Monday, April 6, 2015

20 Jam Bersama Abah Ihsan: Karunia Fitrah

Lanjuut yuk belajar menjadi orang tua shalihnya. Semua yang saya tulis di sini berdasar ingatan dan penyerapan ilmu saat mengikuti Program Sekolah Pengasuhan Anak... jadi semisal kurang lengkap atau kurang mengena kesalahan ada pada saya ya :) Untuk efek yang lebih touching.. bisa ikut langsung PSPA.. dijamin nagiih pengen ikut lagi :)

Setelah pembukaan yang oke punya, akhirnya masuk juga ke materi utama modul pertama; karunia fitrah. Dibuka dengan sebuah game yang menarik, dilakukan berpasangan dengan cara saling mengikat tangan dengan rafia. Tugasnya adalah melepaskan ikatan rafia. Waktu dikasih permainan ini sebenarnya agak bingung juga apa hubungannya rafia sama parenting. Moms and dads bisa menyimpulkan kira-kira tujuan dari permainan ini nggak?

Foto diambil dari Akun Sekolah Alam Ar Ridho
Everything needs knowledge. Hal yang paling mudah seperti memasukkan benang ke dalam jarum jika kita tak punya ilmunya pun akan terasa sulit, Apalagi soal pengasuhan anak... apa jadinya jika kita tak memiliki ilmunya? Anak seringnya akan menjadi sasaran kemarahan... Tidak sevisi misi dengan pasangan yang akhirnya berimbas pada pertengkaran sepanjang hari... Mak jleb... begitulah saya selama ini... NGASUH ANAK NGASAL AJA..... Nah, kalo moms and dads gimana nih merasa sudah cukup berilmu soal pengasuhan anak belum?


Sebelum kita ngobrolin pengasuhan anak, coba yuk kita telusuri lagi dulu kita pengen nikah untuk apa sih? Rata-rata jawaban atas pertanyaan tersebut didasari pada tiga alasan utama; untuk memiliki keturunan, untuk menyalurkan hasrat biologis, dan untuk mendapatkan nilai dari Allah (menyempurnakan separuh dien). Ketika pertanyaan tersebut ditodongkan pada saya... yang terlintas adalah menghalalkan hubungan jahiliyah saya dan mantan pacar (baca: suami), hehe....

Foto diambil dari FP Yuk-Jadi Orang Tua Shalih
Nah, kalau sudah ingat tujuan kenapa kita menikah... dulu beberapa tahun yang lalu waktu kita persiapan menikah... apakah ada dalam agenda kita untuk menyiapkan diri menjadi orang tua? Bisa dipastikan hampir semua orang bilang TIDAK, termasuk SAYA tentunya. Yang disiapkan pasti mahar, tempat resepsi, undangan, tapi hampir tidak ada yang menyiapkan visi misi pengasuhan anak. Akhirnya ketika terlahirlah seorang anak dari sebuah pernikahan, dengan ilmu pengasuhan anak yang minim.... gedubrag-gedabrug lah pola asuhnya.

Seringnya kemudian kita akan menjalankan dua hal dalam mengasuh anak tanpa ilmu; yang pertama trial alias coba-coba... meraba-raba cara paling tepat karena kita tak memahami cara memperlakukan anak, apalagi saya dan suami yang notabene mengasuh anak tanpa bantuan siapapun... dari mulai mandiin bayi sampai menstimulasi anak semua dilakukan dari info yang kami dapat dari comot artikel sana, comot artikel sini. Yang kedua menggunakan cara warisan. Cara warisan terbentuk dari pengalaman yang kita dapatkan saat diasuh orang tua. Menerapkan pola asuh yang dilakukan orang tua saat mengasuh dan membesarkan kita. Pola warisan bisa jadi tepat, bisa jadi tidak tepat. Kondisi zaman yang berbeda dengan masa kecil kita bisa jadi pola warisan tidak lagi tepat untuk dijalankan di masa kini. Itu kenapa kita butuh meningkatkan ilmu pengasuhan anak yang sesuai dengan zamannya, jangan sampai anak kita terpapar pengaruh-pengaruh yang tidak kita inginkan hanya karena kita tak mengerti perkembangan zaman, Be update, smart parents

Berdasar keinginan jadi SMART PARENTS itulah saya sering terdampar dari satu seminar parenting ke parenting lainnya, maklum merasa ilmu saya masih kurang banyak untuk bisa mengasuh dan mendidik anak, hingga salah satunya terjerumus ke PSPA ini.. sebuah program yang memang benar-benar recommended untuk meningkatkan semangat kita sebagai orang tua untuk lebih baik dan lebih baik lagi. "Kalau rugi, uang kembali..." Wuih mantap kan jargonnya.. sambil berharap semoga programnya biasa-biasa aja jadi bisa dapatin uang yang sudah dibayarkan kembali :D Ternyata euy setelah dua puluh jam bersama Abah, saya justru merasa uang yang sudah saya bayarkan itu terlalu SEDIKIT... ilmu yang saya dapatkan lebih dari itu semua... saya dibukakan segala dosa yang pernah saya lakukan, dipahamkan caranya mengerti anak, dipahamkan caranya mengatasi masalah-masalah dalam mengasuh anak hingga dipahamkan cara berkomunikasi antara orang tua dan anak, antara suami dan istri... Tak ada teori ndakik-ndakik seperti seminar parenting yang saya pernah ikuti sebelumnya... Di PSPA saya dipaksa untuk berjanji agar menjadi BETTER MOMS... yang mau nggak mau sepulangnya dari Gedung Telkom saya harus melakukan semua janji tersebut. Entahlah mungkin Abah punya ilmu kanuragan yang bikin semua orang tua yang datang PSPA untuk terlahir kembali dan BERSEMANGAT untuk menjadi ORANG TUA BETULAN.

Apa yang kita tanam sejak dini akan sangat membekas pada jiwa anak, Oleh karenanya kita harus sangat berhati-hati dalam menanamkan "bekas" ini, berikanlah "bekas" yang indah bukan sebuah "luka." Coba kita renungi berapa banyak kita ngomel, berapa kali kita mencubit anak, membentaknya, memukulnyaa? Sedang kita sadar bentakan bisa menghancurkan ratusan ribu milliar sel otak, dan cubitan bisa menghancurkan lebih banyak lagi sel otak. Tapi mengapa kita masih belum mau berubah? Yuph... karena kita belum tau ilmunya! Yang tertanam di otak kita mengasuh anak ya seperti itu, anak rewel ya diomelin, anak salah ya dicubit... dsb.. Beruntunglah yang dididik dalam keluarga yang penuh kasih sayang, yang dulu tak pernah diomelin, tak pernah dicubit.. Setidaknya pola warisan yang salah kaprah ini tidak berkelanjutan. Nah, bagi yang terwarisi pola asuh penuh dengan omelan, cubitan, pukulan... termasuk saya salah satunya, yuk kita stop warisan tersebut agar tidak sambung menyambung hingga generasi kedelapan. Sembari mengikhlaskan orang tua saya dulu kan nggak sempat belajar ilmu parenting, jadi wajar saja kalau masih melakukan cara-cara jahiliyah dalam mengasuh saya... masa saya yang sudah BELAJAR, cara ngasuh anaknya juga sama gitu-gitu aja.. malu euy...

Untuk membuktikan bagaimana warisan itu bercokol dengan kuat di otak kita. Coba sekarang gambarkan PEMANDANGAN di kertas kosong. Pasti hampir sebagian besar akan menggambar seperti ini:



Hal itu dikarenakan warisan pendidikan kita di masa anak-anak, setiap diberi tema pemandangan pasti seringnya diminta menggambar gunung, matahari, sawah atau laut. Saya kemudian jadi kembali ke masa lalu, di antara kenangan manis-manis saya dengan orang tua, kenapa yaaaa yang sangat membekas justru hal-hal yang pahit; saat diguyur air di kamar mandi karena rewel seharian, saat dilempar rantang karena nggak bangun-bangun... Membuat saya tersadar, apa jadinya jika nanti apa yang terekam oleh Ifa bisa jadi bukan hal-hal baik yang pernah saya lakukan untuknya, tapi justru hal-hal melukai dan mengecewakannya... #disitu saya merasa sedih :(

Yaa begitulah proses penanaman konsep pada anak-anak kita, jika kita mewariskan keburukan maka itulah yang akan tertanam pada jiwa anak. Karena secara FITRAHnya, anak-anak kita diciptakan dengan banyak kebaikan, yang membuat dia kemudian nakal, rewel, usil adalah bentukan dari pola asuh kita yang salah.

Sekarang saatnya kita mulai merenung dan menyadari sejatinya seorang anak adalah ANUGERAH... karena anak-anak adalah anugerah, mereka lebih banyak MEMBERI daripada meminta. Pasti akan banyak yang tak setuju soal ini, saya juga awalnya begitu, bagaimana mungkin anak lebih banyak memberi? Yang ada sedikit-sedikit dia minta digendong, minta jajan, minta ini, minta itu.... Semua pemikiran itu alamiah kok, karena kita belum memahami sisi anugerah dari seorang anak.

Seorang Anak, Anugerah Tuhan yang Banyak Memberi
Saat kita pulang kerja dan kelelahan, anak kita menyambut dengan riang.. apa yang kita rasakan? Senang? Bahagia dan lelah pun lenyap seketika. Saat badan kita sedang meriang, anak kita datang dengan pelukannya yang hangat, seketika itu juga kita merasa sehat. Saat kita merasa tak memiliki seorang teman pun di dunia, ada anak yang selalu mendengarkan kita bahkan omelan kita pun dengan setia didengarnya..... Jadi seberapa banyak anak memberi dalam kehidupan kita? Kita sering lupakan hal sederhana ini, kita hanya fokus pada betapa repotnya membersihkan rumah yang tak pernah rapi, kita hanya ingat rewelnya anak, kita hanya ingat cerewetnya anak.. tapi kita lupa betapa mereka MEMBERIKAN banyak hal dalam kehidupan kita; kebahagiaaan, semangat hidup, keceriaan, senyuman, tawa yang lepas... dan apa balasan kita untuk mereka?

Apakah pantas balasan untuk segala kebaikan anak pada kita adalah omelan, cubitan, pukulan? Pantaskah kalau kita menganggap mereka adalah sebagai beban? Secara fitrah semua anak adalah anugerah, namun karena pola asuh yang tidak benar maka perlahan-lahan anak tidak lagi menjadi anugerah namun bisa menjadi beban. Lantas sebenarnya, siapa sih yang menjadikan anak sebagai beban? Anak kita atau justru kita sendiri?

Berikut ini adalah beberapa teori perilaku yang sering kita temui, teori kesatu hingga ketiga seringkali kita dengar, tapi entah kenapa kita sering lupa pada teori keempat, teori yang malah harusnya jadi rujukan kita dalam mengasuh dan mendidik anak.
1. Dalam agama Kristen mereka mengenal dosa asal, yang artinya semua orang sejak lahir memiliki doa bawaan, Yang bisa disimpulkan bahwa sejak lahir, manusia itu dilahirkan dari sumbu negatif.
2. Teori tabula rasa atau behaviorisme-nya John Locke, semua manusia dilahirkan dalam kondisi kosong, pengaruh dari lingkunganlah yang akan membentuknya menjadi hitam, putih atau abu-abu. 
3. Menurut teori psikoanalisis dari Sigmund Freud, semua manusia dilahirkan lengkap dengan id, ego dan super ego. Semua manusia dilahirkan dengan kecenderungan untuk berbuat positif dan negatif tergantung bagaimana ia mengelola id, ego dan super egonya.
4. FITRAH... dalam islam dijabarkan dalam QS Al A'raf: 172 dijelaskan bahwa anak itu bukan kertas kosong, sesungguhnya semua manusia dilahirkan dan diciptakan oleh Allah untuk menyukai kebaikan.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)".

Diisinilah sejatinya letak fitrah manusia. Disebutkan dalam Alqur’an surat al-A’raf ayat 172, bahwa fitrah manusia ditandai dengan perjanjian manusia dengan Allah segera setelah manusia diciptakan. Memang, tidak selamanya manusia tetap dalam ikatan perjanjian dengan Allah sebagaimana tergambar dalam surat al-A’raf itu. Manusia juga memiliki potensi negatif, sebagaimana firman Allah SWT: Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya (Q.S. Asy Syams [91]: 8). Seiring perkembangan usia dan pergaulannya, manusia hampir selalu menodai perjanjian itu atau bahkan memutuskannya. Pada kondisi seperti inilah manusia sebenarnya telah jauh dari ajaran-ajaran agama, karena lebih memberati dorongan nafsu, dorongan-dorongan untuk melakukan kejelekan dan kemaksiatan. Manusia lupa akan fitrahnya, lupa akan asal mulanya, lupa dengan janjinya kepada Allah. (Sumber: klik disini)

Dilahirkan dengan kecenderungan untuk berbuat baik dan menyukai kebaikan, lantas kenapa kemudian ada anak yang tumbuh menjadi pemakai narkoba, hamil di luar nikah, suka membantah orang tua, menjadi begal? Mari kita camkan dalam otak, hati dan jiwa kita bahwasanya pola asuh yang jahat bisa mendidik anak untuk menjadi jahat.



Lantas seperti apakah pola asuh yang benar? Di saat inilah saya merasa BERSYUKUR bisa berada di antara ratusan orang tua yang berada di Gedung Telkom, para orang tua yang biasa-biasa saja tapi MAU merubah paradigma mengenai cara MENGASUH ANAK. Dibukakanlah mata hati dan pikiran kami bahwa sebenarnya yang terbaik adalah:



Pola asuh yang mampu memahami fitrah setiap anak, bahwa setiap yang dilakukannya semata-mata bukan untuk membuat jengkel kita, tapi karena ia sedang belajar menjadi INSAN, menjadi MANUSIA yang lebih baik. Anak bermain air bukan karena ia ingin mengotori lantai, tapi ia ingin tahu seperti apa air itu. Anak bermain pasir tidak bermaksud untuk mengotori halaman, tapi ia hanya ingin tahu untuk apa pasir itu, betapa saat dipegang rasanya berbeda saat memegang tanah dan air. Anak bermain pisau hanya ingin tahu fungsi pisau, tidak sedikit pun bermaksud melukai tubuhnya apalagi orang lain. Duh, sakitnya tuh disini mengingat betapa seringnya mengomel untuk hal-hal tersebut. Betapa saat anak saya belajar, bukannya saya support, malah saya omelin.... betapa ketika rumah berantakan bukannya saya syukuri karena anak belajar malah saya jengkel dan merasa capek... :( Yuk kurangin omelan kita ke anak-anak, entah itu omelan yang disengaja atau tidak disengaja terjadi. Omelan kita sejatinya justru membuat anak terluka, sedih, marah, kecewa, jengkel dan stres.

Anak-anak Terenggut Senyumannya Karena Omelan Kita
"Kita ngomel kan ngasih nasihat, gimana mau jadi orang kalau nggak pernah dinasehatin?" Lihat anak-anak yang terlibat pergaulan bebas, terjerumus narkoba, ikut geng motor.. apa mereka tidak pernah dinasehatin? Pasti setiap hari bapak ibunya ngasih nasehat, malah mungkin sampai mblenger alias terlalu banyak. Dan kemudian lagi-lagi sebuah ilmu baru merasuk ke dalam jiwa; hey para orang tua, sadarlaaaah Memberi nasehat dan ngomel itu beda, mengajak bicara dan ngomongin anak itu hal yang tak sama. Ngomel dan ngomongin anak itu cenderung dilakukan saat anak melakukan kesalahan dan dengan nada yang tidak enak didengar. Sedang memberi nasehat dan mengajak bicara anak seharusnya disampaikan dalam waktu yang nyaman dan nada yang ramah untuk telinga, sehingga anak akan mampu menerima dan efeknya jauh lebih tertanam. Duh, berasa dijewer lagi dan lagi... 

Sudahkah kita bisa memahami anak-anak kita, mendengarkan anak dengan lebih baik? Seringnya justru ketika anak menanyakan sesuatu yang tak lazim, kita sudah ngomel duluan, akhirnya anak justru takut dan mundur perlahan-lahan. Yuk kita belajar lagi berkomunikasi dengan anak, cari tahu apa yang ia maksud, apa yang ia mau.. agar kita bisa menjadi controller bagi anak, bisa menjadi filter untuk pengaruh-pengaruh buruk yang mungkin nanti akan datang.

Dengan komunikasi yang baik dan lancar, akan lebih mudah bagi kita untuk menjadi dan memberikan PENGARUH terhadap anak, sehingga ketika tiba masanya nanti anak mulai lebih sering berada di luar rumah daripada di dekat kita, kita tak perlu cemas anak-anak kita akan terpapar pengaruh-pengaruh negatif dari teman dan sekitarnya.

Happy Family

Bismillah.. yuk sama-sama benahi diri untuk menjadi orang tua yang bisa memahami fitrah anak, dan menjaga fitrah anak agar tetap menyukai kebaikan dengan lebih mengerem omelan, lebih sering mendengarkan anak, lebih sering berbicara dan banyak cerita pada anak sehingga kita bisa memiliki pengaruh terhadap anak-anak kita. Mari kita ciptakan baiti jannati di rumah kita masing-masing :)

Moms and dads, percayalah pasti ada bedanya orang tua yang mau belajar dan tidak.... RASAKANLAH BEDANYAAAA!!! Take your seat in next PSPA... cek jadwalnya!








2 comments:

  1. Wii 20 jam, emang ngga boleh bawa bocah kalo gini biar konsen. Makasih sharingnya mba, bisa jadi bahan renungan para ortu nih untuk mendidik anak dengan baik dan penuh kasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak... kalo ada bocah mah enggak nyantol ilmunya.. yang seminar pak Angga sampe belum kutulis hehehe.... sama-sama mbak, semoga bermanfaat :)

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.