Resume Kajian Ibu Teladan Terbaik Bagi Anak



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Liburan di Kuttab Al Fatih memang luar biasa. Tidak hanya santrinya yang dibekali PR hafalan, orangtuanya pun dibekali PR untuk menonton video kajian yang disampaikan oleh Ustaz Budi Ashari, Lc. Namun PR nya tak henti di situ. Sebagai bukti telah menonton video tersebut, kami juga diminta untuk membuat resumenya. Resume tersebut harus ditandatangani pasangan masing-masing, misal resume-ku ditandatangani oleh ayahnya Ifaffan, dan resume yang dibuat ayah Ifaffan harus aku tandatangani. Baru kemudian resume tersebut dikumpulkan kepada PJ Kuttab.

Para suami diminta untuk menonton video dengan tema ayah, dan ibu diminta untuk menonton video tentang ibu. Aku sendiri bukan kali pertama nonton video kajian yang dijadikan PR. Saat pertama kali mendaftar ke KAF, seingatku video ini juga menjadi salah satu video yang harus ditonton. Meski bukan kali pertama aku menyaksikan video ini, tetap saja aku merasa kembali tertampar dan terjewer. 

Karena merasa isi kajiannya bagus banget, dan sayang jika hanya dikumpulkan kepada PJ Kuttab, aku berinisiatif untuk membagikan resume yang sudah kuketik ke blog ini. Jika yang punya kelapangan waktu boleh lo menonton sendiri video kajiannya. Durasinya cukup panjang, jadi harus siap-siap cemilan dan kopi sembari mendengarkannya.




Namun jika teman-teman belum sempat untuk menonton video tersebut, silakan jika mau membaca resume yang telah kususun. Tentu saja dengan keterbatasan yang kumiliki, bisa jadi banyak poin yang terlewat dan tidak tertangkap dengan baik. Maka yang terbaik tetaplah menonton videonya secara langsung. 

Spoiler alert: it will be a very long post, so be ready, pals.

Kajian diawali Ustaz Budi dengan pembukaan yang dihubungkan pada nama Sekolah Emas, yang merupakan shohibul hajat event tersebut. 

Ibu-ibu memang suka emas. Baik emas yang ada di cincinnya ataupun yang ada di rumahnya. Namun itu hal yang baik, berarti ibu-ibu ini adalah generasi anti inflasi. Maksudnya begini, dunia boleh naik turun, tren boleh ke mana-mana, tapi ibu-ibu pencinta emas akan tetap ada di tempatnya. Faktanya saat ini, dinar jika dirupiahkan mencapai 2 jutaan. Dinar anti inflasi. Maka banggalah menjadi ibu-ibu emas, karena insya Allah akan melahirkan emas.

4 Peran Perempuan


Ibu adalah sekolah pertama. Menyiapkan satu orang ibu sama dengan menyiapkan satu generasi. Bagi yang ingin merusak generasi Islam, maka cara termudah adalah dengan merusak para perempuannya. Perempuan adalah batu bata pertama dalam sebuah peradaban. 

Di dalam al quran banyak perempuan disebut; Maryam, istri Firaun, istri nabi Adam, ibu Ismail, ibu Musa, kakaknya Musa, istri Abu Lahab, perempuan dalam kisah nabi Yusuf, ratu Bilqis/ ratu Negeri Saba, istri Nabi Nuh, istri Nabi Luth, dan masih banyak lainnya. 


contoh perempuan-perempuan di dalam Al Quran

Tugas seorang ibu muslimah adalah membaca Al Quran dan mencari terjemahannya. Setiap kali menemukan kisah perempuan di dalam Alquran, berhenti sejenak, buka tafsir Ibnu Katsir dan catat inspirasi dari kisah tersebut, hal baik juga hal buruk. Al Quran adalah panduan yang sudah terbukti, maka belajar tak perlulah jauh-jauh. Di Al Quran semua panduan kehidupan sudah ada dengan lengkap, termasuk juga soal pengasuhan.

Umat Islam ketika “tertidur” akan ada masanya mereka “terbangun”. Begitu “terbangun”, umat Islam akan bergegas membangun. Maka jika hari ini para ibu masih “tertidur”, saat nanti “terbangun”, insya Allah para ibu akan mulai membangun generasi secara kuat.

Perempuan adalah kunci dalam perbaikan keluarga, masyarakat dan dunia. Perempuan memiliki 4 perempuan, meliputi peran sebagai pribadi, peran sebagai istri, peran sebagai ibu dan peran dalam kehidupan sosial. Dari semua kisah perempuan baik yang disebut dalam Al Quran, mana peran yang paling banyak dan yang paling sedikit disebut? 



Kalau sudah baca postinganku tentang Ibu Peletak Pondasi Peradaban, pastinya sudah tahu kalau urutannya seperti ini:

1. Istri
2. Ibu
3. Pribadi
4. Sosial

Tugas perempuan yang paling dominan disebut dalam Al Quran adalah sebagai seorang istri. Artinya apa? Perempuan harus selesai dengan segala ego pribadinya dan kesibukan-kesibukan di luar rumah, lalu fokus dan kembalilah ke rumah. Tugas yang paling sedikit disebut dalam Al Quran adalah peran sosial, karena memang ranah sosial bukan fitrah perempuan.

Jika peran terbesar (nomor 1 dan 2) tergerus dengan peran nomor 3 dan 4 maka hancurlah sebuah generasi, seperti sekarang ini. Perempuan yang berhasil menjalankan peran istri secara maksimal, maka peran itu nantinya yang akan membantu perannya sebagai ibu (dalam mengasuh anak-anak).

Tugas pertama kita sebagai seoerang istri yaitu menyelesaikan dulu urusan kita dengan suami sesuai panduan syariat. Baru kemudian kita akan bisa melejit perannya sebagai ibu. Kenapa justru peran istri yang menjadi peran paling dominan?



1. Rasulullah Shollalahu Alaihi Wassalam berkata, “Suamimu adalah surgamu atau nerakamu.” Itulah kenapa ada istilah rumahku surgaku. Surga di dalam rumah akan tercipta ketika suami ridho atas segala pelayanan kita. Suami yang ridho atas istrinya akan menimbulkan ketenangan dan kenyamanan.

2. Rumahmu harus cukup lapang untuk menampungmu. Lapang di sini bisa berupa fisik, luas rumah disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga. Namun juga bisa berupa psikis, yaitu rumah yang lapang yaitu rumah yang nyaman bagi anggota keluarganya. 




3. HR. Bukhari nomor 1804 dan HR. Muslim nomor 1927 menyatakan bahwa “safar adalah sepenggal siksaan. Jika urusan kita sudah selesai, maka segera pulang ke keluarga.” Maka jika saat ini kita justru lebih menikmati traveling daripada nyaman di rumah, maka itu adalah masalah. Kalau rumah kita adalah surga, maka kita akan lebih nyaman di rumah.

Ketaatan pada Suami adalah Bentuk Keteladanan dalam Pengasuhan


Pertanyaan yang paling banyak diajukan pada Ustaz Budi; “Istri kan harus taat kepada suami, apa batasan ketaatan itu?” Beliau menyampaikan pertanyaan itu selalu membuat sedih karena biasanya istri yang menanyakan hal tersebut ada masalah dengan suaminya.

Ketaatan pada suami itu mutlak, hanya satu poin yang tak boleh ditaati; maksiat!



Biasanya istri ketika diberi jawaban di atas, akan ngeles; “La kalau suaminya sifatnya begini, begitu, bagaimana Ustaz?”

Selama masih menjadi istri, maka tugas kita hanyalah taat. Yang memilih suami dengan spesifikasi tersebut kan kita, maka ya terima. Kecuali suami menyuruh maksiat, maka wajib kita tolak. Suami adalah kunci surga dan neraga bagi istri. Suami yang ridho atas peran kita sebagai pendampingnya, maka hal inilah yang akan memudahkan kita mendidik anak-anak.

Mendidik anak-anak nggak bisa hanya mengandalkan kecerdasan dan pengalaman. Harus selalu kita titipkan pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ridho suami selain akan memberikan keberkahan di dalam rumah, juga akan melahirkan lebih banyak kebahagiaan. Suami yang ridho atas kita, akan lebih mudah membantu istrinya, baik membantu urusan domestik ataupun dalam urusan pendidikan anak, bahkan selelah apapun mereka setelah bekerja di luar rumah.



Kalau ada dua kepentingan berbenturan antara suami dan istri sebaiknya diobrolkan di dalam kamar, agar anak-anak tidak mendengar. Karena begitu kepentingan yang berbenturan tersebut diobrolkan di luar kamar hingga anak-anak mendengar, anak-anak secara tidak langsung belajar cara kita dalam berkonflik.

Anak-anak yang sering melihat ayahnya selalu mengalah kepada ibunya, maka seiring waktu anak-anak akan menyimpulkan hal yang dilihatnya terus-menerus menjadi sebuah perilaku. Jika kita punya anak-anak laki, maka mereka akan tumbuh seperti ayahnya; mudah mengalah seperti ayahnya. Jika kita punya anak perempuan, maka ia akan tumbuh semena-mena seperti ibunya, egois dan maunya menang sendiri.

Kadang ada sesuatu yang tidak kita ajarkan, tapi secara tak sadar kita tanamkan karena anak melihat dan mendengar. Inilah yang disebut keteladanan. Maka pastikan anak-anak melihat dan mendengar yang baik-baik saja dari kita.

Anak yang melihat bagaimana seorang ibu yang memiliki keinginan besar akan sesuatu namun mampu meredam keinginan itu karena sang ayah tidak setuju, dan ibu tetap taat, akan melahirkan anak-anak yang terjaga fitrahnya. Ketika istri taat pada suaminya, maka anak perempuan akan memosisikan dirinya seperti sang ibu. Anak lelaki akan melejit qowwamahnya. 

Sudah saatnya kita memutuskan mata rantai di negeri ini. Anak lelaki yang lemah jika menikah dengan anak perempuan bersifat Firaun (keras, egois, dan mau menang sendiri), maka hancurlah peradaban negeri ini.  Jika kita sudah berperan sebagai istri yang baik, memberikan ketaatan yang baik, maka fitrah peran diri anak laki-laki dan perempuan akan terjaga dengan maksimal.



Bahkan jika perlu, kita perlu melakukan rekayasa keteladanan.

Contoh kasus, anak minta sebuah sepatu. Ibu tidak boleh langsung mengiyakan keinginan anak, bahkan meski ada uangnya. Ibu harus menyampaikan pada anak, “Wah kalau ini kita bilang Ayah dulu ya.” 

Jika ayahnya terbiasa bilang terserah atau menyerahkan keputusan kepada ibunya, sebelum mengajak anak menelepon/ bertanya pada ayah, ibu harus menghubungi/ bekerjasama dengan ayah dulu agar ketika anaknya bertanya tentang keputusan membeli sepatu jangan bilang terserah. Ayah harus memberi keputusan, karena kita sedang belajar ketaatan. Takutnya kalau nggak ada kerja sama, nanti saat si ayah ditelpon, ayahnya bilang terserah bunda, gagal deh rekayasa keteladanan yang mau dilakukan. Anak akan seperti dikuatkan, tuh kan benar semua keputusan ada di tangan bunda. 

Lalu setelah berhasil mengajak sang ayah bekerjasama, kita ajak anak untuk menelepon/ berbicara dengan ayah dan sampaikan keinginan anak-anak. Tanya keputusan ayah. Apapun keputusan ayah, itulah yang harus ditaati.

Ternyata hikmah mengapa peran istri dulu yang harus selesai adalah sebagai pondasi pengajaran teladan kepada anak.

Istri yang Sesuai Syariat


Di dalam quran dan hadits tidak hanya sekedar menjabarkan teori, tapi juga didukung dengan kisah-kisah yang harus menjadi cermin dalam perilaku kita sehari-hari.

Kenapa istri Nabi Muhammad lebih dari satu? Sebagai contoh untuk kaum perempuan, sehingga kita boleh masuk surga Allah dengan cara istri Nabi manapun yang ingin kita duplikasi. Ummahatul mukminin adalah potret tertinggi di dalam Islam untuk kaum perempuan.

Maka PR bagi setiap ibu muslimah adalah mencari tahu bagaimana menjadi istri yang diinginkan oleh Allah/ sesuai syariat. 



Dirangkum dalam An Nisa 34, istri yang sesuai syariat adalah yang fasshoolihaatu, artinya wanita yang sholihah. Wanita yang sholihah dijabarkan cukup dengan dua kata saja; qoonitaatun haafidzaatul lil gaibi. Qonita artinya taat, sementara hafidzat artinya menjaga. Yang dijaga bukan hanya dirinya, terutama saat suami tidak ada di rumah. 

Apa saja yang harus dijaga oleh istri?

1. Menjaga dirinya sendiri


Saat Umar bin Khattab Radiyallahu anhu mendengar seorang perempuan yang membuat syair tentang kerinduan terhadap suaminya, hingga hampir bermaksiat. Umar segera bertanya kepada Hafshoh, anaknya yang juga salah satu ummul mukminin, “Berapa lama perempuan kuat ditinggal suami.” Hafshah menjawab 4 bulan. Maka sejak itu Umar menetapkan kebijakan para suami hanya bertugas di luar negara maksimal 4 bulan, setiap 4 bulan akan dilakukan rolling.

Menjaga diri sendiri bagi perempuan adalah sesuatu yang mahal dan penting, karena berhubungan dengan hal-hal lainnya.

2. Menjaga Anak-anak



خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الإِبِلَ صَالِحُ نِسَاءِ قُرَيْشٍ، أَحْنَاهُ عَلَى وَلَدٍ فِي صِغَرِهِ، وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ
“Sebaik-baik wanita yang mengendarai unta adalah wanita shalih dari Quraisy; paling sayang pada anak di usia kecilnya dan paling menjaga suami pada yang dimilikinya.” (Muttafaq alaih)

Wanita terbaik di Arab adalah yang sholeh dari wanita Quraisy, karena mereka memiliki dua sifat. Pertama, wanita quraisy adalah paling lembut dan sayang kepada anak-anaknya. 

Fitrahnya perempuan adalah cinta pada anak-anak, namun fitrah ini mulai tergerus. Bahaya ketika anak-anak tak lagi dekat dengan ibunya. Maka tak heran jika hal paling sulit bagi seorang ibu melepaskan anak-anaknya ke pesantren.

Kenapa perempuan fitrahnya memiliki rasa yang lebih tinggi daripada laki-laki? Karena perempuan dalam menjalankan perannya secara maksimal memang lebih membutuhkan banyak senitivitas rasa, sedangkan tugas laki-laki memang lebih butuh banyak logika.

Banyak keputusan-keputusan di ranah peran laki-laki yang harus dipikirkan secara matang dan butuh ketegaan, hal inilah yang tak bisa dilakukan perempuan. 

Maka jangan sampai fitrah rasa ini tergerus dan terkikis dalam diri perempuan, karena inilah yang akan melejitkan peran perempuan sebagai perempuan. Jangan bangga ketika kita merasa sebagai perempuan yang tak sensitif, tak mudah bersimpati dan lebih menggunakan logika, justru hati-hati ketika ini terjadi.



Nabi Muhammad yang sekuat itu, ketika mendapat wahyu pertama pulang dalam keadaan menggigil. Beliau saat itu hanya membutuhkan sensitivitas rasa dari sang istri. Beliau minta diselimuti oleh Khadijah. Itulah kenapa Khadijah selalu dikenang sebagai istri paling setia.

Menurut jumhur para ulama, perempuan tidak boleh menjadi hakim. Bukan karena islam tak percaya perempuan tak bisa adil. Masalahnya, hakim melihat kasus setiap hari di depan mata. Perempuan yang setiap hari melihat kasus hingga mengiris-iris hatinya akan bisa membuat hatinya semakin lama semakin terkikis. Maka di Islam, hakim diatur secara syariat dengan sangat kuat. Hakim butuh sosok yang dingin, tegas dan mampu menepis rasa kasihan. 

Perempuan yang terkikis hati dan rasanya bahaya. Hal ini adalah sesuatu yang mahal. Maka jagalah.

Anak siapa saja yang harus diperlakukan lembut?. Bisa kepada anak siapapun. Jika ini dihubungkan dengan suami, maka misal menikah dengan duda dan membawa anak dari pernikahan sebelumnya, maka sebagai perempuan juga harus menyayangi anak dari pernikahan suami sebelumnya tersebut.

3. Menjaga Kepemilikan Suami


Masih dari hadits yang sama, disampaikan bahwa istri harus rapi, dan mampu menjaga serta mengayomi kepemilikan suaminya. Maksudnya seorang istri harus menjaga baik-baik segala kepemilikan suami; baik itu anak, harta, hubungan kekeluargaan, hubungan persaudaraan, hubungan persahabatan, dsb.




Masalahnya sekarang banyak kasus istri vs mertua. Padahal, sebagai laki-laki, orangtua adalah harta paling mahal yang dimiliki olehnya. Jika istri mampu memuliakan orangtua suami, maka suami akan sangat mencintai istrinya.

Perempuan juga punya tanggung jawab di rumah suaminya. Maka jika rumah tak rapi, itu urusan istrinya. Ketika istri maksimal di rumah dan tak sibuk dengan urusan di luar, akan muncul kreatifitasnya dalam mengurus rumahnya. 

Di Islam sudah sangat jelas dalam pembagian tugas. Suami tugasnya di luar rumah dan istri memang fokus di rumah, sehingga seimbang.

Ustaz Budi menceritakan sebuah cerita yang sempat viral di medsos dan dianggap sebagai kisah inspiratif. Dalam cerita itu, seorang suami mempunyai selingkuhan hingga istrinya mau diceraikan. Istrinya setuju dengan syarat, beri waktu untuknya selama tiga bulan untuk menjadi pacarnya kembali. Suami pun menyanggupi. Selama tiga bulan itu, istri tak lagi mengurus rumah dan anak-anak. Rumah berantakan, anak diabaikan dan istri hanya sibuk berdandan. 



Banyak perempuan yang membaca cerita ini dan mengatakan bahwa kisah ini inspiratif. Seakan tersirat sebuah pesan, jika ingin istri yang tampil cantik, maka harus siap rumah berantakan dan anak tak terurus. Setuju dengan tulisan ini?

Ustaz Budi menyampaikan bahwa tulisan tersebut sama sekali tak inspiratif. Bahwa sudah tugas seorang istri untuk mengurus rumah dan anak-anak, termasuk juga merawat dirinya. Tentu saja dengan segala ketidaksempurnaannya. 

Maka jika ingin mencari cerita inspiratif, jangan cari di media sosial, carilah dalam Al Quran. Ada sekian banyak potret kisah tentang ibu. 

Apa yang seorang ibu lakukan, khususnya pada anak-anak kecil, itulah yang ditiru olehnya. Maka siapa yang lebih dilihat oleh anak-anak; ibu, TV atau media sosial. Pastikan kita adalah sosok yang lebih sering dilihat anak-anak.

Mengapa ibu lebih mulia di mata anak daripada ayahnya? Karena apa yang dilakukan ibu tiga kali lebih mulia dibandingkan para ayah. Dengan catatan, jika perempuan menjalankan perannya secara maksimal.




Termaktub dalam Quran Surat Al Ahqaf: 15 . Surat tersebut diawali dengan bakti kepada orangtua, tapi di ayat ini yang disebut kemudian hanya ibu dan perannya. Peran ayah tidak disebutkan di dalam ayat itu.

Ibunya hamil dengan susah payah, melahirkan dengan susah payah, dan menyusui dengan susah payah. Tiga hal inilah yang membuat ibu lebih tinggi dari ayahnya. Laki-laki tidak bisa menjalankan hal ini. Tidak akan kuat dan sanggup. Ada social experiment yang dilakukan di luar negeri, laki-laki diberi alat untuk bisa merasakan sakitnya kontraksi, tidak ada satupun yang kuat.

Tanpa syariat, perempuan pasti nggak mau hamil, melahirkan dan menyusui, karena berat!

Tiga hal ini pula yang akan menjadi kenangan indah dan berharga hingga anak-anak besar. Maka jika kita sudah hamil, melahirkan dan menyusui secara syariat, kita boleh meminta bakti anak-anak kepada Allah.



Rumus Mendidik Anak


Mendidik anak akan mudah, jika dengan izin Allah. Mari kita belajar dari kisah-kisah terdahulu. 

Kisah Istri Imran (Ibunda Maryam)



1. Seorang ibu harus memiliki visi pengasuhan yang detail. Sebagaimana kisah istri Imran diceritakan dalam Quran Surat Ali Imron: 35. Istri Imran (Ibunda Maryam) bernazar bahwa anak yang ada di dalam kandungannya akan dididik untuk menjadi anak saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis.




Kita juga bisa mengambil contoh dari Nabi Zakaria ketika memohon anak kepada Allah, termaktub dalam Quran Surat Ali Imron: 38. Beliau meminta keturunan yang baik dari sisi Allah. 




Di Al Quran Surat Al Anbiya: 89, “Jangan biarkan aku sendirian, dan Kau sebaik-baik yang mewarisi.”

Dari doa-doa para pendahulu ini kita bisa menyimpulkan bahwa mereka ketika berdoa tidak sekedar berupa permintaan, namun juga sebuah taruhan dan komitmen. Mereka sudah mempunya visi akan dibawa ke mana anak-anak nantinya. Bahwa ketika nanti Allah memberikan anak, mereka akan berupaya untuk mendidik dengan sebaik-baiknya. 

2. Lakukan tugas sebaik mungkin sebagai orangtua, lalu mintalah perlindungan kepada Allah. Sebagaimana doa ibunda Maryam kepada Allah yang bisa kita lihat pada Quran Surat Ali Imran: 36.




Jika memiliki visi pengasuhan, melakukan tugas mendidik sebaik mungkin dan meminta perlindungan kepada Allah sudah dilakukan, maka hasilnya adalah Allah ridho terhadap apa yang kita lakukan. Kalau Allah terima segala amalan kita, efeknya adalah Allah yang akan mengambil alih pendidikan.

Capek mendidik anak di zaman sekarang, banyak tantangan yang harus kita hadapi. Maka kita nggak bisa mendidik sendiri. Namun jika Allah ridha atas segala amalan dalam proses pengasuhan kita, maka Allah akan membantu dalam proses pengasuhan tersebut. 

Di dalam kisah Ali Imran, diceritakanlah visi istri Imran yang bernazar agar anak yang lahir menjadi penjaga baitul makdis. Ternyata anak yang dilahirkannya adalah perempuan; Maryam. Istri Imran pun pasrah pada Allah dan percaya Allah lebih tahu yang terbaik. Beliau pun meminta perlindungan kepadaNya. 

Di sinilah kisah seorang ibu yang sudah memiliki visi dan melakukan peran terbaik, hingga pada akhirnya Allah mendatangkan Zakaria untuk menambal kekurangan pengasuhan. Karena Maryam lahir dalam kondisi yatim, Zakaria hadir sebagai sosok ayah bagi Maryam.

Dikisahkan dalam Quran Surat Ali Imran: 37, setiap kali Zakaria datang ke kamar Maryam, selalu ada buah-buahan yang bukan musimnya. Zakaria bertanya, dari mana Maryam mendapat buah-buahan itu. Maryam menjawab, “itu dari Allah.”

Dari kisah ini, kita belajar bahwasanya jika Allah sudah ridha dan tambal segala kekurangan pengasuhan kita, maka akan lahir keajaiban-keajaiban dari anak-anak kita.



Masih berlanjut pada Quran Surat Ali Imran: 39, pada akhirnya Zakaria pun akhirnya dikaruniai keturunan.

Maka bisa disimpulkan, jika Allah sudah ridha dan tambal segala kekurangan pengasuhan kita, maka akan lahir keajaiban-keajaiban dari anak-anak kita. Tidak hanya itu, Allah pun akan menghadirkan keajaiban-keajaiban untuk para pendidiknya (orangtuanya).

Potret Kisah Ibu Musa


Kisah yang kedua mari belajar dari Ibu Musa. Seperti dikisahkan dalam Quran Surat Al Qashah: 7.




Pada masa itu, ada perintah dari Firaun, siapapun bayi laki-laki bani Israil yang lahir harus dibunuh. Ibu Musa merasa sedih dan kacau melihat anak yang dilahirkannya adalah laki-laki. Allah lalu menghiburnya dengan cara meminta sang ibu untuk menyusui bayinya. 

Dari sini kita bisa menarik hikmah bahwa menyusui menimbulkan rasa tenang untuk ibu dan anaknya.

Ibu Musa masih ketakutan, sehingga Allah lalu menurunkan wahyu jika masih takut/ khawatir juga, maka larungkanlah bayi itu di sungai.  Sebuah keanehan terjadi di sini, jika kita merasa khawatir dan tak tenang pada anak-anak, seharusnya anak semakin dipeluk. Namun Allah memerintahkan untuk melepaskan, padahal di sungai pasti ada banyak masalah; arus deras, hewan buas. 

Maka di sini kita belajar, jika itu adalah perintah Allah, meski bertentangan dengan hati nurani, taat dan jalani saja. Ini adalah keteladanan yang luar biasa untuk anak-anak. Jika seorang ibu menaati Allah secara maksimal, anak-anak akan meneladani hal tersebut.

Hal ini sejalan pula dengan ciri-ciri perempuan yang layak menjadi istri, termaktub dalam Quran Surat At Tahrim: 5. Menurut para ulama, kalimat tersebut adalah kalimat Umar yang diabadikan dalam Al Quran.




Dalam ayat itu disebutkan bahwa ciri perempuan yang layak menjadi istri adalah muslimat (orang muslim), mukminat (orang mukmin), qonitat (taat), taaibatin (ahli taubat), abidat (ahli ibadah), saaihat (ahli puasa). Boleh janda ataupun gadis asalkan sifat-sifat tersebut dipenuhi.

Kembali lagi pada kisah Musa, Allah lalu menghibur kembali ibu Musa agar jangan takut dan bersedih. Dari sini kita belajar saat kita mempunyai anak, khususnya bayi, jangan bersedih dan jangan banyak rasa takut, karena bayi membutuhkan ibu yang bahagia. 

Allah juga menjanjikan akan mengembalikan bayi kepada sang ibu. Akhirnya sang ibu pun mengikuti arahan Allah. Di sinilah dibutuhkan ketawakalan. 

Jika ingin belajar ketawakalan dan mau memiliki anak hebat seperti Nabi Ismail, jadilah ibu seperti Hajar dan ayah seperti Ibrahim. Saat Nabi Ibrahim pamit kepada Siti Hajar dan meninggalkannya sendirian di tengah padang pasir. Hajar hanya bertanya, “Apakah Allah yang memerintahkanmu? Kalau iya, maka pasti Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.”

Sekarang lihatlah bagaimana tanah di Kakbah sekarang? Tak pernah sepi. Semua bermula dari ketawakalan Hajar.



Kembali lagi ke kisah Nabi Musa. Sepeninggal Musa dilarung ke sungai, hati ibu Musa semakin kosong. Nyaris saja sang ibu membongkar siapa bayi tersebut andai Allah tidak ikat hati ibunya. 

Ayat ini mengajarkan kita agar ketika sedih, tidak perlu diumbar, apalagi meracau dan mengeluh di media sosial. Namun curhatlah dengan orang yang dipercaya dan bisa memberi solusi.



Ibu Musa lalu memerintahkan pada anak perempuannya untuk mengikuti bayi yang dilarung, hanya dengan satu kata “Ikuti.”

Hikmahnya dari bagian kisah ini yaitu seorang perempuan yang dididik dengan luar biasa, meski hanya diberi perintah satu kata, si anak bisa menerjemahkan perintah sang ibu dengan luar biasa. Kakaknya mengikuti dengan diam-diam agar tak ketahuan, saat si bayi masuk ke istana Firaun, kakaknya tidak langsung pulang namun menanti suara tangis adiknya. 



Pada akhirnya Musa ditemukan oleh istri Firaun dan diasuh olehnya. Si bayi menangis ingin menyusu hingga akhirnya mencari ibu susuan. Si kakak lalu datang dan memberikan informasi, “Apakah mau kutunjukkan siapa yang bisa menyusui bayi ini?” 

Akhirnya Musa dibawa pulang ke rumah ibunya dan disusui, karena masih ada Harun di rumah yang juga butuh kasih sayang ibunya. Musa kembali ke rumah. Ibu Musa bisa kembali memeluk anaknya, bahkan digaji oleh istana Firaun karena menyusui anak asuh dari sang raja.

Taat pada Allah memang terlihat susah di depan, namun nanti hasil yang didapat akan lebih mudah dan membahagiakan. Maka, tawakal dan pasrahkan saja pada Allah semua urusan hidup kita. Tawakal adalah wujud nyata bahwa kita hanya bersandar kepada Allah semata. Maka jika kita tawakal, Allah akan menjaga anak-anak kita.



Kisah Khadijah


Istri-istri Nabi Muhammad yang punya anak hanya dua; Khadijah dan Maria Al Qibtiyah. Khadijah memang janda, namun beliau mendapat gelar sebagai perempuan suci. Ketaqwaan dan kesolehan kita sebagai orangtua adalah penjagaan terbaik kita kepada anak-anak. Maka jadilah orangtua-orangtua yang sholeh, jika ingin anak-anak kita dijaga oleh Allah.

Khadijah memiliki 6 orang anak; 2 orang anak laki-laki (Qosim dan Abdullah) dan 4 orang anak perempuan (Zainab, Ruqoyyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah). Qosim anak pertama, Abdullah anak terakhir, namun dua-duanya meninggal waktu kecil. Namun anak-anak perempuannya tumbuh besar hingga menikah dan punya anak. Bahkan keturunan Fatimah masih ada hingga sekarang, lewat dua anak laki-lakinya, Husein dan Hasan (para pemimpin di surga). Jika keturunannya sedemikian dahsyat, seperti apa ibunya?

Khadijah adalah seorang saudagar kaya yang punya banyak karyawan. Nabi Muhammad adalah salah satu karyawannya. Ada ibrah di balik cerita ini, yang bisa dipraktekkan dalam kehidupan zaman sekarang jika istri memiliki penghasilan lebih tinggi dari suami.




Urusan harta dan nafkah rumah tangga adalah urusan suami (An Nisa: 34), perempuan tidak punya tugas untuk mencari nafkah, karena tugas perempuan di rumah mendidik anak sudah sangat berat. Namun jika perempuan mau bekerja, boleh. Dengan syarat, contohlah Khadijah. Khadijah punya bisnis besar, namun dia tetap di rumah dan tidak meninggalkan anak-anaknya.

Perempuan boleh memiliki penghasilan sendiri, tetapi bukan kewajiban. Yang bahaya, sekarang ini, justru perempuan dilibatkan secara sengaja oleh suaminya untuk mencari nafkah. Lalu perlahan mulai muncul kasus-kasus perempuan yang memiliki penghasilan sendiri merasa tidak membutuhkan uang suami. Apalagi ketika kondisi semakin berjalan dengan tak benar, dan suami justru berkata, “kamu kan memiliki penghasilan. Pakai uangmu sendiri.” 

Fitrah perempuan adalah menerima pemberian suami. Ketika kita sudah merasa tidak membutuhkan suami, maka akan muncul konflik yang membahayakan rumah tangga.

Di sinilah hebatnya Bunda Khadijah. Beliau menyerahkan seluruh bisnisnya kepada suami, dengan catatan karena suaminya juga memahami bisnis. Ini sebuah clue bahwa “Sekarang aku bukan lagi bossmu, aku istrimu, kamulah bossku. Aku siap menerima berapapun yang kau beri.”



Sebesar apapun penghasilan kita, istri tetap harus meminta nafkah kepada suami. Bahkan meski nanti uang yang diberi suami tak kita gunakan, hanya ditabung, nggak masalah, tapi tetap harus minta. Karena nafkah adalah ikatan antara suami istri. Nafkah juga kunci qowwamah laki-laki.

Khadijah melakukan hal itu di awal pernikahan untuk menyetarakan posisinya dengan suami. Kesetaraan itu penting. Maka itu penting menikah dengan orang yang setara agamanya, setara status sosialnya, setara pendidikannya (sekufu).

Selain mempercayakan urusan nafkah kepada suami, Khadijah juga selalu memperhatikan setiap urusan pribadi Nabi Muhammad dengan detail; dari urusan makan hingga pakaian. Sudah sepantasnya kita belajar dari Khadijah, untuk selalu memastikan urusan-urusan pribadi suami terpenuhi; masakkan menu kesukaan, siapkan minuman kesukaan. 



Begitu mulianya Khadijah, hingga Allah dan Jibril menitipkan salam lewat Nabi Muhammad sebagaimana bisa kita lihat dalam HR. Bukhari, no. 3820 dan Muslim, no. 2432, “Muhammad, sebentar lagi Khadijah datang membawa makanan. Sampaikan salam dari Allah dan dariku. Dan sampaikan pula padanya bahwa Ia telah dibangunkan rumah di surga terbuat dari mutiara dilubangi dan tidak ada kegaduhan serta kelelahan di sana.“

Dari kisah tersebut, kita bisa belajar bahwa kelelahan kita di dunia saat berperan sebagai istri dan ibu hanya sementara. Jika kita ikhlas menjalaninya, insya Allah akan dibalas oleh Allah dengan balasan rumah di surga. Rumah yang tak ada kelelahan dan kegaduhan.
Hal ini juga bisa diartikan bahwa jika kita ingin memiliki rumah dengan rasa surgawi, maka di dalamnya seharusnya tidak ada kegaduhan (teriak-teriak, omelan) dan tidak ada kelelahan (karena suami istri saling berkolaborasi, bersyukur tak banyak mengeluh dan saling mengobati lelahnya masing-masing dengan saling menghibur).



Saat nabi mendapat wahyu pertama dan merasa ketakutan, Khadijah tetap tenang, menenangkan dan memuji suaminya dengan kebaikan-kebaikan suaminya. Suami bisa merasa tenang punya istri yang mendukung luar biasa. Setelah Nabi mulai tenang, Khadijah memberikan solusi untuk bertemu dengan kerabatnya yang ahli kitab, Waraqah. Dari Waraqah barulah Nabi tahu bahwa malaikat yang datang padanya adalah malaikat yang juga pernah datang pada Nabi Musa.

Maka, jika kita ingin belajar cara mendidik anak, maka belajarlah dari kisah-kisah Khadijah sebagai istri Nabi yang mendidik 6 anak. 

Kesimpulan Kajian



  1. Urusan perempuan sebagai ibu (mendidik anak-anak) harus bermula dari peran perempuan sebagai istri yang baik.
  2. Kesholehan seorang istri dan ibu adalah penjagaan terbaik untuk anak-anaknya. Allah akan menjaga anak-anak kita asal sholeh.
  3. Teladani kemuliaan wanita Quraisy yang tadi disebutkan. Kita juga bisa melibatkan anak-anak dalam merapikan dan memperindah rumah.
  4. Seorang ibu harus memosisikan ayah pada posisi qowwamah (kepemimpinan) laki-laki. Ajarkan anak untuk taat kepada ayah, tidak boleh membantah dan berbohong pada ayah. Kita boleh punya masalah dengan suami, tapi jangan menularkan kebencian itu kepada anak. Jangan sampai menjatuhkan posisi ayah di mata anaknya. Jaga harga diri suami di depan anak.
  5. Tugas yang seharusnya kecil ya harus dikecilkan; peran sosial. Bukan dihilangkan namun diminimalkan, jangan sampai mengganggu peran utama sebagai istri dan ibu.
  6. Ibu harus belajar betul tentang fase-fase yang dilewati anak. Ciri setiap fase tumbuh kembang dan bagaimana menanganinya. Semua berhubungan dengan keteladanan. Misal kapan waktunya anak boleh diberikan harta; uang saku, handphone, dsb.



Jika kita ingin anak-anak hidup dengan tidak mubazir dan hemat, maka kita harus menunjukkan sifat itu dulu. Jika kita ingin anak-anak ingin menghormati orang lain, maka kita menghormati orang lain duluan. Jika kita ingin anak-anak sholat sunnah, maka kita harus mulai dulu. Asal kita komit, insya Allah prosesnya akan mudah dan tak lama.

Biasakan duduk bersama anak-anak dan suami setiap habis sholat subuh. Jika tidak bisa setiap hari, luangkan minimal seminggu sekali. Dipimpin oleh ayahnya, lalu membaca al quran bersama-sama. Di sini bukan hanya soal membaca qurannya, namun juga soal merekatkan kebersamaan dan meningkatkan komunikasi.

Imam Syafii saat menasehati guru anaknya Harun Al Rasyid berkata, “Perbaikilah dirimu sebelum memperbaiki anak-anak itu. Karena matanya anak-anak itu terikat padamu.”



Kunci keteladanan adalah kita harus menjalankan hal-hal baik terlebih dahulu. Misal jika kita ingin anak suka membaca buku, maka yang perlu kita lakukan:

  • Perlihatkan bahwa Orangtua asyik dan menikmati membaca buku.
  • Siapkan buku-buku untuk anak-anak.
  • Hilangkan semua gangguan yang bisa membuat anak teralih dari buku; TV, gadget.

Jangan sampai anak melihat kita menghabiskan waktu dengan bermain-main, atau malah berbuat maksiat. 

Anak-anak akan lari lebih cepat dari kita dalam hal kebaikan, dengan catatan jika kita mau taat dengan panduan yang Allah berikan. 

Sesi Tanya Jawab


1. Bagaimana mengatasi suami yang pemalu?


Ustaz Budi Ashari menceritakan tentang kisah di zaman nabi ada sosok yang lemah syahwat, hingga tidak ada satupun perempuan yang mau menikah dengannya. Hingga ada seorang perempuan yang maju dan berkata, “kenapa tidak ada yang mau, itu karena tidak tahu caranya.” Maka akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia. 

Begitu juga mengatasi suami pemalu, cari dulu caranya. Pemalu itu seharusnya sifat perempuan. Jika seorang lelaki tumbuh menjadi sosok pemalu bisa jadi disebabkan oleh pola asuh yang kurang tepat di masa kecil. Namun berinteraksi dengan banyak orang, apalagi bagi lelaki adalah hal yang baik. Sebelum banyak bergaul, pastikan harus memiliki iman terlebih dahulu.




Tempat kumpul paling top di masjid. Saat di masjid dukung suami agar jangan hanya sholat lalu pulang, tapi biasakan juga untuk ngobrol dengan orang-orang yang ada di masjid. Sedangkan saat di rumah, kita bisa melibatkan anak-anak. Ajak anak-anak untuk ngobrol dengan ayahnya. Hindari hal-hal yang membuat beliau semakin menyendiri, misal gadget.

Untuk mengatasi orang pemalu; maka istri harus memaksimalkan sensitivitasnya dalam memahami suami.

2. Apakah bisa mendidik anak yang sudah terlanjur salah pergaulan?


Usia sosial adalah usia baligh. Maka sebelum anak-anak masuk ke usia sosial, ataupun tamyiz (sebelum baligh), anak harus sudah kuat tauhid dan keimanannya. Sehingga saat mereka sudah masuk ke usia baligh/ usia sosial, kita tak perlu khawatir saat melepasnya keluar.

Selain menguatkan keimanan, sebelum dilepas keluar, anak-anak juga harus dikuatkan tentang bagaimana memilih teman dan bahayanya salah bergaul. 




Jika sudah terlanjur salah pergaulan, maka dekati dengan baik. Gunakan bahasa yang baik. Bagi anak-anak di usia sosial, teman-teman adalah hal yang paling berharga. Maka jika kita nmengusik teman-temannya, sama halnya dengan mengusik harga dirinya. Kita harus tahu bagaimana cara menariknya kembali tanpa menjatuhkan teman-temannya.

Oleh karena itu penting bagi orangtua untuk menanamkan dengan kuat visi anak tentang masa depannya. Visi terbaik tentu saja yang melibatkan agama di dalamnya. Visi ini harus sering diobrolkan dan diingatkan sesering mungkin, sehingga ketika anak mulai keluar dari track, kembalikan ke visi tersebut.

Cara menanamkan visi hidup pada anak adalah perbanyak ngobrol dengan anak. Jangan jadi orang pendiam ketika bersama anak.




Ustaz Budi bercerita tentang seorang Ibu yang mengajak anaknya berjalan-jalan ke Eropa, di jalan anaknya bertanya sesuatu yang di luar dugaan. Ibunya sampai bingung bagaimana harus menjawabnya. “Mengapa gereja lingkungannya bersih dan terawat, sedangkan di toilet masjid justru pesing?”

Jika menjadi ibu ini, maka ambil momentum untuk menguatkan visi hidup sang anak. “Inilah masalahmu hari ini, Nak. Dulu muslim itu bersih. Bahkan orang-orang Eropa pun belajar kebersihan dari muslimin. Makanya Nak, ibu ajak kamu jalan-jalan, biar kamu tahu bahwa dunia ini butuh anak hebat seperti kamu untuk mengembalikan kejayaan Islam.”

3. Bagaimana menjadi ibu sekaligus ayah, sedangkan harus bekerja?


Sebuah kondisi yang sulit dan berat, tapi bisa. Contohnya Maryam dan Hajar. Single parent ada tiga jenis; suami meninggal, bercerai atau suami ada tapi tiada. Laki-laki tidak bisa menjadi perempuan begitu pula sebaliknya. Maka maksimalkan peran sebagai perempuan. Pilih pekerjaan yang masih bisa sering bertemu anak. 

Untuk kasus seperti ini, pilihannya ada dua; mengikuti kisah Ummu Salamah atau Ummu Dardak. Suami Ummu Salamah berpesan, “Jika aku mati, menikahlah lagi.” Lalu sang suami berdoa agar istrinya mendapat suami yang lebih baik. Dan Ummu Salamah akhirnya dinikahi oleh Rasulullah Shallalahu Alaihi Wassalam. 

Jika kita memilih opsi menikah lagi seperti Ummu Salamah, maka jadilah seperti Ibu Annas bin Malik, yang memikirkan kepentingan anak di atas kepentingan diri kita. 




Jika kita memilih mengikuti kisah Ummu Dardak, yang mana sang suami berpesan, “Jika aku mati, jangan menikah lagi.” Maka hadirkanlah sosok Zakaria seperti dalam kehidupan Maryam. Cari kerabat yang bisa menjadi sosok ayah bagi anak-anak. Ayah adalah tempat kekaguman dan tempat bertanya.

Masukkan anak pada komunitas yang baik; pilih sekolah yang bervisi misi agama. Sebagai contoh Umar bin Abdul Aziz tidak tinggal dengan orangtuanya selama ia belajar dengan para ulama, namun ditempatkan di rumah Abdullah bin Umar, salah satu kerabatnya, yang sangat sholeh.

Kekurangan kita akan ditambal oleh Allah, namun agar kekurangan kita tersebut bisa ditambal, kita harus bertransformasi menjadi perempuan yang sangat shalihah. Amal-amal soleh kita harus selalu ditawasulkan untuk kehidupan anak-anak yang lebih baik. 

Mari belajar pula permintaan nabi Ibrahim yang termaktub di Quran Surat Al Baqarah: 124. Ketika Allah janjikan kebaikan untuknya, Nabi Ibrahim pun meminta kebaikan untuk keturunannya. 




Begitu juga kita sebagai orangtua, jangan hanya meminta kebaikan untuk diri kita sendiri, namun juga selalu bermunajat untuk kebaikan anak-anak dan keturunan kita.

Semoga bermanfaat, pals. Sampai jumpa di postingan berikutnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

0 Comments