MaritaPalace

Memahami 6 Hadits Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam Terkait Corona

6 hadits rasulullah SAW tentang corona

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sejak kemarin, pagiku berbeda. Jauh lebih semangat dan tidak terlalu ketar-ketir terhadap corona. Bersyukur sebagai bagian dari Kuttab Al Fatih, setiap pagi bisa mendapat siraman yang menyejukan dan menguatkan, langsung dari sang gurunda, Ustaz Budi Ashari, Lc.

Ustaz Budi mengawali kajiannya pagi ini dengan mengajak kita untuk bersyukur karena adanya teknologi. Cara bersyukurnya yaitu dengan cara menggunakan teknologi untuk menambah ilmu. Jangan malas update ilmu dan wawasan karena teknologi sudah memudahkan.

Di masa wabah corona ini, banyak pesan tauhid yang ingin Allah sampaikan. Seberapa kuat kita memahami dan mengamalkan, “jagalah Allah, maka Allah akan menjagamu.”

Pertolongan dan kemenangan akan datang hanya saat kita sabar. Ciri orang sabar yaitu tidak pernah mengeluh. Kalau kita masih suka mengeluh, maka artinya belum sabar. Orang sabar mengadu hanya kepada Allah.

Solusi memang hadirnya bersamaan dengan masalah/ kesulitan yang besar. Sebagaimana firman Allah dalam QS Al Insyirah: 6,
Generasi muslim saat ini memang cenderuh lemah, tidak kokoh. Gampang loyo dan panik. Itulah kenapa KAF hadir dan berkonsentrasi membangun iman, agar kelak muncul generasi muslim yang kokoh. Namun sembari membangun generasi muslim yang kokoh, kita sebagai orangtuanya juga perlu membangun iman yang kokoh. Caranya dengan mengaji dengan benar, pahami Al Quran dan hadits, galilah kitab para ulama terdahulu.

Ngaji akidah bukan hanya sekedar soal asma wal sifat. Akidah/ iman adalah apa-apa yang tertancap dalam hati dan dibuktikan lewat amal.
Syariat jangan dipenggal-penggal karena syariat itu sebuah kesatuan.
Tidak ada hadits shahih yang saling bertentangan. Kalau ada hadits shahih bertentangan dengan hadits shahih lainnya, maka yang perlu kita lakukan yaitu mendatangil ulama. Ulama nantinya yang akan membantu kita memahami bagaimana hadits-hadits tersebut sesungguhnya saling berkesinambungan.

Di masa-masa ini banyak sekali orang menukil hadits nabi sesukanya. Banyak juga yang bahkan saling membenturkan pendapat ustaz satu dengan ustaz lainnya. Janganlah sampai kita masuk dalam sekelompok orang yang senang melakukannya. Hindari perdebatan dan serahkan pada ahlinya.

Terkait kesehatan dan penyakit, ada banyak hadits nabi yang kesannya bertentangan. Namun sesungguhnya jika kita memahaminya dengan benar, tidak ada pertentangan sama sekali di dalamnya.

Lewat Sapa Pagi, Ustaz Budi Ashari mencoba membantu kita untuk memahami beberapa hadits tersebut.

1. Hadits Pertama

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ النَّبيُّ : لاَ عَدْوَى, وَلاَ طِيَرَةَ , وَأُحِبُّ الْفَأْلَ الصَّالِحَ
Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah bersabda: “Tidak ada penyakit menular dan thiyarah (merasa sial dengan burung dan sejenisnya), dan saya menyukai ucapan yang baik”. - HR. Muslim no. 2223

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,
لَا عَدْوَى ، وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَّةَ ، وَلَا صَفَرَ
“Tidak ada ‘Adwa (penyakit menular), tidak Thiyaroh (kesialan), tidak ada Haamah(burung hantu), dan shafar (kesialan di bulan Safar)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Menurut hadits ini Rasulullah menyampaikan bahwa tidak ada penularan penyakit, tidak ada yang dinamakan kesialan, burung hantu dan kesialan di bulan shafar. Pada zaman itu, bangsa Arab percaya bahwa orang akan sial setelah melihat burung hantu dan akan menemukan kesialan di bulan shafar.

Namun di akhir hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wassalam mengatakan bahwa beliau menyukai ucapan yang baik. Maksudnya di sini adalah ucapan-ucapan yang penuh optimisme. Bukan ucapan-ucapan penuh kekhawatiran. Orang-orang yang optimis, kalimatnya selalu baik. Kalau kita dididik dengan Islam yang benar, seharusnya kita tumbuh menjadi orang-orang muslim yang selalu semangat dan positive thinking.

Ustaz Budi menyampaikan didikan optimisme ini masih terasa hingga sekarang di masyarakat Arab, bahkan di antara kalangan orang Arab yang keislamannya mulai tergerus.


2. Hadits Kedua

Masih berkaitan dengan hadits pertama, ada seseorang yang bertanya kepada nabi, “Ya Rasulullah, kalau memang tidak ada penularan penyakit, kenapa unta-unta saya sakit karena unta pertama yang lebih dulu sakit?”

Lalu Rasulullah bersabda,
فَمَنْ أَعْدَى الْأَوَّلَ ؟
“Kalau begitu siapa yang menulari (onta) yang pertama ?” - HR. Al-Bukhari dan Muslim

3. Hadits Ketiga

Nabi juga disebutkan pernah membaiat penderita kusta, bahkan makan bersama. Imam at-Tirmidzi meriwayatkan,"Sesungguhnya Rasulullah saw. memegang tangan seorang penderita kusta, kemudian memasukannya bersama tangan Beliau ke dalam piring. Kemudian Beliau mengatakan: "makanlah dengan nama Allah, dengan percaya serta tawakal kepada-Nya" (HR at-Tirmidzi).


4. Hadits Keempat

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يُوْرِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ
“Janganlah unta yang sehat dicampur dengan unta yang sakit”. - HR. Bukhari no. 5771 dan Muslim no. 2221

5. Hadits kelima

Dan sabda Beliau,
فِرَّ مِنَ الْمَجْذُوْمِ فِرَارَكَ مِنَ الأَسَدِ
“Larilah dari penyakit kusta seperti engkau lari dari singa”. - HR. Muslim: 5380

6. Hadits Keenam

Rasulullah bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا
Artinya: “Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu.” (HR Bukhari).

Jika membaca keenam hadits di atas, seakan-akan hadits 1 dan 2 bertentangan dengan keempat hadits lainnya. Padahal sebenarnya tidak. Hadits pertama dan kedua yang disampaikan di atas mengenai ‘tidak adanya penularan penyakit’, dimaksudkan untuk meluruskan akidah bangsa Arab pada saat itu. Saat itu ketika wabah/ penyakit datang, mereka meyakini bahwa penyakit itu menular dengan sendirinya. 

Hadits “tidak adanya penularan penyakit”sama sekali tidak bertentangan dengan hadits-hadits nabi yang menyuruh kita untuk berwaspada terhadap penyakit yang bisa menular. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam ingin menjelaskan kepada kita bahwa penularan penyakit itu ada, tapi tidak semua orang sakit bisa menularkan kepada orang lain, karena bukan manusia yang menularkan penyakit. Allah lah yang mentakdirkan kita tertular penyakit tersebut atau tidak. Tanpa kehendak Allah, penularan tersebut tidak akan terjadi.
Jangan fokus pada makhluk, tapi fokuslah pada Sang Khalik. Jangan fokus pada yang diciptakan, tapi fokuslah pada yang Menciptakan. Covid-19 itu virus, ciptaan Allah. Sangat penting bagi kita untuk meyakini bahwa semua penyakit itu datangnya dari Allah. Corona itu salah satu tentara Allah, yang menciptakan Allah. Penularan itu ada sesuai kehendak Allah. Begitu juga kesembuhan juga milik Allah. Maka tugas kita selain berikhtiar sesuai himbauan tenaga ahli, mari banyak-banyak mengingat AsmaNya dan mendekatkan diri kepadaNya.
Di akhir kajian ustaz Budi menyampaikan sebuah kisah. Kisah yang banyak dinukil, kisah tentang Nabiyullah Yakub AS. Kita tidak akan pernah kuat jika mendapatkan musibah yang menimpa beliau. Jangan berharap bertemu musibah semacam itu. Semoga Allah menghindarkan kita dari hal tersebut. Nabi Yakub dilingkupi rasa marah dan sedih selama 80 tahun dikarenakan kehilangan Yusuf, Bunyamin, penglihatannya, kesehatannya, bahagianya. 

Dalam Kisah Israiliyat, diceritaakn Nabi Yakub punya saudara dan saudaranya itu bertanya kepadanya, “Kenapa punggungmu melengkung?” Yakub menjawab, “Aku sedih karena kehilangan Bunyamin.”

Lalu Allah menegurnya, “Hei Yakub kenapa Kau adukan aku pada makhluk. Bukankah ujian itu untukmu?”

Lalu Nabi Yakub pun berdoa sebagaimana bisa kita baca di QS Yusuf: 86
قَالَ اِنَّمَآ اَشْكُوْا بَثِّيْ وَحُزْنِيْٓ اِلَى اللّٰهِ وَاَعْلَمُ مِنَ اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
Dia (Yakub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui."
Lalu Nabi Yakub berdoa, “Sayangi orangtua ini. Kembalikan Yusuf. Kembalikan penglihatanku. Setelah itu terserah akan Kau apakan.” Jibril lalu datang, “Allah mengucapkan salam untukmu. Bergembiralah kamu kabar gembira datang dan bahagialah kamu.”

Allah bersabda, “Demi kemuliaanKu, kalau dua anak ini mati pun akan Kuhidupkan untukmu. Tapi Kamu harus buat makanan dan bagi ke orang-orang miskin. Hamba yang dicintai Allah adalah para nabi dan orang miskin.”

Allah melanjutkan sabdaNya, “Sesungguhnya yang menghilangkan penglihatanmu, membuat punggungmu melengkung, kehilangan Yusuf dan Bunyamin dikarenakan dulu kamu pernah menyembelih kambing, lalu datang seseorang yang datang meminta makan, tapi kamu tak memberinya makan.”


Sejak itu Nabi Yakub setiap kali mau makan / buka puasa selalu woro-woro dan mengajak banyak orang. Di sinilah kita bisa mengambil hikmah bahwa selalu ada akar di setiap ujian. Dan jika kita mau bermuhasabah, corona sejatinya datang dikarenakan kelalaian manusia. Entah karena kita yang lalai menjaga kesehatan, menjaga pola makan, ataupun terlalu sibuk dengan dunia, sehingga Allah memanggil kita untuk kembali mendekat kepadaNya.

Dari kajian Sapa Pagi Ustaz Budi Ashari hari ini, ada dua kesimpulan yang bisa kita highlight untuk menghadapi serangan corona, yaitu:

1. Corona itu tidak terjadi begitu saja. Pasti ada penyebab awal yang dikarenakan dari kelalaian dan kesalahan manusia. Maka yang perlu kita lakukan yaitu bermuhasabah, minta maaf kepada Allah, adukan kesedihan dan kekhawatiran kita hanya kepada Allah. Namun tetap jalankan himbauan para ahli untuk social distancing, jaga kebersihan, pola makan dan pola hidup. Tawakal berarti tidak panik, namun juga tetap waspada.

2. Bersedekah. Cek keluarga, kerabat, tetangga adakah yang kekurangan bahan makanan, atau butuh dukungan kesehatan. Adakah yang terkena dampak Covid19. Mari saling membantu dan mendukung satu sama lain. Jangan panic buying agar stok di pasaran tetap terkontrol dan aman untuk seluruh warga.
Semoga dengan segala ikhtiar yang sudah kita lakukan, ramadhan bisa kita nikmati dengan lebih baik dan penuh syukur. Aamiin.
Maafkan jika ada kekurangan dan kesalahan dalam mencatat ulang kajian dari Ustaz Budi. Semoga bermanfaat.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. "ucapan adalah doa",,, udah denger belum mba ada habib yang menyuarakan untuk mengganti kata 'corona/ covid 19' menjadi 'qif 19'?

    dimana qif itu artinya berhenti, sementara corona itu terus berlangsung (cmiiw). kita kan tiap hari selalu sebut corona corona tuh, jadi katanya ayo ganti dengan kata qif supaya wabah virus ini sgera berhenti. Wallahu alam

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email