MaritaPalace

Perjalanan Paling Mengesankan Selama Pandemi

perjalanan paling mengesankan selama pandemi
Cerita ini seharusnya sudah tayang lama di blogku. Namun kata nanti yang terus berulang menguburkannya dalam-dalam. Bersyukur hari ini akan segera terungkap perjalanan paling mengesankan yang pernah kulakukan selama pandemi.

Perjalanan tersebut kulakukan pada hari Selasa, 29 September 2020. Aku tidak sendirian tentu saja. Kalau tak salah ingat, ada sekitar 15 orang narablog dan jurnalis yang ikut serta dalam trip ini. Event tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.

Ini bukanlah kali pertama aku mengikuti trip yang diinisiasi oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang. Sebelumnya aku sudah pernah mengikuti trip ke Sumogawe. Lalu karena kutahu kualitas pelayanannya yang oke, kuinfokan juga kepada ibu-ibu anggota Dasa Wisma Anggrek. Alhamdulillah sebelum pandemi, kami sudah sempat piknik terlebih dahulu ke beberapa tempat di Kabupaten Semarang.

Pasti ada yang bertanya ya, kok masih pandemi sudah dolan-dolan to mbak? Apa nggak takut tertular Covid-19. Kalau ditanya takut ya pastinya takut. Masalahnya sampai kapan mau ndekem di rumah terus to?

Apalagi banyak orang yang mau nggak mau harus tetap beraktivitas ke luar rumah demi sesuap nasi. Termasuk juga mereka yang usahanya bergerak di bidang pariwisata. Kalau lama-lama ditutup, akan lebih banyak yang terdampak secara ekonomi.

Tips Piknik di Masa New Normal

Lalu bagaimana sih biar tetap nyaman berpergian selama masa pandemi, khususnya di era new normal?
tips berwisata di era new normal

1. Batasi Jumlah Peserta Trip

Berbeda dengan trip pertama yang kuikuti, kali ini Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang membatasi jumlah peserta agar tidak terjadi kerumunan. Jika biasanya kami diangkut dengan satu buah bis kecil yang bisa memuat semua peserta trip. Perjalanan yang kami lakukan pada bulan September 2020 lalu membutuhkan 2 buah minibus untuk mengangkut para peserta dengan tetap aman.

Nah, buat teman-teman yang berencana mau traveling bareng keluarga atau sahabat, perlu banget ya memperhatikan hal ini.

2. Ikuti Protokol Kesehatan

Hal yang paling penting kedua setelah membatasi jumlah peserta, pastikan untuk selalu menerapkan protokol kesehatan. Masker harus senantiasa digunakan, jika ada face shield akan lebih baik lagi. Jangan lupa untuk membawa hand sanitizer untuk membersihkan tangan selama di perjalanan.

3. Kunjungi Tempat Wisata yang Telah Diizinkan Buka

Berikutnya, jangan asal mengunjungi tempat wisata. Pastikan dulu apakah tempat wisata tersebut telah mendapat izin buka dari dinas terkait. Kita juga perlu mengecek apakah lokasi wisatanya mendukung berjalannya protokol kesehatan.

Jangan sampai ketika tiba di lokasi, tempatnya penuh sesak dengan pengunjung hingga akhirnya terjadi kerumunan yang tidak diperbolehkan.

3 Spot Perjalanan Paling Mengesankan di Kabupatan Semarang

Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang sebelum mengizinkan beberapa tempat wisata untuk buka, memastikan bahwa fasilitas yang ada pada tempat tersebut layak untuk mendukung pariwisata di masa pandemi.

Para pengelola tempat wisata tersebut harus memastikan adanya poster tentang protokol kesehatan, menyediakan tempat cuci tangan di beberapa titik, dan juga pengecekan suhu di gerbang utama. Hal ini bertujuan untuk menjaga jalannya protokol kesehatan, meski sedang asyik berwisata. Tidak boleh lengah meski sekejap.

Selain itu Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang juga rajin melakukan sidak (inspeksi mendadak) di lokasi-lokasi wisata, untuk mengecek apakah fasilitas yang disyaratkan masih ada dan protokol kesehatan benar-benar dijalankan. Keren ya?

Seperti yang kita tahu ada banyak desa wisata dan spot-spot menarik yang bisa dikunjung di Kabupaten Semarang, tetapi di acara trip tersebut, kami diajak untuk menyambangi tiga tempat yang unik, mistis sekaligus eksotis. Kebetulan aku pun belum pernah sama sekali mengunjungi ketiganya. Mau tahu ke mana sajakah kami waktu itu?

1. Mistisnya Curug Gending Asmara

Curug Gending Asmara adalah tempat pemberhentian pertama yang cukup mistis. Dijelaskan oleh mbak Isna, perwakilan bumdes yang mengelola curug tersebut, setiap kali warga desa memiliki gawe/ acara hajatan, maka sudah menjadi tradisi untuk mengambil air dari curug ini. Konon jika ritual tersebut tidak dilakukan, maka akan ada bala yang terjadi.
curug gending asmara kabupaten semarang
Curug sendiri artinya adalah air terjun. Sementara Gending Asmara adalah nama yang disematkan pada curug tersebut karena legenda yang dipercaya oleh warga. Di mana pada weton-weton tertentu, kita bisa mendengar bunyi gamelan mengalun.

Ritual ambil gending sebelum hajatan tidak boleh dilakukan sembarang orang. Hanya boleh dilakukan oleh dalang dan anak buahnya. Saat ada ritual gending, Curug Gending Asmara akan ditutup sementara untuk umum.

Meskipun terkesan mistis, jangan takut untuk mampir di tempat wisata yang berlokasi di Dusun Tampagunung Desa Kalongan ini. Cukup merogoh kocek sebesar Rp5000 pada weekdays dan Rp10.000 pada weekend, kita sudah bisa menikmati suasana alam yang adem dan sejuk.

Untuk bisa melihat curug yang tingginya kurang lebih 7 meter tersebut, kita harus berjalan sekitar 150 meter dari titik ticketing. Gara-gara selama pandemi kebanyakan rebahan di rumah, ngos-ngosan juga euy. Apalagi medannya agak sempit dan naik turun gitu deh. Emak-emak banyak yang angkat tangan, wkwk.

Namun demi menikmati keindahan curug, ngos-ngosan pun dijalani deh. Ternyata berbeda dengan curug pada mumumnya, Curug Gending Asmara bukanlah mata air, tetapi aliran sungai dari Sungai Kresek.

Pada tahun 2020, Curug Gending Asmara sebenarnya terjadwal untuk mendapatkan perbaikan. Jalan yang menuju ke lokasi air terjun kan dibuat dari bambu, jadi perlu dibuat ulang agar tak rapuh dan membahayakan pengunjung. Namun karena adanya covid-19, mau tak mau rencana tersebut harus ditunda. Dana perbaikan terpaksa dialihkan untuk penanggulangan covid.

Saat aku dan beberapa kawan narablog berkunjung ke sana, debit air sedang berkurang karena kemarau. Kata mbak Isna, biasanya sungai penuh hingga batas tertentu.
tebing al fath kabupaten Semarang
Usai mengambil gambar berbagai pose, masih di lokasi yang tak jauh dari Curug Gending Asmara, kami melanjutkan perjalanan ke Khayangan Tebing Al Fath. Sepertinya sih ini lokasi wisata baru gitu. Masih banyak spot yang dalam proses pembuatan. Kayanya kalau nanti sudah jadi, seru deh ajak Ifa dan Affan ke sini.

Di Tebing Al Fath, kami disuguhi dengan beragam makanan dan minuman khas yang tentunya jarang ditemukan di perkotaan. Waah, rasanya semua menggoda untuk dicoba. Sayangnya kapasitas perut tak memadai untuk melahap semuanya.

Salah satu suguhan yang menarik hati yaitu dawet jagung. Hayo, siapa yang sudah pernah menyantapnya? Rasanya unik sekali. Cara membuatnya yaitu jagung diblender, kemudian sari jagungnya diambil dan dicetak membentuk cendol. Diberi kuah dawet dan es batu. Segarnya dinikmati saat udara panas menghantam badan.

Ada acara menarik yang seru untuk didatangi di Tebing Al Fath, yaitu Pasar Sawahan Minggu Legi dan Pahing. Dalam acara ini akan banyak jajanan khas yang diperjualbelikan. Hm, sepertinya seru ya? Mau ke sana bareng aku, pals?

2. Asyiknya Menyemai Kasih di Bukit Cinta

Selesai menikmati es dawet jagung yang tiada duanya di Tebing Al Fath, perjalanan dilanjutkan menuju ke Kampung Rawa. Hmm, aku menengok jam yang tertampil di layar gawai. Ini masih terlalu pagi untuk makan siang.

Ternyata aku kegeeran. Meski mini bus yang kami tumpangi berbelok ke Kampung Rawa, bukan berarti kami mau langsung makan-makan di situ. Beberapa perahu kayu sudah menanti dan siap membawa kami untuk menikmati petualangan berikutnya. Kami diajak menyusuri Rawa Pening. Sebuah rawa legendaris di Kabupaten Semarang.
rawa pening baru klinting
Selama perjalanan dari Tebing Al Fath menuju ke Kampung Rawa, pendamping wisata kami sempat menceritakan sejarah terjadinya Rawa Pening. Sejarah tersebut berhubungan dengan legenda Baru Klinting. Buat kalian yang tinggal di Jawa Tengah, khususnya Semarang dan sekitarnya, pasti nggak asing dong dengan nama Baru Klinting.

Ia merupakan sosok manusia yang berwajah buruk rupa, menyerupai ular. Bapaknya bertapa di Gunung Telomoyo sejak ibunya mengandung si Baru Klinting hinga ia lahir ke dunia. Suatu hari Baru Klinting menemui ayahnya, tapi karena wajahnya yang buruk rupa, ia tidak diterima.

Padahal Baru Klinting sudah dibawakan lonceng oleh sang ibu, sebagai bukti bahwa ia benar anak dari sang pertapa tersebut. Kemudian ayahnya memberi tantangan. Baru Klinting harus mengitari Gunung Telomoyo dengan tubuhnya, dari lidah hingga ke ekor.

Tentu saja demi diakui anak oleh bapaknya, Baru Klinting menyanggupi hal tersebut. Namun di tengah perjalanan Baru Klinting menuju telomoyo, dia merasa lapar. Dia mencoba mencari makan seadanya, tetapi karena badannya amis, Baru Klinting diusir oleh semua warga desa. Hanya ada satu orang nenek yang mau membantunya.

Karena diusir dengan semena-mena, Baru Klinting pun merasa marah. Ia kemudian menantang semua warga desa untuk mencabut sebuah batang yang ditancapkannya ke tanah. Saat seseorang mencabut batang itu, banjir badang pun melanda desa tersebut.

Semua warga kocar-kacir, kecuali si nenek yang diselamatkan oleh Baru Klinting. Si nenek dinaikkan ke atas lesung hingga menuju ke tempat yang aman. Lokasi terjadinya banjir bandang itulah yang disebut dengan Rawa Pening.

Konon katanya di saat-saat tertentu, ada ular raksasa yang menampakkan diri. Para warga percaya itu adalah Baru Klinting.

Meskipun aku pernah tinggal di Salatiga, yang tak terlalu jauh dari Rawa Pening, tapi itu kali pertama aku menyusuri Rawa Pening menggunakan perahu. Serunya…

Setelah menyusuri Rawa Pening, perahu kembali menepi di Kampung Rawa. Waktuny ishoma. Kami bergegas untuk mendirikan sholat dan kemudian disusul dengan makan bersama.
bukit cinta kabupaten semarang
Setelah makan siang usai, perjalanan dilanjutkan kembali ke Bukit Cinta. Katanya orang yang memadu kasih di bukit ini, akan langgeng sampai akhir hayat. Fyi, Bukit Cinta dan Gedong Songo adalah dua spot wisata yang dikelola langsung oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Semarang.

Kami disambut dengan gerbang yang cukup megah. Ternyata Bukit Cinta baru saja selesai direnovasi. Luas juga lo. Ada tempat bermainnya. Kayanya kalau anak-anak dibawa ke sini, bakal happy banget lari ke sana ke mari. Maklum anak-anakku tipe yang nggak bisa diam. Asal diajak main ke lokasi yang luas buat lari-lari, pastilah mereka happy.

Banyak spot foto yang instagrammable. Kami diberi waktu kurang lebih 30 menit untuk mengambil foto di Bukit Cinta. Sambil menikmati keindahan lokasi, sesekali aku mendengar lewat pengeras suara, petugas mengingatkan para pengunjung yang terlalu berkerumun atau yang melepas maskernya. Kereen deh. Pengawasannya total banget.

3. Eksotisnya Pemandangan di Agrowisata Gunungsari Kopeng

Petualangan hari itu ternyata belum berakhir. Dari Bukit Cinta, mini bus terus melaju menuju Agrowisata Gunungsari Kopeng. Tempatnya masya Allah indahnya… pemandangannya cantiiik banget. Tapi sepertinya kalau ke sana sendiri, aku bakal nyasar deh. Soalnya dari jalan masuk, nggak begitu terlihat.

Bahkan Pak Slamet Buang, pemilik dan pengelola Agrowisata Gunungsari ini menceritakan bahwa banyak pengunjung yang masih salah jalan saat mencari lokasi. Banyak yang kemudian malah menuju ke Taman Wisata Kopeng.
agrowisata gunungsari kopeng
Tempat wisata ini dibangun sejak 2018, sehingga belum banyak yang tahu. Kala itu Pak Slamet mengatakan dalam seminggu ada kedatangan mencapai 200 orang. Sehari minimal ada 50 orang. Namun sejak pandemi, jumlahnya terus merosot. Biasanya pengunjung tahu lokasi tersebut dari instagram @agrowisata.kopeng.

Di tempat yang luasnya mencapai 2000 hektar tersebut, kita bisa menikmati banyak spot yang menarik. Ada kebun jambu, taman bunga, kuliner yang menyediakan makanan khas super enak, gardu pandang yang menawarkan view pegunungan super indah, camping ground dan amphiteater terbuka. Cocok buat seniman-seniman mencari inspirasi dan berpuisi. Aish, romantisnya.

Rasanya kaki enggan sekali meninggalkan sejuknya udara di Agrowisata Gunungsari Kopeng, tapi apa daya, sore semakin habis. Senja mulai datang. Anak dan suami sudah menungguku pulang. Mau tak mau harus rela berkata sayonara sambil dalam hati berharap, one day bisa menginjakkan kaki lagi di tempat tersebut.

Begitulah pals, secuil cerita perjalanan paling mengesankan yang pernah kualami selama pandemi. Semoga bisa membawa hiburan buat teman-teman kongkow yang pengen liburan tapi masih pikir-pikir ribuan kali. Semoga juga bisa memberikan referensi tempat wisata di Kabupaten Semarang. Sampai jumpa di cerita jalan-jalanku berikutnya!

Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

14 comments

  1. Duh jadi terbayang wanginya dawet jagung. Ini favorit banget keluarga saya lho... Jadi mau buat sendiri deh
    Persiapan bikin buat bulan puasa juga
    Ga kuat nahan kalau harus jalan dulu ke Semarang, hehehe

    ReplyDelete
  2. Mba Maritaaaaaa

    Baca artikel.ini sungguh menerbitkan rasa pengin cuss traveling hihihi.

    Semogaaaa kita bs ngetrip dgn puas dan bebaasss ya mbaaa

    ReplyDelete
  3. Makasih tipsnya ya mam. Kami sudah setahun ini ngga kemana-mana karena pandemi.

    ReplyDelete
  4. Aku jd penasaran pgn coba bikin cendol jagung mba ya Alloh... Hihi seru bgt y bisa otewe jln² semoga paandemi lekas berlalu

    ReplyDelete
  5. Jadi ingin travelling setelah baca artikelnya mba marita. Apalagi aku belum pernah ke Kopeng. Pasti seru nih ya, yg penting tetap jalankan prokes ya mba

    ReplyDelete
  6. Spot estetik begini memang paling enak dikunjungi untuk berwisata. Bisa pepotoan sambil menikmati keindahan alam. Aku agak lama sudah tidak jalan2 begini. Terhalang pandemi.

    ReplyDelete
  7. Bahagianya menjadi narablog itu begini yaa..
    Bisa jalan-jalan bersama sahabat dan melihat lebih luas dunia. Plus dibagikan di blog yang semoga bisa menginspirasi pembaca.

    Tetap aman jalan-jalan di masa pandemi.

    ReplyDelete
  8. Enak ya. Sambil jalan-jalan bisa juga mengetahui berbagai mitos dan legenda yang berlaku di tengah masyarakat setempat. Terima kasih, Mbak Marita. meskipun saya belum ke sana, membaca tulisan ini seolah-olah ikut menikati perjalan penulisnya. Terim kasih. Salam sehat selalu.

    ReplyDelete
  9. Industri pariwisata memang terpukul banget ya di masa pandemi. Semoga sesudah upaya pemerintah memvaksin seluruh rakyat Indonesia, roda ekonomi termasuk pariwisata mulai berputar.

    Saya kangen jalan-jalan ke daerah Semarang, Ambarawa dan sekitarnya. Terakhir ke sana pas libur Lebaran dua tahun lalu sebelum pandemi.

    ReplyDelete
  10. Haduh..duh aku membaca plus melihat poto-poto Mbak Marita aja sudah happy lo, senang deh ngliat spot pariwisata gini, ijo-ijo gitu, huaaaa. Apalagi pas nemu foto ada makanannya, tak liat terus sambil nelen ludah, hahaha

    ReplyDelete
  11. Menarik banget dawet dari jagung... gimana rasanya ya? hihi. Melihat foto-foto di artikel ini, jadi kangen jalan-jalan,huhu masih mungkin bisa santai dan bebas traveling seperti sebelum pandemi enggak ya.... :(

    ReplyDelete
  12. ikut dong bun marita, bener bgt travelling saat pandemi ini harus penuhi protokol kesehatan. sarannya butuh banget nih aku insyaallah mau trvaling kecil2an minggu depan hehe

    ReplyDelete
  13. Seru banget, mbak jalan-jalan bareng teman kayak gini. Aku kayaknya terakhir kali jalan-jalan itu 2 tahun yang lalu. Heu

    ReplyDelete
  14. Wah.. Semarang memberiku kenangan sama abahnya Umar sebelum masih ga ada Umar.. Jalan-jalan kemana aja ga masalah.. Tapi sekarang kudu berpikir dua kali kalo mau jalan bertiga.. hehe..

    ReplyDelete

Post a Comment

Follow by Email