header marita’s palace

Journey to Healing: Recovering From Anxiety & Insecurity

journey to healing by Ustaz Oemar Mita
Kehidupan tidak selamanya indah. Ada tantangan yang harus dihadapi. Pelakon kehidupan harus sadar bahwa kehidupan adalah milik Allah SWT, yang seringkali hadir dengan kondisi berbelok-belok, ada pula yang mulus, ada yang rusak dan tak jarang mengguncangkan diri kita.
Kalimat pembuka yang disampaikan oleh Ustaz Abu Bassam Oemar Mita dalam kajian Journey to Healing: Recovering from Anxiety & Insecurity part 1 tersebut memberikan tamparan halus buatku yang masih sering mecucu menghadapi serangkaian takdir yang kadang tak sesuai harapan.
Kehidupan tidak hanya dijalani, tapi harus diilmui.
Itu adalah insight utama yang kudapatkan sepanjang menyimak kajian Ustaz Oemar Mita, baik yang part 1 ataupun part 2. Aku sendiri sebenarnya terdaftar sebagai peserta untuk kajian Journey to Healing: Recovering from Anxiety & Insecurity Part 2 yang diadakan oleh Akademi Muslim Indonesia.

Namun penyelenggara kemudian menginformasikan kalau peserta ingin menyimak kajian yang pertama, dipersilakan menghubungi admin. Karena kupikir akan berkesinambungan, cuzz lah aku menghubungi admin Akademi Muslim Indonesia dan menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan.

Alhamdulillah, setelah menyimak kajian part 1, nyambung mengikuti Zoominar part 2, insya Allah pemahaman yang kudapatkan menjadi lebih utuh. Nah kali ini aku akan membagikan apa yang kudapat melalui kajian tersebut buat temen-temen kongkow. Mau nggak niiih?

Insights from Kajian Journey to Healing Ustaz Oemar Mita

Kita bukan ikan, yang sekadar hidup. Kita bukan cicak yang ada di dinding, yang merayap ke mana-mana, yang hanya menjalani kehidupan sambil menunggu kematian.

Kita bukan nyamuk, yang mana setelah mendapat sesuatu, cari darah, setelah mengisap darah ya mati.

Manusia itu harus mengilmui kehidupan, agar ketika berbenturan dengan hal-hal yang tak kita sukai, masa-masa yang pahit, kita harus tahu dosis obatnya. Agar perkara itu tidak merusak kita.

insights kajian journey to healing ustaz oemar mita

1. Awali dengan Pertobatan

Masalah atau tantangan yang hadir dalam hidup, bisa jadi kita menyebutnya sebagai beban. Seringkali beban itu terasa sangat beraaaat. Sadarkah saat kehidupan terasa berat, bisa jadi saat itu kita sedang merasa sendirian. Namun apakah kita benar-benar sendirian? Bukankah Allah SWT senantiasa ada dalam setiap hela nafas kita?

Astaghfirullah'aziim...
Semoga kita tidak pernah kehilangan rasa bahwa Allah SWT selalu membersamai kita.
Banyaknya dosa dan maksiat bisa membuat kita kehilangan rasa tersebut. Hati yang sering merasa ujub, lisan yang banyak menyakiti, juga prasangka yang selalu negatif, adalah hal-hal yang membuat kita tak lagi peka dan sadar akan keberadaan-Nya.

Sedangkan, sejatinya sumber ketenangan akan diperoleh ketika kita sudah melakukan hal-hal yang diridhoi oleh Allah. Untuk itu, agar bisa mengilmui hidup, kita perlu senantiasa merasa dibersamai Allah. Itu adalah kekuatan terbesar untuk sembuh dari segala macam bentuk luka.

Analoginya, kita lagi ada di ruangan dengan orang yang tidak kita suka. Pasti kita tidak nyaman kan? Ketika akhirnya sudah saling membuka hati, memaafkan, kita baru akan kembali merasa nyaman. Betul?

Kenapa hidup kita sering merasa tidak nyaman? Jika kita mau jujur mengakui, ketidaknyamanan itu disebabkan oleh dosa dan maksiat kita, yang bisa jadi dilakukan secara sengaja ataupun tidak.
Maka sederhananya, kalau kita pengen hidup nyaman, ya cuzz lah, secara tulus minta maaf kepada Allah SWT. Lakukan hal-hal yang diridhoi Allah SWT.
Merasa nggak bisa tidur? Sering overthinking? Artinya, itu panggilan bagi kita untuk memperbanyak istighfar.

Tidak nyamannya kita pada kehidupan, sejatinya karena banyak kelalaian yang kita kerjakan. Kalau ada yang bilang mental health tidak ada hubungannya dengan keimanan dan ketaqwaan seseorang, Ustaz Oemar Mita menolaknya mentah-mentah. Karena bagi beliau, mental health tetap ada irisannya dengan interaksi kita pada kehidupan di hadapan Allah.

2. Perbaiki Cara Bersyukur Kita

Konsep bersyukur kebanyakan manusia saat ini seringkali lebih banyak dilihat dari kaca mata materialisme atau finansial. Padahal, kalau kita hanya fokus pada materialisme, justru akan banyak terjadi kecelakaan dan kesempitan..

Di sinilah pentingnya kita untuk memperbaiki cara bersyukur kita. Bersyukurlah atas segala hal yang Allah berikan. Tidak sekadar melihat dari segi finansial.

Lihatlah lebih peka, bahwasanya banyak hal kecil namun penting seringkali luput kita syukuri. Sesederhana, hari ini masih dibangunkan Allah dalam kondisi sehat wal’afiat.

Ustaz Oemar Mita juga menyampaikan untuk tidak terlalu sering melihat orang lain, dan membandingkan diri dengan orang lain.
Bukan bahagia lalu kita bersyukur, tapi justru bersyukurlah yang membuat kita bahagia.
Yakin deh, hidup kita itu takarannya sudah yang paling pas. Maka, tidak ada sikap terbaik selain bersyukur.
Bersyukur atas apa saja yang ada dalam hidup kita, baik buruknya, manis pahitnya. Kesyukuran tersebut yang akan membahagiakan, melapangkan, dan memudahkan.

3. Pentingnya Kepiawaian Mengelola Beban

Kehidupan tidak sekadar dijalani dan dilewati. Tapi perlu diilmu. Kehidupan itu tidak lurus-lurus saja, kadang naik turun, berkelok-kelok, dan tidak selamanya sesuai harapan.

Kalau kita hanya menjalani hidup sekadar dijalani, tidak ada bedanya kita dengan ikan ataupun kucing. Dengan mengilmui kehidupan, kita bisa memahami takdir yang kita jalani. Salah satu yang dibutuhkan dalam mengilmui kehidupan adalah kepiawaian kita dalam mengelola beban. 
Kenapa kita bisa kena mental issue? Sejatinya karena ketidakpiawaian kita dalam mengelola beban. Alhasil hidup jadi berantakan dan celaka.
Analoginya, kita punya sampah di depan rumah. Lama-lama menumpuk kalau kita nggak tahu cara mengelolanya. Akhirnya sampah itu akan mengganggu lingkungan sekitar.

Begitu juga dengan masalah dalam hidup. Kalau kita tak pandai mengelolanya, ya lama-lama masalah itu akan menggerogoti diri kita. Bahkan tak sedikit yang kemudian berakhir dengan suicide. Naudzubillahi min dzalik.
Manusia tidak didesain Allah SWT untuk bisa menahan beban seumur hidup.
Sederhananya deh, manusia tidak bisa menahan kencing dalam waktu lama. Kalau kita tidak mengeluarkan kencing pada waktunya, bisa merusak ginjal, liver, dsb. Jadi saat kencing harus dikeluarkan, keluarkanlah, biar nggak jadi penyakit.

Begitu juga dengan perkara hati - entah itu karena luka pengasuhan, trauma dengan hubungan romansa, kekecewaan yang mendalam karena ekspektasi yang terlalu tinggi, kekhawatiran berlebihan terhadap masa depan - jika tidak dirilis dengan tepat, semua perkara itu akan merusak hidup kita secara perlahan-lahan!

Semua perkara ataupun beban itu, harus dihadapi dengan dikelola. Karena jika kita terus-menerus menghindarinya, sejatinya perkara itu akan kembali datang untuk minta diselesaikan.
Hidup itu bukan tentang menghindari beban, tapi bagaimana mengelola beban dengan tepat.
Beban-beban itu perlu dirilis agar tidak meracuni dan menempel dalam diri kita setiap waktu. Karena nih, kalau semua beban itu dibiarkan terus-menerus, alhasil ini yang akan kita hadapi:

dampak dari kegagalan mengelola beban

A. Merasa Hidup Paling Tragis

Kalau kita terus terkungkung dengan amarah pada makhluk, luka di masa lalu, kekhawatiran, kecemasan yang berlebihan, alhasil kita akan terus memiliki hidup yang paling menyedihkan.

Kenapa aku, kenapa begini, kenapa begitu.

Menggali akar permasalahan untuk mencari jalan kesembuhan itu baik, tapi jika terus mempertanyakan takdir untuk kemudian lari dari beban, tidak akan membuat kita menemukan ketenangan.

Seberapa pantas sih kita merasa punya hidup paling tragis? Tak ingatkah kisah Nabi Ayyub? Beliau sakit tujuh puluh tahun, anak-anaknya meninggal, hartanya ludes, istrinya pun sempat meninggalkannya. Lebih tragiskah hidup kita dibandingkan beliau?

B. Playing Victim

Memiliki mental sebagai korban hanya akan membuat kita berhenti bertumbuh. Berkacalah dari kehidupan Nabi Yusuf.

Kalau ada yang pantas bermental korban, maka itu harusnya beliau. Bayangkan, Nabi Yusuf sejak kecil dibenci 10 saudaranya, kemudian dibuang dan menjadi budak.

Ketika beranjak dewasa, beliau digoda perempuan, difitnah, dan kemudian dipenjara. Namun Nabi Yusuf tidak terus terpuruk dan menjadikan semua bebannya sebagai penghalang, alhasil beliau bukan hanya sukses menjadi Perdana Menteri, tetapi juga diangkat sebagai Rasul Allah.

Karena Nabi Yusuf nggak pernah menempatkan diri menjadi korban, Nabi Yusuf bisa keluar dari lingkaran hidupnya, dan bersikap optimis. Playing victim hanya akan membuat kita terus terpuruk, dan lama kelamaan diri kita terkubur semakin dalam.

C. Cuek dan Apatis

Kalaupun tidak merasa paling tragis dan bermental korban, ketidakpiawaian kita dalam mengelola beban akan berujung pada sikap cuek dan apatis. Hal ketiga ini pun tidak jauh lebih baik.

Yang ada, sikap cuek dan apatis ini nantinya bisa meledak bagaikan bom waktu. Efek dari ledakan itu bisa jadi sangat berbahaya dan mematikan.

Lantas bagaimana agar kita bisa piawai mengelola beban, sehingga tidak terjerumus pada tiga kondisi di atas? Ustaz Oemar Mita mengajak untuk belajar dari perusahaan mobil.

Perusahaan mobil dalam menciptakan inovasi keselamatan diri untuk produknya, terus melakukan percobaan dan menganalisa. Proses yang dijalani tersebut akhirnya bisa melahirkan sistem keamanan untuk meminimalisir benturan.

Nah, kita nggak boleh kalah sama perusahaan mobil. Kita juga perlu membangun safety system dalam diri kita. Caranya yaitu mencari tahu ways to release the emotions.
Beban yang terlalu lama dipikul, kian lama akan membuat kita bergetar, dan lama-lama kita jadi pingsan. Manusia disetting untuk bisa membawa beban, tapi harus tahu ilmunya, agar beban itu bisa dirilis sehingga lebih ringan. Agar ketika ujian lain datang, ujian sebelumnya sudah terselesaikan.

 

Kesimpulan

Fyi, ini barulah sebagian dari apa yang bisa kubagikan dari kajian Journey to Healing bersama Ustaz Abu Bassam Oemar Mita. Insya Allah lanjutannya akan aku bagikan pada artikel setelah ini ya.

Intinya nih, di part pertama ini, kita perlu tahu saat alarm tubuh dan jiwa kita udah bunyi, be aware!

Ketika kita sadar ada beban/ tantangan/ ujian dalam hidup, segera cari tahu ilmu untuk merilisnya. Jangan sampai beban itu dibiarkan berlarut-larut. Karena Allah SWT menyetting kita untuk menanggung beban hanya di awal, lama-kelamaan jiwa raga kita tidak akan kuat.
Maka belajarlah untuk merilis beban. 
Caranya gimana? Nantikan di artikel “2 Cara Merilis Emosi ala Ustaz Oemar Mita”.***

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com