3 Jurus Ampuh Menghadapi Corona dengan Bijak

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Senang sekali ketika diinformasikan bahwa mulai pekan kedua santri Kuttab Al Fatih belajar online di rumah, setiap pagi menjelang jam belajar santri akan ada kajian streaming via zoom yang disampaikan langsung oleh Ustaz Budi Azhari, Lc.

Apa yang aku tulis di sini berdasarkan apa yang kutangkap dan kupahami saat menyimak kajian tersebut. Jika ada salah-salah kata dan pemahaman dalam menyampaikannya ulang, maka murni dari kesalahanku ya, pals.
Oh ya jangan tanya bagaimana caranya biar bisa ikut menyimak kajian pagi Ustaz Budi Ashari ya. Dikarenakan kajian ini spesial ditujukan kepada wali santri Kuttab Al Fatih (KAF) di seluruh Indonesia. Pengen ya bisa belajar insentif secara langsung dengan Ustaz Budi Ashari? Cuzz, sekolahin anaknya dulu ke KAF, hehe.

Badai Corona bernama Covid-19 ini memang cukup membuat hati kita luluh lantak, namun sebagai umat muslim pastinya kita ingat bahwasanya setiap takdir Allah selalu baik. Itulah kenapa kita selalu diingatkan untuk mensyukuri segala hal yang terjadi di dalam hidup, termasuk ujian. Karena sejatinya ada banyak hikmah yang bisa didapatkan dari setiap ujian bagi orang yang beriman.

Jujur awalnya aku menanggapi corona cukup santuy. Namun begitu pemerintah mulai merumahkan anak-anak dan menghimbau para pekerja kantoran untuk work from home, mulai deh ada rasa ketar-ketir juga. Apalagi setiap hari jumlah pasien covid-19 meningkat. Belum lagi di grup ini itu mulai banyak berita-berita yang semakin membuatku mengelus dada.

Sebagaimana informasi yang aku ketahui dari dr. Tirta saat diundang di podcastnya Deddy Corbuzier bahwasanya Covid-19 sebenarnya adalah virus yang memungkinkan bagi tubuh kita untuk melakukan penyembuhan sendiri, asal usia masih di bawah 40, imunitas kita baik, tidak memiliki penyakit bawaan (jantung, diabetes, darah tinggi, dsb), dan SOP dalam kehidupan sehari-hari dijalankan secara tepat. Sayangnya dengan semakin meningkatnya lalu-lalang berita di media sosial dan laman-laman berita, kita mulai merasa cemas berlebihan. Tanpa sadar, rasa cemas, sedih, khawatir dan overthinking itulah yang menurunkan imunitas kita.

Masya Allah, Ustaz Budi Ashari seakan menjewer telingaku pagi ini. Benar adanya bahwa hadirnya corona adalah termasuk salah satu tanda akhir zaman. Namun bukan berarti kita harus cemas berlebihan, karena sesungguhnya corona tidak ada apa-apanya dibanding wabah thaun. Selama corona menyerang kita masih bisa tidur malam dengan cukup kan?

Dikisahkan pada Kitab Bidayah An Nihayah, wabah thaun di masa khalifah Bani Abasiyah pada tahun 478 jauh lebih mengerikan, tidak hanya menimpa manusia. Hewan ternak dan hewan buas pun diserangnya. Pada saat itu bahan makanan seperti susu dan daging pun sulit didapat. Petir datang sambung menyambung, bahkan masyarakat saat itu mengira kiamat sudah hampir datang.

Maka Ustaz Budi Ashari mengingatkan bahwa menjaga hati adalah cara terbaik dalam pertarungan melawan corona. Hati adalah panglima yang akan menguatkan fisik dan akal kita. Dari uraian gurunda Budi Ashari, aku menggarisbawahi ada 3 jurus ampuh yang harus kita kuasai dalam menghadapi corona.

A. Serahkan pada Ahlinya

Ustaz Budi Ashari membacakan Al Quran Surat An Nisa Ayat: 83 sebagai berikut;

Dari ayat tersebut kita bisa mengambil kesimpulan bahwasanya ketika datang sebuah kabar terkait keamanan yang bisa membuat rakyat khawatir dan ketakutan, maka serahkan saja kepada Rasulullah dan ulil amri yang memang berhak dalam mengambil keputusan. Kalau ditarik pada kondisi yang kita hadapi sekarang, maka percayakan saja kepada pemerintah dalam pengaturannya. Entah itu dengan cara lockdown, social distancing, atau apapun itu.

Ikuti saja himbauan dan aturan yang disampaikan oleh pemerintah. Kita tidak perlu ikut-ikutan berkomentar, apalagi menyudutkan kerja pemerintah. Tahan lisan dan jempol-jempol kita untuk nyinyir yang tak bermanfaat. Bukankah mendoakan agar pemerintah dan bangsa ini senantiasa aman jauh lebih menenangkan?

Begitu juga soal protokol kesehatan, insya Allah para tenaga medis telah memberikan usaha terbaik mereka untuk kesembuhan para pasien. Baik yang sudah positif terinfeksi Covid 19, ODP atau PDP. Kita tak perlulah menambah-nambahi dengan kekepoan yang tak pada tempatnya. Tugas kita hanyalah mengikuti apa yang sudah dihimbau dan diatur oleh pemerintah dan para ahli kesehatan.

beberapa masjid sudah ada yang tidak menyelenggarakan sholat berjamaah

Terkait tentang ibadah, ikuti saja fatwa para ulama dan pemerintah di daerah tersebut. Jangan sampai kita terjebak dengan perbedaan pendapat di dalam masyarakat. Jika memang di suatu daerah sudah dihimbau untuk shalat di rumah, maka ikuti saja. Menutup masjid adalah hal yang diperbolehkan pada kondisi-kondisi tertentu, bahkan Masjidil Haram pernah beberapa kali ditutup dan tidak bisa digunakan untuk thowaf. Shalat berjamaah di rumah insya Allah tidak akan mengurangi keberkahan. Namun jika tempat tinggal kita masih aman, silakan saja tetap melaksanakan shalat berjamaah tentunya dengan aturan yang telah disesuaikan.
Karena kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah, maka kita akan mengikuti setan dan sedikit yang selamat.
Ustaz Budi Ashari juga mengingatkan untuk tidak melakukan sesuatu dikarenakan rasa kekhawatiran, karena sesungguhnya kekhawatiran adalah bentuk dari dzan (prasangka), dan itu berbahaya. Untuk melakukan ibadah dan kegiatan apapun dibutuhkan keyakinan, juga ilmu. Jika memang ada undangan atau keharusan untuk ke luar rumah, maka ditimbang apakah kemaslahatannya jauh lebih besar dibanding mudharat-nya.

Intinya adalah serahkan dan ikuti saja para ahli. Jangan termakan dan menyebarkan berita hoax yang hanya akan menambah keresahan. Jika ingin ikut berpartisipasi dalam memberikan edukasi kepada masyarakat sekitar, pastikan info yang kita bagikan adalah info resmi dari pemerintah atau media-media terpercaya. Seperti ini misalnya;

Apabila bertemu dengan tetangga, kerabat atau keluarga yang masih menyepelekan himbauan atau aturan pemerintah dan para ahli, berikan nasehat dengan kata dan kalimat yang baik. Pada saat seperti ini yang kita butuhkan adalah saling menguatkan genggaman tangan dan jangan terpecah belah.

B. Bertawakal

Tawakal adalah solusi terakhir ketika kita sudah melakukan semua anjuran pemerintah dan ahli kesehatan (dokter) dalam rangka menghadapi corona. Karena siapa yang bertawakal kepada Allah maka akan Allah cukupkan.
Tawakal adalah proses menanti solusi dengan mengedepankan kepercayaan kita pada Allah. Sejatinya menunggu solusi merupakan bentuk ibadah.
Ada kutipan syair indah tentang takdir, "Biarkan hari-hari itu bertingkah semaunya, tugas kita hanya menyamankan hati ketika datang takdir Allah. Jangan pernah gelisah atas takdir yang akan datang seperti melewati gelapnya malam."

Syair indah tersebut mengingatkan kita untuk selalu meyakini bahwa Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar dan baik. Juga meyakini bahwa segala hal yang menimpa umat manusia di dunia ini telah tercatat. Tugas kita hanyalah mengimani dan bertawakal kepadaNya. Di saat seperti sekarang, kita tak boleh lemah dan tenggelam terlalu dalam di jurang kekhawatiran. Justru kita harus membentuk diri kita menjadi orang yang berkarakter kokoh, teguh dan lapang dalam menyikapi takdir Allah. 

Karena sejatinya tidak ada kesedihan yang terus menerus, demikian juga kesenangan. Tidak ada kesialan dan kesempitan yang terus menerus, demikian juga keberuntungan.
Berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah atas segala takdir kehidupan adalah lecutan yang akan membuat kita bangkit dari kecemasan, keputusasaan, sikap pesimis dan kegelisahan lainnya. Karena Allah tergantung prasangka hamba-Nya.
Amalan dengan membangun hati agar lebih kokoh dan tak tenggelam dalam gelisah akan melahirkan amal-amal spiritual.
Imam Syafi'i berkata, "Katakanlah pada semua orang yang hatinya pesimis, dan dia sudah merasa sempit sekali bahwa rahasia bahagiamu adalah kepada Yang Menciptakan Kehidupan dan Pembagi Rizki."

Maksudnya yaitu jangan pernah henti melafazkan doa-doa. Jagalah doa pagi dan petang (dzikir) karena itu adalah doa perlindungan. Imam Syafi'i berkat, “Saya belum pernah melihat ada sesuatu hal lain yang lebih baik dalam menghadapi wabah, kecuali tasbih.”

Berikut ini adalah doa-doa yang dianjurkan untuk senantiasa dibaca untuk menghadapi corona:

1. Dzikir Pagi Sore

2. Al Qoshos: 16 - Doa Nabi Musa

3. QS Hud: 47 - Doa Nabi Nuh

4. QS Al A’raf: 27 - Doa Nabi Ibrahim

5. QS Al Anbiya’: 87 - Doa Nabi Yunus


C. Mengeluarkan Sedekah

Allah telah menurunkan banyak kebaikan di dalam hidup kita. Bahkan di balik ujian corona ini pun tersimpan banyak kebaikan. Maka sudah sepantasnya jika kita membalas kebaikan Allah. Salah satu caranya yaitu dengan melakukan kebaikan pada orang lain.
Di era wabah corona ini, banyak saudara kita yang memerlukan uluran tangan. Ayo kita bantu semampunya. Tenaga medis yang kekurangan APD. Tenaga kerja harian yang rentan terhadap covid-19 tak mampu membeli masker, juga kurang edukasi mengenai perlindungan diri dari corona. Kita bisa bersedekah sesuai kemampuan kita. Sejatinya sedekah akan memadamkan bala, juga kemurkaan Allah. Yang terbantu akan bahagia, yang membantu akan dimuliakan oleh Allah.

Jikalau kondisi kita tak memungkinkan untuk bersedekah, kita masih tetap bisa mendoakan dengan doa-doa yang baik.

Hikmah dari Wabah Corona

Saat kita merasa corona terasa begitu mengerikan, ingatlah bahwa ada ada cobaan dengan level paling besar sepanjang kehidupan ini. Belajarlah dari kisah Nabi Ayyub. Nabi Ayyub tak hanya kehilangan harta, namun juga anak-anaknya. Namun beliau tetap berlapang dada. Ingatlah bagaimana Nabi Ayyub berkata kepada istrinya, “Sudah berapa lama kita bahagia?” Istrinya lalu mengatakan, “80 tahun.” Nabi Ayyub lalu kembali bertanya, “Lalu mengapa kita tidak sabar dengan cobaan yang hanya 7 tahun ini?”
Mari kita hitung nikmat Allah dalam kehidupan kita, bukankah jauh lebih banyak dibandingkan ujian corona ini? Maka ayo rapatkan barisan; ikuti himbauan pemerintah dan para ahli kesehatan. Dan bentengi diri dengan doa-doa terbaik. Karena berdoa adalah senjatanya orang yang beriman.
Thaun/ wabah menurut Imam Ibnu Hajar Asqolani dalam kitab yang disusunnya setelah tiga putrinya meninggal karena thaun. Thaun rata-rata dimulai di akhir musim semi dan berakhir di awal musim panas.

Ramadhan tahun ini diperkirakan sudah memasuki musim panas. Semoga wabah corona ini segera berakhir sehingga nikmat kita akan berlipat. Yaitu nikmat syukur kita atas hadirnya Ramadhan dan nikmat syukur atas hilangnya wabah Corona. InsyaAllah. Aamiin ya Rabb.

Sudah sepantasnya sebagai makhluk yang mengimani keagungan Allah, kita percaya bahwa dibalik wabah ini tersimpan banyak kebaikan. Kita yang dulunya mungkin acuh terhadap pola hidup sehat, suka makan asal dan seadanya, kini jadi lebih berhati-hati dalam menjaga kebersihan dan memilih makanan.

Yang dulunya hampir tak ada waktu bercengkrama dengan anak, kini jadi punya waktu lebih banyak bersama keluarga. Yang dulunya mungkin sering menyepelekan tugas guru, kini merasakan sendiri bagaimana berjasanya seorang guru dalam pendidikan anak-anak kita. Corona tanpa disadari telah mengembalikan fitrah keluarga. Maka, manfaatkan kesempatan ini untuk #dirumahaja berkumpul dengan anak dan jadikan rumah kita sebagai tempat ternyaman.

Bagi kaum muslim, sadarilah bahwa pada saat ini, kita sebenarnya sangat bisa panen pahala. Karena dengan hadirnya corona, semakin banyak doa yang bisa dipanjatkan. Begitu banyak dzikir yang bisa diucapkan. Mari bersama-sama doakan saudara-saudara kita yang sudah terinfeksi agar bisa segera dipulihkan, dan perbanyak doa untuk kita agar dijauhkan dari wabah tersebut. Aamiin aamiin ya Rabb.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

21 comments

  1. masyaAlloh artikelnya berangkat dari sudut pandang agama dan dunia, membuat kita harus berpikir dari 2 sisi sehingga makin membuat kita dekat dengan pencipta, makasih ya mb artikelnya sangat bagus, semoga kita selalu sehat dan bahagia aamiin Ya Alloh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Ya mbak, dengan begini jadi bisa lebih pasrah dan nggak terlalu khawatir dengan berita-berita di luar. Sehat-sehat selalu ya mbak.

      Delete
  2. Begitu, ya. Terima kasih sudah sharing materi dari ustadz budi anshari. Saya jadi tahu karena baca di sini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh, kalo narasumbernya Ustadz Budi insyaAllah kredibel dan bernas.
      Sharing yg super duper berfaedah. Makasii makasiii

      Delete
    2. Sama-sama mbak Farida Pane. Makasih sudah berkunjung mbak Nurul Rahma.

      Delete
  3. Setidaknya memang pandemi covid-19 ini memberikan banyak hikmah yang luar biasa kepada kita. Sisi religiusitas disini lebih ditekankan♥️

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, dipanggil sama Sang Khalik biar semakin mendekat dan menghamba kepadaNya.

      Delete
  4. Enak dibaca artikelnya mbak. Penuh info dan ilmu dan doa... suka deh. Dan betul banget, yang penting semuanya dikaitkan dengan Allah. Allah menakdirkan sesuatu, berarti ada hikmah dan kemaslahatan yg bisa diambil dari situ...

    ReplyDelete
  5. Barakallahu fiikum....

    ReplyDelete
  6. Musim corona, semoga semua warga Indonesia diberi kesehatan, yang sakit diberi kesembuhan. Tetap stay save, jaga kesehatan, kebersihan.

    ReplyDelete
  7. Terima kasih buat tulisan yang mencerahkannya, Mba. Semoga wabah ini segera berlalu, semua bisa beraktivitas normal kembali seperti biasa..

    ReplyDelete
  8. Aamiin, Masya Allah tulisannya menyejukkan sekali. Tetap berprasangka baik sama Allah, banyak hikmah yg bisa didapat, dan insya Allah virus corona segera musnah, sambut Ramadhan penuh ceria. Aamiin...

    ReplyDelete
  9. Masya Allah mba, bagus banget artikelnya. Menjawab semua yang kecemasan di wabah Corona di sisi agama. Aamiin semoga wabah ini cepat usai dan manusia semakin mendekatkan diri pada-Nya karena penyakit ini.

    ReplyDelete
  10. Sepakat mbak pembahasannya sepaket bgt ya dari Ustad Budi, memang kita serahkan ke ahlinya. Plus jgn khawatir berlebihan malah menurunkan imunitas. Waspada iya panik jangan. Dan 1 lagi ujian kita adalah tawakal pada Allah

    ReplyDelete
  11. Masyaa Allah, lengkap banget artikelnya. Terima kasih sudah mengingatkan dari sisi agama. Ustadz Budi Ashari salah satu ustadz yang sering saya ikuti kajiannya via YouTube.

    ReplyDelete
  12. Masya Allah... terharu bacanya. informstif lg

    ReplyDelete
  13. makasih banyak mba infonya bermanfaat sekali, semoga wabah ini segera berakhir dan kita bisa lebih baik lagi setelah wabah ini. benar-benar intropeksi diri. Aamiin.

    ReplyDelete
  14. MasyaAllah, terima kasih sharingnya, Mbak Marita. Hikmah dari adanya wabah ini adalah kita jadi bisa mendekatkan diri kepada Allah ya, Mbak. Dengan berikhtiar semaksimal mungkin secara fisik dan psikis lalu berserah pada ketetapanNya. Semoga wabah ini cepat berlalu. Aamiin.

    ReplyDelete
  15. Semoga aja ya dengan datangnya Ramadhan si Covid-19 ini beneran berlalu.
    Di rumah saja sih biasa aja rasanya, tapi gelontoran informasi yang meluber-luber. setiap saat ngomongin Corona, itu loh yang bikin stres. Buka grup WA, itu lagi. Buka grup lain, ituuu lagi. :)) Bukannya tidak ingin tau perkembangan, tapi kalau berminggu-minggu menyerap informasi gitu terus rasanya jadi enggak sehat deh jiwa dan raga kita.

    ReplyDelete
  16. Masya Allah mbak, tulisannya menenangkan banget...
    Alhamdulillah saya pun udah beberapa hari ini sosial media distancing. Membatasi baca informasi mengenai Corona ini. Supaya hati dan pikiran kita tetap tenang ya mba

    ReplyDelete
  17. Makasih tulisannya mbak..
    Memang skrg waktunya fokus ke upaya preventif, salah satunya ya stay at home

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter