Menuju Metamorfosa Diri #1; Menemukan Telur-Telur Hijau



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Saat langkah-langkah kakiku akhirnya berada di depan gerbang Bunda Cekatan, harus kuakui jika tak sedang dalam kondisi terbaik. Bahkan aku hampir saja memutuskan untuk menarik kaki, balik kanan dan menjauh dari gerbang tersebut. Namun urung kulakukan, rasa-rasanya sayang jika mengingat perjalanan yang telah kulalui hingga bisa sampai di sini. Maka malam ini kukuatkan azzam dan mulai kususun kata demi kata.

Sebenarnya aku cukup beruntung. Jarak antara berakhirnya kelas Bunda Sayang Batch #3 dengan dibukanya Bunda Cekatan Batch #1 ini tak terlalu jauh. Jika dibandingkan dengan penantian teman-teman Bunda Sayang batch #1 dan #2, jarak satu tahun yang kujalani jelas tak ada apa-apanya. Dalam jeda penantian tersebut, aku pun tak lantas berdiam diri. Mulai dari mengikuti kelas Bunda Sayang Leader hingga memberanikan diri menjadi fasilitator Matrikulasi batch #6 dan Bunda Sayang #5 membuat proses penantianku semakin berisi.

Mau tak mau harus kuakui, jenjang belajar di Institut Ibu Profesional memang telah membantu proses metamorfosa yang kujalani. Jika sebelum matrikulasi, peta hidupku asal-asalan, maka setelah matrikulasi peta itu mulai tergambar dan jelas arahnya. Ketika Bunda Sayang terlampaui, peta yang mulai jelas arahnya itu menjadi pegangan untukku agar stay on the track. Sesekali melirik dan keluar garis, namun bisa kembali pada track yang seharusnya karena dengan menatap peta yang kupunya, aku sadar… sekali saja keluar dari track, bisa jadi perjalanan itu harus kuulang atau mungkin waktunya jadi lebih panjang hingga tak efisien.




Saat gerbong metamorfosaku menuju stasiun Bunda Cekatan, hampir saja gerbong ini ngadat. Padahal kalau dilihat dari amunisi yang tersimpan seharusnya masih cukup untuk melaju kuat. Namun memang harus kuakui, gerbong kereta dan gerbong jiwa manusia beda penanganan. It is okay to feel not okay. I’m only ordinary human. Ternyata ada kalanya gerbong jiwa ini tak boleh digas terus, sesekali harus disetel kendho

Bersyukurlah meski sedikit ngadat, pada akhirnya gerbong metamorfosaku sampai juga di stasiun pertama Bunda Cekatan. Agar tak lagi ngadat dan lancar menuju stasiun berikutnya, aku perlahan melepas beberapa perangkat yang harus dibersihkan dan diperbaharui. Kumulai proses pembersihan dan pembaharuan perangkat gerbongku dengan kembali membaca catatan lama yang pernah kususun sebagai NHW ke tujuh. Bisa dibilang catatan tersebut merupakan pondasi di mana telur-telur hijau yang akan menetas dan menjadi amunisi bagi gerbong metamorfosa diriku.

Telur-telur Hijau


Stasiun pertama Bunda Cekatan memang sangat unik. Pilihan kata yang disajikan oleh Bu Septi sebagai fasilitator utama dibantu oleh Mbak Ika Pratidina sebagai co-fasil sangat unik dan menarik. Ada 4 tahapan yang akan dilalui dalam Bunda Cekatan; kelas telur-telur, kelas ulat-ulat, kelas kepompong, dan kelas kupu-kupu. Dalam setiap tahapan, kami akan menuju dari satu stasiun ke stasiun berikutnya.




Di tahapan pertama yaitu kelas telur-telur, mahasiswi didongengi ibu tentang KEBAHAGIAAN. Video materi pertama yang disampaikan Ibu Septi ini mengulitiku hingga ke dalam-dalamnya. Di saat kondisi jiwa sedang tak karuan dan bahkan sempat gamang menerjemahkan BAHAGIA serta BINAR MATA, di saat yang sama ibu mengingatkan tentang pentingnya berbahagia di sepanjang aktivitas yang kita lakukan. 

Bahagia adalah bahan bakar terbaik untuk beraktivitas. Tanpa bahagia, aktivitas yang kita lakukan bisa jadi kehilangan makna. 

Sedikit terseok, hingga pada akhirnya menjelang detik-detik pengumpulan jurnal sebagai syarat gerbong ini boleh melaju ke stasiun berikutnya, aku mulai bisa kembali menemukan bahagia dan binar mata yang sempat mengajakku main petak umpet. Tak terlampau jauh dengan apa yang kutuliskan pada sesi matrikulasi dua tahun lalu. Inilah kuadran kegiatan yang akan menjadi peta menemukan telur-telur hijauku:




Well, harus kuakui aktivitas terkait urusan domestik hampir semua masuk dalam kuadran bisa - tak suka dan tak bisa - tak suka. Mungkin inilah yang kemudian membuatku agak terseok-seok beberapa minggu ini, ketika terlampau fokus pada urusan domestik dan tak punya cukup waktu untuk menjalani aktivitas yang benar-benar aku bisa dan aku suka. Seakan separuh jiwaku pergi…. etdah jangan diteruskan, biarkan Mas Anang saja yang bernyanyi lagu itu.

Intinya sih aku memang harus kembali mengatur ulang kandang waktuku sehingga aktivitas-aktivitas dalam kuadran “bisa - suka” dapat terjalani dengan maksimal. Aktivitas-aktivitas yang membuat mata ini berbinar sejatinya adalah mood booster untuk bisa menjalani aktivitas-aktivitas di kuadran lain. Ketika aktivitas-aktivitas di kuadran “bisa-suka” terjalani, tubuh dan jiwa ini seperti HP yang sudah dicas sampai penuh sehingga siap melakukan pekerjaan-pekerjaan lainnya, termasuk pekerjaan yang mungkin tak terlalu disukai.

Maka dari hasil pengamatan terhadap kuadran kegiatan di atas, inilah 4 aktivitas yang telah kunobatkan menjadi telur-telur hijau:



1. Belajar


Harus kuakui belajar adalah hal yang paling kusukai. Sejak duduk di bangku sekolah hingga kini jadi mahasiswi di Institut Ibu Profesional, aku sangat suka belajar! Belajar buatku bisa dilakukan dengan banyak cara. Pertama, membaca buku. Aku tak pernah bisa menolak buku. Mataku akan selalu berbinar ketika bertemu dengan buku. Menolak tawaran gamis, panci dan benda-benda lainnya sangat mudah bagiku, namun menghindari beli buku… hanya ATM kosong yang bisa mencegahku.

Aku bisa melahap buku apapun. Namun saat ini aku lebih suka membaca buku tentang pengembangan diri, parenting, dan agama. Sesekali membaca buku-buku fiksi untuk kembali melenturkan jemari menemukan dan menyusun kosa kata yang menarik.




Kedua, mengikuti kajian, workshop atau seminar. Bisa dibilang datang ke kajian ilmu seperti sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui. Selain menjalani proses belajar, hadir ke kajian ilmu juga memungkinkanku untuk bertemu dengan beberapa orang yang kukenal dan aktivitas ngobrol pun terjadi. Selain hadir langsung secara fisik, aku juga suka mengikuti kajian lewat whatsapp. 

Ketiga, nonton. Ya, aku sangat suka nonton banyak tayangan. Dari talkshow di YouTube hingga film atau drama Korea. Buatku proses nonton nggak sekedar hiburan semata, ada proses belajar di sini. Setelah menonton sebuah tayangan Teman Tidur di channel YouTube Ussy Andhika, misalnya… aku belajar banyak tentang pernikahan dan merawat cinta. Setelah selesai menonton film Kim Ji Young, aku bisa menggali banyak insight tentang kesehatan mental. Nonton adalah sebuah proses belajar paling asyik dan menyenangkan buatku.

2. Ngobrol


Nggak bisa kupungkiri, aku termasuk orang yang kelebihan kata-kata, apalagi ketika itu dengan orang yang klik denganku. Rasa-rasanya 20 ribu kata pun terasa kurang. Ngobrol dengan suami, anak-anak dan teman-teman yang sevisi misi menjadikanku lebih semangat dalam menjalani hidup. Ketika dalam sehari kegiatan ini ku-skip, rasa-rasanya energi jiwa tak penuh bagaikan baterai HP yang dicas cuma separuh.




Ngobrol buatku tak harus bertemu secara fisik, kecuali dengan pasangan. Khusus untuk pasangan, aku harus ngobrol dengannya minimal satu jam setiap hari. Kalau sehari saja aku nggak diberi jatah ngobrol dengannya, bisa uring-uringan sampai seminggu dan bikin mood menjadi hancur. Namun untuk ngobrol dengan sosok-sosok lain, keberadaan dunia maya sangat membantu. 

Buatku berkomunitas masuk ke ranah ngobrol ini. Mengelola WAG dan memotivasi teman-teman dengan menyapa WAG adalah mood booster lainnya untukku. Sampai teman-teman menganugerahiku julukan “kompor meleduk.” Katanya, WAG bisa ramai kalau aku muncul. Bahkan aku pernah dijawil oleh seorang narasumber parenting ternama untuk menjadi admin sebuah WAG hanya karena aku bisa membuat ramai WAG yang tadinya krik krik menjadi lebih hidup. 


3. Traveling



Menjelajah tempat baru selalu mengasyikkan. Mengicipi kuliner, menikmati pemandangan, mengamati orang-orang adalah hal yang bisa kudapatkan saat traveling. Bisa jadi traveling juga menjadi sebuah cita-cita untukku. Saat aku diberi amanah untuk menjaga ibu yang sakit sejak duduk di bangku SMA, aku tak punya cukup waktu untuk bisa menjelajah ke tempat baru. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku di kota kelahiran, bahkan hanya di rumah. Setiap mau pergi lebih lama dari biasanya, pasti kepikiran dan tak bisa tenang. 

Maka saat amanah tersebut telah tertunaikan, kini aku ingin menjelajah ke lebih banyak tempat bersama keluargaku. Aku ingin bepergian bersama suami dan anak-anak, mengenalkan anak-anak betapa Allah menciptakan bumi ini sebagian luas dengan beragam makhluk di dalamnya. Terkadang bahkan traveling ini tak selalu harus jauh. Karena tempat baru tak selalu harus yang berjarak ribuan mil. Seperti ketika beberapa waktu lalu suami mengajakku dan anak-anak ke Air Terjun Semirang. Bukan tempat yang jauh, namun perjalanan menuju ke sana adalah proses yang sangat mengasyikkan. Anak-anak belajar sabar dan kuat, aku dan suami sebagai orangtua juga harus belajar menahan ego agar rasa ingin tahu anak-anak tetap terjaga. Pada akhirnya ketika berhasil menuju ke lokasi air terjunnya, puassss sekali!

4. Berbagi Informasi


Belajar dan disimpan sendiri rasanya bukan gue banget. Maka berbagi informasi adalah hal yang paling kusukai setelah aku selesai menonton film atau tayangan yang menarik, sepulang dari kajian atau seminar tertentu, atau seusai menamatkan sebuah buku. 




Untuk urusan berbagi informasi ini, aku lebih suka melakukannya lewat merajut aksara. Meski pada akhirnya beberapa teman ada yang memintaku untuk mengisi sebuah sesi sharing secara offline alias tatap muka, sejujurnya aku lebih nyaman berbagi informasi lewat tulisan. Entah itu lewat artikel-artikelku di blog, ngobrol di WAG, kulwap ataupun sekedar tulisan-tulisan pendek di status WA dan media sosial. 

Ketika aku merasa sebuah informasi penting dan bermanfaat bagi orang lain, membagikannya adalah hal yang menyenangkan. Bahkan tak satu dua orang yang mengirimkan personal chat kepadaku ketika aku lama tak membuat status di WA, “akhirnya nyetatus lagi, aku tungguin lo mbak status-statusnya.” Seketika mata tak lagi hanya berbinar, tapi juga berkerjap-kerjap, hehe. Sekaligus sebuah tanda untukku agar tak berhenti belajar sehingga semakin banyak hal yang bisa kubagikan.

5. Digital Stuff


Semua berawal dari ngeblog secara serius pada 2016. Selain memperbaiki teknik menulis, ngulik segala hal tentang blog menjadi hal yang bisa membuatku lupa waktu. Apalagi kalau sudah mengulik HTML dan CSS, rasanya seru. Loh ditambahi kode ini kok jadi begini, loh diganti begini kok jadi error dan sebagainya. Saking serunya, kadang kalau sudah mengulik kode, aktivitas menulis bisa terganggu.




Dari sini pula aku jadi mulai paham kenapa suami kalau sudah coding jadi lupa segalanya, termasuk lupa istrinya, hehe. Wong ngurusin template blog saja bisa semenyenangkan itu, apalah lagi doi yang kerjaannya membuat software. Maka jangan heran ketika kami usai berbincang di malam hari, dilanjut dengan menghadap laptop masing-masing, meski duduk sebelahan kami bisa sama-sama asyik dengan dunia masing-masing.

Dari mengulik template blog sendiri, aku mulai minta diajari suami untuk mengulik blog lewat wordpress.org. Dua hasil karya setinganku adalah web Pejuang Literasi dan Institut Ibu Profesional, jangan lupa mampir yaks. Tentu saja masih sangat sederhana dan masih pengen banget ngutak-atik lebih lanjut. Namun harus mencari waktu yang pas, karena kalau sudah ngulik beginian, aku suka jengkel kalau diganggu, wkwk.

Selain mengulik template blog, aku juga paling senang berhubungan dengan mengelola google drive dan google classroom. Kalau lihat folder-folder di drive tertata rapi rasanya puas banget. Dan nggak bisa kupungkiri, semua kesenangan ini diawali oleh IIP. Kalau bukan karena menjadi fasil, aku mungkin nggak bakalan punya hobi ini.

Membuat desain sederhana dengan canva juga menjadi hal yang bisa membuatku berbinar. Terkait dengan urusan ngeblog, membuat infografis yang menarik adalah sebuah keharusan saat ini. Apalagi ketika mau ikut lomba blog, infografis jadi salah satu yang seringkali jadi pertimbangan juri. Bersyukur sekarang ada Canva, aku bisa ngutak-atik infografis dengan lebih mudah. Meski nggak selalu membuat dari nol karena Canva menyediakan banyak pilihan template, namun cukup membantuku berkreativitas.




Hmm, ternyata mengasyikkan juga ketika telur-telur hijau sudah berhasil dikumpulkan. Kira-kira di stasiun berikutnya, telur-telur ini bakal diapakan ya? Penasaran? Samaaa! Doakan aku selamat sampai di akhir sesi Bunda Cekatan ya, dan tunggu jurnal-jurnalku selanjutnya!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

4 comments

  1. Wah, surprisingly writing ga kepilih jadi telur unggulan ya 🤭

    ReplyDelete
    Replies
    1. writing is a part of berbagi informasi, mbak :) also a part of studying :) Writing is like a life for me, bisa di mana saja, kapan saja... hehehe...

      When i travel i write, when i study i write, when i watch movie i write, when i share information i write... :)

      Delete
  2. Setidaknya kita sama2 suka jalan2... 😁💃

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter