header marita’s palace

Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan Si Kecil, Yuk Bisa!

2 comments
Konten [Tampil]
tips mengelola emosi positif bunda
Siapa yang selama pandemi mulai terseok-seok mengelola emosi positif bunda? Kalau angkat tangan, berarti kita satu server, pals.

Sadar diri banget aku tuh tipe emak yang seringkali sumbu pendek, apalagi kalau kerjaan lagi numpuk, eh anak-anak cranky.
Bersyukur Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia melalui Sahabat Bunda Generasi Maju (SBGM) mengadakan sebuah webinar dengan mengangkat tema yang pas banget. Webinar SBGM tersebut diadakan pada hari Rabu, 22 Desember 2021, bertepatan dengan Hari Ibu.
narasumber webinar sahabat bunda generasi maju
Dijelaskan oleh Flora Pramasari, Head of Careline and Community Danone SN Indonesia, #webinarsahabatbundagenerasimaju yang mengangkat tema “Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan Si Kecil” tersebut dilaksanakan sebagai bentuk dukungan, apresiasi, dan edukasi untuk seluruh ibu di Indonesia.

Tema yang cukup menarik membuat banyak ibu antusias untuk hadir pada webinar SBGM yang berlangsung dari pukul 14.00 – 16.00 tersebut.

Bersama Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, para ibu tidak hanya diajak membuka mata tentang jenis-jenis emosi, tips mengelola emosi, tetapi juga langsung praktek bagaimana cara yang tepat untuk menenangkan diri saat sedang terlilit amarah atau stres.

Pandemi dan Dampaknya kepada Emosi Bunda

Bunda Nina, panggilan kesayangan Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog, tidak langsung menjabarkan tips-tips mengelola emosi positif. Para peserta diajak untuk throw back hal-hal yang dirasakan pada saat pandemi.

Hmm, nggak bisa dipungkiri sih ya, pals. Pandemi memang banyak membawa dampak negatif.

Ada yang ekonominya jadi anjlok, ada yang manajemen waktunya jadi berantakan karena harus membagi perhatian antara pekerjaan dengan mendampingi anak-anak sekolah di rumah.

Belum lagi, ada para ibu yang biasanya masak cuma sekali dalam sehari. Kini harus masak dua sampai tiga kali.

Hal-hal tersebut sedikit banyak mempengaruhi fisik dan psikologis, khususnya para ibu. Diakui atau tidak peran dan tanggungjawab ibu selama pandemi memang meningkat pesat.

Kelelahan, sering pusing, punggung terasa kaku, dan keluhan-keluhan fisik lainnya semakin sering menjadi makanan sehari-hari. Apalagi kalau tidak memiliki support system yang baik, waduh… pasti bisa berlipat-lipat keluhan fisik yang dirasakan.
dampak pandemi bagi ibu
Keluhan fisik adalah dampak yang paling mudah dilihat. Sayangnya banyak ibu yang kurang waspada. Sebenarnya nih, di balik dampak fisik tersebut, ada pengaruh yang terjadi pada sisi psikologis.

Kelelahan yang berkepanjangan bisa jadi menyebabkan para ibu jadi lebih sering marah. Lalu saat kasus Covid-19 melonjak tajam, ada banyak yang mengalami fobia hingga panic buying.

Saat terlalu lama di rumah, banyak yang mulai gabut dan mengalami binge watch television. Alias nonton TV tanpa henti, saking bingung mau ngapain. Duh, kok berasa tersindir karena suka begadang nonton drakor, wkwk.

Tak hanya itu, banyak pula yang mengalami anxiety alias gangguan kecemasan. Bahkan berujung menjadi stres. Adakah di antara sahabat kongkow yang mengalami dampak psikologis seperti ini?
sisi positif pandemi covid 19
Namun pandemi tak semata-mata berdampak negatif kok, ada juga dampak positifnya. Walaupun seakan-akan pandemi memang memperlihatkan masalah baru yang muncul satu per satu tiap hari. Kabar baiknya masalah-masalah itu justru membuat keterampilan hidup kita bertambah lo.

Misal, yang dulunya gaptek, gara-gara pandemi dan harus membersamai si kecil pembelajaran jarak jauh, mau nggak mau jadi tahu cara nge-Zoom, mengisi Google Form, membuat desain flyer di Canva, dsb.

Atau yang dulunya nggak suka masak, sejak pandemi jadi jago baking beraneka resep cake dan cookies. Beberapa juga ada yang jadi punya hobi tanam-menanam.

Kalau sahabat kongkow punya keterampilan tambahan apa nih selama pandemi?

Mengenali Jenis-jenis Emosi

Kalau kita ditanya apa jenis-jenis emosi, biasanya kita akan menjawab sedih, marah, dan bahagia. Apakah benar emosi hanya terdiri dari tiga hal ini?

Ternyata nggak lo. Nih ada emotion wheel dari Plutchik yang perlu teman-teman kongkow ketahui:
emotion wheel Plutchik
Ada banyak banget kan jenis emosi?

Bahkan marah aja tuh ada tingkatannya, marah biasa aja sampai marah yang kesetanan. Begitu juga sedih. Ada sedih yang tingkatanya masih cethek, sampai sedih yang sampai bisa bikin nggak doyan makan minum, hingga depresi.

Semua jenis emosi ada manfaatnya. Aku masih ingat secuil materi dari sebuah seminar terkait self healing yang pernah aku hadiri.

Perasaan itu hadir dengan sebab. Jika kita terlalu sering menolaknya, justru akan membahayakan diri sendiri. Semua perasaan itu wajib diterima dengan sadar.

Sedih, benci, marah, kecewa, cemburu, dan semua emosi yang ada itu boleh banget kok dialami. Asalkan kita bisa menempatkan porsinya secara wajar dan tidak berlebihan.

Nah, caranya gimana biar porsinya bisa tepat?

Menurut Bunda Nina nih, kita perlu menghindari toxic positivity dengan mengenali ragam jenis emosi yang ada di dalam diri.

Toxic positivity itu maksudnya, lagi sedih tapi kita menyangkalnya dan langsung menguatkan diri agar bersabar. Padahal nggak apa-apa lo bersedih.

Sebelum kita bisa mencapai kesabaran, kita harus mengakui dulu kesedihan yang kita rasakan.
film inside out untuk mengenalkan emosi
Pernah nonton film Inside Out? Kalau belum, cuzz tonton deh. Salah satu film animasi yang bagus dan recommended untuk belajar tentang ragam emosi.

Apa Itu Stres?

Saat kita kurang mampu mengelola beragam emosi yang hadir dengan baik, stres sangat mungkin kita alami.

Stres adalah kondisi saat kita merasa tekanan yang kita alami sangat berlebihan.

Seberapakah bahayanya stres pada diri kita? Yuk kita lihat level-level stress berikut ini:
level stres pada manusia
Wuih ternyata dari gambar tersebut, kita bisa lihat bahwa ada level-level stres yang bisa berdampak positif bagi tubuh kita. Bahkan kita bisa mencapai peak performance dengan adanya stres.

Tentu saja dengan catatan, jika kita bisa mengelola stres tersebut dengan tepat. Dengan menjadikan stress yang ada sebagai motivasi untuk menumbuhkan emosi positif.

Sayangnya, kita seringkali gagal mengelola stres. Apalagi kalau sudah kadung sampai di titik burn out. Akhirnya bukannya mencapai peak performance, stres yang kita alami justru membawa pengaruh negatif untuk orang-orang di sekitar.

Biasanya nih, saat seorang ibu sedang stress, efeknya anak akan diabaikan, bahkan bisa terjadi kekerasan pada anak. Lalu setelah sadar dan mampu menguasai diri, ibu pun merasa bersalah, dan untuk menebusnya anak cenderung dimanjakan.

Tak hanya itu stres juga bisa membuat pekerjaan jadi berantakan. Kita jadi lebih mudah sakit dan ujung-ujungnya hubungan dengan suami pun bermasalah.

Sumber Stres Pada Bunda

Biasanya kalau ditanyai apa sih penyebab stress pada bunda, anak dan urusan domestik seringkali menjadi kambing hitam.

Namun sebenarnya stress yang terjadi pada bunda tidak hanya disebabkan oleh anak lo. Generasi millennial termasuk dalam generasi sandwich. Apa itu?
Yaitu generasi yang tidak hanya bertanggungjawab atas diri sendiri, keluarga dan anak-anakny, tetapi juga punya andil untuk membantu kedua orang tua. Bahkan seringkali masih harus tinggal bersama orang tua.

sumber stres pada ibu
Sebagai orangtua, kita ingin bisa memberikan yang terbaik kepada anak-anak. Di lain sisi, sebagai anak kita juga ingin berbakti dan membalas budi kedua orang tua dengan memberikan kehidupan yang nyaman kepada mereka.


Itulah kenapa ada beberapa yang merasa posisinya terjepit seperti isian sandwich. Terjepit oleh kebutuhan sana sini yang kemudian memicu tekanan demi tekanan di dalam diri.

Tekanan-tekanan ini jika tidak dikelola dengan baik bisa jadi bom waktu yang siap meledakkan diri kita kapan saja.

3 Hal yang Harus Dihindari Saat Stress

Nah, saat banyak tekanan yang terjadi, ada kalanya kita benar-benar burn out. Apa sih yang sebaiknya dilakukan saat otak terasa penuh dan jantung seperti meledak?

Bunda Nina membagikan tiga hal yang harus dihindari ketika stres yang kita rasakan mulai memuncak;
hindari hal ini saat marah

1. Ekspresikan Kekesalan secara Spontan kepada Orang Lain

Saat stres siap meledakkan diri kita, hindari untuk meluapkan kekesalan secara spontan. Biasanya para ibu mudah mengomel dari A ke Z saat banyak tekanan.

Meluapkan kekesalan dengan spontan hanya akan membawa pengaruh buruk, baik itu rasa bersalah dalam diri, munculnya trauma pengasuhan di diri anak atau justru merenggangkan hubungan dengan suami.

2. Menyakiti Diri

Hal lain yang harus dihindari saat amarah dan stres sudah mentok yaitu menyakiti diri. Seburuk apapun situasinya, semarah dan sekecewa apapun kita, segera ambil alih kesadaran dan hentikan keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Ingat rule utama terkait emosi; boleh diterima dan dirasakan tapi tidak boleh berlebihan, apalagi jika sampai menyakiti diri sendiri dan orang lain.

3. Negative Self Talk

Menyalahkan diri sendiri adalah hal berikutnya yang harus dihindari saat kita sedang terpojok oleh banyak tekanan. Alih-alih menyalahkan diri sendiri, ubah pola pikir dengan memberikan penerimaan yang utuh pada diri sendiri.

Bahwa hidup itu tidak selamanya baik-baik saja, ada kalanya tidak baik-baik saja dan itu manusiawi. Tidak baik-baik saja bukan berarti kita ibu yang gagal. Kita hanya butuh waktu untuk pulih dan kembali bangkit.

6 Tips Mengelola Emosi Positif Bunda ala Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si., Psikolog

Terus kalau yang tiga hal di atas nggak boleh dilakukan saat sedang stres, baiknya kita ngapain dong untuk mengelola emosi secara positif?

Santai, pals… Bunda Nina sudah menyiapkan tipsnya untuk kita. Sudah siap menyimak lebih lanjut?
cara mengelola emosi pada ibu

1. Sadari bahwa Kondisi Tubuh dan Psikis Berhubungan Sangat Erat

Pernah ingat istilah lama dari bahasa Latin berikut ini; Mens Sana in Corpore Sano?
Di dalam badan yang sehat terdapat jiwa yang sehat pula.
Hal tersebut menunjukkan bahwa kita perlu menyadari adanya mind-body connection. Saat badan kita sedang sakit, kita pun biasanya jadi malas ngapa-ngapain.

Begitu juga saat kita sedang banyak pikiran dan sering menggalau, tubuh pun sering mendapat dampaknya. Entah jadi sering migren, insomnia dan gangguan kesehatan lainnya.

Oleh karenanya kita perlu untuk mengenali batasan tubuh dan psikis. Kita harus tahu nih kapan alarm tubuh berdering, sehingga kita bisa mengelola kapan waktu yang tepat untuk berhenti aktivitas sebelum benar-benar kelelahan.

Kita juga perlu tahu kapan emosi negatif mudah muncul? Saat laparkah, saat rumah berantakan, saat kurang diajak ngobrol sama suami?

Perlu banget untuk mengenali batasan-batasan tersebut agar kita bisa berhenti sebelum burnout melanda.

2. Sehatkan Tubuh untuk Sehatkan Psikis

Masih berhubungan dengan nomor satu. Terkait dengan kesehatan tubuh, lebih baik kita juga mengubah kebiasaan-kebiasaan hidup yang baru.

Misal sebelumnya makan masih asal-asalan, mulai sekarang ubah dengan makanan yang lebih bernutrisi. Yang dulunya biasa begadang, ayo sekarang mulai istirahat yang cukup.

Yang masih mager untuk workout, ayolah mulai berolahraga meski hanya 10 – 15 menit setiap harinya. Jangan lupa juga untuk menghindari rokok dan alkohol.

Buat yang suaminya perokok aktif sepertiku, buat aturan untuk tidak merokok di dalam rumah, ganti baju dan mandi setiap selesai merokok dan tidak menyediakan asbak di sudut-sudut rumah.
steril gadget tips mengelola emosi

3. Tetap Terhubung dengan Orang-orang Terkasih

Tahukah jika terlalu sering terkoneksi dengan gadget bisa lebih cepat membuat kita kehilangan kontrol atas diri?

Oleh karenanya penting untuk mengatur waktu steril gadget. Untuk berapa lamanya, bisa disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing ya.

Ada yang melakukannya tiap seminggu sekali, sebulan sekali, atau malah ada juga yang memang dalam satu hari sengaja untuk mematikan gadget pada jam-jam tertentu.

Sesungguhnya membuat waktu steril gadget ini agar kita lebih menghargai diri sendiri. Bahwa kita tetap perlu berkoneksi dengan Tuhan, diri sendiri dan orang-orang di sekitar.

Dengan off gadget, kita jadi bisa lebih punya waktu berkualitas dengan keluarga, dengan anak-anak dan pasangan. Ngobrol jadi lebih nyambung karena saling bertatap-tatapan dan tidak saling menunduk ke layar gawai masing-masing.

Kalau di salah satu komunitas parenting yang aku ikuti, kami punya program bernama Gerakan 1821. Yaitu seluruh anggota keluarga mematikan segala benda berbentuk kotak, entah itu hp, TV, kompor, tablet, laptop, dan lainnya, dari jam 18.00 – 21.00.

Pada jam itu khusus digunakan untuk 3B bersama keluarga; berbicara, bermain dan belajar. Ada yang sudah pernah dengar atau malah sudah rutin mempraktikkan program ini di rumahnya masing-masing?

4. Tetap Bersosialisasi

Selain tetap terkoneksi dengan orang-orang terkasih, sebagai makhluk sosial, kita juga perlu bersosialisasi. Seintrovertnya kita, tetep kok butuh teman untuk saling bertukar pikiran dan berbagi cerita.

Apalagi sekarang bersosialisasi kan nggak harus bertatap muka dan ke luar rumah. Jadi jangan gunakan alasan “duh, anakku masih kecil-kecil nih, nggak bisa ikut komunitas ini dan itu.”

Bisa kok. Sekarang kan sudah banyak komunitas parenting dan hobi yang punya Whatsapp Group. Beberapa juga mengadakan sharing lewat IG Live dan juga webinar via Zoom atau sejenisnya.

Jadi kita tetap bisa berkegiatan, berjejaring dan belajar lewat virtual. Bunda Nina juga mengingatkan, yang diminta itu physical distancing, bukan social distancing.

Terlalu menutup diri dan enggan bergaul dengan orang lain juga bisa berbahaya untuk kesehatan psikis lo. Eniwei, kita bisa kok memilih komunitas yang cocok dan punya visi misi yang sama, biar lebih klik menjalaninya.

Beberapa komunitas juga ada yang sudah memulai bertemu offline. Seru banget pastinya setelah lama hanya jumpa via virtual, tapi ingat.. jangan lupa jaga protokol kesehatan ya.

5. Menenangkan Diri

Nomor 1 – 4 lebih tepat jika dilakukan sebagai upaya pencegahan. Nah kalau stres sudah kadung ngumpul dan bikin amarah jadi memuncak, baiknya gimana dong?

Bunda Dina kasih tips jitu nih. 

Masih ingat kan sama tiga hal yang harus dihindari saat sedang marah? Alih-alih melampiaskan rasa jengkel dengan spontan kepada orang lain atau menyakiti diri sendiri, mending kita segera ubah posisi deh.

Misal awalnya berdiri, cuzz langsung duduk. Kalau tadinya duduk, cuzz ubah posisi jadi berdiri atau rebahan. Ambil jeda dan lakukan kontrol atas diri dengan menarik nafas dalam-dalam.

Bahkan di sebuah hadits sudah disampaikan lo tentang hal ini;
Rasulullah bersabda: "Apabila kalian marah, dan sedang dalam posisi berdiri, hendaknya kalian duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendaknya mengambil posisi tidur." (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

tips menenangkan diri berlatih nafas dan grounding

Bunda Nina juga mengajak para peserta #webinarsahabatbundagenerasimaju untuk berlatih nafas.

Caranya kita diajak untuk sadar nafas dengan menghitung berapa banyak jumlah nafas yang dihembuskan dalam waktu satu menit.

Jika dalam satu menit kita bernafas lebih banyak dari 20x, artinya kita sedang dalam posisi yang tidak tenang, sedang panik dan tidak bisa berpikir jernih.

Ayo sekarang teman-teman kongkow cobain deh di rumahnya masing-masing. Kalau aku pas acara, jumlahnya 13x nafas. Maklum pas lagi selow ya gaes, coba kalau Affan lagi cranky.. mungkin 20 lebih, wkwk.

Selain menyadari nafas, kita juga bisa mempraktikkan Grounding Tools berikut:
Temukan 5 hal yang dapat kita lihat, 4 hal yang dapat kita sentuh, 3 hal yang dapat kita dengar, 2 hal yang dapat kita hidu (cium baunya), 1 hal yang dapat kita rasakan.
Dengan berlatih Grounding Tools, diharapkan kita bisa menyadari apa yang sedang kita rasakan dan kita alami. Kalau bahasa psikologinya sih, mindfulness ya pals.

Setelah bisa berpikir jenih, saatnya kita melakukan positive self talk dan mengingat bahwa di dunia ini ada hal-hal yang bisa kita kontrol dan nggak bisa kita kontrol.

Daripada memusingkan hal-hal yang nggak bisa kita kontrol, kita fokus saja sama hal-hal yang bisa kita kontrol.

Contoh hal-hal yang nggak bisa kita kontrol antara lain ocehan dan pendapat orang lain. Sementara bagaimana kita merespon ocehan dan pendapat orang lain termasuk dalam ranah hal-hal yang bisa kita kontrol.

Kalau ada ocehan A, kita bisa memilih mau merespon dengan C atau Z. Sejatinya tidak akan ada hal yang menyakitkan, jika kita memilih untuk tidak tersakiti.

6. Temui Ahli

Sudah melakukan upaya pencegahan, sudah belajar teknik menenangkan diri, tapi kok masalah tak kunjung tuntas . Malah stress makin meningkat dan mengarah ke depresi?
careline sahabat bunda generasi maju
Sebaiknya sahabat kongkow segera menemui psikolog klinis untuk mendapat pertolongan yang tepat.

Takut dicap sebagai orang sakit jiwa?

Hei, berobat ke psikolog itu sama halnya dengan kita pergi ke dokter untuk melakukan konsultasi kesehatan tubuh. Jadi jangan takut dengan stigma tersebut ya.

Toh, kesehatan kita adalah tanggungjawab kita. Kalau memang menyadari butuh bantuan ahli jiwa, ya nggak apa-apa. Justru bagus karena artinya kita sudah sadar atas batasan psikologis dalam diri.

Kalau yang bikin stres berkutat tentang tumbuh kembang dan nutrisi anak, cuzz bisa hubungi careline Sahabat Bunda Generasi Maju di nomor Whatsapp 082360360660. Nomor tersebut bisa dihubungi 24 jam nonstop selama 7 hari berturut-turut.

Sahabat Bunda Generasi Maju, Apaan Tuh?

Pasti penasaran ya dari tadi istilah Sahabat Bunda Generasi Maju (SBGM) disebut-sebut terus.

Nah, kemarin pas webinar, Dilla Dinda Fadhillah, A.Md. Gz selaku perwakilan dari SBGM menjelaskan secara langsung pengertian dari SBGM

SBGM adalah bagian dari Danone SN Indonesia yang berperan untuk mendampingi ibu dalam proses pengasuhan untuk mendukung buah hati menjadi Anak Generasi Maju, termasuk pada periode 1000 hari pertama kehidupan.

Pada tahun 2021, SBGM telah mendampingi lebih dari 200,000 orang tua di seluruh Indonesia lo.

Cara mendampinginya yaitu dengan menjawab pertanyaan para orang tua, khususnya ibu, mengenai nutrisi, produk dan tumbuh kembang buah hati. Jumlah anggota SBGM saat ini lebih dari 60 orang, dengan latar belakang yang berasal dari Pendidikan Gizi, Kebidanan, Keperawatan dan Kesehatan.
apa itu SBGM (Sahabat Bunda Generasi Maju)
Selain bisa dihubungi lewat Whatsapp, kita juga bisa melakukan panggilan suara di nomor 0800-1-360360. Tak hanya itu SBGM juga menyediakan medsos dan email untuk proses konsultasi.

SBGM secara kontinyu juga mengadakan webinar dan live streaming terkait topik-topik yang dibutuhkan oleh para ibu, salah satunya webinar “Mengelola Emosi Positif Bunda dalam Pengasuhan Si Kecil” yang berlangsung 22 Desember lalu.

Oya, kalau teman kongkow adalah seorang ibu yang memiliki anak di atas satu tahun, boleh banget lo bergabung di Klub Generasi Maju. Ada banyak info-info keren nan edukatif, pengumpulan kado, poin dan berbagai hadiah lainnya.

Pastinya SBGM dan Klub Generasi Maju bisa banget membantu kita untuk meredakan stres dan tumbuh jadi ibu yang lebih bahagia.

Kesimpulan

Jadi kalau boleh dirangkum, webinar SBGM di Hari Ibu lalu bertujuan untuk membuka mata kita bahwa semua jenis emosi selalu ada manfaatnya dan boleh dialami secara wajar.

Hanya saja jika stres berlebihan, kita bisa merugikan diri sendiri, anak dan seluruh keluarga. Untuk mengatasi stres, kita perlu menemukan sumber penyebabnya. Biasanya sumber stress sandwich generation selain anak, bisa muncul dari orang tua lansia.

Kondisi tubuh terkait erat dengan kondisi psikis. Oleh karenanya sehatkan tubuh untuk sehatkan fisik.
tahapan mengelola emosi
Sejatinya stres tidak melulu berdampak negatif kok, stres juga dibutuhkan untuk membuat kita lebih bersemangat lo. Hanya saja kita perlu mengelolanya dengan tepat agar berdampak dengan baik.

Caranya, kuasai teknik menenangkan diri, lakukan kebiasaan baik, dan jika masalah terus berlanjut, jangan ragu untuk konsultasikan dengan ahlinya. Entah itu psikolog klinis atau careline SBGM.

Dengan berakhirnya artikel ini, harapanku teman-teman kongkow sudah bisa mengelola emosi positif ya. Tetap semangat dan jangan lupa bahagia.***
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

2 comments

  1. Sepakat. Bahwa stress tak selalu negatif bahkam dikatakan melkaukan hal2 menyenangkan scra berlebihan masuk kategori stress hanya g kerasa aja.

    Nah nah, btw aku suka ini

    Temukan 5 hal yang dapat kita lihat, 4 hal yang dapat kita sentuh, 3 hal yang dapat kita dengar, 2 hal yang dapat kita hirup (cium baunya), 1 hal yang dapat kita rasakan.

    Ini tampaknya menarik.apalgi buat orang kinestetik.

    ReplyDelete
  2. Setuju sih, stress gak hanya mempengaruhi kesehatan psikis tetapi juga fisik yang semakin mempersulit kita menghadapi kehidupan. Jadi, harus pintar-pintar mengelola emosi agar menjadi hal yang positif.

    ReplyDelete

Post a Comment