berat beban yang harus kita pikul. Karena jika terlambat, kita harus terlebih dahulu merobohkan dan membersihkan tumpukan karakter yang menutupi fitrahnya. Setelah itu, barulah kita bisa mengembangkan potensi buah hati sesuai apa yang diinginkan oleh Sang Pencipta.

Di bab ini, orangtua muslim diingatkan bahwa sesungguhnya setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah. Fitrah di sini menurut para ulama bisa diartikan sebagai dua hal. Pertama, bahwa semua bayi yang lahir sebenarnya terlahir dalam keadaan Islam. Jika kemudian bayi tersebut tumbuh besar jauh dari Islam, maka tangan kedua orangtuanya lah yang membuatnya demikian. 



Kedua, fitrah di sini maksudnya adalah potensi-potensi kebaikan. Allah telah meng-instal potensi-potensi kebaikan di dalam diri setiap anak. That’s why sebenarnya tidak ada anak yang terlahir nakal, bodoh, bandel dan predikat buruk lainnya. Anak-anak pada dasarnya adalah sosok-sosok yang pintar, selalu ingin tahu, suka belajar, jujur dan hal-hal baik lainnya. Jika potensi-potensi kebaikan ini tercerabut dari dalam diri anak, tentu saja ada kesalahan pengasuhan di dalamnya.

Maka untuk meminimalisir kesalahan pengasuhan, orang tua harus memahami sekali tujuan pendidikan islam. Dikatakan dalam buku ini pendidikan Islam adalah satu-satunya cara untuk melahirkan generasi islami dan menciptakan masyarakat madani. Salah satu tujuan pendidikan Islam adalah menjaga fitrah anak.

Untuk bisa menjaga fitrah anak tetap pada hal-hal baik maka orang tua perlu membangun fondasi, mendidik buah hati di rumah, mengoptimalkan fase usia dini, melejitkan peran hebat bunda, memaksimalkan peran ayah, menghindari broken home dengan menemukan dan membangun visi misi pernikahan yang kokoh dan memahami tanggung jawab serta kewajiban orangtua kepada buah hati.

Bab 2 - Mengasah Kecerdasan Ruhiyah Anak


Islam memberikan perhatian khusus terhadap pendidikan ruhiyah. Pendidikan ini dilakukan dengan cara menyambung ikatan antara ruh dan Rabb-nya tiap detik, tiap perbuatan, tiap pikiran, dan tiap rasa.

Institusi-institusi pendidikan yang ada saat ini kebanyakan adalah hasil copy paste dari institusi-institusi pendidikan barat yang mengingkari aspek ruhiyah. Hasilnya, pendidikan ala barat banyak menghasilkan generasi yang banyak makan, main dan bekerja untuk mencari harta. Maka sudah saatnya kita kembali kepada pendidikan yang lebih luas dan lengkap.



Yaitu pendidikan yang mencakup semua aspek kehidupan manusia; ruh, akal dan jasad. Pendidikan Islam memberikan keseimbangan terhadap ketiga aspek tersebut sesuai dengan porsinya. Keseimbangan inilah yang membuat manusia bisa menjadi pribadi yang saleh dan layak untuk menjadi khalifah di muka bumi.

Untuk melatih ruhiyah anak, bisa diawali sejak pra kelahiran. Bahkan sejak bersenggama, kedua orangtua sebaiknya membaca doa sebelum berhubungan suami istri. Diharapkan agar dalam proses berhubungan tersebut, setan tidak ikut campur di dalamnya. 

Setelah anak lahir, orangtua wajib bersyukur apapun jenis kelaminnya. Mau itu laki-laki, ataupun perempuan. Selanjutnya, perhatikan nafkah yang kita berikan pada anak. Pastikan jangan sampai ada barang-barang yang syubhat dan haram di dalam setiap nafkah tersebut.

Setelah anak lahir, pastikan anak sering mendengar orangtuanya berzikir, bertilawah, dan bercerita tentang kisah-kisah nabi. Ajarkan anak tentang shalat dan ibadah-ibadah lainnya sesuai dengan tahapan usia yang dianjurkan.

Bab 3 - Menumbuhkan Akhlak Karimah dalam Diri Anak


Akhlak yang baik tidak akan terbentuk tanpa adanya keimanan kepada Allah, keimanan kepada hari akhir, serta keimanan kepada surga dan neraka.

Akhlak yang baik adalah misi utama ajaran Islam. Akhlak baik tersebut bisa terwujud jika ruh, jiwa dan akal berkembang secara optimal. Dijelaskan pula dalam buku ini bahwa akhlak yang baik diperoleh melalui teladan, bukan melalui nasihat atau arahan. Yang lemah meniru yang kuat, yang kecil meniru yang besar. Anak-anak meniru kedua orangtuanya. Maka pastikan orangtua harus menjadi teladan yang benar bagi anak-anaknya.

Di sini kita juga bisa melihat bahwa dalam pendidikan Islam mengenal adanya targhib dan tarhib. Dalam pendidikan Islam, setelah orangtua mengajarkan syariat kepada anak, maka orangtua harus mampu memberikan targhib (motivasi) agar anak mau melakukan perbuatan-perbuatan halal/ yang disukai Allah. Caranya dengan memberikan hadiah dan kabar gembira tentang adanya imbalan yang jauh lebih besar di akhirat kelak.



Begitu juga sebaliknya orangtua harus memberikan tarhib (peringatan) kepada anak-anak untuk menjauhi perbuatan haram. Caranya dengan memberikan hukuman dan memperingatkannya dari azab Allah di akhirat jika ia tidak bertaubat. 

Hadiah yang diberikan tentu saja tidak harus berupa materi, bahkan senyuman, pujian dan doa tulus yang sengaja diperdengarkan kepada anak bisa menjadi hadiah yang memberikan mereka motivasi untuk terus berbuat baik. Begitu juga halnya dengan hukuman, tidak boleh sekalipun kedua orangtua memberikan hukuman fisik yang menyakiti anak sebelum anak berusia 10 tahun.

Setelah anak berusia 10 tahun, ia boleh dipukul tanpa meninggalkan bekas dan bukan di bagian kepala ketika ia belum melakukan shalat lima waktu. Dengan catatan, sejak 7 tahun, si anak sudah diajarkan dan dilatih shalat secara rutin.

Bab 4 - Mengembangkan Jiwa Sosial dalam Diri Anak


Menyusui tidak hanya memenuhi rasa haus dan rasa lapar buah hati. Di dalamnya juga terkandung nilai-nilai pembelajaran sosial. (Hamid A Salam Zahron)

Salah satu masalah yang berkembang saat ini adalah lemahnya kesadaran untuk hidup bermasyarakat. Semua itu disebabkan oleh ketidaktahuan kita tentang pentingnya kerjasama atau gotong royong dan faktor-faktor pendukungnya. Salah satu corong pendidikan Islam adalah membentuk sifat dan karakternya agar memiliki kepekaan sosial dan bisa hidup bermasyarakat. Jika seorang anak memiliki jiwa sosial yang bertumbuh dengan baik, diharapkan kelak ia mampu menjadi pribadi bermanfaat di tengah masyarakat dan mengetahui apa saja hak dan kewajibannya.



Salah satu cara untuk bisa mengembangkan jiwa sosial anak adalah dengan mengajaknya bermain bersama. Bermain adalah kebutuhan primer bagi anak usia 0 - 6 tahun. Dengan bermain anak-anak akan memiliki kesempatan untuk lebih berkembang, baik secara fisik, psikologi, sosial, akal maupun ruhiyahnya. Maka, pastikan orangtua untuk selalu meluangkan waktu khusus untuk bermain bersama anak.

Masih banyak sekali sub bab-sub bab yang dibahas dalam bab 4 ini. Dari mengajarkan tentang adab hingga mengajarkan politik kepada anak. Menarik sekali mengenai pendidikan politik dalam keluarga muslim. Sejatinya pendidikan politik bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak agar siap dipimpin sekaligus siap memimpin.

Tidak ada islam tanpa jamaah, tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak akan ada kepemimpinan tanpa ada ketaatan. (Umar bin Khattab)

Bab 5 - Mendidik Anak agar Cerdas Finansial


Rasulullah bersabda, “Pada hari kiamat, seorang hamba tidak akan bisa melangkahkan kakinya sampai ia ditanya tentang empat hal. Pertama, untuk apa ia menghabiskan umurnya. Kedua, untuk apa ia menggunakan ilmunya. Ketiga, dari mana ia dapatkan hartanya dan ke mana ia keluarkan. Terakhir, untuk apa ia memanfaatkan tubuhnya?” (HR. Tirmidzi)

Dari hadits tersebut tersurat bahwasanya penting bagi orangtua melahirkan anak-anak yang cerdas finansial. Cerdas finansial dalam pendidikan Islam artinya bersikap seimbang dalam mengelola pengeluaran, tidak boros dan tidak pelit. Sebagai orangtua, kita wajib mengajarkan anak bahwasanya Allah tidak suka hambaNya bersikap berlebih-lebihan, termasuk di dalamnya makan terlalu banyak, belanja terlalu banyak dan bergaya hidup bermewah-mewah.



Orangtua harus membiasakan anak-anak untuk tidak ketergantungan terhadap hal-hal yang bersifat sekunder atau tersier karena faktir kebiasaan. Ajarkan anak untuk bertanggungjawab dalam mengelola uang. Bahwasanya harta atau uang adalah milik Allah dan boleh dipakai sesuai dengan aturan Allah, Sang Pemiliki aslinya. Tidak boleh digunakan untuk kemaksiatan karena hal itu menyalahi perintah-Nya.

Dalam bab ini dibeberkan tips-tips mendidik kemampuan finansial anak, cocok nih buat yang sedang ikut kuliah Bunda Sayang level 8. Mau tahu tips-tipsnya apa saja? Rahasiaaa ah, biar banyak yang beli dan baca bukunya, hehe.

Bab 6 - Menumbuhkan Jiwa Patriotisme dalam Diri Anak


Rasulullah bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah meskipun dalam diri keduanya terdapat kebaikan.” (HR. Muslim)

Untuk menumbuhkan anak dengan jiwa yang kuat, pertama, orangtua harus mempersiapkan ruhiyahnya. Ikatlah jiwa anak-anak kita dengan Sang Pencipta. Tanamkan dalam jiwanya rasa haus akan pahala dan ridha dari Allah ta’ala. Dengan begitu ia akan bersegera untuk memenuhi setiap perintah-Nya. Kedua, orangtua harus mempersiapkan akal anak-anaknya. Diawali dengan banyak berkisah tentang Rasulullah dan para sahabatnya, dan juga kisah pemimpin-pemimpin Islam yang saleh. 



Ketiga, persiapkan mental anak dengan membiasakan buah hati untuk bersabar dan hidup secara sederhana. Keempat, persiapkan fisik anak dengan mengajaknya berolahraga, mendidiknya agar tidak terlalu banyak makan, minum dan tidur, serta mengikutsertakan buah hati dalam kegiatan pramuka atau perkemahan islami yang banyak membutuhkan aktivitas fisik.

Bab 7 - Memilih Sekolah Terbaik untuk Anak


Selain rumah, sekolah adalah tempat anak menghabiskan banyak waktunya. Bedanya, sekolah hanya mengurus pendidikan. Sedangkan rumah mengurus berbagai permasalahan termasuk pendidikan.


Sekolah seharusnya bertujuan untuk mempersiapkan suatu generasi agar dapat menjawab tantangan hidup. Namun sekarang ini semakin banyak sekolah yang tak mampu menjawab tantangan tersebut.

Bagi keluarga muslim, masalah memilih sekolah adalah hal yang krusial. Pastikan memilih sekolah yang memiliki visi misi sama dengan keluarga. Rumah dan sekolah harus membangun kerja sama yang baik demi mewujudkan pendidikan untuk anak yang optimal.

Bab 8 - Menyusun Planning Aktivitas Anak di Rumah


Terdapat dua potensi yang harus distimulus, yaitu potensi jiwa dan raga. Aktivitas yang variatif mampu menstimulus seluruh potensi anak.

Majelis rutin keluarga adalah hal yang penting dilakukan di setiap keluarga muslim. Durasinya bisa 15-30 menit saat weekdays, dan 30-60 menit saat weekend. Dalam majelis keluaraga ini, kita bisa bertilawah quran, menghafal hadits, membaca sirah, membahas tauhid dan fikih dan mempelajari geografi negara-negara Islam.



Bagian terpenting dari kegiatan dan kurikulum tersebut adalah konsistensi. Jika bisa terlaksana lebih dari sepuluh tahun, kegitana ini akan menjadi salah satu kebiasaan yang tidak mungkin ditinggalkan. Bahkan ketika anak-anak sudah menikah, kebiasaan tersebut akan dibawa ke dalam keluarga baru mereka.

Selain mengadakan majelis keluarga alias family forum, aktivitas anak di rumah yang sesuai dengan pendidikan Islam yaitu mengajak anak untuk menghidupkan malam, mengerjakan sunah-sunah pada Hari Jumat, beraktivitas di bulan Ramadhan, dan menyusun agenda piknik keluarga. Di bab ini, juga dibahas mengenai boleh tidaknya anak-anak dikenalkan dengan televisi dan gadget. 

Bab 9 - Untaian Kata Penutup dan Nasihat


Dalam bab akhir ini, penulis memberikan tiga nasehat singkat. Pertama, keluarga adalah institusi pendidikan yang paling penting. Ingatlah bahwa orangtua kelak akan bertanggungjawab atas anak-anak mereka di hadapan Allah. Kedua, sebagai orangtua kita harus memperhatikan pendidikan ruhiyah anak-anak. Hanya pendidikan Islam yang memberikan perhatian lebih terhadap ruhiyah anak. Ketiga, keteladanan sangatlah penting dalam pendidikan anak. Maka pastikan orangtua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya.

Bagaimana? Menarik kan bukunya? Cuzz, buat moslem parents yang belum punya, segera masukkan ke wish list atau segera order ke penjual buku online terdekat! Selamat membaca!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

5 Comments

  1. Wah, terimakasih banyak sudah berbagi informasi yang sangat bermanfaat ini Mbak.

    ReplyDelete
  2. Benar sekali Mbak, kita memang perlu mengajarkan pendidikan akhlak kepada anak sejak kecil.

    ReplyDelete
  3. Program yang sangat bermanfaat dan menarik sekali ya Mbak, semoga bisa semakin sukses kedepannya.

    ReplyDelete
  4. Wah, banyak sekali ya Mbak manfaat yang bisa didapatkan untuk pendidikan kepada anak.

    ReplyDelete
  5. Informasi yang sangat bermanfaat terimakasih banyak Mbak sudah berbagi ilmu.

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com