Antara Salatiga dan Semarang

  • Thursday, September 28, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 0 Comments




Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Jika aku diminta untuk menceritakan tentang kota yang memiliki benang merah dengan kehidupanku, maka dua kota ini yang akan aku sebutkan. Semarang sebagai kota kelahiranku, dan Salatiga sebagai kota tempatku dibesarkan dari sejak usia tiga tahun hingga memasuki bangku kuliah.

Beberapa orang yang pernah singgah dan tinggal di Salatiga pasti akan langsung jatuh cinta dengan kota yang sejuk ini. Kota yang terkenal akan sate sapi Suruh, wedang ronde dan enting-enting gepuknya ini memang kota yang adem. Bukan hanya adem udaranya, namun atmosfir hubungan sosialnya pun sangat adem. Namun itu tidak berlaku untukku.



Sekitar 15 tahun aku menjalani hari-hariku di kota kecil itu, dan hampir sebagian detiknya aku habiskan dengan amarah dan air mata. Udara sejuk yang konon menjadi impian orang-orang untuk tinggal di kota ini justru sama sekali tidak memberikan kedamaian di hatiku. Pertengkaran, pertikaian, konflik dan segala drama yang terjadi di rumah telah membuat Salatiga panas membara untukku.

Jika bukan karena Allah mengirimkan orang-orang terbaiknya menjadi sahabat-sahabatku saat itu, entah apa jadinya aku…

Hingga akhirnya takdir mempertemukanku kembali dengan kota Lunpia dan wingko babat. Kota yang terkenal dengan matahari yang menyengat begitu tajam, menusuk pori-pori kulit dengan sinarnya yang dahsyat, namun entah kenapa selalu memanggilku untuk bersemayam.

Kota yang memiliki udara berkebalikan dengan Salatiga ini justru menawarkan keramahan yang maha dahsyat kepadaku. Di kota ini aku menemukan pelabuhan hati yang kemudian kunamai cinta. Di kota ini pula aku temukan sahabat-sahabat baru, dari sahabat yang sempat menjadi teman menikmati ketidakwarasan hidup hingga sahabat-sahabat yang kini banyak mengingatkanku dalam kebaikan dan kesabaran. Dan di kota ini pula aku kemudian melahirkan buah-buah cintaku.



Semarang, kota yang empat belas tahun terakhir menjadi tempatku menyusun aksara kehidupan, akan selalu menjadi kota favoritku. Meski panasnya menyengat, namun aku tetap suka memandangi Lawang Sewu dari bundaran Tugu Muda sambil menikmati pemandangan air mancurnya, juga tawa anak-anakku yang berkejaran dengan ayahnya. Meski matahari seakan menjadi sahabat karib kota ini, namun aku tetap selalu cinta pada Simpang Lima dengan segala keramaiannya di malam hari saat semua strata masyarakat berkumpul menjadi satu.

Semarang, kota yang kini mulai menata diri dan semakin indah dipandang… tetaplah menyusupkan kedamaian di hatiku dan para penghunimu. Dan Salatiga, kau akan tetap menjadi kota bersejarah untukku. Seringkali rindu hadir menyusup ke relung hati untuk kembali singgah padamu, bertemu dengan kawan-kawan masa kecil yang pernah memberi arti. Salatiga… tetap tebarkan kesejukanmu, meski bukan untukku.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#OneDayOneStatus
#Day6
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra

You Might Also Like

0 comments

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com