header marita’s palace

Tes Kecerdasan Emosional, Cek Seberapa Bahagiakah Dirimu?

Konten [Tampil]
tes kecerdasan emosional
Tes kecerdasan emosional bisa digunakan untuk mengecek seberapa bahagiakah diri kita. Tahukah kalian mengenai hal ini? Eits tunggu dulu, yang kumaksud di sini bukan tes kecerdasan psikologi yang kudu mengerjakan soal-soal tertentu ya.
 
Setelah pada Innerchild Healing Parade #3 kita membahas tentang cara mengatasi trauma bersama Pak Adi W Gunawan dan Pak Asep Haerul Gani, pada webinar sesi 4 dalam rangka launching buku Luka Performa Bahagia ini kita diajak untuk memahami pentingnya kecerdasan emosi untuk mencipta kebahagiaan.

Webinar yang berlangsung pada hari Minggu, 5 September 2021 ini, seperti biasa menghadirkan dua narasumber nan inspiratif. Narasumber pertama yaitu ibu Naftalia Kusumawardhani. Sedangkan narasumber kedua yaitu Bapak Anthony Dio Martin.

Yuk Lakukan 4 Tes Kecerdasan Emosional ala Bu Naftalia

Menatap sosok ibu Naftalia di layar laptop, aku bisa melihat ada gurat ketegasan bersatu dengan kelembutan di dalamnya. Sepanjang beliau memaparkan materi, senyum selalu tersungging di bibirnya. Mungkin seperti itulah jiwa yang telah benar-benar merdeka dari segala unfinished business.

Jiwa yang bahagia selalu mampu memancarkan kasih dengan tulus. Dan kasih itu akan sampai pada jiwa-jiwa yang gersang, merindukan sayang.

Materi bu Naftalia mampu membuatku merenung dan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, sudahkah aku benar-benar bahagia? Untuk menjawab itu, aku perlu mengenali jati diri. Termasuk harus berani untuk melakukan tes kecerdasan emosional berikut ini.

1. Sudah Bisa Memaafkan Seperti Memegang Kertas?

Bu Naftalia memberikan analogi bahwa forgiveness therapy yang berhasil itu bagaikan memegang kertas yang sudah diremas-remas nggak karuan. Saat kita memegang kertas yang acak-adut, dan mungkin hampir hancur seperti itu, hal pertama yang dilakukan adalah terima dulu kertasnya, bukan terima acak-adutnya.

Artinya apa, saat kita mengalami sebuah masalah yang menyakiti hati, terima dulu peristiwa tersebut. Tidak perlu denial dan berkata bahwa kita baik-baik saja. Padahal ada rasa yang direpresi dan diendapkan.
Jika ingin bahagia, maka kita harus berani untuk menerima segala hal baik dan buruk yang terjadi di dalam hidup. Jika di bibir kita masih keluar omongan, kenapa harus aku, maka artinya kita belum sepenuhnya menerima kenyataan.
Saat kenyataan saja belum diterima, ya jangan berharap akan bahagia. Yang ada kita akan terus merasa marah, bersalah, kecewa dan tak tentram. Sampai kapan membiarkan diri terus terbelenggu dengan hal tersebut? *Ngomong sama diri sendiri.

2. Sudah Berani Memutus Emotional Bonding dengan Penyebab Trauma?

Setelah menerima peristiwa yang menyakitkan, saatnya bagi kita untuk mengakui perasaan yang muncul akibat peristiwa tersebut. Penting untuk mengakui hal ini karena nantinya perasaan inilah yang akan kita maafkan.
Caranya yaitu dengan memutuskan emotional bonding pada masalah yang menyebabkan trauma tersebut. Kita harus mampu membedakan antara perilaku dan sosoknya.
Misal, kita punya trauma luka pengasuhan yang disebabkan oleh orang tua. Kita boleh nggak suka dengan perilaku orang tua yang menghadirkan trauma, tapi bukan dengan membenci orang tua kita. Kita perlu mengubah sudut pandang kita, bahwasanya perilaku orang tua atau orang yang kita nggak suka seringkali muncul dari sikap sayang pada kita, hanya saja cara menunjukkannya yang salah.

Orang tua jaman dulu biasanya mengungkapkan cinta dengan 2M; marah dan maksa. Jangan benci orang tua kita hanya karena 2M itu. Hei, saat itu belum ada seminar parenting kaya sekarang.

Orang tua mendidik kita dengan mengadopsi cara dari orang tua mereka. Esensi dari 2M mereka adalah cinta. Tak ada sedikit pun maksud mereka untuk menyakiti. Jadi stop kebencian yang perlahan akan membunuh diri sendiri. Benci perilakunya, tapi bukan sosoknya.

Jika kita telah berani menumbuhkan frame of reference yang baru pada masalah penyebab trauma, saat itulah kita bisa mencapai kebahagiaan. Berani melakukannya?

3. Cek Apakah Maaf Kita Hanya di Mulut atau Seluruh Tubuh?

Badan memiliki memori. Reseptor bukan hanya di kepala, tapi di seluruh tubuh. Stressor akan membuat mekanisme biologis di dalam tubuh ketika terjadi secara intens.

Mekanisme itu bisa berupa psikosomatis, temperamental, teriak-teriak, ketika kita dengan sadar atau tanpa sadar menemui sebuah trigger. Saat mekanisme biologis tersebut sudah nggak muncul. Atau bahasa anak zaman now, kita udah nggak ke-trigger saat menghadapi hal yang bisa bikin kita mengingat suatu masalah, berarti kita sudah benar-benar mencapai pemaafan yang sempurna.

Tapi kalau respon error masih sering terjadi, kaya aku kalau denger orang ribut, rasanya masih pengen teriak kenceng, “Stop Screaming, Please!” Artinya proses memaafkannya masih ada yang belum tuntas. Hanya saat kita sudah tuntas dalam forgiveness therapy, kebahagiaan sejati akan tercapai.

4. Beranikah Menertawakan Hidup Sendiri?

Sebagai manusia, penting bagi kita untuk punya selera humor. Sesekali kita perlu menertawakan hidup sendiri. Menertawakan kebodohan dan kesalahan-kesalahan pilihan yang pernah kita lakukan. Sanggupkah?

Atau kita masih meratapi kebodohan dan pilihan-pilihan yang salah tersebut? Masih terus tenggelam dalam rasa bersalah, marah dan kecewa?
Sejatinya ketika kita telah mampu menertawakan hidup sendiri, jalan menuju bahagia sudah terbuka lebar, pals. Setiap pilihan punya konsekuensinya, tak perlu terus-terusan terpuruk ketika pilihan kita ternyata menghasilkan keburukan. Karena seburuk apapun hidup, kita yang memegang kendali atasnya.
Jadi dari keempat tes kecerdasan emosional di atas, sudah lulus semua belum, pals?

Belajar dari Kisah Hidup Anthony Dio Martin

Sesi perenungan belum usai. Setelah diajak membangun sudut pandang baru terhadap suatu masalah oleh bu Naftalia, Pak Anthony Dio Martin membawa cerita yang sungguh mengharu-biru. Bagaimana hidupnya yang susah di masa kecil, dianggap remeh oleh kerabat hingga melahirkan dendam kesumat, sampai akhirnya berani untuk membabat habis dendam tersebut dan meraih bahagia.

Nggak seru kalau nggak dengar sendiri dari bibir beliau. Cuzz deh yang ketinggalan webinar keempat, bisa tengok video berikut:

Masa Kecilmu Merah atau Biru?

Sebelum menceritakan kisahnya, Pak Anthony sempat bertanya pada audien, apakah masa kecilnya lebih condong ke arah merah atau biru? Banyak yang menyedihkan hingga terasa sakit dan menyesakkan? Atau banyak yang membahagiakan hingga nggak mau meninggalkan masa tersebut?

Jawaban yang diberikan beragam. Ada yang merah, ada yang biru, ada pula yang merasa di tengah-tengah. Nggak merah, juga nggak biru. Ternyata jawaban itulah yang paling tepat. Sebaiknya jangan sampai kita merasa masa kecil terlalu merah, atau terlalu biru.

Kita akan terseok-seok dalam hidup jika terlampau merah. Sementara jika terlampau biru, sesering apapun membuat goal, kita akan terus terjerat dengan kebahagiaann semu di masa lalu.

Orang yang masa kecilnya terlampau merah, biasanya memiliki wounded inner child. Sedangkan orang dengan masa kecil biru, biasanya akan membentuk kepribadian peterpan syndrome (cowok yang tidak dewasa), atau cinderella complex (cewek yang selalu ingin diperlakukan seperti ratu).

Setiap orang punya luka batin di masa kecil. Ada yang bisa membebaskan diri dari lukanya. Ada yang terbelenggu dan bikin performa di masa depan nggak optimal.
Hurting people hurts people.
Kita perlu paham bahwa sejatinya orang yang suka menyakiti orang lain, sebenarnya mereka punya ‘kesakitan’ tersendiri. Kalau kita mengerti akan hal ini, alih-alih membenci, kita malah jadi kasihan pada sosoknya.
It’s never too late to have a happy childhood.
Seburuk apapun masa lalu yang kita miliki, sejatinya belum terlambat kok untuk memiliki masa lalu yang membahagiakan. Caranya gimana?

Lihat setiap peristiwa dari dua sisi. Yakinlah bahwa di balik sebuah peristiwa, kita diminta Allah untuk belajar. Sesungguhnya setiap keluarga punya ayat sulit masing-masing untuk dilafalkan. Jadi tak perlu membanding-bandingkan masalah keluarga kita dengan yang lain. Semua punya porsinya sendiri-sendiri.

Heal Therapy untuk Menciptakan Kebahagiaan

Di dalam diri kita, ada yang namanya hot button. Sesuatu yang terluka krn masa kecil. Jika ketrigger, kitia akan mudah terpicu amarah. Hot button ini harus dibereskan. Kalau nggak dibereskan, akan terus-terusan muncul. Saatnya bangkit dari inner child menuju performa diri terbaik.

Coba cek deh, apakah ada kegiatan-kegiatan buruk yang masih sering dilakukan hingga sekarang? Posesif ke suami, memukul anak, nyumpahin tetangga, misalnya. Jika masih, artinya masih ada luka yang menganga.

Bagaimana kita akan menciptakan bahagia, jika terus-terusan meratapi luka? It’s time to move on, let’s start doing The HEAL Therapy.

1. Have Hope

Pak Anthony menceritakan bahwa ada sebuah penelitian yang menggunakan seekor tikus. Biasanya nih ketika seekor tikus ditaruh di gelas berisi air, si tikus hanya mampu bertahan 2-3 menit. Namun ketika ada tangan yang mengangkat dia, kemudian memasukkannya lagi ke dalam gelas, si tikus bisa bertahan sampai 60 jam alias 2-3 hari.

Dari sini si peneliti bisa menyimpulkan bahwa tikus setelah diangkat dari gelas berair itu, jadi memiliki harapan. Ia berharap kalau nantinya ada yang mengangkat lagi. Pengalaman diselamatkan mampu memberikan harapan.

Itulah kenapa untuk menciptakan kebahagiaan, kita harus memiliki kemampuan untuk melihat secercah harapan, affirmasi, dan motivasi. Dalam sebuah terapi, yang terpenting bukanlah tekniknya, tetapi seberapa kuat kita mampu membangun motivasi di dalam diri untuk kembali bangkit.

2. Examine Your Lifeline

Buatlah lifeline-mu dan periksalah. Mana momen-momen terendah dalam hidup, dan mana momen-momen terbaik. Dengan memeriksanya, kita bisa menyadari bahwa:
  • Hidup tak pernah statis.
  • Keputusan hari ini mempengaruhi masa depan.
  • Saat di atas, waspadai akan turun.
  • Saat di bawah, optimislah bisa kembali ke atas.
  • Ada hal-hal dalam hidup yang saat ini tak kita pahami, tapi yakinlah itu akan berguna suatu hari.
  • Rajin itu mengalahkan bakat.
  • Berdayakan pengalaman masa kecil.

3. Assist Your Wounded Inner Child

Lakukan self healing lewat terapi menulis, self talk dan lakukan self educating. Jangan biarkan inner child tersisih, bantu dia untuk menemukan bahagia yang dulu tak sempat ia rasakan. Saatnya untuk reparenting inner child.

4. Live for Others

Kita tidak boleh egois dengan diri sendiri. Sejatinya kita bisa lebih cepat sembuh dan keluar dari kepompong, ketika memiliki kemauan untuk membanttu orang lain.

Ada sebuah cerita kuno. Konon Tuhan menciptakan manusia dengan hati separuh, separuhnya disebar ke hati-hati orang lain. Makanya tugas kita di dunia adalah melengkapi separuh hati kita. Caranya dengan berempati.
Karena sejatinya menolong orang lain adalah menolong diri sendiri.
Emosi itu netral. Hanya saja ada emosi menyenangkan dan tidak menyenangkan. Manusia yang cerdas emosi, artinya bisa merespon suatu peristiwa dengan bijak. Kita boleh kok mengekspresikan apapun emosi yang kita rasakan, namun harus dengan penuh kesadaran

Stop meratapi diri sendiri, stop menangisi luka dan menyesali dengan terus-terusan menghidupkan kembali kejadian itu. Ketika timbul emosi tak menyenangkan, segera ambil nafas, jeda, dan fokus pada hari ini.

Jadi hari ini berhasil lulus tes kecerdasan emosional nggak nih? Kalau belum, jangan menyerah. Terus coba sampai bisa! Let’s heal the world by healing ourselves, pals.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

13 comments

  1. Hemm bertanya tentang bahagia agaknya tidak bisa sepenuhnya bahagia, karena ada banyak permasalahan emosi. Terlebih ada titik hampa di mana merasa semua yang diraih sia-sia.

    ReplyDelete
  2. Setuju sama Mbak Nisa, pernah ngalamin berada di titik itu padahal saat berjuang pun ada rasa lelah sampai hampir menyerah. Tapi, tiba-tiba sudah berhasil malah merasa ini sia-sia.

    ReplyDelete
  3. Self healing ni jadi isu menarik ya mbak, karena masih banyak orang terjerat dengan luka di masa kecil yang berdampak di kehidupan dewasanya.

    ReplyDelete
  4. Memaafkan dan membasuh luka lama itu butuh effort yang luar biasa bagi saya. Ketika sudah melupakan pun, kadang pengalaman kelam itu terkelabat membuyarkan emosi.

    Semoga bisa bertahap meng-healing kembali emosi seperti tips dari coach Marita. Terima kasih coach untuk materi berbobotnya

    ReplyDelete
  5. Setuju saya... "Menolong orang lain itu sama dengan menolong diri sendiri" . Inspiratif sekali tulisannya... Makasih

    ReplyDelete
  6. Hidup masa lalu saya ada yang biru ada yang merah. Tapi Alhamdulillah melalui proses yang panjang, mulai bisa belajar memaafkan orang, menghargai orang, ....
    Tapi apakah sudah lulus kecerdasan emosional ? Saya masih harus berusaha ...
    Terima kasih tulisannya Coach

    ReplyDelete
  7. Pernah berada di titik menyalahkan masa kecil, alhamdulillah saat ini sudah pulih. Memang butuh proses panjang untuk menyembuhkan luka, tapi ketika sudah berhasil damai, rasanya benar-benar bahagia, bisa menemukan diri sendiri.

    ReplyDelete
  8. Analogi kertasnya bener-bener dapet banget Coach, apalagi yang menertawakan diri sendiri itu bener-bener memudahkan ikhlas dan paling setuju banget "hanya perlu menerima dulu" :) terima kasih sudah sharing ini Coach :)

    ReplyDelete
  9. masya allah ya, ikut jleb jleb, sudahkah bis amemaafkan masa lalu, atau masih terperangkap di sana?

    sudah kah memaafkan dg jiwa raga gak hanay dimulut saja.

    kerennih acaranya..
    btw, paling berkesan dg percobaan tikus. nih. jika tikus saja punya afirmasi dalam hidupnya bagaimaan dg manusia yang memiliki akal lebih sempurna? iyes inilah kekuatan positif thinking ya

    afirmasi positif membaw aharapan hidup buat kita inilah allah meminta kita untuk sennatiasa berprasangka baik karena memberienergi positif

    ReplyDelete
  10. Aku setuju bgt mbak. Biasanya innerchild skg ini cenderung bikin rang orang benci sama ortunya. Padahal we just harus mengubah sudut pandang oada zamannya :')

    Belum lagi masih punya trigger yg bikin tubuh merespon negatif suatu hal. Itu nggak enak bgt :'(

    Otw nonton full webinarnya. Insightful mba ulasannya...

    ReplyDelete
  11. Memaafkan itu kayaknya mudah ya, tapi saat praktek agak sulit kalau tidak terbiasa.

    Aku banyak belajar cara memaafkan ini dari anak-anak, mereka ga ada gengsi sama sekali dalam meminta maaf.

    Kayaknya aku masih berproses untuk menuju kelulusan test ini.

    ReplyDelete
  12. Ya ampun, aku sering banget menertawakan kehidupanku mbak 🤣🤣 Tapi ya, tetep mbak, di satu titik kadang masing ada celah merasa bersalah, merasa lemah. Huhuhu.

    ReplyDelete
  13. Tapi standar orang dalam menilai hidupnya merah atau biru pun kadang absurd mbak. Ada orang yang mungkin lukanya biasa, tapi menganggap masa lalunya merah. Dan banyak juga orang yang uwoooow perjalanan sakitnya, tapi tetap menilai baik-baik saja.

    ReplyDelete

Post a Comment