MaritaPalace

Lifepal Ubah Stigma Asuransi di Indonesia, Ini 7 Caranya!

lifepal ubah stigma asuransi di indonesia
Stigma asuransi di Indonesia kian hari kian memburuk, apakah Lifepal benar-benar mampu untuk melakukan perubahan? Semakin banyak perusahaan-perusahaan asuransi besar yang tutup kantor, telah membuat kepercayaan masyarakat terhadap asuransi pun semakin menurun. 

Di satu sisi, tak sedikit pula masyarakat yang sebenarnya ingin memiliki asuransi. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, ketika kesehatan mulai menjadi prioritas utama. Sayangnya ketakutan dan kebimbangan masih menghantui, banyak yang ragu-ragu untuk menjatuhkan pilihan pada asuransi yang tepat.

Indonesia, Pasar Asuransi Terbesar

Sementara itu, investor nasional dan asing justru memberikan minat yang besar terhadap teknologi dan industri asuransi di Indonesia. Nggak heran sih kalau industri teknologi di Indonesia membuat banyak investor melirik. Revolusi kehidupan telah terjadi sejak industri teknologi berkembang pesat di negara ini. Teknologi telah mampu mendorong pembangunan serta mengubah perilaku konsumen di Indonesia.

Perkembangan teknologi di banyak lini memang membawa banyak perubahan yang signifikan, tak terkecuali di bidang asuransi. Insurtech, istilah keren dari insurance technology. Artinya, asuransi yang berbasis teknologi.

Ya, saat ini asuransi yang menjalankan sistemnya dengan basis teknologi informasi lebih banyak diminati daripada asuransi konvensional. Insurtech dianggap lebih transparan dan meyakinkan dibanding asuransi jaman old. Tak heran saja investor menangkap peluang ini sebagai kesempatan yang tak boleh disia-siakan. 

perkembangan asuransi di indonesia yang sangat pesat

Dari data yang didapat oleh Munich Re Economic Research, disebutkan bahwa Indonesia masih menjadi pasar asuransi paling potensial. Pertumbuhan CAGR (Pertumbuhan Majemuk Tahunan) sebesar 9.1% dari 2019 hingga 2020 pada premi asuransi jiwa dan kesehatan dengan telah menunjukkan bagaimana kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap asuransi. Bahkan pada tahun 2019, pendapatan Rp 185.3 Triliun telah dicapai oleh perusahaan asuransi jiwa dan Rp 80.12 Triliun untuk asuransi kesehatan.

Belum lagi kondisi pandemi corona yang semakin meningkatkan awareness masyarakat terhadap pentingnya memiliki anggaran kesehatan khusus. Tak sedikit yang berbondong-bondong membeli asuransi. Terlihat dari grafik yang diperoleh Lifepal.co.id, asuransi jiwa pada pertengahan tahun 2020 telah mengalami pemulihan pendapatan. 

perkembangan life insurance di Indonesia
Jelas sebuah kabar yang semakin menggembirakan bagi para investor, tetapi bagaimana dengan para nasabah ataupun calon nasabah? Apakah data-data di atas bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap asuransi?

Ketakutan Masyarakat pada Stigma Buruk Asuransi

Bukan hal yang aneh sebenarnya jika ada sebagian dari masyarakat Indonesia yang tidak percaya terhadap asuransi. Berikut ini beberapa daftar yang menjadi ketakutan para nasabah ataupun calon nasabah terhadap asuransi:
  • Asuransi sering dianggap ribet dan nggak transparan.
  • Pilihan produk asuransi dalam satu perusahaan sangat terbatas.
  • Adanya eksklusivitas di mana satu agen asuransi hanya bisa menjual satu brand saja.
  • Banyak agen asuransi yang tak memiliki pemahaman terhadap produk yang dijualnya dengan baik.
  • Agen asuransi yang tak membeberkan isi polis asuransi secara mendetail, bahkan tak sedikit yang sebenarnya juga kurang paham dengan isi polisnya.
  • Banyak agen asuransi yang asal menjelaskan dan meyakinkan secara persuasif, namun ketika polis telah terjual, mereka langsung lepas tangan dan tidak membantu nasabah saat mengalami kesulitan ataupun kebingungan.
Stigma-stigma buruk yang banyak ditemukan pada agen asuransi inilah yang kemudian membuat para nasabah yang melek digital enggan untuk mempercayai perusahaan asuransi konvensional. Masyarakat yang aktif di dunia digital biasanya adalah konsumen-konsumen yang lebih terdidik, maka tak heran jika mereka juga kritis dalam menentukan pilihan asuransi jiwa, kesehatan dan asuransi-asuransi lainnya. 

 

7 Cara Lifepal Ubah Stigma Buruk Asuransi

Lifepal menyadari bahwasanya masyarakat Indonesia kini telah semakin maju pola pikirnya, terutama yang telah maksimal menjalankan peran di dunia digital. Melihat pasar yang cukup menjual, Lifepal melakukan manuver yang anti mainstream sekaligus tak main-main dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus untuk menghapus stigma-stigma buruk terkait asuransi.

Setidaknya ada 7 cara yang dilakukan oleh Lifepal dalam rangka mengubah stigma buruk asuransi di mata masyarakat sebagai berikut:

7 cara lifepal hapus stigma buruk asuransi di indonesia

1. Tim Hebat di Balik Lifepal

Tak bisa dipungkiri, masyarakat Indonesia masih sering melihat SOSOK dibandingkan sebuah produk. Jika sebuah produk dikenalkan pada publik oleh sosok yang belum diketahui sebelumnya, pastilah tak cepat mendapatkan perhatian dan kepercayaan. Berbeda ketika produk itu dikenalkan oleh sosok-sosok yang sudah tenar dengan prestasi dan pencapaiannya, tanpa waktu lama akan mudah membuat masyarakat jatuh hati.

Lalu bagaimana dengan Lifepal?

Salah satu yang membuat Lifepal bisa menghapus stigma buruk asuransi di Indonesia adalah tim hebat di belakangnya. Siapa sajakah mereka?

Benny, Reza, Nico dan Giacomo tentunya bukan orang baru di bidang pasar online. Mereka adalah eksekutifnya Lazada serta para entrepreneur Indonesia yang telah membuktikan kesuksesannya dalam membangun pasar online.

Dengan nama besar para pendiri Lifepal, kini kalian tak heran kan kenapa begitu mudahnya orang Indonesia cepat percaya pada marketplace asuransi pertama di Indonesia ini?

2. Lifepal, Penasihat Keuangan Terpercaya

Mengusung Tagline “Teman Andalanmu,” Lifepal tidak hanya ingin sekadar menjadi agen asuransi, namun juga penasihat keuangan terpercaya untuk para nasabah. Lifepal tidak hanya akan mempertemukan nasabah dengan beragam pilihan asuransi, namun juga menambah wawasan nasabah terkait asuransi dan literasi keuangan lainnya.

3. Marketplace Asuransi Pertama di Indonesia

Para pendiri Lifepal pernah mendapati pengalaman buruk berasuransi. Salah satunya yaitu tentang keterbatasan memilih brand atau jenis asuransi. Dari sinilah, mereka sadar bahwasanya masyarakat senang jika diberi kebebasan dalam memilih produk. Oleh karenanya Lifepal pun berdiri sebagai sebuah marketplace asuransi yang akan mempertemukan pelanggan dengan brand-brand asuransi ternama. Nasabah bebas membandingkan produk hingga menemukan yang paling pas sesuai kebutuhannya masing-masing.

4. Konsumen sebagai Fokus Utama Lifepal

Pengalaman negatif yang dimiliki oleh tim pendiri Lifepal juga menjadikan dorongan semangat bagi marketplace asuransi ini untuk menjadikan konsumen sebagai fokus utama mereka. Oleh karenanya Lifepal selalu siap menjadi telinga terbaik bagi para konsumen. Masukan-masukan objektif yang terdengar hingga ke telinga Lifepal pastinya akan segera ditindaklanjuti demi memuaskan para konsumen.

5. Kenyamanan adalah Fitur Utama Lifepal

Sebagai orang-orang yang telah lama berkecimpung di dunia digital, tak heran jika pendiri Lifepal menjadikan kenyamanan konsumen sebagai fitur utama situs ini. Lifepal menjamin bahwasanya nasabah akan mendapat layanan ternyaman baik sebelum ataupun sesudah pembelian produk. Klaim tidak akan dibuat ribet, manajemen polis yang mudah dan siap memberikan dukungan 24 jam kepada nasabah dalam kondisi apapun.

6. Dipersenjatai dengan Teknologi yang Mumpuni

Giacomo Ficari selaku Co-Founder dan CEO dari Lifepal menyebutkan bahwa teknologi dan algoritma yang dibenamkan dalam situs marketplace asuransi ini mampu memberikan saran yang obyektif bagi setiap pertanyaan dan kebutuhan dari nasabah. Teknologi Lifepal mampu mengelola informasi yang disampaikan pengunjung untuk memahami hal-hal apa saja yang dibutuhkan nasabah terhadap asuransi impiannya. Teknologi ini nantinya akan mampu mempertemukan para nasabah dengan polis asuransi yang paling cocok dengan kebutuhan, keinginan, dan anggaran mereka.

7. Memberikan Edukasi Literasi Keuangan

Untuk mendukung target pemerintah Indonesia dalam meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap literasi keuangan, Lifepal telah menyiapkan berbagai macam artikel dengan topik beragam, seperti investasi, asuransi, saham, perencanaan keuangan, keuangan pribadi dan saham. Artikel-artikel tersebut ditayangkan secara rutin pada situs official Lifepal, sekaligus di media-media sosialnya.

Dengan 7 hal yang dimiliki Lifepal di atas, tak heran jika pelanggan Lifepal mengalami peningkatan sebesar 50% setiap bulannya, dihitung dari sejak awal terjadinya Covid-19. Pencapaian ini ditunjukkan lewat data-data berikut ini:
  • 4 juta pengunjung bulanan
  • 1 juta pengikut media sosial
  • 50 merk asuransi telah terdaftar sebagai mitra dari Lifepal
  • 200 produk asuransi dari beragam jenis, seperti kesehatan, jiwa, otomotif, tunjangan karyawan dan masih banyak lagi bisa ditemui
Angka-angka diatas telah berhasil mengukuhkan Lifepal sebagai pasar asuransi terbesar di Indonesia berdasarkan ukuran inventori, pengguna terdaftar dan pengunjung online

Latar belakang para pendiri Lifepal yang berbeda-beda telah mampu melahirkan sebuah cara yang out of the box terkait asuransi. Stigma buruk yang melekat pada asuransi perlahan menghilang dengan kehadiran marketplace asuransi terbesar dan pertama di Indonesia ini. 
 
Harapan Lifepal saat ini yaitu agar dimampukan untuk membantu lebih banyak orang Indonesia agar memiliki pemahaman yang benar terhadap perencanaan dan perlindungan keuangan mereka sendiri. Kalau kamu termasuk yang percaya pada stigma buruk asuransi atau nggak nih, pals?

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

Post a Comment

Follow by Email