Tuesday, August 16, 2016

#NikahMuda; Awesome Gak Sih?



Sudah agak basi sih ya, tapi kayanya masih seru aja diomongin. Apalagi masuk hajj season begini, pasti akan banyak banget yang dapat undangan nikah, aku aja minggu kemarin udah langsung dapat dua, hehe.

Ngomongin soal nikah muda itu rasanya nano-nano. Masalah pro dan kontra sih wajar ya, namanya isi kepala pasti berbeda-beda, jadi ya nggak perlu saling gontok-gontokan merasa yang paling bener sendiri pendapatnya. Celotehan ini sih versiku ya, yang lain pasti punya versinya masing-masing.

Waktu pertama kali dikirimin foto suasana pernikahan Alvin putra Ustad Arifin Ilham di salah satu grup whatsapp, jujur aku nggak ngeh itu siapa dan nggak mau tahu juga, cuma mbatin aja di dalam hati… “Eh ada brondong ganteng, aku pelototin ah, siapa tahu yang di dalam perut cowok, biar ketularan ganteng”. Hehe.

Setelah aku berseluncur ke facebook, barulah aku ngeh kalau foto yang tadi aku dapat adalah sebuah berita yang cukup menggemparkan. Gimana nggak gempar, la cowok usia 17 tahun yang baru selesai pendidikan hafidz-nya berani menikahi seorang gadis pujaan hatinya yang berusia 20 tahun!

17 tahun ciiint!

Aku langsung terlempar ke sebuah masa, membayangkan usia 17 tahunku seperti apa. Nggak yang seneng hura-hura juga sih, wong hidupku penuh tragedi dan air mata, hueks.. :D. Tapi yang pasti kalau saat itu nikah, belum kepikiran juga, wong belum ada calonnya :D. Terus aku coba ingat-ingat juga teman-teman cowokku saat SMA, kayanya 17 tahun itu masih labil bin ababil banget. La kok ini ada cowok muda yang jeder berani memikul tanggung jawab sedemikian rupa… Buat aku sih awesome!!!

Apalagi setelah kepo ke sana-sini, si istri adalah mualaf yang sebelumnya juga berhasil diislamkan olehnya setelah kalah berdebat mengenai agama. Bahkan bukan hanya sang pujaan hati, bapak dan engkongnya juga berhasil diislamkan olehnya… Masya Allah

Menjadi seorang suami itu wadaw nggak mudah lo. Tanggung jawabnya nggak cuma di dunia, tapi juga di akhirat. Dan untuk putra dari seorang ustad sekelas Arifin Ilham tentu telah dibekali pendidikan yang cukup bagaimana menjadi seorang suami seharusnya. Pastinya doi meminta ijin pada kedua orangtuanya untuk menikahi sang pujaan hati tidak hanya juga soal urusan bawah perut saja alias nafsu syahwat, tapi pasti ada background yang lebih besar dari itu. Cuma kalau dijlentrehin di media pasti bisa panjang dan lamaaaa…. Dan yang pasti “not every single thing of your life should be explained through media, right?” Finally ya paling gampangnya kalau ditanya media pasti dijawab dengan singkat dan mudah, “untuk menghindari zina.”


Kalau menurutku sih nggak ada yang salah dengan alasan tersebut. Karena memang salah satu tujuan pernikahan adalah memang untuk hal itu. Meski banyak yang kemudian jadi meng-counter negatif dengan banyak pernyataan, seperti; emang nikah cuma urusan bawah perut saja, makanya banyakin kegiatan biar syahwatnya terkendali, bahkan ada yang ujung-ujungnya malah nyumpahin… palingan juga ntar kawin lagi kaya bokapnya. Waduh… yang terakhir ini bikin nyesek, tapi dibahas di lain hari aja deh, bisa panjang kalau ngobrolin soal kawin lagi, wkwkkw.

Aku sih nggak mau sok suci ya, dulu aku nggak ta’aruf-ta’arufan. Sebelum memutuskan nikah sama suami, kami pacaran dulu sekitar empat tahunan. Dari pengalaman tersebut dan berkaca dari beberapa teman di sekitarku yang juga pacaran di jaman itu, sebertanggungjawabnya pacaran  yang kita lalui ya bullshit kalau nggak ada deg deg ser-nya, pasti ada zina mesti sebesar kuaci. Nah lo, padahal dosa sekecil apapun itu pasti ditimbang.. hiks, jadi merinding sendiri.

Masalahnya masih banyak yang menggeneralisasikan bahwasanya zina itu terjadi jika sudah ada persetubuhan, esek-esek dan sebagainya. Padahal zina itu ada tahapannya, nggak langsung mak jegagik, makanya kan Allah melarang kita mendekati zina. Bayangkan bukan zinanya aja yang dilarang, dekat-dekat aja sudah nggak boleh lo! Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang keji,” (QS. Al-Isra : 32).


Dikutip dari situs ini, tahapan zina diawali dari pandangan mata (al-lahazhat), khayalan (al-khatharat), kata-kata atau ucapan (al-lafazhat), dan perbuatan konkret (al-khatahwat). Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairoh bahwasannya Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah telah menetapkan terhadap anak-anak Adam bagian dari zina yang bisa jadi ia mengalaminya dan hal itu tidaklah mustahil. Zina mata adalah pandangan, zina lisan adalah perkataan dimana diri ini menginginkan dan menyukai serta kemaluan membenarkan itu semua atau mendustainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Pertama-tama kenalan lalu saling bertatap mata, saling pandang-pandangan yang sampai menggetarkan hati  hingga gak jelas rasanya itu merupakan pintu masuk zina yang pertama. Setelah saling berpandangan, mulai deh pacaran, bergandengan tangan sepanjang taman sambil menikmati sore yang syahdu, itu tangan kita udah zina coy, tangan yang kita pegang bukan punya mahram kita. Bahkan memikirkan yang bukan mahram saja sudah zina. Oke waktu pacaran dulu mungkin kita nggak sentuhan tangan, nggak pegang-pegangan, tapi kangen-kangenan terus telpon-telponan, ujung-ujungnya bayangin wajah si doi yang jelas-jelas bukan mahram kita. Saling berkirim pesan sayang-sayangan. Piye jal kui. Ternyata tanpa sadar kita sudah masuk ke perangkap setan untuk mendekati zina lo, padahal…

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Quran Surat An Nur: 21)


Nikah Muda Silakan Saja, Asalkan…


Berhubung sekarang aku udah jadi ibu dari seorang anak perempuan, memandang pergaulan anak jaman sekarang yang semakin we-o-we, ada juga perasaan khawatir. Maka buatku menikah muda bisa menjadi sebuah solusi yang cukup ampuh untuk mengantisipasi pergaulan yang kebablasan, tentunya dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

Sebenarnya nikah muda itu sudah banyak kok yang menjalani. Sayangnya sebagian dari pelaku nikah muda yang banyak kita tahu adalah mereka yang menikah karena terpaksa alias married by accident. Dan nggak jarang yang nikahnya diawali dengan kondisi seperti ini, kehidupan pernikahannya kemudian sedikit bergelombang, bahkan banyak yang kemudian justru berpisah. Ya, karena landasan pernikahannya tidak kuat, hanya sekedar untuk menuntaskan tanggung jawab yang terpaksa ada sebelum waktunya, namun di sisi kemampuan belum benar-benar teruji. Namun tidak semua lo ya, ada beberapa yang juga belajar dari kesalahan dan kemudian live happily ever after.



Nah kalau kita lihat fenomena nikah muda yang karena pergaulan kebablasan aja bisa maklum. Kenapa kita harus heboh melihat Alvin yang mendobrak dunia dengan pernikahan mudanya yang insya Allah landasannya kuat untuk membentengi dirinya dari perbuatan buruk dan menyempurnakan setengah agamanya? Kalau aku sih support dan justru tertarik belajar dari doi dan keluarganya.

Jadi ingat saat umurku 20 tahun aku sempat ngajuin proposal pernikahan ke ibu setelah membaca buku tentang muslimah sholehah gitu deh. Ibuku yang cukup paham bahwa di dalam islam tidak ada pacaran sangat setuju dengan permintaanku itu, tapi ketika ide itu dibawa ke bapak dan eyang kangkung langsung ditolak mentah-mentah, hehe. Di satu sisi, keluarga suami juga tidak mengabulkan permintaan doi untuk nglamar aku karena dianggap belum mampu, belum lulus kuliah dan berpenghasilan. Berhubung saat itu posisiku nggak cukup kuat untuk meyakinkan keinginanku untuk menikah ya sudah manut saja. Namun nggak berani putus juga saat itu, wkwkw. Payah daah! Tahu aturannya, tapi nglanggar :D #tepokjidat.


Belajar dari pengalaman tersebut, aku malah pengennya bisa mempersiapkan anakku mampu menikah di usia muda. Sebagai orang tua jelas PR nya bagaimana menyiapkan si anak memiliki bekal yang cukup; dari pendidikan aqil baligh yang kudu sudah tuntas, bekal agama yang cukup kuat, life skill, hingga kemandirian dan entrepreneurship. Dan PR itu buatku jelas tidak mudah! Dengan ilmu yang masih seupil,  membayangkan Ifa kelak ada yang nglamar pas lulus SMA kok ya dredeg juga, hehe. Bismillah, yang penting ikhtiar dulu, kencengin doa, masalah hasil mah urusan Allah ya.

Nah, buat adik-adik atau teman-teman yang gegara lihat Alvin terus jadi kepengen nikah muda, jangan langsung grusa-grusu juga. Keputusan Alvin hingga diiyakan oleh bapaknya tentu melalui perjalanan yang panjang. Kalau Alvin tidak punya kapabilitas yang mumpuni untuk menjadi pemimpin rumah tangga, Ustad Arifin Ilham kayanya juga nggak mungkin dengan gampang meloloskan proposal pernikahannya.

So, kalau dari kaca mataku sih berikut ini beberapa syarat dan ketentuan yang wajib dimiliki jika memang berkeinginan untuk nikah muda.


Sebagaimana diriwayat-kan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu. Ia menuturkan: Kami bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai pemuda yang tidak mempunyai sesuatu, lalu beliau bersabda kepada kami:Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).' “

Maka syarat untuk menikah sudah sangat jelas yaitu MAMPU. Mampu secara apa? Secara usia, secara fisik, secara ruhiyah, secara bekal agama dan keilmuan, secara kematangan emosi, secara finansial.

Kalau dari segi usia, semuda-mudanya sih buat aku minimal baik yang cowok atau cewek sudah lulus SMA ya. Emang gak ababil banget umur segitu? Tergantung pengasuhan orang tuanya juga sih. Kalau dari kecil memang sudah dididik untuk memiliki tanggung jawab terhadap diri sendiri dan pemahaman agama yang baik, banyak juga kok yang lulus SMA sudah lebih dewasa dan tangguh dibanding yang tiga puluh tahunan. (Lagi-lagi PR buat orang tua, noted!)

Sedangkan dari segi fisik, tentu saja sudah mampu dibuahi dan membuahi. Katanya kalau dari segi kedokteran nikah muda bisa berbahaya ya. Aku kurang paham kalau yang ini, jadi biar ahlinya yang berkomentar. Tapi yang jelas kesiapan fisik tidak akan terwujud jika tidak diimbangi dengan kesiapan secara ruhiyah dan kematangan emosi.

Kesiapan ruhiyah dan kematangan emosi bisa terwujud dengan baik jika bekal agama dan keilmuan yang dimiliki juga mumpuni. Lah, kalau lulus SMA memang ilmunya udah ndakik gitu? Woi, jangan memandang seseorang dari lulusan apa deh. Banyak yang lulusan S2 tapi cuma dapat gelar, secara pengalaman, keilmuan, pengetahuan nggak lebih hebat dari yang SMA. Dan sekali lagi ini berkaitan erat dengan pola asuh orang tua. (Lagi-lagi PR!)

How about kesiapan finansial? Rumah tangga kan nggak cuma butuh cinta, butuh duit juga coy! Anak lulus SMA mana mungkin bisa kasih makan anak istri. Kalau untuk soal kesiapan yang ini, bisa beragam kondisinya.



Yang pertama, sekarang jaman udah modern, banyak anak lulus SMA yang udah punya penghasilan sendiri. Tapi kan nggak banyak, palingan cukup buat beli nasi bungkus doang. Banyak atau dikit itu relatif, tergantung bagaimana kita mensyukurinya :) #sokbijak.

Yang kedua, build your business after the wedding ceremony! Belajarlah dari pengalaman Sally, pemilik Butik Trusmi Cirebon. Doi dan suaminya menikah di usia 17 tahun. Kalau Alvin dan kisah nikah mudanya bisa jadi terasa “ya wajarlah, anak ustad pasti didikannya keren”, kita bisa terkagum dari kisah Sally yang tumbuh dari broken home family dan memilih nikah di usia 17 tahun tanpa pacaran terlebih dahulu. Dari hasil amplopan resepsi pernikahannya, mereka kumpulkan dan mulai berwirausaha. Kisah lengkapnya, bisa simak di video berikut ini.


Yang ketiga, kondisi ini butuh dukungan penuh dari orang tua. Saat kuliah aku pernah membaca sebuah buku (sayang aku cari bukunya nggak ketemu) bahwasanya tidak boleh orang tua melarang anaknya yang memiliki keinginan untuk menikah jika alasannya syar’i dan lillahita’ala. Dalam buku itu dituliskan jika anaknya belum cukup mampu secara finansial, sokonglah. Di buku itu dicontohkan, anak boleh tinggal dulu bersama orang tua sampai keadaan memungkinkan, misal anak kuliah – maka biaya kuliah tetap merupakan kewajiban orang tua, jika orang tua ridha – orang tua bisa ikut membiayai hidup sehari-hari kehidupan rumah tangga anaknya hingga anaknya mampu berdikari, namun tentunya juga dengan diberi pemahaman serta dibantu modal agar anaknya bisa berpenghasilan dan berdiri sendiri.

La iya kalau orang tuanya berkecukupan, kalau nggak mo nodong siapa? Yang Maha Kaya cuma Allah, nodong lah sama Allah :).

Orang yang menikah dengan niat menjaga kesucian dirinya, maka Allah pasti menolongnya. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Ada tiga golongan yang pasti akan ditolong oleh Allah; seorang budak yang ingin menebus dirinya dengan mencicil kepada tuannya, orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian, dan pejuang di jalan Allah.”

Allah berfirman dalam salah satu ayat;
Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan perempuan yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur [23] : 32).


Aku sendiri waktu nikah dulu sama sekali belum mapan, benar-benar mulai dari nol dan sampai hari ini pun masih berjuang. Keluargaku dan suami juga bukan keluarga yang berada hingga bisa ikut menyokong kehidupan rumah tangga kami, aku dan suami benar-benar berjuang bersama. Dari yang bener-bener nggak punya uang di tanggal tua cuma makan sama sambel dan tahu goreng, hingga bisa nyekolahin anak ke sebuah sekolah idaman yang SPP-nya cukup tinggi untuk ukuran kami. Kami nggak akan pernah mampu jika nggak ada Allah :).

Dan sungguh hingga hari ini aku selalu dipertemukan dengan kejadian demi kejadian bahwasanya betapa matematika Allah itu terkadang tidak bisa dilogika oleh akal manusia. Buat orang yang mengedepankan logika dan hitung-hitungan kasat mata, mungkin dalil-dalil di atas bisa jadi hal yang impossible, tapi aku yang notabene imannya masih secuil kuku hitam ini, yang yakinnya ma kuasa Allah kadang masih goyag-gayig aja ditolong berkali-kali olehNYA untuk masalah finansial (dan lainnya). Apalagi buat yang benar-benar ikhlas dan bergantung hanya padaNYA.

Allah yang maha besar, masalah kita di dunia ini kecil untukNYA. Jadi jangan takut nikah hanya karena merasa belum mampu secara finansial, ada Allah yang Maha Kaya J. Niatkanlah menikah untuk ibadah dan insya Allah IA akan menolong kita di setiap kesulitan yang kita hadapi. Yuk, sama-sama memahami dan meresapi kalam Allah pada surat Al Ikhlas: 2, Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.”

Terus kakak, biar bisa MAMPU menikah di usia muda ataupun di usia berapapun, gimana dong?



1.      Perkaya diri dengan ilmu agama – Jangan habiskan masa mudamu dengan hura-hura, ya dik, nak.. Beneran deh, nyeselnya saat udah tua. Seandainya waktu bisa diulang mah pengennya aku mo habisin waktu muda dengan belajar agama sebaik-baiknya. Tidak ada yang akan menolong kita selain pemahaman agama yang baik. Belajar agama itu tidak hanya melulu ngaji tilawah dan belajar tajwid lo. Itu juga penting, namun tidak cukup hanya itu. Belajar agama yang paling oke adalah ketika kita bisa menemukan esensi bertauhid, yakin dan bergantung hanya kepadaNYA, serta bisa menjadi manusia yang lebih bermanfaat bagi orang lain, nggak gampang nyinyir, dan open minded.
2.      Lengkapi dengan ilmu dunia – Akan pincang jika kita tidak melengkapi diri dengan ilmu dunia. Maka tenggelamkan dirimu dengan banyak kegiatan yang bermanfaat. Gali pengalaman sebanyak-banyaknya, bertemanlah seluas-luasnya. Belajarlah dari setiap nafas kehidupan. Jadilah anak-anak muda yang berisi otak, hati dan jiwanya.
3.      Bekali diri dengan life skill - Pintar saja tidak cukup, jadilah anak muda yang berwawasan luas. Belajarlah sesuatu yang bisa membuat hidupmu lebih mudah dan bermanfaat; menjahit, menyulam, merajut, fotografi, desain web, menulis dan masih banyak lagi yang lainnya. Kelak life skill ini akan sangat membantu untuk kita berdikari dan mandiri.
4.      Berdo’a – Karena do’a adalah seni dari segala ketakmungkinan. Ikhtiar tanpa do’a bagaikan manusia buta. Bisa mendengar namun tak tahu arah. Do’a dan munajat pada Sang Khalik yang akan menentramkan hati-hati kita juga memberikan petunjuk pada yang haq.


Empat hal di atas selain menjadi ikhtiar untuk memampukan diri menikah muda, juga bisa menjadi cara bagi anak muda membentengi diri dari keinginan untuk berpacaran. Jika tidak mungkin bagi kalian untuk menikah muda atau kita sebagai orang tua masih ragu dengan manfaat nikah muda, maka yuk ajarkan anak-anak untuk selalu menundukkan pandangan, menjaga aurat dan melakukan banyak kegiatan positif sehingga tidak mudah tergoda untuk pacaran dan terjerumus pada perbuatan-perbuatan buruk yang tidak diinginkan.

At last but not least, buat yang sudah nggak muda dan merasa tertohok dengan kisah nikah muda si Alvin beserta meme-memenya yang menyudutkan. Woles, sob… masalah jodoh, rizki, hidup dan mati mah sudah diatur sama Allah. Kalau jodohnya memang belum datang, tandanya kalian masih diberi waktu untuk terus memperbaiki diri dan menyiapkan diri dengan lebih baik.


So, nikah muda, nikah tua, nikah kapan saja… siapa takut? Kalau nikah lagi…. Ehmmmm, entar deh ya kita ngobrol lagi saat waktunya tepat, hihi. Sampai jumpa di postingan berikutnya!







4 comments:

  1. Aku juga dulu menikah muda (menurutku 20 th itu masih muda) tapi suamiku 29 tahun. Dulu keluarga yang mendesak supaya aku segera menikah, karena kondisi suamiku yg sudah memiliki penghasilan dan tempat tinggal. Jd keluargaku menyarankan utk segera menikah daripada berlama-lama pacaran. Tapi ada untungnya juga sih, anak-anakku sdh gede2 akunya masih muda..*plis jangan muntah yak :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salah satu keuntungan nikah muda itu tuh mbak.. Masih muda anak udh gede2.. Bisa lebih deket ke anak ya :)

      Dulu aku juga pengennya begitu.. Sayangnya nikah umur 23 baru dikasih rizki punya anak umur 26.. Jd gak kliatan deh nikah agak mudanya hehe :D

      Delete
  2. Iyaaa akupun langsung mbayangin kalo usia 17 tahun anankku nikah, duh rasanya pasti sedih, merasa kehilangan yaa. Jadi ortunya juga harus mempersiapkan diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayanya mo umur berapapun anak kita nikah ntar, di sela2 bahagia pasti terselip sedih dan kehilangan deh.. Habis kita terbiasa menghakmiliki yg bukan benar milik kita, hehe.

      Delete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.