Tepat di hari kelima IIDN Ramadan Challenge, izinkan aku menuliskan kembali potongan-potongan cerita Ramadan yang sampai hari ini masih hangat di ingatan.
5 Potongan Cerita Ramadan Semasa Kecil yang Super Ngangenin
Ini lima cerita Ramadan semasa kecil yang sering bikin kangen sampai sekarang;
1. Panggilan Sahur Khas yang Menghidupkan Malam
Dulu, Ramadan terasa begitu hidup sejak dini hari. Sekitar pukul dua atau tiga pagi, terdengar suara kentongan dipukul bertalu-talu. Anak-anak dan remaja kampung berkeliling sambil berteriak, “Sahuuur… sahuuur!”Kadang mereka membawa bedug kecil, kadang hanya kaleng bekas yang dipukul ramai-ramai. Suaranya mungkin tidak beraturan, bahkan cenderung berisik. Tapi justru di situlah letak meriahnya. Tidak ada yang kesal. Semua seperti sepakat bahwa Ramadan memang harus seramai itu.
Meski tidak setiap hari mereka keliling. Biasanya paling ramai saat akhir pekan. Hari biasa? Cukup dari masjid saja. Tapi jangan salah, panggilan sahur zaman dulu itu kencang sekali. Masjidnya beda satu gang dari rumahku, tapi suaranya tetap terdengar jelas. Ada gema khas yang sulit dijelaskan. Seperti suara yang bukan hanya memanggil tubuh untuk bangun, tapi juga membangunkan suasana hati.
Suara itu bukan sekadar pengingat waktu makan. Itu adalah alarm kebersamaan.
Namun, dari semua suara sahur, ada satu yang paling kurindukan: suara ibu.
Ibu selalu membangunkanku dengan nada lembut tapi tegas dan khas. “Rit... sahur... sahur... " Dan nakalnya aku, sering pura-pura tidak dengar. Bukan karena malas, tapi karena ingin ibu memanggil lagi. Ingin mendengar suaranya sekali lagi. Ingin memperpanjang momen kecil itu.
Sekarang, suara itu benar-benar tak bisa kudengar lagi.
Dan anehnya, justru di situlah aku sadar, yang dulu terasa biasa, ternyata adalah kenangan paling berharga. Setiap Ramadan datang, aku seperti kembali menjadi anak kecil yang menunggu dipanggil sahur oleh ibu. Dengan suara yang hangat. Dengan cinta yang sederhana.
Meski tidak setiap hari mereka keliling. Biasanya paling ramai saat akhir pekan. Hari biasa? Cukup dari masjid saja. Tapi jangan salah, panggilan sahur zaman dulu itu kencang sekali. Masjidnya beda satu gang dari rumahku, tapi suaranya tetap terdengar jelas. Ada gema khas yang sulit dijelaskan. Seperti suara yang bukan hanya memanggil tubuh untuk bangun, tapi juga membangunkan suasana hati.
Suara itu bukan sekadar pengingat waktu makan. Itu adalah alarm kebersamaan.
Namun, dari semua suara sahur, ada satu yang paling kurindukan: suara ibu.
Ibu selalu membangunkanku dengan nada lembut tapi tegas dan khas. “Rit... sahur... sahur... " Dan nakalnya aku, sering pura-pura tidak dengar. Bukan karena malas, tapi karena ingin ibu memanggil lagi. Ingin mendengar suaranya sekali lagi. Ingin memperpanjang momen kecil itu.
Sekarang, suara itu benar-benar tak bisa kudengar lagi.
Dan anehnya, justru di situlah aku sadar, yang dulu terasa biasa, ternyata adalah kenangan paling berharga. Setiap Ramadan datang, aku seperti kembali menjadi anak kecil yang menunggu dipanggil sahur oleh ibu. Dengan suara yang hangat. Dengan cinta yang sederhana.
2. Pesantren Kilat: Sekolah yang Rasanya Seperti Liburan
Kalau Ramadan datang, ada satu agenda yang paling ditunggu: pesantren kilat.Bukan karena ingin terlihat alim. Tapi karena itu berarti bisa kumpul bareng teman-teman se-RW dari ba'da Ashar sampai Maghrib tiba, biasanya lanjut sampai Tarawih. Kami duduk berderet di lantai masjid, membawa buku kecil, kadang sambil berbisik-bisik menahan tawa.
Ada sesi mengaji, hafalan surat pendek, lomba azan, sampai kuis berhadiah buku tulis. Kadang ustaznya tegas, kadang juga suka bercanda. Rasanya seperti sekolah versi Ramadan; lebih santai, lebih akrab, lebih menyenangkan.
Yang paling berkesan justru kebersamaannya. Kami belajar agama bukan dengan tekanan, tapi dengan rasa senang. Tanpa sadar, nilai-nilai itu masuk pelan-pelan.
Pesantren kilat mengajarkanku bahwa belajar tentang iman bisa dilakukan dengan cara yang hangat dan penuh tawa.
3. Tarawih Sambil Nglirik Gebetan (Uhuk!)
Baiklah, bagian ini mungkin agak memalukan, wkwk.Memasuki usia remaja, tarawih bukan hanya tentang pahala. Masjid mendadak jadi tempat yang… menarik. Ada yang pakai baju koko baru, ada yang mukenanya paling cantik. Dan ada satu sosok yang entah kenapa selalu terlihat lebih bersinar saat Ramadan.
Aku ingat momen berdiri dalam saf, berusaha khusyuk, tapi sesekali mata “nakal” melirik ke barisan sebelah. Astaghfirullah, ya.. jangan ditiru, adek-adek.
Namun justru di situlah indahnya fase bertumbuh. Ramadan menjadi saksi masa-masa lugu, canggung, dan penuh rasa ingin tahu. Setelah tarawih, kami duduk di teras masjid lebih lama dari biasanya, pura-pura menunggu teman, padahal sebenarnya berharap bisa saling sapa.
Sekarang kalau mengingatnya, rasanya ingin tertawa sendiri. Tapi aku bersyukur pernah melewati fase itu. Karena dari sana, aku belajar bahwa cinta pertama pun pernah bersemi di antara lantunan ayat suci.
4. Suara Mengaji Eyang Setelah Sahur
Jika ada satu suara yang paling melekat dalam Ramadan masa lalu, selain suara ibu, itu adalah suara Eyang Kakung mengaji setelah sahur.Setiap selesai makan, ketika rumah masih sunyi dan langit belum sepenuhnya terang, beliau duduk dengan Al-Qur’an di tangannya. Suaranya merdu. Tenang. Mengalun tanpa terburu-buru.
Aku sering pura-pura sibuk, tapi sebenarnya diam-diam mendengarkan.
Ada rasa damai yang memenuhi rumah setiap kali beliau membaca ayat-ayat suci. Mungkin saat itu aku belum sepenuhnya paham maknanya. Tapi aku tahu, itu adalah kebiasaan baik yang ingin kutiru.
Sampai sekarang, setiap habis sahur, aku tergerak untuk ikut mengaji. Rasanya seperti meneruskan jejak beliau. Seperti menjaga agar suara merdu itu tetap hidup—meski kini hanya bergema dalam ingatan.
5. Salat Subuh Jamaah Bersama Eyang Kakung
Bagian ini bukan lagi cerita masa kecil. Aku sudah mahasiswa saat itu.Aku tidak punya banyak kenangan salat jamaah bersama bapak. Maka ketika ada kesempatan tinggal bersama Eyang Kakung di masa kuliah, momen salat berjamaah dengannya terasa begitu berharga.
Setiap azan Subuh berkumandang, beliau segera menutup mushaf, lalu berjalan pelan masuk ke kamar, menggelar sajadah. Aku mengikutinya. Saf di belakang Eyang Kakung diisi oleh Eyang Putri, aku dan terkadang bulikku. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan.
Seolah-olah, lewat momen itu, aku sedang mengisi ruang kosong dalam hatiku.
Salat berjamaah bersama Eyang bukan sekadar ritual. Itu tentang kehadiran. Tentang sosok lelaki tua yang tegak menjaga ibadahnya, meski usia tak lagi muda. Dari beliau, aku belajar bahwa konsistensi lebih penting daripada sekadar semangat sesaat.
Dan setiap Ramadan tiba, kenangan itu selalu datang lagi. Lembut, tapi dalam.
Ramadan memang selalu bergerak maju. Kita tumbuh. Orang-orang yang dulu menemani mungkin sudah tidak lagi bersama. Tradisi berubah. Suasana tak lagi sama. Tapi kenangan-kenangan itu tetap tinggal.
Suara kentongan sahur. Tawa pesantren kilat. Degup jantung saat tarawih. Lantunan ayat selepas sahur. Jamaah Subuh bersama yang hangat. Dan suara ibu yang membangunkan dengan penuh cinta. Semua membentuk siapa diriku hari ini.
Dan mungkin, tanpa sadar, sekarang aku sedang menciptakan kenangan Ramadan baru, untuk anak-anakku kelak. Supaya suatu hari nanti, mereka juga punya cerita yang akan selalu pulang setiap kali bulan suci datang.
Karena pada akhirnya, Ramadan bukan hanya tentang sebulan ibadah. Ia adalah tentang jejak-jejak kecil yang menumbuhkan hati, dari masa kecil hingga dewasa.***





Post a Comment
Salam,
maritaningtyas.com