Saturday, May 27, 2017

NHW #2; Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

NHW #2; Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga


Assalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Marhaban ya ramadhan… Alhamdulillah kita bisa berjumpa lagi dengan bulan penuh kemuliaan ini ya, pals. Semoga di bulan ramadhan ini kita bisa mendapat keberkahan dan menuju perbaikan diri. Aamiin. Nggak terasa juga kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional batch #4 yang aku ikuti telah memasuki minggu kedua. Materi dan Nice Homework-nya pun semakin bikin semangat sekaligus panas dingin. NHW #2 ini mau tidak mau harus melibatkan suami dan anak untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal. Memang apaan sih NHW #2 –nya?

Materi Matrikulasi; Menuju Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga

Minggu lalu jika teman-teman ada yang sudah membaca tulisan yang aku buat untuk NHW #1, pastinya teman-teman sudah tahu bahwa salah satu goal terdekatku saat ini adalah menjadi ibu professional. Namun sebenarnya seperti apakah ibu professional, apa saja indikatornya dan bagaimana untuk mencapainya, aku sendiri masih belum bisa merumuskannya. Alhamdulillah pada materi kelas matrikulasi minggu kedua ini, semua pertanyaanku terjawab sudah.


Apa Itu Ibu Profesional

Apa Itu Ibu Profesional?

Sebelum aku bocorkan mengenai NHW #2, kita belajar dulu yuk bagaimana menuju ibu professional. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata IBU memiliki makna; 1. perempuan yang telah melahirkan seseorang; 2. sebutan untuk perempuan yang sudah bersuami; 3 panggilan yang takzim kepada perempuan baik yang sudah bersuami maupun yang belum; 4. bagian yang pokok (besar, asal, dan sebagainya): -- jari; 5. yang utama di antara beberapa hal lain; yang terpenting: -- negeri; -- kota. Sedangkan kata PROFESIONAL, memiliki makna; 1. bersangkutan dengan profesi; 2. memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Maka ketika kata IBU dan PROFESIONAL bersanding dan kemudian menjadi “IBU PROFESIONAL” bisa diartikan sebagai seorang perempuan yang : 

a. Bangga akan profesinya sebagai pendidik utama dan pertama bagi anak-anaknya.
b. Senantiasa memantaskan diri dengan berbagai ilmu, agar bisa bersungguh-sungguh mengelola keluarga dan mendidik anaknya dengan kualitas yang sangat baik.

 Apa Itu Komunitas Ibu Profesional?

Belajar itu tidak bisa sendirian, harus ada gurunya, dan tentu saja berjamaah itu lebih baik agar konsistensi dan semangat belajar bisa terjaga. Oleh karenanya dibentuklah komunitas yang mewadahi para ibu professional, yaitu sebuah forum belajar bagi para perempuan yang senantiasa ingin meningkatkan kualitas dirinya sebagai seorang ibu, istri dan sebagai individu. Itulah latar belakang mengapa Ibu Septi Peni mendirikan Institut Ibu Profesional (IIP).

Sebuah organisasi tentu saja dibangun dengan dasar yang kuat, ada misi dan visi yang mendasarinya agar organisasi tersebut bisa melangkah dengan terarah dan terukur. Begitupula Institut Ibu Profesional, mengemban sebuah tugas mulia untuk mewadahi para ibu yang ingin meningkatkan kualitas diri, berikut ini adalah misi dan visi IIP;

visi misi iip

Misi Komunitas Ibu Profesional

1.Meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anaknya.
2. Meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.
3. Meningkatkan rasa percaya diri  ibu dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya
4. Meningkatkan peran ibu menjadi "change agent" (agen pembawa perubahan), sehingga keberadaannya akan bermanfaat bagi banyak orang.

 Visi Komunitas Ibu Profesional

Menjadi komunitas pendidikan perempuan Indonesia yang unggul dan profesional sehingga bisa berkontribusi kepada negara ini dengan cara membangun peradaban bangsa dari dalam internal keluarga.

Bagaimana Tahapan-Tahapan dan Indikator Menjadi Ibu Profesional?

Indikator Menjadi Ibu Profesional

Seorang ibu baru bisa mendapat predikat professional jika ia telah “Menjadi Kebanggaan Keluarga”, tentu saja di mata suami dan anak-anaknya, karena merekalah yang paling berhak pertama kali mendapatkan ibu dan istri yang terbaik di mata mereka.

Nah, setelah kita mengenal apa yang dimaksud dengan ibu professional, maka kini saatnya kita belajar mengenai 4 tahapan yang harus dilalui oleh seorang Ibu Profesional, serta apa saja indikator yang bisa menentukan pencapaian kita dalam tahapan-tahapan tersebut.

a. Bunda Sayang – merupakan tahapan pertama dimana ibu harus memperkaya dirinya dnegan ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mendidik anak-anaknya, sehingga bisa menjadi guru utama dan pertama bagi anak-anaknya

Adapun indikator yang bisa kita pertanyakan pada diri sendiri tentang pencapaian kita di tahapan ini yaitu;

bunda sayang

  • Apakah anak-anak semakin senang dan bangga dididik oleh ibunya?
  • Apakah suami semakin senang dan bangga melihat cara istrinya mendidik anak-anak, sehingga keinginannya terlibat dalam pendidikan anak semakin tinggi?
  • Berapa ilmu tentang pendidikan anak yang kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan bersama anak-anak?

b. Bunda Cekatan – tahapan kedua dimana seorang ibu perlu menimba ilmu-ilmu untuk meningkatkan kualitas ibu dalam mengelola rumah tangga dan keluarganya sehingga menjadi keluarga yang unggul.

Indikator untuk menentukan sudah cekatankah kita, antara lain;

Bunda Cekatan

  • Apakah manajemen pengelolaan rumah tangga kita menjadi semakin baik?
  • Apakah kita sudah bisa meningkatkan peran kita di rumah? Misal dulu sebagai “kasir” keluarga sekarang menjadi “manajer keuangan keluarga”.
  • Berapa ilmu tentang manajemen rumah tangga yang sudah kita pelajari dalam satu tahun ini?
  • Berapa ilmu yang sudah kita praktekkan dalam mengelola rumah tangga?

c. Bunda Produktif – jika rasa sayang telah dipupuk dan ibu telah cekatan dalam menjalankan segala kegiatan rumah tangga, maka penting bagi seorang ibu untuk menambah ilmu-ilmu untuk meningkatkan rasa percaya diri  ibu, dengan cara senantiasa berproses menemukan misi spesifik hidupnya di muka bumi ini. Sehingga  ibu bisa produktif dengan bahagia, tanpa harus meninggalkan anak dan keluarganya.

Jika kita telah merasa bahwa selama ini kita telah produktif, mari kita lihat seberapa produktifkah diri kita saat ini?

Bunda produktif

  • Apakah kita semakin menemukan minat dan bakat kita?
  • Bagaimana cara kita memperbanyak jam terbang di ranah minat dan bakat kita tersebut?
  • Apakah kita merasa menikmati (enjoy), mudah (easy), menjadi yang terbaik (excellent) di ranah minat dan bakat kita ini?
  • Bagaimana cara kita bisa produktif dan atau mandiri secara finansial tanpa harus meninggalkan anak dan keluarga?

d. Bunda Shaleha – tahapan tertinggi dalam proses menuju ibu professional adalah dengan mempelajari ilmu-ilmu untuk meningkatkan peran ibu sebagai agen pembawa perubahan di masyarakat, sehingga keberadaannya bermanfaat bagi banyak orang.

Indikator yang harus kita nilai untuk menentukan apa kita sudah mencapai tahapan Bunda Shaleha yaitu;

bunda shaleha

  • Nilai-nilai apa saja yang kita perjuangkan dalam hidup ini?
  • Apa yang ingin kita wariskan di muka bumi ini, yang tidak akan pernah mati ketika kita tiada?
  • Program berbagi apa yang akan kita jalankan secara terus menerus?
  • Apakah kita merasa bahagia dengan program tersebut?

Menjadi Kebanggaan Keluargaku

Setelah manggut-manggut membaca materi dan ketawa-ketiwi berdiskusi dengan teman-teman sekelas, saatnya NHW #2 diberikan. PR yang diberikan kali ini cukup membuatku mengelap keringat berkali-kali karena diminta untuk menyusun“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN” baik sebagai seorang individu, istri dan ibu.

Kami diminta untuk menyusun indikator yang tidak muluk-muluk dan harus bisa dijalankan. Dalam proses menyusun checklist ini, mau tidak mau aku harus melakukan wawancara dengan suami dan anak. Dari suami, aku perlu tahu indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia. Sedangkan dari anak-anak, aku perlu tahu indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jawaban-jawaban yang aku dapat dari suami dan anak-anakku sangat sederhana, namun cukup menampar diriku bahwasanya begitu banyak hal yang harus aku perbaiki.

Oya, dalam menyusun checklist ini, wajib banget untuk memenuhi syarat SMART, yaitu;
- SPECIFIC (unik/detil)
- MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
- ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
- REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
- TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Menuju Ibu Profesional

Akhirnya dengan mengucapkan bismillahirrohmanirrohim, aku mulai menyusun checklist yang nantinya semoga bisa membantuku agar lebih baik lagi menjadi seorang individu, istri dan ibu. Bisa dibilang ini adalah sebuah tantangan yang bikin jantungku berdegup semakin cepat. Hingga saat ini entah berapa kali aku membuat checklist dan timetable untuk diri sendiri, namun selalu mandheg di tengah jalan. Ya, konsistensi alias istiqomah adalah hal yang harus selalu aku pupuk. Semoga saja dengan membagikan checklist ini, semakin banyak yang akan mengingatkan ketika aku mulai leha-leha.

Checklist yang kususun ini kuberi tenggat waktu untuk satu bulan, mumpung lagi bulan ramadhan sekalian menggembleng pribadiku agar lebih disiplin menuju konsistensi diri. Setelah sebulan, insya Allah checklist ini akan direview dan disusun ulang menurut kebutuhan. Pesan pak suami ketika akan mengerjakan tugas ini; lakukan dari yang paling sederhana dulu, biar nggak merasa susah menjalaninya. Kalau yang sederhana sudah terlewati, baru nanti buat checklist lagi.

Meski saat ngobrol dengannya lebih banyak ditanggapi bercanda dan senyum-senyum, ternyata doi serius juga mendukung istrinya biar lebih professional jadi ibu, hehe. Sempat tersentil ketika aku mulai pembicaraan dengannya, “marah nggak nih dikasih masukan, biasanya belum dikasih saran udah sewot duluan.” Hihi.. maaf ya pak suami… makasih lo sudah sabar banget menghadapi istrinya yang bawel ini.

A.      Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Individu

Jangankan sebagai seorang istri dan ibu, sebagai seorang individu saja ada banyak hal yang ingin aku perbaiki. Sebagai individu di sini aku kategorikan dalam hubunganku dengan Allah, dengan diriku sendiri dan dengan masyarakat sekitar. Berikut ini indikator yang aku susun;

a.       Menjadi individu yang lebih beriman dan bertaqwa, meliputi;

indikator individu beriman

  • Memperbaiki bacaan al Quran dengan belajar tahsin lagi.
  • Menambah hafalan yang beberapa bulan ini mandheg dan mulai menguap, setidaknya satu minggu bisa menambah hafalan satu ayat (jika panjang) dan tiga ayat (jika pendek).
  • Sholat lima waktu dengan tepat waktu, tanpa nanti dan tapi.
  • Tilawah minimal satu lembar seusai sholat.
  • Merutinkan kembali dzikir pagi dan sore.
  • Merutinkan kembali sholat sunah; dhuha, qiyamul lail dan rawatib.
  • Merutinkan kembali hadir ke kajian ilmu dan liqo pekanan.

b.      Menjadi individu yang lebih istiqomah, meliputi;

indikator individu istiqomah

  • Merangkul dan mengelola innerchild dengan cara berdialog dengan diri sendiri (muhasabah) minimal dua kali sehari saat bangun tidur dan sebelum tidur. Menuliskan 10 hal baik yang aku temui pada hari itu, menerima dan memaafkan kesalahan yang aku buat pada hari itu, serta memaafkan orang lain yang menyakitiku pada hari itu baik secara sengaja maupun tidak.
  • Menyusun ulang jadwal harian dalam mengelola rumah tangga dan menentukan konsekuensi jika hari itu tidak bisa menepati jadwal. Misal tidak memasak, maka hari itu tidak diperkenankan me time nonton drakor.
  • Update blog setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at.
  • Menata skala prioritas sebagai content writer, minimal lima artikel dalam sehari.
  • Membaca buku yang masih belum tersentuh, setidaknya satu minggu selesai satu buku.
  • Berolahraga setiap pagi setelah subuh.

c.       Menjadi individu yang memberikan manfaat kepada masyarakat, meliputi;

indikator individu masyarakat

  • Ketika menulis status atau posting sesuatu di sosial media, pastikan jika itu hal yang penting dan berguna.
  • Jangan lupakan senyum, salam dan sapa saat bertemu tetangga atau ketika hadir pada sebuah pertemuan.
  • Bersilaturahmi dengan lebih baik di dunia maya dengan cara tidak hanya menjadi silent reader di grup-grup whatsapp, memilih grup yang benar-benar dibutuhkan dan lebih banyak memberikan manfaat.
  • Ketika memiliki informasi bermanfaat, tulis di blog atau bagikan lewat pertemuan PKK di RT.
  • Kembali membantu mengajar POS PAUD di RW.

B.      Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Istri

Sebenarnya saat ngobrol dengan suami, aku sudah bisa menebak keinginannya, pasti nggak jauh-jauh dari soal mengontrol emosi. Dan ulala, tebakanku ternyata benar! Simple banget jawaban doi; “jangan emosian, urus anak dengan lebih baik dan senyum dong kalau aku pulang.” Dengan pedenya aku bilang, “masa cuma itu?” Suami terkekeh, “udah itu aja dulu, ntar kalau yang itu udah bener baru ditambah lagi.” Doeeeng.

Dan inilah indikator yang aku susun untuk bisa membahagiakan suami sesuai permintaannya dan sedikit aku tambahi menurut kebutuhanku;

indikator istri

  • Lebih baik dalam mengontrol emosi; lebih sabar kepada anak-anak, dan dengarkan dulu hingga tuntas ketika suami bicara baru berkomentar.
  • Menyambut kepulangan suami dengan senyum yang manis apapun keadaannya, termasuk ketika doi pulang terlambat.
  • Merendahkan suara. (PR banget nih buat aku yang super ngeyel)
  • Menyiapkan kebutuhan suami, seperti sarapan, baju untuk kerja, mengingatkan apa ada yang ketinggalan.
  • Mencium tangan suami saat melepas doi pergi ke kantor.
  • Memberikan suami me time (masak aku terus yang menuntut me time, suami juga butuh kali menepi sejenak dari kecerewetanku dan anak-anak).
  • Mengingatkan suami dalam hal ibadah; tilawah, sholat, datang liqo.
  • Mengalokasikan waktu ngobrol berdua.

C.      Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan Sebagai Ibu

Sebelum tanya-tanya dengan suami, aku sudah sempatkan untuk tanya-tanya dengan Ifa seneng punya bunda yang seperti apa. Dengan usianya yang baru lima tahun, keinginan Ifa pun cukup sederhana; “aku seneng kalau bunda nggak marah-marah dan nemenin aku main terus.” Lalu aku jawab, “berarti bunda nggak usah masak nggak papa ya?” Langsung ditambahi sama Ifa, “eh, masak juga. Masakin aku sop.” Masa disuruh masak sop melulu sih, kak.. bunda yang bosen dong, hihi.

Berhubung Affan baru enam bulan dan ditanyain cuma senyam-senyum sambil aoaoao, maka aku simpulkan bahwa si baby boy ini mau bundanya selalu ada di dekatnya, nggak boleh ninggalin jauh-jauh, maksimal radius 100  cm, hihi.  Lebih jauh dari itu, bisa dipastikan Affan pasti bersuara, “oek oek oek.”

Dari hasil diskusi yang unik dan lucu dengan anak-anak inilah, aku menyusun indikator sesuai keinginan mereka, tentu saja ditambah dengan beberapa goal pribadiku sebagai seorang ibu.

indikator ibu

  • Menyiapkan makanan sehat untuk anak-anak.
  • Membatasi jajan kakak Ifa; hanya boleh di hari Jum’at.
  • Melatih kemandirian Kak Ifa; mandi, makan, ganti baju, membereskan mainan sendiri.
  • Mulai membiasakan Kak Ifa dengan kemampuan beragama; sholat lima waktu, mengaji, puasa, infaq.
  • Mengontrol pemakaian gadget Kak Ifa dengan tidak lagi diberikan jadwal khusus, hanya dipinjami gadget saat ayah bunda benar-benar tidak bisa menemani dia main, maksimal 30 menit.
  • Menyusun program belajar Kak Ifa; mulai merutinkan belajar membaca, memilih playdate yang sesuai dengan minatnya – memasak cupcake.
  • Menghentikan aktivitas pekerjaan ketika kak Ifa sudah pulang sekolah.
  • MengASIhi dik Affan hingga dua tahun.
  • Memberikan stimulasi kepada dik Affan; tengkurap, berguling, merayap, duduk sendiri.
  • Merutinkan 1821; mendongeng, membaca buku bersama, main dengan anak-anak.
  • Menerapkan ilmu-ilmu parenting yang telah didapat, salah satunya menentukan konsekuensi ketika anak melanggar batasan. Misal; kak Ifa tidak diijinkan main keluar rumah pada sore hari kalau tidak tidur siang.
  • Lebih sabar menghadapi anak-anak; ketika Ifa dan Affan sedang marah/ menangis dan mulai kehilangan kesabaran, istighfar dan menepi sejenak, tidak langsung direspon secara spontan.

Karena anak-anak masih di masa-masa emasnya, maka aku mengkomunikasikan dengan suami dan memutuskan bahwa mereka saat ini adalah prioritas utamaku. Aku tidak akan lagi fokus untuk mencari penghasilan tambahan, dan memusatkan perhatian pada tumbuh kembang anak-anak. Berdasarkan evaluasiku, aku semakin kedodoran dalam mengasuh anak-anak ketika terlalu fokus dalam membantu perekonomian keluarga. Teringat wejangan bu Septi, "rejeki itu pasti, kemuliaan yang harus dicari.”

Alhamdulillah, selesai sudah NHW #2 kali ini. Doakan aku ya, pals agar bisa menepati checklist yang telah aku susun dan bisa mencapai goal-ku sebagai seorang ibu professional. Btw, teman-teman punya nggak sih standarisasi semacam ini di rumah? Share yuk di kolom komentar! Taratenkyu J

quote of the week from mii[ batch #4


Wassalammu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.














14 comments:

  1. Trims infonya, nanti kuterapin pas udah punya anak ya mbak 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak harus nunggu punya anak kok mbak, wong ibu profesional gak melulu yang udah punya anak. Memperbaiki hubungan dgn diri sendiri, Allah dan pasangan juga bisa pakai checklist ini. Temanku sekelas banyak yang belum punya anak juga :)

      Delete
  2. Listnya kece banget Mbk, semoga dapat terlaksana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Semoga mbak listnya juga dapat tercapai ya :)

      Delete
  3. semoga bisa jadi Ibu yang sesungguhnya. Kadang aku merasa jauh dari idealnya seorang Ibu. Masih belajar terus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Pastinya mbak, never ending learning process.. Itulah kehidupan :)

      Delete
  4. Alhamdulilah checklistnya bagus, semoga bisa tercapai. Amiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin. Makasih supportnya sayangkuuuh :D

      Delete
  5. Sudah sering dengar sih ttg IIP atau ibu profesional tp blm benar benar paham apakah itu IIP. Jadi ibu dan istri merupakan hal yang luar biasa. Terkadang teori saja blm cukup untuk mengatasi ujian ujian serta pelajaran sebagai seorang ibu dan istri. Diperlukan pengalaman org lain dan tentunya praktek nyata ttg apa itu istri dan ibu yang sesungguhnya. Pedoman yg paling konkret ya Alquran dan hadist sih klo mnrtku dan bergabung dalam komunitas spt IIP ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Teori saja memang tidak cukup, tapi pasti ada bedanya orang yang mau belajar dan tidak :) tentu saja Al Quran dan hadits adalah panduan yg utama, namun sebagai makhluk sosial kita pasti butuh wadah untuk berjamaah agar bisa saling mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran. Makasih sudah mampir mbak. :)

      Delete
  6. Aku selama ini berusaha aja menjadi ibu yg penyayang. Istri yg baik dan bertanggung jawa, sepanjang gaknada keluhan dari orang rumah, udh bikin aku bahagia, hihii. Tetep sih introspeksi krn manusia tempatnya salah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku orangnya super moody, masih buanyak kurangnya.. Makanya merasa butuh belajar.. Biar banyak aktivitas juga di rumah hehe.

      Delete
  7. Keren komunitasnya..mudah2an aku bs jd bunda soleha

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.