NHW #1: Adab Menuntut Ilmu



Assalammu'alaikum, warohmatullahi wabarokatuh, pals...

Alhamdulillah, sudah Jum'at saja nih.. bentar lagi weekend, ada rencana ke mana? Sebelum fokus ke anak-anak dan suami saat weekend, aku mau berbagi postingan terakhir di minggu ini.

Pasti penasaran ya dengan judul postinganku, apaan tuh NHW? Jadi begini, mulai hari Senin, 15 Mei 2017 yang lalu aku mulai mengikuti Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) Batch 4. Kelas ini nantinya akan berlangsung selama 9 minggu. Nah, tiap minggu akan ada materi yang berkaitan tentang bagaimana menjadi seorang ibu profesional, ada diskusi dan ada PR yang juga harus dikerjakan. PR nya ini disebut dengan NHW alias Nice Homework. Pengumpulan NHW sesuai tenggat waktunya akan menjadi dasar kelulusan matrikulasi, apakah lulus atau harus remidi di batch selanjutnya.


Kenalan Sama IIP dan Kelas Matrikulasi

Btw, sudah tahu kan IIP? IIP didirikan oleh Bunda Septi Peni yang juga merupakan pembuat Jarimatika. Tujuan beliau mendirikan IIP yaitu untuk meningkatkan kualitas kaum ibu di Indonesia. Semakin berkualitas para ibu, maka insya Allah semakin berkualitas anak-anak dan keluarganya. Jika keluarga di Indonesia semakin meningkat kualitasnya, insya Allah kehidupan berbangsa dan bernegara pun akan semakin berkualitas pula.

Ibu Septi dan IIP
Ibu Septi dan IIP
Aku sendiri mulai kenal dengan IIP pada tahun 2011, saat memutuskan resign dan jadi stay at home mom. Meski baru aktif gabung ke grup Whatsapp nya beberapa bulan ini. Kayanya waktu jaman sekolah nggak pernah tuh diajarin bagaimana menjadi ibu, dan ketika diberi kesempatan oleh Allah jadi seorang ibu, wow... ternyata ada banyak hal yang harus dipersiapkan, kalau nggak ya kaya aku... nengok kanan nengok kiri, bingung mau dibawa ke mana 'murid'ku. 

Jadi ibu kan natural, alamiah, nggak usah belajar juga nanti bisa sendiri. Rata-rata hampir semua teman yang kusambati akan berkomentar seperti itu. Iya sih, rasa keibuan itu alamiah, begitu lihat baby di tangan kita, langsung kok tanpa disuruh ada rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Anak nangis begini, langsung bisa tahu dia butuh susu, anak nangis begitu bisa tahu anak butuh digendong, dan sebagainya. Masalahnya kan jadi ibu nggak cuma terbatas soal itu saja, apalagi jaman sudah semakin berkembang, pastinya perlu pengembangan wawasan dan pengetahuan agar lebih up to date menjawab tantangan jaman. Tahu sendiri, anak sekarang tambah kritis... kalau ibunya nggak belajar, mau jadi apa anak-anak kita kelak.

Kan ada sekolah, pilih aja sekolah paling bonafid, selesai dah. Apa sesederhana itu? Kayanya nggak deh. Bagaimanapun nanti anak-anak akan selalu menjadi tanggung jawabnya orang tua. Masa iya ntar kalau ditanya pertanggungjawaban kita sama Allah, kita bakal jawab "sudah aku serahkan ke sekolah ya Allah, tanya saja sama gurunya." Hehe, malu ah sama kucing, miaw miaw miaw.

Aku memutuskan bergabung dengan IIP karena merasa bekalku menjadi seorang ibu masih kuraaaaang banget. Dulu waktu masih ada ibu, bisa dikit-dikit tanya ke ibu. Berhubung sekarang sudah tidak ada lagi tempat bertanya, aku merasa butuh teman-teman dan fasilitator yang bisa menjawab segala keingintahuanku, terutama tentang menjadi ibu di era digital seperti ini. Berharapnya sih setelah mengikuti perkuliahan demi perkuliahan di IIP, kualitas diriku sebagai wanita, baik menjadi istri, ibu dan anggota masyarakat bisa semakin meningkat. Ada banyak kurikulum yang digeber di IIP, antara lain Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif dan Bunda Shalihah.

Kurikulum IIP
Kurikulum IIP

Namun sebelum bisa menikmati ilmu demi ilmu yang sudah disusun secara sistematis oleh tim IIP, aku wajib ikut kelas matrikulasi dulu. Sempat mau ikut batch #1 tapi lupa transfer, alhamdulillah kesampaian juga untuk ikut matrikulasi batch #4. Oiya, biaya untuk ikut matrikulasi ini sekaligus biaya keanggotaan IIP seumur hidup. So, murah banget deh. Bayar Rp. 100.000 untuk ilmu yang manfaatnya insya Allah hingga nanti menutup mata. Kuliahnya pun online, lewat whatsapp, jadi cucok banget lah buat ibu-ibu sepertiku yang masih susah kemana-mana.

Kenapa musti ikut matrikulasi? Jadi ingat jaman kuliah S1 dulu aku juga ikut kelas matrikulasi. Intinya sih biar kita lebih paham dengan materi-materi yang diajarkan, dan bisa sejalan dengan visi misi yang ada. Jadi ntar nggak kaget waktu masuk ke kelas-kelas utamanya.

Materi Matrikulasi Minggu #1: Adab Menuntut Ilmu

Sebelum belajar lebih jauh tentang menjadi ibu yang profesional, kami diberikan dulu prolog mengenai adab menuntut ilmu. Pada sebuah kajian, aku pernah mendengar bahwasanya kita perlu belajar adab sebelum ilmu. Ya, sebelum kita fokus dan meraup ilmu sebanyak-banyaknya, kita harus belajar dulu tentang adab dan akhlaq dalam menuntut ilmu.

Ilmu tanpa adab hanya akan menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat dan mudah menguap. Namun bersama adab, ilmu akan menjadi cahaya yang masuk ke relung jiwa dan memancarkan manfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga untuk keluarga dan sesama.

Derajat orang yang berilmu


Aku jadi tersentil dan diingatkan kembali nih soal adab. Jadi ingat kelakuan jahiliyahku waktu kuliah yang suka banget bolos, telat masuk kelas dan nyepelein dosen. Prinsipku saat itu, nggak masuk kelas nggak apa-apa, yang penting nilainya nanti bagus. Maafkeun aku ya pak bu dosen tercintaaah. 

Padahal jika kita sudah tahu adab menuntut ilmu, hasil itu bukanlah tujuan utama, hasil itu adalah bonus dari proses pencarian ilmu yang kita jalani. Oleh karenanya, dalam proses mencari ilmu kita harus menegakkan cara-cara yang baik; datang tepat waktu - malah kalau bisa datang sebelum guru kita datang, menghormati guru, tidak sok pintar - meski kita sudah pernah mendapat materinya, kita harus mau mengosongkan gelas agar bisa menambah kedalaman materi yang kita punya dan masih banyak lainnya. Bagi yang ingin tahu lebih lanjut mengenai adab menuntut ilmu, bisa cuzz ke postinganku di bawah ini ya. Setahun yang lalu aku sudah pernah share tentang ini.


Semoga dengan memperbaiki adab dalam menuntut ilmu, akan jauh lebih banyak ilmu yang terikat dan bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga keluarga dan sesama. Insya Allah dimulai dari ibu yang memiliki adab akan melahirkan anak-anak dengan peradaban yang baik. 

Setelah belajar dan berdiskusi mengenai materi pertama, tibalah saatnya fasilitator membagikan NHW #1. Dan eng ing eng, ada tiga pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta. Mau tahu versiku? Setelah melalui perenungan yang panjang, bismillah... ini jawabanku :)

Pertanyaan pertama pada NHW #1, peserta diminta untuk menentukan jurusan ilmu yang ingin ditekuni di universitas kehidupan ini. 

Keluarga Ibu Profesional

Usia yang bertambah, pola pikir yang semakin berkembang, dan anak-anak telah merubah banyak beberapa tujuan dan visi misi hidupku. Dulu tujuanku lempeng-lempeng aja, lulus kuliah, cari kerja dan bisa mengumpulkan uang untuk beberapa goal duniawi, Namun sejak Ifa lahir, ditambah kini sudah ada Affan, aku memiliki tujuan baru; bagaimana mendidik, mengasuh dan menumbuhkembangkan anak-anakku agar selalu sejalan dengan Quran dan Sunnah, namun tetap bisa mengikuti perkembangan jaman. Oleh karenanya jika disuruh memilih, aku ingin mengambil jurusan ilmu tentang IBU PROFESIONAL.

Di universitas-universitas paling bonafid sekalipun, jurusan ilmu ini tidak kutemukan, namun lewat universitas kehidupan, aku yakin akan ada banyak cara mencapai jurusan yang aku inginkan. Semoga saja aku bisa lulus membanggakan dari jurusan yang aku pilih ini.

Pertanyaan selanjutnya yang diajukan ialah apa alasan terkuat sehingga aku memilih jurusan ilmu tersebut. 

Alasan terkuat sudah pasti anak-anak dan suamiku. Keluarga adalah pendorong pertama dan utama kenapa aku ingin bertumbuh dan berkembang lebih baik. Sekarang aku memang telah menjadi ibu, namun masih jauh panggang dari api menuju seorang ibu profesional. “Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.” Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Al Ummu Madrasatul Ula


Aku sadar diri betapa aku jauh dari kesempurnaan. Betapa gelasku masih butuh banyak diisi, sedangkan usia anak-anakku tidak bisa menunggu. Mereka membutuhkan ibu yang bisa menjawab segala pertanyaannya, mengarahkannya pada kehidupan yang lebih baik dan menuntun mereka untuk membangun peradaban yang lebih berkualitas. Aku ingin memberikan warisan terbaik untuk anak-anakku.

Dengan segala kekuranganku, latar belakang masa laluku, inner child-ku yang masih selalu rindu dipeluk, aku selalu bertanya-tanya bagaimana caranya aku mempersiapkan anak-anakku menjadi generasi terbaik. Aku tidak ingin hanya mengikuti arus jaman, aku tidak ingin patah semangat dan terima nasib tanpa berikhtiar, dan inilah ikhtiarku; terus menuntut ilmu hingga akhir hayat. Demi anak-anakku, demi keluargaku, demi agamaku, demi negaraku.

Baca juga: Wariskan Kenangan Masa Kecil Terindah untuk Anak-anak Kita


Pertanyaan ketiga tentang strategi menuntut ilmu yang aku rencanakan.

Di dalam bayanganku, seorang ibu profesional adalah wanita yang mampu menyeimbangkan waktu antara menjadi ibu, istri dan anggota masyarakat. Seorang wanita yang mampu memaksimalkan semua kapasitas dan kapabilitas dirinya. Aku ingin tidak hanya menjadi ibu yang nyaman  bagi anak-anakku, namun juga ibu yang berwawasan luas dan mampu menjadi tempat bertanya serta berkeluh kesah bagi anak-anakku. Aku ingin pula bertumbuh menjadi istri yang lebih baik dalam memahami dan menghormati suamiku. Bisa menjadi 'rumah' yang nyaman dan selalu dirindukan olehnya. Serta aku ingin bisa berkualitas lebih baik sebagai seorang anggota masyarakat, tidak hanya menjadi anggota yang pasif, namun juga yang aktif dalam berbagi kemanfaatan kepada sesama.

Strategi Mencari Ilmu
Strategi Mencari Ilmu

Untuk mencapai goal tersebut, maka berikut ini adalah strategi yang aku rencanakan;
  1. Mengikuti Kajian Keagamaan - Agama merupakan pondasi utama dalam kehidupan. Agama adalah darah dan nafas dalam kehidupan. Aku sadar bahwasanya bekal agamaku masih jauh dari cukup, maka yang pertama aku lakukan adalah mengikuti kajian keagamaan dengan lebih baik dan disiplin. Saat ini aku memang sudah mengikuti liqo pekanan, namun sering karena rasa malas dan manajemen waktuku yang berantakan, aku bolos hadir. Aku berharap ke depannya aku akan lebih rajin dan mampu menimba ilmu tentang Quran dan Sunnah lebih banyak lagi. Aku juga ingin tidak hanya menambah hafalan, namum lebih memahami tafsir Al Quran agar aku bisa menjelaskan lebih baik kepada anak-anakku mengenai hukum-hukum Allah, juga agar aku bisa hidup sesuai dengan tuntunan yang telah disusun oleh Allah.
  2. Belajar Psikologi - Aku ingin lebih banyak belajar mengenai diriku dan bagaimana mengatasi permasalahan-permasalahan yang belum selesai di dalam diriku. Selain banyak membaca buku-buku psikologi, aku juga banyak berkonsultasi dengan beberapa rekan yang kebetulan psikolog. Pendapat mereka membantuku untuk mengenal diriku dengan lebih baik dan memaafkan hal-hal yang telah lalu. Beberapa lalu aku juga alhamdulillah mendapat kesempatan untuk belajar mengenai SEFT (Spiritual Emotional Freedom Teaching. Meski belum mengaplikasikannya secara langsung, namun aku mendapat banyak manfaat dari teknik tersebut, khususnya dalam self healing.
  3. Mengikuti Kelas Parenting - Mengasuh anak sejatinya adalah mengasuh diri kita sendiri. Secara tidak langsung dengan mengikuti kelas-kelas parenting, baik itu berupa seminar, workshop, entah itu online ataupun offline, aku diajak untuk lebih mengenal diriku sendiri. Belajar parenting membuat aku lebih terbuka terhadap kekurangan dan kelebihanku. Belajar parenting juga memaksaku untuk bisa menerima masa lalu dan segala kesalahan serta kekurangan pola asuh orang tuaku. Belajar parenting membantuku melepas emosi-emosi negatif sehingga bisa menjadi ibu yang utuh bagi anak-anakku, serta istri yang menyenangkan untuk suamiku.
  4. Belajar Menata Keuangan - Aku menyadari aku sering teledor dalam menata keuangan keluarga, banyak pengeluaran yang terjadi begitu saja dan tidak aku catat. Lalu tiba-tiba saja ketika menengok dompet, uangku telah lenyap tanpa sisa. Aku ingin belajar menata keuangan lebih baik, agar aku bisa mengalokasikan pendapatan yang aku miliki sesuai kebutuhan dan tidak lagi merasa bingung saat akhir bulan tiba. Aku juga bisa berharap bisa menabung untuk pendidikan anak-anak dengan lebih disiplin.
  5. Belajar Memasak - Dapur itu seperti monster untukku. Selalu bingung ketika dihadapkan harus memasak apa hari ini. That's why belajar memasak aku masukkan ke dalam strategi untuk mencapai tujuanku menjadi ibu profesional, agar bisa memasak lebih baik dan tidak hanya memasak menu itu lagi, itu lagi.
  6. Public Speaking - Demi bisa membagikan apa yang aku tahu kepada orang lain, aku merasa aku butuh belajar bagaimana mengomunikasikan ide yang ada di kepalaku dengan baik. Selama ini aku lebih nyaman menulis daripada berbicara di depan umum. Seringkali aku diminta oleh teman dan tetangga berbagi mengenai parenting atau beberapa hal yang dirasa aku lebih mengetahuinya, namun aku kadang merasa terbata-bata dan tidak bisa membagikan dengan utuh apa yang ada di otakku.
  7. Membekali Diri dengan Pengetahuan Digital - Dikarenakan era telah berkembang ke arah digital, maka aku harus belajar lebih banyak tentang hal-hal yang berkaitan dan diperlukan dalam kehidupan di era digital. Misalnya, si kakak Ifa menikmati menonton video-video dari YouTuber cilik, aku ingin belajar untuk mengarahkan kesukaannya tidak hanya sebagai penikmat pasif, namun juga penikmat aktif. Oleh karenanya aku juga harus belajar mengenai bagaimana membuat video dengan konten yang menarik dan berkualitas. Selain itu aku juga ingin lebih mengembangkan ilmu di dunia tulis menulis dan blogging. Ke depannya aku ingin bisa membuat infografis yang menarik dan membuat orang nyaman membaca blog ini.
  8. Belajar Membaca Cepat - Aku sangat suka membaca, namun akhir-akhir ini aku kesusahan mencuri-curi waktu untuk membaca, apalagi buku-buku berhalaman tebal. Kemarin sekilas aku melihat iklan mengenai membaca cepat, aku cukup tertarik untuk bisa membaca cepat namun tetap memahami isi buku dengan baik. Membaca adalah salah satu cara belajar yang aku sukai, karena bisa dilakukan di mana dan kapan saja.
  9. Networking - Memperluas pertemanan adalah hal yang aku butuhkan dalam mencapai tujuanku menjadi ibu profesional. Belajar sendiri itu tidak mudah, kita perlu berjamaah dan bergandeng tangan dengan teman-teman yang memiliki passion, ambisi dan cita-cita yang sama. Bagaimanapun kita akan selalu butuh teman untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran.
  10. Menambah Life Skill - Selain memasak dan menulis, aku tertarik untuk belajar menjahit. Selain untuk mengasah kesabaran, sepertinya menyenangkan bisa membuat baju untuk seluruh anggota keluarga sendiri. Aku juga punya mimpi untuk memiliki butik hasil dari jahitanku sendiri. Selain menjahit, aku juga ingin belajar tentang fotografi. Bagaimanapun, jika ingin fokus pada dunia blogging, aku membutuhkan foto-foto yang menarik, sangat menyenangkan jika bisa membidik obyek dengan tepat dan cantik.
  11. Time Management - Aku sadar hingga detik ini aku masih kacau balau dalam mengatur waktuku. Berkali-kali aku buat jadwal harian, berkali-kali pula aku langgar. Aku sadar bahwa aku perlu terus belajar untuk konsisten dan mengatur jiwaku yang moody, oleh karenanya aku wajib belajar tentang pengelolaan waktu ini dengan lebih serius. Apalagi dengan tujuanku untuk menjadi ibu profesional, time management adalah hal yang sangat penting, aku ingin bisa membagi waktu antara menjadi ibu untuk anak-anakku, menjadi istri untuk suamiku, menjadi blogger untuk kepuasan batinku serta menjadi anggota masyarakat yang bermanfaat.
Sejauh ini 11 strategi itulah yang terpikirkan dalam rencanaku untuk mencapai tujuan utamaku sebagai seorang ibu profesional.

Pertanyaan terakhir dalam NHW #1 yaitu berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang harus aku perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut. 

Aku sangat menyadari sejauh ini adab yang aku miliki dalam menuntut ilmu masih sangat kurang, aku masih suka datang telat ke lokasi belajar, aku suka menyepelekan materi yang sudah pernah aku dapat, aku juga kadang suka melihat siapa yang bicara bukan apa yang disampaikan, aku juga seringkali mencatat asal-asalan dan meletakkan buku sesukaku.

Memperbaiki Diri
Memperbaiki Diri

Maka aku pikir beberapa hal inilah yang harus aku perbaiki agar aku bisa menjadikan ilmu yang kudapatkan menjadi cahaya yang bermanfaat:
  • Memperbaiki waktu kehadiran. Sebisa mungkin sebelum guru atau pemberi materi hadir, aku sudah hadir terlebih dulu di lokasi acara.
  • Mengosongkan gelas. Ilmu terus bertambah dan berkembang, bahkan ilmu yang sama ketika disampaikan di saat yang berbeda, ataupun oleh pemateri yang berbeda bisa menghasilkan sudut pandang yang berbeda. Oleh karenanya aku harus belajar untuk tidak sok tahu, dan menyepelekan materi yang pernah aku pelajari. Mau tidak mau aku harus mengosongkan gelas agar ilmuku lebih berkembang.
  • Menghormati Guru. Aku harus fokus kepada apa yang disampaikan, bukan siapa pematerinya. Ke depannya aku tidak ingin suudzon kepada pembicara hanya karena ia usianya lebih muda, pendidikannya lebih rendah, agamanya berbeda dan sebagainya. Bahkan seekor semut sekecil itu saja bisa mendatangkan manfaat, aku harus lebih belajar untuk don't judge the book by its cover. Dengan menghormati guru dan fokus kepada apa yang disampaikan aku harap aku bisa menuai ilmu dengan lebih banyak.
  • Mencatat dengan rapi. Ikatlah ilmu dengan menulis. Sayangnya aku memiliki kebiasaan buruk dengan mencatat secara asal-asalan, hingga kemudian sesampainya di rumah aku tidak lagi bisa membaca hasil tulisanku. Aku akui memang lebih nyaman mengetik daripada menulis tangan. Oleh karenanya ke depan aku ingin lebih konsisten untuk menulis ulang catatan yang aku punya di laptop agar mudah dibagikan dan disimpan. Selain itu, dengan tidak menunda waktu memindahkan catatan ke bentuk digital, aku masih bisa mengingat apa yang aku tulis.
  • Menata Buku dengan Lebih Baik. Aku ingin merapikan koleksi bukuku dan kukelompokkan secara jenisnya, buku agama dengan buku agama, buku parenting dengan buku parenting, novel dengan novel. Aku juga ingin memberikan buku-bukuku sampul agar lebih terawat sehingga bisa digunakan oleh anak cucu nantinya. Aku juga ingin mencatat keluar masuk buku, karena banyak buku yang kumiliki hilang dan tidak kembali ketika dipinjam teman. 
Huff, elap keringat. Alhamdulillah, kelar juga NHW #1 nya. Nggak sabar menunggu materi dan NHW #2. Tunggu next week ya, insya Allah aku akan update tentang NHW #2. Oya buat teman-teman yang tertarik ikut Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #5, ditunggu saja ya, insya Allah batch #5 akan hadir di bulan Oktober 2017. See ya, wassalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh, pals!

Quote of the week MIIP Batch #4





You Might Also Like

10 comments

  1. Wah aku baru tahu loh. Ponakanku sempat ikut jarimatika. Tapi udah mandeg. Gimana cara gabung iip?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daftar aja di adminnya, nanti masuk ke grup WA mbak. Kalau tahu mbak Ade, bisa hubungi beliau mbak, beliau salah satu pengurus IIP semarang.

      Delete
  2. Saya tahu bunda cuma belum ada berkesempatan utk bergabung 🙈. Semoga nanti bisa menyusul bunda ya 😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga dimudahkan untuk bergabung.

      Delete
  3. Suka dengan kutipan ayat Al qurannya 😊, semoga aku bisa jadi segera jadi ibu dari anak kandungku sendiri 😊

    ReplyDelete
  4. walahhh gitu yaa, baru tau e

    ReplyDelete
  5. Semangat bun, insyaallah aku mendukungmu

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com