Jika Bukan Denganmu, Apa Jadinya Aku...

  • Friday, June 02, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 2 Comments





Teruntuk lelaki yang kuinginkan menua bersamaku...


Ijinkan aku mengukir pagi, 
di tengah belantara harimu. 
Dan serahkan setiap detik yang tersisa, 
'tuk bersemayam pada dermaga hatimu. 
Bilapun harus kupancang layar, 
biar aku nikmati gelombang-gelombang kehidupan di atas kapal yang kau nahkodai. 
Ada kalanya kita akan tumbang, 
tapi jangan pernah hilang arah. 
Pun 'kan tiba saat kita layu, 
namun yakinkanku kita masih bisa berarah tentu. 
Dan kala senja itu tiba, 
menantilah pagi bersamaku; 
"SETIA PADA JANJI"


Masihkah kau ingat dengan syair ini? Sebuah syair yang kubacakan di tengah resepsi pernikahan kita. Hari itu.. aku masih bisa mengingatnya dengan jelas bagaimana jantung berdegup menantimu membacakan ikrarmu, bukan padaku, bukan pula pada orang tuaku, tapi padaNYA - Sang Pemilik Hidup.



Di antara sekian banyak lelaki di dunia... kenapa Allah mempertemukan aku denganmu lantas menyatukan kita dalam sebuah mahligai pernikahan? Seringkali terbersit tanya di hatiku... pernah menyesalkah dirimu menjatuhkan pilihanmu atasku - di antara sekian banyak wanita yang pernah dekat denganmu.. akhirnya akulah yang kau mahkotai sebagai dewi dalam kehidupanmu.

Walaupun dirimu tak bersayap... ku akan percaya
kau mampu terbang bawa diriku.. tanpa takut dan ragu
Walaupun kau bukan titisan dewa.. ku takkan kecewa
karena kau jadikanku sang dewi dalam taman surgawi

Hari ini aku dipaksa menengok ke belakang kenapa aku menerima pinanganmu, kenapa aku mau dijadikan partnermu mengarungi hidup dan apa yang membuatku jatuh cinta kepadamu. Jika dipikir-pikir mungkin kita menjalani hidup terlalu sederhana... kita bertemu karena takdirNya. Perbincangan demi perbincangan yang kemudian mendekatkan kita. Aku merasa bertemu dengan muara yang aku cari.

Kau datang saat aku tak bisa menerjemahkan hidupku. Saat hati penuh amarah namun tak tahu kemana harus mengadu, serta meluapkan. Saat air mata dengan kencang ingin tumpah tapi tak tahu di mana harus diteteskan. Saat aku di titik merasa menjadi sesosok yang tak berharga, tak dicintai, tak diinginkan. Saat itu, di ulang tahunku yang ke-sembilan belas, aku berbisik pada Allah... "aku lelah sendirian, bolehkah aku meminta seorang sahabat yang bisa menemani perjalananku..."

Saat itu aku sudah mulai sedikit tahu bahwasanya tidak ada pacaran di dalam agama yang kita anut. Namun rasa kesepian ini semakin akut, meski di sekitarku ada banyak bahak tawa, ada banyak riuh rendah gerombolan orang yang mengaku teman... toh aku tetap merasa sendirian di sudut ruangan, menatap nanar tanpa ada yang tahu tentang kesunyian ini.

Seketika kau hadir tanpa babibu menawarkan sebuah kesempatan untuk menjalin hubungan, aku pun enggan menolaknya. Kemudian kita terhanyut dalam satu pembicaraan ke pembicaraan selanjutnya. NYAMAN. Itulah hal pertama yang kau berikan untukku. Kita bisa bicara tentang apa saja, tentang musik, tentang kegiatan kita di kampus, tentang keluarga, tentang masa depan, tentang apa saja. Aku selalu suka saat-saat bicara denganmu, bahkan hingga saat ini.

"Kita tak akan mengulangi apa yang orang tua kita lakukan..."

Itulah yang semakin menguatkan kenapa aku ingin bersamamu. Dan rasanya itulah kenapa Allah mempertemukan kita. Dengan latar belakang keluarga yang hampir sama, kau mampu merespon rasa sakit yang ada dengan berbeda. Tanpa sadar aku terjebak dalam amarah demi amarah, dendam demi dendam, luka demi luka yang kemudian membunuh jiwaku secara perlahan. Namun dirimu dengan rasa sakitmu tetap mampu tersenyum. Darimu aku belajar tentang sebuah PENERIMAAN terhadap masa lalu. 

Baru saja aku mengagumimu... tanpa sengaja kau menorehkan luka. Kecil. Sepele. Entah kenapa untukku bekasnya tak jua hilang. Sebuah luka yang kemudian menghadirkan kebodohan-kebodohanku, berulangkali menyakitimu. Sebuah luka yang hadir karena aku belum mampu merangkul inner child-ku. Karena perasaan yang begitu rentan ini, membuatku tak pernah cukup akan semua bukti-bukti cinta dan kesetiaanmu. Dan mimpi-mimpi buruk pun mulai hadir dalam hubungan kita.

Baca juga: #DuaKacamata; Tidak Diakui Anak? Sakitnya Tuh Di Sini

Aku selalu minta kau memilih antara aku atau teman-temanmu yang tak kusukai. Aku selalu ingin tahu 24 jam kamu berada di mana, dengan siapa, sedang berbuat apa. Aku selalu curiga pada setiap perempuan yang ada di dekatmu, aku selalu cemburu buta terhadap mereka-mereka yang pernah memiliki hubungan di masa lampau denganmu. Kamu harus selalu ada dalam kontrolku. Gila. Posesif. Childish.



Dan kamu... BERTAHAN. Entah apa jadinya aku, jika itu bukan kamu. Pasti aku sudah ditinggal di tengah jalan. Tapi kamu tidak, kamu selalu menungguku untuk berubah. Kamu yang selalu kuusir setiap kali amarahku memuncak, selalu pura-pura pergi lalu datang kembali dengan senyum dan jiwa yang besar. Kamu yang selalu kucaci maki setiap kali ada hal yang tak sesuai dengan inginku, hanya mampu menghela nafas menunggu emosiku reda, lalu memelukku sambil berbisik, "maafkan aku." Aku yang salah, tapi kamu yang minta maaf.

Begitulah.. hampir empat tahun kita jalani kebersamaan dengan cara paling aneh. Namun ketika teman seangkatan kita belum ada satupun yang memutuskan menikah, kita justru menjadi pelopor. Teman-teman dekat kita pasti bertanya-tanya akan seperti apa pernikahan kita nantinya? Aku masih 23 saat itu, dan kau 27. Jiwaku yang belum stabil tidak membuat pernikahan jauh lebih mudah. 

Apalagi setelah aku kehilangan calon anak pertama kita setelah tiga bulan menikah. Blighted ovum. Kuretase pertama yang harus kujalani. Aku merasa kosong. Luka yang belum selesai ditambah dengan rasa kehilanganku justru membuatku semakin menjadi-jadi. Kamu selalu saja salah di mataku. Awal-awal pernikahan yang seharusnya indah, justru penuh rentetan-rentetan drama yang tak semestinya ada.

Tidak mudah.. terseok dan tersungkur berapa kali.. tak terhitung. Entah berapa kali kapal yang kita tumpangi hampir karam diterpa ombak. Jika bukan kau nahkodanya, mungkin sudah terpelanting kapal ini dan hancur berkeping-keping. Kegilaanku tak berhenti, aku bahkan membuat lubang sedemikian besar di hatimu. Sebuah kejahatan yang sungguh tak bisa diberi ampun. Namun kau masih saja BERSABAR dengan segala tingkah polah istrimu ini. Meski tak lagi sama, meski ada yang hilang...

Hingga akhirnya Allah memberikan amanah; seorang gadis kecil yang lucu dan polos hadir dalam kehidupan kita. Dia mengubah segalanya. Demi memperbaiki keadaan, baik secara ekonomi maupun ruhiyah. Kau memilih bekerja di luar kota. Saat itu aku merasa kau egois. Di saat aku membutuhkan dukunganmu, membutuhkan kehadiranmu jauh lebih sering dari sebelumnya, kau justru memilih tinggal berjauhan denganku. Namun kini aku telah memahami pilihanmu itu.

Hampir satu tahun kita menjalani pernikahan jarak jauh. Tinggal berjauhan ternyata membuat kita mengerti bahwasanya kita masih saling membutuhkan, saling merindukan. Benih-benih cinta yang hampir usang, mulai hadir. Pertemuan demi pertemuan setiap akhir minggu menjadi hal yang dirindukan. 

Meski begitu lukaku masih saja belum tuntas jua. Gadis kecil itu sering sekali menjadi korban atas kebodohanku. Aku tahu ada yang salah dalam diriku. Aku mulai mencari bekal bagaimana menjadi orang tua yang sepantasnya untuk anak kita. Kau pun memberikan DUKUNGAN terbaikmu. 

Dari satu buku ke buku lainnya. Dari satu seminar ke seminar lainnya. Bukan hanya memberikan ijin untuk hadir pada acara-acara yang kurasa bisa membantuku 'memperbaiki' diriku, kamu pun mau meluangkan waktu untuk BELAJAR bersamaku. 


Makin aku cinta.. cermin sikapmu 
yang mampu meredam rasa keakuanku
mengerti memahami cinta



Baca Juga: Mendadak Tulus


Untuk lelaki yang hingga kini sudi bertumbuh denganku,

Aku selalu suka melihatmu bermain dan tertawa-tawa dengan Ifa dan Affan. Rasa-rasanya semua keinginan masa kecilku yang tak terpenuhi untuk bisa selalu dekat dengan bapak, kau wujudkan semua dengan menjadi ayah terbaik untuk mereka. Bahkan seringkali iri dan cemburu menyusup di hati, melihat Ifa bergelayut manja padamu... Aah, berebut lelaki dengan anak sendiri.. lucunya... 

Beberapa waktu lalu aku tergugu ketika kasus MH mencuat di ranah gosip negeri ini. Bagaimana seorang artis cantik bergelar doktor itu bisa demikian cemburu buta dengan mantan kekasih suaminya. Hingga sebuah caption cantik pada postingan instagram sang putri menohokku. Air mataku tumpah.






Aku membayangkan jika putriku yang menulis rentetan kata itu. Tetiba saat itu juga aku mengirimkan pesan untukmu, "bawa anak-anak pergi jika aku tak kunjung sembuh dari semua luka ini." Seperti biasa kamu hanya menanggapi dengan emot senyuman dan gurauan, sembari berulangkali menawarkan bahu sebagai tempatku berteduh.

MH bisa saja punya IF. Tapi aku punya kamu.. bedanya aku tak ingin stagnan seperti MH, aku tak ingin terkungkung pada diri yang selalu merasa benar. Aku tak ingin hanya aku saja yang bahagia, namun juga kamu, pun anak-anak. Proses ini, jatuh bangun ini tak pernah mudah... namun denganmu di sampingku, juga binar-binar mata buah hati kita... aku sadar aku harus menjadi pemenangnya. Sudikah kamu menungguku hingga proses itu menuju akhirnya?

Ini persembahanku untukmu...



Karena kamu.. nyali terakhirku. Ketika semua orang melihatku sebagai sosok yang kuat dan tegar, hanya kamu yang paling tahu betapa mudah pecahnya aku. Saat ini, ketika tak ada lagi Tyas.. tak ada lagi Yangti.. tak ada lagi Bapak.. tak ada lagi Yangkung.. tak ada lagi Ibu.. kamulah satu-satunya yang bisa membantuku berdiri tegak. Tanpamu, aku tak tahu bagaimana menjadi ibu untuk anak-anak kita. Tanpamu, aku tak tahu bagaimana menatap hidup dengan senyuman. Tanpamu, aku tak akan punya kekuatan untuk bertumbuh lebih baik tiap harinya. Entah apa jadinya aku jika bukan denganmu mengarungi hidup ini. Aku bahkan tak sanggup membayangkannya. 

Hari ini aku dipaksa mengingat-ingat tentang semua peluhmu untuk keluarga kecil kita, untuk kesabaran yang seperti tak pernah habis menghadapiku, tentang tanganmu yang begitu ringan membantu pekerjaan-pekerjaan rumah tangga saat kamu sendiri sudah begitu lelah dengan seabrek pekerjaan di kantor, tentang keinginanmu untuk belajar menjadi ayah yang lebih baik.. Terima kasih untuk semuanya.

Sebanyak apapun kata, sepanjang apapun tulisan.. tidak akan mampu bisa mewakili semua rasa yang bergejolak di dada. Kamu sering bertanya, "menyesalkah hidup denganku?" dan aku selalu menjawab dengan bercanda, "nyesel." Atau lain waktu kau akan bertanya, "kenapa masih bersamaku?" kujawab dengan asal "terpaksa."

Sungguh, sekalipun aku tidak pernah menyesal melabuhkan hati padamu, mengarungi hidup denganmu. Tak pernah sedikitpun terpaksa menjalani hari demi hari bersamamu. Meski seringkali kau buatku jengkel karena meletakkan pakaian dan barang sesuka hati, pulang tak tepat waktu, jika sudah keasyikan kerja aku harus menelponmu berulang kali baru ingat pulang, sering lupa ini itu, suka menunda-nunda rencana, tidak tegas akan beberapa hal... Semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan semua hal yang telah kau berikan untukku. 

Meski tak selalu bahagia, meski tak sempurna, namun kuyakini engkaulah yang Allah kirim untukku. Maka nikmat Tuhan manakah yang akan aku dustakan? Menjadi bagian hidupmu adalah salah satu skenario terbaik dariNYA. Terima kasih untuk KEPERCAYAAN dan KESEMPATAN yang selalu kau buka lebar untukku. Terima kasih untuk semuanya, lelakiku. You're my pills, you're my wings, you're my home.

13 tahun mengenalmu, 9 tahun menjalani mahligai pernikahan.. masih singkat... masih akan ada banyak kisah di depan sana. Ijinkanku tetap menggenggam tanganmu, karena jika bukan denganmu.. apa jadinya aku. Semoga ke depannya kita bisa lebih baik lagi; saling mengingatkan, saling memahami, saling melengkapi, saling bersatu padu membesarkan putra putri kita - membangun peradaban dari dalam rumah. Sehidup sesurga... semoga kita bisa. 

Doaku untukmu semoga Allah senantiasa melindungimu, memberimu keberkahan hidup, dan mencintaimu. Semoga aku bisa lebih baik dan lebih baik lagi dalam membersamaimu... Dan semoga kau pun tak berhenti bertumbuh, menjadi insan yang lebih baik dan lebih baik lagi.. untuk dirimu sendiri, untuk anak-anak, untukku dan yang terpenting untuk DIA Sang Pemilik Hidup :) 






Dari wanita yang selalu tak bisa jauh darimu,



You Might Also Like

2 comments

  1. Terima kasih bun, jadi merasa dibutuhkan ������

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bacanya nggak sambil setengah tidur kan, yah? :D

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com