Sudah Tahukah Siapa Sahabat Terbaik Kita?

  • Thursday, July 13, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 11 Comments






Assalammu'alaikum, pals.

Postingan ini tertunda hampir sebulanan lebih. Harusnya sudah tayang sejak bulan ramadhan lalu karena merupakan 'PR' #ArisanBlogGandjelRel periode keempat

Kali ini aku mau menggeber cerita mengenai SAHABAT. For your information, tema ini dipilih sama si womanpreneur, Agustina Dwi Jayanti yang akrab dipanggil Tina. Aku salut deh sama doi, semangatnya untuk membangun kerajaan bisnisnya, Frozen Kuro, begitu menggebu. Setiap saat dia rajin ikut pelatihan ini itu biar wawasan bisnisnya semakin berkembang. Semoga Frozen Kuro semakin besar dan besar. Aamiin. Oya, meski sibuk ngurusin bisnisnya, Tina ini masih punya waktu untuk menggeluti passion-nya di dunia literasi lo. Bahkan doi udah punya beberapa karya yang kereen bingit. Sukses terus lah buat Tina.

Partner in crime si Tina dalam pemilihan tema #ArisanBlogGandjelRel periode keempat ini adalah mbak Nurul. Beliau ini selalu mengulas tentang parenting di blognya. Buat emak-emak baru dan lama yang pengen tahu banyak tentang parenting, boleh banget lo main-main ke blognya; Seni Mendidik Anak :) Di sana dibahas banyak hal dari kesehatan sampai proyek-proyek yang bisa kita kerjakan bareng anak, khususnya yang berencana homeschooling.

Dua orang sahabatku dari komunitas Blogger Gandjel Rel ini memiliki sebuah persamaan; sama-sama menginspirasi. Tina dengan semangat juangnya yang luar biasa, meski kadang mudah baper, ups... kabur aah, ntar digetok lagi sama doi. Lain Tina, lain pula Mbak Nurul yang memiliki semangat berbagi informasi yang bermanfaat khususnya di bidang parenting.

Ngomongin soal sahabat, jujur aku paling susah menyematkan kata sahabat untuk orang lain. Ada banyak teman di sekelilingku, baik itu teman yang sekedar say hi ataupun teman yang benar-benar dekat dan sedikit banyak tahu tentang aku dan kehidupanku. Namun aku tidak mudah percaya pada orang lain untuk memasuki kehidupanku dan berselancar di dalamnya. Jangankan sama orang lain, sama diriku sendiri saja kadang aku nggak percaya, wkwkwk. Kalau kata suami "syirik kamu kalau percaya sama orang lain, percaya itu ya sama Allah." #langsungpingsan



Kalau disuruh memilih siapa sahabat terbaik, saat ini jelas jawabanku adalah suami dan anak-anak. Hingga detik ini suami adalah orang yang paling bisa aku percaya untuk berbagi cerita apapun, baik itu suka dan duka. Sedangkan anak-anak adalah sahabat kecil yang bisa menjadi teman sekaligus guru untukku. Tapi kali ini aku sedang tidak ingin membicarakan episode keseruan hidupku bersama mereka atau seberapa penting mereka untukku. Aku ingin membahas sahabat dari sudut pandang yang lain.

Berkali-kali merasakan kehilangan orang-orang tercinta  dalam rentang waktu yang tidak begitu panjang, memaksaku untuk siap berdiri sendiri. Meski jujur, nggak akan pernah siap. Terasa sekali ketika lebaran yang lalu berkumpul dengan keluarga besar, melihat keluarga om dan bulik yang masih utuh, ada rasa bahagia karena masih bisa berkumpul dengan mereka, namun juga ada sedikit iri yang muncul - rindu akan kehadiran ibu, bapak dan adik menjadi semakin besar setiap habis kumpul keluarga semacam itu. "Bersyukur dong, sekarang kan sudah ada suami dan anak-anak," beberapa orang banyak yang menyentilku demikian.

Keluarga kecilku saat ini dengan keluarga yang selama ini bersamaku adalah kepingan terpisah yang menyusun puzzle kehidupanku. Jadi, rindu akan kehadiran mereka bukan berarti aku tidak bersyukur dengan keluarga yang aku miliki saat ini.

Selain keluarga, merekalah sahabat-sahabatku saat ini, insya Allah dunia akhirat :)

Karena kepergian satu per satu orang dalam hidupku, aku jadi semakin sadar sejatinya kita nanti akan kembali dalam kesendirian. Mereka yang kita sebut sahabat bahkan keluarga hari ini, seberapa lamakah akan kehilangan kita saat nanti kita meninggalkan mereka lebih dahulu ke alam yang berbeda? Mereka toh punya hidup yang harus terus dijalani. Mungkin sehari, tiga hari, seminggu, sebulan atau setahun mereka akan merasa benar-benar kehilangan. Namun setelahnya, mereka mungkin lupa untuk mengingat kita. Perlahan ketidakhadiran kita akan menjadi hal yang biasa untuk mereka.

Kepergian mereka juga mengingatkanku betapa nanti di alam kubur tidak akan ada yang menemani selain sunyi. Lantas sahabat seperti apa yang kita butuhkan untuk menemani diri dalam kesunyian?



Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda;
“Ada tiga perkara yang mengiringi mayat. Yang dua kembali, sedangkan yang satu tetap tinggal bersamanya. Mayat diiringi keluarganya, hartanya, dan amalnya. Keluarga dan hartanya kembali, sedangkan amalnya tetap mengiringinya.” (HR.Al-Bukhori dan Muslim)
Ya, saat nanti kematian menjemput. Tidak akan ada lagi keluarga yang selama ini kita banggakan menemani kita di alam kubur. Apalah lagi harta yang kita cari hingga jungkir balik. Hanya berbalut kain kafan, berteman dengan tanah dan hewan-hewan kecil. Namun ternyata akan ada satu yang tetap tinggal dan setia menemani kita, bahkan bisa menjadi pemberat bagi kita saat dihisab; amal sholih.

Bumi semakin renta, kontrak kehidupan dengan Yang Maha Kuasa semakin berkurang, entah kapan giliranku, giliranmu, giliran kita menghadapNya? Berita kematian selalu menjadi pengingat terbaik. Orang yang nampak sehat hari ini, bisa saja 'pergi' beberapa jam kemudian. Bayi yang baru lahir, bisa saja hanya bertahan beberapa menit. Benar-benar tidak ada yang tahu kapan 'kereta kencana' menjemput. Dan aku semakin ngilu, mengingat belum banyak 'tabungan' yang aku miliki untuk pantas dibawa menghadapNya.

Ketika dunia masih menjadi orientasiku, ketika syariat masih kuikuti sambil lalu, berita-berita kematian itu seakan menjadi lampu kuning untuk segera bergegas agar semakin getol belajar, semakin sadar akan segala perilaku buruk dan mengubahnya menjadi baik, bahkan tidak sekedar baik di mata manusia, namun baik sesuai kehendakNya.

Memang pahala dari segala amal sholeh itu urusanNya, kita tak punya hak dan tak mungkin bisa menghitung-hitungnya. Tugas kita cuma berikhtiar sebaik mungkin, memperbaiki diri, dan memantaskan diri sehingga ketika Sang Pemilik Dunia memanggil, kita tak 'berpakaian sekedarnya' dan masih bisa membuatNya bangga pernah menciptakan kita. Semoga saat nanti hari itu tiba, kita tak terlalu sunyi menjalani hari karena ada sahabat sejati bernama amal sholih yang menemani ya. Aamiin.

Amal sholih adalah sahabat sejati yang akan masuk bersama kita ke dalam kubur sehingga akan menemani kita di alam kubur, menemani kita ketika dibangkitkan, menemani kita dalam berbagai kesempatan di hari kiamat, di atas shiroth dan ketika penimbangan untuk memutuskan apakah surga atau neraka yang menjadi tempat tinggal kita kemudian.

“Barangsiapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri; dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. “ (QS.Fushsilat [41]:46)

Itulah sahabat sejati yang harus kita kumpulkan di dunia dan manfaatnya baru benar-benar terasa di akhirat kelak. Jadi sudahlah, hentikan bapernya ketika begitu mudah di dunia ini kita dikhianati oleh satu demi satu teman. Bukan mereka yang pernah menyakiti, membully atau mengkhianati yang akan jadi teman setia hingga di akhirat. Daripada galau mikirin peningnya cari sahabat di dunia, mending fokus ke yang pasti-pasti aja deh; ngumpulin si amal sholih.


Btw, bagaimana dengan di dunia? Masa iya nggak ada yang bisa dikategorikan sebagai sahabat sejati?Masa iya keluarga benar-benar akan meninggalkan dan melupakan kita setelah 'kepergian' kita? Masa iya harta yang kita kumpulkan dengan bekerja keras - kepala jadi kaki, kaki jadi kepala - nggak akan membawa manfaat apa-apa untuk kehidupan akhirat kita?

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam QS.al-Munafiqun [63]:9;
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi."
Bahkan dalam QS.at-Taghobun[64]:14 Allah berfirman bahwasanya sebagian keluarga yang kita miliki adalah musuh bagi diri kita;

“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Keluarga dan harta yang membuat kita lalai dari mengingat Allah Subhanahu wa ta'ala dan menjauhkan kita dari menjalankan syariatNya, sungguh akan membuat kita masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. So, mumpung masih ada di dunia... ayo jaga keluarga kita sebaik-baiknya. Ayo ajak seluruh keluarga untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran biar nanti bisa berkumpul bersama lagi di surga firdaus-Nya. Begitu pula dengan harta yang kita kumpulkan, ayo habiskan dengan cara yang disukaiNya. Jika kita bisa menghabiskan banyak keping rupiah untuk bersuka ria jalan-jalan ke sana-sini demi kebahagiaan, semoga kita juga menjadi orang-orang yang tak pernah lupa untuk menyisihkan sebagian harta kita untuk kebahagiaan orang lain yang membutuhkan di sekeliling kita. Aamiin.

Mengenai sahabat sejati di dunia, tentu saja kita ingin bisa menemukannya di dunia ini. Apalagi sahabat sejati nantinya bisa ikut membantu kita di akhirat. Jadi sahabat seperti apakah yang bisa jadi teman sejati dunia akhirat? Bukankah berteman itu nggak boleh pilih-pilih? Tentu saja berkawan bisa dengan sesiapa saja tanpa memandang ras, suku, harta dan sebagainya.



Namun bukan berarti kita bisa berkawan semaunya. Ingat kan pepatah, kalau kita berteman dengan penjual minyak wangi kita bisa kecipratan wanginya?

“Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik (saleh) dan teman yang jahat adalah seperti pembawa minyak wangi dan peniup api pandai besi. Pembawa minyak wangi mungkin akan mencipratkan minyak wanginya itu atau engkau membeli darinya atau engkau hanya akan mencium aroma harumnya itu. Sedangkan peniup api tukang besi,  mungkin akan membakar bajumu atau engkau akan mencium darinya bau yang tidak sedap” (HR. Bukhari dan Muslim).
Nah, setidaknya ada lima kriteria sahabat sejati berikut ini;

1. Setiap melihatnya kita akan teringat Allah - Punyakah kita teman seperti ini? Teman yang berwajah dan berperilaku adem? Yang setiap bersamanya, mau ketawa ngakak, mau ninggal sholat karena keasyikan ngobrol, mau ghibahin orang jadi nggak nyaman? Yang setiap bersamanya, kita hanya ingat hal-hal baik? Teman yang selalu mampu menjaga rahasia, teman yang selalu siap menolong di saat kita kesusahan.  Dan setiap bersamanya kita selalu diingatkan untuk selalu menomorsatukan Allah. Allah lagi, Allah terus, cuma Allah. :)

2. Selalu berusaha mengajak kita pada kebaikan - Sebobroknya kita, mereka akan selalu tersenyum dan melebarkan tangan untuk memberikan pelukan hangat sembari mengajak dan mengingatkan kita agar terus berbuat kebaikan tanpa lelah. Sudah adakah sahabatmu yang seperti ini?

3. Selalu menyebut kita dalam doa-doanya - Sahabat terbaik tidak hanya mengingat kita dalam keseharian, atau malah ingat saat ada maunya, atau cuma saat senang saja. Sahabat sejati bahkan mengingat kita dalam doanya, mendoakan kebaikan-kebaikan untuk kita. Aah senangnya jika bisa memiliki dan menjadi sahabat seperti ini :)



4. Akan sangat marah ketika kita bermaksiat kepada Allah - "Udah gede ini, urusan dia mau gimana-gimana. Nggak usah ikut campur, itu urusan dia sama Tuhan." Sering kan ya kita denger kalimat begini ketika ada temannya yang melakukan kesalahan dan maksiat? Padahal sahabat sejati akan ada di garda paling depan saat kita bermaksiat, bukan untuk bersorak dan mencibir. Namun untuk mengingatkan bahwa itu adalah hal yang buruk untuk dilakukan, bahkan dia mungkin akan menyeret kita agar kembali pulang. Sayangnya seringkali ketika kita punya sahabat macam begini, kita selalu berpikir mereka ikut campur dalam kehidupan kita. Hiks.

5. Ceria dan Selalu Positive Thinking - Teman yang baik adalah teman yang membahagiakan dan memberi semangat. Adakah teman yang setiap kita bertemu dengannya wajahnya selalu  berseri-seri dan menyungging senyum? Teman yang setiap saat selalu membawa aura positif. Teman yang tidak pernah membagi beban, namum membagi kebahagiaan. "Jangan sepelekan kebaikan sekecil apa pun, meski hanya dengan menjumpai saudaramu dengan wajah berseri-seri." (HR. Muslim dan Tirmidzi).

Bagaimana, pals? Dari lima kriteria di atas sudahkah ada sahabat kalian yang memenuhi syarat? Tanya balik juga ke diri masing-masing, sudahkah kita memenuhi lima kriteria di atas? Semoga kita bisa menjadi sahabat dunia akhirat untuk sahabat-sahabat kita ya, nggak cuma jadi teman senang-senang di dunia. Aamiin. Btw, jangan lupa panggil namaku kelak di akhirat ya pals, kalau nggak ketemu aku di surgaNya biar kita bisa ngumpul dan bisa ngopi-ngopi bareng lagi :) #ngarep.com



Wassalammu'alaikum.



*Yang menulis tidak lebih baik dari yang membaca. Hanya sebagai pengingat di saat waktu semakin sempit dan mendekat ke titik akhir. 





You Might Also Like

11 comments

  1. Marita, makasih postingannya mengingatkan sekali. bener deh, jadi langsung pengen ngaca. sudah belum ya aku pantas disebut sahabat. :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama mbak Dini :) semoga bermanfaat :)

      Delete
  2. Bener setuju banget deh dengan tipsnya di tulisan ini, mari sama2 cari sahabat yang bawa kita ke surga, bukan yang menyulitkan kita, sama atuh ya aku pun suamilah yang sahabat sejati mah 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. Asyiiiik.. Insya Allah sehidup sesurga ya mbak... Aamiin

      Delete
  3. masyaallah, terimakasih sudah mengingatkan :)

    ReplyDelete
  4. Hiiks...jadi kepikiran karena Sekarang hidup merantau, siapa sahabat sejati sampai nanti yaa?
    Thanks mbak Marita, jadi semangat mencari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga segera dipertemukan dengan sahabat sejatinya ya mbak. :)

      Delete
  5. Tulisannya menyentuh banget mbak. Mengingatkan kita untuk semakin selektif dalam memilih teman yang bisa dijadiin sahabat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah... Semoga bermanfaat ya mbak :)

      Delete
  6. aku juga sahabatmu kan mbak :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com