header marita’s palace

Bobo, Kacamata dan Cinta Baca

Membicarakan buku selalu menjadi hal yang menarik untuk saya, meski waktu saya kecil orang tua saya belum tahu ada buku-buku keren yang dijual secara paketan, dan pastinya Mizan Dian Semesta pun belum melahirkan produk-produk ternamanya di tahun 1990an. Alhamdulillah dilahirkan dari seorang ibu yang suka membaca, namun seingat saya waktu dulu sepertinya belum ada budaya untuk membacakan buku sejak anak masih bayi atau balita. Berhubung ibu, nenek dan kakek saya berprofesi guru, jadi mereka memiliki banyak koleksi cerita di luar kepala alias hafalan. Selain itu mereka juga sering membawakan buku-buku dari perpustakaan sekolah tempat mereka mengajar. Setiap sebelum tidur, ibu seringkali membacakan cerita, tentu saja Kancil masih jadi dongeng paling hits saat itu. Acara mendengarkan dongeng menjadi hal yang sangat mengasyikkan.

Bobo, Virus Cinta Bacaku
Selain ibu rajin membacakan dongeng, nenek saya setiap berkunjung ke rumah selalu membawa buku-buku yang banyak dijual di dalam bis, biasanya tentang kisah nabi dan kisah-kisah di neraka. Saat belum bisa membaca, nenek dan ibu yang membacakannya untuk saya. Selain buku-buku tersebut, nenek juga suka sekali membawakan saya majalah Anak Sholeh. Kebiasaan mendengarkan dongeng yang disampaikan oleh ibu dan nenek membuat saya mencintai buku dan membaca, rasanya saat itu ingin segera bisa membaca sendiri.

Ketika sudah duduk di kelas 1 SD, tak perlu menunggu lama akhirnya saya bisa membaca juga. Tak terkira begitu senang rasanya bisa membaca sendiri, dari bisa membaca satu kata, dua kata hingga kemudian kalimat demi kalimat. Semua buku yang ada di rumah habis saya lahap. Saat itu Bobo menjadi majalah yang paling top, awalnya saya mengenal Bobo dari tetangga yang berlangganan. Lama-lama setelah ibu tahu saya sangat suka membaca, akhirnya ibu memutuskan untuk berlangganan Bobo untuk saya. Wah senangnya… saya selalu menunggu setiap kali Bobo baru terbit. Sayangnya saya lupa dulu Bobo terbit setiap hari apa ya, kalau tidak salah hari Senin atau Kamis. Di hari tersebut saya pasti sudah duduk manis di depan rumah menunggu Mas Edi, loper koran, yang setia mengantarkan Bobo ke rumah.

Setiap kali Bobo datang, tidak perlu menunggu lama, dalam kisaran jam saja semua cerita di dalam majalah tersebut pasti sudah habis saya baca. Saya selalu menata Bobo dengan rapi sesuai dengan tanggal terbitnya. Seringkali saya membaca edisi-edisi yang lama berulang kali tanpa ada rasa bosan.

Melihat kesukaan saya membaca, ibu selalu mewanti-wanti agar membaca dalam posisi duduk yang benar, jangan sampai membaca sambil tiduran apalagi dalam kondisi kamar yang gelap. Namun untuk hal ini saya cukup bandel, setiap kali ibu dan bapak sudah tidur, diam-diam saya akan kembali membaca koleksi Bobo saya di dalam kamar, dengan posisi tiduran dan kamar yang gelap. Ada kalanya ibu mengecek apakah saya sudah tidur beneran atau belum, saat itu saya akan segera pura-pura tidur dan menyembunyikan Bobo di bawah bantal. Setelah ibu pergi segera saya lanjutkan proses membaca diam-diam itu.

Akhirnya apa yang ibu takutkan terjadi juga. Suatu hari di sekolah sedang ada pemeriksaan kesehatan, termasuk tes mata. Hasil tes mata saya saat itu minus seperempat untuk mata kanan dan tiga per empat untuk mata kiri. Dengan rekomendasi dari dokter dan guru saya, akhirnya ibu membawa saya ke optik dan membelikan kaca mata untuk saya, mulailah sejak hari itu saya resmi memakai kaca mata hingga hari ini dan tak pernah bisa lepas darinya.

Meski sudah memakai kaca mata, tetap saja saya bandel dan masih  suka membaca sambil tiduran. Entah sambil tidur telentang ataupun tengkurap, bagi saya membaca sambil tiduran itu sangat menyenangkan dan menenangkan. Berkali-kali dinasehati dan cuma numpang lewat di telinga saja, akhirnya ibu angkat tangan dan membiarkan saya membaca sesuka hati.

Sejak berkaca mata saya jadi dijuluki kutu buku oleh teman sekelas. Maklum sekelas cuma saya seorang yang memakai kaca mata. Pada awalnya saya minder, tapi lama-lama kalau kata anak jaman sekarang wolessss aja bray. Kecintaan saya pada buku dan membaca memberikan efek yang luar biasa saat pelajaran Bahasa Indonesia. Pelajaran mengarang atau membaca dengan lantang menjadi hal yang sangat saya tunggu. Saat di rumah terkadang ibu juga meminta saya untuk membaca cerita yang ada di Bobo dengan keras, ibu kemudian akan mengoreksi kalau intonasi saya salah atau ada tanda baca yang terlewat. Karena kebiasaan itulah, dibanding teman-teman sekelas saat itu saya dianggap paling bagus saat membaca cerita sehingga guru saya pasti menunjuk saya untuk membacakan teks saat pelajaran bahasa Indonesia.

Cinta membaca juga sangat membantu saya mempelajari banyak kosa kata. Sehingga saat pelajaran mengarang tiba, ketika teman-teman yang lain selalu bingung merangkai kata, saya justru seringnya minta tambahan kertas karena kertas yang disediakan selalu kurang untuk menampung ide di kepala saya. Jadi jangan heran sejak SD sampai kuliah, nilai saya untuk pelajaran menulis atau mengarang pasti selalu tinggi.

Buku dan membaca juga sangat membantu saya meraih prestasi. Salah satunya lewat lomba membaca puisi. Rajin membaca membuat saya lebih cepat memahami teks dan maksud dari sebuah buku atau bacaan, tidak hanya bacaan narasi, puisi pun buat saya adalah teks yang sangat menarik. Karena bentuknya yang unik, dengan susunan kalimat dan suara yang mernarik, saya selalu suka membaca puisi keras-keras di rumah. Lama-lama melihat hal tersebut, ibu mulai mengajari teknik berdeklamasi dan berpuisi, beliau tidak pernah memaksa untuk ikut lomba, namun setiap kali ada lomba pasti ibu menawari apakah saya mau ikut. Entah karena saya yang kepedean atau memang saya suka berkompetisi, saya pasti langsung bilang mau ikut lomba tersebut setiap kali ditawari oleh ibu. Alhamdulillah beberapa kali sejak SD hingga kuliah saya berhasil menjadi juara membaca puisi, entah itu juara satu, dua, tiga ataupun sekedar harapan. Berbagai lomba pernah saya ikuti dari tingkat RT hingga tingkat provinsi.

Annida, Virus Baca Lanjutan
Ketika duduk di bangku SMP, saya mulai meninggalkan Bobo, tapi karena waktu itu adik masih kelas dua SD, ibu masih meneruskan berlangganan Bobo untuk adik. Memasuki usia remaja saya mulai mencari-cari majalah yang sesuai dengan usia saya. Saat itu majalah yang ngehits ada Aneka, Gadis, dan Kawanku. Di antara tiga majalah tersebut saya paling suka Kawanku karena tidak banyak iklannya dan lebih banyak cerita pendeknya daripada info mengenai artis-artis. Namun saya tidak berlangganan Kawanku, hanya kalau ada edisi yang isinya menarik saya pasti membelinya. Saat SMP saya juga mulai mengenal Annida, majalah islami untuk remaja. Pertama kali mengenal Annida saya langsung jatuh cinta, karena ceritanya banyak, bagus dan bernafaskan islami. Jadi selain mendapat hiburan saya juga bisa mendapatkan informasi dan ilmu tentang agama. 

Selain majalah-majalah remaja tersebut, saat SMP saya juga mulai membaca beberapa novel klasik milik AA Navis, Sutan Takdir Alisyahbana, dan beberapa pengarang tempo dulu lainnya. Berhubung saat itu kan teenlit belum booming dan memang penulis saat itu masih sangat terbatas, akhirnya ya buku-buku macam itu selalu jadi teman bacaan saya saat di perpustakaan sekolah. Kesukaan saya membaca novel-novel klasik itu sangat berguna ketika saya duduk di bangku kelas 3 SMA. 
Sesuai dengan minat saya, saya memilih jurusan Bahasa sebagai tujuan hidup saya saat itu. Berbekal karena saya ingin bisa menguasai banyak bahasa di seluruh dunia dan kesukaan saya membaca sembari mengeksplor isi sebuah novel, jurusan Bahasa memang jalan yang sangat tepat hingga saya sampai di aktivitas saya sekarang ini.

Buku dan membaca juga sangat membantu saya saat asyik berkecimpung di dunia teater. Buku dan membaca adalah hal wajib untuk seorang aktor. Semakin banyak buku yang dibaca, maka semakin berisi otak kepala seseorang, hingga akan semakin mudah untuk seorang aktor masuk ke berbagai karakter. Kemampuan membaca dengan baik juga sangat diperlukan ketika membaca dan memahami sebuah naskah drama. Apalagi saat kuliah, saya mengambil jurusan Sastra Inggris yang mengharuskan saya banyak membaca novel, cerita pendek, puisi dan drama-drama klasik, saat itu saya bersyukur karena ibu mengenalkan dan menanamkan pentingnya membaca. Terbukti banyak teman yang tidak suka membaca tersiksa sepanjang waktu kuliahnya karena tidak menjadikan buku sebagai soulmate-nya.

Selera Bacaan Sekarang
Buku, membaca dan menulis menjadi hal yang tak pernah bisa saya tinggalkan sejak saat itu. Maklum tugas saya selalu berkutat dengan membaca buku yang kemudian diteruskan dengan menulis laporan dari hasil buku yang dibaca. Laporan tersebut kemudian juga harus dipresentasikan di depan kelas. Itulah kenapa meski ijasah Sastra Inggris saya saat ini cuma tersimpan  manis di dalam lemari, tapi kecintaan saya terhadap buku, membaca dan menulis telah membantu saya untuk menemukan passion dan menambah penghasilan untuk keluarga kecil saya.

Beberapa Buku Parenting
Hobi membaca dan mengoleksi buku terus menjadi hingga sekarang. Hanya bedanya kalau dulu koleksi yang mendominasi adalah majalah, novel dan kumpulan cerpen, sekarang koleksinya mulai pindah jalur ke arah buku-buku parenting dan buku-buku untuk anak. Tentunya buku-buku dari Mizan Dian Semesta juga menjadi salah satu incaran koleksi untuk home library kami.

Salah Satu Buku Favorit dari MDS

Terima kasih ya bu karena telah mengenalkan buku dan menanamkan kecintaan membaca kepada saya. Ibu benar sekali meski saya belum mampu mengenal dunia, namun lewat buku dan membaca saya mampu menggenggam dunia. Doakan anakmu ya bu agar berhasil menanamkan kecintaan membaca kepada cucumu.

My Lovely Books



Disusun untuk mengikuti Kontes Menulis Aku, Buku dan Anakku oleh MDS Tim Nana
Naskah 1 untuk Tema: Bagaimana Orang Tua Mengenalkan Aku Pada Buku

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com