header marita’s palace

Berbagi Tanpa Sekat: Ramadan, Reuni Hangat, dan Kembalinya Semangat di Ibu Profesional Semarang

Berbagi Tanpa Sekat Ibu Profesional Semarang

Ramadan selalu punya cara unik untuk mempertemukan banyak hal sekaligus. Ada rasa syukur, ada harapan, ada juga kesempatan untuk kembali terhubung dengan orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.

Tahun ini, Ramadan terasa sedikit berbeda bagiku. Bukan hanya karena suasana bulan suci yang selalu hangat, tetapi juga karena akhirnya aku kembali terlibat dalam kegiatan Ibu Profesional Semarang setelah cukup lama vakum sejak pandemi.

Rasanya seperti pulang ke rumah lama. Hangat, akrab, dan penuh cerita.

Ramadan dan Ajakan untuk Lebih Peka

Sering kali kita memaknai Ramadan hanya sebagai momen menahan lapar dan haus. Padahal, bulan ini sebenarnya juga menjadi waktu yang tepat untuk melatih kepekaan.

Di sekitar kita, ada keluarga yang berbuka dengan menu sangat sederhana. Ada ibu yang harus membagi lauk agar cukup untuk anak-anaknya. Ada pula orang tua yang ingin membelikan baju baru untuk keluarganya menjelang Lebaran, tetapi kondisi belum memungkinkan.

Cerita-cerita seperti ini mungkin tidak selalu terlihat jelas. Namun mereka nyata dan ada di sekitar kita.

Hal-hal yang bagi sebagian orang terasa biasa saja, bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti bagi orang lain.

Kita mungkin tidak bisa membantu semua orang. Tapi selalu ada kesempatan untuk membantu seseorang. Dan dari situlah sebuah program sederhana namun penuh makna lahir.

Program Berbagi Tanpa Sekat

Komunitas Ibu Profesional Semarang melalui salah satu komponennya, KLiK Squad, menginisiasi sebuah kegiatan sosial bertajuk “Berbagi Tanpa Sekat.”

Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Masjid Diponegoro Pleburan, Semarang.

Program ini mengajak para anggota komunitas serta masyarakat umum untuk berbagi melalui dua cara sederhana:

  • Donasi paket berbuka puasa
  • Donasi pakaian layak pakai

Tagline yang diangkat juga terasa hangat: “Layak Pakai Layak Bahagia.”

Karena kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari barang baru. Kadang justru hadir dari kepedulian dan kesempatan untuk saling berbagi.

Yang membuat program ini terasa berbeda adalah konsep donasinya. Tidak ada nominal yang ditentukan.

Semua orang dipersilakan berdonasi sesuai kemampuan dan keikhlasan masing-masing. Bagi panitia, partisipasi bukan soal besar kecilnya angka, tetapi tentang niat baik untuk saling membantu.

suasana berbagi tanpa sekat

100 Paket Berbuka untuk Warga Sekitar

Dari penggalangan donasi yang dilakukan sekitar dua minggu sebelum acara, alhamdulillah terkumpul dana sebesar Rp3.760.000.

Fyi, dana tersebut digunakan untuk menyiapkan 100 paket berbuka puasa, pals. Paket tersebut dibagikan kepada ibu dan anak dhuafa serta masyarakat sekitar yang membutuhkan. Sementara sebagian dana juga disalurkan sebagai infak untuk masjid.

Setiap paket berbuka diperkirakan bernilai sekitar Rp35.000, berisi nasi kotak, air mineral, dan snack takjil yang layak serta bergizi.

Melihat paket-paket makanan itu dibagikan menjelang waktu berbuka, rasanya sederhana tapi menghangatkan. Kadang memang tidak perlu sesuatu yang besar untuk menghadirkan kebahagiaan.

Bazar Baju Bayar Seikhlasnya

Selain pembagian paket berbuka, kegiatan ini juga menghadirkan donasi pakaian layak pakai.

Puluhan kotak pakaian yang sudah dicuci bersih dan masih dalam kondisi baik dikumpulkan oleh para anggota komunitas. Pakaian tersebut dipisahkan berdasarkan kategori: perempuan dewasa, laki-laki dewasa, dan anak-anak.

Semua pakaian kemudian ditata rapi di halaman Masjid Diponegoro Pleburan. 

Yang menarik, pakaian tersebut tidak dijual dengan harga tertentu. Pengunjung boleh membayar seikhlasnya. Benar-benar sesuai kemampuan masing-masing.

Puluhan warga sekitar datang dengan wajah sumringah. Para ibu menggandeng anak-anak mereka sambil memilih baju satu per satu. Beberapa bapak juga terlihat mencari baju atau celana yang cocok untuk keluarganya.

Di meja kasir, beberapa warga bahkan sempat memastikan ulang. “Benar boleh bayar seikhlasnya?”

Tentu saja aku dan teman-teman dari Ibu Profesional Semarang menjawab dengan senyum, bahwa memang begitu konsepnya.

Mungkin sohib kongkow bertanya-tanya, kenapa pakaian layak pakai tersebut nggak digratiskan saja, kenapa kok malah dijual dan pembeli boleh bayar seikhlasnya? Ada filosofi di baliknya dong. Konsep ini dipilih agar semua orang tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

Melalui konsep ini, kami ingin mengajak seluruh orang untuk menakar kebutuhan dan kemampuan diri masing-masing. Harapannya, lingkaran kepedulian ini tidak putus, namun terus melingkar dan berkelanjutan. Dari orang yang mendonasikan pakaian, lalu pembeli pakaian, sama-sama akan mendapatkan value dari program ini.

Dari hasil penjualan pakaian tersebut, dana yang terkumpul akan kembali digunakan untuk program sosial lainnya melalui komponen Sejuta Cinta Ibu Profesional Semarang. Alhamdulillah, dari bazar sederhana ini, terkumpul dana sekitar Rp1.021.000.

Jumlah yang mungkin terlihat kecil, tetapi sebenarnya memiliki makna besar.

Reuni Hangat Para Member Lawas

Bagi banyak orang, kegiatan ini mungkin sekadar program sosial Ramadan. Namun bagiku, ada rasa lain yang menyertainya.

Setelah cukup lama vakum pasca pandemi, akhirnya aku bisa kembali terlibat dalam kegiatan Ibu Profesional Semarang. Dan jujur saja, rasanya seperti reuni kecil.

Bertemu kembali dengan wajah-wajah yang dulu sering hadir di berbagai kegiatan komunitas. Mengobrol santai, saling bertanya kabar, bahkan tertawa mengingat kegiatan-kegiatan lama yang pernah kami jalani bersama.

Pandemi memang sempat membuat banyak komunitas berhenti bergerak. Aktivitas tatap muka berkurang, bahkan beberapa kegiatan terpaksa berhenti sama sekali.

Karena itu, bisa kembali berkumpul meski dalam kegiatan sederhana terasa sangat berharga. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Seperti menemukan kembali potongan cerita yang sempat terhenti.

Terlebih, kita juga bisa ketemu dengan member baru yang sebelumnya hanya saling sapa lewat WhatsApp Group. Silaturahim memang selalu punya magis tersendiri.

Hujan deras yang kemudian menyapa tidak menyurutkan langkah kami. Justru kebersamaan yang tercipta melahirkan kehangatan dalam derasnya air yang turun dari langit. Apalagi menyaksikan warga yang antusias menerima paket berbuka dan mengikuti bazaar bayar seikhlasnya, makin berlebih lagi hangat yang menjalar di hatiku dan teman-teman.

tim di balik layar Berbagi Tanpa Sekat Ibu Profesional Semarang

Menumbuhkan Lingkaran Kepedulian

Program Berbagi Tanpa Sekat sebenarnya bukan kegiatan baru bagi Ibu Profesional Semarang. Pada tahun 2018 dan 2019, kegiatan serupa rutin dilakukan setiap Ramadan. Namun sejak pandemi pada 2020, kegiatan ini sempat berhenti. Tahun 2026 menjadi momentum untuk menghidupkannya kembali.

Harapannya tentu sederhana: agar kegiatan seperti ini bisa terus dilakukan secara berkelanjutan. Karena sebenarnya yang ingin dibangun bukan hanya kegiatan berbagi, tetapi juga budaya kepedulian.

Budaya saling menguatkan. Budaya saling mengingatkan dalam kebaikan. Budaya menghadirkan manfaat yang lebih luas.

Sesuai dengan tagline komunitas Ibu Profesional pada tahun ini; Berakar pada Nilai, Bertumbuh Bersama, Berdampak bagi Dunia.

Dan mungkin memang begitulah cara kebaikan bekerja. Dimulai dari langkah kecil. Dilakukan bersama. Lalu perlahan menyebar lebih luas.

Bismillah, doakan yaa semoga aku bersama teman-teman Ibu Profesional Semarang bisa menebar kebermanfaatan lebih luas di tahun ini dan tahun mendatang. Sampai jumpa di celoteh berikutnya!***

‹ OlderNewest ✓

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com