Jurnal ke-2 Tahap Kupu-kupu: Finding My Strength and My Needs


Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Memasuki pekan kedua pada tahap kupu-kupu, mentorship masih terus berjalan dengan segala ups and downs-nya. Kondisiku belum pulih seperti semula. Bahkan saat kupaksakan duduk di depan laptop untuk menyelesaikan jurnal ini, aku masih sembari menahan mual dan rasa tak nyaman di kepala.


Kalau menurut panduan dari Facebook mentorship, seharusnya di pekan kedua ini mentor dan mentee saling bekerjasama untuk menentukan goal mentorship enam pekan ke depan. Namun berbeda dengan arahan yang diberikan oleh Facebook, ibu Septi memberikan bekal kepada para kupu-kupu cantik untuk melakukan self assesment pada pekan kedua ini.

Selain melakukan self assesment, mentor dan mentee juga diharapkan untuk saling berhubungan lewat suara atau video. Nah, jujur khusus yang bagian ini jadi tantangan buatku. Aku typical orang yang tak suka melakukan panggilan suara ataupun video. Jangankan dengan orang lain yang baru kenal barusan, dengan mertua saja, aku merasa tak nyaman untuk melakukan panggilan suara atau video.

Di antara lima orang mentee yang menjadi teman belajarku, ternyata hanya satu orang yang nyaman untuk melakukan panggilan video. Beliau adalah mbak Aprilia Hatni yang saat ini tinggal dari Qatar. Bahkan dari 20 menit yang awalnya kami rencanakan, akhirnya molor menjadi satu jam lebih. Ngobrolin apa aja selama itu bersama mbak Lia? Ya nggak jauh-jauh soal ngeblog.

Memang tipe belajar setiap individu itu beda-beda. Ada yang hanya dengan baca tutorial bisa langsung mempraktekkan tutorial yang diberikan. Namun ada yang lebih bisa menjalankan tutorial ketika diberikan contoh secara langsung.

Ada yang hobi ngobrol secara langsung seperti mbak Lia, namun ada juga yang malah bingung mau ngobrol apaan sebagaimana tadi waktu aku dan mbak Wiwit mencoba melakukan panggilan suara. Jika disuruh memilih, aku memang lebih suka chatting dengan tulisan panjang kali lebar kali tinggi daripada harus melakukan panggilan video dan suara. Teman-temanku sudah sangat hafal sih. Bahkan saking tahunya aku nggak suka panggilan suara, mereka akan mengirim voice note. Kudengar sampai selesai, baru kemudian aku membalasnya lewat tulisan, wkwk.

Minta maaf sekali bu Septi, untuk tahap ini aku nggak bisa mengikuti panduannya. Mbak Puji, mentorku, juga tidak memaksaku untuk melakukan panggilan suara atau video. Kujelaskan pula ketidaknyamananku untuk memulai panggilan video ataupun suara. Aku lebih bisa all out menyampaikan yang ada di kepala lewat tulisan.

Buatku tidak selalu harus memaksa diri keluar dari zona nyaman. Ada kalanya memaksimalkan saja zona nyaman agar semakin nyaman ditempati adalah sebuah jadi pilihan terbaik.


Self Assessment dalam Blogging dan Manajemen Emosi


Aku memilih menjadi mentor blogging for newbie dalam tahap mentorship ini. Tentu saja bukan tidak ada alasan mengapa aku memilih topik tersebut. Blogger di IIP itu banyak banget, yang lebih jago dariku pun tak sedikit. Memberanikan diri menjadi mentor di ranah blogging dan content writing karena aku tahu kapasitasku di bidang ini. Kalau disuruh ngobrolin soal SEO, jelas aku masih butuh dimentori juga. Makanya aku memilih membersamai teman-teman yang ingin belajar ngeblog dari nol. Dari yang belum punya blog sama sekali, ataupun yang sudah punya blog namun belum tertata dengan baik.

Alhamdulillah dari lima mentee yang mempercayakan belajar bareng bersamaku, semangat belajar mereka keren-keren. Dari sejak pekan pertama saat tahap perkenalan, semangat mereka untuk mengulik blog super banget deh. Contoh saja mbak Riny Nur Asia yang berkisah belum punya blog akhirnya di awal pekan ini berhasil juga bikin blog. Meski sempat bikin aku deg-degan karena jarang nongol di messenger group yang kubuat khusus berbagi materi blogging. Ternyata mbak Riny lebih nyaman chat via WA daripada messenger. Setelah ngobrol beberapa kali di WA, alhamdulillah mbak Riny cerita berhasil bikin blog.

Lalu ada juga mbak Tantri yang sudah jago mengganti template blog sendiri, namun saat pertama kali kenalan masih belum rapi. Alhamdulillah kini sudah rapi dan enak dilihat. Hanya tadi siang cerita sedang turun semangat ngeblognya.

Bu Dokter Wiwit dengan blog Serendipity-nya juga tak banyak tanya, tiba-tiba sudah cantik saja tampilan blognya. Mbak Nila dengan Langit Biroe Nila-nya juga sedang berbenah untuk semakin cantik. Mbak Aprilia Hatni malah sedang mempersiapkan blog kedua, yang katanya dibuat khusus untuk sang putri tercinta.

Seneng rasanya melihat teman-teman yang semangat belajarnya berkali-kali lipat. Tanpa sadar semangat itu nyetrum juga kepadaku. Apalagi seminggu ini aku blas nggak ngeblog karena kondisi tubuh yang masih ngos-ngosan kalau diajak mikir dan nulis.

Sebagai mentor aku sadar, untuk materi blogging pemula, insya Allah aku bisa mendampingi teman-teman. At least sampai pada menyiapkan tulisan dengan basic SEO, aku masih bisa mengawal teman-teman. Tentu saja sebagai seorang blogger, aku masih terus belajar untuk update pengetahuanku. Apalagi google barusan update algorithma terbaru, yang aku sendiri masih belum jelas kira-kira apa efeknya buat blogku, wkwk.

Sementara untuk urusan manajemen emosi, seperti yang kusampaikan pada mbak Puji. Sudah ada beberapa kelas self healing yang aku ikuti, dari kelas Empowering Innerchild Within-nya pak Asep Haerul Gani hingga SEFT, namun tantangan yang kuhadapi adalah soal konsistensi. Maka kuharapkan dalam mentorship kali ini aku lebih bisa konsisten dalam mengelola emosi, sehingga naik turun emosiku nggak terlalu ekstrem.

Baiklah, berhubung perut mulai nggak bisa diajak kompromi. Saatnya mengakhiri curcolan kupu-kupu di pekan kedua ini. Setelah ini kami bakal libur cukup panjang. Doakan setelah liburan, semangat untuk belajar ngeblog bareng mbak-mbak mentee dan mengelola emosi bareng mbak mentor bisa lebih baik lagi ya, pals.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

  1. sepakat dengan quote tentang zona nyamannya, selama ini aku bertanya-tanya kenapa harus keluar dari zona nyaman. kenapa ngga terbang dengan tetap berada di zona nyamannya saja, kan lebih enak wkwk

    ReplyDelete
  2. tpi ywrkasang keluar dari zona nyaman itu perlu juga sih

    mari berteman.. and di tunggu follow back nya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter