Let's Read; 5 Caraku Menumbuhkan Minat Baca pada Anak-anak

Let's Read; 5 Caraku Menumbuhkan Minat Baca pada Anak-anak
Membicarakan parenting itu nggak pernah ada habisnya. Ada banyak turunan di bawah tema besar tersebut. Mau diakui atau tidak, parenting is complex and need to be prepared. Ya, meski pada prakteknya, sering banget terjun dulu baru cari ilmunya, hehe. Itu aku sih…

Salah satu turunan dari babagan pengasuhan anak yang banyak dicari oleh para mamah dan papah muda adalah terkait bagaimana menumbuhkan minat baca pada anak-anak. Pada tahun 2018, aku pernah membuat artikel tentang review buku Membuat Anak Gila Membaca-nya Ustaz Fauzil Adhim.

Buku yang kujadikan rujukan soal urusan menumbuhkan minat baca anak ini sebenarnya nggak tebal-tebal banget sih. Namun karena isinya daging semua, tulisanku beberapa tahun lalu itu memang belum membahas semua poin yang ada di dalam buku. Hanya kutulis beberapa hal yang memang sudah kulakukan di rumah.

Nah, kali ini aku mau melanjutkan membahas soal tentang membuat anak gila membaca. Ada yang mau lanjut baca juga nggak ya?

5 Tips Menumbuhkan Minat Baca

Jika kita ingin membangun tradisi membaca yang kuat kepada anak, kita perlu mengemaskan kegiatan membaca seperti kegiatan “bermain”. Ada suasana bermain setiap kali kita mengajari anak-anak membaca. (Ustaz Fauzil Adhim- Membuat Anak Gila Membaca)
Sebenarnya dibilang anak-anakku sudah sampai titik gila membaca juga belum sih. Kayanya kalau ditawari buku atau YouTube, anak-anakku masih memilih YouTube deh. Wong emaknya juga sekarang begitu, wkwk. Ketika di hadapan ada pilihan drakor, YouTube atau buku, keknya buku jadi pilihan terakhir sekarang ini, hehe. Anehnya beli bukunya jalan terus sih, dibaca dikit, lalu masuk rak lagi. Duh, menulis artikel ini bikin ingat dengan setumpuk buku yang belum kelar baca nih.

Back to anak-anak sajalah yaa…

buku sebagai permainan yang mengasyikkan
Mungkin bedanya anak-anak yang sudah akrab pada buku dengan anak-anak yang belum dikenalkan secara dekat kepada buku, ketika gadget hours usai, mereka nggak bingung harus ngapain. Ketika aku bilang, “Oke stop. Time to turn off the YouTube,”tentu saja awalnya anak-anak ngedumel dulu dong. Tapi begitu sudah fix harus stop, larinya ya ke buku lagi dan lagi. Mainan lain? Adaaaa lah. Namanya dunia anak kan dunia main-main kan?

Bahkan buku pun bisa jadi mainan mereka kok. Buat Ifa dan Affan, buku adalah bagian dari permainan mereka. Kadang nggak dilihat gambar atau ceritanya, tapi disusun dan dibuat jadi jembatan dan terowongan, lalu dimainkan dengan mobil-mobilan. Biarkan kreativitas dan imajinasi mereka menyatu dengan buku-buku. Selama apa yang anak-anak lakukan tidak sampai merusak buku, let it go.

Menurutku ada beberapa hal yang harus kita lakukan untuk bikin minat baca anak-anak bertumbuh dengan baik. Aku sertakan juga materi yang kubaca di buku Ustaz M. Fauzil Adhim agar lebih lengkap.

1. Teladan dari Orangtua

Banyak jalan yang bisa kita tempuh untuk menggairahkan minat baca anak. Tetapi, tanpa contoh nyata, kita bisa kehilangan kepercayaan dan kredibilitas di hadapan mereka. Kita kehilangan kepemimpinan sehingga seruan kita tidak efektif. (Ustaz Fauzil Adhim- Membuat Anak Gila Membaca)
Zaman masih aktif jualan buku, banyak banget customer dan calon customer yang tanya atau curhat, “Mbak, anakku sudah kubelikan buku, tapi kok tetap nggak suka sama buku ya?” Lalu aku balik tanya dong, “La mbak suka baca nggak? Buku yang sudah dibelikan dibacakan nggak ke anaknya?”

Nggak sedikit yang menjawab, “Aku tuh nggak suka baca mbak. Makanya pengen anak-anakku suka baca gitu. Makanya kubelikan buku, tapi kok ya tetap aja nggak tertarik.”

ortu harus menjadi teladan suka membaca
Lucu kan? Pengen anaknya suka baca, tapi orangtuanya nggak suka baca, nggak pernah menunjukkan ketertarikannya kepada buku. Ya, jangan salahkan anaknya juga kalau nggak tertarik membaca dong, hehe.

Aku pernah baca sebuah artikel atau mungkin sebuah buku, agak lupa tepatnya. Diceritakan bahwa si ibu nggak suka nih baca buku, tapi demi anaknya suka baca buku, si ibu pura-pura baca buku di depan anak-anaknya. Sampai pada akhirnya anak-anaknya jadi terbiasa dengan kegiatan membaca, dan ibunya pun lama-lama juga suka membaca.

Kalau mau anaknya suka baca, ya mau nggak mau harus ada effort dong, pals. Tentu saja hal penting dan mendesak yang harus dilakukan adalah dengan menunjukkan bahwa kita juga suka membaca. Bahkan misal kita nggak terlalu hobi membaca, mungkin bisa pakai cara si ibu di atas. Pura-pura membaca, hehe.

Kebetulan sejak kecil, buku juga bukan hal asing buatku, meski koleksi bukuku tak sebanyak anak-anak sekarang. Hanya saja karena ibuku guru, jadi beliau sering membawakanku buku-buku dari perpustakaan sekolahnya. Nanti kalau sudah selesai kubaca, buku-buku itu akan dikembalikan lagi dan ibu akan pulang dengan buku-buku baru. Ibu juga berlangganan Bobo untukku. Begitu edisi terbaru datang, nggak perlu menunggu sehari selalu sudah tandas kubaca.

Berhubung zaman segitu belum ada gadget, gangguan utama hanyalah TV. Namun karena sering melihat ibu baca buku, majalah ataupun tabloid, akhirnya mau tak mau aku pun juga mencintai aktivitas membaca. Hal itu juga yang kemudian kuturunkan pada Ifa. 

ortu harus menyediakan waktu membaca
Saat Ifa lahir, gadget belum secanggih sekarang, di rumah juga belum konek internet 24 jam seperti sekarang. Aku masih sering terlihat membaca di depan Ifa. Aku masih rajin membacakan buku buat Ifa, karena kebetulan saat Ifa baby, aku dan suami masih LDR-an. Aku nggak terlalu melakukan effort yang gila-gilaan sih, hanya karena Ifa sering melihat emaknya membaca dan doi selalu dibacakan buku, buku-buku ditata di ruang tamu sekaligus ruang mainnya, jadilah lama-lama aktivitas membaca menjadi kegiatan yang mendarah daging buat Ifa.

Berbeda saat Affan lahir. Jujur aku sudah sangat jarang membaca buku yang dijadwalkan khusus untuk anak keduaku ini. Namun aku sangat terbantu dengan Ifa. Karena aktivitas membaca sudah jadi ‘teman baik’ buat Ifa, kegiatan ini sering ditunjukkan ke Affan. Bisa dibilang, teladannya Affan soal suka membaca itu ya Ifa. Bahkan karena sekarang Ifa sudah bisa membaca, Ifa jauh lebih sering membacakan buku ke adiknya daripada aku, hehe.

So, kunci pertama biar anak punya minat baca… jadilah teladan, at least buat anak pertama. Pegang banget deh anak pertama, insya Allah nanti menularkan ke adik-adiknya jauh lebih mudah.

2. Dorong Anak untuk Suka

Masih ingat nggak pelajaran favorit zaman sekolah dulu? Kalau aku suka bahasa Inggris. Alasannya ada beberapa. Pertama, karena orangtuaku nggak bisa bahasa Inggris, dan aku jadi kepo dengan arti kata-kata dan bagaimana menyusun kalimat, juga cara ngomongnya. Kedua, aku ketemu dengan guru les yang asyik banget cara ngajarinnya, beda dengan saat di sekolah yang membosankan. Ketiga, menantang. Buatku bahasa Inggris itu bikin aku nggak pernah puas, pengen tahu dan tahu lagi lebih dalam.

Nah, kalau ditarik garis ke soal membaca, kira-kira apa nih yang bikin anak jadi suka dan tertarik membaca? Hingga nantinya anak bisa punya banyak alasan ketika kita tanya, ‘kenapa kamu suka baca?’ Selain menjadi teladan, bikin anak tahu bahwa membaca itu sebuah kegiatan yang asyik adalah PR untuk bikin anak tertarik. 

tips anak suka membaca
Poin-poinnya udah pernah kutulis di artikel review Membuat Anak Gila Membaca sih, seperti menyiapkan anak dengan beragam buku, menyediakan jam baca khusus, baca buku bersama anak, dsb. Bisa cuzz saja ke artikel tersebut untuk lengkapnya ya, hehe.

Banyak orangtua menggegas anak BISA membaca alias memiliki ketrampilan membaca huruf per huruf, kata per kata, tanpa ditumbuhkan minat pada kegiatan membacanya terlebih dahulu. Alhasil, banyak yang bisa membaca di usia sebelum SD, tapi belum tentu ke depannya mereka akan suka membaca. Bahkan bisa jadi membaca buat mereka bukan kegiatan yang asyik, hanya sekedar kebutuhan sekolah.
Kemampuan untuk mendorong anak menyukai membaca, jauh lebih penting daripada kemampuan mengajari anak bisa membaca. Banyak orangtua buta huruf - meski pada zaman kita hampir tak ada lagi - melahirkan anak-anak cerdas karena mereka mampu membuat anak-anaknya suka belajar. Sementara, banyak anak guru yang justru jauh dari ilmu. Mereka memang bisa membaca dan menguasai pelajaran lebih awal, tetapi tanpa antusiasme dan rasa suka. (Ustaz Fauzil Adhim - Membuat Anak Gila Membaca, hal. 249)
Anak yang telah punya ketertarikan secara mandiri untuk membaca akan selalu berusaha menyediakan waktu bagi segala kegiatan yang berkait dengan membaca. Seasyiknya main playdough dan nonton youtube, membaca buku akan tetap jadi kegiatan yang dilakukan di antaranya. Dari rasa suka inilah, nanti anak akan terdorong untuk bisa membaca.

rasa suka membaca melahirkan keinginan bisa membaca
Ini terbukti di Ifa sih. Ifa baru bisa terampil membaca ya sejak masuk SD, tapi sejak usia 3 tahun dia sudah tahu buku-buku yang mau dibacanya. Bahkan tahu judul yang diambilnya, padahal belum bisa membaca. Gara-gara sering dibacain dan lihat-lihat gambar, Ifa jadi semakin semangat untuk bisa membaca. Dan sekarang, sehari bisa baca minimal 3 buku, ya meski masih suka-suka, tapi buatku udah cukup untuk diacungi jempol.

Dalam buku Membuat Anak Gila Membaca, Ustaz Fauzil Adhim juga menyampaikan bahwa penting bagi orangtua untuk memperhatikan dengan benar target kita dalam mengajarkan membaca kepada anak-anak, khususnya balita. Kesalahan menargetkan pemberian pengalaman pramembaca sebagai upaya agar anak mampu membaca serta menulis huruf-huruf menjadi kata bisa membuat anak terbebani. Jika terus berlanjut, bisa jadi nantinya anak justru ada penurunan di bidang akademik.

Jadi balita nggak boleh nih diajarin keterampilan membaca? Kalau aku sih, back to caranya, tekniknya dan kesiapan anaknya. Karena ada anak-anak balita yang memang udah minta dan punya minat untuk bisa membaca. Bisa kulik juga pendapatku tentang Pro Kontra Pengajaran Calistung di TK. Sudah lama sih nulisnya, tapi masih relevan dengan apa yang ada di kepalaku saat ini.

3. Kenalkan Manfaat Membaca ke Anak

Dalam buku Membuat Anak Gila Membaca, Ustaz Fauzil Adhim juga menyampaikan bahwa ketika anak tahu manfaat dari sebuah aktivitas, anak akan lebih bersemangat melakukan aktivitas tersebut. Sebelum diberi tahu soal manfaat, PR nya memang menumbuhkan minat dulu. Kalau aku cara menumbuhkan minat di awal ya pakai cara no 1 dan 2 di atas.

kenalkan manfaat membaca pada anak
Ketika anak sudah mulai tertarik dengan membaca, baru deh mulai kenalkan anak dengan manfaatnya. Mengetahui manfaat ketika anak sudah memiliki minat akan lebih menjaga minat bacanya sehingga tidak mudah goyah.

Cara termudah membuat anak tahu manfaat membaca adalah ketika kita sebagai orangtua selalu tahu atau setidaknya mau cari tahu hal-hal yang dikepoin sama anak. Misal nih, Ifa tanya sesuatu atau aku dan ayahnya memberikan informasi, misal tentang Covid-19… si Ifa sering banget ketika kita habis menjawab atau menjelaskan sesuatu akan bertanya, “Kok ayah/ bunda tahu sih?”

Kita tinggal jawab deh, “Kan baca kak Ifa.” Begitu juga saat Ifa tanya sesuatu, dan aku atau ayahnya nggak bisa jawab, entah itu lupa atau memang belum tahu, biasanya kami akan menjawab, “Wah, bunda/ ayah belum tahu nih, cari tau yuk. Di buku ini kayanya ada deh.”

Sesederhana itu, namun ketika itu jadi hal yang dikatakan berulang-ulang, aku percaya bahwa Kak Ifa akan paham bahwasanya “ooh, dengan membaca aku jadi tahu apa yang tadinya aku nggak tahu nih.”

Begitu juga Affan, karena bisa dibilang kiblatnya Affan itu ya kakaknya. Jadi aku sering menangkap binar-binar kekaguman Affan ketika dibacakan Ifa. Dengan usianya yang masih 3.5 tahun, kalau Affan bisa mengungkapkan dengan kalimat panjang, mungkin akan bilang, “aah, ternyata membaca menyenangkan ya, jadi tahu banyak hal kaya kak Ifa.” Hehe

Nah, karena sekolah Ifa basic kurikulumnya Iman dan Quran, aku jadi semakin mudah juga mengenalkan manfaat membaca. Mulai deh masukkan landasan teori dari Al Quran tentang pentingnya membaca yang bisa kita tahu di Quran Surat Al Alaq 1-5:


Lalu juga aku kuatkan pada Ifa bahwasanya salah satu manfaat membaca adalah kita bisa mendapat pengetahuan. Allah akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan yang diberi ilmu pengetahuan, sebagaimana termaktub dalam Quran Surat Al Mujadilah 11:


Langkah awal untuk menunjukkan manfaat membaca secara religius bisa kita tempuh dengan menceritakan kepada anak tentang bagaimana mereka membiasakan diri membaca karena Allah. Kita ceritakan kepada anak kita kebaikan orang yang suka membaca, manfaat apa yang mereka lakukan dari membaca, serta bagaimana membaca karena Allah dapat mengantarkan kita meraih ridha Allah. Sesudah itu, kita ceritakan tentang orang-orang yang tidak mau membaca beserta akibatnya. (Ustaz Fauzil Adhim - Membuat Anak Gila Membaca, Hal. 206)

4. Biarkan Anak Mengerti

Selain membiasakan dekat dengan buku, hal yang nggak boleh kita lupakan adalah membuat anak paham dengan proses yang dilakukan bersama orangtuanya.
Tak penting berapa banyak kata yang telah mampu ia baca, dan berapa banyak huruf yang ia kenal dengan baik. Yang paling penting adalah membuatnya mengerti bagaimana huruf-huruf itu bisa menghasilkan bunyi kata, dan bagaimana rangkaian kata bisa membentuk satu pengertian yang bermakna. Dengan demikian, ketika kelak anak lancar membaca, tidak hanya membunyikan huruf dan kata-kata, tetapi memang benar-benar memahami maksud kalimat. (Ustaz Fauzil Adhim - Membuat Anak Gila Membaca, hal. 252)
Memilih buku sesuai usia anak adalah hal yang nggak boleh kita lupakan. Saat anak masih balita, buku-buku anak yang secara khusus memberi pengayaan kosakata bisa jadi pilihan yang bagus untuk menguatkan pemahaman anak terhadap kosakata, makna dan penggunaannya.

Buku bergambar juga bagus untuk anak-anak balita karena akan menciptakan imajinasi di alam pikirnya. Affan sedang sampai pada tahap membuat cerita sendiri dari gambar yang dilihat dari buku. Tentu saja dengan bahasa anak usia 3.5 tahun yang begitu deh.

biarkan anak mengerti proses membaca
Ustaz Fauzil Adhim juga menyampaikan bahwa penting untuk membiasakan anak belajar menganalisis bacaan. Terlihat sulit dan berat ya? Tapi sebenarnya nggak juga kok. Kita bisa melakukan dengan cara sederhana, yaitu dengan menanyakan beberapa hal sederhana terkait gambar yang dilihat anak di buku, atau cerita yang baru saja dibacanya.

Misal, setelah membaca salah satu seri Halo Balita;
“Fan.. itu kenapa tomatnya Sali?”
“Tomatnya Sali nggak tumbuh,” kata Affan.
“Waduh, kenapa bisa nggak tumbuh ya?”
“Sali lupa kasih makan,” kata Affan.
“Oh gitu, memang gimana cara kasih makan tomatnya?”
“Dipupuk sama disiram air. Kaya Ayah kalau nyiram tanaman,” kata Affan.
Tentu teman-teman punya pertanyaan-pertanyaan lebih ajib lah ya. Btw, Affan dan Ifa ini berbeda. Kalau Ifa dibacain buku bisa dengerin sampai selesai, kalau Affan nggak. Belum kelar bacanya, udah minta ganti judul lagi. Jadi kadang bacain lengkapnya cuma sekali, dan besok-besoknya saat minta dibacain judul yang sama, aku pakai metode bertanya seperti di atas.
Membiasakan anak melakukan analisis lebih bersifat melatih anak menemukan sebab-akibat, memahami gejala, membayangkan apa yangterjadi kemudian dengan gejala tersebut, serta melatih anak menemukan apa yang bisa dilakukan setelah mengalami gejala…. Lontaran pertanyaan yang kita ajukan kepada anak secara terencana dan eksploratif bisa kita arahkan untuk merangsang kemampuan anak menulis kreatif sejak dini. (Ustaz Fauzil Adhim, Membuat Anak Gila Membaca, hal. 254-255)

5. Jangan Bebani Anak dan Berikan Apresiasi

Ada kalanya anak nggak terlalu antusias dengan kegiatan membaca, entah itu membaca sendiri buat yang sudah bisa, atau dibacakan untuk anak-anak balita. Bagaimana dong? Ya, nggak apa-apa. Bukannya kita yang orang dewasa juga begitu? Kadang semangat banget, sehari bisa tuntas satu buku. Tapi nggak jarang juga semangat membaca turun hingga berhari-hari. Jadi ya, wajar saja anak-anak kalau sedang bosan membaca.

ketika anak bosan membaca
Apa yang harus kita lakukan saat anak sedang bosan membaca? Cara terbaik adalah berhenti membacakan buku sebelum anak bosan. Atau sebelum kebosanannya semakin menjadi. Kita harus memaklumi anak jika ia minta berhenti membaca. Jangan dipaksa. Memaklumi kebosanan anak justru akan menjaga minat baca mereka sehingga tetap menyala-nyala. Sementara pemaksaan justru bisa membuat anak terbebani.

Jika anak menunjukkan kebosanan membaca dalam waktu yang lama, hingga mengarah pada kemalasan, perlu cek nih penyebabnya apa. Btw, ini juga bisa diberlakukan ke orangtuanya, hehe. Kalau udah mulai malas membaca, biasanya kenapa? Kebanyakan nonton drakor ya? #selfplak.

Nah, setelah tahu penyebabnya, baru deh bisa dicari solusinya. Misal anak jadi malas baca karena kebanyakan gadget hours-nya, berarti harus ditata ulang gadget hours-nya. Kalau misal anak jadi malas baca karena kurang apresiasi, kita harus perhatikan juga, jangan-jangan saat mengajak anak membaca lebih sering diberi ancaman dan tidak memberikan apresiasi.

cari penyebab bosan membaca
Sekarang ini Ifa sudah sampai pada tahap suka membagikan hal-hal yang baru saja dibacanya. “Bun, tahu nggak ternyata ada hewan namanya ini lo… bla bla bla…” Entah aku atau ayahnya sudah tahu atau belum, biasanya kami akan memberikan apresiasi kepada Ifa, “Oh ya kak? Bunda nggak tahu lo/ Bunda udah pernah baca sih, tapi lupa. Kok kakak tahu sih?”

Atau sebelum sampai pada kalimat ‘kok, kakak tahu sih,’ biasanya aku akan gali kedalaman pemahamannya dengan menanyakan beberapa hal. Selain untuk tahu seberapa paham dia dengan apa yang dibacanya, dengan membuat Ifa menceritakan ulang apa yang dibacanya, akan membuat apa yang sudah dibacanya jauh lebih diingat olehnya.

Ifa kemudian akan berkata, “Iya, kan aku baca di sini.” Lalu akan kami sambut dengan pujian, “Alhamdulillah kakak rajin baca ya. Jadi tahu tentang itu deh.” Ifa pun tersenyum lebar dan jadi semakin semangat untuk membaca lagi deh.

berikan apresiasi kepada anak saat mau membaca

Memberikan apresiasi dengan cara yang tepat dan tidak berlebihan itu penting. Biarkan anak tahu bahwa kita membanggakannya.
Cek juga apakah anak-anak malas membaca karena mereka merasa kegiatan ini membosankan? Banyak orangtua yang memaksa anak membaca dengan cara yang keras, karena takut nanti nilai di sekolah jadi jelek. Tapi tidak berusaha membuat kegiatan membaca yang asyik buat anak-anaknya. Bahkan kadang disertai dengan ancaman, hingga akhirnya anak membaca hanya karena takut dimarahi.
Menumbuhkan minat membaca sama halnya seperti menumbuhkan iman. Memang kita bisa menumbuhkan minat membaca dan keimanan lewat rasa takut, hanya saja kita perlu tahu nih ada dua jenis rasa takut. Takut yang pertama, takut disiksa sehingga orang berusaha menghindari hal-hal yang menyebabkan terjadinya disiksa. Atau takut yang kedua, takut karena merasakan kehebatan dan keagungan Allah sehingga mendorong orang untuk melakukan apa-apa yang bisa membuat-Nya ridha.
Nah, kita pilih anak-anak tumbuh minat baca dan imannya dengan rasa takut yang mana? Pilihan dan caranya ada di tangan kita masing-masing.

Sebagai orangtua, penting buat kita untuk memberikan gambaran yang indah tentang membaca kepada anak dan memberi kesempatan kepada mereka untuk merasakan keindahan saat membaca buku bersama orangtuanya. Gambaran indah tentang membaca jauh lebih memotivasi anak daripada ancaman dan hukuman jika mereka tidak mau membaca.

tips agar anak tidak terbebani membaca
Agar anak tidak terbebani dan semangat membaca, cek juga kesesuaian buku dengan usia dan karakter si anak. Tidak semua buku yang disukai Ifa saat berusia 3.5 tahun juga disukai Affan. Ya nggak masalah, karena anak pasti punya minat bacaannya masing-masing. Pastinya, jangan memaksa anak mencerna buku yang mereka belum sanggup menikmatinya.

Selain itu, ajari anak memahami buku secara bertahap. Jangan membebani mereka untuk memahami sekaligus dan menuntut mereka mampu mengungkapkan kembali secara sempurna. Untuk balita kaya Affan, tujuan memberi pengalaman pramembaca kepada anak-anak adalah untuk merangsang minat mereka, bukan mengajari mereka membaca dan memahami isi bacaan. Akan berbeda ketika masuk di usia-usia Ifa, harus mulai dicek juga seberapa paham dia dengan isi bacaan.

Let's Read: Aplikasi Baca Buku Wajib Ada di HP Para Orangtua

Terkait dengan mengajari anak untuk memahami buku secara bertahap, aku jadi ingat sebuah aplikasi yang baru saja aku unduh. Saat aku mengevaluasi gadget hours Ifa selama school from home, aku menyadari bahwa dia semakin banyak menghabiskan waktu memegang gadget daripada buku. Ya, meski sejauh ini kami belum memberikan gadget khusus kepadanya, hanya sebatas meminjami gadgetku atau milik ayahnya.

Let's Read tumbuhkan budaya membaca dengan cara kekinian
Karena hal ini pula, aku mulai pilah-pilih aplikasi yang ramah anak dan tentu saja bisa membawa manfaat kepadanya. Ketemu deh dengan Let's Read. Sebuah aplikasi besutan  The Asia Foundation ini dibuat dengan tujuan yang sangat mulia.

Menyadari bahwasanya kini gadget jauh lebih sering dekat dengan anak-anak, daripada buku. The Asia Foundation memikirkan sebuah solusi bagaimana agar budaya membaca  tetap bisa ditumbuhkan meski lewat gadget.

Lebih jauh lagi, The Asia Foundation ingin berkontribusi kepada masyarakat Asia untuk menyediakan perpustakaan digital bagi anak-anak. Menyadari pula bahwa anak-anak membutuhkan buku yang tak boleh asal-asalan, The Asia Foundation bekerjasama dengan penulis-penulis dan penerjemah lokal di kantor-kantor cabang yang berada pada 18 negara.

Let's Read didirikan oleh The Asia Foundation untuk menumbuhkan minat baca anak
Komunitas penulis dan penerjemah inilah yang kemudian berkreasi menyediakan buku-buku digital tentang cerita-cerita rakyat, cerita daerah, cerita petualangan dan masih banyak lagi jenisnya. Pastinya cerita-cerita di Let's Read ini mengandung banyak tema serta karakter yang kuat. Diharapkan dengan membaca cerita yang ada di aplikasi perpustakaan digital khusus anak ini, anak-anak lebih terpupuk karakter-karakter baiknya.

Keunggulan Let's Read

Aku bukan orang yang suka asal install aplikasi. Buatku menghemat storage HP adalah sebuah kewajiban. Namun untuk Let's Read aku menyediakan khusus space di HP-ku. Tentu bukan tanpa alasan, karena inilah beberapa keunggulan dari Let's Read yang aku temukan:

keunggulan Let's Read dalam  tumbuhkan minat baca anak

1. Aplikasinya Ringan

Aplikasinya tak membutuhkan banyak space di HP. Bahkan jika kita tak mengunduh buku-buku yang ada di dalamnya, maka space untuk aplikasi ini tak akan bertambah banyak.

2. Gambar Menarik

Anak-anak selalu suka visualisasi yang menarik. Let's Read do it! Aplikasi ini mampu menyediakan cerita-cerita dengan alur yang menarik dan gambar-gambar yang cantik, sehingga anak-anak pun betah saat membaca ataupun dibacakan cerita-cerita dari aplikasi ini.

3. Download atau Baca Langsung, Semua Bisa

Aplikasi pustaka digital dari The Asia Foundation ini memperbolehkan kita untuk mengunduh buku-buku yang ada di dalamnya, ataupun bisa juga dibaca tanpa diunduh. Tentu saja jika tidak diunduh, kita membutuhkan koneksi internet untuk bisa membaca cerita-cerita tersebut.

Untuk saat ini karena di rumah kami terkoneksi dengan wifi, aku lebih suka membaca secara langsung. Namun jika suatu saat kami sudah mulai bepergian agak jauh, sepertinya perlu untuk mengunduh beberapa buku favorit anak-anak agar bisa dibaca selama perjalanan.

kelebihan Let's Read dalam  tumbuhkan minat baca anak

4. Bisa Dicetak Sendiri

Selain bisa diunduh, buku-buku dari Let's Read juga bisa dicetak sendiri lo. Tentu saja ini jauh lebih aman untuk kesehatan mata anak-anak ya karena tak perlu lama-lama menatap layar. Jangan lupa copyright-nya juga ikut dicetak agar jika ada orang yang tanya bukunya terbitan mana, mereka tahu bahwa kita mendapatkannya lewat aplikasi baca buku yang keren banget.

5. Banyak  Tema Cerita dan  Tersedia Tingkatan Buku

Bagian ini cocok sekali dengan tahapan mengenalkan buku. Tentu saja buku untuk Ifa yang sudah lancar membaca akan berbeda dengan Affan yang masih dalam tahap perkenalan. Aplikasi ini menawarkan pilihan tingkatan. Ada tingkatan buku pertama, hingga tingkatan lanjutan. Semakin tinggi tingkatannya, semakin panjang ceritanya. Tentu saja juga memerlukan pemahaman yang lebih dalam dibandingkan buku dengan tingkat yang lebih rendah.

Pilihan buku di Let's Read juga sangat beragam. Pada saat installation, kita akan diminta memilih bahasa apa yang ingin dimunculkan. Banyak sekali bahasa yang tersedia. Bahasa-bahasa ini berhubungan dengan tema-tema buku yang nanti akan dimunculkan.

6. Mengajarkan Anak tentang Manfaat Gadget

Mengenalkan Let's Read pada anak secara tidak langsung juga membantu mereka paham bahwa manfaat gadget tidak hanya sekedar untuk menghibur diri. Gadget juga bisa dipergunakan dengan positif, salah satunya untuk membaca buku.

Ingin tahu bagaimana cara download, install dan memakai aplikasi Let's Read? Tengok dulu video berikut ya, pals:


Anak-anak sangat antusias dengan aplikasi ini karena mereka jadi punya tambahan koleksi buku dalam bentuk digital. Mereka juga jadi tahu kalau ternyata buku tidak hanya berwujud secara fisik, namun juga ada versi digitalnya. Sebuah pengetahuan baru nih buat mereka. Terima kasih Let's Read sudah menambah wawasan anak-anakku, dan juga memberikan pengalaman membaca yang berbeda bagi mereka.

Oya, aplikasi ini juga cocok buat anak-anak yang kecanduan gadget dan masih susah diatur gadget hours-nya. Perlahan orangtua bisa mengalihkan game dan Youtube ke Let's Read. Tentu saja proses pengalihan ini butuh pendampingan orangtua secara total. Ingat kan kalau orangtua adalah teladan bagi anak-anaknya?

quotes tentang membaca dari ustaz m. fauzil adhim
Membaca itu bisa jadi sesuatu yang mengasyikkan bagi anak asal dikenalkan dengan cara yang juga mengasyikkan. Semoga 5 tips di atas bermanfaat buat teman-teman yang ingin menumbuhkan minat baca dalam diri anak-anak ya. Oya, jangan lupa untuk download aplikasi Let's Read untuk mendapatkan pengalaman membaca yang berbeda. Sampai jumpa di catatan-catatanku berikutnya!
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

21 comments

  1. Wah keren artikelnya Rit, lengkap dan detil, semoga bisa jadi inspirasi orang tua mengajak anak mencintai buku ya

    ReplyDelete
  2. Oh iya juga ya. Jadi ngerasa nih aku. Udah beliin buku si adek bungsu, tapi nggak mau dibaca. Alasannya tentu saja, aku saja kadang masih males banget baca.

    Berarti sebelum meminta anak suka pada dunia baca dan tulis, harus seenggak-enggaknya dimulai dari diri kita sendiri ya, Mbak.

    Oke Siap.

    ReplyDelete
  3. Iya membaca mmg banyak manfaat nya y mb aplg buat anak2 yg sekrg kian kritis ..mmg benar kt ustad fauzil adzim kita hrs bisa membuat anak gila membaca dimulai dari ortu dl.

    ReplyDelete
  4. Belom punya anak, baca dulu. Pengalaman maksa2 adekku suka baca juga susah. Alhasil belinya model komik yg banyak gambarnya gapapa deh. Lumayan melatih fokusnya dia. Habis baca pun suka nanya sih isi bukunya apa, buat ngetes beneran baca ngga 🤣 aku blm kebayang nantinya di masa depan kalau wujud buku semakin banyak yg digital. Gmn caranya bkin suka baca ya :"))

    ReplyDelete
  5. Setuju teladan dari orangtua mbak. Sejak kecil harus dicontohkan oleh orangtua ya, karena anak akan menduplikasi apa yang dilakukan orangtua.

    Jika ada anak yang suka membaca buku, saya percaya bahwa lingkungan rumahnya mendukung hal tersebut, dan perlu usaha keras dari orangtua mengingat saat ini pengaruh ponsel sangat mendominasi.

    ReplyDelete
  6. krna saya blom punya anak jdi saya aja yang harus rajin baca buat bekal masa depan dan menjadintauladan bagi anak saya nanti heheh

    ReplyDelete
  7. Iyes, setuju banget, teladan dari orang tua, suamiku beneran gak suka baca. Tapi karena ibunya suka banget bacain cerita dari majalah, mereka pun akhirnya ikutan suka.

    ReplyDelete
  8. Setuju mbak, teladan adalah kuncinya. Biarpun disiapin buku segudang kalo ga ada contoh dari orangtua anak ga akan tergerak. Alhamdhulilah terbukti juga aku yg suka baca nurun ke si kakak sekaramg udah mulai bisa duduk anteng baca novel yg tebel. Kalo si ade masih tahap pengenalan buku dgn mendongeng tiap sebelum tidur

    ReplyDelete
  9. aku suka baca buku karena ibuku juga suka baca buku. terus, hadiah pertama saat aku sembuh dari sakit juga buku

    eh, sekarang sukanya baca buku pemrograman sih. hehehhw

    ReplyDelete
  10. Mba Marrr tulisannya selalu bikin aku berkaca dan evaluasi diri deh. Ini ketiga kalinya kayaknya bikin aku bikin list to do hari ini mau baca apa sama anak. Hehehe. Thanks mba

    ReplyDelete
  11. Tips bermanfaat, buat ngajakin anak-anak suka dan dan cinta baca. Makin seru, pas bareng-bareng berburu buku bacaan.
    Alhamdulillah.

    ReplyDelete
  12. sayapun masih proses mengenalkan bagaimana anak mencintai buku, kadang pas anaknya lg semangat eh ibunya yg ngantuk, itu ada tipsnya nggk mba ckck

    ReplyDelete
  13. Aku sedang menikmati tahap berulang kali membacakan cerita yang sama untuk Kak Ghifa, Mbak. Sesekali kuminta dia yang cerita. Padahal, ya, dia bisa bercerita. Tapi, kudu aku yang membacakan. Wong sama abinya aja nggak mau. Katanya beda. Hahaha.

    Alhamdulillah, dengan modal murah meriah ternyata menumbuhkan minat baca ke anak ki ya bisa.

    ReplyDelete
  14. Infografisnya bagus banget mba. Jadi ingin membaca tanpa terlewatkan. Memang membaca itu merupakan kegiatan yang butuh proses jika dari kecil sudah dilatih maka jika dewasa tidak akan sulit untuk terua membaca

    ReplyDelete
  15. Kayaknya kudu membatasi penggunaan gadget deh kalau aku ke anak lanang. Dari kecil udah familiar dengan aktivitas membaca emaknya, plus selalu diceritain dongeng-dongeng, baik menjelang tidur ataupun setelah bangun tidur. Tapi kok hasilnya bisa beda banget ya dengan kakaknya yang kecanduan buku. :)

    ReplyDelete
  16. mbk ada tips untuk menghindari rasa ngantuk ketika membacakan buku pas sama anak gak? hehehe

    ReplyDelete
  17. Yg kurasakan, musuh utama adalah gadget, games, dan yutub yg menjauhkan anak2 dari buku... Tapi bisa dikalahkan kalau ada teladan dari ortunya, dgn membiasakan baca brg

    ReplyDelete
  18. Mantap sekali ini artikel mbak....
    Panutan emang...
    Kudu ditandain ini artikel buat bekal nanti heeee

    ReplyDelete
  19. Ya ampyun komplitnya. Lg bingung jg nih sama anakku yg cowo. Sdh kadung audio anaknya jd klo baca ogah . Gadgetan terus
    ..hiks.

    ReplyDelete
  20. Butuh ketekunan untuk mendorong anak cinta baca, ya? Kalo saya simpulkan sih orang tua buat stimulus positif yang berkesinambungan agar tujuan tercapai. Pastinya, orang tua itu model yg terbaik. Thanks mbak^^

    ReplyDelete
  21. Baru tahu dengan Lets Read ini, mbak. Terima Kasih informasinya. Sekarang jadi banyak bahan bacaan buat anak.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com

Subscribe Our Newsletter