header marita’s palace

Saras Hijrah, Sahabatku Inspirasiku

1 comment
Profil Saras Hijrah
Hijriyani Saraswati adalah nama yang kukenal waktu pertama kali bersua dengannya. Kalau nggak salah ingat sekitar tahun 2015an, pada sebuah event parenting bertajuk Program Sekolah Pengasuhan Anak (PSPA).

Seingatku saat itu sosok perempuan matang berputra dua ini menjadi peserta, sedangkan aku diperbantukan menjadi panitia. Pertemuan pertama itulah yang kemudian melahirkan pertemuan-pertemuan selanjutnya.

Pertemuan demi pertemuan yang selalu membuatku makin kagum dengan setiap jejak langkahnya. Juga sesekali ada rasa iri yang menyusup di hati. Iri dalam artian positif tentunya ya…

Kini, perempuan yang berperawakan tinggi semampai lengkap dengan hijab besarnya ini lebih senang dipanggil dengan nama Saras Hijrah. Nama itu juga yang kemudian digunakannya sebagai nama pena baik di beberapa proyek penulisan ataupun pada blog yang mulai ditekuninya setahun ini.

Aku akan menceritakan mengapa memilih mbak Saras, atau biasa juga kupanggil dengan Mom Saras di sebuah komunitas yang kami ikuti, sebagai sosok inspiratif.

5 Alasan Memilih Saras Hijrah sebagai Sosok Inspiratif

Sebenarnya ada banyak alasan yang ada di otakku mengapa memilih Mom Saras sebagai sosok yang menginspirasi. Namun sepertinya lima hal saja sudah membuatku berbinar-binar menceritakan semua sisi kerennya, masya Allah.

Baiklah, langsung aja yaa, kita kenal lebih dalam tentang sosok yang satu ini.

1. Pembawaannya Selalu Kalem dan Tenang

Berbeda denganku yang seperti bom meledak, wkwk. Mbak Saras begitu tenang, dan selalu bisa mengerem obrolan yang mulai ngaco ke mana-mana.

Mbak Saras selalu mampu mengembalikan obrolan ke arah yang seharusnya. That’s why kalau pas kelas blogging offline di rumahku, doi berinisiatif untuk mengambil peran sebagai MC.

Selain selalu mengingatkan untuk membuka dan menutup kegiatan dengan doa. Mbak Saras selalu mampu menghidupkan kegiatan belajar, tetap asyik dan seru, tapi nggak banyak ngalor ngidul, hehe.

2. Berani Melepas Karir di Ranah Publik demi Fokus pada Pengasuhan Anak

Saat pertama kali bertemu dengannya, mbak Saras masih bekerja di perusahaan asuransi sosial di bidang kesehatan. Setelah bergelut dengan dilema selama beberapa waktu, akhirnya ibu dari dua orang putra ini memutuskan untuk melepas karirnya tersebut.

Pastinya nggak sedikit yang menyayangkan keputusan tersebut. Namun mbak Saras membuktikan bahwa karir sebagai seorang ibu jauh lebih penting dari jabatan apapun di sebuah perusahaan.

Mbak Saras rela melepas karirnya yang sudah mapan demi bisa fokus mendidik dan mengasuh kedua putranya. Katanya, “Ada banyak PR dan hutang pengasuhan yang harus kubayarkan kepada anak-anak.” Masya Allah…
Jadi ingat sebuah kalimat bijak, “Uang dan pengalaman bisa dicari dan diulang lagi, tetapi masa pengasuhan tidak akan pernah bisa diulang kembali.”


3. Nggak Pernah Lelah Belajar


Selepas mundur dari kedinasan, mbak Saras semakin melejit potensinya. Itu yang aku lihat. Aku sesekali stalking postingan medsos ataupun status Whatsapp-nya, hanya decakan kagum yang bisa aku persembahkan.

Bahkan kata “keren” tak akan sanggup mewakili sosok mbak Saras yang terus bertumbuh setiap harinya. Dari yang sehari-hari sibuk ngurusin klaim, mbak Saras belajar banyak hal.

Sepertinya doa kedua orangtua mbak Saras yang dititipkan melalui namanya "Saraswati" benar-benar terjawab. Meski sekarang mbak Saras jarang menyebut nama aslinya, tetapi fyi, Saraswati dalam Agama Hindu disebut sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan.

Selaras dengan kegiatan mbak Saras saat ini yang selalu dipenuhi dengan kegiatan belajar dan mengajar.   Utamanya tentu belajar parenting. 

Selain berguru pada Abah Ihsan, mentor kami pada PSPA dan YukJOS Community, mbak Saras juga mengikuti banyak event parenting. Bahkan tak hanya menjadi peserta, mbak Saras pun kini makin sering diundang ke sekolah dan instansi untuk menjadi narasumber.

Mantap kan?
Kalau istilah bu Septi Peni dan Pak Dodik Mariyanto, “Bersungguh-sungguhlah kau di dalam, maka kau akan keluar dengan kesungguhan tersebut.”
Aku rasa istilah itu sangat menggambarkan bagaimana proses bertumbuh mbak Saras. Setelah memutuskan untuk “bersungguh-sungguh di dalam,” mbak Saras pun melejit dengan luar biasa. Apa yang dibagikannya saat menjadi narasumber parenting bukanlah isapan jempol, tetapi insya Allah adalah hal-hal yang sudah dilakukan di rumah bersama keluarganya.

Mbak Saras juga mengikuti pelatihan di sekolah Al Falah hingga empat modul. Sekolah Al Falah adalah sebuah sekolah yang model pembelajarannya diadopsi oleh Sekolah Islam Bintang Juara.

Bu Vivi, founder Sekolah Islam Bintang Juara, sekaligus penasihat kami di YukJOS Community, mengajak kami untuk belajar di Al Falah. Aku pun sebenarnya juga sangat tertarik untuk ikut pelatihan tersebut. Sayang, kantongku belum mencukupi, hehe.

Mbak Saras menyambut ajakan Bu Vivi dengan riang gembira. Bahkan mbak Saras memiliki cita-cita untuk membuat lembaga PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini).

Ya, meskipun saat ini cita-cita itu belum bisa diwujudkan karena suami mbak Saras masih belum ridho mbak Saras sibuk lagi di ranah publik, hehe. Selain itu saat ini doi juga sedang disibukkan birrul walidain karena ibunda tercinta sedang dalam masa penyembuhan setelah jatuh sakit beberapa waktu lalu.

Masya Allah..

4. Diam-diam Menghanyutkan

Nggak hanya di bidang edukasi, mbak Saras juga belajar phone photography dan meningkatkan skill memasak. Bahkan aku sempat melihatnya membuka pesanan kudapan. Emejiiing.

Sesekali mbak Saras juga membagikan hasil karya masakan bersama kedua putranya. Hasil fotonya juga makin kece tiap harinya.

Satu hal yang bikin aku makin berdecak kagum pada sosoknya adalah awareness mbak Saras terhadap lingkungan. Dari bikin kompos, mengelola sampah, dan banyak hal lain yang telah dipraktekkannya sendiri.

Aku juga pernah bertanya pada mbak Saras gimana caranya mengajarkan anak-anak untuk aware terhadap lingkungan. Doi lalu menceritakan bagaimana di rumah, ia sudah membiasakan anak-anak untuk memilah mana sampah organik dan anorganik.

Lama-lama melihat sang ibu konsisten melakukan kegiatan cinta lingkungan, anak-anak pun mengikuti. Nggak salah deh kalau mbak Saras membranding dirinya sebagai “Parenting Enthusiast & Local Environmental Activist.”

5. Tegas dan Punya Skala Prioritas

Sisi keren lainnya yang kulihat dari sosok Saras Hijrah adalah manajemen waktunya yang luar biasa. Mbak Saras selalu tegas dengan skala prioritas yang dimilikinya.

Sepertinya itulah yang membuat mbak Saras selalu terlihat tenang, kalem dan nggak grusa-grusu. Mbak Saras udah piawai dalam memilah mana hal-hal penting dan mendesak, dan mampu menyingkirkan hal-hal tidak penting dan tidak mendesak.

Dahlah ngobrolin sosok perempuan inspiratif ini nggak akan selesai satu postingan. Ada banyak hal yang bener-bener membuatku kagum dan pengen bisa meng-ATM hal-hal baik dari dirinya.

Namun yang pasti dari seorang Saras Hijrah aku belajar agar tidak membuang-buang waktu untuk hal yang tak berguna. Fokus pada kebaikan dan banyak-banyak menebar kebermanfaatan.   

Sebagaimana nama pena yang kini selalu digunakannya;"Hijrah". Sudah selayaknya setiap hari kita melakukan hijrah; perjalanan dari hal yang buruk menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik lagi.

Demikianlah ceritaku tentang sosok inspiratif yang saat ini cukup sering berkolaborasi bersama denganku. Semoga tulisanku tentang Saras Hijrah ini bermanfaat buatmu, pals.
Marita Ningtyas
A wife, a mom of two, a blogger and writerpreneur, also a parenting enthusiast. Menulis bukan hanya passion, namun juga merupakan kebutuhan dan keinginan untuk berbagi manfaat. Tinggal di kota Lunpia, namun jarang-jarang makan Lunpia.

Related Posts

1 comment

  1. Ma syaa Allah tabarakallah, sungguh sebuah kehormatan bisa menjadi bagian tulisan di blog keren milik coach tercinta. Atas izin Allah yg masih menutupi aib2 diri ini jadi yg disampaikan coach di atas adalah kebaikan milik Allah semata. Saya pun banyak belajar dari coach Marita yang ringan berbagi ilmu, barokallohu fiik sahabat surgakušŸ„°

    ReplyDelete

Post a Comment