Tuesday, March 26, 2013

Can You See Gold in Our Children?



Dengan sedikit tergopoh saya menuju Merapi Ballroom Hotel Novotel Semarang sembari melirik jam di HP saya; setengah sembilan pagi. Semoga belum terlambat. Alhamdulillah ketika sampai di ruangan paling ujung lantai dasar salah satu hotel besar di kota Atlas ini saya lihat masih banyak antrian peserta yang sedang melakukan daftar ulang, sebagian lainnya sedang asyik menikmati coffee break. Saya pun segera menuju ke meja registrasi untuk daftar ulang dan menerima goody  bag yang berisi sertifikat, majalah, dan beberapa brosur sponsor acara. Sebelum masuk ruangan saya sempatkan mengambil secangkir kopi untuk membuat badan lebih relax setelah perjalanan penuh deg-degan sekitar 45 menitan dari rumah menuju lokasi acara. Pasalnya ban belakang motor saya dalam keadaan mengenaskan alias harus diganti. Selama perjalanan doa-doa terucap agar ban tidak bocor atau meletus di jalan. Alhamdulillah Alloh masih melindungi hingga tempat tujuan.
Menuju ruangan seminar saya mengedarkan pandangan ke segala penjuru, hampir penuh. Sedikit kecewa karena tidak bisa duduk di deretan depan. Setelah mencari-cari tempat yang enak dan pas, akhirnya saya memilih duduk di barisan ketiga dan mulai menikmati acara demi acara. Acara utama yang dinanti yaitu Seminar Parenting bersama Ayah Edy belum dimulai. Beberapa pembukaan dari sponsor dan pengantar dari pihak penyelenggara runtut beruntut sedang para peserta masih diberi kesempatan untuk menikmati coffee breaknya. Yang paling saya suka di bagian pembukaan acara ini adalah penampilan dari para murid Sekolah Alam Ar Ridho yang tak lain adalah penyelenggara seminar ini; ada pertunjukan angklung dari murid TK, tarian aceh dan yang paling memukau para peserta adalah penampilan grup perkusi rombengan dari SD Alam Ar Ridho. Para anak itu begitu bersemangat bernyanyi sambil diiringi drum-drum daur ulang dari bahan-bahan bekas. Luar biasa. Membuat para peserta seminar terhentak dan berapi-api untuk menyerap ilmu yang akan dibagikan oleh Ayah Edy. Setelah grup rombengan selesai beraksi, ayah Edy kemudian tampil memberikan ilmu luar biasa ditemani seorang moderator yang tidak lain adalah Direktur Sekolah Alam Ar Ridho , Ibu Mia Inayati Rachmania.

Mengenal Ayah Edy

Ayah Edy
Kalau boleh jujur, sebenarnya saya ini termasuk ibu yang kuper dan tidak gaul karena telat mengenal Ayah Edy. Bagaimana tidak? Saya tidak tahu sama sekali mengenai siapa ayah Edy dan mengapa ia begitu fenomenal di dunia parenting. Setelah tahu betapa banyak ilmu baru yang saya dapat tentang how to raise a child well, sekarang saya sangat menyayangkan betapa selama ini saya telah melewatkan acara mingguannya di Smart FM setiap sabtu jam 9 pagi, talk shownya di Sindo TV yang direlay Pro TV Semarang tiap Rabu jam 9 malam dan juga buku-buku hasil karyanya yang bertebaran di Gramedia atau Toga Mas. Bagaimana dengan anda? Adakah yang bernasib sama dengan saya?

Ayah Edy menggebrak dunia parenting dengan visinya untuk membangun Indonesia  yang kuat dari rumah atau sering dikenal dengan Indonesia Strong From Home. Pria kelahiran tahun 1969 ini sebenarnya tidak memiliki basic pendidikan ataupun psikologi, namun sejak umur 23 tahun ia mulai menemukan hal yang benar-benar ia inginkan selama ini; menjadi pendidik atau guru. Tentunya guru yang berbeda dengan yang kita kenal selama ini.

Pria berperawakan gemuk dan berbadan gelap ini menamatkan pendidikan S1 akuntansi di Universitas Indonesia dan S2 Komunikasi di salah satu Universitas di Amerika. Terangnya ia pun pernah merasa salah langkah ketika mengambil jurusan Akuntansi, jurusan sejuta umat yang diharapkan banyak orang setelah lulus dari jurusan tersebut pasti bisa cepat mendapat pekerjaan dan duit. Setelah bekerja di perusahaan bapak satu ini justru kemudian menyadari bahwa ia sesungguhnya tidak enjoy dengan bidang yang dipilihnya. Bahkan suatu saat ia memutuskan untuk berhenti kerja dan mencari perusahaan lain yang mau menerimanya bekerja di bagian manapun, asal bukan akuntansi. Dari sinilah kemudian ia mulai menggeluti bagian training dan menemukan sejatinya apa yang diinginkannya.
Ayah Edy merasa prihatin dengan nasib generasi masa depan Indonesia apabila sistem pendidikan dan pengasuhan yang diterapkan sekolah dan para orang tua masih menganut paham konvensional; memandang anak pintar hanya melalui angka dan rangking di sekolah. Dengan kegundahannya inilah kemudian ia mempelajari dan kini menjadi ahli dan praktisi pendidikan yang berkonsep pada multiple intelligent, holistic learning dan character building. Untuk meraih tujuannya ia pun mendirikan sekolah yang diberi nama Star International School.

Sekolah Para Binatang

Semua anak itu ditakdirkan untuk cerdas, tinggal bagaimana kita sebagai orang tua mengolah potensi yang dititipkan Tuhan pada anak kita dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut yang menjadi pokok utama dari seminar ini.

Sebagai orang tua kita selalu menginginkan sukses, namun di samping itu seringnya kita justru lebih takut anak kita akan gagal. Meskipun berbeda tipis, namun dua konsep ini sangat berbeda. Apabila kita ingin anak kita sukses, kita akan melakukan hal-hal positif dalam mendidik dan membesarkan anak. Sedang bila kita takut anak kita gagal yang ada justru kekhawatiran itu membuat kita membesarkan anak dengan cara-cara yang negative tanpa kita sadari.

Stres ketika melihat raport anak merah menyala, tidak masuk ranking 10 besar, atau anak kita selalu ikut tes remedial untuk mendongkrak nilai-nilainya? Bila jawabannya iya, maka anda termasuk kategori orang tua yang takut melihat anak gagal. Sudah kewajaran bagi orang tua bila menghadapi kondisi tersebut adalah menjejali anak dengan les tambahan berharap nilainya akan merangkak naik, meski kemudia ujungnya anak justru tambah stress dan nilainya tidak mengalami perbaikan. Inilah yang dimaksud dengan cara negative yang tak tersadari.

Saya mulai membuka mata sejak Ayah Edy memaparkan hal ini di depan para peserta. Saya kemudian teringat dengan beberapa murid saya waktu saya masih mengajar  di sebuah lembaga bahasa Inggris. Saya sering menemukan beberapa murid nampak lesu setiap masuk kelas, ketika saya tanya mereka menjawab bahwa mereka kelelahan setelah les beruntun setiap hari sepulang sekolah. Begitulah ambisi orang tua untuk membuat anak pintar, bisa masuk top ten rank atau setidaknya tidak ada nilai merah dan tidak kalah dengan anak tetangganya, tanpa mau menyadari bahwa setiap anak itu unik, berbeda dan memiliki potensi sendiri-sendiri yang tidak bisa disamakan antara satu anak dengan lainnya.

Sebuah gambaran yang menarik disampaikan oleh ayah Edy mengenai pendidikan berdasarkan multiple intelligent yang digagas oleh Thomas Armstrong lewat narasi yang menggelitik berjudul “Sekolah Para Binatang”. Alkisah diceritakan di sebuah hutan belantara berdirilah sebuah sekolah untuk binatang yang sistem pendidikannya disamakan dengan manusia. Karena sistem pendidikannya disamakan dengan manusia, maka gurunya pun manusia begitu pula standar kelulusan yang ditetapkan; harus lulus lima mata pelajaran utama dengan nilai minimal delapan, yaitu pelajaran terbang, memanjat, berlari,berenang dan melompat.

Murid pertama yaitu Elang, ia sangat ahli dalam mata pelajaran terbang. Ketika ia dipaksa mempelajari pelajaran lain yaitu memanjat, berlari, berenang dan melompat, ia merasa sangat kesusahan.  Namun karena ia tidak ingin tidak lulus dari sekolahnya, maka ia berusaha sebaik mungkin untuk menguasai keempat mata pelajaran lainnya. Alhasil ia merasakan badannya sakit semua, bahkan ketika pelajaran berenang ia hampir mati di kolam karena tak dapat bernafas, dan yang lebih parahnya lagi karena fokus untuk menguasai keempat pelajaran yang lain, ia justru kehilangan separuh kemampuannya untuk terbang. Begitu pula dengan murid-murid yang lain, tupai yang jago memanjat, rusa yang hebat berlari, bebek yang lihai berenang dan katak yang senang melompat, semuanya gagal menguasai pelajaran lainnya yang bukan merupakan keahlian mereka.  Akhirnya pada tahun kelulusan dapat dipastikan bahwa tidak ada satu binatang pun yang lulus dari sekolah tersebut.

Seluruh orang tua di ruangan Merapi Hotel Novotel pun tersenyum kecut setelah selesai menyaksikan narasi yang disampaikan lewat bentuk animasi itu, begitu pula saya. Tersadar betapa selama ini sistem pendidikan yang dianut oleh bangsa ini sungguh tidak bersahabat dengan anak-anak. Bagi hampir semua orang, anak yang berlabel pintar adalah anak yang nilainya bagus di semua mata pelajaran, namun apakah menjamin anak yang kemudian lulus dengan nilai bagus di semua mata pelajarannya ini akan benar-benar menyadari apa yang sebenarnya ia inginkan dalam hidupnya atau sama juga bingungnya dengan anak-anak lain yang lulus dengan nilai pas-pasan? Sedang anak yang mungkin nilainya pas-pasan dan suka gedombrangan di kelas, yang sebenarnya memiliki intuisi dan bakat musik yang besar justru dicap sebagai anak bandel oleh guru, teman-teman dan orang tuanya. Padahal kalau kita sebagai orang tua mampu mengarahkan potensinya anak yang suka gedombrangan ini justru bisa lebih sukses dari anak yang lulus dengan nilai bagus.

Betapa sistem pendidikan yang dianut Negara ini telah memateri kita untuk berorientasi pada angka; anak pintar adalah anak yang nilai selalu sembilan dan anak bodoh adalah anak yang memiliki nilai di bawah enam. Selain itu sistem pendidikan yang ada juga tidak mendidik anak untuk mampu memilih dan memutuskan apa yang dia inginkan untuk hidup dan masa depannya kelak. Itulah kenapa kita tak boleh bingung ketika sekarang ini banyak kita ketemui anak-anak SMA yang terkena “ndomblong syndrome” setiap kali ditanya mau kuliah apa setelah ini, jurusan apa yang mau diambil. Tak sedikit pula yang kemudian menjawab “lihat nanti saja deh, ngikut teman aja deh, dsb.”

Yang kemudian mesti kita sadari adalah tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama; ada yang memang unggul dalam akademisnya, ada yang unggul dalam bidang kesenian, ada yang unggul dalam bidang olah raga. Bahkan bila kita mau lebih mengelompokkan lagi, anak yang unggul di bidang akademis pastinya hanya akan memiliki satu bidang mata pelajaran yang ia paling kuasai, begitu pula dengan anak yang unggul di bidang seni dan olahraga, anak tersebut pasti hanya akan memiliki satu bidang yang benar-benar ia kuasai. Tidak mungkin ada anak yang sangat berbakat di bidang olahraga, hingga semua cabang olahraga ia mampu kuasai, pasti ada satu bidang yang benar-benar ia ahli melakukannya.

Dari sinilah kita bisa mendapatkan sebuah ilmu, bahwa bila kita menginginkan anak kita sukses, maka kita harus benar-benar membuka mata kita dan melihat apa sebenarnya potensi yang dimiliki oleh anak kita, apakah di bidang akademis, seni, atau olahraga. Kita harus membantu anak untuk memusatkan dirinya pada satu bidang yang benar-benar ia kuasai dan senangi dan kemudian memfasilitasinya untuk meraih cita-citanya, dan bukan justru memaksa anak untuk menguasai semua mata pelajaran yang ada dan memandang sebelah mata potensi yang dimilikinya yang kemudian justru menjadikannya bukan apa-apa. Memaksa anak melakukan hal yang tidak disukainya sama saja dengan membunuh kecerdasan alami sang anak.

Memetakan Anak Menuju Sukses

Memetakan Kesuksesan

Setelah kita tiba pada titik dimana kita telah menyadari bahwa setiap anak itu unik dan berbeda, langkah selanjutnya adalah mencetaknya untuk sukses. Satu hal yang perlu kita tanamkan pada diri kita tentang kesuksesan adalah setiap orang ditakdirkan untuk sukses, tidak ada manusia yang ditakdirkan gagal, asalkan ia berhasil menemukan jalan hidup yang benar untuknya. Untuk itu sebagai orang tua yang berwawasan, kita harus memetakan jalan kesuksesan anak sejak dini.

Salah satu hal dasar yang harus dilakukan untuk mencetak anak sukses adalah tidak lagi melakukan ‘Rumus Sukses Orang Gagal’ yang selama ini dianut oleh pendahulu kita. Adapun rumusnya adalah ‘M – M – M – H’ yang diartikan sebagai ‘Money – Money – Money – Happy’. Seringnya orang tua mengartikan kebahagian dan kesuksesan dikaitkan dengan uang; anak selalu dididik dan diarahkan untuk bersekolah atau berkuliah dengan jurusan yang gampang mencari kerja agar mudah mendapatkan uang dan ketika anak sudah lulus kuliah diarahkan untuk mencari perusahaan yang besar dan mampu memberikan gaji yang besar. Intinya orang itu harus bersekolah agar pintar dan mudah mencari kerja (uang), sehingga nantinya akan bahagia. Walau pada kenyataannya tidak semua orang yang telah lulus kuliah dengan cumlaude, mendapat pekerjaan dengan gaji selangit, dan banyak uang akan benar-benar merasakan kebahagiaan yang dicarinya.

Untuk memetakan kesuksesan anak dengan sempurna, rumus inilah yang justru harus kita ikuti; “Rumus Sukses Orang Sukses” yang disimbolkan dengan ‘H – T – E – M’ atau ‘Happy – Totality - Expert – Money’. Orang tua modern yang cerdas dan berwawasan luas akan mencetak anak sukses dengan mengarahkan anak-anaknya pada satu kelebihan yang dimilikinya hingga anak-anak ini bahagia menjalani setiap aktivitas yang dilakukannya. Apabila ia bahagia melakukannya ia akan memberikan totalitas pada segala macam usaha yang berkaitan dengan peningkatan dirinya di bidang yang ia sukai ini, hingga kemudian ia akan menjadi ahli yang luar biasa dan dibutuhkan oleh dunia. Ketika sudah pada di titik ini, bukan anak kita yang mencari uang tapi uang yang akan mengikutinya. Karena sesungguhnya orang yang sukses adalah a man whom money will follow. Contoh nyata untuk kasus ini adalah Agnes Monica, ia termasuk anak muda berbakat dan cerdas, kalaupun ia dulu lebih memilih pendidikan dibanding karir mungkin ia pun akan hebat di pendidikannya, namun ia fokus memilih pada bidang yang lebih ia sukai yaitu tarik suara dan sekarang kita bisa lihat hasil yang ia pupuk sejak ia menjadi artis cilik; money follows her everywhere!

Mungkin ketika saya menuliskan contoh nyatanya adalah Agnes Monica, hampir semua orang yang membaca akan berkata dalam hati, “ya iya lah Agnes orang tuanya mampu, lah bagaimana dengan orang tua yang tak mampu memberikan fasilitas untuk anak yang memiliki keinginan di luar batas perekonomian orang tuanya?” Sebuah pernyataan bijaksana dari Ayah Edy yaitu Tuhan tidak mungkin menciptakan anak dengan keistimewaan yang unik bila tidak memberikan jalan untuk mewujudkan keistimewaanya tersebut. Apabila kita yakin dan mau berusaha dengan segala hal sederhana yang kita miliki saat ini kita akan mampu mencetak kesuksesan anak-anak kita.

Pelajaran di hari Minggu, 24 Maret 2013 yang berlangsung hingga pukul satu siang tersebut tidak berhenti di titik itu saja. Ayah Edy juga memaparkan bahwa setiap orang tua harus mampu melihat ‘emas’ pada diri anak-anaknya dengan cara selalu mengobservasi dan mempelajari seperti apa anaknya. Karena dari sinilah kita akan benar-benar bisa mengarahkan anak-anak kita menuju kesuksesan.

Memetakan anak, begitu ayah Edy menyebutnya, dilihat dari berbagai sisi; fisik, karakter,  genetic dan lingkungan. Aspek-aspek tersebut patut kita catat dalam diary perkembangan anak kita dan kemudian kita gunakan sebagai dasar arahan mencetak kesuksesannya. Dalam hal ini kita sepatutnya mempelajari lebih dalam mengenai istilah-istilah psikologi seperti karakter anak sanguinis, pragmatis, koleris, melankolis, dan bagaimana kecenderungan anak yang lebih kuat otak kanan atau kirinya. Misal anda memiliki anak yang rame, ceria, cepat akrab, anak seperti ini adalah anak bertipe sanguinis yang nantinya akan menjadi orang hebat sebagai public figure. Anak yang lebih kuat otak kanannya biasanya ditandai dengan perilaku yang cuek, bahkan ketika bicara pun jarang menatap lawan bicaranya, ketika kita menemukan perilaku seperti ini tak sepatutnya kita merasa khawatir dan menganggapnya tidak sopan. Bila kita berhasil mengarahkannya dengan baik, anak yang otak kanannya lebih kuat ini akan tumbuh sebagai anak yang lebih kreatif dan akan hebat menjadi seorang ilmuwan.

Bahkan fisik seorang anak pun akan membantu kita memetakan kesuksesannya kelak; anak bertubuh gemuk lebih cocok bekerja di dalam ruangan, sedang anak bertubuh kurus akan lebih ahli bekerja di luar ruangan. Jenis rambut, bentuk muka, dan mata ternyata sangat membantu kita untuk mengenali potensi yang dimiliki anak sejak dini. Oleh karena itu sangat dianjurkan kepada seluruh orang tua Indonesia untuk tidak melabeli negative pada fisik anak-anaknya, misal: anak berbadan hitam akan dipanggil blacky, anak dengan rambut keriting dipanggil kriwul, atau si pesek untuk anak yang tidak mancung. Begitu pula dengan menyebut anak dengan si bandel, nakal, bodoh, ataupun cerewet. Sebagaimana disampaikan ayah Edy mengutip ungkapan dari Kazuo Murakami bahwa “apa yang kamu ucapkan akan membentuk pribadi dan genetika seorang anak”. So, sejak hari ini panggillah anak-anak kita dengan sebutan yang terbaik; si cantik, anak sholeh, anak hebat, anak kreatif, dsb. Bukankah setiap ucapan adalah do’a?

Rumus sukses sudah di tangan, gambaran tentang memetakan kesuksesan anak sudah tergambar sedikit, hal berikutnya yang harus dipatrikan di setiap diri orang tua adalah membentuk akhlak dan karakter anak. Apalah artinya sukses bila anak kita tak memiliki akhlak dan moral yang baik? Untuk itu memilih sekolah bukanlah masalah yang bisa dipandang sebelah mata. Apalagi kita ketahui masih banyak sekolah yang berpijak pada sistem pendidikan yang tidak bersahabat dengan anak-anak. Bila kita salah memilih sekolah, maka apalah artinya kita sudah bisa memahami bila si anak tidak jago dalam matematika namun di sekolahnya dipaksa untuk bisa matematika dan terus-terusan melakukan remedial test yang akhirnya menjerumuskannya ke jurang stress yang membahayakan, sedang kita tak mungkin meminta sekolah untuk tidak memaksanya bisa matematika karena pasti oleh pihak sekolah kita akan dianggap sebagai orang tua yang tidak mengerti anak yang ujung-ujungnya nilai anak jatuh, tidak naik kelas, bahkan dikeluarkan dari sekolah.

Oleh karena itu memilih sekolah haruslah selektif dan tidak hanya melihat dari jarak tempuh antara sekolah dan rumah, biaya yang akan kita keluarkan, fasilitas yang dimilikinya, namun lebih dari itu bahwa sekolah yang kita pilih untuk anak kita haruslah sekolah yang memiliki visi dan misi yang sama dengan kita dalam memetakan kesuksesan anak kita. Sekolah yang terbaik untuk membantu kita menemukan emas dalam diri anak kita tentu saja sekolah yang berbasis pada pendidikan multiple intelligent dan character building. Dengan memilih sekolah yang tepat diharapkan anak mampu menentukan apa yang benar-benar ia inginkan ketika ia berusia 12 tahun.

Demikianlah sederetan ilmu yang saya dapat dari seminar parenting bersama Ayah Edy. Ada banyak hal yang membuka wawasan saya tentang bagaimana mendidik anak dengan mudah di jaman modern yang semakin ‘gila’ ini. Meski begitu saya dan hampir seluruh peserta masih kurang puas dengan seminar yang digelar hampir 5 jam ini karena waktu bergerak sangat cepat, sedang banyak pertanyaan dan materi yang belum tersampaikan. Alhamdulillah Ayah Edy berjanji apabila Sekolah Alam Ar Ridho selaku penyelenggara ingin memanggilnya kembali sebagai narasumber ia akan memberikan materi lanjutan tentang praktek memetakan anak, bahkan rencananya nanti setiap orang tua diwajibkan membawa putra-putrinya agar kita bisa mempraktekkan langsung cara mengobservasi karakter dan potensi anak. Sungguh tidak sabar menunggu workshop itu segera terealisasi.


Mayda, Gadis Hujan Anak Hebatku

Disusun oleh seorang Ibu dari seorang anak perempuan berusia 15 bulan yang menginginkan anaknya menjadi anak sukses dan hebat di dunia dan di akhirat J

0 comments:

Post a Comment

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.