header marita’s palace

Pengalaman mBolang Pertamaku Setelah Menjadi Ibu

Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Setelah kuingat-ingat ternyata aku hampir tidak pernah ke luar kota sendirian. Solo traveling yang pernah kulakukan hanyalah dari Semarang - Salatiga pulang pergi, itu juga kalau masih bisa dikatakan sebagai traveling, wkwk. Ya, memang aku cah kurang dolan, wkwk. Sepertinya hanya bisa dihitung dengan jari aku bepergian. Bukan karena nggak suka, tapi karena ada sebuah keadaan yang memaksaku nggak bisa dolan-dolan (dulu).
Mungkin kalau aku bukan anak guru yang hampir setiap tahun ada agenda piknik sekolah, aku juga belum tentu pernah melihat Yogya, Borobudur, Prambanan dan tempat-tempat wisata lainnya. Solo, Klaten, Yogya, Magelang, Pacitan, Jakarta dan Makassar adalah nama-nama kota yang pernah aku kunjungi. Mengenaskan ya? Dan semua kota itu kukunjungi selalu bersama rombongan. Entah itu keluarga atau karena piknik kelas.

Bahkan saat harus mengikuti tes CPNS Deplu belasan tahun lalu di Jakarta, aku tak berani sendirian. Ada bapak yang menemaniku. Pastilah kalian menganggapku cemen ya?

Maka saat awal Bulan Maret lalu aku diamanahi untuk menjadi salah satu widyaiswara yang mengisi agenda offline AFIIP (Akademi Fasil Institut Ibu Profesional), aku deg-degan setengah mati. Lokasi acara di Yogyakarta. Sebenarnya ini bukan kali pertama ke Yogya, bulan Agustus tahun lalu Ibu Profesional juga mengadakan Konferensi Ibu Profesional di kota pendidikan tersebut. Namun saat itu aku tak sendirian, ada mbak Hessa dan Affan yang menjadi teman perjalanan.

Awalnya aku sudah membuat plan untuk mengajak serta suami dan anak-anak. Kak Ifa sudah girang bukan main karena akhirnya bisa melihat Yogya. Ya, dia jengkel karena waktu KIP lalu yang diajak cuma Affan. Namun rencanaku meleset. Invoice yang kunanti tak jua turun, sementara untuk mengajak 3 orang ke Yogya kan butuh biaya yang tak sedikit. Suami tempat menawarkan untuk naik motor ke Yogya, tapi aku yang nggak tega lihat anak-anak, apalagi saat itu masih sering hujan.

Bismillah, bermodalkan izin dari suami, akhirnya aku berangkat sendiri ke Yogya. Deg-degan bo! Ini pertama kalinya aku pergi ke luar kota, ya meski cuma ke Yogya sih… tapi 4 jam perjalanan tanpa teman kok nervous juga ya. Ini juga menjadi perjalanan pertamaku setelah menjadi istri dan ibu tanpa suami dan anak-anak.

Sebelum berangkat ke Yogya, tentu saja aku sudah tanya-tanya kepada panitia di manakah sebaiknya aku turun dan ancer-ancer lokasi acara. Aku mendapat informasi kalau sebaiknya turun di Terminal Giwangan. Biar nggak puyeng, dari Terminal Giwangan aku memesan ojek online menuju kantor Diklat BKKBN.

Ada kejadian lucu saat menunggu ojek online. Terjadi miskomunikasi antara aku dan ojek onlinennya. Sepertinya aku yang tak paham lokasi ini memberikan klue yang salah kepada babang ojolnya. Si babang gojek menungguku di depan terminal, sementara aku turun dari bis di bagian belakang terminal. Akhirnya aku jalan cukup jauh dulu hingga ketemu pom bensin dan menunggu si babang ojol di situ. Alhamdulillah setelahnya tak ada masalah berarti.

Aku di Yogya hanya satu hari satu malam. Aku pikir bus Yogya - Semarang tersedia 24 jam sebagaimana bus Solo - Semarang. Ternyata aku salah. Bus Yogya - Semarang yang terakhir jam 17.00. Itu pun dari terminal Giwangan rute terakhir jam 16.45. Wah, mepet sekali dengan jam berakhirnya acara. Begitu acara selesai, aku langsung pamit begitu saja. Meski sebenarnya masih pengen ngobrol dulu dengan teman-teman fasilitator, tapi daripada ketinggalan bus.

Sebenarnya bisa saja sih banting setir naik travel, tapi jujur aku takut duitku nggak cukup, wkwk. Maklum saat itu bawa uangnya pas-pasan banget euy. Hujan deras sepanjang perjalananku naik Grab Car dari Diklat BKKBN ke Terminal Giwangan. Alhamdulillah pas bangeeet. Pas turun dari mobil, masuk ke terminal, dan voilaaa…. bisnya datang. Tanpa harus menunggu lama, aku langsung naik ke bus dan siap-siap… tiduuuur, wkwk.

Sampai di Semarang sekitar pukul 8 malam, dijemput oleh suami dan anak-anak. Aah, senangnya bisa melihat mereka lagi. Meski hanya semalam kok rasanya lama sekaliiii. Dari solo traveling-ku yang sekejap ini aku belajar beberapa hal.

Belajar 3 Hal Ini dari Short Solo Traveling

1. Menyusun Itinerary

Aku dan keluarga belum pernah pergi-pergi ke tempat yang jauh, apalagi sampai menginap. Benar-benar typical yang suka traveling dadakan. Kaya waktu liburan natal yang lalu, tiba-tiba pengen camping, langsung tanpa ba bi bu berangkat tanpa persiapan. Sampai sana kaget euy, karena ternyata biaya sewa tenda dl nya naik sampai 2 kali lipat wkwk. Berhubung udah kadung sampai dan anak-anak excited, ya udah lanjut aja, meski sambil ketar-ketir… cukup nggak ya duitnya, wkwk.

Nah, pengalaman pergi ke Yogya kemarin membuatku belajar menyusun itinerary. Dari mempersiapkan naiknya transportasi apa, jam berapa berangkatnya, dan lain-lain. Ini aja terbantu karena lokasi acara hanya satu dan akomodasi nggak perlu mikir lagi, karena sudah disiapkan panitia.

Berhubung udah janji ke Kak Ifa mau ngajak ke Yogya, sebenarnya pertengahan Maret kemarin aku dan ayahnya sudah menyusun rencana liburan ke Yogya. Mau bawa anak-anak ke tempat honeymoonnya kami, wkwk. Mana hayoo? Gembira Loka! Ya Allah, nggak romantis banget yaks honeymoon kok ke Gembira Loka… Tapi karena corona datang, akhirnya rencana liburan itu belum jadi terlaksana deh.

2. Be Independent

Meski sebentar namun aku belajar untuk (kembali) mandiri. 19 tahun aku terbiasa berpikir dan melakukan hal-hal sendiri. Kemandirian adalah hal yang selalu ditanamkan oleh kedua orangtuaku. Namun semenjak ketemu laki-laki yang sekarang menjadi ayahnya anak-anak, aku terbiasa bergantung kepadanya.

Aku terbiasa ditemani, terbiasa apa-apa ada doi, jadilah pengalaman solo traveling kemarin sangat berharga untukku. Aku seperti menemukan diriku yang dulu. Menemukan AKU lepas dari segala atribut yang aku miliki. Menyenangkan sih… aku belajar lagi memutuskan sesuatu dengan cepat, tanpa pertimbangan suami, membuat perkiraan-perkiraan dan melatih lagi intuisiku. Tapi kalau harus memilih, aku tetap lebih suka traveling with my family, hehe.

Btw, yang belajar mandiri pun bukan hanya aku. Anak-anak juga belajar mandiri tanpa ibunya, terutama jam-jam tidur. Karena biasanya meski seharian main sama ayahnya, di jam tidur masih ada aku. Hari itu saat aku semalam menginap di Yogya, mereka belajar untuk bisa tidur tanpaku, khususnya untuk Affan yang masih balita. 

Ayahnya pun belajar mengasuh anak-anak tanpaku dalam waktu lama. Anak-anak sudah sering bersama ayahnya saat kutinggal karena ada acara blogger, seminar, dll... tapi tak sampai harus menginap. Jadi ini sama-sama pengalaman pertama kami menjadi mandiri di berbagai hal.

3. Berharganya Family Time

Ini kali pertamaku juga berjauhan dengan anak-anak dan suami dalam waktu yang lama. Hmm, kalau berjauhan sama suami saja sih pernah lebih dari ini, tapi ada anak-anak. Saat mengikuti KIP bulan Agustus lalu memang secara waktu lebih lama, namun ada Affan yang menemani. Ini benar-benar pengalaman pertama jauh dari ketiga orang penting dalam hidupku. Rasanya? Nggak enak, wkwk. 

Meski sudah sering ninggal anak-anak untuk ikut seminar satu hari, namun pergi menginap tanpa membawa mereka sangat berbeda. Namun karena ini juga aku bisa kembali merasakan rindu. Ya, terkadang kita memang butuh rindu untuk bisa memaknai arti penting seseorang. Dan aku jadi tahu family time sangat berharga setelah meninggalkan mereka sehari semalam. 

Jadi akankah aku ber-solo traveling lagi ke tempat yang lebih jauh? Hmm.. entahlah. Btw, sebelum berangkat ke Yogya aku sempat bilang ke suami, “Kalau ini berhasil, berarti kapan-kapan boleh ya aku ikut blogger trip gitu yang sampai tiga hari?” Suami cuma menjawab dengan cengiran khasnya. Hahahaha. Buat yang sudah sering solo traveling tanpa keluarga, mau dong aku dibagi tipsnya.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com