header marita’s palace

5 Tips Tetap Produktif Selama Ramadan ala Emak yang Ikut 4 Tantangan Menulis

tips tetap produktif selama ramadan

Ramadan tahun ini rasanya seperti naik wahana yang muter-muter tapi tetap harus senyum.

Bayangkan ya. Di waktu yang bersamaan, aku mengikuti empat tantangan menulis sekaligus. Deadline jalan terus. Ide harus tetap hidup. Di sisi lain, aku tetap bekerja sebagai tim media sekolah dengan ritme yang nggak bisa ditawar. Lalu pulang ke rumah, kembali ke peran paling nyata: jadi ibu dan istri sebagaimana perempuan pada umumnya (minus masak sih, wkwk).

Kalau dipikir-pikir, kelihatannya berat banget. Tapi setelah dijalani? Ternyata bisa kok. 

Penasaran gimana caranya agar tetap produktif selama Ramadan? 

Tips Tetap Produktif Selama Ramadan ala Maritaningtyas.com

Bukan karena aku superwoman. Tapi karena ada beberapa hal yang benar-benar kujaga supaya tetap waras dan produktif selama Ramadan. Ini dia versi jujurnya.

1. Selalu Minta Pertolongan Allah

Ini bukan klise. Ini kebutuhan. Karena kalau cuma mengandalkan tenaga sendiri? Rasanya beraaaat banget.

Manusia biasa ini badannya satu, tapi pengennya banyak. Pengen ibadah maksimal. Pengen tulisan selesai tepat waktu. Pengen kerjaan beres. Pengen rumah rapi. Pengen anak-anak happy. Pengen suami nyaman. Pengen semuanya sempurna.

Dan ketika ada satu hal kecil yang nggak sesuai rencana… ya bisa tersulut juga.

Contoh nyata: pagi tadi.

Anak cowokku cuma laporan kalau rautan pensilnya rusak dan dia mau beli pagi itu juga. Padahal toko masih tutup. Harusnya kan bisa kutanggapi biasa aja. Tapi karena dia agak ngotot, aku malah marah.

Ya Allah, puasa kok masih marah gimana sih bu… wkwk.

Untungnya berakhir manis. Kami ngobrol lagi, saling peluk, selesai. Tapi dari situ aku sadar lagi: tanpa pertolongan Allah, emosi bisa naik kapan saja.

Biasanya kalau lagi embuh rasanya, aku buka TLQ Jar. Dan seringnya, ayat yang muncul seperti pesan cinta langsung dari Allah. Pas banget dengan kondisi hati saat itu. Itu benar-benar mood booster.

Produktif selama Ramadan bukan soal kuat secara fisik saja. Tapi soal menjaga hati tetap terhubung. Karena kalau hati stabil, kerjaan pun terasa lebih ringan.

2. Bikin Jadwal Harian yang Realistis dan Fleksibel

Kuncinya satu: punya “kandang waktu”.

Aku nggak bikin jadwal yang kaku banget, tapi tetap ada pembagian yang jelas:

  • Kandang waktu spiritual: mengaji, salat sunnah, ikut kajian. 
  • Kandang waktu menulis: biasanya sebelum sahur (ini favorit!), atau sejam sebelum kerja mulai di kantor, atau menjelang berbuka—lihat situasi aja sih.
  • Kandang waktu urusan domestik: cuci baju di hari Rabu dan Sabtu, setrika di hari Ahad. Kalau bersih-bersih rumah, biasanya aku bagi tugas sama anak-anak. Cuci piring? Setiap anggota keluarga cuci sendiri. Titik. 

Urusan masak? Sudah diserahkan pada ahlinya, alias ibu tetangga yang siap sedia menyediakan katering rumahan. Kalau untuk makanan sederhana, ada suami yang selalu siap sedia goreng telur, tahu atau tempe. 

Btw, selama Ramadan aku tetap masuk dapur sih. Beda kalau di luar bulan suci ini, aku malah blas nggak masuk dapur sama sekali, wkwk.

Aku masuk dapur hanya buat bikin menu berbuka di hari Ahad. Soalnya makin tua, makin malas berbuka di luar rumah. Seringnya ramai, akhirnya harus antre dan bikin urusan salat jadi sering terlambat.

Aku belajar bahwa jadwal yang realistis itu bukan yang padat, tapi yang memungkinkan kita bernapas.

Kalau hari itu ternyata energi drop, ya adjust. Kalau tiba-tiba ada tugas mendadak, ya geser. Ramadan bukan tentang memaksakan diri, tapi tentang menjaga ritme.

Yang penting, setiap hari tetap ada progres. Sedikit pun nggak apa-apa.

Aku juga belajar untuk menurunkan ekspektasi. Tidah harus melakukan semuanya sendiri. Bagi-bagi tugas dan mendelegasikan beberapa hal pada ahlinya.

cara agar tetap produktif selama ramadhan

3. Jalani Hidup Sehat (Biar Nggak Tumbang di Tengah Jalan)

Produktif itu nggak bisa dipisahkan dari kondisi tubuh. Maka inilah beberapa hal kecil yang kulakukan:

  • Kurangi gula berlebihan. Aku masih nggak bisa lepas dari nasi, juga tepung-tepungan. Jadi ya sadar diri untuk mengurangi saja.
  • Kurma secukupnya saat sahur dan buka.
  • Minum cukup.
  • Serat cukup.
  • Kopi secukupnya (ini penting, wkwk).
  • Olahraga tipis-tipis.

Olahraga tipis-tipis versiku? Jalan keliling sekolahan. Sederhana tapi bikin badan nggak kaku dan pikiran lebih segar.

Kadang kita terlalu fokus pada target, sampai lupa kalau badan ini juga amanah. Kalau tubuh tumbang, semua agenda berantakan.

Ramadan justru waktu yang bagus untuk reset pola hidup.

4. Dengarkan Hal-Hal yang Menguatkan

Saat kerja atau lagi setrika, aku sering putar murottal, nonton kajian, atau podcast inspiratif. Suara yang baik itu mempengaruhi suasana hati.

Daripada pikiran penuh dengan overthinking, lebih baik diisi dengan hal yang mengingatkan tujuan. Ramadan itu bulan perbaikan diri, bukan sekadar bulan sibuk.

Kadang satu kalimat dari kajian bisa jadi bahan refleksi seharian. Dan itu membantu banget supaya produktivitas tetap punya arah, bukan cuma sibuk tanpa makna.

5. Kurangi Aktivitas yang Nggak Perlu

Jujur aja ya, scrolling media sosial itu bisa menghabiskan waktu tanpa sadar. Jadi harus mindful banget; biar bisa stop saat sudah cukup. 

Selain scrolling, Ramadan selalu identik dengan undangan bukber yang bisa datang bertubi-tubi. Tahun ini aku membatasi diri. 

Aku cuma ikut bukber dengan dua komunitas yang insyaAllah bukan sekadar makan bareng. Ada nilai silaturahim dan bakti sosialnya. Lalu bukber dengan dawis dan teman-teman kantor.

Selebihnya? Cukup doa dari jauh 😄

Mengurangi aktivitas yang nggak perlu bukan berarti anti-sosial. Tapi menjaga energi agar tetap fokus pada prioritas.

Jadi, berat nggak? Kalau dibayangkan? Iya.

Tapi kalau dijalani dengan niat yang lurus, jadwal yang tertata, tubuh yang dijaga, dan hati yang terus minta ditolong Allah… ternyata bisa kok.

Dan yang paling penting, jangan terlalu keras pada diri sendiri.

Kalau masih marah saat puasa? Evaluasi, minta maaf, lanjut lagi. Kalau tulisan belum selesai? Atur ulang. Kalau rumah nggak selalu rapi? Ya sudah, hidup bukan konten Pinterest.

Ramadan bukan tentang menjadi sempurna. Ramadan adalah tentang terus kembali.

Dan selama kita terus kembali kepada Allah di tengah segala peran yang kita jalani, insyaAllah produktivitas bukan hanya soal capaian, tapi juga soal keberkahan.

Semoga Ramadan kita tahun ini bukan cuma penuh aktivitas, tapi juga penuh makna ya, pals!***

‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com