header marita’s palace

Kampung Lali Gadget Selamatkan Senyum Anak Indonesia

9 comments
Konten [Tampil]

kampung lali gadget achmad irfandi

Kalau nggak dikasih gadget, anaknya tantrum… udahlah biar aja, yang penting anteng.
Akrab dengan kalimat tersebut? Mungkin justru kalimat itu juga sering meluncur di bibir kita.

Benarkah anak-anak hanya tersenyum saat gadget ada dalam genggaman? Pernahkah terbersit jika senyum anak-anak sebenarnya telah terenggut? Senyum mereka saat ini adalah kamuflase, bukanlah kebahagiaan yang sejati.

Mengikuti trend dan kemajuan zaman bukan berarti harus menjejali teknologi pada anak secara brutal bukan? Suatu hal yang tepat ukurannya akan menghasilkan kebaikan, namun yang berlebihan tentu saja akan berdampak buruk.

Begitu juga dengan gadget. Terlalu sering bersinggungan dengan gadget bisa merenggut senyum anak Indonesia.

Benarkah kita para orang tua memberikan gadget sebagai bentuk kasih sayang kepada anak? Atau sebenarnya agar kita lepas dari tanggung jawab untuk menemani mereka main, mendampingi mereka lari-lari dan bereksplorasi?

Pertanyaan ini sesungguhnya tidak kuajukan kepada kalian, pals. Namun untuk diriku sendiri, yang masih sering memberikan gadget pada anak dalam batas berlebih saat aku sedang disibukkan dengan ini dan itu.

Rasanya tertampar ketika ada seorang anak muda yang bahkan belum berkeluarga, tetapi sudah memikirkan nasib anak-anak Indonesia. Keresahannya melihat anak-anak di sekitarnya tak bisa lepas dari gadget dan perubahan-perubahan yang terjadi karenanya melahirkan sebuah terobosan yang patut diapresiasi.
KAMPUNG LALI GADGET, nama terobosan tersebut.

 

Achmad Irfandi, Sang Inisiator

Dia adalah seorang pemuda kelahiran Sidoarjo, 12 Mei 1993. Putra dari bapak Khoiril Anam dan ibu Siti Mas’udah ini merupakan lulusan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
achmad irfandi, inisiator kampung lali gadget
Berawal dari keresahannya terhadap penggunaan gadget yang berlebihan, apalagi di saat pandemi, anak-anak semakin mudah mengakses gadget. Bahkan seringkali tidak mendapatkan pengawasan orang tua, karena para orang tua sibuk bekerja.

Dari pengamatannya, anak-anak yang menggunakan gadget tanpa batasan yang jelas bisa memberikan dampak buruk. Banyak kebiasaan buruk yang terbentuk, seperti tidak disiplin, acuh terhadap sekeliling, sampai kebiasaan mengucapkan kata-kata kotor.

Hal tersebut merupakan pengaruh dari budaya barat yang datang dari internet dan banyak ditiru anak-anak dalam kesehariannya. Kurangnya kontrol dari orang tua dalam mengarahkan hal-hal yang boleh ditiru dan tidak, membuat banyak anak semakin kebablasan.

Bahkan tak jarang anak pun semakin berani melawan orang tua. Di sisi lain, orang tua yang tidak membekali dirinya dengan ilmu parenting biasanya akan mendidik dengan kekerasan (otoriter) atau kebalikannya, menjadi orang tua yang cenderung permisif dengan tujuan agar anak diam dan berhenti berulah.

Kedua pilihan ini jelas sama-sama tak baik. Mendidik anak dengan kekerasan bisa membuat bonding orang tua dan anak tidak terjalin baik, bisa juga melahirkan trauma-trauma pengasuhan ke depannya.

Di satu sisi anak dengan orang tua yang cenderung permisif akan membuat mereka tak paham akan batasan dan konsekuensi.

Achmad Irfandi sadar bahwa anak perlu diawasi dalam penggunaan gadget. Selain diawasi, agar tidak berakhir menjadi kecanduan, pemakaian gadget juga harus dikurangi dan diatur.

Dari sinilah lahir Kampung Lali Gadget, atau kalau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai kampung yang lupa terhadap gawai. Achmad Irfandi membentuk sebuah lingkungan dengan mengembalikan suasana pedesaan yang selama ini telah terpinggirkan.

Anak-anak diajak bermain di kebun dan sawah, lalu dikenalkan dengan beragam permainan tradisional. Anak tidak akan lagi melingkar di kasurnya menggenggam gadget, tetapi melingkar bersama kawan-kawannya bermain seru, berlarian dan bermandian keringat khas anak-anak.

Anak-anak tak lagi bergerombol untuk memainkan game online, tetapi saling berkolaborasi untuk memainkan game-game tradisional yang hampir hilang keberadaannya dimakan zaman.

Sesungguhnya, sebagai orang tua dari dua anak, aku merasa malu. Malu karena inisiatif ini justru lahir dari sosok pemuda yang bahkan belum menikah dan memiliki anak.

Namun juga bahagia, karena dengan tangan dingin dan keuletannya, semua mata akhirnya menengok keberadaan Kampung Lali Gadget, menangkap senyuman-senyuman anak yang sesungguhnya.
Anak-anak yang tersenyum karena kebahagiaan yang sejati bukan senyum kamuflase pengaruh teknologi.

 

Ada Apa Saja di Kampung Lali Gadget?

Achmad Irfandi memulai Kampung Lali Gadget (KLG) sejak 2018. Ya, jauh sebelum pandemi merangsek bumi.

Saat sang inisiator mengajukan program ini dalam pemilihan Satu Indonesia Award (SIA), KLG telah berjalan hingga season 9, disusul dengan belasan kegiatan roadshow dan telah bermitra dengan berbagai Lembaga.
Bertempat di Pagerngumbuk, Kec. Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, KLG memiliki dua lokasi utama, yaitu Gubuk Baca dan Gubuk Kebun.
KLG sengaja disetting demikian agar anak-anak terbiasa beraktivitas dan menikmati suasana sederhana, bersahaja serta bisa menikmati pesona alam ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga nantinya anak bisa lebih bersyukur dan mau merawat bumi.

Di arena KLG disediakan banyak permainan. Mulai dari permainan tanpa alat, permainan bahan alam, hingga permainan tahun 90an, semuanya ada.

Hayo coba di sini ada yang tahu jenis permainan ini; patil lele, egrang, bakiak raksasa, engkle, sumpitan, petak umpet, gobak nsodor, plaseran menari, panahan, kelereng, layangan aduan, layangan hias, telepon kaleng, ketapel, tangkap ikan, perahu daun, gelembung raksasa, dan terompet daun?

Kalau belum, berarti saatnya diagendakan untuk berkunjung ke KLG biar bisa seseruan bareng anak-anak mengenal permainan tradisional tersebut.

Selain beraneka permainan tradisional, anak-anak juga dikenalkan dengan permainan bahan alam, beragam alat musik, kegiatan literasi untuk meningkatkan kemampuan baca tulis dan juga beragam kegiatan olahraga.

Banyaknya aktivitas di KLG merupakan sarana untuk membentuk karakter dan menyeimbangkan penggunaan gadget pada anak. Anak-anak yang datang ke KLG biasanya rata-rata usia TK, SD dan SMP sederajat, yaitu anak-anak berusia emas yang sedang masa pembentukan karakter. Usia-usia ini pula rentan terhadap kecanduan gawai.

KLG terdiri dari dua program besar, yaitu program belajar yang merupakan program inti dan program penguatan sebagai program pendukung.
senyum anak indonesia karena KLG

Program Belajar KLG

Program belajar KLG terdiri dari beberapa jenis yaitu;
  • KLG On Season - Kegiatan edukasi berskala besar yang menjadi signature dari KLG. Memiliki konten materi permainan tradisional, kebudayaan, IPTEK, dsb. Sebelum pandemic peserta bisa mencapai 200-400 anak, tetapi ketika pandemi maksimal 100 anak. Dilaksanakan dua bulan sekali dengan kegiatan berupa cooking class makanan tradisional, permainan tradisional, giat literasi, mendongeng dan beragam aktivitas desa (bertani, menangkap ikan, beternak, dsb). Setiap season memiliki tema berbeda.
  • KLG Roadshow - Kegiatan edukasi yang dilakukan di luar area KLG dengan menjalin kerjasama dengan pihak lain, komunitas, organisasi kepemudaan, instansi swasta, dsb dan sifatnya berpindah. Waktu pelaksanaan tentatif, dan peserta berasal dari desa masing-masing. Konsepnya seperti KLG On Season tetapi aktivitas yang diangkat khas desa tersebut.
  • Pendampingan Belajar - Aktivitas pendampingan belajar dan membantu menuntaskan tugas-tugas sekolah bagi anak-anak di desa setempat. Sebelum pandemi waktunya Senin – Jumat dan Minggu, tetapi setelah pandemi tentatif.
  • Parenting - Pengarahan tentang pengasuhan anak kepada orang tua dengan mendatangkan ahli agar orang tua dapat mengasuh anak dengan tepat. Dilaksanakan dalam event on season dengan peserta lokal. Jadi tidak hanya anaknya yang seru-seruan, tetapi orang tuanya pulang dari KLG juga jadi tambah ilmu. Keren!
  • Proyek Berkelompok - Proyek yang menantang anak untuk berkarya dan sibuk dengan aktivitas edukatif serta melatih keterampilan sosial, fisik, dan mental. Dilaksanakan dua bulan sekali dengan peserta lokal. Proyek yang pernah dikerjakan adalah membuat gubuk panggung, membuat kandang kelinci, memelihara marmut, membuat kolam renang, cooking project, berkebun, dan lain sebagainya.
  • Kompetisi - Lomba atau kompetisi yang digelar untuk menguji kemampuan anak di berbagai bidang. Pelaksanan tentatif sesuai tema dan peserta umum. Saat pandemi, KLG mengadakan mewarnai di rumah saja dan lomba permainan tradisional yang diberi nama Elingpiade. Kegiatan yang terakhir dijadikan acara tahunan di KLG. 26 Desember 2021 lalu Elingpiade kembali digelar sebagai kegiatan penutup tahun.
  • Literasi - Aktivitas baca yang selalu dibiasakan sebelum memulai kegiatan on season atau roadshow agar anak-anak melek literasi dan pengetahuan. Pelaksanaan setiap awal kegiatan on season atau edukasi lainnya.

Program Penguatan

Adapun program penguatan yang dilakukan oleh Achmad Irfandi untuk KLG yaitu;
  • Replikasi - Program menerapkan konsep KLG di daerah atau desa-desa lain dengan dibantu pemuda lokal desa tersebut. Waktu pelaksanaannya tentatif.
  • Pengembangan Kawasan - Program pengembangan sadar wisata (Wisata Edukasi) di desa Pagerngumbuk melalui potensi masyarakat lokal. Pelaksanaan dilakukan sepanjang masa. Beberapa program yang telah dilakukan yaitu membangun gubug baca, membangun wall climbing, dll.
  • Pengabdian Masyarakat - Kegiatan sosial yang dilakukan untuk membantu masyarakat maupun desa dalam berbagai bidang termasuk krisis pandemi covid 19, dilaksanakan secara tentatif. Kegiatan yang telah terlaksana antara lain workshop ecobrick, sosialisasi dan edukasi covid-19, dll.
  • Penelitian - Kajian akademis yang dilakukan kampus-kampus maupun mahasiswa untuk pengembangan Kampung Lali Gadget dalam berbagai sudut pandang keilmuan dengan pelaksanaan tentatif, antara lain skripsi Fun Learning PNF Unesa, Skripsi Public Awareness Ubhara, dll.
  • Kerjasama Lembaga - Kerjasama dengan banyak lembaga, komunitas, pemerintah, swasta untuk pengembangan Kampung Lali Gadget dari berbagai sisi dan dilakukan secara tentatif.
  • Penerimaan Kunjungan - Kegiatan edukasi maupun sosialisasi bagi tamu (sekolah, lembaga pendidikan, dan lain sebagainya) yang ingin berkunjung dan menikmati pemainan tradisional serta banyak hal lain di desa. Tamu yang datang secara tentatif ini memiliki banyak keperluan seperti penyaluran bantuan, ikut kegiatan edukasi, kerjasama, sekadar ingin tahu, dan lain sebagainya. Tertarik untuk berkunjung ke KLG juga, pals?
  • Pengembangan Diri - Kegiatan belajar setiap 3 bulan sekali bagi anggota Kampung Lali Gadget maupun kelompok sadar wisata untuk meningkatkan kapasitas kemampuan diri maupun kelembagaan. Adapun kegiatan yang telah dilakukan audiensi bersama Sudjiwo Tejo, studi Desa Wisata Pulesari, dsb.

Dampak adanya KLG untuk Masyarakat

Setelah berjalan kurang lebih 3 tahun, masyarakat mulai menyadari manfaat dari KLG dalam kehidupan mereka, antara lain:
  • Mengubah pola pikir dan kebiasaan anak-anak. Mereka menjadi sadar bahwa untuk berbahagia tidak harus melulu bermain gadget.
  • Pola pikir orang tua dalam mengasuh anak juga turut berkembang karena adanya pendampingan parenting di setiap season KLG.
  • Tak hanya itu, KLG telah menjadi kegiatan rekreatif dan edukatif yang selalu dinantikan masyarakat. Bahkan telah dikenal hingga tempat lain dan menginspirasi kegiatan yang serupa.
  • Tumbuhnya kecintaan terhadap budaya, pada anak-anak. Mereka tidak lagi mudah digerogoti oleh budaya asing dan bisa lebih mencintai budaya sendiri.
  • Adanya kesadaran dalam diri masyarakat terhadap bahaya kecanduan gadget sehingga lebih bijak dalam penggunaannya.
Selain hal-hal di atas, Achmad Irfandi juga telah mampu meningkatkan perekonomian UMKM di desanya. Bukan hanya senyum anak-anak yang mengembang, para orang tua pun turut menyunggingkan senyum di bibir mereka.

Belajar dari KLG, Mulai dari Keluarga

Jika Achmad Irfandi telah mampu menyunggingkan senyuman untuk anak-anak di sekitarnya, bagaimana dengan kita? Akankah terus menyodorkan gadget ke anak dengan dalih kebahagiaan mereka?

Mungkin kemudian alasan demi alasan akan meluncur dari bibir kita.
Mas Irfandi kan masih muda, tenaganya kuat, dibantu sama tim juga. Kalau orang tua udah capek kerja ini itu.
Atau seperti ini,
La itu kan di desa, ada lahannya, kalau di kota mau main ke mana. Di sana-sini bangunan tinggi semua.
Ada alasan lain lagikah yang ingin diutarakan? Sebelum alasan-alasan itu diutarakan, mungkin kita perlu mendengarkan pendapat mas Irfandi ini;
Sediakan alat bermain, sediakan konsep bermain, maka anak-anak akan lebih senang. Jadi, permasalahannya itu sederhana. Kita tidak bisa lebih asyik daripada gadget. Oleh karenanya, orang tua harus lebih asyik, kakak harus lebih asyik, paman harus lebih asyik, bibi, kakek, dan nenek semuanya harus lebih asyik daripada gadget supaya ada interaksi antarmanusia secara langsung. Tidak melalui gadget.
Nah, pertanyaannya beranikah kita menjadi sosok-sosok yang lebih asyik dari gadget? Atau jangan-jangan kita sendiri telah terpedaya dengan gadget dan merasa bahwa dunia sungguh tak asyik dengan gadget?

Kita bisa lo memulai KLG ala-ala di rumah masing-masing. Tidak perlu muluk-muluk, tidak perlu langsung besar seperti mas Irfandi. Mulai saja dulu dari rumah masing-masing.
dari kampung lali gadget menuju keluarga lali gadget
Caranya pun cukup mudah, sebagaimana pernah aku sampaikan beberapa kali di postingan blog ini. Yaitu dengan menjalankan program 1821.
Sebuah program sederhana yang diperkenalkan Abah Ihsan Baihaqi. Hanya perlu waktu tiga jam dari pukul 18.00 – 21.00, matikan seluruh benda kotak di rumah; HP, televisi, tablet, laptop, bahkan kompor.
Lalu melingkarlah dengan keluarga dan lakukan 3B. Apa itu?
  • Berbicara – Isi dengan ngobrol bersama anak, ajak mereka menceritakan kegiatan hari itu secara bergantian. Biarkan mereka mengungkapkan isi hati untuk menumbuhkan bonding antara orang tua dan anak.
  • Bermain – Tidak harus ke luar rumah untuk seru-seruan, bisa dimulai dengan bermain petak umpet bersama, tebak-tebakan, ABC lima dasar dan aneka mainan tanpa alat lainnya. Yakin deh, anak akan menagih lagi dan lagi begitu kita lakukan sekali.
  • Belajar – Belajar tak harus memegang pensil dan bolpoin, kita bisa mengisinya dengan berkisah, read aloud, atau mendongeng.
Yuk kita coba rutinkan kegiatan ini selama satu minggu tanpa bolong. Jika sudah berhasil tingkatkan lagi menjadi sebulan tanpa bolong, hingga kemudian perlahan menjadi kebiasaan baru dalam keluarga kita.

Jika program sederhana ini telah mampu dilakukan secara rutin di rumah masing-masing keluarga Indonesia, aku yakin program KLG-nya mas Achmad Irfandi akan meluas menjadi Keluarga Lali Gadget.

Bisa kita lihat berapa banyak anak Indonesia yang tersenyum saat itu? Saat orang tuanya memberinya waktu untuk berbicara, bermain dan belajar bersama? Saat kenangan-kenangan manis di masa kecil terukir dengan indahnya, bukan hanya ditemani gadget dari waktu ke waktu.

Entah itu membentuk Kampung Lali Gadget ataupun Keluarga Lali Gadget sejatinya hanya butuh satu kata; MAU. Jika kemauan itu telah ada di dalam diri, aku yakin kemampuan akan mengiringi.

Namun memang untuk menjalaninya sendirian terasa sulit dan berbatu, itulah kenapa pentingnya berjamaah. Orang tua juga perlu memiliki komunitas untuk saling menguatkan agar tetap istiqomah dalam mendampingi anak-anaknya menggunakan gadget dengan bijak.

Sejatinya tulisan ini aku buat dalam rangka mengingatkan diriku sendiri, yang seringkali masih terlena dan membiarkan anak terbuai gadget tanpa batasan waktu. Terima kasih mas Achmad Irfandi dengan Kampung Lali Gadget-nya yang berhasil meraih Satu Indonesia Award 2021 karena telah menyadarkanku atas peran penting orangtua.

Yuk, saatnya kita buat anak-anak Indonesia tersenyum dengan Keluarga Lali Gadget! Siap berperan di dalamnya, pals?***
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

9 comments

  1. Menarik sekali nih inspirasi dari kampung lali gadget menjadi keluarga lali gadget. Walaupun mungkin belum bisa full dalam pelaksanaannya, nice to try untuk awalan dengan metode atau program 18-21. PR lainnya, semoga setiap kita yang menjadi orang tua bisa lebih keren dari pada gadget masa kini

    ReplyDelete
  2. bismillah sedang berusaha menjadi keluarga lali gadget (aamiin). Aku sama sama suami kebetulan no gadget ketika lagi bertiga sama anak, atau kalau lagi qtime berdua mbak. Salah satu yang sangat terasa adalah bonding diantara anggota keluarga. bismillah yuk bisa yuk, jangan sampai anak-anak lebih nyaman sama gadget ya mbak :')

    ReplyDelete
  3. MasyaAllah inspiring. Semoga nanti rumah saya bisa juga jadi rumah lupa gawai. Anak-anak bisa tumbuh sehat dan aktif dan dijauhkan dari hal-hal negatif.

    ReplyDelete
  4. Wow wow wow... kegitan yang sangat positif buat anak-anak. HArus dikembangkan di tempat lain nih... Buka cabang di surabaya gak? Salut deh buat penyelenggaranya...

    ReplyDelete
  5. Based on pengalaman ke anak2 di rumah, mereka pingin nonton youtube (gadget) karena bosan. Biasanya bosan di sini karena aku hrs melakukan aktivitas lain yg bikin mereka "main sendiri". Terobosan kampung lalu gadget ini keren bgt sih di tengah gempuran gadget. Jadi nostalgia juga sama mainan masa kecil ibu bapaknya. Harus mulai mindful menerapkan KLG di rumah ;) bismillah

    ReplyDelete
  6. Nah, ini bagus sekali aktivitasnya, saya dukung pakek banget. ktivitas yang benar-benar mengembalikan masa mereka untuk aktif secara fisik, psikis dan membangun kemampuan lain mereka, komunikasi, sosialisasi, dll. Awal baca kirain daerah jawa tengah, ternyata jatim ya coach.

    ReplyDelete
  7. Membiasakan sesuatu emang susah² gampang. Butuh konsisten sama disiplin. Tapi kalau berjamaah seperti Coach Marita bilang, jadi lebih enak lagi. Tambah semangat. Kasian juga anak² sekarang, nggak tahu banyak permainan tradisional seperti waktu zaman emaknya dulu.

    ReplyDelete
  8. Ahh keren yaa kampung lali gadget ini. Beberapa permainan sangat akrab bagi aku kayak patil lele, egrang, bakiak raksasa hahaha.. Jadi nostalgia deh.

    Aku tau banget betapa susahnya mengalihkan perhatian anak-anak dari gadget. Alhamdulillah adanya KLG inj bisa menjafi jawaban kegalauab emak-emak terhadap pemberian gadget ke anak.

    ReplyDelete
  9. Keren sekali dek Irfandi ini ya, smoga sukses dan terus berkembang KLGnya.
    Terus makin byk anak muda yg terinspirasi jga

    ReplyDelete

Post a Comment