header marita’s palace

2 Cara Merilis Emosi dan Berdamai dengan Diri

cara merilis emosi dan berdamai dengan diri ala Ustaz Oemar Mita

Pada artikel sebelumnya, aku sudah berbagi insights kajian Journey to Healing: Recovering from Anxiety & Insecurity bersama Ustaz Abu Bassam Oemar Mita part 1. Kali ini aku akan melanjutkan catatan belajarku terkait cara merilis emosi dan berdamai dengan diri.

Yuk, recalling dulu pesan yang disampaikan oleh Ustaz Oemar Mita terkait hidup. Bahwasanya hidup haruslah diilmui, bukan sekadar dijalani. Hidup yang sekadar dijalani, akan menghadirkan beban-beban yang kian menghimpit karena dibiarkan begitu saja.
Kalau manusia sekadar menjalani kehidupan, tanpa mengilmui pentingnya mengelola beban, beban itu yang akan mematikan diri kita. Mematikan di sini bukan hanya berarti mematikan secara fisik, tetapi juga mematikan secara mental. Visi misi hidup kita tumpul, hingga tak mampu berpikir secara positif.
Disampaikan oleh Ustaz Oemar Mita berulang kali, bahwasanya dua kesalahan besar manusia adalah;
  • Hidup hanya dijalani
  • Beban dibawa ke mana-mana, tanpa diselesaikan
Beban ini bisa jadi berbeda-beda setiap orangnya. Ada yang diberikan beban berupa luka pengasuhan, kekecewaan terhadap makhluk, ekspektasi yang terlalu tinggi, kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan, dsb.

Beban yang tidak segera diatasi dengan tepat ini, sangat mungkin menjadi racun bagi hidup kita ke depannya. Langkah awal untuk mengelola beban secara tepat adalah sadar diri (mindful), sehingga kita mampu berada pada titik berdamai dengan apa yang telah terjadi.

Apakah mudah? Oh, tentu tidak. Perlu berkali-kali latihan, perlu berlipat-lipat kesabaran, perlu berkali-kali belajar. Setidaknya kalau kita sudah sampai pada tahap menyadari bahwa punya luka dan beban, dan sadar bahwa perlu memulihkan diri, itu udah oke banget, pals.

Karena di luar sana banyak yang punya luka, banyak yang menanggung beban, tapi tidak mau menerima. Tak sedikit pula yang tahu, tapi menolak untuk mengakuinya. Sedangkan untuk pulih, diperlukan kesadaran diri yang utuh.

Nah, kalau sudah sadar punya luka, punya beban, apa yang selanjutnya dilakukan?

Cara Merilis Emosi ala Ustaz Abu Bassam Oemar Mita

Ustaz Oemar Mita menyampaikan kita perlu tahu cara merilis emosi. Atau kalau bahasanya beliau, perlu tahu ways to release beban-beban itu dengan tepat.

Sebenarnya ada 5 ways to relase beban ala Ustaz Oemar Mita. Cara ini diambil dari buku besutan beliau, berjudul ‘Make Peace with Yourself.’ Namun dalam kajian Zoominar ini baru diceritakan dua saja.

Buat temen-temen kongkow yang udah pernah baca buku ‘Make Peace with Yourself’, boleh banget lo yang mau berbagi tiga poin lainnya.

1. Cerdas Melihat Masalah yang Kita Hadapi

Kita perlu banget belajar untuk melihat masalah dengan helicopter view! Lihat beban, luka, masalah dan kehidupan kita dari atas, jangan dari depan atau ujung doang.

Dengan melihat dari atas, kita bisa melihat masalah itu dari segala sudut pandang. Alhasil kita bisa mengambil hikmah dari kejadian-kejadian pahit yang baru kita lalui.

Kenapa kita acapkali gagal melihat sebuat ujian atau masalah menjadi tantangan, dan hanya mampu melihatnya sebagai beban?

Karena kita lihatnya jarak dekat doang, alhasil fokus kita pendek. Kita hanya melihat ujungnya yang membuat kita tersakiti, tapi nggak melihat secara holistik.

Alhasil timbullah beragam asumsi dalam diri. Kemudian kita teracuni pikiran diri sendiri. Padahal takdir kita itu panjang, dan setiap hal yang sudah terjadi pasti ada hikmahnya. 

memandang masalah dengan cara helicopter view
Kalau kita mau melihat kehidupan secara holistik integratif, kita mau menjalani setiap prosesnya, insya Allah segala macam rasa yang kita cecap dalam hidup akan mampu membangun mental, dan menguatkan. Kalau kita kok masih terpuruk, artinya kita belum sepenuhnya berdamai dengan proses kehidupan.

Lagi-lagi Ustaz Oemar Mita mencontohkan ujian hidup yang dihadapi oleh Nabi Ayyub. Beliau diberikan sakit yang sangat berat, anaknya meninggal, istrinya pergi, harta bendanya ludes. Apakah benar hidup kita lebih tragis dari Nabi Ayyub?

Saatnya kita belajar bagaimana Nabi Ayyub mampu melihat hidup dengan helicopter view. Alih-alih terpuruk dan merasa hidupnya paling tragis, Nabi Ayyub justru bersyukur dengan kondisinya.

“Bukankah Allah sudah menyehatkan aku selama 70 tahun? Bukankah Allah sudah memberikan kenikmatan luar biasa selama 70 tahun? Anak istri yang baik dan sehat, harta benda yang berlimpah, sungguh sakit ini tidak ada apa-apanya.”

Kalau toh kisah Nabi Ayyub terlihat terlalu tinggi, karena beliau adalah nabi, kita bisa belajar dari sosok Abu Qilabah. Manusia biasa ini sering disebut sebagai Ayyub-nya umat Rasulullah SAW.

Abu Qilabah adalah sosok pria dengan kondisi buta. Diusir dari rumah, tangannya buntung, kakinya patah, dan sakit-sakitan. Ia hanya ditemani tenda yang penutupnya terbuat dari kain-kain yang sobek. Apakah Abu Qilabah meringis dalam tangisnya?

Tidak, pals. Abu Qilabah tetap selalu merasa bahagia. Dzikirnya adalah salah satu dzikir yang paling tulus dan indah.

Apa yang senantiasa Abu Qilabah sampaikan? Begini, pals…

“Kalau Allah mau, IA bisa aja mematikan aku dengan petirnya. Namun hingga saat ini Allah masih membiarkan aku hidup, lantas apa yang harus aku ratapi?”

Itulah helicopter view yang dicontohkan Abu Qilabah. Bahwa dalam setiap kesempitan dan kesulitan hidup, Allah selalu sertakan pula kemudahan. Sayangnya kok, hati kita seringkali terlampu bebal melihat kemudahan dan keindahan yang Allah SWT berikan.

Kalau kata Psikolog Sukmadiarti, kita harus tetap bahagia dalam hidup apapun keadaan yang kita jalani. Karena sejatinya bahagia itu tanpa tapi. Saatnya kita belajar menumbuhkan growth mindset dalam diri, bukan “aku bahagia karena... “, tapi “aku bahagia, meskipun keadaannya…”

Lihatlah hidup dengan sudut pandang ketaqwaan kita terhadap Allah. Insya Allah dengan itu, seberat apapun hidup akan lebih ringan dijalani.

Kamu punya luka pengasuhan? Alih-alih terus berkubang dalam luka itu, coba lihat lukamu dari atas helikopter. Ahaa, orang tuaku tidak sempurna, tapi mereka tetap melahirkanku, membesarkanku dengan baik.

Kalaupun ada caranya yang salah, memang saat itu belum ada parenting. Mereka pun hanya copy paste pola asuh sebelumnya.

Kamu punya wounded inner child? Ya nggak apa-apa, terima dan akui saja. Tapi coba lihat dengan lebih luas, memangnya orang tua kita mendholimi full selama 24 jam?

Mereka lo tetap melahirkan dengan penuh perjuangan. Mereka tidak membuang kita, tetap memberi susu, memberi makan. Artinya, masih ada banyak kebaikan dalam diri orang tua kita.

Jangan lihat dari depan, lihatlah orang tua kita dari atas helikopter! Saat itu, kita akan bisa memandang orang tua dengan lebih bijak.

Bukankah bisa jadi kekurangan ortu saat itu juga menjadi kekurangan kita saat sekarang menjadi orang tua? Dan semakin kita tidak segera sungguh-sungguh memaafkan orang tua, nantinya luka yang sama justru akan tertorehkan di hati anak kita, sadar atau tanpa sadar.

Begitu juga saat bertengkar dengan pasangan. Lihatlah pesan yang Allah sampaikan pada Quran Surat Al Baqarah: 237, yaitu “Jangan melupakan kebaikan yang ada dalam diri pasanganmu.

Quran Surat Al Baqarah: 237
Pastikan saat sedang berselisih, sedang jengkel dengan pasangan, kita jangan hanya fokus pada masalah atau kejengkelan hari ini. Fokus dan ingat-ingatlah pula kebaikan-kebaikan yang dimiliki pasangan. Cara pandang helicopter view ini akan mampu meredakan amarah.
Memvalidasi kesedihan itu perlu. Sedih, marah, kecewa, jengkel, khawatir itu nggak apa-apa. Semua perasaan itu bukanlah aib. Namun kita perlu kontrol diri.

Setelah memvalidasi semua perasaan yang muncul, segera lihat dan ingat-ingat apa saja kebaikan yang telah Allah SWT berikan pada kita. Mungkin kita diberikan ujian dari sisi orang tua, tapi Allah berikan rizki berupa anak dan suami yang sehat dan selalu mendukung kita dengan senyumannya.

Mungkin kita diberikan suami yang cuek, tapi Allah berikan anak-anak yang lucu dan menajdi qurrota’ayun dalam hidup kita. Mungkin Allah tak berikan rizki berupa anak biologis, tetapi Allah hadirkan banyak anak-anak ideologis yang selalu meramaikan hidup kita dengan celotehan mereka.
Hidup kita terlampau berharga untuk diakhiri dengan paksa. Saat hati terasa sempit, cobalah melihat dengan sudut pandang yang lebih luas. Aktivasi pikiran kita agar dada kita tidak terus terbebani, dan kita bisa segera tenang.
Pikiran kita adalah modal. Maka tempatkan dengan pandangan yang luas agar bisa melihat banyak kemudahan dan keindahan dalam hidup. Belajarlah dari kisah Nabi Ayyub dan Abu Qilabah.

Kenapa melihat matahari terbit dari tempat yang tinggi itu lebih indah? Karena fokus pandangan kita jadi lebih luas, kita bisa melihat keindahan matahari secara paripurna.

Begitu juga cara pandang kita saat melihat sebuah masalah. Coba lihat dari tempat yang lebih tinggi, dan temukan hikmah di baliknya. That’s what we call as art of life, karena hidup harus dinikmati agar bisa mendapatkan ridho Allah.
Jangan melihat hidup kita hanya dari sepenggal episode yang pahit, bukankah ada pula episode-episode yang indah di dalamnya?

2. Berprasangka yang Baik

Allah menciptakan manusia dengan mapping tertentu. Dengan menyadari bahwa sebagian hidup kita berada dalam pikiran, maka berhati-hatilah saat berpikir.

Jadikan pikiran menjadi kekuatan, bukan racun bagi hidup kita. Apa yang kita takutkan justru itu yang biasanya akan terjadi pada hidup kita.

Kalau kita optimis, ya itu yang akan Allah datangkan. Ingatlah Allah sesuai dengan prasangka hambaNya.

Yang membuat kita berprasangka buruk itu syahwat dan syetan. Sementara kekuatan orang beriman terletak pada prasangkanya yang baik. Kelak akan datang takdir sesuai yang kita pikirkan, tetapi memang dibutuhkan kesabaran.

Allah sesuai prasangka hambaNya
Pikiran kita itu layaknya algoritma medsos. Kalau kita seringnya berpkir negatif, ya itu yang akan terjadi dalam hidup kita. Namun kalau pikiran kita positif, insya Allah itu pula yang akan Allah takdirkan terjadi.
Pikiran mampu mempengaruhi cara kita bersikap dan mengambil keputusan, yang kemudian akan berkembang menjadi karakter kita. Wujudkanlah pikiran positif kita dalam doa, wujudkan pula dalam keyakinan.
Selalu menjadi yang utama dalam konsep memecahkan beban, adalah dengan berprasangka baik dengan Allah. Insya Allah semua akan kembali baik dengan melakukan ikhtiar menjemput solusi.

Kita hanya perlu menitipkan harapan pada Allah SWT, melalui doa-doa baik, tidak hilang keyakinan, dan senantiasa berprasangka baik pada Allah.

Masya Allah, baru dua dari lima cara merilis emosi ala Ustaz Abu Bassam Oemar Mita, tapi udah sepanjang ini. Jadi makin penasaran dengan nomor 3-5nya nih, memang harus beli bukunya nih.

Tanya Jawab Journey to Healing bersama Ustaz Oemar Mita

Bukan hanya materi kajiannya yang menarik dan insightful. Pada saat sesi tanya jawab pun, masya Allah, banyak sekali ilmu yang dibagikan oleh Ustaz Oemar Mita, antara lain:

1. Menghadapi Suami yang Poligami Diam-diam

Ada seorang peserta yang merasa tersakiti karena saat LDR, suaminya menikah siri dengan perempuan lain secara diam-diam, dan kemudian sikapnya berubah menjadi kasar. Sang istri ini pun merasa depresi, dia berencana khulu’ dan menceritakan pada keluarga. Apakah ketika menceritakan masalah kepada keluarga artinya si istri tidak sabar?

Ustaz Oemar Mita memberikan jawaban yang sangat adem. Bercerita pada keluarga, atau psikolog bukanlah bentuk ketidaksabaran. Karena hal itu bertujuan untuk merilis emosi dan mencari solusi.
Ustaz Oemar Mita juga memberikan nasihat bahwasanya jangan sampai kita jatuh cinta pada makhluk terlalu berlebihan. Jika kita jatuh cinta pada makhluk terlalu berlebihan, justru makhluk tersebutlah yang kelak akan menjadi ujian bagi kita.
Tidak semua pernikahan dilandasi cinta. Apakah itu hubungan pernikahan yang seperti itu tragis? Tidak juga. Karena ujung terindah dari sebuah hubungan suami istri adalah mengharapkan ridho Allah SWT.

Namun tentunya untuk mencapai titik ini tidak mudah, dan butuh perjuangan, butuh kesabaran dan belajar terus menurus.

2. Tips Menjadi Versi Terbaik Diri Sendiri

Seorang peserta dari kalangan Gen Z menanyakan bagaimana cara menjadi versi terbaik diri sendiri. Ustaz Oemar Mita menjawab dengan tegas, “bangunlah support system-mu sendiri!

Selain Allah SWT, support system terbaik adalah kesadaran diri. Misal nih, kita gampang galau karena lagu-lagu sedih, ya udah stop dengerin lagu-lagu galau, ganti dengan murottal. Atau misal kita gampang mager dan rebahan kalau lihat kasur empuk, buang kasurnya, ganti jadi karpet atau tikar aja.

3. Membantu Orang yang Kita Tidak Nyaman Membantunya

Ada kalanya dalam hidup kita bertemu dengan orang-orang yang toxic. Orang-orang yang datang dan pergi sesuka hati. Saat butuh bantuan datang, saat lagi enak lupa sama kita.

Seorang penanya menyampaikan kegelisahannya, bahwa ia memiliki saudara berkarakter demikian. Ia sebenarnya tidak nyaman membantu saudaranya ini, tetapi selalu ingat pesan ibunya untuk tetap berbuat baik dengan sesama saudara, akhirnya dengan terpaksa ia membantu.

Uhuk, mendengar pertanyaan ini kok aku seperti berkaca pada diri sendiri. Alhamdulillah, jawaban Ustaz Oemar Mita sangat melegakan. Beliau memberikan dua opsi;
  • Kalau memang kekuatan hati kita belum sampai untuk membantu, masih ada rasa nggak ikhlas, malah bikin kita jadi nggrundheli orang itu, ya udah nggak usah membantu.
  • Namun kalau kok kita sudah bisa menyetting mindset pada posisi, “Aku melakukannya hanya untuk mencari ridho Allah, walaupun ini tidak nyaman,” sebagaimana termaktub dalam Quran Surat Al Baqarah: 207, hal ini jauh lebih baik.
Al Baqarah: 207

4. Apa yang Harus Dilakukan Saat Kondisi Relapse?

Pertanyaan ini disampaikan oleh seorang peserta yang memiliki diagnosa bipolar dan NPD. Saat ini, ia merasa sudah sangat baik-baik saja. Tetapi ada kalanya ia tiba-tiba menangis, atau kalau dalam istilah kejiwaan, disebut dengan kondisi relapse.

Ustaz Oemar Mita menyampaikan bahwasanya obat hanya sarana yang membantu, tetapi kontrol pikiran adalah kunci utama. Tiba-tiba menangis karena teringat suatu hal yang sedih dan menyakitkan itu nggak masalah kok, manusiawi.
Terima saja perasaan yang hadir, dan kita validasi. Namun pastikan untuk tetap kontrol pikiran dan tahu kapan harus berhenti agar tidak berkepanjangan/ berlebihan. Lakukan olah nafas, dan ambil wudhu.

5. Mengatasi Trauma

Benar-benar melupakan luka dan rasa sakit itu sesungguhnya tidak bisa. Kita pasti punya memori yang ada dalam pikiran kita.
Tugas kita bukan melupakan, tapi mengelola agar tidak menimbulkan trauma dalam hidup kita. Agar tidak menjadi kesedihan yang berkepanjangan, prioritaskan untuk menaruh memori kebaikan di laci paling atas hidup kita, misalkan target-target hidup kita.
Fokus untuk mengupayakan target-target ini, sehingga trauma yang kita taruh di laci paling bawah tidak akan muncul dengan sering. Kalaupun muncul, kita bisa mengatasinya dengan olah nafas dan olah pikiran.
Sibukkan pada perkara-perkara yang lebih baik. Jangan kasih kendor dengan banyak melamun. Gunakan waktu kosong untuk melakukan kegiatan yang positif, agar energi kita tersalurkan dengan baik, dan tidak hanya fokus meratapi trauma yang kita alami.

6. Kekhawatiran akan Rizki

Seorang bapak-bapak bertanya, bagaimana agar kekhawatiran terhadap rizki bisa diatasi. Ustaz Oemar Mita kembali memberikan jawaban yang menenangkan.

Tidak ada perintah Allah SWT untuk menghapus rasa khawatir dalam diri manusia. Rasulullah SAW aja juga bersedih, bahkan ada yang dinamakan tahun kesedihan.

Yang bisa dilakukan oleh manusia adalah memanage rasa khawatir dan takut. Khawatir itu fitrah, tapi kalau berlebihan itu sudah keluar dari fitrah.

Lalu bagaimana cara mengelola kekhawatiran tersebut?
Pertama, flashback pada jalan hidup kita. Pernah nggak selama ini kita ditinggalkan Allah SWT? Kalau sampai detik ini, kita masih duduk di sini, itu artinya Allah SWT selalu berada di sisi kita. Allah mungkin tidak selalu mengabulkan apa yang kita inginkan, tapi ingatlah Allah SWT selalu memberi sesuai kebutuhan kita.

Kesimpulan

Alhamdulillah, akhirnya selesai sudah menuliskan catatan insights yang aku dapatkan dari kajian Journey to Healing bersama Ustaz Abu Bassam Oemar Mita. Izinkan aku untuk merangkum kalimat penutup yang disampaikan beliau pada kajian part 2:
  • Tidak ada satu penyakitpun yang menimpa kita yang tidak ada obatnya. Semua kembali pada diri kita. Maukah kita mengobatinya? Maukah kita sembuh?
  • Jangan sekadar menjalani hidup, kita bukan hewan, harus tahu cara mengilmui kehidupan yang kita jalani. Manusia tidak didesain untuk menanggung beban seumur hidup.
  • Bukan cuma kita yang diuji Allah dengan takdir yang tidak sesuai harapan. Merasa hidup kita paling tragis itu buatan setan, agar kita berputus asa dalam hidup.
  • Yang meracuni kita itu pikiran kita sendiri, yang ditumpangi oleh setan, akhirnya kita seringkali mengambil kesimpulan yang sifatnya prematur, dan terburu-buru.
  • Sejatinya yang bisa mengobati mental kita, ya diri kita sendiri. Tentu saja atas izin Allah SWT.
Hidup bukan sekedar berlari, tapi kita perlu tahu cara yang tepat untuk merilis emosi. Itulah kunci perjalanan menuju sehat mental yang sejati.
Semoga catatan tentang cara merilis emosi dan berdamai dengan diri ala Ustaz Oemar Mita ini bermanfaat. Sampai jumpa di catatan-catatan belajar berikutnya, pals.***

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com