Memasuki hari keenam puasa, apakah sudah menemukan tantangan terberat, pals? Hmm, aku berpikir agak keras nih untuk memulai menulis tema keempat dari IIDN Ramadan Challenge.
Berbeda ketika menulis tips bugar saat puasa, terasa cepat mengalirnya. Namun tema keempat ini membuatku harus mengerutkan kening cukup lama.
Bahkan sebelum akhirnya kumainkan jari-jemariku di atas tuts keyboard laptop, aku harus menyapu rumah dan mengambili jemuran dulu demi mengumpulkan ide cemerlang, wkwk. Namun ternyata ngefek lo..
Setelah rumah terasa bersih dan rapi, otak pun jadi lancar berpikir. Dan inilah tiga tantangan terberat saat puasa yang kuhadapi. Wanna know, pals?
Tantangan Terberat Saat Puasa ala Maritaningtyas
Menurutku tantangan ini nggak ada apa-apanya ya dibandingkan mereka yang saat ini mungkin tertimpa musibah. Tiga tantangan ini terasa cemen. Namun semakin dipikir-pikir, memang inilah yang kurasakan.
1. Mengantuk
Aku nggak tahu kenapa kalau puasa tuh mudah banget mengantuk. Bahkan jam tidur sudah dipanjangkan pun, rasa-rasanya kok cepat aja ngantuknya. Porsi karbohidrat sudah dikurangi, tetap aja rasa kantuk ini mudah sekali menyerangku.
Kalau pas lagi di rumah sih bisa menuntaskan kantuknya dengan mudah ya. Mlipir bentar ke kamar, lalu tidur deh. Beda cerita kalau lagi di jalan atau di kantor.
Kalau pas nggak puasa bisa tuh mlipir bentar cari kopi. Kalau pas puasa, ya Allah rasanya nih mata butuh banget ditopang biar bisa melek terus, wkwk.
Alhasil, cara jitu untuk menghadapi tantangan terbesar pertama ini adalah dengan berwudhu!
Yup, begitu kantuk menyerang.. terutama saat tidak di rumah, langsung deh ambil wudhu. InsyaAllah dijamin segar kembali.
2. Inkonsistensi
Tantangan terbesar kedua yang harus aku akui masih menjadi PR sampai detik ini adalah inkonsistensi, atau kalau bahasa Islaminya; ketidakistiqomahan. Jujur, istiqomah memang masih jadi PR banget buatku sih.
Aku sering banget ‘panas’ di awal, tapi terus mleketre dalam perjalanannya. Misal nih, punya target untuk khatam 2 kali selama bulan Ramadan… hari-hari pertama gas poll terus.. setiap hari mungkin bisa lebih dari tiga juz. Tapi begitu masuk hari kesepuluh… letoy.
Apalagi kalau kemudian datang bulan.. makin deh magernya kambuh.
Terus gimana dong untuk mengatasinya?
So far, aku mulai membuat jadwal sendiri sih. Tidak saklek, tapi aku sudah punya area waktu untuk mengerjakan domestic stuff, writing stuff, ataupun sekadar rebahan untuk refreshing sebentar.
Contohnya, saat ini aku sedang mengikuti tiga challenge dalam waktu yang berdekatan; Nabung Karya 30 Hari yang dimulai sejak awal bulan ini, Tantangan Menulis 20 Hari Jadi Buku yang dimulai sejak tanggal 9 Februari, dan IIDN Ramadan Challenge yang dimulai tanggal 21 Februari.
Kalau nggak punya jadwal yang sistematis, aku bakal puyeng deh kayanya. Apalagi ditambah dengan target Ramadan personal yang aku miliki. Alhamdulillah, so far semua tantangan bisa kujalani dengan baik, walau jam postingnya masih menyesuaikan fleksibilitas waktu nulisnya, hehe.
Jadwal menulisku ada di sebelum sahur dan sebelum berbuka. Dua waktu itu kumanfaatkan sebaik mungkin agar tiga tantangan itu bisa ter-cover semua. Kalau ada tambahan pesanan artikel, makin ketat lagi jadwalnya. Aku mengalokasikan satu tantangan nggak lebih dari satu jam pengerjaan, biar semua bisa terpegang semua.
Puyengnya ada sih… tapi aku merasa relaxing aja. Kek bisa nulis bebas di luar kerjaan harian tuh rasanya energizing. Dan kalau aku lagi full energy begini, memang baiknya diarahkan ke ikut challenge ini dan itu, daripada energinya kebuang sia-sia untuk hal yang kontra produktif, scrolling medsos misalnya.
Nah, biasanya aku memulai agenda menulis tersebut dengan membaca Quran. Kalaupun ternyata waktunya mepet, maka aku ambil slot di akhir. Setelah tuntas tulisannya, aku tutup dengan tilawah.
Alhamdulillah dengan begini, jadi lebih mudah konsisten.
3. Mengelola Amarah
Yup… PR banget nih. Nggak puasa pun ini jadi PR, apalagi saat puasa… ketika tidur berkurang, makan dan minum berkurang. Apalagi kalau si bujang cilik lagi kumat tantrumnya, rasanyaaaaaa… begitu nikmat.
So far, yang aku lakuin sih untuk mengelola amarah terutama ketika anak-anak berperilaku tidak sesuai arahan, adalah menurunkan ekspektasi. Mindset kudu langsung di-switch… “Hei… they’re learning looo, bunda…! Take a deep breath….”
Kalau sudah berhasil nge-switch, segera turunkan nada suara. Sebagai emak-emak pemilik suara lantang… nggak marah aja bisa terdengar kaya orang marah, apalagi marah.. orang lain yang dengar bakal ngira aku lagi kesurupan kali.
At last but not least, pastinya baca istighfar dong. Udah lah.. senjata paling ampuh. Meski mungkin awalnya nada istighfarnya tujuh oktaf.. kalau diucapkan berkali-kali, lama-lama bisa turun kok, hihi.
Well, sampai sini dulu lah yang celotehku hari ini tentang tiga tantangan terbesarku saat puasa. Kalau kamu apa nih tantangannya, pals? Bagi dong ceritanya di kolom komentar!***





Post a Comment
Salam,
maritaningtyas.com