Alhamdulillah, Ramadan telah tiba. Bersyukur banget masih diberi usia untuk bertemu kembali di bulan suci ini.
Sejak tiga tahun lalu bekerja di sebuah lembaga pendidikan, mendekati Ramadan selalu full agenda tarhib. Beruntung sekali bisa ikut melihat bagaimana generasi calon pemimpin muslim di sekolah ini begitu semangat menyambut Ramadan. Ada banyak sekali rangkaian kegiatan yang mereka ikuti, tujuannya tentu saja agar mereka lebih siap menjalani hari-hari selama Ramadan.
Ngomongin soal target Ramadan, anak remajaku baru saja bercerita kalau Ramadan ini dia menargetkan khatam 5 kali. MasyaAllah… luar biasa sekali ya semangatnya.
Namun sebagai emak-emak, bibir ini tak bisa menahan untuk berkomentar. “Jangan hanya banyak-banyakan khatamnya kak, harus dimaknai dan diamalkan juga!”
Dia cuma nyengir. Ya, nggak apa-apa lah ya. Awal yang baik. Setidaknya dia sudah punya target ibadah pribadi. Kalau selama ini kan masih diarahkan terus sama emaknya.
Hari pertama karena masih libur sekolah, dia masih asyik gegoleran. Usai tuntas Salat Dhuha bersama adiknya, aku lihat juga masih santai-santai. Malah mengambil mainan yang dari bead lalu disusun di kanvas gitu.
Akhirnya gatal juga bibir emak, tanyalah kepadanya, “Kak, kapan mau mulai tilawahnya? Kalau mau khatam 5x, setidaknya satu hari tuntas 5 juz lo kak.”
“Selesaikan ini dulu, Bun.. tanggung.” Katanya santai.
Ya sudahlah, yang penting sudah diingatkan. Begitu Ashar tiba, dia tengok WhatsApp grup kelasnya, dia mulai berceloteh, “Wuih, temenku udah pada setor.. ada yang udah selesai dua juz, ada yang udah empat juz, Bun!”
Aku hanya meliriknya. Sambil terkekeh.
Tak banyak babibu, setelah tuntas Salat Ashar, dia segera memulai tilawah dengan khusyuk. Tak berhenti sampai Azan Maghrib berkumandang. “Aku sudah selesai 3.5 juz, Bun. Nanti lanjut lagi habis tarawih.”
MasyaAllah, anak Gen Alfa memang beda ya. Awalnya santai-santai, tapi begitu ada pantikan dikit, langsung wuzz.
Hari kedua juga tidak berbeda. Tapi kali ini dia mulai tilawah lebih awal. Mungkin sudah merasakan kalau mulai dari Ashar, terasa kepontal-pontal. Ba’da Dhuhur sudah mulai tilawah, berhenti hanya untuk Salat Ashar, lalu lanjut lagi sampai Maghrib.
Saat aku pulang dari treatment di sebuah klinik kecantikan, dia memberikan laporan kalau sudah tuntas 5 juz. Artinya, sampai hari kedua, si anak remaja ini sudah menuntaskan 10 juz. MasyaAllah. Emaknya kalah telak, wkwk. Baru kelar 2 juz dong.
Melihat semangat anak remaja ini, aku justru teringat pada diriku beberapa tahun lalu. Waktu awal-awal berhijrah, ikut Liqo dan beragam kajian. Saat Ramadan tiba, semangatku menggebu… rasanya nggak keren kalau nggak khatam lebih dari tiga kali, hehe.
Tapi ya karena memang didukung dengan circle yang ngajinya ngebut-ngebut, sama seperti anakku, aku pun berhasil tuntas khatam sampai 5 kali saat itu.
Namun sekarang di usia kepala empat, aku mulai memaknai target Ramadan dengan cara yang berbeda. Aku tidak lagi bicara tentang banyaknya atau jumlahnya khatam. Aku justru lebih mempertanyakan, sejauh mana aku memaknai ibadah mengajiku.
Aku nggak mau sekadar banyak-banyakan khatam, tapi semua yang kubaca menguap begitu saja. Tidak sampai ke relung hati. Tidak sampai membuat diriku berperilaku lebih baik.
Oleh karenanya, ketika ditanya anakku, “Target bunda khatam berapa kali bulan Ramadan?” Aku berpikir lama sebelum akhirnya menjawab, “Sepertinya dua kali saja deh, kak.”
Selain sengaja membuat target realistis, karena aku bukan lagi full WFH-Mom seperti dulu, tapi juga punya aktivitas di luar rumah setiap harinya, aku juga ingin lebih memakanai apa yang aku baca.
Bukan sekadar aktivitas mengaji aja, aku juga ingin lebih memaknai sebuah ibadah yang kujalani di bulan Ramadan ini. Dari salat, berpuasa, berzikir ataupun bersedekah. Aku tidak ingin sekadar mengejar jumlah, tapi ingin lebih menggapai makna. Harapannya, setelah Ramadan usai, semua kegiatan ibadah itu masih tetap berlanjut. Bukan hanya berhenti di bulan ini saja.
Membuat Target Ramadan yang Realistis ala Maritaningtyas
Nah, buat yang punya pengalaman sama denganku; Ramadan selalu datang dengan semangat yang menggebu. Kita ingin khatam Al-Qur’an berkali-kali, salat malam tanpa bolong, sedekah setiap hari, ikut kajian rutin, memasak untuk keluarga, tetap produktif bekerja, semuanya sekaligus. Niatnya indah. Tapi sering kali, di pertengahan bulan, energi menurun dan muncul rasa bersalah karena target terasa terlalu tinggi.
Di sinilah pentingnya membuat target Ramadan yang realistis agar ibadah benar-benar bermakna, bukan sekadar ambisi sesaat. Buat Sohib Kongkow yang sedang galau tentang target Ramadannya tahun ini, mungkin lima tips ini bisa membantu:
1. Mulai dari Kondisi Nyata, Bukan Ideal
Setiap orang punya ritme hidup berbeda. Ada yang bekerja full time, ada yang mengurus anak kecil, ada yang sedang berjuang dengan kesehatan mental atau fisik. Alih-alih meniru target orang lain, tanyakan pada diri sendiri: Dengan kapasitas dan tanggung jawabku saat ini, apa yang paling mungkin konsisten kulakukan?
Ramadan bukan lomba siapa paling sibuk beribadah, melainkan perjalanan mendekat yang personal.
2. Pilih Sedikit, Tapi Konsisten
Daripada membuat sepuluh target besar, pilih tiga fokus utama. Misalnya:
- Membaca Al-Qur’an 2 halaman setiap hari.
- Salat tahajud 2 kali dalam seminggu.
- Sedekah rutin meski nominal kecil.
Konsistensi melatih hati. Amal yang kecil namun terus-menerus justru membentuk kebiasaan jangka panjang. Di akhir Ramadan, kita tidak hanya merasa lelah, tetapi bertumbuh.
3. Buat Target yang Terukur dan Fleksibel
Target yang baik itu spesifik. “Mau lebih rajin ibadah” terlalu umum. Ubah menjadi: “Mendengarkan satu kajian singkat saat perjalanan pulang” atau “Zikir pagi setiap selesai Subuh.”
Namun, tetap beri ruang fleksibilitas. Ada hari-hari berat. Ada anak yang sakit. Ada deadline yang mendesak. Ketika target meleset, jangan langsung menyalahkan diri. Evaluasi, sesuaikan, lanjutkan lagi.
4. Sertakan Target Hati, Bukan Hanya Aktivitas
Ibadah bukan hanya soal jumlah, tapi kualitas. Tambahkan target batin seperti:
- Mengurangi marah.
- Melatih sabar saat lelah.
- Menahan lisan dari keluhan.
Kadang, perubahan sikap justru menjadi ibadah paling besar yang tak terlihat.
5. Niatkan untuk Setelah Ramadan
Ramadan seharusnya bukan “ledakan kebaikan satu bulan”, melainkan fondasi untuk sebelas bulan berikutnya. Target yang realistis lebih mudah dipertahankan setelah Syawal tiba. Di situlah maknanya: bukan sekadar menyelesaikan Ramadan, tetapi membawa semangatnya terus hidup.
Membuat target yang realistis bukan berarti menurunkan standar, melainkan mengenali diri dan memberi ruang bertumbuh. Ramadan bukan tentang menjadi sempurna dalam sebulan, tapi tentang melangkah sedikit demi sedikit; dengan hati yang sadar, niat yang lurus, dan langkah yang konsisten.
Dan siapa tahu, justru dari target yang sederhana itu, kita menemukan Ramadan yang paling dalam maknanya. Selamat menikmati ibadah dengan lebih bermakna, pals!***




Post a Comment
Salam,
maritaningtyas.com