Sunday, July 23, 2017

NHW #8; Menemukan Misi Spesifik Hidup Agar Semakin Produktif

NHW #8; Menemukan Misi Spesifik Hidup Agar Semakin Produktif


Assalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.


Aku mulai mengetikkan huruf pertama untuk postingan ini tepat ketika Sabtu malam bergulung menjadi Minggu dini hari. Buatku waktu paling syahdu untuk menulis memang di jam-jam ini. Saat anak-anak sudah terlelap dalam tidurnya, suasana di luar juga sunyi, membuat aku lebih mudah fokus menyelesaikan apa yang ingin aku sampaikan lewat tulisanku.

Namun lebih baik jangan begadang ya, nggak baik buat tubuh. Aku sendiri sudah tidur sebelum bangun dini hari seperti ini. Kali ini aku kembali akan melanjutkan catatanku tentang kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional Batch #4 yang telah berjalan hingga minggu ke delapan. Setelah minggu lalu, para peserta matrikulasi semakin mengenal potensi diri lewat tes talent mapping sederhana yang dilakukan lewat www.temubakat.com, minggu ini kami diminta untuk menggali lebih dalam tentang misi spesifik hidup.

Rempong banget sih musti begini begitu, sudahlah mengalir saja. Allah menciptakan kita di dunia pasti memiliki maksud tertentu. Masa iya sih kita nggak ingin tahu apa sebenarnya yang Allah inginkan dari diri kita. Kenapa kita diminta melewati kejadian A, B, C hingga Z. Kenapa kita dipertemukan dengan si A, B, C hingga Z. Kenapa Allah membekali kita dengan kemampuan A, bukan kemampuan D, padahal kita ingin bisa melakukan D. Ada banyak rahasia yang harus dipecahkan di dalam hidup, agar hidup kita semakin memiliki arah dan kita bisa menjadi lebih produktif setelahnya.

NHW #8 kali ini berkaitan sangat erat dengan NHW sebelumnya. Jika pada minggu lalu aku dipertemukan dengan sebuah inspiring word "rejeki itu pasti, kemuliaan harus dicari", yang membuatku semakin menyadari bahwasanya produktivitas hidup kita ini tidak akan selalu diukur dengan berapa rupiah yang akan kita terima, melainkan seberapa meningkat kemuliaan hidup kita dimata Allah dan seberapa manfaat hidup kita bagi alam semesta.

Pada minggu ini aku semakin dikuatkan dengan "be professional, rejeki will follow". "Be professional" artinya sangat penting bagi kita untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan peran. Kesungguhan dan keistiqomahan seseorang dalam menjalankan peran hidupnya akan meningkatkan kemuliaan dirinya di mata Allah dan kebermanfaatan untuk sesama.


Sedangkan “rejeki will follow" bermakna bahwasanya rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya seiring dengan bersungguh-sungguhnya seseorang menjalankan apa yang dia BISA dan SUKA.


Jika selama ini kita masih saja memusingkan uang, uang dan uang demi bertahan hidup. Bahkan tak jarang kita rela melakukan hal yang sebenarnya tidak kita sukai dan nikmati, hanya demi mendapatkan segepok uang. Maka saat ini sudah saatnya kita untuk berbenah. Tanya pada diri sendiri benarkah yang kita jalani ini sungguh-sungguh kita sukai dan nikmati, ataukah ada hal lain yang lebih bisa membuat kita berbinar-binar?

Aku jadi teringat dengan seminar Ayah Edy yang aku ikuti beberapa tahun lalu. Orang tua seringkali mencekoki anaknya untuk sekolah yang tinggi, dapat nilai bagus biar gampang cari kerja. Kalau sudah dapat pekerjaan, pastikan kumpulkan uang yang banyak biar bisa hidup bahagia. Nyatanya setelah lulus kuliah, saingan untuk mendapatkan sebuah pekerjaan sudah kaya mau antre sembako murah. Bahagia? Sayangnya banyak yang tidak. Rata-rata justru banyak yang bilang mereka salah jurusan bertahun-tahun dan tidak menikmati pekerjaannya.

Saat itu Ayah Edy mengajak para orang tua yang hadir untuk mengubah mindset-nya. Bahagia itu bukan dijadikan tujuan. Namun kita harus dalam kondisi bahagia agar bisa mencapai sebuah tujuan. Kita harus tahu apa yang kita sukai, lalu jalani dengan sepenuh hati. Hal yang membuat mata kita berbinar-binar tentunya akan membuat kita lebih bersungguh-sungguh dalam menghadapi segala rintangan yang nantinya akan kita hadapi.

Kalau Ayah Edy bilang "do your passion, money will follow", bu Septi menyampaikan "uang akan mengikuti sebuah kesungguhan, bukan bersungguh-sungguh karena uang." Btw, aku baru saja menghadiri talkshow bareng Bu Septi pada Sabtu, 22 Juli 2017. Ada banyak hal inspiratif yang kutemukan, insya Allah nanti aku tuliskan di postingan tersendiri ya.

Sudahkah Misi Spesifik Hidup Diketemukan?


Pada dasarnya menemukan misi hidup itu tidak ada hubungannya dengan usia seseorang. Semakin awal seseorang merasa “galau” kemana arah hidupnya, semakin “risau” untuk mencari sebuah jawaban “mengapa Allah menciptakan dirinya di muka bumi ini?” maka semakin cepat akan menemukan misi hidup.

Kalau di pendidikan berbasis fitrah, proses ini secara alamiah akan dialami oleh anak-anak pre aqil baligh akhir (sekitar 10-13 tahun) dan memasuki taraf aqil baligh (usia 14 tahun ke atas). Kalau sampai hari ini ternyata kita masih galau dengan misi hidup kita, maka bersyukurlah, karena kita jadi tahu kesalahan proses pendidikan kita sebelumnya, sehingga nanti tidak perlu lagi mengalami kegalauan tersebut pada usia paruh baya yang banyak dialami oleh sebagian besar manusia (mid-life crisis).

Maka sekarang, jalankan saja yang kita BISA dan SUKA tanpa pikir panjang, karena Allah pasti punya maksud tertentu ketika memberikan kepada kita sebuah kemampuan. Apabila kita jalankan terus menerus, kemungkinan itulah misi hidup kita.



Seseorang yang sudah menemukan misi hidup tersebut apabila menjalankan aktivitas produktif akan lebih bermakna, karena keproduktivitasannya digunakan untuk mewujudkan misi-misi hidupnya. Sehingga selalu memiliki ciri-ciri :
a. Selalu bersemangat dengan mata berbinar-binar 
b. Energi positifnya selalu muncul, rasanya tidak pernah capek. 
c. Rasa ingin tahunya tinggi, membuat semangat belajar tinggi 
d. Imunitas tubuh naik, sehingga jarang sakit, karena bahagia adalah imunitas tubuh yang paling tinggi.

Mataku Berbinar-binar Saat....



NHW #8 ini disusun untuk mempermudah para peserta kelas matrikulasi Institut Ibu Profesional dalam menemukan misi spesifik hidupnya. Berikut ini langkah-langkah untuk menemukannya;

a. Mengambil salah satu aktivitas yang telah aku tulis di kuadran SUKA dan BISA.

Aku memutuskan untuk mengambil aktivitas "menulis" karena memang hal itulah yang paling bisa membuatku berbinar-binar dan bersemangat, hingga sering lupa waktu kalau sudah melakukan aktivitas tersebut. Meski begitu ke depannya, aktivitas tersebut harus dikombinasikan dengan aktivitas lainnya untuk mencapai tujuan yang aku inginkan.

b. Kini saatnya aku harus menyelesaikan tantangan “BE DO HAVE” di bawah ini : 

1. Aku ingin menjadi apa ? (BE)
Saat ini aku ingin menjadi penulis yang bisa menghasilkan karya-karya yang lebih bermanfaat, tidak hanya untuk diri sendiri, namun juga bagi mereka yang membacanya. 

2. Aku ingin melakukan apa ? (DO)
Menulis, menulis, menulis lebih banyak lagi. Namun untuk bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas, maka aku harus lebih banyak membaca buku berkualitas, bersilaturahmi dengan orang-orang yang menginspirasi, menghadiri kegiatan-kegiatan yang membawa banyak kemanfaatan, traveling ke tempat-tempat baru untuk memperkaya wawasan dan pengalaman. Belajar teknik menulis agar bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik lagi. Belajar lebih dalam tentang SEO, Vlogging dan monetize blog/ vlog. Belajar melakukan self-editing agar tulisan lebih enak dibaca dan mudah dipahami.



3. Aku ingin memiliki apa? (HAVE)
- Melanjutkan Marita's Palace dengan menulis lebih banyak artikel bermanfaat bagi pembacanya.
- Mengelola lebih dari satu blog dan bisa konsisten untuk menghadirkan postingan-postingan baru.
- Menyusun buku duet bersama suami bertema parenting tentang pasangan yang tumbuh sebagai broken home child dalam mengasuh buah hatinya.
- Menyelesaikan draft-draft lama menjadi novel atau memoar sebagaimana yang direncanakan sebelumnya.
- Mengadakan kelas menulis blog untuk para ibu tetangga, remaja, dan teman-teman komunitas yang membutuhkan.
- Mendirikan agensi penulisan dan penerbitan.

c. Untuk lebih mengkerucutkan tujuan hidupku, terutama berkaitan dengan hobi menulisku, maka aku harus menyusun rencana pada 3 aspek dimensi waktu di bawah ini: 

1. Apa yang ingin aku capai dalam kurun waktu kehidupanku (lifetime purpose):
- Menghasilkan karya yang bermanfaat entah itu melalui blogku atau tulisan-tulisan yang nantinya bisa aku bukukan. 
- Aku ingin bisa memfasilitasi orang-orang yang ingin belajar menulis, khususnya mereka yang ingin writing for healing, mereka yang memiliki inner child, para remaja yang memiliki kesulitan berkomunikasi  atau bermasalah dengan orang tuanya, para ibu yang ingin memiliki portofolio online buah hati mereka.
- Menjadikan tulisan-tulisanku sebagai warisan dan kenangan untuk anak-anakku. Untuk itu aku ingin menuliskan lebih banyak tentang perjalanan hidupku bersama mereka; jatuh bangunku untuk menjadi ibu profesional bagi mereka. Aku ingin menjadi ibu yang tak pernah berhenti belajar, agar anak-anakku juga tumbuh menjadi lifetime learners.

2. Apa yang ingin aku capai dalam kurun waktu 5-10 tahun ke depan (strategic plan):
- memiliki kelas blogging bagi pemula untuk tetangga dan teman-teman komunitas yang membutuhkan.
- memiliki lebih dari satu blog; 1 blog dengan 1 niche tertentu.
- menerbitkan buku solo dengan tema parenting.
- membuka lapangan kerja dengan mendirikan agensi penulisan dan penerbitan yang mewadahi penulis-penulis pemula.



3. Apa yang ingin kita capai dalam kurun waktu satu tahun (new year resolution):
- Menjadikan Marita's Palace dalam keadaan stabil; posting setiap hari Senin, Rabu, dan Jum'at atau minimal empat postingan dalam satu bulan.
- Memfasilitasi teman-teman yang ingin belajar blogging bersama di rumah.

Alhamdulillah akhirnya terjawab sudah semua pertanyaan pada NHW #8 ini. Namun ini baru awalan, selanjutnya yang aku butuhkan adalah mulai berkomitmen untuk “BERUBAH” dari kebiasaan-kebiasaan yang aku pikir memang harus diubah, terutamanya dari sifatku yang moody dan suka semau gue.

How 'bout you, pals? Ada yang sudah menemukan jugakah misi spesifik hidupnya? Kalau sudah, selanjutnya kita perlu menyusun langkah-langkah usaha apa saja yang bisa kita lakukan untuk menunjang sebuah produktivitas hidup kita. Kita bisa mulai dengan menetapkan target waktu dan jadwal kegiatan selama satu tahun, serta menentukan ukuran atau indikator keberhasilan dalam setiap kegiatan yang kita lakukan. Yang paling penting adalah membuat prioritas dan pilih hal-hal yang memang kita perlukan. Hindari membuat daftar yang terlalu panjang, karena hal tersebut bisa membuat kita “gagal fokus”.

Semoga bermanfaat ya, pals. Jangan menunggu sukses untuk berbahagia. Berbahagialah dan sukses pun akan datang. Thanks for reading, sampai jumpa di postingan berikutnya!

Wassalammu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh.












6 comments:

  1. Setuju banget mbak bahwa rejeki setiap orang itu sudah pasti, yang membedakan adalah nilai kemanfaatan dan keberkahannya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga kita bisa menjadi manusia2 yang bisa memanfaatkan rejeki sebaik2nya ya. Makasih sudah mampir.

      Delete
  2. Sampai saat ini misi hidup saya masih abu-abu mbak,. saya juga menglami betul bahwa jurusan kuliah tidka sesuai dengan passion saya. Tetapi setelah diwisuda sekarang saya harus semangat terus, saya tidak mau jadi sarjana pengangguran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin bisa dicoba ikut talent mapping sederhana di web www.temubakat.com biar semakin mengenal potensi diri. Makasih sudah mampir.

      Delete
  3. Misi saya saat ini adalah membahagiakan keluarga

    ReplyDelete

Would you mind telling me your opinion about this?
Mohon untuk tidak meninggalkan link hidup.


Thanks for visiting, pals.