3 Langkah Mengokohkan Bonding Suami Istri ala Mbak Vida Robi’ah

3 Langkah Mengokohkan Bonding Suami Istri ala Mbak Vida Robi’ah


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Pernikahan adalah ibadah terlama, oleh karenanya perlu ilmu yang cukup agar dalam menjalaninya kita bisa senantiasa tetap lurus pada koridor syariat yang Allah tetapkan. Bukan hal yang mudah, tentunya ada banyak tantangan dan ujian yang harus kita lalui untuk bisa menuju dan menjaga rumah tangga agar mencapai sakinah, mawadah, warohmah.

Cinta akan selalu diuji dengan persoalan, karena pernikahan perlu immunity bukan sterilisasi. Kita harus selalu menyadari bahwasanya visi rumah tangga ‘SAMARA’ bukanlah seperti jalan tol.

Sebuah kalimat pembuka dari mbak Vida Robi’ah Al Adawiyah dalam workshop ketahanan keluarga yang mengangkat tema ‘Bersama di Dunia, Bersama Kekal di Jannah-Nya.’ Diadakan oleh Rumah Keluarga Indonesia (RKI) bekerjasama dengan PKS DPC Banyumanik, seminar tersebut dihadiri kurang lebih 50 pasang suami istri dan beberapa single lillah, yang sebenarnya nggak semuanya masih single, namun karena tidak datang bersama pasangannya jadilah dianggap single, hehe.


Nasyid Alief Indonesia dan Mbak Sesil, sang istri


Nuansa romantisme menguar dengan dahsyat dalam meeting room Hotel Serrata pada hari Minggu, 2 Februari 2020. Pasangan-pasangan suami istri yang hadir nampaknya sudah siap menimba ilmu tentang kerumahtanggan dari Mbak Vida dan suaminya, Ustaz Hatta Syamsudin. Keromantisan bertambah berkali-kali lipat ketika Alief Indonesia, yang ternyata suaminya mbak Sesil, membuka acara dengan nasyid-nasyid bergenre romantis. Mau dengar salah satu lagunya?



Ternyata oh ternyata nasyid-nasyid Alief Indonesia pernah booming pada zamannya. Duh, maafkan emak-emak yang mantan anak metal, baru dengar lagu-lagu beliau ya di ruangan ini. La dulunya dengerin lagu apa hayooo. Dengerin lagu yang dibuatin mantan pacar (baca: suami) laaah, wkwk. Sayang rekaman suara suami tak sempat terdokumentasi dengan baik, padahal ada beberapa lagu yang doi bikin lo.

Baiklah, back to acara workshop ketahanan keluarga lagi yuuuk. Sebelum panjang lebar aku berbagi apa yang sempat kucatat pada pagi sampai siang hari itu, aku mau membagikan profil dari Mbak Vida terlebih dahulu ya.

Profil Mbak Vida Robi’ah Al Adawiyah


Beliau lahir di Solo pada 15 Mei 1981. Dari pernikahannya bersama Ustaz Hatta Syamsuddin, LC,MHI, beliau dikaruniai 3 Putri dan 2 putra. Selain aktivitas utamanya sebagai seorang Ibu rumahtangga, mbak Vida juga memiliki beberapa aktivitas di ranah publik, sebagai berikut:

  • Founder dan Ketua LSM KPPA Benih,
  • Founder Sekolah Pra Nikah (SPN)Benih
  • Founder Sekolah Istri dan Emak (SIMAK)
  • Konselor Keluarga di Rumah Keluarga Indonesia (RKI) Kota Solo,
  • Penulis Buku dan Penulis Artikel Parenting di beberapa majalah komunitas
  • Praktisi Talents Mapping

Vida Robi'ah Al Adawiyah dan suami


Masya Allah… banyak sekali peran beliau, terbayang betapa banyak kebermanfaatan yang telah beliau bagikan. Sosok yang seperti ini selalu sukses membuat iri, lalu bertanya kepada diri sendiri sampai sejauh ini apa yang sudah kubagikan pada sekitar. Hidup sudah hampir mencapai tahun ke 35 kok rasa-rasanya begini-begini saja.

Lalu tertohok ketika mbak Vida lagi-lagi memberikan wejangan dengan gaya bahasanya yang Solo banget.

Seringkali kita gagal memberikan peran yang terbaik karena selalu mengecilkan arti diri sendiri. Merasa seperti remahan khongguan. Sudah saatnya bagi para perempuan untuk jangan mudah baperan, tapi ayo berperan!

Waduh, dilecut dengan kalimat sakti mandraguna seperti itu semakin nggak sabar untuk segera menimba ilmu dari perempuan yang sedang mengandung buah hati keenamnya ini.

Bentuk-bentuk Ujian Pernikahan


Jangan pernah bermimpi memiliki keluarga tangguh ketika kita menghindari ujian dan ketidaknyamanan.

70% persoalan perempuan bisa selesai dengan bicara. Seperti yang kita sering dengar bahwasanya dalam sehari perempuan butuh mengeluarkan minimal 20ribu kata per hari. Bandingkanlah dengan laki-laki yang hanya dengan mengeluarkan 7000 kata per hari saja sudah cukup puas. 7000 kata per hari ini bisa saja sudah habis saat mereka berada di tempat kerja. Begitu sampai pulang, kebutuhan berkata-katanya sudah selesai. Nggak ngobrol sama istri pun mereka merasa nggak ada masalah.

Berbeda dengan para istri yang selalu menanti suaminya pulang dan berharap bertanya tentang bagaimana keadaannya hari ini, bagaimana perasaannya hari ini, apa saja aktivitasnya hari ini dan pertanyaan-pertanyaan sederhana lainnya. Sayangnya banyak suami yang nggak peka dan nggak memahami kebutuhan istrinya tersebut. Istrinya sendiri terlalu banyak memberikan kode yang sama sekali tak pernah bisa dimengerti suaminya. Jadilah komunikasi menjadi buntu dan rumah tangga semakin garing.


ujian dalam perjalanan pernikahan


Persoalan rumah tangga sebagian besar diawali dari hal-hal semacam itu. Hingga kemudian dari hal sederhana tersebut muncul beberapa bentuk ujian pernikahan:

1. LDM


Long Distance Marriage, namun mbak Vida lebih senang menyebutnya sebagai Long Distance Mbebayani. Mbebayani means berbahaya. Kenapa berbahaya? Pernikahan jarak jauh adalah salah satu sumber terjadinya banyak masalah di dalam rumah tangga. Bonding yang semakin tak terjalin, komunikasi yang sering berbenturan dan banyak lagi hal-hal berbahaya yang bisa terjadi disebabkan LDM ini. Oleh karenanya, bukan hanya mbak Vida, hampir semua pakar parenting dan pernikahan berpendapat bahwa LDM itu jangan lama-lama.

2. Stagnansi


Kemandegan dalam sebuah hubungan banyak terjadi karena adanya kebuntuan komunikasi. Juga karena pernikahan sudah menjadi sekedar rutinitas, tanpa ada bumbu-bumbu romantisme yang meledak-ledak. Padahal romantisme itu perlu, pals. Masa kalah sama abege-abege yang nggak jelas itu. Pasangan halal seharusnya jauh lebih romantis.

3. Hadirnya Pihak Ketiga


Pihak ketiga di sini bukan hanya pelakor atau pebinor ya, namun bisa jadi mertua, ipar dan pihak-pihak lain selain suami istri yang seringkali ikut campur dan bisa menimbulkan masalah dalam rumah tangga.

4. Ujian Kemapanan Ekonomi


Ekonomi yang tidak mapan bisa memicu pertengkaran hingga perceraian. Bahkan tak sedikit istri yang menuntut cerai suaminya karena ketidakmapanan ekonomi. Sebaliknya, ekonomi yang mapan pun juga bisa menjadi ujian. Biasanya para suami yang ekonominya sudah di atas angin lebih banyak yang punya pikiran untuk ‘buka cabang.’ Duh duh, kalau gitu yang sedang-sedang aja deh ya… biar aman, hehe.

5. Potensi Istri Tidak Terfasilitasi


Banyak suami yang tak mau tahu dan tak memfasilitasi potensi istrinya, sehingga pada akhirnya istri merasa seperti remahan rengginang karena sehari-hari hanya mengurusi cucian, masakan dan ompolnya anak-anak. Bahkan banyak suami yang tak memberikan apresiasi kepada hal-hal yang dilakukan oleh istri. Menganggap bahwa hal-hal tersebut adalah suatu yang wajar dan kewajiban. Rasa tak dihargai dan kurangnya apresiasi ini bisa menurunkan cara pandang istri terhadap dirinya sendiri. Maka nggak heran kalau banyak perempuan yang masih belum bisa bangga dengan profesinya sebagai seorang ibu rumah tangga.

“Ah, cuma di rumah saja ngurus anak-anak.”

“Saya cuma ibu rumah tangga kok.”

Hey, para suami… yuk berikanlah apresiasi kepada istri, nggak perlu pakai berlian kok. Cukup bisikan rasa terima kasih dan pijatan lembut saja sudah bikin istri happy. Apalagi kalau suami mau memberikan ruang gerak bagi istrinya untuk mengembangkan potensi dirinya, pasti istri akan semakin berbinar bahagia.


couple time ala martin marita


Untuk mengatasi ujian-ujian di atas, dalam sebuah pernikahan selalu butuh rest area untuk saling menguatkan. Rest area ini semacam waktu khusus untuk berdua alias couple time. Mau diisi dengan kegiatan atau aktivitas apa, tentu saja setiap pasangan punya caranya masing-masing. Bisa jadi datang kajian bareng kaya aku dan suami pada hari itu. Atau sekedar ngopi bareng tiap malam untuk ngobrol ngalur ngidul.

Kata Abah Ihsan, “suami istri yang semakin sering ngobrol receh, akan lebih mudah saat ngobrol serius.”

Dari pemaparan Mbak Vida hari Minggu yang lalu, aku baru tahu lo kalau ternyata di Indonesia itu punya UU Ketahanan Keluarga. Nggak main-main, UU-nya sendiri udah ada sejak 1992! Hmm, berarti programnya yang kurang membumi atau malah nggak ada program yang nyampai ke masyarakat ya? Ada UU-nya tapi nggak diimbangi dengan program yang signifikan. Duh, sedih yaa..


UU no 10 tahun 1992 tentang ketahanan keluarga


proses ketahanan keluarga

Ketahanan keluarga akan mampu membentuk keluarga yang tangguh. Yaitu keluarga yang harmonis, dan mampu mengatasi segala masalah yang menghadang. Artinya fungsi dalam keluarga tersebut berjalan dengan baik.

Memaksimalkan Fungsi Keluarga dengan Mempererat Bonding Suami Istri


Agar fungsi dalam keluarga berjalan maksimal, maka perlu adanya bonding di antara suami dan istri. Mbak Vida menyebutkan tiga langkah untuk mengokohkan bonding antara suami istri. Berikut ini tiga hal tersebut:

1. Visi Spiritual

visi spiritual mengokohkan bonding suami istri


Suami istri yang memiliki visi yang tak sekedar visi duniawi, akan lebih kuat dalam berinteraksi. Cara mereka dalam menjalani rumah tangga dan menyelesaikan masalah tidak lagi memikirkan hal-hal duniawi, namun sudah berkiblat pada surgawi. Suami istri yang memiliki visi spiritual akan jauh lebih kuat ikatannya karena mereka sadar pernikahan bukan lagi soal senang-senang, namun sebuah ibadah dan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan kepada Sang Maha Cinta.

2. Cinta Sebagai Pilihan Sadar


cinta sebagai pilihan sadar mengokohkan bonding suami istri


Cinta suami istri seharusnya kadarnya tak lagi menye-menye seperti para abege. Cinta antara suami istri seharusnya tak lagi berkutat pada “Aku cinta kamu karena…” namun sudah berubah menjadi “Aku cinta kamu meskipun…”

Cinta dalam sebuah pernikahan bukan lagi sekedar perasaan, namun keinginan dan pilihan sadar untuk terus bersabar dalam mempertahankan rumah tangga. Inilah yang disebut dengan rahmah.

3. Tujuan Awal

tujuan pernikahan untuk mengokohkan bonding suami istri


Pasangan suami istri yang memiliki tujuan awal kuat biasanya memiliki daya juang yang lebih dibandingkan pasangan yang tujuan awalnya kurang kokoh, apalagi yang hanya sekedar untuk bersenang-senang. Suami istri yang memiliki tujuan awal kokoh dalam pernikahan biasanya akan mampu menjadikan pernikahan sebagai aksi kolaborasi dalam pencapaian misi personal dan membentuk misi komunal keluarga.

Nah, sekarang saatnya kita berkaca pada pernikahan masing-masing. Sudahkah tiga langkah di atas sudah kita miliki? Atau selama ini kita menjalani pernikahan dengan apa adanya? Padahal kalau kata Tulus, “jangan cintai aku apa adanya... tuntutlah sesuatu biar kita jalan ke depan.” Tentunya bukan saling menuntut berlebihan, namun saling bertumbuh dan mendukung satu sama lain.


cinta perlu diuji ketahanannya


Materi dari mbak Vida belum berakhir sampai di sini. Namun sengaja aku simpan untuk besok hari. Masih pengen baca kelanjutannya? Sabar yaaa. Makanya, jangan lupa untuk selalu main-main ke Marita’s Palace, hehe. Thanks for reading, semoga bermanfaat dan sampai jumpa besok, Insya Allah.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

10 comments

  1. Berjauhan memang tak boleh lama lama kalo udah nikah..bahayaaaaa ..banyak godaannya, bisa bisa ngaku single😁.

    ReplyDelete
  2. Kirain saya bonding itu cuma harus dibangun antara ibu dan anak :)
    Ternyata penting juga ya tetap jaga bonding dengan pasangan, biar awet dan langgeng terus pernikahannya

    ReplyDelete
  3. Widih lengkapnyaaa.. mungkin nanti pas aku mau menikah baca ini lagi XD mudah-mudahan lancar yah

    ReplyDelete
  4. Aku sampai sekarang kali ngobrol sama suamiku masih merasa canggung. Hehe. Ngobrol berdua maksudnya. Sehari-hari mungkin terlalu sering bahas anak2. Begitu cuma berdua malah krik2. Kudu sering couple time berarti=)

    ReplyDelete
  5. saya menikah sudah 15 tahun
    memang bisa dikatakan lumayan mulus
    tapi yang namanya bertemunya 2 manusia dengan berbeda karakter dalam satu rumah, tentu akan menciptakan riak, perselisihan, ketidaknyamanan selain tentu rasa bahagia, saling melengkapi, menyayangi dsbnya.

    Perlu kedewasaan dalam menyikapi semua masalah yang ada
    selama ini trik saya dalam menyikapi masalah adalah mengalah
    mengalah untuk menang
    tapi memang dalam hubungan rumah tangga bukan mencari yang menang atau kalah
    tapi setidaknya, bisa mendapatkan apa yang dimau dari buah dari permasalahan tadi meski hasilnya win win solution

    ReplyDelete
  6. Tak ada pernikahan yang muluuuus tanpa rintangan
    Semua punya tantangan dan cobaannya sendiri
    Setuju banget ini, bonding antara suami istri itu perlu dijaga dengan baik
    Komunikasi tentunya jadi kunci utama

    ReplyDelete
  7. Btw nasyidnya bagus sekali kayaknya saya sudah pernah dengar deh tapi lama juga nggak dengar nasyid lagi jadi lupa hehe.

    Bte materi yang dibawakan Mbak Vida tentang ketahanan keluarga ini menarik sekali. Noted nih buat saya yang rumah tangganya juga baru seumur jagung.

    ReplyDelete
  8. Hmm sebenernya yang paling dasar itu pondasinya harus sama2 kuat dulu ya kak biar nanti kalau komunikasi itu bisa satu frekuensi.untuk nyari jalanntengah ketika ada masalah

    ReplyDelete
  9. MasyaAllah bertabur dengan ilmu pernikaahan ya Mba
    kapan2 kabarin lagi kalau ada mba mauuu
    iya aku permasalah dari pihak ke tiga yang dari piihak keluarga
    terlalu ikut campur.

    ReplyDelete
  10. Aku tauu lagu2nya Alief. Lagu Maharku Untukmu itu sering aku denger, trus dengernya suka sambil bayangin kalau aja itu suamiku yg nyanyiin. Hahaha.

    Wah segini lengkapnya ternyata materinya belum semua ya. Ini wajib dibaca sama istri maupun suami nih.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter