Wedding Agreement; Ini 9 Hikmah di Balik Film dengan Alur Tertebak dan Ending yang Manis!


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Saat Wedding Agreement tayang pada 8 Agustus 2019, aku termasuk salah satu yang tak tertarik menonton film ini. Kenapa? Karena jalan ceritanya sudah sangat tertebak. Ada sebuah pernikahan yang terjadi karena perjodohan, lalu ditutup dengan ending yang manis. Sang suami yang tadinya tak menginginkan pernikahan tersebut pada akhirnya jatuh cinta berjuta rasanya pada istri pilihan ibunya.

Klise dan khas Indonesia sekali.
Lalu kenapa pada akhirnya aku nonton film debut dari sutradara Archie Hakagery ini? Karena lagi gabut aja, wkwk. Nggak tahu kenapa beberapa hari ini setiap mau nonton drakor berujung dengan ketiduran, yang akhirnya besok aku harus ulangin lagi episode tersebut, lalu ketiduran lagi.. gitu aja terus sampai nggak kelar-kelar nontonnya.

Terus aku terbersit untuk mencari penyegaran dengan membuka-buka iflix. Eh ada Wedding Agreement, ya sudahlah karena gratis ditonton saja, hehe. Selain ending yang sudah bisa ditebak, film ini diadaptasi dari novel karya Mia Chuz. Wedding Agreement ini sebelumnya laris dibaca pengunjung di situs Wattpad.Nah, karena asalnya dari Wattpad ini yang bikin aku rada underestimate sama kualitas ceritanya. Duh, kaya aku bisa aja bikin novel.Buku solo saja nggak kelar-kelar. #tutupmuka.

Eh, tapi sarjana sastra itu memang tugasnya mengkritik bukan memproduksi, wkwk. Mencari pembenaran.

Tokoh-tokoh dalam Wedding Agreement


Tokoh utama dalam film ini yaitu Byantara Wicaksana atau Byan yang dimainkan oleh Refal Hady, dan Btari Hapsari yang diperankan oleh Indah Permatasari.

Sementara pemeran pendukungnya ada Sarah, yang merupakan pacar Byan selama 5 tahun, diperankan oleh Aghiny Haque. Ada pula Aldy yang diperankan oleh Jeff Smith, merupakan sepupu dari Byan.

Film ini merupakan film terakhir dari Ria Irawan yang berperan sebagai Budhenya Btari. Papa Byan yang dimainkan oleh Bucek Depp dan Ami yang diperankan oleh Ria Ricis adalah dua pemain pendukung yang hadir untuk menyisipkan humor di sela-sela jalan cerita.

Alur Wedding Agreement


Byan terpaksa menikahi Btari karena keinginan ibunya yang sedang sakit kanker. Byan tak ingin ibunya sedih. Namun di satu sisi, sebenarnya Byan sudah punya pacar yang telah menjalin hubungan selama 5 tahun. Namanya Sarah. Digambarkan sosok Sarah ini hidup sebatang kara namun manja. Sebuah kontradiksi yang aneh ya? Biasanya gadis yang hidup sebatangkara tumbuh sebagai pribadi yang mandiri.

Bisa dibilang Sarah ini anti tesis dari Si Btari. Sama-sama hidup sebatang kara, bedanya Btari yang kehilangan orangtuanya saat kecelakaan dibesarkan oleh Budhenya. Btari lalu tumbuh menjadi sosok pengusaha muda yang mandiri. Meski tak pernah dilihatkan bagaimana ia membangun bisnisnya, tiba-tiba di film Btari sudah sukses dan jadi narasumber yang mengisi acara bisnis di kampus-kampus.

Btari adalah sosok perempuan sederhana. Karena sudah dinikahkan dengan Byan, maka ia berusaha sekuat tenaga untuk mengabdi kepada sang suami. Tentu saja hancur hatinya mengetahui sang suami tak menginginkannya, bahkan menyodorkan sebuah Wedding Agreement yang berisi kesepakatan bahwa pernikahan mereka hanya akan berlangsung selama satu tahun.

Singkat cerita, meski Byan selalu menolak dilayani oleh Btari, lama-lama Byan luluh juga melihat keteguhan hati Btari. Meski sempat terjadi kesalahpahaman di antara keduanya. Namun sebagaimana film-film dakwah pada umumnya, everyone lives happily ever after.

Hikmah di Balik Wedding Agreement

Meski sangat mudah ditebak, film ini cukup apik untuk ditonton saat sedang nggak ada kerjaan. Beberapa hal baik yang bisa kita ambil dari film ini antara lain:

1. Birrul Walidain is A Must!

Meski sejujurnya tak suka, Byan takluk dengan permintaan ibunya untuk menikahi putri sahabatnya, Btari. Byan sadar bahwa hormat pada orangtua adalah salah satu kunci kesuksesan kehidupan seorang anak, Meski di belakang, Byan berusaha untuk tidak meneruskan pernikahan dengan istri pilihan ibunya, namun toh keinginannya untuk birrul walidain harus menjadi contoh bagi anak-anak muda Indonesia.

Dari sini juga bisa ditarik kesimpulan bahwasanya feeling ibu konon memang jauh lebih kuat. Pilihan ibu juga insya Allah terbaik bagi anak-anaknya. Apalagi jika pilihan tersebut tidak dibarengi dengan hawa nafsu dan tendensi tertentu, murni untuk kebaikan anak demi mendapat ridho Illahi. Doa-doa ibu juga doa-doa terbaik untuk anak-anakNya.

2. Pernikahan tanpa Cinta Bisa Saja, Namun Mempertahankan Pernikahan tanpa Cinta itu Mustahil


Bisa jadi pasangan suami istri mengawali pernikahan tanpa memiliki rasa cinta sama sekali. Mungkin kita berseloroh bahwasanya ya iyalah di film, di dunia nyata manalah mungkin.

Eits, siapa bilang… zaman dulu di mana perjodohan lebih lazim daripada zaman now, berapa banyak sih pasangan yang menikah karena sudah saling jatuh cinta duluan? Pasti bisa dihitung dengan jari.Namun toh pernikahan para sesepuh itu jauh lebih banyak bertahan daripada anak muda zaman now yang katanya memulai pernikahan dengan cinta.

Zaman sekarang justru banyak sekali yang awalnya karena cinta, tapi bertahan sebulan dua bulan saja.

Film ini mengingatkan kembali tentang hal ini. Bahwasanya tak selalu menikah diawali dengan cinta, namun untuk mempertahankan pernikahan dibutuhkan rasa cinta. Kalaupun belum berhasil jatuh cinta kepada pasangan, namun rasa cinta yang besar kepada Allah bisa menjadi pagar pembatas sehingga selalu ada keinginan untuk senantiasa taat dalam menjalankan syariat-syariatNya.

3. Suami Istri adalah Pakaian untuk Satu Sama Lain


Meski kalau di film ini ‘menjadi pakaian’nya terpaksa karena tidak mau ada keluarga yang tahu tentang adanya Wedding Agreement di antara Byan dan Btari, namun begitulah seharusnya. Btari mampu menjadi pakaian bagi Byan agar tak ada keluarga yang tahu bahwa Byan masih berhubungan dengan Sarah. Byan pun saat Btari ngambek dan tak mau menemaninya datang ke acara keluarga mencoba menutupinya.

4. Meski Suami Zalim, Istri Tetap Harus Izin pada Suami saat Mau Keluar Rumah

Pada saat Btari ngambek karena Byan masih terus-terusan berhubungan dengan Sarah, Btari sengaja pergi menghadiri acara seminar di luar kota meski Byan tak mengizinkannya. Apalagi di awal pernikahan Byan pernah bilang ke Btari kalau dia nggak perlu tuh izin-izin segala ke Byan kalau mau ke mana-mana. Namanya cewek lagi ngambek ye kan, bebas dooong, wkwk.


Alhasil di tengah jalan, ada saja aral yang melintang. Dari e toll yang nggak bisa dipakai sampai ban yang bocor. Saat itu Btari sadar bahwa memang sudah sepantasnya istri tidak nekat ketika suami tidak mengizinkan pergi, karena sejatinya ridho Allah terhadap perempuan yang telah menikah terletak pada ridho suaminya.

5. Tidak Memasukkan Laki-laki Lain saat Suami Tidak di Rumah

Ada sebuah scene ketika Byan cemburu melihat Aldi keluar dari rumahnya. Mulailah syak wasyangka bermunculan di pikirannya. Itulah kenapa dalam Quran dan hadits diatur bahwasanya tidak boleh seorang istri menerima tamu laki-laki ketika suaminya tak ada di rumah, kecuali tamu tersebut kerabat dari suami atau istri dan selama masih mahram dengan istri.

6. Witing Trisna Jalaran Saka Kulina


Sebuah pepatah Jawa yang melegenda. Bahwasanya cinta bisa jadi hadir karena seringnya bertemu, seringnya ngobrol dan seringnya menghabiskan waktu bersama. Itulah yang terjadi dengan Byan dan Btari. Ada yang pernah mengalami hal sama dengan mereka?

7. Sebaik-baik Perempuan adalah yang Bisa Menjaga Dirinya

Ada satu scene di mana Byan menggoda Btari karena keluguannya. Lalu Btari berkata semacam ini, tepatnya bagaimana agak lupa sih. “Ya kan aku sudah lama pakai hijab, masa iya masih gandeng-gandengan tangan.”

Semacam sebuah kritik sosial yang manis. Jleb banget sih buatku yang pernah mengalami masa-masa jahiliyah. Sudah memutuskan menutup aurat, tapi sama pacar yang notabene masih non mahram masih gandeng-gandengan tangan. Duh.Terus jadi tameng buat yang belum terketuk untuk menutup aurat, “noh, pakai jilbab aja masih lendot-lendotan, mending aku dong nggak berjilbab tapi nggak mau pegangan tangan sama laki-laki.” Nah, kaan.


Jangan salahkan hijabnya ketika seseorang masih belum bisa berakhlak sesuai pakaian yang dipakainya, karena menuju akhlak yang baik itu sebuah proses. Begitu pula jangan pula jadikan tidak berhijab sebagai tameng ‘yang penting jadi orang baik’, karena sejatinya kebaikan itu berlandaskan syariat. Maka perempuan yang bisa menjaga dirinya… ya yang sudah menjalankan syariat. Berhijab iya, nggak mau dipegang-pegang sama yang bukan mahram juga iya. Bukan salah satunya saja.

8. Laki-laki Sholatnya di Masjid


Kocak nih, saat kedatangan pakde dan budhenya Btari, mau nggak mau Byan ikut sholat di masjid. Waktu Byan hampir menolak, Btari bilang, "kalau laki-laki itu sholatnya di masjid, kalau di rumah nanti dipanggil laki-laki sholehah loo."

9. Doa adalah Seni dari Segala Ketidakmungkinan

Di ujung film romantis komedi ini ada scene di mana Byan dan Btari nonton film bareng. Di film itu ada kejadian kejar-kejaran di airport layaknya film-film pada umumnya. Mereka mengomentari adegan tersebut. Btari lalu berkata, “Kalau suatu hari kita terpisah, aku hanya akan mengangkat tanganku lalu berdoa kepada Allah untuk mempertemukan kita lagi. Karena Allah akan selalu mengabulkan doa-doa hambaNya.”Lagi-lagi bagaimana kalimat tepatnya aku lupa, wkwk. Intinya seperti itu.

Saat Btari berkata demikian, Byan mencibir dong. “Ya nggak semudah itu kali.”

Hingga sebuah kejadian membuat mereka terpisah. Byan yang kebingungan mencari Btari akhirnya terdampar di dalam MRT. Di tengah kerumunan penumpang, Byan tiba-tiba teringat percakapannya dengan Btari. Lalu ia pun menengadahkan tangan ke atas, menyampaikan munajatnya dan menyapukan kedua tangan ke wajahnya. Selesai doa itu dipanjatkan, eng ing eng… Btari ternyata berdiri tak jauh dari Byan.


Terkesan klise? Namanya juga film? Aaah pasti doa-doa kalian jarang terkabul ya, makanya bilang begitu, wkwk. Santai pals, yakin saja semua doa dikabulkan Allah… ada yang langsung dikabulkan sesuai yang kita minta, ada kalanya Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik atau malah menyimpan jawaban atas doa-doa kita di surgaNya. So, jangan perna lelah berdoa ya.

Akhir kata apakah aku akan rekomendasikan film ini ke teman-teman? Cuzz lah ditonton, buat ngisi couple time sama suami seru juga kok. Ada yang sudah nonton film ini juga? Cuzz ceritain dong pendapat kalian di kolom komentar!

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

17 comments

  1. Film ini yang gak sempat saya tonton.. Untung ada reviewnya di sini sehingga saya bisa tahu isi ceritanya..

    ReplyDelete
  2. Kalau jama dahulu, banyak simbah2 yang menikah karena dijodohkan dan minim perpisahan, dan mereka bahagia2 saja. Jarang yang pisah karena selingkuh apalagi KDRT. Entah kenapa sekarang nggak bisa begitu.

    Film memang ideal ceritanya, tetapi paling nggak, ada beberapa hal baik yang memang bisa diterapkan dalam kehidupan.

    ReplyDelete
  3. Tapi mungkin gak sih akan timbul cinta nantinya seiring hidup bersama?? Aku beberapa kali pernah dinasehatin sama temenku menikah sama orang yang mencintai kamu. Konsepku berbeda, menikahlah dengan orang dimana kalian saling mencintai.

    Karna benar, mempertahankan pernikahan tanpa cinta bisa disebut mustahil.

    ReplyDelete
  4. Saya udah nonton, nih. Alurnya emang mudah ditebak banget sih, tapi setuju sih film ini layak tonton dan bikin baper

    ReplyDelete
  5. Tahu film ini awalnya dari novel. Dan ketika liat trailernya langsung tertarik. Sayangnya nggak sempat nonton. T.T Untungnya ulasannya beserta nilai yang bisa dipetik. Jadi pembelajaran.

    ReplyDelete
  6. Aku nonton ini di bioskop. Wkkka. Dan menurutku eksekusinya berhasil. Sedihnya dapat, meltingnya dapat. Kalau jadi Bian aku juga pasti pilih Tari

    ReplyDelete
  7. Aku juga sebenarnya sudah nebak akhir ceritanya, tapi karena gabut dan ga ada pilihan lain, akhirnya nonton ini (kok samaan sih mba wkwk). Meskipun plotnya udah ketebak, cara sutradara menyampaikan filmnya lumayan bagus sih menurutku.

    ReplyDelete
  8. Saya jujur baru tahu film ini, Mbak Marita. Soalnya saya tidak update film-film yang pas diputar di bioskop. Sudah tidak ada bioskop di Kebumen.
    Tapi alau endingnya sudah ketebak, tetap banyak pelajaran yang bisa dipetik dari film ini ya, Mbak. Jadi penasaran ingin nonton.

    ReplyDelete
  9. belum sempet nonton film ini. Ternyata banyak hikmah dibalik alur ceritanya. Meski endingnya udah ketebak tapi kok tetap penasaran ya dan pengen nonton langsung, hi

    ReplyDelete
  10. ternyata menarik juga ya mbak film ini, aku juga sempat underestimate. Tapi sebenarna banyak juga teman-teman yang bilang filmnya bagus, eh yang bilang kisahnya bagus saat di wattpad juga banyak sih tapi saya jarang baca wattpad

    ReplyDelete
  11. Aku enggak membayangkan pernikahan tanpa cinta karena menjalin hubungan pacaran aja kalo enggak cinta susah. Aku sempat tonton sih potongan film ini di youtube memang memancing emosi juga sih untuk beberap scene.

    ReplyDelete
  12. Teenyata filmnya temanya reliji gitu yaa, wah unik juga inih pasti lika liku konfliknya mayan buat ditonton. Aku belum nonton sih kak, coba nanti mau streaming cari di iflix juga yaa?

    ReplyDelete
  13. Review-nya lengkap sekali ini, Mbak. Ya betul sekali endingnya mudah ditebak. Tapi aku lebih suka film happy ending begini jadi nggak banyak menebak dan berfikir.

    ReplyDelete
  14. di dalam sebuah film ini ada tulisan yang menarik bagi saya adalah doa.. karena doa adalah sesuatu hal yang tidak mungkin menjadi mungkin bagi kita karena ada campur tangan dengan Tuhan

    ReplyDelete
  15. Saya juga termasuk yang sempat nggak tertarik untuk nonton film ini di bioskop. Eh sekarang baca review-nya dan setuju sama poin ketujuh. Memang kadang ada film yang ingin ditonton tapi kesempatan belum sampai jadinya dicari-cari, ada juga yang sebenarnya nggak ingin ditonton eh tapi pas gabut entah kenapa ditonton juga.

    ReplyDelete
  16. Aku belum nonton film ini, tapi beberapa kali baca reviewnya. Menarik memang, karena akupun menikah dgn pria anak dari sahabat orang tua :)
    Jadi pengen juga liat filmnya setelah baca review dari mbak Marita.

    ReplyDelete
  17. Film yg sarat pesan yaaaa. Mau nonton juga aah. Meski keduanya menikah tanpa rasa cinta, tapi akhirnya happily ever after, khas film Indonesia banget ya. Tapi seandainya di kehidupan nyata pun juga demikian, pasti banyak juga dong ya yg mau dijodohin *eeh.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter