Lima Tips Anti Galau Memilih Sekolah Dasar untuk Ifa

  • Saturday, September 30, 2017
  • By Marita Ningtyas
  • 2 Comments



Assalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Sejak kemarin aku mulai ikut Rumah Belajar Menulis IIP Kaltimra (Kalimantan Timur dan Utara) yang sedang menjalankan program ODOS alias One Day One Status. Jadi setiap hari kami akan ditantang untuk menulis berdasarkan tema yang telah ditentukan, ya semacam One Day One Post gitu deh. Bedanya ODOS boleh dikerjakan dimana saja, maksudnya tidak harus dituliskan di blog, namun bisa sebagai caption Instagram atau status Facebook. Aku sendiri tetap memilih blog sebagai tempat menuangkan ide-ideku dalam program ODOS ini karena sekalian menantang diriku untuk bisa update blog sehari satu postingan, setelah bulan lalu gagal ikut ODOP-nya Blogger Muslimah.

Sebenarnya ODOS Rumbel IIP Kaltimra sendiri sudah berjalan selama tujuh hari, tapi aku baru masuk di hari keenam, itu artinya aku masih punya hutang lima tema, hehe. Oke deh, pelan-pelan insya Allah aku garap, itung-itung sebagai refreshing setelah mengerjakan beberapa artikel konten dalam to do list-ku.

Hari ini temanya tentang GALAU. Hmm, luas sekali ya temanya. Dari tadi pagi aku mencari hal apa saja yang sering bikin aku galau. Dari galau mikirin ASI vs Sufor, working mom vs full time mom, pro vaksin vs anti vaksin, atau nonton film G30SPKI vs tidak nonton… weleh kok malah berasa mau bikin mom war, wkwkwk.

Menurut KBBI,

galau/ga·lau/ a, bergalau/ber·ga·lau/ a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran);
kegalauan/ke·ga·lau·an/ n sifat (keadaan hal) galau



jadi kalau kita simpulkan galau artinya sesuatu yang menimbulkan kekacauan pada pikiran. Dan jujur saat ini yang bikin pikiranku lagi kacau yaitu menentukan akan kemanakah Ifa sekolah setelah lulus TK tahun ajaran ini.

Sebenarnya tempat Ifa bersekolah sudah lengkap jenjang pendidikannya, dari PAUD, SD, SMP hingga Sekolah Kejuruan sudah tersedia. Kalau aku mau, bisa saja nggak perlu pikir panjang, tinggal meneruskan saja stay di tempat tersebut. Namun dalam prosesnya ternyata tidak sesederhana itu.

Visi pendidikan keluarga kami yang mulai bergeser dan beberapa pilihan sekolah yang mulai hadir membuat hatiku semakin galau. Anaknya sendiri kalau ditanya senang-senang saja kalau meneruskan sekolah di tempat yang sekarang, tapi kalau memang harus pindah ke sekolah yang baru ya nggak apa-apa.

Salah satu hal yang bikin aku menggalau soal sekolah yaitu karena sekolah dasar adalah peletakan dasar yang paling lama dalam proses kehidupan seorang anak. Buatku, ini nggak main-main. Selama kurang lebih enam tahun, anak ini akan bersama dengan lingkungan sekolah tersebut, bersama guru dan teman-teman yang sama, yang mau tidak mau akan membantu proses pembentukan pribadi sang anak ke depannya.

Tidak ada yang salah dengan sekolah Ifa sekarang. Toh, tiap sekolah pasti punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun kembali lagi pada soal visi keluarga kami yang mulai bergeser. Mulai muncul pertanyaan demi pertanyaan di dalam hati, mulai muncul pertanyaan demi pertanyaan dalam perbincanganku dengan suami, kalau Ifa stay di sekolah ini bagaimana enam tahun ke depan, kalau Ifa pindah ke sekolah B nanti bagaimana soal ini, kalau Ifa pindah ke sekolah C bagaimana soal itu… dan banyak lagi hal-hal bermunculan untuk dijadikan pertimbangan.



Sebenarnya kalau mau dibikin mudah, masukkan saja Ifa ke sekolah negeri di dekat rumah, nggak perlu keluar biaya banyak, jaraknya dekat, tapi apa urusan selesai? Oke, aku setuju bahwa tanggung jawab pendidikan anak terletak pada kedua orang tuanya. Namun justru karena itulah aku nggak bisa main-main dalam menentukan partnerku soal pendidikan anak. Kenapa tidak di sekolah negeri? Karena hingga saat ini aku belum sepenuhnya yakin dengan pendidikan yang dikelola pemerintah. Maafkeun, teman-teman guru…

Pernah berkecimpung menjadi pengajar di sekolah negeri, melihat om dan bulik yang masih menjadi guru di sekolah negeri dengan pola pikir yang belum banyak berbeda, belum lagi kurikulum yang berganti-ganti dan meski mulai membaik, namun angka masih banyak mendominasi sebagai ukuran kecerdasan seorang anak… itulah beberapa hal yang hingga detik ini membuatku belum rela menyekolahkan Ifa ke sekolah negeri. Aku tidak bilang sekolah negeri itu buruk, hanya saja tidak sesuai dengan visi keluarga kami. Sekarang sudah banyak guru-guru muda bermunculan yang penuh semangat dan kreativitas di sekolah negeri, bahkan meski mereka hanyalah guru honorer yang pendapatannya tidak sepadan dengan apa yang mereka berikan ke anak didiknya. Namun sayangnya kemunculan guru-guru keren ini belum merata di semua tempat. Semoga saja semakin banyak guru-guru seperti mbak Diyanika dan Chela, blogger cantik yang juga guru SD jempolan, hadir di belantara pendidikan Indonesia. Aamiin.

Oke, back to kegalauanku. Dengan alasan tersebut, aku jelas langsung skip pilihan untuk menyekolahkan Ifa ke sekolah negeri. Jangan dipikir aku banyak duit karena bisa nyekolahin anak di sekolah swasta, aku cuma yakin saja bahwa anak punya rejekinya sendiri dan ketika kita berniat akan sesuatu untuk menggapai ridho Allah, Allah pasti akan memudahkan. Itu juga yang terjadi ketika aku nekat menyekolahkan Ifa di sekolahnya yang sekarang. Untuk ukuran ekonomi keluarga kami, bisa menyekolahkan Ifa di sekolah tersebut cukup mencengangkan. Namun akhirnya setelah dijalani, Alhamdulillah bisa. Bahkan banyak rekan kerja suami yang terpana melihat Ifa sekolah di sana, hehe. Yakali mereka ngitung gaji suami, tahunya aku cuma IRT yang nggak berpenghasilan, kok bisa nyekolahin anak di sekolah tersebut, sementara mereka yang gajinya berlipat-lipat mundur teratur, hehe. Aku selalu bilang sama suami, “kalau ada yang gumun, bilang saja sama mereka, bukan kita yang bayarin sekolah, Allah yang bayarin.” Hehe.

Well, sebenarnya tahun lalu aku sudah pernah menulis soal tips memilih sekolah untuk anak, especially untuk tingkatan PAUD di blog, judulnya 8 Pertimbangan Memilih Sekolah Ala Bunda Hanifa. Hari ini aku kembali membacanya, dan sepertinya 8 hal tersebut juga masih menjadi pertimbangan untukku memilih sekolah dasar untuk Ifa. Setidaknya membaca kembali artikel tersebut rasa galauku sedikit terobati.

Dengan membaca ulang artikel tersebut, aku kini juga bisa menyimpulkan tips anti galau memilih sekolah dasar untuk anak, tentu saja ini versiku ya. Kalian pasti juga memiliki versi sendiri kan, pals? Boleh lo nanti kalian ceritakan di kolom komentar hal apa saja yang menjadi pertimbangan saat menentukan sekolah dasar bagi anak. Kalau aku, berikut ini pertimbangan yang sedang aku godok sebelum ketok palu sekolah dasar mana yang aku pilih untuk Ifa;



Pertama, visi pendidikan dalam keluarga kami yaitu mendidik anak sesuai fitrahnya. Maka kami wajib memilih sekolah yang menyadari arti penting pendidikan berbasis fitrah. Selanjutnya tentu saja mendidik anak sesuai tuntunan syariat yang kami yakini. Karena kami meyakini Islam sebagai jalan hidup dan Al Quran serta Sunnah sebagai pedoman dasar kehidupan, maka kami perlu memilih sekolah yang dijalankan dengan dasar tersebut.

Ada beberapa teman yang beranggapan jika anak disekolahkan di tempat yang hanya ada satu agama saja, maka nantinya anak akan susah bertoleransi dengan teman-teman beragama lain. Untuk hal ini aku tidak sependapat. Menurutku jika anak diarahkan untuk memahami Al Quran dengan benar, insya Allah anak pasti tahu bagaimana bertoleransi sesuai yang diajarkan dalam Islam. Toleransi harus pas ukurannya, tidak kurang, tidak juga dilebih-lebihkan.

Saat ini ada tiga sekolah dalam daftar pilihanku yang insya Allah memenuhi kriteria pertama ini. Selanjutnya aku harus kembali mengerucutkannya hingga menjadi satu nama sekolah saja.



Kedua, kualitas tenaga pendidik di sekolah tersebut. Tidak hanya soal kualitas kurikulum, cara mengajar, kreatif atau tidak kreatif, dekat atau tidak dengan anak, namun cara berpakaian guru di sekolah dan di rumah juga menjadi pertimbangan buat aku. Segitunya? Iya! Jadi aku punya beberapa tetangga guru yang mengajar di sekolah berbasis Islam. Ada sesuatu yang menggelitik nuraniku mengenai hal ini. Ada seseorang yang saat mengajar ia menggunakan kerudung, namun ketika di rumah kerudungnya sering tidak digunakan padahal sedang di luar rumah.

Kalau kata orang Jawa guru itu sing digugu lan ditiru. Aku tidak bisa membiarkan anakku mendapat contoh yang kurang sesuai dengan prinsip yang selama ini aku ajarkan padanya. Itu kenapa aku harus tahu guru-guru di sekolah pilihanku juga memegang prinsip yang sama denganku. Bahwa hijab adalah kewajiban yang harus ditaati oleh seorang muslimah, bukan pilihan, apalagi sekedar ikut tren fashion. Dan pilihanku akan jatuh pada sekolah yang guru perempuannya berkerudung lebar menutup dada dan mengenakan pakaian yang tidak menyerupai lelaki sesuai tuntunan al Quran.



Ketiga, sekolah yang mengajarkan adab dengan baik. Ketika aku mulai belajar pola pengasuhan anak secara lebih intens, aku mulai belajar tentang “iman sebelum adab, adab sebelum ilmu, dan ilmu sebelum amal”. Sebelumnya ketika memilih sekolah aku hanya berpatokan pada sekolah tersebut harus melihat bahwa setiap anak itu unik, bahwa anak punya kelebihan dan kecerdasan yang berbeda, bahwa anak harus belajar secara fun dan tidak terpaksa, bahwa ada 12 kecerdasan majemuk, dan sebagainya.

Namun kini aku mulai mencari sekolah yang bisa menjadi partnerku untuk memberikan pijakan iman kepada seorang anak sebelum dia diajari adab. Bahwa ia harus yakin dulu dengan keberadaan penciptanya sebelum diajari mengenai aturan ini itu. Bahwa anak harus memiliki kesadaran kenapa ia mengerjakan sholat, membaca al quran, dan segala hal ibadah lainnya, bukan karena disuruh orang tua atau guru, tetapi karena kecintaannya pada Rabb-nya.

Aku juga ingin menemukan sekolah yang mengajarkan anak untuk memahami kapan waktu belajar, kapan saatnya bermain, bagaimana sikap terbaik saat guru sedang mengajari sesuatu, bagaimana cara menghormati guru, dan hal-hal lainnya yang kini mulai terkikis oleh jaman. Entahlah kadang aku merasa banyak anak mulai kurang ajar dengan gurunya. Beberapa teman dosen bahkan bercerita bagaimana perilaku mahasiswa sekarang, kirim pesan tengah malam dengan bahasa informal. Kenapa bisa seperti ini, karena mengajarkan adab sebelum ilmu mulai dilupakan.

Untuk hal ini aku butuh main dulu ke sekolah incaran, lihat bagaimana para gurunya mengajar, bagaimana siswanya bertingkah laku. Aku juga ngobrol dengan beberapa teman yang menyekolahkan anak-anaknya di situ, apakah ada perubahan setelah sekolah di situ, dan sebagainya.



Keempat, seperti yang tadi aku sampaikan di awal bahwa pendidikan anak tetap saja tanggung jawab orang tuanya. Maka aku membutuhkan sekolah yang membuatku tidak langsung lepas tangan dengan proses pendidikan yang ada. Aku membutuhkan sekolah yang merangkul dan mengajakku untuk berperan serta dalam proses pendidikan anakku. Sekolah yang tidak hanya menjadi tempat belajar bagi anakku, namun juga sebagai kawah candradimuka untukku; menggodokku untuk lebih baik lagi. Sekolah yang tidak hanya memfasilitasi orang tuanya hadir pada acara parenting, namun juga mewajibkannya hadir demi keberhasilan proses pendidikan anaknya. Sekolah yang tidak hanya mengajak orang tua belajar tentang pola asuh anak, namun juga memberikan tempat untuk orang tua mempelajari kandungan al quran dan sunnah sehingga bisa membersamai proses belajar anak semakin baik.



Kelima, jumlah siswa dalam satu kelas. Sebenarnya hampir semua sekolah swasta yang aku tahu sudah mulai membatasi jumlah siswa dalam satu kelas, bahkan sekolah negeri pun juga sudah memberlakukan batasan ini. Nggak seperti jamanku waktu masih mengajar di sekolah negeri yang jumlah siswa dalam satu kelas pernah mencapai lima puluh tiga anak, ih wow banget deh pokoknya. Saat ini rata-rata semua sekolah membatasi jumlah siswa per kelas tidak lebih dari 30, malah kalau sekolah swasta banyak yang sekelas jumlah siswanya di bawah 25 dengan dua orang guru untuk kelas-kelas kecil (kelas 1 – 3).

Tapi dengan pengalaman waktu menemani Ifa di dalam kelas beberapa waktu lalu karena ada sesuatu hal, ternyata dengan jumlah dua puluh empat anak di dalam kelas dengan dua orang guru pun masih belum efektif. Maka aku mulai selektif memilih sekolah yang membatasi jumlah siswa dalam satu kelas tidak lebih dari 15 orang.

Dari lima hal yang aku gunakan sebagai pertimbangan, pilihan sekolah dasar idaman pun mulai mengerucut. Namun untuk bisa masuk ke sekolah tersebut ternyata persaingannya pun semakin ketat. Jumlah siswa yang mendaftar dengan yang diterima cukup bikin deg-degan dan kembali bikin galau. Belum lagi ada sisi hati yang berbisik, beneran sanggup di sekolah itu, nggak ketinggian tuh buat kamu, hehehehe. Kalau sudah begini, maka cukup berikhtiar sebaik mungkin hingga hari pendaftaran tiba lalu pasrahkan hasilnya pada Allah. “Ya Allah, pilihkan sekolah terbaik untuk anakku, pertemukan anakku dengan guru-guru terbaik agar semakin baik mengenal dan mencintaiMU serta ajaranMU. Aamiin.”



Semoga saat Desember tiba dan pendaftaran sekolah-sekolah idaman mulai dibuka, Allah sudah membantuku mengambil keputusan terbaik dan tidak ada lagi galau di hatiku.

Wassalammualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

#OneDayOneStatus
#Day7
#BelajarMenulis
#IIPKaltimra




You Might Also Like

2 comments

  1. Jadi ikutan mikir deh mom Rit..
    Juga untuk Arfa kedepannya, kira-kira sekolah dasar mana ya yang "pas" untuk Arfa..apa Arfa sudah siap sekolah tingkat dasar ketika usianya nanti masih 6 tahun ketika lulus TK B, yang jelas pasti gak masuk sekolah negeri, hehe..pengen bidik ke sekolah yang bagus itu, tapi apa sanggup perjalanannya yang jauh, dan pasti pertanyaannya juga "apa anakku mampu ya mengikuti ritme pendidikan sekolah dasar untuk usianya saat itu".. Malah kegalauan datang lagi, apa Arfa sekolah TK B lagi setahun biar dia genap usia 7 tahun dan sudah bisa mengendalikan diri dan fokus pada apapun yang sedang ia pelajari.. Duh, ikutan galaau.. Hehhee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi, jangan ikutan galau dong. Mulai di list aja kebutuhan Dan visi misi pendidikan keluarga apa, terus survey deh sekolah yang diinginkan.. insya Allah galaunya hilang deh :)

      Delete

Terima kasih sudah berkunjung, pals. Ditunggu komentarnya .... tapi jangan ninggalin link hidup ya.. :)


Salam,


maritaningtyas.com