header marita’s palace

5 Cara Mengatasi Trauma Masa Kecil ala AWG dan AHG

1 comment
Konten [Tampil]
5 cara mengatasi trauma masa kecil
Cara mengatasi trauma masa kecil ala AWG dan AHG adalah topik bahasan yang akan aku jembreng pada hari ini. Tulisan ini merupakan rangkaian dari webinar launching buku ‘Performa, Luka, Bahagia.’ Jika webinar kedua membahas tentang bagaimana bangkit dari luka inner child menuju performa diri terbaik, pada webinar ketiga masih berkutat pada tema reparenting inner child.

Hanya saja pada webinar ini, inner child therapy lebih difokuskan pada bagaimana menghebatkan diri dari trauma masa kecil demi kesuksesan masa depan dan hubungan pernikahan. Disampaikan oleh dua narasumber hebat yang sudah berpengalaman di bidangnya masing-masing. Pasti penasaran ya, siapa si AWG dan AHG ini?

Bukan bermaksud tidak sopan, namun menyingkat nama kedua narasumber ini memudahkanku waktu membuat resume materi. Karena kebetulan pemateri pada webinar yang berlangsung pada Minggu, 29 Agustus 2021 itu memiliki nama yang sama-sama diawali huruf A dan terdiri dari 3 kata. Sebagai orang yang semi dyslexia, aku jadi rada bingung membedakan keduanya. Maka, kupakailah singkatan tersebut.

Siapa Itu AWG?

hypnotherapist adi w gunawan
Baiklah, agar teman-teman kongkow nggak semakin penasaran. Langsung kuspill aja deh. AWG yang kumaksud adalah singkatan dari Adi W Gunawan, yang merupakan seorang hipnoterapis klinis. Pak Adi telah memiliki jam terbang yang cukup tinggi di bidang tersebut. Nggak main-main, sudah 16 tahun! Bisa dibayangkan betapa banyak pengalaman-pengalaman unik yang pernah dihadapinya terkait cara mengatasi trauma demi memberdayakan inner child.

Pak Adi menyampaikan bahwa memberdayakan inner child demi kesuksesan di masa depan itu bisa banget kok. Yang terpenting adalah kita perlu fokus dan menerimanya terlebih dahulu. Karena jika kita tidak menyadari dan menerimanya dengan tepat, inner child bisa mengganggu masa dewasa.

Pak Adi lalu memberikan contoh salah satu bentuk inner child yang paling sederhana. Pernah melihat video di mana ada seorang tentara yang takut disuntik dan menangis seperti anak kecil? Nah, itu adalah salah satu bentuk inner child.

Seorang tentara yang ditembak aja mungkin nggak takut, tapi kok sama suntikan bisa menangis tersedu-sedu? Karena yang menangis itu bukan sosok dewasa dari si tentara, tapi ‘anak kecil’ yang ada di dalam diri tentara itu. Entah apa pengalaman masa lalu yang belum tuntas, hingga peristiwa disuntik itu bisa memunculkan sosok ‘anak kecil’ tersebut.

Begitulah manusia, sangat kompleks. Manusia bukanlah entitas tunggal, namun kumpulan bagian-bagian diri. Coba kita perhatikan dengan seksama, ketika baru saja bangun tidur di pagi hari, pernahkah merasa bahwa di dalam diri kita ada satu bagian yang berbisik “Ayo Bangun!” Sementara ada bagian yang lain bersorak, “Bangunnya lima menit lagi aja deh.” Lalu bagian diri lainnya lagi berkata, “Heh, ayo nanti telat lo.”

Coba deh kita amati, ada berapa banyak bagian dalam diri kita yang aktif saat itu? Ada yang menyuruh tidur lagi, ada yang meminta kita bangun, dan ada bagian diri yang hanya mengamati. Begitulah jiwa manusia. Sama halnya seperti emak-emak yang sedang belanja. Satunya nyuruh beli, satunya nyuruh nggak beli, satunya ngamati pertikaian dua orang.
contoh inner child

Pengertian Innerchild ala AWG

Pak Adi kemudian menjabarkan bahwa menurut Watkins, dalam diri manusia terdiri dari 15 jenis ego state, salah satu dari ego state tersebut adalah inner child. Pernah nonton film Inside Out? Ya semacam itulah ego state

Pada film Inside Out, kita dikenalkan dengan beragam karakter rasa. Ada Joy, Angry, Sad, Happy, dsb. Dalam film tersebut kita bisa melihat ketika seorang manusia mengalami trauma masa lalu yang tak kondusif, maka akan muncul bagian yang disebut part. Nah, part ini jika tidak diatasi dengan tepat, akan terus membayangi langkah-langkah kita di masa depan.

Dahsyatnya Trauma Masa Lalu untuk Kehidupan Saat Ini

Apakah saat ini kita memiliki prestasi hidup yang nggak bagus? Bisa jadi hal itu berasal dari ketidaksukaan kita pada Matematika, lalu ditertawakan dan pernah diolok-olok karena hal tersebut. Ternyata pengalaman ditertawakan dan diolok-olok itu begitu membekas, hingga bertahun-tahun kemudian membuat kita tumbuh jadi sosok yang takut pada kegagalan.
Jadi sebenarnya, inner child itu memiliki sebuah fungsi. Dia akan memproteksi diri kita agar tidak mengalami luka yang sama. Hanya saja terkadang karena persepsi kita yang salah, cara proteksi si inner child ini malah bikin hidup kita jadi ribet.
Lalu gimana dong biar fungsi proteksinya berjalan dengan benar? Ya, kita harus membangun ulang persepsi. Selama persepsi yang lama masih berlaku, maka inner child akan melakukan proteksi sesuai sistem yang dikenalinya selama ini.

Trauma masa kecil yang menyebabkan luka atau kepahitan bisa terjadi dari usia 0 - 10, atau bahkan sejak dalam kandungan. Karena saat itu kita masih sangat belia, pantas kalau persepsi kita akan suatu masalah masih sangat sederhana. Makanya cara si inner child memproteksi diri pun seringnya sangat kekanak-kanakan. Itulah gunanya reparenting inner child agar kita bisa ‘menginstall software baru’ di dalam jiwa.

Pak Adi kemudian menceritakan salah satu kasus kliennya. Klien tersebut telah menikah selama 3 tahun dan belum pernah sama sekali hamil. Padahal ketika diperiksa ke dokter, pasangan suami istri ini sama-sama sehat. Bahkan mereka selalu melakukan hubungan seksual pada masa subur.

Akhirnya Pak Adi melakukan hipnoterapis pada si istri dan ketemulah akar masalahnya. Bahwasanya dulu di dalam kandungan, si istri pernah mau diaborsi oleh ibunya. Dari situlah, si alam bawah sadar menghambat dia supaya nggak bisa hamil. Alam bawah sadar nggak ingin ia melakukan hal yang sama.

Setelah ketemu sumber masalahnya, Pak Adi kemudian melakukan terapi pada si inner child. Empat bulan kemudian kliennya tersebut hamil. Bahkan sekarang sudah memiliki 2 anak. Begitulah

Cerita lain, ada klien Pak Adi yang punya hobi unik. Dia suka membeli ayam tarung, tapi kemudian saat sadar ia sangat menyesali keputusannya tersebut. Usut punya usut, ternyata yang memiliki keinginan untuk membeli ayam tarung itu bukan pribadi dewasanya, tapi si inner child. Sementara yang merasa kecewa adalah pribadi dewasanya.

Setelah inner child si klien diproses terapi oleh Pak Adi, ketemulah cara mengatasinya. Sekarang si klien nggak lagi beli ayam tarung, tetapi justru berjualan ayam. Yang tadinya menyesal setiap kali membeli ayam, kini si klien akhirnya happy karena bisa dapat duit dari ayam.
childhood trauma quote
Begitulah innerchild punya potensi untuk bisa menghambat atau malah menghebatkan kita. Tergantung bagaimana kita memperlakukannya.

Cara mengatasi trauma masa kecil adalah dengan memperlakukan inner child secara baik. Inner child nggak boleh dikasari, dihilangkan, dibekukan, ataupun diusir. Inner child harus diperlakukan dengan smooth. Ada proses, tahapan dan rambu-rambu yang harus disepakati, agar nggak salah memroses inner child.

Kalau inner child seseorang baik, maka kualitas hidup orang tersebut juga baik. Begitu juga sebaliknya, ketika inner child seseorang buruk, maka kualitas hidupnya pun buruk.

Yang perlu digarisbawahi, bahwasanya manusia tercipta untuk hal-hal yang baik. Ketika ada hal buruk, maka yang buruk itu harus diselesaikan. That’s why, inner child yang terluka lebih banyak terlihat. Kalau ada yang bilang time would heal the wound. Salah besar!
Time wont heal the wound. By system, jiwa kita tuh pengennya yang buruk itu segera dibereskan. Makanya inner child sejatinya melindungi diri kita dari hal-hal buruk yang pernah kita lalui sebelumnya.
Saat kita tidur, memori yang kita kumpulkan dalam sehari akan disatukan. Memori yang masuk autobiografi harusnya memori yang netral dan emosi positif. Memori karena luka/ traumatik adalah memori yang dilekati emosi negatif/ pemaknaan yang salah, by system tidak diizinkan gabung. Akibatnya memori tersebut jadi pengendara/ wandering.

Jadi kalau kita pada suatu kondisi sedang sangat bahagia, lalu tiba-tiba teringat sebuah memori buruk. Atau flashback pada sebuah kejadian trauma masa lalu, sebenarnya itu adalah pertanda bahwa ada hal-hal buruk yang harus dibereskan.

Setiap emosi butuh diekspresikan. Kalau ada emosi yang justru direpresi, maka jangan kaget kalau akhirnya diekspresikan ke dalam, muncul lewat flashback, gangguan kecemasan, atau masalah depresi. Jika diekspresikan lewat fisik, maka kemudian muncullah kondisi psikosomatis.

Cara Mengatasi Trauma Masa Lalu ala AWG

Sudah sedikit punya bayangan bagaimana efek inner child untuk masa kini dan masa depan kita? Atau malah ingat hal-hal buruk yang ternyata perlu dituntaskan? Penasaran bagaimana cara mengatasi trauma masa lalu agar bisa menghebatkan masa depan? Cuzz kita pretelin satu per satu.

1. Menemukan Akar Masalah

Nggak mungkin kita bisa mengatasi suatu masalah tanpa menemukan akarnya di mana. Oleh karenanya penting bagi kita mengetahui di usia berapa umumnya terjadi masalah. Literatur barat menyatakan masa 0-6 tahun pertama, biasa terjadi trauma masa kecil.

Namun dalam temuan tim pak Adi, trauma masa lalu yang melahirkan pribadi yang terluka bisa terjadi sejak dari pembuahan. Shocking, yaks?
trauma masa kecil
Pak Adi kembali memberikan contoh kasus, kali ini tentang orang yang selalu gagal menikah:
  • Kasus 1 ada kliennya yang nggak bisa menikah. Ternyata setelah ditarik benang merah, pada usianya 4 tahun, ia melihat papa mamanya ribut. Papa selingkuh, mama dipukuli. Seperti yang sudah kutuliskan sebelumnya, bahwa pikiran bawah sadar memiliki fungsi utama sebagai proteksi. Kita mungkin merasa baik-baik saja. Ya fisiknya sih sehat, tapi kita nggak sadar kalau jiwa kita terluka. Maka alam bawah sadar ini melindungi agar jiwanya nggak terluka, ia selalu merusak hubungan. Kalau traumanya nggak dibereskan, ya orang ini akan selalu gagal saat menjalin hubungan percintaan.
  • Kasus 2, ada seorang klien Pak Adi berumur 47 tahun. 2x batal menikah, padahal sudah di depan penghulu. Ia menyadari bahwa pengen bahagia dan berhak untuk bahagia. Tetapi selalu saja gagal menikah. Setelah diproses, ketemulah akarnya. Bahwa di usia 7 tahun, si klien pernah mengalami perkosaan tanpa ada satu orang pun yang tahu. Trauma masa kecil itu menjaga dia agar tidak dilukai di masa dewasa. Makanya si inner child menjaganya agar tidak menikah.
Dua kasus ini menyadarkanku pada akar masalah yang kumiliki. Hampir mirip dengan kasus 1, bedanya aku menikah muda. Namun alam bawah sadarku membentuk sebuah persepsi yang salah.. Bahwasanya semua laki-laki sama, kalau nggak mau mengalami kejadian seperti ibu, maka jangan pernah beri kebebasan pada suami, jangan percaya pada suami, dsb. 

Akhirnya aku tumbuh jadi pacar dan istri yang posesif. Hal itu berlangsung bertahun-tahun lamanya sampai aku jadi seorang toxic partner buat suami. Bersyukurlah dikaruniai suami yang sabar dan mau menemaniku bertumbuh. Meski belum benar-benar selesai, namun aku sudah tidak semengerikan dulu.
Maka jika kita sering mengalami mimpi, intuisi, dan hadir perasaan tidak nyaman, itu adalah tanda ada akar masalah yang belum ketemu. Selama hal itu tidak dibereskan, maka bisa menghambat diri dewasa kita saat ini.

2. Tumbuhkan Rasa Aman

Cara mengatasi trauma masa kecil selanjutnya yaitu menumbuhkan rasa aman untuk si anak kecil di dalam diri. Salah satu mencapainya yaitu dengan kasih sayang dan cinta.
Pak Adi memberikan sebuah analogi. Jika ada seorang pencopet yang tertangkap oleh massa, kemudian ia dipukuli dan dihakimi hingga tidak berdaya, coba perhatikan postur tubuhnya. Pasti tanpa sadar posisinya akan membentuk seperti fetal/ fetus/ janin dalam kandungan. Ini adalah bukti manusia selaku butuh rasa aman.

Pak Adi lalu melanjutkan ceritanya. Suatu hari perutnya terasa sakit, seperti ada gurita di dalamnya. Lalu muncul gambar pak Adi waktu kecil, meringkuk di pojokan. Pak Adi kemudian sadar kalau saat itu inner child yang sedang muncul.

Si inner child itu didatangi oleh Pak Adi, terus dipeluk dan dirangkul. “Saya tahu apa yang kamu rasakan. Saya di sini. Saya kasih perlindungan ke kamu. Kamu nggak butuh siapa-siapa. Saya mencintaimu, saya bisa membuatmu nyaman.” Ketika innerchildnya nyaman, perut pak Adi pun ikut nyaman.
trauma masa lalu
Di mana ada emosi negatif yang mengganggu, di situlah fisiknya akan terganggu. Maka itu sesungguhnya letak si inner child. Sangat penting membantu menyembuhkan luka inner child dan memberdayakannya demi kesehatan jiwa dan fisik kita.

Fyi, di bawah sadar nggak ada masa lalu, nggak ada masa sekarang. Di bawah sadar, semuanya terjadi bersamaan. Tinggal kita mau fokus yang mana. Sederhananya, beginilah kita mengatasi inner child:
  • Awareness: Seakan-akan kita sedang masuk ke dalam sebuah ruangan yang gelap, menyadari ada sesuatu meski belum benar-benar tahu apa sesuatu itu. Begitu juga halnya jiwa kita. Kita perlu peka terhadap alarm yang diberikan jiwa, bahwa ada sesuatu yang terjadi.
  • Conscious: Seakan-akan dalam ruang gelap yang tadi, kita mulai menghidupkan lampu di ruangan itu, hingga akhirnya tahu rupa dari sesuatu tersebut. Sebagaimana kita yang mulai mendengarkan alarm dan kemudian tahu apa penyebab luka tersebut.
  • Mindful: Kita kemudian mengamati dengan benar-benar apa sih yang bisa kita lakukan untuk jiwa kita.
First aid memberdayakan inner child adalah dengan berhenti membenci diri sendiri, berhenti marah pada diri sendiri. Kita harus belajar memberikan kasih pada diri sendiri.
Saat bertemu dengan 'si anak kecil dalam diri', berikanlah cinta. Berikanlah kasih sayang, dan kasih rasa aman. Dengan begitu ia akan sembuh. Inner child dalah bagian diri kita. Apapun yang dilakukannya adalah bentuk proteksi untuk kita. Sebaik-baiknya terapi adalah kasih. Penting bagi kita untuk memenuhi kebutuhan afeksi diri sendiri.

3. Membangun Kemauan untuk Menggali Hikmah

Bagaimana seseorang yang tidak biasa dicintai, bisa mencintai sebagaimana adanya? Hidup itu dinamis. Apapun yang kita alami, selalu ada pembelajaran di dalamnya. Tinggal seberapa besar kemauan kita menggali pembelajaran itu.
cara mengatasi trauma masa lalu
Kita seringkali minta kesabaran, tapi pengennya kesabaran langsung instan dikasih. Padahal bisa jadi masalah yang diberi Tuhan adalah caraNya melatih kita agar sabar.
Masalah seringkali bukan masalah. Problem dalam bahasa Yunani disebut dengan ‘Probalene’ yang artinya adalah move forward. So, a problem is actually a gift in unfamiliar paper. Masalah itu sejatinya adalah hadiah yang dibungkus dalam kertas yang nggak dikenali.
Gimana kita bisa tahu bahwa itu hadiah, kalau kita nggak mau berusaha membuka kertasnya? Sudah siap membuka ‘hadiah’ yang ada, pals?

Lalu bagaimanakah tanda inner child sudah sembuh? Tentu saja ketika kita tidak mengulangi perilaku yang sama. Jika sebelumnya posesif, maka sekarang udah nggak posesif. Jika dulunya overthinking, sekarang nggak lagi overthinking. Jika sebelumnya temperamental, ya sekarang udah nggak marah-marah lagi. Gimana kalian sudah sembuh belum? Kalau aku sih keknya masih butuh berproses deh.

Siapa itu AHG?

Setelah panjang lebar membahas hubungan trauma masa kecil dan cara mengatasinya demi masa depan yang lebih berdaya bersama pak Adi W Gunawan, kini kita akan bertemu dengan pak AHG. Siapakah beliau? Beliau adalah seorang psikolog ternama yang juga mengampu Pondok Pesantren Psikoterapi, Asep Haerul Gani.
psikolog asep haerul gani
Jika narasumber pertama baru kukenal saat acara, Pak Asep lebih dulu kukenal lewat mbak Dian Ekaningrum. Aku bahkan pernah menyebut namanya saat aku menulis artikel tentang hubungan kesehatan mental dan luka pengasuhan.

Pak Asep tinggal di Saung Bujangga Manik Tasikmalaya. Badannya yang kecil sangat bertolak belakang dengan suaranya yang lantang. Aku yang sudah pernah melihat beberapa kali videonya bertemakan inner child dan cara mengatasi trauma, bahagia sekali bisa mendapat kesempatan menimba ilmu secara langsung darinya.

Hubungan Inner Child dan Pernikahan

Jika Pak Adi lebih banyak membahas tentang bagaimana trauma masa kecil bisa mengakibatkan mandhegnya prestasi di masa kini dan bahkan masa depan, Pak Asep lebih banyak membahas terkait hubungan inner child dengan jalannya pernikahan.
Ketika ada pertengkaran suami istri, bukan berarti yang saat itu sedang berantem cuma suami istri saja. Bisa jadi saat itu sesungguhnya yang berantem adalah inner childnya suami versus inner childnya istri. Namun tak ada yang benar-benar menyadari. Begitulah pernikahan tidak sesederhana yang kita lihat.
Untuk memudahkan para peserta memahami hubungan antara trauma masa lalu dengan jalannya pernikahan, pak Asep memberikan contoh kasus tentang suami yang selalu menunggu konfirmasi istrinya sebelum melakukan sesuatu. Bahkan sebelum si bapak ini mengajukan pertanyaan, ia melirik ke istrinya dulu. Setelah istrinya mengangguk, baru deh suaminya berani tanya.

Pada sebuah sesi workshop, ada seorang suami mengajukan pertanyaan pada Pak Asep. “Pak, saya sudah cari jawaban atas sebuah pertanyaan tapi nggak kunjung ketemu. Kenapa ya saya saat akan melakukan sesuatu, saya selalu membutuhkan konfirmasi dari istri?

Tanpa panjang lebar, Pak Asep kemudian melakukan sebuah teknik hipnosis sederhana. Beliau menyampaikan sebuah kalimat sugesti pada orang yang tadi bertanya, “Pak, ketika sebentar lagi bapak berdiri dan berjalan, dan duduk di kursi sana, bapak akan masuk ke sebuah pengalaman yang menjadi jawaban.”

Pas duduk di kursi, si bapak itu kemudian berkata, “Kok ibu nanyanya hanya ke kakak dan adik sih, kok aku nggak pernah ditanya?

Mendengar hal tersebut, Pak Asep kemudian melakukan perannya menjadi nurturing parent, “Saat ini kamu lagi di mana?

Si bapak itu kemudian menjawab, “Aku kelas 3 SD lagi di pasar. Aku lagi ikut ibu. Ibu tanya ke kakakku dan adikku, apa yang mereka inginkan, tapi aku nggak ditanya.”
dampak inner child terhadap pernikahan
Sepele ya sepertinya? Pengalaman yang mungkin hal biasa aja buat orang tua, ternyata bisa jadi pengalaman traumatik buat anak. Ada 1 dari 5 kebutuhan dasar seorang anak, yaitu kebutuhan disayangi, sehingga ia akan merasa bahwa diri berharga. Ketika kebutuhan ini ternodai, akan melahirkan trauma tersendiri.

Mendengar jawaban si bapak, Pak Asep lalu berkata, “Ibumu nggak tahu keinginanmu itu. Coba kamu katakan ke ibu bahwa kamu juga mau ditanya.” Seketika si bapak mengucapkan, “Bu, aku juga mau ditanya,” setelah selesai hipnosis, bapak tersebut tidak lagi tumbuh menjadi lelaki peragu.

Memang salah seorang suami meminta konfirmasi dulu ke istri? Tentu tidak. Hanya saja sebagai seorang imam dan qowammah, suami sebaiknya adalah penentu dan pengambil keputusan. Ketika ia tumbuh jadi laki-laki peragu, maka peran qowammahnya nggak akan muncul secara optimal. Saat qowammah nggak optimal, pernikahan bisa goncang.

Dampak Trauma Masa Kecil pada Kehidupan Pernikahan

Kasus pertama yang diceritakan Pak Asep tersebut adalah permulaan bagaimana beliau ingin memperlihatkan bahwasanya inner child dan trauma masa kecil bisa mempengaruhi jalannya hubungan suami istri. Berikut ini dua kasus selanjutnya yang disampaikan oleh Pak Asep, semoga bisa semakin membuka mata kita betapa bahayanya inner child yang belum selesai dan terus berlanjut hingga ke pernikahan.

Kasus 1: Gugat Cerai karena Parfum

Pak Asep mengisahkan tentang kliennya ketika di malam pertama akan berhubungan seksual, istri tiba-tiba menjerit. Bahkan sampai satu rumah terbangun. Istri pun bingung dan nggak tahu kenapa begitu. Hal tersebut terus berjalan selama 8 tahun.

Hingga akhirnya sang istri berkonsultasi pada Pak Asep. Beliau menggunakan pendekatan psikodrama, hampir mirip dengan teknik regresi alias reka ulang kejadian. Sofa dibuat sebagai tempat tidur, lalu istri disuruh tutup mata, dan pak Asep memperbolehkan dirinya bercerita.

Hingga muncullah sebuah ingatan waktu kanak-kanak. Saat itu istri tersebut sedang mengenakan baju pramuka. Ia melihat ayahnya dan teman ayahnya sedang berbicara di teras. Tiba-tiba saat mau salaman untuk berpamitan, si istri ini melihat sang ayah ditembak oleh temannya tersebut. Ia kemudian merangkul ayahnya dengan menangis, saat itu ia mencium bau parfum ayahnya.

Setelah dikorek lebih lanjut, ternyata bau parfum suaminya mirip dengan bau parfum ayahnya saat kejadian di masa kecil. Ketemulah akar masalah penyebab dari respon error sang istri.
contoh kasus inner child dalam pernikahan

Kasus 2: Suami Intimidatif

Ada pasangan suami istri yang sedang proses perceraian. Mertuanya bahkan bingung kenapa anak perempuannya hendak menceraikan sang suami. Padahal menurut sang mertua, menantunya sosok yang terbaik.

Pada sesi konsultasi, suami istri duduk di sofa yang sama. Suami menceritakan kalau ia benar-benar nggak tahu alasan istrinya minta cerai. Pada saat sang suami bercerita dengan menggunakan gestur tertentu, respon istri seperti ketakutan. Tiba-tiba Istri menangis, sambil bilang, “Jangan tembak aku, Ayah.

Pak Asep kemudian bertanya pada si istri, “Kamu ngapain?” Si istri menjawab, “Aku lagi menggambar. Aku mau menunjukkan hasil gambarku ke ayah, tapi ayah marah dan nodongin pistol ke aku.” Akar masalahnya pun ketemu. Ada gestur tertentu dari suaminya yang mengingatkan istri pada kejadian di masa kecil tersebut.

Inner child istrinya ternyata karena ia mengalami trauma masa kecil akibat perilaku ayahnya. Namun suami yang kena imbas, padahal suaminya bukanlah pelaku kekerasan itu.
Dua kasus di atas menunjukkan adanya emosi maladaptif alias terjadinya respon error. Yaitu peristiwa terjadi sekarang, tapi yang merespon dirinya di masa lalu, perwujudan diri kanak-kanak yang terluka.
Meski begitu inner child itu nggak selalu buruk lo. Ada juga jenis inner child yang bersemangat, bergembira, dan positif. Hanya saja memang inner child negatif jauh lebih menjulang pamornya. Salah satu bentuk inner child yang paling umum dan sering muncul dalam kehidupan berumah tangga adalah mengulang cara parenting yang kita nggak sukai dari diri orang tua pada saat terapi anak tantrum.

Cara Mengatasi Trauma Masa Kecil ala AHG Menuju Pernikahan yang Harmonis

Jika sebelumnya Pak Adi membagikan cara mengatasi trauma masa lalu dengan 3 hal, Pak Asep membagikan 2 cara tambahan, yaitu:

1. Memberikan Pemaafan

Ketika tiga tips dari Pak Adi telah dilakukan, hal terpenting selanjutnya adalah memberikan pemaafan kepada orang yang pernah menzholimi kita. Bagaimana caranya? Yaitu dengan memberikan kasih pada orang tersebut.
forgiveness therapy
Membangun kesadaran bahwa sejatinya orang yang menaburkan luka pada diri kita sesungguhnya karena orang tersebut kekurangan rasa kasih. Maka tumbuhkanlah kasih untuk orang tersebut. Bisa dengan menulis surat kepadanya. Surat itu nggak perlu diberikan pada orangnya ya.

Surat yang kita buat hanyalah sarana untuk mengekspresikan apa yang kita rasakan saat kejadian yang menimbulkan trauma itu berlangsung. Tuliskan dengan 5W1H. Gunakan penginderaan kita seluruhnya. Apa yang kita lihat saat itu, apa yang kita dengar, apa yang kita hidu, apa yang kita rasakan.

Dengan selesainya surat itu ditulis, amati apa yang terjadi pada jiwa. Insya Allah kita jauh lebih tenang dan tentram. Kita bisa melakukan proses itu berkali-kali hingga tuntas memaafkannya.

2. Mengingat

Berkaitan dengan hubungan suami istri, maka penting bagi keduanya agar lebih harmonis di dalam rumah tangga, ingat kembali tujuan pernikahan.

Dan sungguh hal ini work it lo, aku udah membuktikannya sendiri. Pernah di suatu titik, pernikahanku dengan suami berada di ujung tanduk, tetapi badai itu bisa teratasi saat kami mengingat kembali misi keluarga, alasan kenapa kami dipertemukan, dan jika bukan dengannya apa jadinya aku.
tujuan pernikahan
Pals, tak sedikit dalam pernikahan terjadi kasus seperti ini; tubuhnya adalah ibu, tapi jauh di dalamnya inner child yang sedang mengambil alih. Jadi bagaimana si ibu bisa mengasuh dengan optimal? Masa anak mengasuh anak?

Atau kasus lainnya, ada suami yang dikuasai innerchild, istrinya dikuasai critical parent. Akhirnya mereka berdua terus bertikai tiada habisnya. Ujungnya, anak yang menjadi korban.

Oleh karenanya agar hidup kita di masa kini bisa berkembang dengan optimal dan pernikahan bisa berjalan harmonis, penting untuk tahu cara mengatasi trauma. Inner child bukan untuk dihapus, tapi diterima dan diberi pemahaman yang baru tentang persepsi salahnya.

Semoga siapa saja yang sedang mencari cara mengatasi trauma masa kecil, bisa terbantu ya dengan kehadiran artikel ini. Sampai jumpa lagi dalam seri Luka Performa Bahagia berikutnya!
webinar luka performa bahagia
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Nah, masa lalu sering jadi hal yang menghantui saat di masa depan apalagi menjadi trauma yang berkelanjutan. :)

    ReplyDelete

Post a Comment