header marita’s palace

Saksi Mata Biru; Sisi Lain Pertempuran 10 November 1945



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Menjelang deadline dan aku baru punya kekuatan untuk melawan wegah serta malas. Beringsut dari kamar menuju meja kerja. Kubuka link cerpen yang sudah kubaca beberapa menit lalu. Jujur aku kurang bersemangat mengerjakan tugas kelas fiksi ODOP #7 kali ini. Sejak tugas dibagikan beberapa waktu lalu, entah kenapa sulit sekali otakku mencerna beberapa cerpen dengan genre yang disyaratkan.

Historical fiction! 

Menarik sebenarnya. Tapi buatku butuh waktu lama untuk membaca cerita-cerita dengan genre tersebut. Apalagi untuk membuat ulasannya, aku nggak bisa asal, aku juga perlu mencari tahu latar belakang sejarahnya. Masalahnya sejarah adalah hal yang tak begitu membuatku tertarik, kecuali benar-benar menarik.

Empress Ki, salah satu saeguk favorit

Cerita-cerita sejarah yang mampu membuatku tertarik memang drama-drama saeguk Korea. Aku selalu terpukau setiap kali melihat drama-drama saeguk. Membayangkan bagaimana risetnya sang penulis dan sutradara untuk membuat drama sejarah, serta pakaian-pakaian tradisional Korea yang indah membuatku betah menonton drama jenis tersebut. Namun entah kenapa untuk cerita tertulis bergenre sejarah, aku lebih banyak mengantuk daripada menikmati.

Namun tugas tetaplah tugas, harus tetap dikerjakan… kecuali mau hengkang tanpa paksaan. Akhirnya kujatuhkan pilihan pada sebuah cerpen bertajuk SAKSI MATA BIRU, karya Faiz Nawawie. Diterbitkan pada web cerpenmu.com, cerpen ini terdiri dari dua bagian. Untuk lebih jelasnya, silakan dibuka di link berikut:



Awalnya dari judul cerpen aku meraba-raba jalan ceritanya, meski di paragraf pembuka bagian pertama sudah terdapat clue kota Surabaya, namun aku baru bisa menangkap kalau cerpen ini mengambil latar belajang sejarah Pertempuran 10 November di bagian kedua.

Sepuluh tahun kemudian, pasca kemerdekaan, 9 November 1945. tepatnya di masjid pondok. Pagi itu para santri terlihat bersemangat membaca Al-quran, kabar tentang gerakan mempertahankan kemerdekaan semakin memanas, setelah kematian jendral mallaby pada tanggal 30 okt 1945, besoknya Panglima AFNEI Letjen Philip Christison dengan tegas mengeluarkan ancaman dan ultimatum, jika para pelaku serangan yang menewaskan Brigjen Mallaby tidak menyerahkan diri, maka pihaknya akan mengerahkan seluruh kekuatan militer darat, udara, dan laut untuk membumihanguskan Surabaya.

Dari paragraf awal di bagian kedua tersebut lah aku mulai paham kalau sejarah yang melatarbelakangi cerita antara Ilzam dan Annabeth atau yang kemudian mengganti namanya sebagai Ana ‘Abidah ini adalah kisah yang terkenal atas keberanian Bung Tomo.




Di teks-teks sejarah yang kita baca dari SD - SMA sebagian besar mengelu-elukan Bung Tomo sebagai tokoh utama dari Pertempuran 10 November. Hingga kemudian tanggal 10 November dijadikan sebagai Hari Pahlawan.


Tanpa menafikan semangat Bung Tomo, ada sejarah yang tak tertulis di teks-teks buku. Tentang Resolusi Jihad Fisabilillah yang dikobarkan oleh Kyai Haji Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Berisi kobaran semangat sebagai berikut;

“Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe Fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itu djadi fardloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja)…”

Atas dasar itulah mengapa para santri Hizbullah dan seluruh rakyat Surabaya seakan tiada takut melawan Belanda. Dilandasi semangat jihad fisabilillah itulah mereka rela bertempur habis-habisan demi mempertahankan kedaulatan negara.



Sehari sebelum 10 November 1945, ketika kondisi semakin memanas, Bung Tomo juga bertemu kembali dengan KH Hasyim Asy’ari untuk mendapatkan wejangan dan dukungan. Beliau pun menguatkan Bung Tomo dengan seruan takbir.

Dikutip dari web official NU,

Ditinjau dari kronologi kesejarahan, Pertempuran Surabaya pada dasarnya adalah kelanjutan dari peristiwa Perang Rakyat Empat Hari pada 26 – 27 – 28 – 29 Oktober 1945, yaitu sebuah Perang Kota antara Brigade ke-49 Mahratta di bawah komando Brigadir Jenderal Aulbertin Walter Sothern Mallaby dengan arek-arek Surabaya yang berlangsung sangat brutal dan ganas, dengan kesudahan sekitar 2300 orang -- 2000 orang di antaranya pasukan Brigade ke-49 termasuk Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby yang terbunuh pada tanggal 30 Oktober 1945.

Jika 10 November dikenal sebagai Hari Pahlawan, kini 22 Oktober 1945 dikenal dengan Hari Santri Nasional. Sebagai pengingat bagi generasi muda bahwasanya dulu para santri merapatkan barisan demi kedaulatan negara dan bangsa ini.




Jujur aku baru tahu sejarah mengenai Resolusi Jihad setelah membaca cerpen karya Faiz Nawawie ini. Dari cerpennya aku kemudian jadi ingin tahu lebih lanjut tentang kebenaran sejarah tersebut dan semakin kagum dengan para santri yang semangatnya luar biasa.

Dibalut dengan info sejarah yang cukup menarik, Faiz Nawawie menyempurnakan cerpen ini dengan memberikan tema romansa di sela-sela kisah perjuangan. Romansa di antara Annabeth, gadis Belanda yang diselamatkan oleh seorang kyai di sebuah pesantren Surabaya pada tahun 1935. 10 tahun kemudian gadis itu telah tumbuh menjadi sosok perempuan yang ranum. Ia kemudian lebih dikenal sebagai Ana ‘Abidah. Gadis bermata biru itu sempat marah dengan kondisinya yang harus kehilangan kedua orangtuanya di depan mata. Ia sempat benci dengan para pribumi yang menyelamatkannya. Namun perlahan kebencian itu meredup karena kehadiran Ilzam yang selalu memberikan semangat dengan cara-cara yang mampu menyentuh hatinya, sosok pemuda yang nyantren di tempat sama dengannya. Ada rona-rona merah jambu yang mulai hadir di antara keduanya. Ilzam sadar diri, untuk mencegah fitnah, ia mulai menjaga jarak. 

Hingga akhirnya Resolusi Jihad Fissabilillah itu sampai pula ke pesantren tempat Ilzam dan Ana belajar. Para santri bergegas untuk ikut serta dalam seruan Kyai Haji Hasyim Asy’ari. Ini bukan sekedar perintah sang pembesar, namun juga perintah Allah untuk menjaga kedaulatan negara. Dada berkobar, merah warnanya. Pantang pulang sebelum menang. Tak gentar meski maut menerjang.




Ana melepas kepergian Ilzam dengan setengah hati. Siapa yang rela melepaskan kekasih hati pergi ke medan perang, tanpa tahu bisa pulang atau tidak? Sebagai pesan bahwa ia menunggu Ilzam, dibawakannya sebuah kalung milik ibundanya.

Alur yang dipakai di cerpen ini adalah alur campuran. Di paragraf awal bagian pertama, diceritakan sosok pemuda yang hampir terkapar. Sepenangkapanku ini adalah cerita Ilzam di medan perang. Lalu kisah meloncat dengan alur mundur, 10 tahun ke belakang, ketika Annabeth diselamatkan oleh para pribumi dan dibawa ke pesantren. Setelah itu alur terus maju hingga di akhir bagian kedua diceritakan kalau pada akhirnya Anabeth alias Ana ‘Abidah mampu bersatu dalam mahligai suci pernikahan bersama Ilzam. 

Sebuah kisah yang menarik, meski masih banyak teknis penulisan yang kurang tepat. Seperti Belanda yang harusnya ditulis dengan huruf kapital di awal, namun ditulis dengan belanda. Masih banyak beberapa kesalahan teknis penulisan, namun menurutku tidak mengurangi pesan dan keseruan kisahnya.

Dari cerpen ini aku belajar banyak tentang mencintai negara harus sepenuh jiwa raga. Jika dulu jihad fissabilillah harus lewat angkat senjata dan darah, kini kita bisa berjihad lewat pena dan dakwah yang halus dan menyentuh hati. 

Cerpen Saksi Mata Biru juga tersirat pesan bahwasanya kebencian bisa luruh jika dilawan terus dengan kebaikan. Sebagaimana Rasulullah mencontohkan dengan akhlaknya sendiri bagaimana ia tetap bersikap baik dan santun meski diludahi dan dicaci maki. Annabeth yang membenci pribumi pada akhirnya justru jatuh hati dengan Ilzam yang mampu menunjukkan kesantunannya.




Selain itu dari cerpen ini aku juga belajar betapa muslim yang baik harus menjalankan syariat sebenar-benarnya. Contohnya di dalam peperangan, tidak boleh menjadikan anak-anak dan wanita sebagai tawanan. Annabeth yang pada saat itu menjadi korban peperangan antara Belanda dan pribumi akhirnya diselamatkan pemilik pesantren dan dididik di dalamnya. Namun tidak sedikit pun dipaksa untuk memeluk Islam, karena tidak boleh ada keterpaksaan dalam beragama. Pada akhirnya Annabeth memilih berislam atas keinginannya sendiri.

Sebuah cerpen dengan jalan cerita yang menarik. Selain karena cerita romansanya, cerpen ini juga menarik karena aku jadi tahu hal baru di balik Hari Pahlawan. Bagaimana menurutmu, pals? Punya cerpen bergenre sejarah yang asyik buat dibaca? Ditunggu rekomendasinya di kolom komentar ya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com